
Sementara Jevo menunggu dengan santai di salah satu kamar hotel, memastikan sang perempuan yang dia pekerjakan untuk memuaskan Revan diatas ranjang bekerja dengan baik, Mikel mengantar Sapna untuk kembali ke rumah Bulan dengan selamat.
"Elo nggak mampir?" tanya Sapna, saat keduanya berada di teras rumah Bulan.
"Tidak. Gue harus segera menyusul yang lainnya." tolak Mikel.
Sapna mengangguk dengan tidak enak hati. "Maaf, lagi-lagi kami menyusahkan kalian." ujarnya lirih.
"Tidak masalah. Kita justru senang. Sekalian mumpung bu Bulan mau menjadi pemimpin kami. Seharusnya elo tahu bagaimana keahliannya. Jadi kami bisa belajar dari beliau." jelas Mikel, tak ingin Sapna merasa jika kehadirannya dan sang mama menyusahkan mereka. Meski pada kenyataannya memang demikian.
"Sebaiknya kamu masuk." pinta Mikel.
"Apa elo akan ke tempat Gara?" Sapna tahu jika ada satu tempat yang dirinya juga belum boleh tahu. Dan Sapna tidak mendesak mereka untuk memberitahunya.
Mikel mengangguk. Membenarkan tebakan Sapna. "Bagaimana keadaannya?"
Mikel termangu sejenak. Lalu dia buru-buru tersenyum. "Baik."
"Syukurlah. Sebenarnya,,,, gue merasa hidup gue sangat menderita. Tapi gue salah. Ternyata ada yang lebih menderita ketimbang gue. Gara. Dia hidup seorang diri. Mengasingkan diri dari hingar bingar dunia yang indah ini." cicit Sapna.
Mikel tidak tahu kenapa Sapna tiba-tiba bertanya mengenai Gara. Mikel hanya bisa diam tak mengomentari apa yang dikatakan Sapna.
"Terimakasih karena elo sudah mengantar gue. Dalam buat Gara." tukas Sapna.
"Oke. Jangan lupa kunci semua pintu." sahut Mikel.
Sapna mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Setelah memastikan Sapna masuk, Mikel juga pergi meninggalkan kediaman Bulan, di mana Sapna dan sang mama juga tinggal di sana.
"Kamu diantar siapa?" tanya sang mama yang ternyata belum tidur, mengintip dari balik jendela saat Sapna berbincang sebentar dengan Mikel.
"Mikel ma,,, anak didiknya Bulan." sahut Sapna.
Nyonya Irawan menatap intens ke arah Sapna yang meletakkan tasnya di atas meja lalu melepas cardigan yang dia kenakan. "Kalian benar-benar berhubungan?"
"Tidak ma. Hanya saja, entah kenapa Bulan tiba-tiba menghubungi Sapna dan meminta Sapna keluar bersama Mikel. Lalu menyuruh kami makan di restoran romantis." jelas Sapna berbohong.
"Lalu Mikel?"
"Dia sama seperti Sapna. Melakukan apa yang Bulan katakan. Hanya itu saja." lagi-lagi, Sapna menutupi kebohongannya dengan kebohongan lainnya.
Sebab tak mungkin Sapna mengatakan yang sejujurnya. Untuk apa dia pergi, dan kenapa dia pulang diantar oleh Mikel.
"Mungkin ada yang menyelidiki kita. Makanya Bulan mengambil langkah ini."
"Kami juga berpikir begitu." Sapna masuk ke dalam kamar mandi, membasuh wajah serta mencuci kedua tangan dan kakinya.
Kembali ke kamar, dan langsung menyusul sang mama yang berad adi atas ranjang. "Tadi tidak ada gang datangkan, selama Sapna tidak ada di rumah?" tanya Sapna memastikan.
"Tidak ada." ujar Nyonya Irawan sambil menggeleng.
"Ingat ma, jangan membukakan pintu jika ada yang datang. Meski itu Mikel atau temannya." ujar Sapna, khawatir ada yang datang saat dirinya tertidur pulas. Sehingga sang mama yang membukakan pintu.
