
Selama dua bulan full aku dan Dilara selalu menghabiskan waktu. Apalagi setelah aku selesai penelitian, lebih memiliki banyak waktu untuk bersama. Kami jalan-jalan, makan di luar, menyanyi bersama dengan iringan gitar di halaman rumahnya yang luas, nonton, pergi ke taman dan semua hal yang biasanya dilakukan layaknya orang pacaran.
Bergandengan tangan, saling menatap intens, lalu terkadang berpelukan. Terlebih saat Dilara merasa kecewa atas sikapku. Dia lebih sering menangis di dadaku. Kadang, ada rasa menggelitik saat Dilara bersandar di dada. Ada denyar dan debar yang bersahutan. Kurasakan begitu nikmat.
Seiring membaiknya hubunganku dengan Dilara, baik pula hubunganku dengan Galih. Dia perlahan-lahan mulai menerima kehadiranku. Berbicara tak sekasar dan sesengak beberapa hari kemarin. Bahkan kita sering duduk berdua atau jalan berdua. Seperti dulu.
"Gue mau lebih serius ngerjain skripsi, Ham," katanya saat kami sedang duduk berdua di balai bambu tempat biasanya, bermain gitar.
"Baguslah." Aku menjawab sambil memetik senar gitar.
"Gue nggak pengen dikira main-main ama Sandra. Gue serius ama dia."
Iya, hubungan mereka memang serius. Setelah bertemu papa Sandra, pria itu langsung mendapat persetujuan. Jelas, Galih orang baik, orang tua mana pun pasti tak akan menyesal mempercayakan putrinya padanya.
"Guud. Lanjutkan!"
"Progres skripsi lu gimana?"
"Lancar tinggal nunggu BAB akhir."
"Wuih! Cepet bener. Roman-romannya pengen cepet nikahin adik gue. Takut keduluan ipar gue yang kaya raya."
"Njiiir! Terus aja bahas tu bocah. Gue ama dia beda jauh, Man. Ganteng gue ke mana-mana."
"Iya. Beda jauh. Dia kaya lu miskin."
"Sotoy, lu. Dia kaya karena bapaknya. Gini-gini gue juga usaha sendiri."
Aku sudah paham sejak dulu, setelah ayah meninggal hidupku dan ibu tak akan mudah. Ibu dengan penuh kasih sayang selalu memberiku pengertian tentang hal itu. Beliau mendidikku menjadi anak yang mandiri juga kuat. Ibu juga rela menjadi ibu sekaligus ayah untukku. Masih jelas di ingatan, saat aku iri dan marah melihat Galih pergi salat Jumat bersama ayahnya. Sementara aku, hanya sendiri. Ibu selalu bilang.
"Ayah itu selalu ada di dekatmu. Dia di sini," katanya sambil menunjuk dadaku. Sejak saat itu, aku tumbuh menjadi pemuda yang penuh percaya diri karena ayah selalu menemani di mana pun dan kapan pun.
Ibu selalu menggantikan peran ayah semampu beliau. Ibu pun mengajariku memanjat, membenarkan sepeda saat rantainya copot, lalu mengencangkannya. Ibu bisa. Hanya salat Jumat yang ibu tak bisa.
"Enak, ya, kalau punya bokap kaya. Tinggal nodong, duit ngalir. Nggak kayak gue. Nggak punya bokap." Aku tersenyum getir. Set dah! Kenapa jadi melow begini? Ah, bukan gue banget, deh.
"Sabar, Ham."
"Lih ...." Aku menatap Galih lembut. Sahabatku pun membalas dengan tatapan serius. Menunggu aku mengatakan sesuatu. "Lu jadi bokap gue mau, ya."
"Buset! Ogah!" Galih langsung berdiri sambil memukul bahuku. Sementara aku, sibuk menaik-turunkan alis. Perselisihan itu kami akhiri dengan tawa.
"Kabar Sandra gimana?"
"Baik, dong. Ama gue ini."
"Seeet! Yang lagi kasmaran."
__ADS_1
"Bokapnya nggak seperti yang gue pikir. Baik dia."
"Syukur, deh." Pandangan dan tanganku masih fokus ke arah gitar. Kemudian, meluncurlah sebuah lagu dari bibirku.
Kumenanti seorang kekasih
Yang tercantik yang datang di hari ini
Adakah dia 'kan s'lalu setia
Bersanding hidup penuh pesona
Harapanku
Galih menimpali di bait berikutnya. Kami terus bernyanyi hingga terdengar suara cewek.
"Wuih! Itu kakak lo semua, Dil. Cakep yang kaus merah," katanya sambil cekikikan.
