PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 202


__ADS_3

Prang.....


Semua barang di dalam kamar yang dapat dijangkau oleh tangannya melayang di udara. Yang berakhir di atas lantai dengan keadaan pecah atau hancur tak berbentuk lagi.


"Aaaaa......!!" teriak Sella bagai orang kesurupan setelah melihat video di dunia maya yang ramai diperbincangkan malam ini. Apalagi jika bukan video kebersamaan Jeno dan Bulan.


Sella yang bersantai menikmati malam di balkon kamar, tanpa sengaja media sosial milik seseorang mempublish kebersamaan Jeno dan Bulan di restoran.


Hal tersebut membuat Sella terkejut. Awalnya, Sella tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Mencoba mengacuhkannya. Tapi saat dia terus menggeser layar ponselnya ke bawah, dan dia kembali mendapati video yang sama. Dan di video kali ini, wajah Jeno dan Bulan tampak lebih jela dari.video sebelumnya.


"Bagaimana bisa..... Bagaimana bisa....!!!" seru Sella berteriak histeris.


Tubuh Sella luruh ke bawah. Dia menangis histeris bagai seseorang kehilangan orang yang sangat dia sayangi. "Tidak boleh...!! Tidak....!!! Jeno hanya milik gue. Dia hanya boleh bersama seorang Sella....!!" teriak Sella dengan air mata terus mengalir di kedua pipinya.


Sella menangis histeris sembari terus berteriak dengan mengeluarkan perkataan kasar dan sumpah serapah dan kutukan mengerikan gang dia tujukan pada Bulan.


Seperti malam sebelumnya, seorang pembantu akan selalu masuk ke dalam kamar Sella untuk menaruh air minum di dalam teko berukuran sedang.


Alangkah terkejutnya sang pembantu saat melihat bagaimana keadaan kamar Sella. "Astaga...! Apa yang terjadi?" gumamnya tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Dia juga melihat Sella yang duduk di lantai sembari menangis sesenggukan. "Aku harus memberitahu Nyonya." batinnya.


Keinginannya untuk masuk tertahan, dan dia segera kembali ke lantai dasar untuk melaporkan apa yang dia lihat pada sang majika.


"Nyonya,,,,!" panggilnya dengan raut wajah cemasnya. Bahkan dia masih berada di anak tangga saat memanggil sang majikan.


Sang majikan yang sedang menonton televisi langsung menatap ke arah suara berasal. Bahkan beberapa rekan sesama pembantu juga menatap ke arahnya.


"Tenang dulu,,,, Atur nafas kamu." pinta sang Nyonya saat melihat sang pembantu bernafas terengah-engah.


Tidak ada raut khawatir sama sekali di wajah mama Sella. Padahal sang pembantu datang menampilkan wajah cemasnya setelah turun dari lantai atas. Sedangkan di atas, hanya ada Sella seorang.


"Pasti dia melihat video itu." batin mama Sella. Seolah bisa menebak apa yang terjadi pada sang putri.


Segera sang pembantu mengatakan apa yang dia lihat, setelah mengatur kembali ritme nafasnya. "Nyonya,,,, Nona Sella. Maaf,,,, saya tidak tahu apa yang terjadi. Tapi keadaan kamar Nona Sella benar-benar kacau. Dan Nona Sella duduk di lantai. Nona Sella menangis sembari mengatakan sesuatu." jelas sang pembantu dengan detail.


Sang Nyonya hanya terdiam, tak segera beranjak dari duduknya dan melihat keadaan sang putri. "Aku sudah mengira jika ini bakal terjadi." gumam mama Sella.


Para pembantu saling pandang sejenak, mereka sedikit terkejut akan reaksi majikan mereka. "Tolong, kamu intip Sella dari pintu. Awasi dia. Jika dia melakukan hal berbahaya, segera cegah dia." pinta sang majikan. Mama Sella tidak ingin sang putri sampai mencelakai dirinya sendiri.


"Baik Nyonya." sahutnya, segera kembali ke lantai atas. Tapi sebelumnya, dia meninggalkan teko yang dia bawa di atas meja dapur.


"Kenapa Nyonya terlihat biasa. Seperti tidak terkejut sama sekali." tukasnya sembari menaiki anak tangga. Menuju ke kamar Sella.


Sebenarnya dia merasa penasaran atas sikap sang majikan yang terkesan santai dan tenang. Padahal dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana keadaan Nona mudanya tersebut di dalam kamar.


Sang Nyonya malah tetap duduk di kursinya, mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. Entah siapa yang beliau hubungi.


Tapi terdengar jelas jika sang majikan sedang berbicara dengan seseorang. Dan beliau menyebutkan nama sang putri, Sella beberapa kali.