"Iya sayang, berapa kali kamu mengingatkan mama." sahut sang mama. Sebab Sapna sudah berkali-kali mengatakan hal yang sama semenjak Bulan keluar dari rumah.
Sapna memeluk erat sang mama dengan manja. "Sapna hanya takut kita kenapa-napa. Apalagi Bulan tidak ada di rumah." ujar Sapna mengeluarkan unek-uneknya.
Nyonya Irawan membelai rambut Sapna dengan penuh kasih sayang. Beliau mengerti kenapa sang putri begitu cerewet. "Iya,, mama paham. Maafkan papa dan mama yang tidak bisa memberikan rasa nyaman pada kamu." ujar sang mama penuh sesal.
"Enggak ma. Sapna nyaman bersama mama. Meski sekarang kita dalam kesulitan. Setidaknya Sapna masih punya mama dan papa." tukas Sapna, tak mau pikiran sang mama terbebani.
"Sebaiknya kita lekas tidur. Bukankah besok pagi kita akan menjenguk papa." ujar Nyonya Irawan.
"Benar. Sapna sudah kangen sama papa." cicit Sapna dengan kedua mata yang sudah terpejam, meski belum tertidur. Keduanya terlelap dalam tidur sembari berpelukan di atas ranjang.
Di markas, Bulan segera bergerak cepat. Dengan Gara duduk di sebelahnya, melacak beberapa orang yang pernah menghubungi nomor ponsel Revan.
Keduanya bekerja mencari tahu dengan cermat dan teliti. Tak ingin sampai kehilangan peluang sekecil apapun.
Jeno dan Arya, keduanya berada di kursi belakang Bulan dan Gara. Menunggu hasil dari pencarian mereka. Keduanya tak ingin menganggu Bulan dan Gara yang sedang bekerja.
Bulan dan Gara saling bersitatap. "Kenapa mereka terlibat?" tanya Gara dengan bingung bercampur penasaran, setelah mereka mendapatkan sebuah nomor dengan pemilik yang sudah dia ketahui.
"Kemungkinan besar mereka menjual film dewasa." tebak Bulan, bahwa mereka tidak tahu jika Sapna mengenal Gara.
"Semoga saja." lirih Gara.
__ADS_1
"Siapa sayang?" tanya Jeno, yakin jika Bulan sudah mengetahuinya.
Bulan mengubah memutar kursinya. Berhadapan dengan Jeno yang duduk tak jauh di belakangnya. "Organisasi bawah tanah, dimana dulu Gara pernah bekerja untuk mereka. Tapi aku yakin, jika mereka tidak tahu jika Sapna dan Gara saling kenal." jelas Bulan dengan yakin.
"Jika begitu, kemungkinan besar Sapna terlibat karena Revan yang memiliki dendam dengan Jevo. Tapi,,, bagaimana dengan rekaman yang kamu katakan." ujar Jeno, masih bingung dengan keadaan ini.
"Itu dia yang juga membuat aku bingung. Apalagi Mikel mengatakan jika Revan tidak memegang rekaman yang dia gunakan untuk mengancam Sapna. Tapi, kemungkinan besar rekaman itu di bawa oleh kelompok bawah tanah itu." papar Bulan, mencoba meluruskan benang kusut di depannya.
Semua terdiam, tampal semua berpikir tentang apa yang terjadi. "Apa sudah ada titik temu?" tanya Mikel yang baru saja datang dan bergabung dengan mereka.
Mikel merasa ada yang berbeda dengan mereka semua. "Ada apa?" bisik Mikel di samping telinga Jeno.
"Semua masih sangat rumit. Karena ternyata, kemungkinan besar yang memegang rekaman itu kelompok bawah tanah yang pernah menjadi organisasi Gara. Tapi,,, mereka tidak tahu jika Gara dan Sapna saling kenal. Apalagi, kamu bilang Revan melakukannya karena Jevo. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi?" papar Jeno.
