PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 59


__ADS_3

"Elo nggak sekolah?" tanya Gara, sebab masih terlalu pagi untuk Jeno datang ke tempatnya.


"Terlambat." ucap Jeno dengan tangan langsung mengambil sesuatu untuk membantu Gara membersihkan tempat ini.


Gara tersenyum samar. "Elo nggak jadi tukang bersih-bersih gratiskan?" sindir Gara.


Jeno mengangkat kedua pundaknya. "Menurut kamu, saya punya tampang jiwa sosial." ujar Jeno sekenanya.


Gara tertawa renyah. Tebakannya benar. "Imbalan apa yang elo inginkan?" tanya Gara, dengan menggerakkan tangan, membersihkan ruangan sebisanya, karena keterbatasan gerak.


"Sepertinya, tanpa aku beritahu, kamu sudah tahu." timpal Jeno.


Gara menghentikan gerakannya. Menatap intens ke arah Jeno. Begitu juga dengan Jeno. Dirinya sadar jika Gara memandangnya dengan intens, dirinya juga menatap Gara. "Aku yakin." tekan Jeno.


Jeno melihat, ada keraguan di mata Gara. Bukan keraguan untuk mengajarinya. Tapi keraguan akan tekad dan keinginan yang dimiliki Jeno.


"Tapi itu sangat beresiko." jelas Gara, dia tidak ingin Jeno berhenti di tengah jalan. Dan menjadikan semua sia-sia. Waktu terbuang sia-sia, juga dengan tenaga.


"Aku yakin. Bukankah sudah aku sudah pernah mengatakannya." tegas Jeno.


"Katakan tujuan utama elo. Kenapa elo bersikeras ingin belajar mengasah indera kamu dengan baik." Gara yakin, Jeno memiliki alasan yang kuat akan keinginannya tersebut.


Apalagi Jeno masih murid kelas dua SMA. Tidak mungkin dia serius akan hal berbahaya seperti itu. "Bulan. Aku menginginkan bisa berdiri di sampingnya. Mengangkat kepalaku tanpa rasa malu." ucap Jeno dengan jujur.


Gara terdiam sejenak. Tebakannya tidak meleset sedikitpun. Jeno ternyata mempunyai rasa terhadap sahabatnya tersebut.


"Berpikirlah yang rasional. Apa elo tahu, berapa umur Bulan?" Gara mencoba memancing Jeno. Dirinya tidak ingin, cinta sesaat dari Jeno akan membuat Bulan tersakiti.


Sebab, Gara juga melihat, Bulan juga mempunyai rasa terhadap Jeno. Keduanya sama-sama saling memiliki ketertarikan satu sama lain.


"Kenapa aku harus mengetahui umur bu Bulan. Apakah sepenting itu?" bukannya menjawab, Jeno malah balik bertanya pada Gara.


"Penting." tegas Gara, memandang tajam terhadap Jeno. "Bulan, bagi gue sudah seperti separuh nyawa. Gue nggak mungkin membiarkan ada yang menyakiti dia."


Jeno tersenyum samar. "Jika kamu mempunyai rasa pada bu Bulan. Lenyapkan. Karena Bulan hanya akan berada di samping Jeno." tekan Jeno dengan penuh percaya diri.


Gara tertawa renyah. "Soal itu, elo nggak perlu ikut campur. Itu urusan gue. Yang perlu elo ketahui, apa elo pikir segampang itu berhubungan dengan Bulan. Ingat, perbedaan kalian terlalu banyak. Dunia kalian berbeda." tekan Gara.


"Ingat Jeno, Bulan nggak akan pernah meninggalkan dunianya. Dan elo seharusnya tahu dan sadar, Bulan bukan perempuan yang mudah elo atur dan elo kendalikan."


"Tenang saja. Aku tidak akan menyuruh bu Bulan untuk meninggalkan dunianya. Aku yang akan masuk ke dunianya."


Gara menatap lamat kepada Jeno. Mencari celah kebohongan dari perkataannya. Tapi Gara tidak menemukannya. Jeno berbicara dengan jujur.


"Dan aku yakin, seorang perempuan akan kembali ke kodratnya, jika sudah tiba waktunya." tekan Jeno.


Gara mengerti apa yang dimaksud kodrat perempuan oleh Jeno. Yakni menjadi istri dak ibu dari anak-anaknya.