"Baiklah. Aku akan datang ke sana bersama Sella." ujar mama Sella pada orang diseberang sana.


Mama Sella mengakhiri sambungan teleponnya. Beliau menghembuskan nafas panjang. Menengadahkan kepalanya ke atas. Seakan ada beban berat yang sedang dia pikul di pundaknya.


"Mbok,,,, minta pak sopir mempersiapkan mobil." perintah sang Nyonya pada salah satu pembantu di rumah.


"Baik Nyonya."


"Tunggu." ujar sang Nyonya, menghentikan langkah sang pembantu yang ingin melakukan apa yang beliau perintahkan.


"Saya akan pergi beberapa hari. Katakan pada yang lain untuk menjaga rumah dengan baik selama saya tidak berada di rumah." tutur sang majikan dengan raut wajah yang terlihat sedikit tertekan.


"Baik Nyonya. Maaf, apakah saya perlu menyiapkan sesuatu?" sahut sang pembantu sekaligus bertanya semisal sang majikan membutuhkan sesuatu.


"Kamu masih menyimpan obat tidur yang beberapa waktu lalu aku suruh buang?" tanya mama Sella.

__ADS_1


Sebab beberapa minggu yang lalu, dirinya tidak bisa tidur dengan nyenyak karena masalah yang menimpa sang suami. Alhasil, beliau mengkonsumsi obat tidur. Tapi hanya beberapa hari.


Setelah di rasa keadaannya membaik, mama Sella menghentikan untuk meminum obat yang bisa membuatnya kecanduan. "Masih Nyonya." sahut sang pembantu.


"Larutkan obat tersebut ke dalam air minum. Taruh di dalam botol kemasan, untuk dilarutkan dengan air. Berikan pada pak sopir untuk beliau simpan. Nanti, saya sendiri yang akan meminta pada pak sopir saat dalam perjalanan." jelas sang majikan.


Mama Sella belum beranjak dari duduknya, setelah sang pembantu juga pergi untuk memberitahu pak sopir untuk bersiap.


Beliau kembali menghubungi seseorang. Dan dia adalah asistennya yang selalu membantu beliau mengurus perusahaan selama ini. Mengatakan pada sang asisten untuk mengambil alih semua wewenang, saat beliau tidak berada di perusahaan.


Tapi tetap saja, meskipun begitu mama Sella menginginkan dia untuk menghubungi dirinya saat pengambilan keputusan, meski dia diberi wewenang. Sebab dia hanya wakil, dan yang bisa memutuskan hanyalah mama Sella.


Setelah beliau selesai berbicara dengan sang asisten, beliau pergi ke kamar. Entah apa yang dilakukan mama Sella di dalam kamar pribadinya. Beliau membuka laci, mengambil sesuatu dari dalam untuk dia masukkan ke dalam tas.


"Semoga keputusanku ini menjadi keputusan terbaik. Aku tidak mungkin terus membiarkan Sella berada di sini. Keluarga Tuan David bukan keluarga yang bisa disentuh seenak hati. Jangan sampai masa depan Sella rusak karena ulah Sella sendiri." cicitnya, menatap sebuah foto di dalam bingkai. Dimana di dalamnya terdapat foto sang putri, Sella.


Mama Sella berpikir ke depannya secara rabaan, jika dirinya terus membiarkan Sella bertindak seenak hatinya. Apalagi beliau tahu, jika Sella sangat terobsesi dengan Jeno. Yang ada Sella yang akan terkena masalah.


"Aku yakin, dia bukan mencintai Jeno. Dia menjadi terobsesi karena tidak mendapatkan Jeno. Gengsi Sella terlalu besar. Apa dia pikir, keluarga Tuan David memilih menantu secara acak." ujar Mama Sella.


Mama Sella sadar, jika sang mantan suami yang saat ini mendekam di penjara sangat mempengaruhi kehidupannya serta putrinya untuk ke depan. Ditambah lagi sifat Sella yang bagaikan foto kopi sang suami. Membuat mama Sella harus memutar otak untuk membuat Sella berubah.


"Aku masih bisa melakukannya sekarang. Kurasa saat ini belum terlambat. Benar kata ibu. Jika Sella harus dididik dengan keras mulai sekarang. Dan itu semua demi kebaikan Sella ke depannya."


Ternyata yang baru saja mama Sella hubungi pertama kali adalah nenek Sella, atau ibu kandung dari mama Sella. Beliau selalu berkomunikasi dengan sang ibu, saat mempunyai masalah. Termasuk masalah Sella saat ini.