Keadaan hening, semua diam dengan pemikiran dan tebakan di dalam benak masing-masing. Hingga ponsel Bulan berbunyi, yang menandakan sebuah pesan tertulis masuk ke dalam ponselnya.
"Jevo. Dia mengatakan semua berjalan dengan lancar. Dan Revan tidak tahu, jika perempuan itu bukan Sapna." jelas Bulan.
"Jevo memang cerdik. Pasti dia membuat lampunya menjadi temaram. Entah dari mana dia menemukan perempuan dengan postur tubuh yang sama seperti Sapna." cicit Arya.
"Satu masalah selesai. Tinggal siapa yang membawa rekamannya." sahut Mikel.
"Pak Bimo. Apa mereka pernah terlibat jual beli ilegal." tukas Jeno, mengarah kepada kasus yang membuat pak Bimo dan beberapa orang mendekam dalam sel tahanan.
Jeno takut jika mereka mengincar Sapna karena pak Bimo yang membelot dan menyerahkan semua bukti.
"Mereka memang terlibat. Tapi mereka terlalu pintar dan licik. Mereka menggunakan orang lain sebagai tangan mereka. Sehingga tidak ada bukti yang memberatkan mereka. Dan membuat mereka melenggang dengan bebas." jelas Bulan.
"Sebenarnya apa isi dari rekaman itu?" tanya Arya penasaran.
"Sesuatu yang terjadi selama Nyonya Irawan dan Sapna di sekap. Dan itu tidak terekam kamera CCTV." jelas Bulan hanya mengatakan haris besarnya saja.
Bulan tahu, jika mereka pasti sekarang sedang menebak apa isi rekaman tersebut setelah dia memberi sedikit penjelasan.
Tapi bukan itu yang Bulan pikirkan. Bulan hanya ingin masalah ini tidak berlarut-larut. Setidaknya, Bulan tidak memberitahu dengan detai isi dari rekaman tersebut.
Jeno terdiam. Dia memikirkan tentang penyekapan, setelah Bulan mengatakan hal tersebut. "Tunggu. Mereka yang kita bunuh di rumah mewah itu. Dari mana asal mereka?" tanya Jeno.
"Random." sahut Gara yang memang sudah menyelidiki asal mereka.
Bulan bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran Jeno. "Cukup. Aku yang akan bertanya pada Sapna." timpal Bulan.
"Berikan semua data beserta foto orang yang kita habisi di rumah itu. Aku harus bergerak dengan cepat. Jika tebakanku benar, Revan kenal dengan orang dalam. Dan dia mengetahui rekaman itu dari mereka. Dan Revan, menawarkan diri. Sebab dia tahu, Sapna berhubungan dengan Mikel. Dengan begitu, mereka saling diuntungkan." ujar Bulan.
"Revan akan mendapatkan uang karena bekerja sama dengan mereka. Ditambah bisa menghancurkan Jevo lewat Sapna, yang dia tahu kekasih Mikel. Dan kelompok itu, dia akan mendapatkan uang dengan menjual rekaman +21 yang mereka peroleh dari merekam adegan Revan dan Sapna." lanjut Bulan dengan gamblang.
"Benar. Itu juga yang aku pikirkan." sahut Jeno.
Gara memberikan beberapa lembar kertas pada Bulan. "Ini. Semua ada di sini. Termasuk foto mereka."
"Kalian tetap di sini. Biar aku dan Jeno yang menemui Sapna." pinta Bulan.
Bulan dan Jeno bergegas menemui Sapna serta Nyonya Irawan. "Kenapa masalahnya malah rumit dan melebar." cicit Jeno sembari menyetir.
"Jika kamu lelah, kita bisa bergantian menyetir." pinta Bulan.
Jeno tersenyum. "Dari mana kamu tahu aku lelah sayang. Aku malah senang."
Bulan mencondongkan badannya ke samping. Memegang erat lengan Jeno sebelah kiri dari samping. Dengan tangan Jeno sebelah kanan berada di stir.
