PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 43


__ADS_3

Bulan berangkat dengan persiapan yang sudah matang. Semua barang yang dia perlukan, dia masukkan ke dalam ransel.


Kali ini, dia tidak akan melibatkan Gara pada aksinya. Sebab, Gara harus segera menyelidiki rekaman apa yang mereka inginkan. Hingga ketiga teman Bulan saat melakukan misi dilenyapkan nyawanya.


Tujuan pertamanya adalah sekolah tempat dia mengajar. Tentu saja ruang rahasia yang dijadikan tempat meracik berbagai bahan kimia.


Bulan membuka laptop yang dibawanya, di balik tembok belakang sekolah. Di mana, hanya ada tanaman liar di sekitar Bulan saat ini berada.


Dengan jeli, mata Bulan tertuju pada laptop yang menyala. Jari jemarinya menari dengan lincah di atas keyboard.


Bulan menyabotase kamera CCTV, supaya dirinya lebih leluasa bergerak. Meski dengan waktu yang terbatas. "Sepuluh hingga lima belas menit, gue rasa akan selesai." ucapnya, memperkirakan waktu yang akan dia gunakan.


Bulan segera memasukkan kembali laptopnya ke dalam ransel, begitu apa yang dia kerjakan selesai. Bulan menambahkan sesuatu ke badannya. Hingga badan Bulan terlihat lebih gemuk, layaknya seorang lelaki. Juga tidak terlihat dua buah benjolan di dadanya.


Dengan beberapa gerakan, Bulan dengan mudah melewati tembok penghalang didepannya. Meski dia sudah menyabotase kamera CCTV, tapi Bulan tetap waspada dan menggunakan instingnya saat bergerak.


Dengan lancar, tanpa halangan Bulan masuk ke dalam ruangan. Meski ruangan tersebut terkunci, tapi dengan keahliannya, Bulan bisa membukanya menggunakan sebuah alat dengan mudah.


Bukan hanya kamera CCTV di lu


ar yang dia sabotase, tapi juga kamera CCTV di dalam ruangan. "Sepertinya baru saja ada yang masuk ke sini." batin Bulan, menurunkan ransel dari punggungnya.


Tak ingin membuang-buang waktu, Bulan segera menempelkan beberapa bahan peledak di tempat yang sekiranya tidak terlihat.


Bulan sengaja tidak membuat ledakan yang hebat di sekolah ini, sebab dirinya tahu konsekuensinya. Para pelajar akan terkena imbasnya. Mereka akan diliburkan jika kerusakan parah.


Dan Bulan menghindarinya. Dirinya hanya akan meledakkan ruangan ini. Dan mungkin akan berimbas ke ruangan sebelahnya.


Tapi tidak mengapa, sebab ruangan di sebelah-sebelahnya bukanlah ruangan yang digunakan untuk mengajar.


"Selesai." ucap Bulan dalam hati. Telah menempelkan dua peledak di dua ruangan tersebut.


Segera Bulan meninggalkan ruangan tersebut. Tapi dia kembali menguncinya. Sehingga tidak akan ada yang curiga.


"Sial." umpat Bulan dalam hati. Saat dirinya melihat dan dilihat oleh dua orang yang berjalan di lorong yang sama.


Bulan tidak punya pilihan lain, selain menghadapi mereka berdua. "Aku harus bergerak cepat." batin Bulan, sebab waktu yang di perkirakan hanya beberapa menit.


Bisa saja Bulan memilih untuk kabur. Tapi mereka akan malah semakin waspada. Dan Bulan, punya rencana untuk kedua orang ini.


Melihat sosok misterius, membuat dua lelaki tersebut berlari ke arah Bulan. Dan langsung menyerang Bulan.


Satu lawan dua. Seperti rencananya, Bulan tidak akan membuang waktu. Segera Bulan menyelesaikan pertarungan dengan dua orang lelaki yang sering dilihatnya di area sekolah.


Mereka adalah petugas keamanan di sekolah.


Bulan membutuhkan waktu kurang dari tiga menit untuk melumpuhkan keduanya. Saat mereka kesakitan, Bulan segera mengambil obat bius, dan menyuntikkannya pada mereka berdua.


"Merepotkan." batin Bulan kesal.


Bulan kembali membuka pintu ruang rahasia. Memasukkan kedua lelaki yang tidak sadar tersebut ke dalam ruangan.


