PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 74


__ADS_3

Seperti biasa, sepulang sekolah Moza langsung berganti pakaian. Tapi kali ini, dirinya tidak beristirahat seperti biasa di dalam kamar.


Melainkan pergi ke rumah Rani. Tentu saja Moza ingin melihat keadaan sahabatnya yang bermuka dua tersebut.


Lebih dari seminggu Rani dibawa pulang dari rumah sakit. Keadaannya sangat memilukan. Dia hanya bisa berbaring di atas ranjang tempat tidur, dengan suara yang sulit dia keluarkan dari dalam mulutnya.


Lawan bicaranya harus bersabar jika ingin berkomunikasi dengan Rani. "Permisi." seru Moza masuk ke dalam kamar Rani tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Moza manh terbiasa keluar masuk dengan bebas di rumah Rani, layaknya rumahnya sendiri. Sama seperti Rani dahulu, saat berada di rumahnya.


Moza tersenyum sempurna memandang Rani yang juga tengah menatapnya dengan pandangan sinisnya. "Tante sama om belum datang. Makanya gue ke sini dulu." tukas Moza memberitahu, duduk di kursi empuk yang berada di dalam kamar Rani.


Mengambil sebuah apel lalu memakannya dengan santai. "Kasihan sekali. Badan elo sekarang sangat kurus." ucap Moza mengejek Rani.


Rani hanya bisa menahan amarahnya, sebab mang dirinya tak bisa melampiaskan apa yang ada dalam benak serta hatinya.


Terdengar suara kemriuk dari mulut Moza yang mengunyah apel. "Segar sekali." cicit Moza, sebab udara di luar memang sangat panas karena matahari sangat terik.


"Maaf Rani, kamu mau?" tanya Moza, memperlihatkan buah apel yang tak lagi utuh karena beberapa gigitannya.


"Sayang sekali, elo nggak bisa makan seperti ini." lanjut Moza menampilkan ekspresi sedihnya.


"Terimakasih Tuhan, masih memberikan kesehatan serta tubuh yang lengkap pada hamba. Hamba berjanji akan mempergunakan apa yang telah Engkau berikan dengan baik. Untuk kebaikan, bukan kejahatan." sindir Moza menatap intens ke arah Rani.


"Aku hanya takut, Tuhan murka. Karena apa yang dititipkan ke tubuh kita, digunakan untuk kejahatan. Hiiiiihhhh,,,, menakutkan. Jangan sampai Tuhan murka sama gue." cicit Moza.


"Mo,,,, za,,,, si,,,a,,lan." ucap Rani terbata dan dangat sulit.


"Jangan mengumpati aku. Astaga,,,, sebaiknya gunakanlah mulut elo untuk berdo'a dan berkata yang baik-baik. Ingat, keadaan elo sudah seperti itu." ucap Moza mengingatkan, tapi juga menyindir Rani.


"Ka-mu, breng-sek." ucap Rani dengan sangat sulit. Hanya mengucapkan kalimat singkat tersebut, nafas Rani terlihat terengah. Mungkin, karena emosinya juga yang tidak stabil.


"Hey,,, kenapa gue yang brengsek. Memang gue ngapain elo Ran? Nyuruh orang banyak untuk melecehkan elo. Tidak bukan. Berbohong sama elo. Tidak juga. Lalu brengseknya gue di mana?" tanya Moza terkekeh pelan.


Moza berdiri dari duduknya. "Gue pamit dulu. Mau mengerjakan tugas sekolah. Biasa,,, guekan anak sekolah yang berseragam putih abu-abu."


Tanpa melihat lagi ke arah Rani, Moza meninggalkan kamar Rani. Sekolah. Wajah Rani seketika berubah murung mendengar kata sekolah.


Pasalnya, sudah dapat dipastikan jika dirinya tidak akan bisa lagi belajar. Entah di sekolah umum, atau privat. Karena keadaan tubuhnya yang tidak memungkinkan.


Seorang pembantu masuk ke kamar Rani membawa nampan berisi segelas air minum. "Loh,,, Non Moza sudah pergi?" tanyanya sembari melihat sekeliling kamar Rani.


Seolah dirinya tidak melihat keberadaan Rani, sang pembantu kembali meninggalkan kamar Rani dengan tangan masih membawa nampan berisi segelas air minum untuk Moza.


Rani menatap pintu yang kembali tertutup rapat dengan tatapan kesal yang luar biasa. Semenjak dirinya berbaring tak berdaya di atas ranjang, para pembantu di rumahnya juga seakan tak mengindahkan dirinya.


