
"Siapa?" tanya Bulan pada bawahannya, saat dia melapor jika ada seseorang yang menunggunya di luar.
"Dia mengatakan calon suami anda." sahut bawahan Bulan dengan tegas, di depan meja Bulan.
Bulan tersenyum samar. Melihat ke arah dinding, dimana sebuah jam terpasang di sana. "Katakan untuk menunggu sebentar lagi." pinta Bulan.
Tidak lebih dari lima menit, jam kerja Bulan akan selesai. Sehingga dia bisa meninggalkan kantor dengan bebas tanpa rasa sungkan. Lagi pula, dirinya memang tidak pernah mengkorupsi waktu saat bekerja.
Bulan tersenyum, sebab segera bertemu pujaan hati. "Baik." sahut bawahannya, segera melakukan apa yang Bulan katakan.
"Padahal setiap hari bertemu. Kenapa rasanya tetap senang. Aneh. Apa ini yang benar-benar dinamakan cinta. Tidak ada rasa bosan dna jenuh." lirih Bulan merasa banyak kupu-kupu yang berterbangan di sekitarnya.
Bulan teringat akan sesuatu. "Mungkin Jeno bisa membantu aku untuk berbicara dengan Gara. Siapa tahu, jika Jeno yang berbicara, Gara akan mengerti dan mau melakukan rencanaku." tukas Bulan, sembari merapikan meja kerjanya. Menyimpan beberapa dokumen ke dalam laci.
Seperti yang dijanjikan Bulan, jika Jeno tidak lama menunggu dirinya. Dan Jeno lebih memilih untuk menunggu Bulan di area parkir. Di dalam mobil, dari pada di dalam ruangan.
Jeno hanya merasa kurang nyaman, saat beberapa petugas berjenis kelamin perempuan mencuri pandang ke arahnya.
Dan bukan hanya itu saja. Ada beberapa yang bahkan terlihat mencari perhatian Jeno dengan melakukan sesuatu, supaya Jeno tertarik dan melihat ke arahnya.
Hanya saja, bukannya tertarik, Jeno malah malas dan merasa eneg melihat kelakuan mereka. Lagi pula, mereka tidak secantik dan semenarik Bulan. Mana mungkin bisa membuat Jeno mengalihkan pandangannya.
Jeno melihat ke depan. Dimana seorang perempuan berjalan dengan senyum menawan ke arahnya. Jeno ingin keluar dan membukakan pintu, tapi dia tahan. Sebab teringat akan permintaan Bulan beberapa waktu yang lalu.
Jika dirinya harus menyesuaikan momen untuk hal tersebut. Tidak mesti setiap saat dan setiap waktu membukakan pintu mobil untuk Bulan.
"Dari pada my moon ngambek. Lebih baik aku menunggu di dalam saja." cicit Jeno, membukakan pintu mobil dari dalam.
Bulan tersenyum sempurna, melihat Jeno duduk di belakang kemudi. "Sudah lama?" tanya Bulan setelah menutup pintu mobil, dengan ekspresi bahagia.
"Belum." ujar Jeno mulai melajukan mobilnya untuk meninggalkan area parkir kantor tempat Bulan bekerja.
"Capek?" tanya Jeno.
"Lumayan. Banyak sekali berkas yang harus aku tinjau."
"Kita langsung pulang, atau mau mampir dulu?" tanya Jeno, dengan satu tangan menggenggam telapak tangan Bulan.
"Aku lapar. Tadi tidak sempat makan siang. Hanya makan sepotong roti."
"Ckk... Jaga kesehatan. Aku tidak mau jika kamu sampai sakit." omel Jeno.
"Iya,,, maaf. Banyak pekerjaan yang menumpuk." sahut Bulan beralasan.
"Lain kali, jika kamu tidak sempat keluar, kamu hubungi aku." pinta Jeno.
"Kamu masih berada di sekolah." sahut Bulan, sebab pasti Jeno masih belajar di sekolah.
"Bisa aku pesankan. Jadi akan dianter. Kamu tinggal makan."
"Aku saja sampai lupa. Kalau ada yang seperti itu."