Aku yang merasa jadi pusat perhatian terus bernyanyi dan mengedipkan satu mata serta tersenyum miring ke arah dua gadis itu. Yang satu merah padam wajahnya dan tertawa kegirangan. Yang satu jutek luar biasa sambil cemberut.
"Yang kaus merah udah sold out," ucapnya ngeloyor masuk rumah.
Si gadis cantik yang tadi terus ngikik itu tak melepas pandangan ke arahku hingga hampir terjerembab saat akan menaiki anak tangga teras Dilara.
Pernahkah kau merasa
Kini semakin terasa
Setelah kau kenal dia
"Kak! Diam! Berisik!" teriak Dilara di lagu berikutnya.
Aku dan Galih saling berpandangan, lalu kembali meneruskan.
Kau ... pergi
Tinggalkanku
Tak pernah kau sadari
Akulah yang kau sakiti
"Diam nggak?" serunya yang sudah berada di hadapan kami dengan satu ember di tangan yang berisi air. Aku dan Galih spontan kabur.
Dilara kalau ngambek ngeri.
❤️❤️❤️
__ADS_1
Malam kian larut. Gadis cantik di sebelahku ini pun masih mempertahankan diri untuk tetep tutup mulut. Kedua kakinya menjuntai dan berayun. Kedua tangannya berada di samping kanan-kiri tubuh, menopang badannya.
"Udah, dong, ngambeknya."
Dilara masih diam, bibirnya yang merah semakin mengerucut. Bukan menambah jelek, tapi membuat sisi lelakiku memberontak. Kalau tak ingat norma, sudah kulumat sejak tadi.
Aku sebenarnya tidak tahu kenapa dia marah. Sejak peristiwa pengusiran tadi sore, gadis itu ngomel via chat. Marah tak jelas. Kini, saat aku menuruti kemauannya untuk ketemuan, dia hanya diam. Aku kebingungan seolah-olah menjadi terdakwa yang tak tahu salahnya apa.
"Makan es krim, yuk." Aku mengajaknya dengan terus menyebut berbagai makanan dari bakso, mie ayam, burger, mi tek-tek, sate, terus mencoba untuk merayu. Dilara masih bergeming.
Aku bangkit berdiri, lalu mengacak rambut, frustrasi. Kemudian, jongkok melakukan jurus pamungkas paling akhir. Kalau ini tak berhasil, entah harus memakai jurus apa lagi.
"Ngomong nggak? Kalau nggak ngomong kakak cium, nih!" ancamku seraya menangkup kedua pipinya.
Kupikir dia akan luluh dan berhenti marah, tapi aku salah.
"Coba kalau berani!" tantangnya. Buset! Uji nyali ni bocah. Aku pun tak takut, mendekatkan wajah ke arahnya. Terus ... terus ... terus, lalu ....
Bug! Benda kerasa menghantam tengkukku.
"Lu mau merawanin adik gue, hah?"
Aelah, Kampret! Baru juga mau nyosor sudah kena sweeping.
"Kagak! Nyicip, doang."
"Awas, lu, macem-macem. Bakal gue laporin Pak RT, biar dikawinin sekalian."
"Wuih! Laporin, gih!" Aku segera berdiri dan diikuti Dilara.
"Nggak mau!" seru Dilara kencang. "Kakak itu nggak peka! Senyum-senyum manis ke temen Dila. Pake kedip-kedip segala. Itu sengaja nyanyi, kan, buat temen Dila. Hayo ngaku! Dila sebel! Sebel! Sebel!"
Gadis itu memuntahkan kemarahannya sambil memukul dadaku dan menangis. Kubiarkan hingga dia puas.
"Tabah ya, Bro," ucap Galih sebelum dia pergi dengan gontai.
Sial! Bukannya menolong malah kabur.
Dilara masih ngomel. Tangan lemah itu pun masih setia memukul dada meski ritme-nya berubah pelan. Aku tahu, dia mulai lelah. Lalu, kuraih tubuhku ke dalam pelukan. Tangisnya kembali pecah, sekarang diikuti dengan isak.
"Di hati kakak hanya ada Dila. Nggak peduli dia cantik, seksi, di mata kakak cuma ada Dila."
Bukan gombal, tapi memang itu kenyataannya. Perlahan tangisnya reda. Kuurai pelukan, lalu menangkup wajahnya. Kami saling berpandangan lama. Kuteliti mata sembab, hidung merah disertai ingus juga anak rambutnya yang berantakan. Kembali kudekatkan wajah, bibirku mendekati bibirnya. Deru napas tak keruan juga irama jantung yang berdegup tak beraturan menjadi latar tindakanku malam itu. Dilara diam, bahkan gadis itu malah menutup mata. Seolah-olah mengizinkan aku melakukannya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Selamat menunaikan ibadah puasa semuanya. 😊😊😊😊
__ADS_1