"Mungkin, Sella akan membenci aku. Tapi aku yakin seiring berjalannya waktu, dia akan mengerti. Kenapa aku melakukan semua ini. Mengambil keputusan yang berat untuk aku sendiri." cicit mama Sella.


Mama Sella yakin akan menitipkan sang putri, Sella. Kepada ibu beliau yang tinggal di luar pulau. Dan tempat tinggalnya berada di pelosok desa. Meski di sana sudah dialiri listrik, tapi akan sangat sulit mendapatkan sinyal untuk bisa menggunakan ponsel.


Selain itu, tempatnya sangat amat jauh dari kota. Dan kebanyakan warga di sana bekerja sebagai peternak. Keseluruhan warga di sama hidup dengan sangat sederhana.


Kedua orang tua mama Sella, dulu juga tinggal di kota yang sama dengan Sella. Namun, seiring bertambahnya usia, keduanya memutuskan untuk menyerahkan semua harta kekayaan mereka pada mama Sella. Untuk bisa hidup sederhana di tempat terpencil tersebut.


"Aku harus membuang egoku." tukas mama Sella, yakin akan melakukan hal tersebut. Meskipun sangat sulit untuk dia lakukan.


Bertahun-tahun, beliau selalu hidup bersama Sella. Melihat wajah sang putri setiap hari. Selalu mengomel serta berbincang dengan Sella. Dan akhirnya, dengan mengambil keputusan ini. Semua akan berubah.


Mama Sella akan hidup seorang diri di kota besar ini. Jauh dari sang putri. "Apa aku menjual saja semua aset di kota ini. Lalu pindah ke pelosok, hidup bersama ayah dan ibu, serta Sella."


Secara tiba-tiba, mama Sella terpikirkan hal tersebut Beliau lantas menggeleng. Mengenyahkan pikirannya tersebut. "Aku akan lebih dulu bicara dengan ayah dan ibu. Mungkin mereka akan memberikan solusi terbaik." ujarnya memutuskan untuk berbincang dengan kedua orang tuanya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan tersebut.


Mama Sella naik ke lantai atas. Dilihatnya seorang pembantu yang masih berdiri di depan pintu. Mengintip ke dalam kamar Sella dari celah pintu yang tertutup tidak rapat. "Bagaimana dengan Sella?" tanya mama Sella, saat berada di depan pintu kamar Sella.


"Nona Sella sedang menghubungi seseorang. Dan saya mendengar, beliau mengatakan untuk mencelakai seseorang. Jika tidak salah, perempuan tersebut bernama Bulan." ujar sang pembantu melaporkan apa yang dia dengar.


Mendengar apa yang dikatakan sang pembantu, mama Sella merasa keputusannya ini adalah keputusan yang tepat. "Benar kata ibu. Sella akan semakin tidak terkendali jika dibiarkan seperti ini terus. Yang ada, dia akan menyusul papanya di dalam penjara." batin mama Sella, tidak ingin semua itu terjadi.


Mama Sella sadar, jika sang putri tidak akan pernah berhasil mencelakai Bulan, melihat siapa Bulan sebenarnya. Tapi, yang mama Sella khawatirkan, keluarga Jeno tidak akan terima. Dan malah akan membawa Sella dalam masalah besar.


"Apa dia pikir, uang bisa menyelesaikan semuanya." geram mama Sella tidak habis pikir dengan sang putri, yang dengan mudah menyuruh seseorang untuk mencelakai orang lain.


"Jangan sampai dia seperti papanya. Selalu memandang rendah orang lain. Dan melihat nyawa hanya sebagai mainannya." geram mama Sella.


Mama Sella sadar, jika Sella diteruskan seperti ini, dia akan menjadi monster yang berbahaya. "Kamu boleh pergi." ujar mama Sella pada pembantu di sampingnya.


"Baik Nyonya. Saya permisi dulu." pamitnya, mendapatkan anggukan dari mama Sella.


"Sella....!" panggil sang mama saat beliau masuk ke dalam.


Sang mama hanya menghembuskan nafas pendek melihat keadaan kamar sang putri. "Hemmmm." sahut Sella dengan malas.


Sella menebak jika sang mama akan mengomel. Makanya Sella bersikap acuh. "Temani mama pergi keluar. Sebentar saja." pinta sang mama.


Sella melongo tak percaya dengan apa yang dia dengar. Mamanya tidak mengoceh. Memarahi dirinya dengan segudang kalimat yang membuat gendang telinganya pecah.

__ADS_1


"Mama bilang apa?" tanya Sella, menginginkan sang mama mengulang kalimatnya tersebut. Lantaran dirinya masih tidal percaya.


"Temani mama pergi keluar. Sebentar saja." ucap sang mama, mengulang kalimatnya seperti yang diinginkan Sella.