"Ingin makan dimana?"
"Terserah kamu saja. Kamu tahu sendirikan, jika aku baru beberapa bulan di sini. Tidak terlalu tahu tempat makan yang enak dan nyaman." ujar Bulan pasrah.
"Sebenarnya aku juga sangat jarang makan di luar. Tapi, saat di sekolah aku mendengar beberapa murid mengatakan tempat yang menurut mereka rekomen."
"Ya sudah, kita ke sana saja. Tapi,, apa jauh?" tanya Bulan tentang jarak yang akan mereka tempuh.
"Tidak. Sekitar lima belas menit sampai. Semoga saja tidak macet." jelas Jeno, sebab jam-jam segini memang para pekerja kantoran biasanya pulang dari pekerjaan mereka.
"Mungkin kita bisa lewat jalan tikus." saran Bulan.
"Coba kamu lihat di aplikasi ponsel. Kita cari jalan yang tercepat, tapi jangan sampai terjebak macet." pinta Jeno, sembari menyebutkan nama tempat makan yang akan mereka tuju.
Bulan segera membuka ponselnya. "Ini ada. Tapi,,, lumayan jauh. Sekitar dua puluh kima menit."
"Apakah macet?"
"Kelihatannya tidak."
"Oke. Kita lewat sana saja." tukas Jeno.
Bulan membacakan jalan menuju ke tempat makan sesuai arahan yang ada di aplikasi ponsel pada Jeno. "Ada apa?" tanya Jeno, saat Bulan menoleh ke belakang. Memandang mobil yang berpapasan dengannya.
"Tidak. Tidak ada." sahut Bulan.
Bulan menggelengkan kepalanya. "Bukan. Mana mungkin Gara. Dia tidak bisa berkendara. Pasti gue salah melihat. Lagi pula, mobil tadi lumayan kencang. Pasti gue yang salah." batin Bulan, merasa orang yang mengemudi tersebut mirip dengan Gara.
Sesuai arahan aplikasi yang ada di ponsel, Jeno dan Bulan sampai di tempat makan tepat dua puluh lima menit setelah perjalanan.
Bulan menatap sekeliling. "Indah dan sejuk." ujar Bulan melihat sekelilingnya.
Rumah makan tersebut di desain seperti gubuk yang berada di sawah-sawah. Bahkan, sekitanya juga ada air jernih yang mengalir. Dimana ada berbagai ikan dengan banyak warna berenang dengan gembira di air tersebut.
"Kamu suka?" tanya Jeno.
"Suka."
Sebelum masuk ke dalam, dan mendaratkan pantatnya. Mereka terlebih dahulu pesan makanan dan air minum. Sehingga mereka kini tinggal menunggu pesanan datang.
Jeno melepas jaket yang dia kenakan. Digunakannya jaket tersebut untuk menutupi paha Bulan yang terlihat sedikit, karena roknya tersingkap ke atas.
Hanya sedikit. Dan Jeno tetap tidak rela. "Terimakasih." ujar Bulan.
"Nggak bawa jaket?"
Bulan menggeleng. "Lupa. Tadi tergesa. Soalnya bareng dengan Sapna." tukas Bulan.
Keduanya berangkat bersama. Dengan mobil Bulan dibawa oleh Sapna. Sebab dirinya sudah ada janji dengan Jeno, jika Jeno akan menjemputnya.
Sementara Sapna, kini dia sudah bekerja. Meski bukan bekerja di perusahaan atau perkantoran, setidaknya ada pemasukan yang Sapna dapat.
"Sapna betah kerja di sana?" tanya Jeno, tahu jika Sapna bekerja di toko bunga.
"Awalnya dia sempat mengeluh. Tapi hanga mengeluh, tidak berniat keluar. Mungkin karena dia sedikit terkejut, karena lebih banyak berdiri. Katanya tokonya ramai didatangi pembeli." jelas Bulan.
"Sekarang?"
"Baik. Dia nampak senang."
Tak berselang lama, makanan serta minuman yang mereka pesan datang. Dua pelayan lelaki menaruhnya di atas meja. Beberapa kali, Jeno mendapati keduanya mencuri pandang ke arah Bulan.
