PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
Cemburu


__ADS_3

Rasa bahagia memenuhi hati karena gadis cantik di dekatku ini menerima cintaku meski aku belum menyatakan perasaan. Niat awal hanya membantu dia terlepas dari masalah. Namun, malah mendatangkan keuntungan untukku. Sekali tepuk, dua tiga pulau terlampau, entah cocok atau tidak bunyi peribahasa itu dengan kondisiku saat ini. Yang jelas aku merasa mendapat durian runtuh.


Dilara melirikku malu-malu saat aku kembali lagi dengan motor dan helm untukknya.


"Ayo!"


Dilara naik dan duduk di belakangku. Setelah memastikan helm terpasang sempurna di kepalanya, aku mulai melajukan motor. Motor melaju dengan kecepatan sedang, terkadang sangat pelan.


"Kak! Buru, dong, Dila telat nanti," protes gadis itu seraya menepuk bahuku.


Buset! Tidak tahu dia aku tengah menikmati momen ini.


"Nyantai aja napa? Kalo telat kakak yang bilang nanti. Kita pacaran dulu."


"Diiih! Cepetan! Kalo nggak Dila cubit, nih."


"Iya. Iya. Galak banget," gerutuku. Gadis itu hanya diam saja.


Tanganku segera mencari tangan Dilara dan segera meletakkan di perutku. Dilara sempat menolak, tali aku berasalan akan ngebut, dia diam. Aku pun mengulum senyum penuh kemenangan.


Dilara, gadis manis yang selalu mendebarkan hati itu, duduk diam di belakang. Tangannya melingkar ke perut dengan erat, kepala tersandar di punggung saat aku menambah kecepatan. Senyumku tak pernah hilang. Jantung juga terus berirama kencang, bak musik yang memenuhi lantai dansa diskotik. Menghentak.


Sesekali tangan halusnya kuusap, sesekali kuambil dan kucium. Tak peduli tatapan risih orang yang melihat tingkahku. Aku, sedang dimabuk cinta. Namun, Dilara Seolah-olah tak nyaman. Dia sering memberiku hadiah pukulan juga kelitikkan membuatku menghentikan tindakanku itu.


Motor melaju pelan, saat dari jauh gerbang sekolah sudah tampak. Pelukan Dilara pun mengendur, tubuhnya sudah tegak karena tak kurasakan beban di punggung.


Motor kuparkirkan di depan pintu masuk sekolah Dilara. Gadis cantik itu turun. Kemudian, berusaha keras melepas ikatan helm di dagunya yang terlalu kencang. Tiga menit dia melakukan itu, tapi tak membuahkan hasil.


Aku tersenyum melihat keuletannya. Terus menatap dan menunggu gadis itu meminta bantuan. Namun, aku segera menarik pinggangnya agar mendekat ketika sebuah mobil meng-klakson, meminta jalan karena kami memang sedikit menutup akses masuk. Setelah mobil itu masuk, segera kulepas pegangan. Namun, jarak tubuh kami masih sangat dekat.


"Apa gunanya punya pacar kalo nggak dimintai tolong?" bisikku.


Refleks, Dilara mendorong tubuhku agar menjauh. Wajahnya bersemu merah jambu. Malu mungkin, karena jarak kami memang terlalu dekat. Cepat, kulepas pengait yang sedikit berkarat. Pantes gadis bermata bulat itu susah membukanya, memang sedikit sulit.


Setelah menyerahkan helm dan mengatur rambut panjangnya yang sedikit berantakan, Dilara segera berlari masuk halaman sekolah tanpa mengucap sepatah kata pun padaku. Aku terus menatap punggung yang semakin lama semakin mengecil dan hilang di balik kerumunan siswa lain, kemudian men-stater motor dan melaju ke kampus.

__ADS_1


***


Aku masih melakukan bimbingan ketika ponsel bergetar. Sedikit kulirik layar benda itu sekilas, nama Dilara tertulis di sana. Aku melihat jam di dinding ruangan, hampir pukul setengah tiga. Waktunya kekasihku itu pulang. Namun, Pak Heri masih memberi tanda pada skripsiku, tak enak jika meminta izin untuk pergi. Lantas, kubiarkan panggilan Dilara hingga gadis itu tak melakukan panggilan lagi.


Tepat pukul tiga, aku buru-buru mencapai motor dan melajukan ke arah sekolah adik Galih itu. Setengah jam perjalanan, ketika sampai di sekolah, pintu gerbang sudah ditutup bahkan dikunci. Tanda semua penghuni sekolah sudah pulang. Kembali motor kulajukan, pulang. Aku yakin gadis itu pasti marah. Gas kutarik kuat, agar motor melaju kencang. Ingin segera menemui Dilara dan menjelaskan semuanya.