"Sekarang?" tanya Sella masih tidak percaya.


"Iya."


"Apa perlu Sella bawa ponsel atau apa gitu?"


"Terserah kamu." ujar mama Sella.


Sella mengambil ponselnya di atas lantai. "Ayo ma." ajak Sella tanpa membawa tas.


Mama Sella hanya menghela nafas, bersabar dengan kelakuan sang putri. "Rapikan kamar Sella." pinta mama Sella, saat beliau berpapasan dengan salah satu pembantu di tangga.


"Baik Nyonya."


Sejujurnya, Sella sendiri merasa bingung bercampur penasaran. Kenapa sang mama sama sekali tidak marah pada dirinya. Sebab biasanya sang mama akan menghukum Sella jika dia melakukan hal seperti tadi.


Sella tersenyum sembari menuruni anak tangga. "Baguslah. Mungkin mama capek. Marah-marah nggak jelas." batin Sella tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun pada sikap sang mama yang berubah.


Keduanya masuk ke dalam mobil, dimana seorang sopir berada di depan. Duduk di belakang kemudi. Sang sopir melihat mama Sella dari kaca pantau sembari mengangguk penuh makna. Mama Sella mengangguk pelan. Menandakan beliau tahu apa artinya tatapan sang sopir.


"Kita kemana ma?" tanya Sella, seolah tidak terjadi apapun. Padahal dirinya baru saja mengamuk.


"Maka lihat kamu sedang suntuk. Dari pada perabot mama rusak semua, lebih baik maka mengajak kamu jalan-jalan." ujar sang mama memberi alasan.


"Cckkk,,,, memang tadi Sella sempat kesal. Dan meluapkan emosi di dalam kamar. Tapi sekarang Sella sudah tidak apa-apa. Sella baik-baik saja." ujar Sella tersenyum menatap ke layar ponselnya.


"Sebab kamu telah membayar seseorang. Menyuruhnya untuk mencelakai Bulan." batin mama Sella, seakan tahu kenapa perasaan Sella berubah dengan cepat.


"Ma,,,, Sella minta uang. Uang Sella habis." pinta Sella dengan santai.


Dan sang mama tahu apa yang akan dilakukan Sella dengan uang tersebut. "Pasti dia ingin menggunakan uang itu untuk membayar orang suruhannya." tebak sang mama dalam hati.


"Iya,,, besok akan mama transfer. Ini sudah malam. Lagi pula, untuk apa uang malam-malam seperti ini." ujar sang mama beralasan. Mengulur waktu.


Sella memutar kedua matanya dengan kesal. "Oke." sahut Sella terpaksa setuju. Dirinya tidak ingin sang mama curiga padanya, jika dia kekeh ingin sekarang.


Orang suruhan Sella akan bertindak, saat dirinya mendapatkan uang dari Sella. Paling tidak separuh dari yang dijanjikan oleh Sella.


Dan kebetulan, uang Sella masih tidak cukup untuk membayar mereka meski separuh. Sehingga mereka belum bertindak. Dan dapat dipastikan jika rencana Sella akan gagal.


"Kita akan pergi ke mana ma?" tanya Sella, sebab mobil terus berjalan. Dengan mengarah ke luar kota.


"Ke luar kota. Mama ingin berjalan sedikit jauh. Merasakan angin malam. Sudah lama mama tidak melakukan perjalanan seperti ini." cicit sang mama berbohong.


"Pak, apa ada air. Saya haus." ujar sang mama meminta air minum pada pak sopir.


"Ada Nyonya." ujarnya sembari menyodorkan air minum di dalam botol kemasan pada sang majikan tanpa menoleh ke belakang. Sebab dia sedang menyetir.


Mama Sella mengambil botol berisi air tersebut. "Terimakasih pak."


Mama Sella membuka tutup botolnya. Menyodorkan terlebih dahulu pada sang putri. "Minumlah. Supaya tenggorokan kamu tidak kering." pinta sang mama.


Sella yang sedang fokus dengan ponselnya, mengambil air botol tersebut dan meminumnya hingga beberapa teguk.


Maka Sella tersenyum. Menutup kembali botol tersebut. Beberapa menit setelah Sella meneguk air tersebut, dia mengucek kedua matanya yang terasa sepat.


"Obatnya mulai bekerja." batin mama Sella tersenyum lega.


"Ma... Jika sudah sampai, mama bangunkan Sella. Sella ngantuk." cicit Sella, mengatur posisi duduknya, agar lebih nyaman untuk tidur.


"Iya." sahut sang mama. Berpura-pura cuek. Padahal beliau tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2