Bulan segera menggunakan seribu langkah untuk meninggalkan area sekolah. Tepat. Bulan mendengar bunyi alarm dari jam tangan yang dia pakai.


Dimatikannya bunyi tersebut dengan memencet tombol kecil di balik lingkaran jam. Alarm tersebut Bulan gunakan untuk pengingat. Jika waktu kamera CCTV sudah pulih seperti sedia kala.


Beruntung Bulan keluar tepat waktu. Terlambat satu detik saja, keberadaan Bulan akan diketahui oleh mereka.


Segera Bulan melajukan motornya ke tempat tujuan yang kedua. Yakni, tempat yang ditemukan oleh Gara.


"Gue harus lebih berhati-hati." batin Bulan. Sebab Bulan sama sekali belum pernah dan sama sekali tidak mengenal tempat ini sebelumnya.


Kembali Bulan mencari tempat yang aman untuknya membuka laptop. Tidak seperti di sekolah, yang hanya membutuhkan beberapa detik untuk menyabotase kamera CCTV. Berbeda dengan yang ada di tempat kedua ini.


Jari jemari Bulan bergerak di atas keyboard lebih dari sepuluh menit. "Pasti ini tempat penting." ucap Bulan, setelah dirinya mampu menembus pertahanan perangkat lunak mereka.


Rencana yang Bulan jalankan adalah rencana dadakan. Oleh karenanya, Bulan sama sekali tidak menyelidiki sasaran tempat yang akan dia ledakan.

__ADS_1


Bulan merencanakan ini, karena mendapat kabar jika mereka akan mengusik keluarganya yang berada di tempat kelahirannya.


Oleh karena itu, Bulan menggunakan cara ini, untuk mengalihkan perhatian mereka. Sehingga mereka akan sibuk sementara waktu. Dan tidak ada pikiran untuk mengusik keluarga Bulan.


Mata Bulan dengan teliti dan jeli menatap setiap ruangan, serta orang-orang yang berlalu lalang. "Cukup ramai."


Bulan mencari ruangan yang menyimpan bayang-bayang berharga. "Tapi dijaga dengan ketat." gumam Bulan.


Bulan terdiam, memikirkan cara untuk masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa diketahui. "Bagaimana caranya." batin Bulan berpikir.


"Atas. Atap. Ya, gue akan lewat sana."


Bulan mencari titik di mana dia akan mendarat dan langsung masuk ke ruangan tersebut. "Di sini"


Bulan menemukan tempat tersebut. Sebelum beraksi, Bulan mengecek beberapa alat yang dia butuhkan untuk bisa masuk ke dalam ruangan tersebut.


Bisa jadi, ruangan tersebut adalah ruangan tertutup. Hingga atasnyapun akan sulit dia tembus. Bulan kembali ke sepeda motor yang tak jauh dia parkir dari tempatnya berada. Mengambil sesuatu dari dalam jok motor. Memasukkannya ke dalam saku celana.


Di tempat ini, Bulan akan menyabotase kamera CCTV saat dirinya sudah berada di atas, dan memastikan bisa masuk ke dalam ruangan yang dia incar.


Sebab akan percuma, jika Bulan menyabotase sekarang. Malah akan membuang-buang waktu.


Dengan lincah, Bulan berjalan di atas. Tanpa pengaman yang terkait di badannya. Sesekali dia menunduk, saat dirasa akan ada yang melihatnya.


Dirasa sampai di titik tempatnya mendarat, Bulan duduk bersila. Mencari jalan untuknya busa masuk ke dalam tanpa menimbulkan suara.


Cukup mudah untuk Bulan masuk ke dalam. Dan sesuai dugaan Bulan, atas ruangan yang diincar Bulan, bukan mengunakan plafon biasa, tapi di cor dengan adukan pasir dan semen. Diperkirakan lumayan tebal.


Bulan mengambil alat yang baru saja dia ambil dari jok motor, untuk memastikan ketebalan cor tersebut. "Gila, apa yang mereka sembunyikan di dalam." batin Bulan, menggelengkan kepala tak percaya.


Akan membutuhkan waktu lumayan lama untuk Bulan bisa masuk ke dalam. "Cara lain, gue harus masuk dari sana. Dan itu artinya, gue akan menghadapi beberapa orang." batin Bulan, dengan tengkurap, melihat beberapa orang tepat di bawahnya dari lubang kecil. Dan beberapa orang lagi berlalu lalang.


