
Bulan dan yang lain melancarkan aksinya malam ini juga. Mereka sudah tahu siapa yang menjadi target mereka. Sehingga tidak perlu menunggu waktu. Kapan mereka akan bertindak. Bukankah bergerak lebih cepat itu lebih baik.
Seperti biasa, Gara akan tetap berada di markas. Memantau keadaan dari layar laptopnya. Dengan Arya berada di sampingnya. Menemani Gara.
Mereka bergerak cepat, manakala mengetahui jika lelaki yang membawa rekaman tersebut ternyata tidak bermalam di tempat tersebut.
Dia mempunyai tempat tinggal lain yang dia tempati bersama keluarga kecilnya. Sehingga dirinya harus keluar dari markas untuk menuju ke tempat tersebut. Dari sanalah, mereka akan mengambil peruntungan untuk mencuri ponsel yang terdapat rekaman tersebut.
Bulan berperan menjadi perempuan lemah. Berdiri di pinggir jalan. Menunggu kendaraan yang di naiki oleh lelaki tersebut berjalan melewati jalan di depannya, untuk meminta pertolongan.
Untuk Jeno dan Jevo serta Mikel, ketiganya berada tak jauh dari Bulan berdiri. Mereka bersembunyi di tempat yang mereka perkirakan aman dan bisa melihat dengan jelas apa yang Bulan lakukan. Sehingga mereka akan dengan cepat mengetahui jika Bulan membutuhkan bantuan.
Apalagi mereka tidak tahu, ada berapa orang di dalam kendaraan tersebut. Sebenarnya Bulan seorang diri tentu saja bisa melumpuhkan mereka, jika ternyata mereka berjumlah lebih dari satu atau dua orang.
Hanya saja, mereka tidak ingin membuang waktu dan dengan cepat ingin menyelesaikan pekerjaan ini. "Bagaimana situasinya?" tanya Bulan menekan alat kecil di telinganya, yang dia gunakan untuk berkomunikasi dengan Gara yang saat ini berada di markas bersama Arya.
"Mereka sudah melewati perempatan jalan, dan belok ke kanan. Sebentar lagi akan melewati jalan itu. Bersiaplah." lapor Gara.
"Pasti." sahut Bulan.
Tak berselang lama setelah Gara mengatakan tempat mereka, dari arah utara tampal cahaya mobil yang melaju ke arah Bulan.
Bulan bersiap. Seperti biasa, Bulan memilih tempat sepi. Dirinya tidak ingin apa yang akan mereka lakukan dilihat atau diketahui banyak orang. Dimana rencana mereka malah akan terancam gagal.
Dirasa saatnya sudah tepat, Bulan sedikit menengah ke jalan. Mengangkat kedua tangannya ke atas serta menggerakkan ke kanan dan ke kiri, melambaikan tangannya.
"Tolong......!!" teriak Bulan sekuat tenaga, berharap mereka mendengar dan berhenti.
Di tempat yang tak jauh dari Bulan, Jeno dan Jevo serta Mikel segera memakai penutup wajah mereka, dan segera bersiap.
Tentu saja mereka berhenti melihat seorang perempuan cantik dan seksi berdiri di jalan. "Lihatlah,, sepertinya keberuntungan selalu memihak pada kita." tukas seorang lelaki di dalam mobil.
"Benar. Hentikan mobilnya. Ini hadiah kita." ujar yang lain.
"Baiklah. Kita akan bersenang-senang dulu dengan dia. Lalu kita bawa dia kepada boss. Pasti kita akan mendapatkan rupe." timpal yang lain sembari tertawa lepas.
"Tapi kita harus memastikan siapa perempuan itu. Jangan sampai dia ternyata berasal dari keluarga yang tidak bisa kita sentuh. Yang ada kita yang akan terkena masalah. Mampus kita di tangan bos." ujar yang lain.
Sebab setelah pak Bimo dan yang lainnya tertangkap, kini kelompok mereka juga kehilangan pemasukan yang lumayan besar.
Karena itulah kenapa mereka sekarang bahkan memproduksi film dewasa. Tentu saja untuk dijual dan mendapatkan cuan, sembari mencari pekerjaan besar dengan pemasukan yang banyak datang lagi.
Di dalam mobil tersebut ada empat lelaki. Dan mereka memutuskan untuk menghentikan mobilnya. "Keluarlah kalian semua." ucap Bulan dalam hati.
