
Jeno langsung berhambur memeluk Bulan. Tak mempedulikan banyaknya pasang mata yang berada di sekitar mereka.
Bulan hendak melepaskan pelukan dari sang kekasih. Hanya saja, tak semudah yang Bulan bayangkan. Jeno memeluknya dengan sangat erat. Seakan dirinya tak membiarkan Bulan lepas darinya.
Tentu saja Bulan merasa malu. Apalagi diantara mereka adalah teman Jeno. Yang notabennya anak didiknya di sekolah.
Bulan hanya tak ingin ada kesalahpahaman. Tanpa Bulan tahu, jika mereka sudah mengetahui hubungan mereka berdua. Bahkan mereka sangat mendukung. Terlepas dari jarak usia diantara mereka.
Semua yang ada di sekitar mereka hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan Jeno. Mereka tak menyalahkan sikap Jeno. Apalagi sedari tadi mereka melihat bagaimana khawatirnya Jeno terhadap Bulan.
Hanya saja, mereka melihat ada yang berbeda dengan penampilan Bulan. Rambut indah milik Bulan tak lagi panjang seperti biasa. Bahkan sekarang rambutnya tampak lucu, sebab dibeberapa bagian terlihat petak.
Namun mereka hanya diam. Tak berani bertanya atau mengatakan sesuatu untuk mengomentari rambut Bulan yang baru.
"Jeno,,, jika kamu terus memeluk seperti ini. Pasti sebentar lagi aku akan menyusul mereka yang berada di dalam." tukas Bulan mengancam, dirinya merasa sungkan pada semuanua.
Dan sesuai apa yang Bulan tebak. Jeno langsung melepaskan pelukannya pada Bulan. "Maaf." cicit Jeno. "Aku hanya merasa senang. Kamu selamat." lanjutnya dengan tatapan teduh.
Jeno membelai pipi mulus Bulan. "Astaga...!" seru Jeno dengan nada tinggi serta ekspresi terkejut.
Sehingga mereka semua menebak jika keterkejutan Jeno karena rambut Bulan yang seperti seorang lelaki. Juga dengan Bulan, yang berpikiran sama dengan mereka.
Bulan mengira Jeno akan marah dan langsung menjauh darinya karena rambutnya. Namun semua tebakan mereka salah. "Sayang,,, pipi kamu terluka." tutur Jeno dengan ekspresi khawatir melihat goresan di pipi Bulan. Dan ada darah yang mengering di goresan tersebut.
Hah... semua melongo. Sebab mereka mengira Jeno fokus dengan penampilan baru Bulan. Tak tahunya malah fokus pada hal lain. Yakni pipi Bulan yang sedikit terluka. Tampak seperti goresan.
Jeno tetap membelai pipi Bulan dengan lembut. "Kita ke rumah sakit sekarang." ajak Jeno di luar nalar.
"Hahh..." ujar Bulan terkejut. Juga dengan semua yang berada di sekitar mereka.
Pasalnya mereka juga melihat jika luka di pipi Bulan tidak separah itu untuk di bawa ke rumah sakit. "Jangan berlebihan Jeno." tolak Bulan dengan lembut.
Jeno menangkup kedua pipi Bulan. "Berlebihan bagaimana. Aku hanya khawatir. Nanti kalau luka kamu semakin parah bagaimana." cicit Jeno.
Semua tertawa pelan. "Jen... Elo jangan mengadi-ngadi. Itu cuma luka ringan. Dan pas...." ujar Mikel terhenti.
"Hussst.... Kamu tidak punya kekasih. Makanya kamu tidak tahu perasaanku." ucap Jeno memotong kalimat Mikel.
Perkataan Jeno bagai belati yang menusuk tepat di jantung Mikel. Sebab sampai detik ini Mikel memang sama sekali belum pernah terlihat dekat dengan seorang perempuan. "Tapi tidak segitunya Jeno...!!" geram Jevo, saudara kembarnya yang juga merasa Jeno terlalu berlebihan.
"Kalian kembar?" tanya Sapna mengalihkan perhatian mereka dari Bulan.
