
Sandra segera menghambur masuk toko dan memilih buku yang dia butuhkan setibanya kami di sana. Sementara aku, berbelok ke arah rak yang berisi buku fiksi. Mencari-cari sesuatu dan dapat. Kuambil buku bersampul warna biru laut dengan judul "Metamorfosa" dengan gambar kupu-kupu lepas dari kepompong. Di bagian bawah ada tulisan berwarna putih, Rizaul Kaffi. Senyum kusunggingkan, lalu segera mengembalikan buku tersebut ke rak.
"Hai! Cari apa?" sapa Sandra menepuk punggungku.
"Eh! Ini lagi lihat-lihat buku fiksi."
"Itu apa yang tadi lu pegang."
"Oh, buku kumpulan puisi. Udah dapat buku yang lu cari?"
"Udah."
"Yaudah, cabut, yuk."
"Bentar dulu. Seumur gue jadi temen lu, baru kali ini lihat lu tertarik ama buku puisi. Lagi jatuh cinta? Apa patah hati?" tanya Sandra sambil mengerling.
"Jangan sok tahu. Buruan dibayar itu buku."
Sandra tertawa. Aku yakin dia menemukan keanehan pada diriku. Insting wanita biasanya tajam. Lebih peka daripada kucing.
Aku mendahuluinya berjalan ke bagian kasir. Dari suara sepatu converse yang dia kenakan, aku tahu dia langsung mengikuti. Gadis itu mengamit tanganku hingga di depan kasir.
"Selamat sore, Kak. Kakak adalah pasangan ke 100 yang datang pada hari ini. Jadi, selamat, Kakak mendapatkan souvenir dari kami. Kebetulan toko kami sedang merayakan anniversary. Silakan, Kak."
"Eee, tapi kami bukan ...."
"Terima kasih, Mbak. Tahu aja kita couple. Cocok, ya?" potong Sandra saat aku mencoba menginterupsi.
"Iya, kelihatan mesra," ujar Mbak Kasir yang bernama Heni, tampak dari name tag yang dia kenakan, sambil tersenyum bangga karena bisa menebak.
Mesra ndasmu! Cuma pegangan tangan, dari mana mesranya? Aku geleng-geleng tak mengerti. Sandra dengan senyum bahagia segera menerima souvenir yang diberikan cuma-cuma oleh Mbak Kasir yang berdandan lebih menor darinya.
"Doakan kami sampai ke jenjang pernikahan ya, Mbak," bisik Sandra yang masih bisa kudengar.
Sembarangan ini anak, harus diberi pelajaran supaya paham bahwa hatiku sudah sold out. Kesal, aku segera menarik tangannya dan menyeretnya ke restoran cepat saji yang masih satu gedung dengan toko buku itu.
"Gue laper. Makan dulu."
"Traktir, ya."
"Lu yang traktir gue. Kan udah gue anterin."
Sandra memutar bola matanya, lalu segera memesan. Tak berapa lama, dia sudah kembali dengan dua piring nasi, dua dada ayam kremes, dan dua es teh manis. Semanis Dilara. Ah, gadis itu, bahkan aku belum pernah mengajaknya kencan seperti ini. Tak habis pikir dengan pemikiran anak SMA, hanya karena melarang pulang dengan teman prianya, berakhir dengan pemecatan.
"Kenapa lu? Sadar udah ngerampok cewek seksi?"
"Seksi dari mana? Ini namanya bukan ngerampok, tapi tanda terima kasih."
__ADS_1
"Serah, deh. Makan tu. Habisin."
Aku terkekeh dan segera menyuap makanan itu.
"Adiknya Galih tadi ... suka ama lu?"
Aku terbatuk, kaget dengan pertanyaan Sandra. Sialan! Sausnya sampai masuk hidung. Cepat, aku meraih es teh yang diulurkan gadis berkemeja warna peach itu. Dan menenggaknya hingga habis setengah.
"Nggak! Gue yang suka ama dia," jawabku cepat setelah minuman tertelan.
Sandra diam. Tangannya yang awalnya sedang menjumput nasi terhenti, aku menatapnya. Tampak di iris cokelat gadis itu, kaca-kaca tipis. Buset! Malah mau mewek. Bodo, ah! Aku kembali melahap makananku dengan santai.
"Gue yang nunggu lu aja nggak dianggep," lirihnya. Kemudian melempar pandangan ke luar jendela. Kali ini, nafsu makanku pergi entah ke mana. Malas sudah.
"Gue udah bilang lu akan tetep jadi temen gue. Nggak berubah."
"Gue nggak mau. Lu tahu gue udah lama suka ama elu."