"Kalau kamu mengantuk, tidurlah. Nanti akan aku bangunkan jika sudah sampai." pinta Jeno.
"Tidak. Aku tidak mengantuk." sahut Bulan dengan manja.
"Kamu mau membeli apa untuk oleh-oleh bapak dan ibu?"
"Tidak perlu. Pasti mama kamu sudah membelikan banyak barang." tebak Bulan.
Jeno tertawa pelan. Melepaskan tangannya yang dipegang Bulan. Lalu dielusnya rambut pasangan yang berada di kepala Bulan. "Tepat. Bahkan aku meminta mama untuk berhenti membeli ini itu." timpal Jeno masih dengan tawanya.
Bulan membenarkan posisi duduknya di kursi. "Ada apa?" tanya Jeno melihat sang kekasih sedang memikirkan sesuatu.
"Jangan terlalu dipikirkan. Aku akan menemani kamu menyelesaikan masalah ini." lanjut Jeno, sebab Bulan masih diam.
"Bukan itu." Bulan memegang ujung rambutnya. "Kapan rambutku akan panjang. Aku sudah bosan memakai rambut pasangan." cicitnya.
__ADS_1
Jeno paham, pasti Bulan merasa risih dan tidak nyaman terus memakai rambut pasangan. "Kenapa kamu memakai rambut palsu. Biarkan saja rambut asli kamu dilihat banyak orang."
"Ckk,,, terlalu pendek Jeno. Aku tidak percaya diri." ujar Bulan.
"Ya sudah. Yang sabar. Sebentar lagi pasti akan panjang." hibur Jeno.
"Sepertinya gue perlu tanya mama. Siapa tahu mama punya kenalan dokter. Kasihan juga jika Bulan merasa minder dengan rambutnya." batin Jeno, berharap ada obat atau sejenisnya yang bisa membuat rambut Bulan segera panjang.
Sesampainya di rumah, Bulan berbicara dengan Sapna dan Nyonya Irawan di dalam kamar. Membiarkan Jeno menunggu sendirian di ruang tamu.
"Maaf tante. Jika Bulan terlalu ikut campur. Tapi, apakah Bulan boleh tahu, siapa saja lelaki yang pernah melecehkan tante? Itupun jika tante tidak keberatan." pinta Bulan dengan hati-hati.
Bulan sadar, jika apa yang dia tanyakan sangatlah sensitif. Yang seharusnya tak pernah Bulan tanyakan. Tapi, karena keadaan, Bulan terpaksa membuka luka yang telah tertutup di hati Nyonya Irawan.
Nyonya Irawan diam tak bergerak dan tak segera mengeluarkan suaranya. "Jika tante tidak mau. Bulan tidak memaksa. Karena tidak seharusnya Bulan meminta hal seperti ini pada tante. Maaf." sambung Bulan merasa bersalah.
Sapna hanya bisa diam. Dirinya seolah bisa menebak untuk apa Bulan menginginkan hal tersebut. Dirinya juga tak bisa membantu Bulan. Sebab tidak tahu wajah lelaki mana saja yang melecehkan dang mama. "Semoga mama mau mengatakannya." batin Sapna.
Sebab, jika sang mama menolak, itu artinya Bulan harus mencari jalan lain. Padahal di sini, Bulan dan yang lainnya bekerja untuk menyelesaikan masalah mereka.
"Tante akan beritahu." tutur Nyonya Irawan. Membuat Bulan dan Sapna menghela nafas lega. Keduanya tersenyum senang.
Bulan memberikan beberapa lembar kertas pada Nyonya Irawan. Dengan teliti, Nyonya Irawan menatap satu persatu gambar di kertas tersebut.
Meski hati Nyonya Irawan merasa perih mengingat apa yang dia lalui selama berada di penjara mewah tersebut.
Nyonya Irawan tahu, jika Bulan sedang melakukan sesuatu untuk dirinya dan Sapna. Oleh karenanya beliau tidak mau egois. Yang mana malah akan membuat Bulan kesusahan.