"Turunkan dengan segera." pinta Jeno mengultimatum.
"Ba-baik." sahut salah satu pelayan, dirinya tahu jika Jeno mengetahui jika dia mencuri pandang ke arah Bulan yang sedang fokus pada ponselnya.
__ADS_1
Jeno menghela nafas panjang, setelah keduanya meninggalkan meja. Bahkan mereka sempat-sempatnya membalikkan badan untuk kembali melihat ke arah dimana Jeno dan Bulan duduk.
"Sebenarnya siapa yang salah? Memang calon istriku sangat cantik. Tapi tetap saja, mata mereka yang jelalatan." batin Jeno merasa kesal.
"Kenapa?" tanya Bulan, sadar jika pandangan Jeno menatapnya dengan intens.
"Kenapa kamu cantik sekali sih?" cuit Jeno menaruh sikunya di atas meja, dengan dua telapak tangan di taruh di bawah dagunya.
Menatap Bulan dengan senyum yang menggoda. "Gombal. Aku tambah lapar tahu." sahut Bulan menahan senyumnya.
Bulan mengambil makanan untuk di letakkan di atas piring. "Kenapa sih kamu sangat menggemaskan, sayang?" cicit Jeno.
"Sudah makan saja." ucap Bulan, menyuapkan makanan ke dalam mulut Jeno.
Sekarang, giliran Bulan yang menyuapkan makanan ke dalam mulut Jeno. Sementara Jeno hanya tinggal membuka mulutnya. Mengunyah apa yang dimasukkan Bulan ke dalam mulutnya.
"Apa ada sesuatu?" tanya Jeno, merasa sang kekasih tampak murung.
"Gara."
"Ada apa dengan Gara?" tanya Jeno juga merasa khawatir.
"Dia merasa ragu menjalani hubungan dengan Sapna."
"Apa Sapna tidak menyukai Gara, apa cinta Gara bertepuk sebelah tangan?"
Bulan menggeleng. "Bukan seperti itu. Masalahnya malah lebih rumit."
"Apa?"
"Keadaan Gara. Bukan fisik tapi keberadaan Gara yang belum bisa keluar dari persembunyiannya."
Jeno terdiam. "Benar juga. Apalagi jika tante Irawan sampai tahu siapa Gara. Terlebih, sekarang Gara masih menjadi incaran para penjahat itu."
"Sebenarnya, aku punya rencana. Tapi Gara menolaknya."
Jeno beralih tempat duduk. Tak lagi duduk di depan Bulan, melainkan berada di samping Bulan. "Rencana apa?"
"Kakek Timo." lirih Bulan.
Jeno langsung tahu apa rencana yang dimaksud oleh Bulan. "Dengan mengubah wajah Gara. Berarti mencari identitas baru. Apa kakek setuju?"
Bulan mengangguk. "Setuju. Dan soal identitas, aku yang akan menanganinya."
Memang rencana yang sangat matang. Dan dapat dipastikan akan berjalan dengan lancar. Tapi sayangnya hanyalah sebuah rencana. Sebab orang yang bersangkutan tidak mau melakukannya.
"Rencana yang sempurna. Hanya saja, masalahnya ada di Gara."
"Bisa minta tolong."
Jeno menggenggam telapak tangan Bulan, menciumnya dengan tulus. "Cukup katakan sayang. Aku pasti akan melakukannya."
"Jangan terus bersikap seperti ini?"
"Kenapa?" Jeno membelai mesra pipi mulus sang kekasih.
"Nanti aku akan terkena diabetes."
Jeno mencubit gemas hidung mancung Bulan. "Sekarang bisa menggombal ya." goda Jeno.
"Haruslah. Nanti kamu digombalin perempuan lain."
"Jangan. Aku takut lama-lama kamu kena lagi. Terus ninggalin aku."
Jeno tertawa pelan. "Mana ada seperti itu. Memang hati ini alat transportasi. Bisa pindah dengan cepat." kekeh Jeno.