"Awas saja, jika gue sembuh seperti dulu. Gue akan buat perhitungan pada kalian semua." ucap Rani dalam hati


Tapi sayangnya, apa yang diharapkan Rani sangat sulit terjadi. Bahkan hingga saat ini, kedua orang tuanya selalu mencari informasi terkait dokter atau rumah sakit yang mampu membuat sang putri kembali seperti dulu.


Sampai rumah, Moza menghela nafas sembari mendaratkan pantatnya dengan kasar ke kursi empuk di depan televisi. "Sumpah, gue terlihat seperti Rani, jahat banget." lirihnya, mengingat setiap perkataan yang dia keluarkan saat berada di kamar Rani.


Tampak kedua mata Moza memancarkan penyesalan. Telah dengan sadis mengatakan hal seperti itu pada Rani.


Tapi, mengingat apa yang Rani lakukan padanya, Moza kembali merasa apa yang dia lakukan bukalah sebuah kejahatan. Hanya sebuah ucapan saja, tanpa tindakan.


Tidak seperti Rani yang dengan tega, dan memang sengaja ingin melukai bahkan mencelakai dirinya. Serta merusak masa depannya.


"Jevo." lirih Moza tersenyum sendiri mengingat sosok Jevo.


Moza merasa ada yang berbeda dengan Jevo. Terlihat jelas, Jevo bukanlah seperti Jevo sebelumnya. Dimana dia akan memperlakukan Claudia dengan manis dan manja.


Moza tersenyum kembali mengingat penolakan dari Jevo, saat Claudia ingin bermanja dengannya. "Apa Jevo sudah tahu, jika Claudia tak sebaik yang terlihat. Dia sama sekali tidak mencintai Jevo." cicit Moza.


Senyum Moza perlahan pudar, saat mengingat Jevo juga menolak makanan yang dia berikan. Bahkan, Moza dengan sepenuh hati memasak makanan tersebut khusus untuk Jevo.


"Ada apa dengan Jevo?" gumam Moza mencoba menebak dengan pemikirannya sendiri.


Di sebuah ruangan yang bernuansa gelap, beberapa orang berkumpul di sana. Dengan seorang lelaki duduk di kursi single besar di balik meja.


"Aaa.....!! Bodoh...!! Bagaimana ini bisa terjadi...!!?" teriak seorang lelaki dengan tubuh penuh dengan gambar berbagai macam hewan tangguh, serta berbagai gambar seni lainnya yang sedang duduk.


Beberapa bawahan yang berdiri di depannya, hanya bisa diam tak berkutik seraya menundukkan kepalanya. Tentu saja mereka tidak berani memandang langsung pada pimpinan mereka.


Apalagi berita yang mereka bawa adalah berita kekalahan. Sebab, saat mereka sampai, markas terkunci dari dalam, dengan semua rekan mereka berada di dalam.


Membutuhkan waktu berjam-jam untuk mereka bisa menembus pintu, supaya mereka bisa masuk ke dalam. Apa yang mereka temukan di dalamnya, membuat mereka melongo tak percaya.


Semua rekannya tergeletak tak bernyawa di lantai. Hanya beberapa yang terlihat terluka karena peluru. Dan sebagian besar rekannya meninggal tanpa luka sedikitpun.


Mereka bisa menebak dengan mudah bagaimana rekan mereka bisa meninggal. Sebab, saat mereka masuk, ada bau racun yang masuk ke indera penciuman mereka. Meski sudah tak lagi menyengat.


Itulah kenapa mereka langsung bergegas meninggalkan markas di mana Gara tinggal. Dan tak menyisir tempat tersebut terlalu dalam. Tentu saja mereka tidak ingin mati sia-sia karena menghirup udara yang telah menjadi satu dengan racun.


Mereka hanya memperkirakan jika semuanya pasti telah meninggal, tanpa memeriksa secara menyeluruh ruangan tersebut.


Lelaki dengan banyak gambar di tubuhnya tersebut duduk dengan raut wajah menahan amarah yang begitu besar.


Bagaimana tidak merasa kesal dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun. Dia memberi perintah kepada beberapa bawahannya menyerang kediaman Gara.

__ADS_1


Tapi apa yang dia dapat. Bukan hanya satu atau dua bawahannya yang meninggal, tapi lebih dari dua puluh lima bawahannya meninggal.