Bulan terdiam sesaat, memikirkan jalan terbaik yang akan dia lewati. Kedua matanya mengamati gerak-gerik beberapa orang dibawahnya.


Sementara di luar, ada beberapa orang lagi. Jika ditotal, ada sejumlah dua puluh sampai tiga puluh orang. "Berapa lama gue akan bisa menanganinya."


Jika menembus cor di bawahnya, memang tidak akan memakan waktu. Tapi, Bulan dapat pastikan, akan ada suara yang mereka dengar saat dia menembusnya.


"Gue harus membuat kerusuhan di depan." batin Bulan, berniat membuat perhatian semua orang tersebut ke depan. Dengan begitu, dia akan dengan mudah masuk ke dalam.


Bulan melihat bahan peledak yang ada di dalam tasnya. "Tahu begitu, gue buat lebih." cicit Bulan.


"Tak apalah, yang terpenting gue bisa masuk."


Bulan kembali menaikkan ransel di atas punggungnya, dengan tangan kiri memegang alat peledak.


Sebelum Bulan melemparnya ke bawah, Bulan terlebih dahulu menyabotase kamera CCTV yang ada di bangunan ini. "Semoga cukup."


Perangkat lunak yang digunakan di tempat ini lebih canggih dari pada di sekolahan. Sehingga Bulan tidak bisa terlalu lama menyabotasenya. Bisa-bisa dia akan ketahuan.


Bulan menekan angka yang ada di alat yang sedang dia pegang. Melemparkannya sedikit jauh dari pintu utama. Dan segera berlari kembali ke tempat dia masuk pertama kali.


Tepat, sesuai dengan perhitungan Bulan. Benda tersebut meledak di saat Bulan sudah berada di tempat yang semestinya.


Bulan tidak menjebol plapon di bawahnya. Dia mencari angin-angin seukuran tubuhnya, agar bisa masuk dan turun. Sebab, Bulan tuk ingin meninggalkan jejak sama sekali. Diangkatnya besi kotak-kotak yang digunakan sebagai penutup angin-angin.


Segera turun ke bawah, disaat semuanya berlari ke depan. Membuka kunci pintu rungan yang dia incar. Sesekali Bulan menoleh ke pintu masuk.


Memastikan dirinya masih dalam keadaan aman. Dengan segera Bulan masuk, setelah pintu dapat dia buka.


Dan dengan segera pula dia meletakkan dua alat peledak di tempat yang tersembunyi. Memastikan dengan benar, jika keduanya akan meledak di saat Bulan menginginkannya.


Bulan tidak bisa memeriksa tempat apa yang akan dia ledakkan. Sebab dirinya harus segera keluar. Sebelum mereka menyadari jika Bulan berada di dalam ruangan yang terjaga ketat.


Bulan menetralkan nafasnya, di saat berhasil keluar. Dan saat ini, Bulan berada di luar markas musuh. Tepat di samping dia menaruh sepeda motor.


Sebelum pergi, Bulan membuka laptop. Memeriksa kembali, apakah kondisi tetap terjaga dan aman. Terlihat, mereka langsung melakukan patroli setelah terjadi ledakan. "Beruntung gue keluar tepat waktu." cicit Bulan.

__ADS_1


Nampak beberapa orang bahkan naik ke atap. Memastikan sekitar markas mereka aman.


"Sial....!! Gua nggak bisa tahu, tempat apa itu." gumam Bulan.


Memastikan semua sesuai rencana, Bulan bergegas menuju lokasi ketiga yang akan dia jadikan target. Lokasi yang baru saja Bulan temukan, di saat dia berhadapan dengan putra mbok Yem.


Seperti yang Bulan lakukan sebelumnya di lokasi kedua, Bulan harus terlebih dahulu mengetahui kondisi tempat yang akan menjadi tergetnya yang ketiga ini.


"Sepi sekali." cicit Bulan, setelah mampu masuk ke dalam perangkat lunak mereka. Di tempat ini, Bulan tidak terlalu menemui kesulitan untuk menyabotase perangkat luna mereka.


Ada beberapa pick-up dan truk, serta mobil box keluar masuk ke tempat ini. "Tempat apa ini."