Bulan memasang wajah sedih sedih. "Tolong saya Tuan..." cicit Bulan begitu dua lelaki turun dari mobil dan menghampirinya.
Bulan mengamati jika di dalam masih ada dua orang, yang duduk di kursi depan. "Gue harus membuat mereka turun dari mobil." batin Bulan, tak ingin mereka kabur.
"Ada apa Nona? Kenapa kamu berada di sini? Ini terlalu malam untuk seorang perempuan cantik sendirian di jalan." ujar seorang lelaki dengan kalimat sopan.
Bulan memasang wajah iba. "Saya dirampok. Mobil serta semuanya di ambil oleh mereka." tutur Bulan.
Bulan memikirkan cara supaya dua orang yang berada di dalam keluar dari mobil. Sedangkan Jeno dan Jevo serta Mikel belum bergerak, sebab Bulan belum memberikan tanda untuk mereka.
"Bagaimana kalau kamu ikut kami saja. Ehh... maaf, maksud saya, sebutkan alamat kamu. Kita akan mengantar kamu. Bagaimana?" tanya seorang lelaki lagi menawarkan kebaikannya yang palsu.
"Benar. Mobil kami masih muat untuk seorang lagi." timpal lelaki satunya.
Bulan mengangguk, membuat keduanya saling pandang sejenak dan tersenyum penuh maksud. "Tapi,,,," cicit Bulan tak meneruskan kalimatnya.
"Tapi apa? Tenang saja, kita orang baik. Jika kamu tidak percaya, saya bisa memberikan kartu pengenal saya." tawarnya, membujuk Bulan supaya ikut dengan mereka.
Bulan menggeleng. "Bukan itu."
"Lalu?"
Bulan menatap ke samping, dimana hanya ada tanaman ilalang di samping kanan dan kiri jalan itu. "Saya membuang satu dompet saya ke sana. Dan di dalamnya ada banyak uang." jelas Bulan dengan ekspresi polosnya.
__ADS_1
Kedua lelaki tersebut kembali saling pandang. Keduanya berbicara melalui bahasa isyarat di wajah mereka. Apalagi mereka melihat kepolosan dari Bulan.
"Tolong,, antar saya mencarinya dulu. Lalu saya akan ikut dengan kalian." tutur Bulan.
Mereka pasti berpikir Bulan tidak berbohong. Dan juga, mereka tidak kepikiran jika Bulan akan mencelakai mereka. Pasalnya Bulan hanya seorang diri. Dan dia hanyalah seorang perempuan lemah.
"Apakah jumlahnya banyak?" tanya lelaki tersebut, ingin memastikan jumlah uang tersebut sebelum mengambil keputusan untuk bertindak. Kedua matanya juga seakan berubah warna saat mendengar kata uang.
"Banyak. Sekitar seratus juta." ujar Bulan dengan yakin.
"Baiklah, ayo kita ambil." ujarnya, mengajak Bulan.
"Tunggu, kamu bilang kamu dirampok. Tapi kenapa kamu masih bisa menyelematkan uang sebanyak itu." timpal yang lain, menghentikan gerakan rekannya. Dirinya menaruh sedikit rasa curiga.
"Saya di rampok di sebelah sana. Dan saya tahu jika mereka akan merampok saya, makanya saya memilih membuang uang itu terlebih dahulu. Sebab saya sadar. Jika saya tidak akan bisa lari dari mereka." jelas Bulan, dengan tangan mengarah ke selatan.
"Kenapa kamu selamat. Kamu cantik dan seksi. Setidaknya....."
Bulan berpura-pura takut, melangkahkan kakinya mundur seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Tunggu,,,, tidak seperti itu maksud saudara saya." ujar lelaki satunya, mencoba membuat Bulan percaya pada mereka.
"Sebaiknya elo diam. Elo malah menakuti dia." bisiknya.
"Gue hanya bertanya. Siapa tahu dia hanya pura-pura." bisiknya pada rekannya.
"Dia hanya seorang perempuan. Dia sendiri. Kita berempat. Pikir pakai otak." bisik yang satunya. Berpikir rasional.
Bulan tersenyum miring. "Bagaimana? Apakah kalian mau membantu saya. Saya berjanji, akan memberikan upah pada kalian." cicit Bulan.
"Tentu saja. Benarkan." ujarnya menyenggol rekannya yang berada di sampingnya, menginginkan rekannya juga setuju dengan dirinya.
"Iya." sahut rekannya dengan malas. "Bukan hanya sedikit. Tapi semua uang itu akan menjadi milik kami. Sekaligus kamu, cantik." batinnya, menatap Bulan penuh minat.