"Awas kalau kamu macam-macam. Ingat, kekuatan serta kekuasaanku bahkan lebih tinggi dari pada kamu." ancam Bulan.
Bukannya takut atau tersinggung, Jeno malah tertawa pelan. Merasa apa yang dikatakan Bulan sungguh lucu. "Iya. Aku mah padamu. Pokoknya Jeno milik Bulan."
Bulan tersenyum malu. "Kita kok malah bahas ini. Kamu sih."
"Loh... Kok aku." kekeh Jeno.
"Ya sudah, tadi kamu mau minta tolong. Mau minta apa sama aku?" tanya Jeno, duduk menyamping menatap kecantikan sang kekasih yang tidak membosankan.
"Kamu bicara dengan Gara. Siapa tahu dia akan mendengar apa yang kamu katakan. Bukankah kalian sesama lelaki." jelas Bulan.
Jeno manggut-manggut. "Bisa. Kapan?" tanya Jeno menyetujui keinginan Bulan.
Jeno mempunyai pemikiran yang sama, karena bisa saja Gara akan lebih mendengarkannya, karena sesama lelaki. Selain itu, Jeno juga akan membujuk Gara sebisa mungkin. Supaya Gara mau melakukan rencana Bulan.
"Eh,,,, kenapa kamu tidak melihatkan Sapna?" tanya Jeno, mempunyai pemikiran yang sama dengan kakek Timo.
"Niatnya iya. Tapi coba kamu dulu yang bicara dengan Gara. Lalu aku akan terlebih dahulu berbicara dengan Sapna. Sehingga, Sapna tidak akan terkejut."
"Iya sih. Semoga Sapna dan Gara bisa menemukan jalan terbaik."
"Iya. Aku juga berharap seperti itu. Meski dulu kepribadian Gara tidak baik. Tapi itukan masa lalu. Yang terpenting sekarang Gara sudah berubah. Mengenai pekerjaan, jika Gara mau melakukan rencana kita. Mungkin dia bisa bekerja di perusahaan papa kamu." cicit Bulan.
"Jangan di perusahaan papa." sahut Jeno segera.
"Loh kenapa?" tanya Bulan mengerutkan keningnya.
"Jangan. Di perusahaan papa sudah banyak orang yang oke. Aku ingin Gara bekerja dengan kita." jelas Jeno.
Bulan mengedipkan kedua matanya dengan lucu. Tentu saja Bulan merasa apa yang dikatakan Jeno barusan sedikit aneh. "Bekerja dengan kita. Memang kita punya pekerjaan untuk Gara. Aku saja bekerja untuk negara." tukas Bulan.
"Oke. Aku mau jujur sama kamu."
Bulan menyipitkan kedua matanya. Menatap curiga ke arah Jeno. "Aku tidak berbohong atau berbuat salah. Hanya saja, aku belum menceritakan sesuatu sama kamu." lanjut Jeno.
Bulan bersedekap dada. Sedikit mengangkat dagunya ke atas. "Jangan seperti itu sayang. Maaf, aku dulu belum berbicara sama kamu. Tahu sendiri, masalah kita terlalu banyak. Dan sekarang, semua sudah tenang dan damai." cicit Jeno.
"Alasan." sahut Bulan mencebikkan bibirnya.
Cup..... Jeno mencium sekilas bibir Bulan yang menggoda.
Bulan memukul pelan bahu Jeno. "Jeno...." seru Bulan dengan nada rendah. Bisa-bisanya Jeno menciumnya di tempat seperti ini.
"Nggak ada yang lihat sayangku.... My moon." Jeno mencubit gemas pipi sang kekasih.
Bulan berdecak sembari mengusap pipinya yang baru saja dicubit oleh Jeno. "Salah sendiri. Kenapa bibir kamu monyong-monyong. Pasti minta cium, makanya aku cium." keluar Jeno.
"Mana ada Jeno. Kamu nya saja yang nakal."
"Nggak masalah. Nakal sama kamu."
__ADS_1
"Ya iyalah... Memang mau nakal sama siapa. Heh....." sahut Bulan sembari melotot.