"Bagaimana dengan orang tua elo? Katakanlah, elo bisa meraih hati Bulan. Tapi apa orang tua elo akan menyetujuinya. Terlihat jelas perbedaan kalian." ujar Gara mengingatkan.


"Tenang saja. Orang tuaku bukan orang yang otoriter. Mereka akan mendukung apapun yang diinginkan anak mereka. Asalkan itu adalah hal baik." ucap Jeno menjeda kalimatnya.


"Terlebih, bu Bulan bukan perempuan sembarangan. Dan aku yakin, dia berasal dari keluarga baik-baik. Itu saja sudah cukup memenuhi syarat." lanjut Jeno.


Jeno yakin seyakin yakinnya. Jika sang papa dan sang mama akan merestui hubungan keduanya. Jika mereka serius, dan juga sama-sama saling mencintai satu sama lain.


Gara tersenyum samar. Salut akan tekad dan keberanian yang dimiliki oleh Jeno. Meski dia masih duduk di bangku SMA.

__ADS_1


"Baiklah. Kapan elo siap?" tanya Gara, siap untuk berlatih bersama dengan Jeno.


"Secepatnya. Nanti juga bisa." sahutnya.


Gara hanya memutar kedua matanya dengan malas. Sebegitu bernafsunya Jeno ingin bersanding dengan Bulan. "Kita cari waktu yang tepat. Latihan seperti itu, tidak bisa terburu-buru, atau terganggu." jelas Gara.


"Tapi aku tidak mau menunggu terlalu lama." tukas Jeno. Kekeh ingin secepatnya berlatih.


Gara teringat akan sesuatu. "Tadi malam, elo melakukan yang gue suruh?" tanya Gara penasaran.


"Iya. Kamu bilang tidak ada cara lain. Selain cara itu." sahut Jeno dengan santai.


"Apa?!" tanya Jeno dengan ketus, pasalnya Gara menatapnya dengan intens.


"Bulan marah?"


Jeno menggeleng. "Hanya sedikit perdebatan. Tapi, aku bisa mengatasinya." ucap Jeno dengan santai.


"Elo normalkan?" tanya Gara dengan ekspresi aneh.


"Normal. Aku lelaki tulen. Kamu pikir aku penyuka sesama." ketus Jeno tidak terima.


"Ckk..." Jeno tahu, kenapa Gara bertanya seperti itu. Tentu saja karena semalam dirinya tidur seranjang dengan Bulan. Dengan keadaan yang sangat menegangkan.


"Aku benar-benar menyukai bu Bulan. Mana mungkin aku merusaknya." dengus Jeno. Tak terima dirinya dituduh mesum. Meski secara tidak langsung.


Gara tersenyum. "Kuat juga iman elo." ledek Gara.


"Ckkk,,, kuat nggak kuat. Aku harus menahannya. Kamu pikir aku lelaki macam apa. Yang mencari keuntungan di saat ada perempuan tidak sadarkan diri." kesal Jeno.


"Gue semakin suka sama elo."


Gara hanya bisa melongo. "Sialan. Meski gue cacat, gue juga normal brengsek...!!" seru Gara dengan kesal.


Gara juga bergidik ngeri. Membayangkan seandainya dia juga tidak normal. "Amit-amit,,,, amit-amit...." tukasnya.


Di jalan, Bulan menghentikan laju motornya, melihat ada dua lelaki yang sedang melawan segerombolan orang. "Bukankah mereka berdua yang ada di rumah atasan tadi."


Bulan masih duduk di atas motor. Melihat sekitar. Dirinya tidak bisa bertindak sembrono. Dan langsung menolong keduanya.


Siapa tahu, ternyata itu adalah sebuah jebakan yang memang direncanakan dengan baik. Bulan melihat beberapa orang yang bersembunyi di balik rerimbunan tanaman liar.


Bulan tersenyum remeh. Menjalankan motornya tanpa menyalakan mesin, mendorongnya dengan kaki. Dan bersembunyi di balik-balik rerimbunan tanaman liar.


Bulan melepas helm di kepalanya. Dilihatnya beberapa orang yang bersembunyi tersebut ada yang memegang senapan siap tembak.


Bulan menatap ke arah dimana ada perkelahian, dan dimana orang tersebut bersembunyi dengan senjata di tangannya.


"Jika tidak salah. Dia putra dari almarhum panglima yang terdahulu." gumam Bulan, mengenali salah satu dari orang yang dikeroyok.


Bulan mengeluarkan senjatanya dari dalam saku. "Dan dia. Entahlah. Gue nggak kenal." tukas Bulan.