Takut sebenernya jika gadis itu marah dan salah paham. Baru juga sehari jadian, masa sudah bertengkar. Tidak romantis banget.


Sampai di rumah, ketika melihat ke sisi samping, tampak sebuah mobil, yang tadi meng-klakson meminta jalan, parkir di halaman rumah Dilara.


"Ham! Dari mana lu?" tanya Galih yang sudah ada di sampingku.


"Sapa, tuh?"


"Biasa. Calon adik ipar," ucap Galih bangga.


Aku mengerutkan kening, menatap tajam pria yang tingginya hampir sama denganku itu. Dada sudah berdebar ketika dia menyebut "calon adik ipar". Ingin rasanya menutup mulutnya itu. Enak saja bilang calon adik ipar, yang pantes jadi adik ipar itu aku, bukan bocah itu.


"Samperin, yuk."


Penuh rasa kesal aku patuh. Menunggu mereka selesai dan bocah itu pergi. Tak lama, setelah menghabiskan sebatang rokok, mereka berdua keluar. Tampak kebahagiaan di wajah keduanya. Tertawa lepas, bahkan si wanita dengan tak punya perasaan ikut tertawa, tak peduli denganku yang sejak tadi melihatnya penuh amarah.


"Dila!" teriakku setelah mobil itu meninggalkan halaman rumah.


Segera aku melompati pagar semen setinggi pinggang. Menembus tanaman ibu Dilara, lalu menarik tangan gadis itu kasar.


"Kenapa nggak nunggu kakak?"


"Kenapa? Kalau nunggu sampai jam berapa?"


Aku melepas pegangan dan mengacak rambutku kasar.


"Maaf, Dil. Tadi kakak lagi bimbingan skripsi, jadi nggak jawab telepon kamu. Tapi, bukan berarti kamu seenaknya pulang sama tu bocah."


"Rendy. Namanya Rendy, Kak."

__ADS_1


Persetan dengan namanya! Yang jelas, aku tak terima dia dekat dengan cewekku.


"Lain kali jangan ulangi lagi. Tunggu sampai kakak datang. Oke?"


"Kakak cemburu? Kami cuma temen."


"Bilang iya apa susahnya, sih, Dil?"


Dilara memutar bola mata, lalu masuk rumah. Setelah sebelumnya menghentakkan kedua kaki. Sementara aku, menghela napas dengan kasar. Tak boleh ada yang dekat dengan kamu, meski itu hanya teman. Tak boleh, Dil. Hanya aku, yang berhak atas dirimu selain keluargamu tentunya.


"Lu kenapa marah?" tahap Galih yang sudah ada di dekatku. Mungkin mengikuti saat aku terburu-buru menemui Dilara.


"Gue nggak terima Dila deket ama tu anak."


"Cemburu, lu."


"Iya! Makanya lu jadi Kakak jaga, dong, adik lu. Jangan kasih gitu aja ke orang."


"Lah, kalo Dila suka kenapa gue ngelarang?"


"Kan, kita nggak tahu itu anak punya modus apa kagak."


"Ck! Gini ini model orang cemburuan mah. Mudah emosi. Dila yang lebih tau tu anak baik ato kagak," jawab Galih seraya meninggalkan aku sendirian di teras dengan perasaan campur aduk. Marah, jengkel juga kecewa.


Aku menatap Galih hingga pria itu menutup pintu rumahnya, masih dengan kesal kuhantam tiang penyangga rumah dan bergegas pulang. Di rumah pun, kekesalan tak juga mereda. Segera kuambil ponsel dan meluapkan semua emosi dalam bentuk puisi. Tak lama, setengah jam pun jadi.


Postinganku dengan cepat dibanjiri like dan komen. Aku memeriksa satu per satu akun dan mencari akun Dilara. Tak ada. Meski begitu, banyak sekali orang yang memuji puisiku. Perlahan-lahan emosi surut seiring aku membalas komentar mereka. Tak berapa lama, sebuah pesan masuk.


"Aku nggak boleh dekat ama temen, Kakak sendiri sibuk komenan sama fans Kakak," tulis Dilara. Aku tersenyum dan emosiku benar-benar reda.


"Maaf. Tapi, kakak beneran nggak suka, Dil. Es krim nanti sore mau?"


"Budu!"


Kulihat bulatan kecil berwarna hijau yang berada di dekat foto profil Dilara hilang. Dia off. Aku menghembus napas dengan kasar.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2