Bulan menyisihkan tangan Jeno di kedua pipinya. "Kalian, kenalkan. Beliau Nyonya Irawan. Dan dia putrinya. Sapna." tukas Bulan memperkenalkan dua perempuan yang ditolongnya.
"Dan tante,,, Sapna,,, kenalkan. Mereka semua rekan saya." lanjut Bulan memperkenalkan mereka.
"Saya Jeno. Kekasih Bulan." timpal Jeno pertama kali mengenalkan dirinya. Serta memberi tambahan di belakang kalimatnya.
Bulan hanya memutar kedua matanya dengan jengah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Jeno. Tapi mau bagaimana, memang seperti itulah Jeno..
"Saya Jevo. Saudara Jeno. Kami memang kembar identik." sahut Jevo memperkenalkan diri.
"Saya Arya, dan dia Mikel." tutur Arya memperkenalkan diri, serta Mikel.
"Gara." ucap Gara saat dua pasang mata tersebut menatap ke arahnya.
"Saya Irawan. Panggil saja tante." ujar Nyonya Irawan.
"Saya Sapna." lanjut Sapna.
Padahal Bulan sudah memperkenalkan mereka di awal. Tapi keduanya merasa kurang sopan jika tidak memperkenalkan diri mereka sendiri.
"Bulan... Kapan elo ke salon?" tanya Gara tersenyum jahil. Disambut tawa semua yang ada di sana. Kecuali Nyonya Irawan dan Sapna, juga Jeno.
Bulan melengos berpura-pura ngambek. "Maaf, gara-gara kami Bulan rela kehilangan mahkotanya." papar Sapna dengan ekspresi sendu, merasa bersalah.
Tawa mereka langsung lenyap. Adapun Gara, dia langsung merasa tak enak hati. Padahal dirinya hanya bercanda. Tapi siapa yang menyangka malah dianggap serius oleh Sapna dan sang mama.
Bulan mengelus kepalanya sendiri. "Sapna,,, tante,,, sudah saya katakan, tidak apa-apa. Kebetulan rambut saya subur. Pasti sebentar lagi akan panjang. Lagi pula, tidak jelek juga mempunyai rambut pendek. Hanya kurang rapi saja." jelas Bulan panjang lebar, dengan senyum tulusnya.
"Benar. Meski rambut bu Bulan pendek, tapi tetap cantik." celetuk Arya menimpali.
Jevo dan Mikel, serta Gara langsung menatap ke arah Jeno yang sedang menatap horor kepada Arya. Hanya karena Arya memuji sang kekasih dengan kata cantik.
__ADS_1
Arya yang tertawa pelan, perlahan tawanya memudar. Arya merasa ada sesuatu yang kurang enak. Hawa-hawa negatif berkeliling di sekitarnya. Arya tersenyum kaku menyadari tatapan mengerikan yang diberikan oleh Jeno pada dirinya.
"Khemm..." Arya berdehem dan langsung membuang pandangannya ke arah lain. "Padahal gue hanya berbicara kenyataan. Bukannya berterimakasih. Malah marah." batin Arya mengomel.
Nyonya Irawan hanya menggeleng pelan menyaksikan drama anak-anak muda di depannya. Berbeda dengan Sapna yang sedari tadi selalu mencuri pandang ke satu sosok yang langsung mencuri perhatiannya begitu dia melihat lelaki tersebut.
Jeno segera meletakkan tangannya di pinggang ramping Bulan dengan posesif. Menatap dengan penuh cinta sang pujaan hati dari samping.
"Apapun yang terjadi, kamu tetap cantik. Bahkan, jika kamu memotong habis rambut kamu sampai tak tersisa, kecantikan kamu akan tetap ada." ujar Jeno dengan romantis.
Bulan tersenyum samar. Cup... Jeno mencium singkat pipi Bulan. Menegaskan jika apapun keadaan dan bagaimanapun penampilan Bulan, Jeno akan tetap menyayangi dan mencintainya.
"Woeyy... woeyy..." seru Arya.
"Stoppp... stopp... stoppp...!!" seru Mikel.