"Lalu lu rela menjalin hubungan ama orang yang sedikit pun nggak menyimpan rasa cinta ke elu? Jangan bodoh!"
"Gue emang bodoh, selama ini berharap lu bisa cinta ke gue."
"San ...."
"Ooo jadi kalian kencan, nih, ceritanya."
Ucapanku terputus oleh suara orang yang telah berdiri di sampingku.
"Gue pikir lu sahabat gue, ternyata pengkhianat!" seru Galih seraya menunjuk dadaku dengan telunjuknya.
"Apaan, sih? Maksud lu apa?"
"Pikir aja sendiri!" Galih pergi setelah tatapannya menghunus ke arah Sandra. Detik berikutnya aku baru sadar apa yang membuat laki-laki itu marah.
"Galih! Galih!" Pria itu pergi tanpa menoleh lagi ke belakang meski aku terus memanggilnya.
"Lu urus tu si Galih. Dia yang nyimpen perasaan ama lu, bukan gue," tandasku kepada Sandra.
Gadis itu tak menjawab, tapi segara pergi setelah aku mengucapkan kata-kata itu. Sementara aku, menghela napas berat sambil mengacak rambut. Cewek bodoh!
"Kalian pacaran?"
Aku menoleh pada Dilara, lupa akan kehadirannya beberapa saat tadi.
"Enggak. Kakak kan punya pacar. Ngapain kencan ama cewek lain."
"Siapa pacar Kakak?"
__ADS_1
"Udah makan belum?"
"Belum. Jawab pertanyaan aku?"
"Kenapa? Cemburu? Duduk situ."
Setelah memastikan Dilara duduk sesuai perintah, aku bergegas menuju kasir memesan hal yang sama dengan menuku dan membawakannya ke hadapan Dilara.
"Kakak nggak makan?"
"Kenyang."
"Itu masih banyak." Tunjuk Dilara dengan dagunya ke arah dua menu yang baru habis setengah. Seolah terhipnotis, aku segera mengambil piringku dan piring Sandra, menggabungkan jadi satu dan melahapnya.
Untuk sesaat kami saling diam. Aku melirik Dilara beberapa kali, sementara gadis itu makan dengan tenang. Detak jantungku kembali tak normal, saat tercium aroma floral yang menguar dari tubuh Dilara. Membuatku mematung dan terus menatapnya. Cantik. Terlebih saat beberapa anak rambut menutup sebagian wajahnya. Refleks, tanganku terulur dan menyelipkannya di belakang telinga.
Dilara kaget, tapi tak menolak. Dia sama sepertiku, hanya diam dan menatap. Pandangan kami beradu beberapa saat. Memberikan getar-getar nikmat yang merambat di hati. Darah berdesir membuat sebagian tubuhku tegang. Tanganku berpindah ke pipi putih miliknya dan mengusap pelan di sana.
"Kak ... aku udah selesai."
"Eh, oh iya." Gugup aku segera menarik diri, lalu menggaruk kepala. "Mau pulang apa ke toko buku dulu?" tanyaku mengusir kegugupan.
"Tadinya kak Galih yang mau cari buku."
Aku menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke kursi, lalu melipat kedua tangan di depan dada.
"Dengarkan kakak. Cewek tadi namanya Sandra. Gebetan kakak kamu. Jadi, yang kamu lihat tadi bukan apa-apa. Kami cuma makan biasa. Kakak pun nggak punya rasa sama dia."
Dilara santai menanggapi omonganku. Gadis itu malah menyedot minumanya sambil memainkan HP. Ck! Dicuekin. Mana nggak ada ekspresi cemburu lagi. Aku menghela napas kasar. Melihat sekeliling sebentar, lalu memusatkan perhatian lagi pada Dilara.
"Kenapa Rendy nggak anter kamu pulang?"
Berhasil. Kalimat itu membuat Dilara menatapku dan menghentikan aktivitasnya. Kutatap mata hitam itu, dalam.
"Nggak ada kewajiban dia anter aku."
"Kenapa? Bukannya kalian pacaran?"
"Enggak! 'Kan udah dibilang kami hanya temen."
Hufft! Lega. Setidaknya dia jomlo saat ini.
"Jangan pacaran dulu. Boleh pacaran, tapi cuma sama kakak. Sama laki-laki lain, nggak boleh."
"Lah, Kakak siapanya aku?"
"Calon suami."
__ADS_1
Dilara melotot dan aku menatapnya serius. Aku benar-benar ingin mengajaknya menikah suatu hari nanti. Tak peduli dia masih SMA saat ini, atau masih bersikap kekanakan yang membuatku jengkel beberapa waktu lalu. Aku hanya mau dia, Dilara.
Next