Sebab dirinya memang kembali mengirim beberapa orang, untuk melihat markas yang di tempati Gara. Saat beberapa anak buahnya yang datang pertama kali tidak memberikan kabar, serta tidak dapat dia hubungi.


Awalnya, dia tidak setuju dengan penyerangan yang disarankan oleh bawahannya, yang juga memberitahu keberadaan Gara pada dirinya.


Namun, dirinya berubah pikiran saat ada yang mengatakan jika pasti Gara masih dendam atas apa yang dia terima. Ditambah lagi, Gara mengetahui banyak informasi mengenai semua yang mereka lakukan tanpa terkecuali.


Oleh karenanya dia setuju untuk melenyapkan Gara, dengan menyerang markasnya. Dan itu bukan sebuah pertarungan besar. Hanya mencari mantan bawahannya.


Gara. Seorang lelaki yang duduk di atas kursi roda, mengandalkan kursi tersebut untuk berpindah tempat. Tapi, dia mendapatkan kerugian yang amat besar di depan mata.


"Hanya karena Gara, gue kehilangan banyak orang." geramnya, tak menyangka semua ini akan terjadi.


"Bawa ke sini orang yang memberikan informasi keberadaan Gara?!" perintahnya.


"Maaf boss, tapi dia juga tewas saat menyerang kediaman Gara." ungkapnya.


"Gara....!!! Cacat sialan...!! Bagaimana bisa dia melakukan semua itu. Brengsek...!!" teriaknya meluapkan emosi.


Yang dia tahu, Gara bekerja seorang diri. Dan bisa membuat dirinya meradang karena kejadian yang sama sekali tidak dia sangka akan berimbas seperti ini.


"Brengsek...!!" teriakannya, menyapu bersih semua yang ada di atas meja dengan tangannya.


Siapa yang akan menyangka. Sebuah informasi dari anak buahnya, terkait keberadaan Gara membuatnya merasa menyesal telah melakukan rencananya ini.


"Tunggu." ucapnya memandang ke arah bawahannya berada. "Bukankah ada kamera CCTV." ungkapnya, sebab dirinya bisa melihat semua dari sana.


"Kami menemukan kamera CCTV sama sekali tidak berfungsi, boss." lapornya.


"Apa mungkin, Gara bekerja seorang diri?" tanyanya lagi, merasa mustahil seorang Gara yang memiliki keterbatasan gerak karena fisiknya, bisa melenyapkan begitu banyak nyawa.


"Maaf boss,,,, dia Gara. Tangan kanan anda saat dia masih berada di sini." papar bawahannya.


"Benar. Dia Gara. Serigala liar yang tak tertandingi. Baik otak ataupun ketangkasannya." ucapnya membenarkan perkataan salah satu anak buahnya.


Jika memang benar yang melakukannya adalah Gara. Dia akan percaya, kemungkinan besar Gara akan menggunakan keahlian otaknya untuk menghabisi mereka tanpa menggunakan kekuatan fisik.


Sebab, saat Gara masih berada dalam genggamannya, Gara lah yang memimpin semua bawahannya. Serta Gara lah yang menjalankan beberapa bisnis ilegalnya.


Sedangkan dirinya hanya duduk tenang. Menunggu kabar serta menikmati hasilnya tanpa harus bekerja dan berpikir.


"Gara, dia masih berbahaya." cicitnya, menyadari jika dengan keadaan Gara yang tak lagi sempurna seperti dulu, tapi masih bisa membuat dirinya merasa meradang.


"Cari dan temukan Gara. Pastikan kalian membawanya ke hadapanku dalam keadaan hidup...!!" serunya memberi perintah.


"Baik boss....!!" sahut para bawahannya.


Tanpa semua tahu. Jika Bulan, musuh merekalah yang berada di belakang Gara. Melenyapkan semua orangnya seperti dia melenyapkan nyamuk menggunakan semprotan obat nyamuk.


Jika saja meraka tahu bahwa Bulan membantu Gara selama ini, maka dipastikan akan terjadi keriuhan. Bukan hanya itu saja, dia pasti akan berpikir ulang untuk membalas dendam.


Sedangkan di markas di mana Bulan berada, dia sedang mengajari Arya untuk melakukan pencarian informasi di dunia maya. "Lakukan yang kamu bisa." tekan Bulan.


Meski sebenarnya Bulan ingin segera mengetahui kebenaran dari apa yang baru saja dia lihat. Yakni sebuah pintu rahasia di salah satu ruangan di rumah Rio.