"Ada tiga orang yang bersiap membidik. Jika gue membidik salah satu, pasti keduanya akan waspada. Atau malah melesatkan tembakan ke arah mereka berdua."


Bulan menimbang-nimbang, apa yang akan dia lakukan. Bulan tersenyum miring. Dengan senjata siap di tangan, Bulan berjalan bagai seekor harimau yang sedang mengintai mangsa.


Bulan yakin, mereka akan menunggu waktu yang tepat. Dan tidak sembarangan melesatkan tembakan. Dari pertimbangan tersebut, Bulan berani bertindak seperti ini.

__ADS_1


Perlahan, Bulan semakin mendekat. Dan,,,,, hap. Dengan mudah Bulan melumpuhkan satu anggota mereka yang membawa senjata.


Bulan mengambil pisau lipat. Dan,,, sreeeet.... Dengan santai Bulan merobek leher musuh. Hingga dia tak bernyawa lagi.


Dari sinilah Bulan akan melesatkan tembakan. Tidak menggunakan pistol miliknya. Tapi senapan milik sang musuh yang telah dia bunuh.


Dor....


Dorrr...


Dua tembakan beruntun ke tempat yang berbeda. Bulan meniup pucuk senapan. Tersenyum miring.


Perkelahian langsung berhenti seketika. Dengan beberapa yang bersembunyi keluar dengan ekspresi kebingungan.


Dua lelaki yang mereka keroyok, langsung menepi. Memasang sikap waspada saling melindungi. Sebab mereka berdua tidak tahu apa yang akan terjadi.


Bulan berjalan dengan tenang. Keluar dari rerimbunan tanaman liar. Tangan kanan menyeret seorang lelaki yang telah menjadi mayat. Sementara tangan kanan memegang senapan.


"Dia." gumam dua lelaki yang baru saja bertemu dengan Bulan di rumah sang atasan.


Bruk... Bulan melepaskan lelaki yang dia seret. Memandang tajam ke arah mereka bagaikan malaikat pencabut nyawa.


Dingin, tanpa ekspresi. Dan terlihat kejam. Tanpa senyum di bibir. Bulan mengakar senjatanya, meletakkan di atas pundaknya.


Melepas topinya dengan santai. Memperlihatkan keseluruhan wajahnya pada mereka. Lalu tersenyum miring penuh makna.


Beberapa lelaki saling pandang. Lalu mereka mengangguk. Segera mengajak rekan mereka untuk pergi meninggalkan tempat.


Jelas terlihat, mereka mengenal Bulan dengan baik. "Kamu. Bulan. Bagaimana bisa kamu ada di sini?" tanya salah satu dari mereka.


Bulan kembali memakai topi. "Tidak sengaja." ujar Bulan singkat. Berjalan kembali menuju ke tempatnya menaruh motor.


"Hey... tunggu...!" teriaknya.


Tapi Bulan sama sekali tidak mengindahkan teriakannya. Dia tetap melangkahkan kakinya. "Jangan. Biarkan saja." ujar rekannya, saat dia ingin mengejar Bulan.


"Gila. Keren sekali dia." pujinya.


"Jangan macam-macam. Dia bukan perempuan sembarangan." ucap rekannya mengingatkan.


"Memang perempuan seperti itu yang gue cari. Bukan perempuan biasa." ucapnya tersenyum penuh makna.


"Ckk,,, terserah. Sebaiknya kita segera pergi. Cari tahu siapa yang sudah menghentikan perjalanan kita."


"Benar. Sepertinya mereka menginginkan nyawa kita."


"Apa tidak sebaiknya elo tanyakan pada papa elo saja."


"Ditanyakan dimana. Di dalam tanah." kesalnya, sudah tahu jika papanya sudah meninggal beberapa bulan yang lalu.


"He...he... maaf. Lupa." ucapnya cengengesan.


Sedangkan Bulan tidak langsung pulang. Dia langsung pergi ke markas. Tentunya untuk mengambil rekaman yang dia simpan di sana.


Bulan segera bergegas mengambilnya, setelah dia berada di markas. Tangannya terhenti saat ingin memutar video tersebut di markas.


"Lebih baik gue putar di tempat Gara. Sekalian, biar Gara bisa melihatnya." ucap Bulan.

__ADS_1


Tanpa Bulan tahu, di sana tidak hanya ada Gara. Tapi juga Jeno.


__ADS_2