"Nggak sayang. Ampun." ujar Jeno tersenyum bahagia.
Sekarang, Jeno melihat hari-hari bahagia penuh tawa sudah ada di depan mata. Dirinya merasa jika selama ini, inilah kebahagiaan yang dia cari.
"Tadi mau bilang apa? Katakan...! Katanya mau jujur." ujar Bulan mengingatkan Jeno.
Jeno menepuk pelan dahinya. "Sampai lupa. Ini efek dari dekat dengan kamu. Jadi aku nggak bisa konsentrasi. Selalu saja ingin memandang paras cantik kamu."
Bukannya mengatakan apa yang ingin dia katakan tadi, Jeno malah kembali menggoda Bulan. "Jeno...!!!" panggil Bulan dengan gemas.
Jika diteruskan, maka Jeno tidak akan pernah mengatakan apapun. Dan dirinya akan terus diliputi rasa penasaran.
"Iya sayang."
"Bicara sekarang." Bulan menggoyangkan lengan sang kekasih.
"Iya."
Jeno merasa jika sekarang, Bulan sangatlah berubah. Tidal seperti dulu. Kaku dan dingin. Serta menjaga jarak jika di depan umum.
Bulan sekarang dengan santai melakukan apapun yang membuat Jeno merasa jika Bulan memang mencintai dirinya. Jeno juga merasa, inilah asli dari kepribadian sang kekasih.
"Ingat hotel yang kita tempati malam itu?" tanya Jeno, mendapat anggukan dari Bulan.
"Itu hotel aku." ujar Jeno dengan ekspresi serius.
Bulan kembali mengangguk. Tak terlihat menampilkan ekspresi terkejut atau syok. Membuat Jeno bingung. "Itu hotel aku." ujar Jeno kembali mengatakannya.
"Iya,,, aku dengar. Lalu Jevo diberikan apa. Hotel juga?" tanya Bulan, sembari menyeruput sedikit jus buah dingin di depannya.
"Hah." Jeno melongo mendengar pertanyaan sang kekasih.
"Maksud kamu?" tanya Jeno malah bingung.
"Iya Jeno,,, sayang. Aki tahu itu hotel akan menjadi milik kamu. Jika kamu diberikan hotel semegah dan sebesar itu, lalu Jevo diberikan apa?"
"Diberikan. Apa kamu mengira hotel itu pemberian seseorang?"
"Pasti papa kamu kan?" tebak Bulan.
Jeno menghela nafa pendek. Kedua pundaknya melorot ke bawah. "Bukan sayang." tukas Jeno.
"Bukan. Bukan papa kamu. Lalu siapa? Almarhum kakek kamu?" tanya Bulan, sembari memegang gelas dan meminumnya melalui sedotan.
"Itu milik aku sendiri sayang. Bahkan mungkin papa tidak tahu." jelas Jeno.
"Uhuk.... Uhuk...." Bulan langsung terdesak air yang dia minum, mendengar jika Jeno memilik hotel sebesar itu.
"Pelan-pelan. Astaga." Jeno segera mengambil tisu, membersihkan air jus yang keluar dari mulut Bulan dan mengenai pakaian atau seragam kerja Bulan.
Bulan menghentikan apa yang Jeno lakukan dengan memegang lengan Jeno. "Jeno,,, sumpah. Aku masih belum mengerti dengan guyonan kamu." tukas Bulan dengan ekspresi bingung.
"Milik kamu. Bukan dari om David. Jangan bercanda. Maaf, bukannya aku meremehkan kamu. Tapi kamu masih sekolah. Dan hotel itu sangat besar dan megah. Sangat bagus. Pasti membutuhkan uang yang seambrek untuk membangunnya. Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu." cicit Bulan.
Jeno tersenyum. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan perkataan Bulan. Apalagi uang bulanan yang dia peroleh dari Tuan David hanya dia gunakan membeli kebutuhannya sehari-hari.
Jeno mengeluarkan ponselnya. Membuka sebuah aplikasi. Lalu diserahkan ponsel tersebut pada Bulan. "Ambil. Dan lihat." pinta Jeno, saat Bulan tak segera mengambil ponsel yang dia sodorkan.