"Hop... hoppp... hoppp...!!" seru Jevo.
Sedangkan Nyonya Irawan dan Sapna merasa terhibur dengan apa yang terjadi di depan mereka.
Bulan langsung mendorong pelan tubuh Jeno. Tentu saja Bulan sangat merasa malu. Bisa-bisanya di tempat umum Jeno main nyosor.
Berbeda dengan Bulan, Jeno malah tersenyum senang. Seolah dirinya menegaskan jika Bulan adalah miliknya. Hanya untuk dirinya.
Segera Bulan mengalihkan perhatian semuanya. "Khemm... Tante,,, Sapna. Bulan mohon, kalian berdua jangan menyebut nama mereka di hadapan siapapun. Termasuk pak Bimo." pinta Bulan.
Nyonya Irawan dan Sapna memandang Bulan dengan tatapan penasaran. "Sebenarnya, mereka semua adalah anak didik Bulan. Mereka masih duduk di bangku SMA. Sedangkan Gara, dia sahabat Bulan. Kami memang membentuk sebuah kelompok. Katakan saja, kelompok rahasia." jelas Bulan panjang lebar, berharap kedua perempuan di sampingnya mengerti.
"Tentu. Kamu tenang saja." sahut Nyonya Irawan.
Berbeda dengan Sapna yang malah fokus ke perkataan Bulan. Dimana Bulan mengatakan anak didik. Dan anak murid SMA. Padahal Bulan adalah seorang polisi wanita. Dan Jeno, tadi dia mengatakan kekasih dari Bulan.
"Kenapa gue malah bingung." batin Sapna yang hanya dia simpan di dalam hati.
Tak mungkin Sapna bertanya secara langsung. Apalagi pertanyaannya terbilang pribadi. Sapna bukan perempuan bodoh. Setidaknya dia bisa memilah apa yang bisa dia tanyakan atau tidak.
"Sebaiknya sekarang kita antar mereka." ujar Bulan.
"Bulan,,,, kamu sudah mengatakan rencana kamu. Setidaknya mereka harus mengetahui dan memutuskannya juga. Sebab mereka yang akan menjalani." sahut Gara mengemukakan sarannya pada Bulan.
Jeno hanya takut jika ada rekan dari musuh yang datang tiba-tiba. Bukankah mereka akan mendapatkan masalah. "Benar." sahut Jevo.
Mereka menaiki mobil, dengan Jeno dan Bulan semobil dengan Nyonya Irawan dan Sapna. Sementara Jevo dan Arya, serta Mikel dan Gara berada di dalam satu mobil.
"Kita berhenti di mana, sayang?" tanya Jeno tak merasa sungkan sama sekali. Meski ada Nyonya Irawan dan Sapna di mobil mereka.
Bulan hanya bisa menghela nafas, menahan rasa kesalnya. Bukannya Bulan tak suka dengan panggilan yang diberikan Jeno. Hanya saja, Bulan merasa tak enak hati pada dua perempuan yang duduk di kursi belakang.
"Di sini saja. Jangan terlalu mempercepat laju mobil kamu." ujar Bulan, memutuskan untuk mengatakannya di dalam mobil saja.
Bulan sedikit memutar badannya. Sehingga dirinya bisa menatap dua perempuan yang duduk di kursi belakangnya.
"Tante,,, Sapna. Sebelumnya saya minta maaf. Saya tidak bisa membawa kalian ke rumah saya, atau menyembunyikan kalian di tempat lainnya. Kalian pasti tahu berhadapan dengan siapa." cicit Bulan dengan jelas.
Nyonya Irawan mengangguk pelan. Dirinya sebenarnya juga tahu, siapa dalang dibalik penyekapan dirinya dan sang putri.
Berbeda dengan Sapna yang sama sekali tidak tahu apapun. Dalam ketidaktahuannya, Sapna hanya diam dan mendengarkan apa yang Bulan katakan.
"Gue harus bertanya pada mama, setelah ini." batin Sapna, dirinya menebak dari gestur tubuh serta ekspresi wajah sang mama. Jika sang mama mengetahuinya semua yang terjadi.