Bulan mengawasi pergerakan mereka dari layar laptopnya. "Seperti gudang. Tapi gudang apa? Kenapa tidak di jaga ketat seperti tempat sebelumnya." cicit Bulan.


Tidak terlalu sulit untuk Bulan menyelinap di tempat ini. Sebab hanya ada beberapa orang yang berjaga. Dan itupun hanya di bagian depan.


Bulan masuk ke sebuah ruangan yang luas. Dengan banyak karung berisi di dalamnya. Merasa penasaran, Bulan menjebol salah satu karung untuk memastikan.


"Apa ini." cicit Bulan, barang yang ada di dalam karung seperti kulit padi, atau sekam.


"Tunggu." Bulan merasa ada yang aneh. Dimasukkan tangannya. Di rogoh karung tersebut hingga semua tangan Bulan masuk semua ke dalam karung.


"Aw...." cicit Bulan, menarik tangannya. Tampak jari jempolnya berdarah, terkena sesuatu yang runcing di dalamnya.


Bulan memastikan keadaan aman. Lalu ditariknya satu karung yang telah dia robek untuk di turunkan. Dirobeklah secara sempurna oleh Bulan karung tersebut. Hingga apa yang ada di dalam karung keluar.


"Ini,,,, Gila." Bulan tahu pasti benda apa yang ada di dalam karung.


Bulan tersenyum iblis. "Setelah ini, mereka akan sibuk. Dan pasti mereka akan mengalami kerugian yang lumayan besar."


Segera Bulan dengan cepat memasang semua alat peledak yang tersisa di ranselnya di ruangan tersebut.


"Beres." cicit Bulan, berjalan menjauh. Sayangnya, Bulan malah berpapasan dengan seorang lelaki yang baru saja menaikkan resleting celananya.


"Jorok sekali. Kencing di sembarang tempat." gumam Bulan.


Belum sempat lelaki tersebut berteriak, Bulan lebih dulu menyerangnya dan membuat dia tak sadarkan diri. "Ckkk,,, makanya, nggak usah teriak." gumam Bulan. Padahal lelaki tersebut belum mengeluarkan suara.


Di masukkan lelaki yang tak sadarkan diri ke dalam ruangan uang telah Bulan usang alat peledak. "Salah sendiri, kenapa elo lihat gue." sinis Bulan.


Bulan segera meninggalkan tempat tersebut. Dan melajukan motornya, lalu berhenti tak jauh dari tempat tersebut.


Bulan membuka laptopnya. "Waktunya pertunjukan di mulai." cicit Bulan tersenyum sempurna.


Bulan menekan sebuah angka di keyboard laptop. Dengan layar menampilkan tiga tempat yang telah Bulan pasang alat peledak.


"Satu,,,, dua,,,, tiga,,,, empat,,, li...." Bulan menjeda kalimatnya.


Blam.... ketiga tempat tersebut meledak. "Ma...." lanjut Bulan disertai kekehan pelan.


"Selamat bersibuk ria." cicit Bulan.


"Saatnya gue menyusul anak-anak." tukas Bulan, kembali melajukan motornya ke tempat di mana muridnya berada.


Sementara Bulan melajukan motornya ke tempat lain, dengan senyum di bibir yang sepertinya tak akan hilang.


Dua tempat yang Bulan ledakan terjadi kericuhan. Belum yang di sekolah. Sebab, di sana hanya ada dua penjaga. Dan Bulan sudah mengamankannya.


Dan mungkin saat ini mereka sudah dalam keadaan tidak bernyawa, bersamaan dengan ledakan di ruangan tersebut.


Di sekolah, seseorang yang tinggal di sekitar sekolah segera menelpon pemadam kebakaran, begitu dia mendengar suara ledakan dan terlihat api menyala. Sehingga api segera dapat dipadamkan. Meski ada beberapa ruangan yang sudah terbakar.


Berbeda di dua tempat yang juga Bulan taruh alat peledak. Mereka semua tampak panik. Dan juga terlihat mengambil senjata masing-masing.


Mereka memadamkan api dengan alat seadanya. Tapi percuma. Sebab, di ruangan tersebut menyimpan semua bahan yang mudah terbakar.


Mereka hanya bisa melongo sembari cemas, akan apa yang terjadi pada mereka. Sebab, pasti mereka akan mendapatkan hadiah dari pimpinan mereka atas kelalaian yang mereka lakukan.

__ADS_1


__ADS_2