Tapi Bulan menekan rasa itu. Menekan ego yang ada pada dirinya. Dirinya sadar, jika sekarang dia tidak hanya bekerja dengan Gara seorang.


Dimana Gara dengan mudah bisa mengikuti apa yang dia inginkan. Juga dengan Bulan sendiripun, bisa mencari tahu dengan singkat apa yang dia ingin tahu.


Bulan sadar, jika dirinya saat ini mempunyai rekan kerja, dimana mereka masih pemula. Dan memang masih sangat membutuhkan bimbingannya.


Bulan tersenyum samar. "Dan lihatlah, gue benar-benar menjadi seorang guru." ucap Bulan dalam hati.


Arya menatap ke arah layar laptop dengan serius. Jari jemarinya menari di atas keyboard, dengan Bulan duduk di sebelahnya.


Sedangkan yang lainnya duduk santai sembari memainkan ponsel masing-masing. Dan Gara, dia masih beristirahat di ruang rawat untuk memulihkan kesehatan tubuhnya.


Bulan hanya diam, mengawasi layar. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dirinya tidak ingin mengganggu konsentrasi dari Arya.


Terdengar suara seseorang sedang menguap di belakang mereka. Tentu saja salah satu dari ketiga lelaki yang duduk santai. Dan itu dilakukan dengan sengaja, karena suaranya terdengar keras.


"Kurang ajar, pasti mereka sengaja." tuduh Arya dalam hati merutuk.


Arya merasa dirinya telah duduk lama, tapi belum juga mengetahui identitas perempuan yang sedang mereka cari.


"Berhasilll...!!" seru Arya dengan girang. Bahkan, Arya sampai berdiri dan berlonjak kegirangan.


"Aww..." seru Arya dengan tangan memegang kepalanya bagian belakang.


"Itu belum seberapa. Nggak usah kesenangan." tegur Mikel dengan sinis.


Arya hanya menjulurkan lidahnya. Tak menggubris apa yang dikatakan oleh Mikel. Menurutnya, ini adalah sebuah pencapaian baru.


"Gue akan belajar lagi." ucap Arya dalam hati, setelah tahu cara melakukannya.


Bulan tersenyum samar. Bulan berpendapat jika Arya bisa seperti Gara. Padahal Bulan hanya membimbingnya di awal. Tapi Arya bisa meneruskannya, meski membutuhkan waktu. Dan itu lumrah untuk seorang pemula seperti Arya.


Jevo menepuk pundak Arya. "Elo hebat." puji Jevo.

__ADS_1


Arya tersenyum malu. "Thanks." sahutnya, lalu kembali memandang kesal ke arah Mikel.


Jeno hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum melihat tingkah mereka. Dan Bulan, sudah terlihat serius membaca setiap informasi yang ada di layar laptop.


"Bukan orang penting. Hanya seorang pembantu biasa yang membutuhkan uang lebih." jelas Bulan, dengan jari jemari berselancar di atas keyboard, seperti sedang menari.


Arya tak ingin kehilangan momen tersebut. Diperhatikan setiap jentikan jari Bulan di atas keyboard.


Bulan tersenyum miring. "Seorang janda. Dengan anak lebih dari satu. Pantas saja." cicit Bulan.


Bulan berdiri, duduk di kursi panjang dengan santai. Di susul keempat anak didiknya. Dan yang pasti, Jeno duduk di samping Bulan.


"Lalu Mikel, bagaimana dengan kamu?" tanya Bulan.


"Seperti sebelumnya, dia berhenti di tempat yang memang aneh. Sepi, sekitarnya hanya ditumbuhi ilalang. Tapi tempat itu berbeda dengan tempat sebelumnya."


Bulan hanya mengangguk. Dia mengesampingkan tentang tempat ini. Dan akan fokus pada satu titik terlebih dahulu. Sebelum ke titik selanjutnya.


"Ada kabar tentang Serra?" tanya Bulan.


"Sekarang, Serra kembali beraktifitas seperti biasa. Bahkan, dia juga sudah masuk ke sekolah." tukas Jevo.


"Pihak berwajib?" tanya Bulan.


"Seperti tebakan ibu. Mereka fokus pada wajah palsu si pembunuh. Yang di gambarkan oleh Serra." sahut Jevo.


"Pasti sekarang, terjadi kehebohan di makamnya. Kasihan sekali dia."