"Tapi kenapa mama sedari awal hanya diam. Seolah sengaja menyembunyikan semuanya dari gue." lanjut Sapna berkata dalam hati.
Namun Sapna memilih menunggu waktu yang tepat untuk bertanya pada sang mama. Dan pastinya bukan sekarang.
"Saya berencana akan mengantarkan kalian ke rumah Pak Darto." ungkap Bulan.
Kedua bola mata Nyonya Irawan membola seketika mendengar nama tersebut di sebutkan oleh Bulan. Ditambah lagi apa hang Bulan katakan.
Nyonya Irawan menggeleng cemas. Sapna yang melihat sang mama hanya diam seraya menepuk punggung beliau dengan pelan.
"Saya menebak, jika Pak Darto salah satu dari orang yang mengurung anda bersama Sapna di dalam sangkar mewah tersebut."
Sapna terdiam mendapati sebuah kenyataan tersebut. Dimana yang dia tahu, pak Darto adalah rekan kerja sekaligus sahabat sang papa.
__ADS_1
"Bagaimana bisa." batin Sapna.
"Hanya pak Darto yang mempunyai pikiran jahat. Bukan istri dari beliau. Saya menyarankan hal tersebut, karena bukankah lebih baik kita terang-terangan masuk ke kandang musuh. Dan sekaligus berpura-pura bodoh. Dengan memainkan peran sebaik mungkin." jelas Bulan.
"Katakan, apa yang harus kami lakukan." pinta Nyonya Irawan. Bermaksud mendengarkan dulu rencana Bulan, sebelum memutuskan akan mengikuti rencana tersebut atau tidak.
Mengingat Bulan sudah membebaskan mereka dengan mempertaruhkan nyawanya. Tak mungkin jika Bulan ingin membuat mereka celaka. Sangat mustahil.
"Tante dan Sapna harus memainkan peran. Katakan jika rumah diserang beberapa orang yang tak dikenal. Dan kalian selamat karena bersembunyi di dalam almari." jelas Bulan.
Bulan menghentikan sejenak perkataannya. "Tante, berpura-puralah tak mengetahui apapun. Semua demi keselamatan nyawa kalian berdua. Juga pak Bimo."
"Lalu bagaimana jika mereka bertanya, kenapa kami lebih memilih ke rumah mereka. Padahal kita bisa pulang ke rumah kita sendiri." ujar Nyonya Irawan.
"Bukankah di rumah kalian sendiri, penculikan itu berlangsung. Jadi,,,, sekalian bisa bersandiwara. Jika telah menganggap keluarga pak Darto sebagai saudara. Sehingga memilih rumah pak Darto." jelas Bulan.
"Bulan,,, bagaimana jika pak Darto kembali membawa kami pergi. Dan malah membahayakan nyawa kami." ungkap Nyonya Irawan mengeluarkan ketakutannya.
"Tidak mungkin. Dekati istri dari pak Darto. Bukankah beliau mempunyai sifat welas asih. Berbanding terbalik dengan sifat suaminya." saran Bulan.
Nyonya Irawan terdiam. Menimbang-nimbang apa yang akan dia lakukan. "Tante,,, kita semua tahu. Istri pak Darto adalah seorang pembisnis. Semua orang mengenalnya, ketimbang pak Darto sendiri. Menurut tante, apa mereka akan berani menyentuh istri dari pak Darto." Bulan tersenyum penuh makna.
"Dan juga, pak Darto mendapatkan jabatan tersebut karena campur tangan sang istri. Jadi, seharusnya tante bisa menebak, siapa yang lebih berkuasa di sini." lanjut Bulan dengan satu sudut bibir terangkat ke atas.
"Baik. Saya setuju dengan rencana kamu." ujar Nyonya Irawan dengan tegas.
Bulan tersenyum senang. "Sekali lagi saya ingatkan tante, Sapna. Jangan pernah membawa nama saya atau mereka. Katakan seperti apa yang saya ucapkan tadi. Berperanlah dengan baik selama tinggal di sana. Carilah cara, bagaimana mereka tak akan menyentuh kalian lagi. Saya yakin, tante lebih paham apa yang harus tante lakukan."