Bulan mengambilnya dengan enggan. Melihat apa yang ada di layar ponsel Jeno. "Jeno... Kamu." Bulan menutup mulutnya dengan tidak percaya.
Ternyata, Jeno adalah salah satu orang di dunia maya yang bisa di sewa untuk melakukan sesuatu. Sebut saja Jeno adalah seorang hacker.
"Aku memang tidak sehandal Gara. Tapi ya lumayanlah."
Bulan terus menggeser layar ponsel Bulan. Sesekali memandang ke arah Jeno dengan tak percaya. "Sejak SD."
"Saat itu, aku hanya iseng. Dan yang memakai jasaku hanya perusahaan atau organisasi lokal. Dengan bayaran yang sedikit. Tapi lama-lama, aku semakin mampu. Dan ya,,, aku memulainya dengan nama yang ada di layar ponsel itu."
"Ini... Tunggu. Jeno....! Ini milik Gara." ujar Bulan, baru tahu jika Gara dan Jeno pernah bekerja sama melalui aplikasi di dunia maya.
"Dan kalian sering berinteraksi. Bahkan sejak kamu SMP. Gara tahu?"
"Tidak. Rahasia identitas pribadi sangatlah penting." cicit Jeno.
"Aku tahu, setelah bergabung dengan kalian." sambung Jeno.
"Berarti aku dulu juga pernah membayar kamu?" tanya Bulan menyelidik.
"Ya kan dulu sayang."
"Apa sekarang kamu masih bekerja seperti ini?" tanya Bulan khawatir, sebab tahu resiko apa yang akan dihadapi Jeno, jika identitasnya terungkap.
Jeno menggeleng. "Tidak. Tapi nama itu masih ada. Dan dia bekerja sebagai pelindung hotel milikku." tukas Jeno tersenyum.
"Pemilik hotel. Merangkap sebagai pelindung hotel di dunia maya. Wah..... Penghematan." tukas Bulan.
Jeno tertawa mendengarnya. "Bagaimana kamu bisa melakukannya. Kamu harus sekolah sayang." tanya Bulan merasa takjub dengan pencapaian sang valon suami yang diam-diam adalah pemilik hotel terbesar di kota tetangga.
"Ya... Aku jalani saja. Entahlah. Buktinya bisa. Dan keduanya berjalan dengan seimbang."
Bulan tidak menyangka, jika calon suaminya ternyata secerdas ini. Sangat hebat. "Hanya kamu yang tahu. Bahkan Jevo juga belum tahu."
"Dan aku juga akan merahasiakannya. Jika calon suamiku ini memintanya."
"Terimakasih sayang."
"Syukurlah. Jika aku tidak bekerja, aku akan menjadi istri seorang pengusaha." goda Bulan.
Jeno memeluk erat tubuh sang kekasih. Menggerakkannya ke kiri dan kanan sembari tertawa pelan. "Jika kamu mau, kamu bisa berhenti sekarang. Dan mengelola hotel itu."
Bulan mengurai pelukannya. "Jangan bercanda Jeno. Bisa-bisa hotel akan bangkrut dalam semalam." gurau Bulan, yang memang dirinya tidak mempunyai kemampuan untuk menjalankannya.
"Tidak masalah. Dan dalam semalam, calon suamimu ini akan kembali membuatnya seperti semula."
Bulan tertawa mendengar perkataan Jeno. "Darah bisnis memang tidak bisa dibohongi." batin Bulan.
"Apa Jevo juga mempunyai rahasia seperti kamu?" tanya Bulan penasaran.
"Kepo sekali calon istriku." goda Jeno.
"Kamu yang mulai." cicit Bulan berpura-pura merajuk.
"Mungkin iya. Tapi aku tidak terlalu paham. Kamu tahukan, kekasih mu ini sangat sibuk. Tidak mempunyai waktu mengurusi hal lain."
"Idiiihhh.... Buktinya kamu masih mengurusi aku."
__ADS_1
"Itu beda lah..." sahut Jeno disambut tawa renyah dari Bulan.