Dapat Bulan tebak dengan mudah. Jika makan wajah yang digambarkan oleh Serra pasti di bongkar oleh pihak berwajib, untuk melakukan penyelidikan.


"Tapi, dia selalu diawasi oleh beberapa orang. Saya yakin, mereka anggota keamanan negara." jelas Jevo.


"Biarkan saja. Bisa dipastikan, untuk sementara pasti Rio akan melepaskan Serra." tebak Bulan.


Tidak mungkin Rio melanjutkan misinya untuk menyingkirkan Serra seperti sebelumnya. Jika Serra di jaga ketat.


"Apa Rio tidak kembali ke rumah sang dokter?" tanya Bulan.


Jeno mengeluarkan ponsel, memberikannya pada Bulan. "Tadi dia mengirim pesan tertulis untuk aku. Tapi belum aku balas."


Bulan membaca pesan tersebut. Di mana, Rio menginginkan dia bertemu dengan Jeno yang memang menyamar sebagai asisten palsu sang dokter.


"Ingin bertemu. Berdua. Kenapa tempatnya jauh sekali." cicit Bulan, mengembalikan ponselnya pada Jeno.


"Bagaimana?" tanya Jeno.


Bulan terdiam sejenak. Memikirkan sesuatu. "Ajak dia bertemu di restoran yang berada di sekitar rumah kamu saja. Ingat, restorannya jangan terlalu ramai." pinta Bulan.


Jeno mengangguk. "Mikel, kamu akan mengikuti Jeno."


"Baik bu"


"Jevo, kamu tetap di markas. Jaga Gara."


Jevo mengangguk. "Arya, seperti biasa, kamu akan duduk di sana." tukas Bulan, memandang ke arah kursi yang baru saja dia tinggalkan.


"Baik bu."


"Aku akan menyelinap masuk ke ruang rahasia itu." ujar Bulan.


"Sendirian?" tanya Jeno.


Bulan mengangguk. "Kenapa tidak ditemani, Jevo mungkin bisa. Di sini sudah ada Arya. Dia bisa sekalian menjaga Gara." saran Jeno.


Ketiga teman Jeno mengerti kenapa Jeno mengatakan hal tersebut. Pasti Jeno merasa khawatir. Padahal, hal tersebut tak perlu Jeno risaukan.


"Kamu tahu sendirikan, aku tidak suka melakukan misi dengan seseorang partner. Yang ada malah membuat aku kesulitan." Bulan menatap Jeno dengan tatapan penuh makna.


Jeno tersenyum kecut. "Iya, maaf." cicit Jeno. Teringat dimana dia membuat Bulan jengkel karena tidak menuruti apa yang Bulan katakan. Yang malah hampir membuat celaka keduanya.


Jevo bisa menebak, jika Jeno dan Bulan pernah berada dalam satu misi. Tapi keberadaan Jeno malah menjadi penghalang dan bumerang untuk pergerakan Bulan.


Jevo menahan senyumnya. Dia sekarang tahu, jika saudara kembarnya saat ini pasti tengah berjuang keras untuk menyesuaikan diri dengan Bulan.


"Lagi pula, Rio sedang bersama kamu saat aku masuk ke dalam." jelas Bulan.


Jeno mengangguk membenarkan apa yang Bulan katakan. "Oh iya, apa mama Rio sudah kembali?"


"Belum, tapi seharusnya dia sudah kembali kemarin. Tapi sosoknya sama sekali tidak terlihat di rumah." jelas Arya, yang memantaunya lewat kamera CCTV.


"Benar juga. Kemana dia?" timpal Mikel.


Semuanya saling pandang sejenak. "Kamu bisa cari tahu. Mulai saja dari bandara." saran Bulan pada Arya.


"Baik bu."


Bulan berdiri, dan masuk ke dalam ruangan Gara. Tentu saja Bulan ingin melihat keadaan sahabatnya tersebut. "Merasa baikan?" tanya Bulan, yang ternyata Gara sudah membuka kedua matanya.


Gara mengangguk pelan. "Hanya sedikit lemas." cicit Gara.

__ADS_1


"Sabar, sebentar lagi juga akan sembuh." ujar Bulan. Gara mengangguk, sembari tersenyum.


Meski dirinya tidak bisa tinggal dan berkumpul dengan keluarganya, tapi Gara merasa jika saat ini, dirinya merasakan hal tersebut. Apalagi ada Bulan yang selalu memperhatikan dan menyayangi dirinya.


__ADS_2