Nyonya Irawan tersenyum sempurna. Beliau paham apa yang dimaksud oleh Bulan. Sebab beliau tahu bagaimana sifat dari pak Darto.
Sementara Sapna hanya diam. Mengikuti dan menyetujui apapun yang dikatakan serta diputuskan oleh sang mama.
"Ma,,, mama berhutang penjelasan pada Sapna." batin Sapna yang menginginkan penjelasan dari sang mama.
Bulan meminta Jeno untuk menurunkan mereka berdua sedikit jauh dari rumah pak Darto. Tentunya Bulan tak ingin semua rencananya akan berantakan.
"Maaf tante, Sapna. Kami tidka bisa mengantar lebih dekat lagi." cicit Bulan merasa tak enak hati.
Nyonya Irawan tersenyum tulus. "Tidak apa-apa. Malah akan berbahaya jika kamu mengantar si depan gerbang."
Bulan memberikan kertas kecil bertuliskan nomor ponselnya. "Hubungi Bulan apapun yang terjadi." ujar Bulan seraya memberikan kertas tersebut pada Nyonya Irawan.
Nyonya Irawan menerima kertas tersebut dan segera menyimpannya. "Kalian hati-hati. Dan,,, terimakasih." tutur Nyonya Irawan.
Nyonya Irawan beserta sang putri turun dari mobil. Keduanya berjalan menuju ke arah rumah pak Darto. Bulan dan Jeno tak segera meninggalkan tempat mereka.
Bulan mengeluarkan senjata. Hanya untuk berjaga-jaga. Tentunya mereka akan memastikan kedua perempuan yang telah di tolong Bulan masuk ke dalam ke kediaman Pak Prapto dengan lancar.
Dibelakang mobil mereka, Mikel juga melakukan hal yang sama, yakni menghentikan mobil mereka. Gara tersenyum melihat Nyonya Irawan dan Sapna keluar dari dalam mobil. Berjalan berdua menuju ke kediaman Pak Darto.
"Mereka setuju. Syukurlah." batin Gara bernafas lega.
"Loh,,,, kenapa mereka berjalan? Mereka mau kemana?" tanya Arya dengan penasaran. Sayangnya tak ada yang menjawab pertanyaan dari Arya.
Selang beberapa menit, saat Nyonya Irawan dan Sapna sudah masuk ke dalam rumah pak Prapto, Bulan dan yang lainnya juga pergi meninggalkan tempat.
"Jeno, antar aku pulang ke rumah." pinta Bulan.
Jeno tersenyum penuh makna. "Ini sudah malam. Ikut saja dengan aku." sahut Jeno.
Mobil di belakang melaju sedikit cepat. Berjalan beriringan di samping mobil Jeno. "Berhenti...!" seru Mikel.
Jeno berhenti di tepi jalan. Tampak Jevo dan Arya serta Mikel keluar dari mobil. Mau tak mau, Jenopun keluar dari dalam mobil.
Dan Bulan tetap di dalam dengan kepala di letakkan di jendela mobil. "Elo mau kemana?" tanya Arya.
"Sebaiknya kalian pulang saja. Jangan lupa, antar Gara terlebih dahulu. Atau ajak Gara tinggal di apartemen kamu." cicit Jeno menyuruh Mikel mengajak Gara untuk bermalam di apartemen milik Mikel.
"Dan kamu Jevo,,, sebaiknya kamu pulang. Pasti besok pagi Moza akan kebingungan saat terbangun." lanjut Jeno tersenyum licik.
"Cckkk,,, memang elo mau ke mana?" tanya Jevo penasaran.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Jevo, Jeno malah masuk ke dalam mobil. "Gue pergi dulu."
__ADS_1
"Hoeeyy....!!" seru Arya memanggil Jeno yang sudah melajukan kembali mobilnya.
"Gila... tuh anak mau bawa bu Bulan kemana?" tanya Arya penasaran.