"Ayo, kita cari." ajak Bulan, masuk ke dalam tanaman liar di sebelahnya.
"Apa yang sedang Bulan lakukan?" tanya Jevo, melihat dari tempat mereka bersembunyi.
Jevo dan Mikel menatap sejenak ke arah Jeno. Lalu kembali menatap dimana Bulan berada. Entah apa yang mereka berdua pikirkan dengan apa yang baru saja Jeno katakan.
"Brengsek,,,,!! Berani sekali mereka memandang my moon dengan tatapan menjijikkan itu. Lihat saja. Setelah ini, gue pastikan indera penglihatan kalian akan bermasalah." batin Jeno, dengan kedua tangan mengepal menahan amarah di dalam tubuhnya.
Dan benar, sesuai apa yang diinginkan Bulan. Kedua lelaki yang masih berada di dalam mobil keluar dari mobil. Tentu saja mereka penasaran, atas apa yang dilakukan kedua rekannya.
Bulan hanya diam, berdiri sedikit menyisih dari dua lelaki yang sibuk mencari dompet yang Bulan maksud. Padahal dompet tersebut tidak akan permah mereka temukan sampai kapanpun.
Kedua mata Bulan mengawasi kedua lelaki hang turun dari dalam mobil. "Kenapa mereka malah pergi ke tempat seperti itu." kesal salah satu lelaki.
"Jangan-jangan mereka ingin mencicipi tubuhnya lebih dulu dari pada kita. Tidak bisa dibiarkan." sahut yang satunya dengan geram.
Keduanya mengira jika kedua rekan mereka akan bersenang-senang dengan Bulan di dalam rumput liar tersebut. Yang pastinya mereka tidak terima.
Bulan bersiul. Memberi kode untuk ketiga rekannya bergerak. "Suara apa itu?" tanya salah seorang dari musuh.
Bulan juga bergerak, melumpuhkan dua lelaki yang berada di dalam tumbuhan ilalang. Dengan dangat mudah, dan tak ada kendala apapun Bulan membuat keduanya pingsan tak sadarkan diri.
Juga dengan Jevo dan Jeno serta Mikel. Ketiganya melumpuhkan dua orang seperti menepuk dua ekor nyamuk. Sangat mudah.
Tubuh keempatnya di kumpulkan di pinggir jalan. "Huuffftttt.. Gue kira akan ada adegan tarung atau apalah. Tapi ternyata, ckkk.... Sungguh di luar nurul." decak Jevo merasa tidak ada tantangan sama sekali .
"Benar. Padahal gue sudah berniat akan mengeluarkan semua jurus andalan gue. Ternyata, mereka hanyalah anak nyamuk Hap... Lalu ditangkap." timpal Mikel menatap keempatnya yang berbaring tak sadarkan diri.
"Sialan. Aku juga sudah menyiapkan diri. Aku ingin mencolok mata mereka. Karena berani menatap my moon dengan tatapan menjijikkan. Ternyata,,, hanya sekali pukul langsung keok." sahut Jeno berkacak pinggang.
"Kalian ini. Jangan banyak bicara. Lakukan sekarang, apa tujuan kita." pinta Bulan menghela nafas, sebab dirinya harus selalu bersabar jika bekerja sama dengan mereka.
Ketiganya langsung bergerak cepat menggeledah keempat lelaki di depannya begitu Bulan memerintahkan. Sedangkan Bulan masuk ke dalam mobil. Memeriksa jika ada sesuatu yang berharga untuknya di sana. Yang pastinya bukan uang.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa." lirih Bulan keluar dari mobil.
Ketiganya mengumpulkan beberapa ponsel. "Jangan lupa ambil dompet mereka juga." pinta Bulan.
"Baik." sahut mereka, seolah bisa menebak apa yang Bulan pikirkan.
Bulan ingin mereka berempat beranggapan jika mereka baru saja dirampok. Sehingga mereka tidak akan melacak atau mencari tahu lebih lanjut.
Mikel memasukkan semua barang ke dalam kantong yang dia bawa dari markas. "Selesai. Sebaiknya kita pergi sekarang." ajak Bulan.
Keempatnya berlari menuju ke tempat di mana mereka menaruh mobil. Mikel berada di kursi depan dengan Jevo duduk di sebelahnya.
Bulan dan Jeno, duduk di kurso belakang. "Gara,,, elo pantau mereka." pinta Bulan pada Gara yang berada di markas.