Nyonya Irawan memberikan beberapa kertas pada Bulan. "Mereka yang melakukannya." lirih Nyonya Irawan.
Langsung Bulan mengambil kertas tersebut. Sapna segera memeluk sang mama. "Sapna bangga pada mama."
"Baiklah. Bulan pergi dulu. Ingat. Kunci semua pintu. Gunakan kunci ganda. Jangan sembarangan membuka pintu." tutur Bulan.
"Baik."
"Iya."
Jeno melihat Bulan berjalan ke arahnya. "Sudah?"
Bulan mengangguk. "Ayo. Mita harus segera kembali dan menyelesaikannya malam ini juga." ajak Bulan pada Jeno untuk kembali ke markas.
Setelah mengunci pintu, Sapna kembali ke dalam kamar. Dimana sang mama sudah menunggunya. "Sebenarnya apa yang terjadi? Tadi kamu pergi sendiri, pulang diantar Mikel. Dan kamu bilang, Bulan kerja shif malam. Memang ada kepala yang bekerja malam. Dan sekarang, Bulan pulang dengan Jeno. Bertanya mengenai hal tersebut. Sapna,,, apa yang kamu sembunyikan dari mama? Apa yang kalian sembunyikan dari mama?" cecar Nyonya Irawan, merasa ada yang tidak beres.
Sapna menghela nafas. Sungguh. Dirinya tak bisa berbohong lagi. "Ma... Sapna akan menceritakan semuanya. Tapi mama harus tenang. Bulan dan yang lainnya akan membereskan semuanya." pinta Sapna, tidak ingin sang mama syok.
"Baik. Jangan berbohong lagi. Jangan menutupi apapun dari mama." pinta Nyonya Irawan, mendapat anggukan dari Sapna.
Dengan terpaksa, Sapna menceritakan apa yang menimpanya. Hingga Bulan dan yang lainnya saat ini sedang menyelesaikan masalah tersebut.
Nyonya Irawan langsung menangis. Beliau tidak menangis karena rekaman videonya yang akan disebar. Beliau menangis karena merasa terlalu membuat beban masalah untuk mereka.
"Hubungi mereka. Biarkan mereka menyebarkan video itu. Maka tidak peduli. Minta mereka berhenti. Jangan lagi kita menyusahkan mereka." cicit Nyonya Irawan dengan air mata mengalir di kedua pipinya.
"Mama...." Sapna memeluk sang mama dengan erat.
"Mama tidak peduli jika video itu disebarkan. Mama tidak peduli. Asalkan kamu dan Bulan ada di sisi mama. Asalkan papa kamu dalam keadaan sehat di sana."
"Tapi Sapna takut,,, papa akan salah paham. Sapna takut, jika papa berpikiran buruk mengenai mama."
"Tidak sayang, mama kenal siapa papa. Dia akan percaya jika kita menjelaskannya. Mama percaya itu." tekan Nyonya Irawan.
Sapna mengangguk. "Sapna akan menghubungi Bulan."
"Lakukan sekarang." pinta sang mama.
"Kasihan mereka. Harus kerja pontang-panting untuk kami. Dan kami, tidak bisa membalas kebaikan mereka." batin Nyonya Irawan.
"Bagaimana sayang?" tanya Nyonya Irawan setelah Sapna selesai berbicara dengan Bulan lewat ponselnya.
"Bulan mengatakan akan memikirkannya." sahut Sapna.
"Semoga Bulan tidak menyelidiki terlalu jauh. Maka khawatir terjadi sesuatu dengan mereka." lirih Nyonya Irawan.
Bagi Nyonya Irawan, semua sudah hancur. Dengan keadaannya yang sekarang, dan sang suami berada di penjara. Apalagi yang dia takuti. Tidak ada.
__ADS_1
Pandangan orang lain padanya. Bahkan dia tidak peduli. Sekarang, yang ada di benaknya hanyalah hidup damai bersama sang putri dan Bulan, yang sudah dia anggap seperti putri kandungnya.