Bulan segera memeriksa satu persatu ponsel mereka. Bukan hanya mencari video, Bulan juga mencari sesuatu yang mungkin akan berguna untuk mereka di belakang hari.
Bulan mengambil sebuah alat kecil dari dalam sakunya. Memberikannya pada Jeno. "Salin semua data di tiga ponsel ini ke benda ini. Kamu bisakan?" tanya Bulan memastikan.
"Iya, aku bisa." jawab Jeno mengangguk.
Membiarkan Jeno mengerjakan sendiri, Bulan kembali memeriksa tiga ponsel yang masih ada di tangannya. "Ini dia. Video ini ada di ponsel ini." batin Bulan, memasukkan sebuah ponsel ke dalam saku jaketnya.
Apa yang dilakukan Bulan tak luput dari pandangan mereka bertiga. Tapi ketiganya tak berani bertanya. Hanya, mereka sudah menebak jika rekaman itu ada di dalam ponsel hang di simpan oleh Bulan.
Berbeda dengan Jeno yang sudah mengetahui apa isi rekaman tersebut, Jevo dan Mikel hanya bisa menebak dalam pikiran mereka tentang isi dari rekaman tersebut.
"Hanya sampah." cicit Bulan, tidak menemukan hal penting di dua ponsel yang masih ada di tangannya.
"Sudah?" tanya Bulan pada Jeno, yang mendapat anggukan dari Jeno.
Bulan kembali memasukkan semuanya dalam kantong kresek. Membuka kaca jendela mobil. Melemparkan kantong kresek tersebut keluar dari mobil.
"Kita langsung ke markas." ajak Bulan.
Jeno merangkul pundak Bulan, membawa kepala Bulan untuk bersandar di pundaknya. "Tidurlah jika mengantuk. Perjalanan lumayan lama." pinta Jeno.
Tanpa menolak atau mengucapkan sesuatu, Bulan melakukan apa yang Jeno katakan. Dirinya bahkan tak malu-malu melingkarkan tangannya di perut Jeno dengan kedua mata terpejam.
Jeno beberapa kali mencium pucuk kepala Bulan dengan lembut dan pelan. Dirinya tak ingin mengganggu istirahat sang kekasih.
Jevo dan Mikel yang berada di kurai depan hanya bisa menghela nafas panjang sembari mengelus dada melihat kemesraan mereka.
"Gila,,,, padahal gue biasanya melakukan hal lebih dari pada mereka. Tapi entah kenapa, melihat mereka hanya berpelukan saja membuat bibir ini ingin tersenyum." batin Jevo merasa senang.
"Sial....!! Jadi kepengen punya pasangan. Brengsek...!! Dulu gue nggak pernah iri pada mereka yang mengumbar kemesraan di depan gue. Bahkan Jevo dan para perempuan yang melakukan hal lebih. Namun hanya melihat kemesraan mereka yang hanya sebatas berpelukan, mampu membuat gue iri." batin Mikel menggeleng bingung.
Sedangkan di tepi jalan, keempat lelaki yang di lumpuhkan Bulan serta rekannya mulai tersadar. Tentu saja mereka langsung meraba anggota badannya hang terasa sakit.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya salah satu dari mereka.
"Kita dibuat tak sadar."
"Dan mereka lebih dari satu orang."
"Apa yang mereka cari?" tanyanya, menatap.ke arah mobil yang masih berada di tempatnya.
"Dompet sama ponsel gue hilang." seru yang lain, sembari meraba saku celananya.
"Sial...!! Milik gue juga nggak ada..!!"
"Astaga,,,, punya gue juga hilang."
"Bagaimana ini, ponsel yang ada rekamannya juga hilang." tukas salah satu dari mereka yang membawa ponsel tersebut.
Ketiga rekannya langsung menatap intens ke arahnya. "Tapi elo sudah mengirimkannya ke ponsel elo kan?" tanya rekannya.
Lelaki tersebut menggeleng lemas, menandakan jika dirinya belum melakukan apa yang ditanyakan oleh rekannya.
__ADS_1
"Aaa... Bagaimana ini??! Pasti bis akan marah besar....!!" seru yang lain, menjambak rambutnya dengan kasar.
Keempatnya langsung panik bercampur rasa takut. Bagaimana tidak. Masalah sudah ada di depan mata. Dengan hilangnya rekaman tersebut, secara tak langsung mereka telah membangunkan macan yang sedang tertidur pulas.