PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 61


__ADS_3

Bulan memandang heran ke arah Jeno dan Gara. Keduanya berbaring di atas dipan dengan alas tikar dengan ekspresi terlihat letih. Memejamkan kedua matanya, seolah sedang terlelap.


Pandangan Bulan mengitari sekitar ruangan. Bersih dan rapi. Bulan tersenyum samar. Dua lelaki berbeda generasi bekerja sama, saling bahu membahu membersihkan tempat yang awalnya sangat kotor dan tak layak huni ini. Menjadi tempat yang nyaman.


"Bagaimana, sudah bersihkan?" Jeno tiba-tiba mengubah posisi tidurnya menjadi tengkurap, memandang ke arah Bulan. Dengan kedua tangan terlipat di bawah dagu, dijadikan bantal.


Bulan mencebik sembari mengangguk. "Murid elo sungguh keterlaluan. Lihat, gue dipaksa kerja rodi." ujar Gara mengadu, mengerakkan kedua tangannya pertanda capek.


Bulan hanya tersenyum. Menurunkan ransel yang berada di punggungnya ke atas meja. "Hey,,, kamu lelaki. Jangan banyak mengeluh." timpal Jeno dengan nada kesal.


Gara melengos dengan ekspresi kesal. "Ini tempat kamu. Masa iya, aku yang membersihkannya sendiri. Sorry, ogah saja."


"Setidaknya kamu mengasihani gue. Lihat keadaan gue." omel Gara.


"Astaga Tuan,,,, jangan jadikan kekuranganmu sebagai kelemahan kamu. Agar dikasihan orang."


"Jangan lupa, elo gue bay..... emmmhhhh....." belum sempat Gara menyelesaikan kalimatnya, tangan Jeno gerak cepat membungkam mulut Gara.


"Astaga, kamu lelaki. Lemes banget itu mulut." geram Jeno berbisik, melirik ke arah Bulan yang nampaknya acuh dengan mereka berdua.


Gara segera menyingkirkan telapak tangan Jeno. "Cuih.... sumpah. Tangan elo bau banget. Bau apaan." ujar Gara beberapa kali meludah, dan mengusap hidungnya dengan kasar.


Gara menatap Jeno dengan kesal. Jeno mengendus sendiri bau di telapak tangannya. Lalu tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapi dan bersih.


"Hee... he... Sorry, tadi aku pakai mengusap keringat." cicit Jeno. "Tapi nggak terlalu bau." Jeno mengendus sendiri telapak tangannya berulang-ulang.


"Sumpah,,,, elo,,,, jijik banget..." Gara mengusap kasar ke hidungnya sendiri.


"Salah sendiri. Makanya punya mulut di jaga." ujar Jeno.


Bulan mendengarkan perdebatan kecil keduanya, sembari mengeluarkan beberapa minuman dan makanan cepat saji, serta roti dari dalam tasnya. Ditaruhnya satu persatu di atas meja.


Dirinya hanya bisa menggeleng. Dan tak berminat masuk ke dalam obrolan mereka yang entah tentang apa itu.


Bulan merasa senang sekaligus terkejut. Gara dan Jeno, keduanya bisa dengan mudah akrab. Padahal baru semalam mereka bertemu.


Tidak mudah untuk mendekati Gara. Tapi, Jeno melakukannya dengan baik. Bulan berpikir, mungkin karena umur Jeno yang masih remaja. Sehingga membuat Jeno dengan mudah bisa mengambil hati Gara.


Entahlah. Bulan tak mau tahu. Yang terpenting mereka akur dan bisa bekerja sama dengan baik.


Gara mengambil sebotol air mineral. Diteguknya hingga tandas. Begitu juga dengan Jeno. "Terimakasih bu, untung ibu datang. Jika tidak, saya bisa mati kehausan." ujar Jeno melo drama.


"Astaga, nggak segitunya kale..." dengus Gara. Sekarang Gara yang terlihat begitu kejam, menyiksa murid dari Bulan.


Tangan Jeno terulur ingin mengambil roti, tapi terhenti saat Bulan mengatakan sesuatu. "Bersihkan badan kalian dulu. Baru makan. Ada yang ingin aku sampaikan."


Bulan mengambil perlengkapan mandi yang baru saja dia beli. Dilemparkannya ke arah keduanya. "Cepat, jangan membuang-buang waktu. Musuh bergerak cepat tanpa bisa diprediksi."


Jeno dan Gara saling pandang. Bergegas keduanya masuk ke dalam kamar mandi yang berbeda. Sebab ada dua kamar mandi di tempat Gara yang baru.


Menunggu Gara dan Jeno keluar dari kamar mandi. Bulan berkeliling ke tempat yang akan Gara jadikan rumah barunya.


"Hebat juga mereka." puji Bulan kepada Gara dan Jeno. Semua ruangan terlihat bersih.


Bulan membuka semua jendela yang tertutup dengan belahan bambu yang disusun rapi seperti tirai. Membuat ruangan menjadi lebih terang, sebab cahaya matahari masuk ke dalam dengan mudah.


Bulan menatap ke sebuah tempat. "Apa Gara dan Jeno belum membuka ruangan itu?" lirih Bulan menebak.


Bulan berjalan ke arah sebuah tembok di sisi ruangan. Menatap tembok dengan pandangan yang sulit diartikan.


Ada rasa enggan saat tangan Bulan ingin membuka pintu yang terlihat seperti tembok tersebut. Tangan Bulan yang sudah terangkat, kembali dia turunkan, mendengar pergerakan dari belakang.


Jeno mendekat ke arah Bulan. "Bagaimana, tanda ini sangat membantu bukan?" bisik Jeno, tepat di belakang Bulan, dengan tangan mengelus leher Bulan. Dimana ada tanda yang ditinggalkan Jeno di sana.


Tubuh Bulan serasa tersengat aliran listrik. Namun terasa nyaman dan hangat. Bulan menetralkan deru nafasnya. Membalikkan badan. Menjaga jarak dari Jeno.


Bisa berbahaya jika Bulan kembali tergoda oleh sentuhan Jeno. "Gue harus menjaga jarak dari anak ini. Dia lebih berbahaya dari musuh bersenjata." ucapnya dalam hati, menaikkan kerahnya. Jangan sampai Gara melihatnya.


Sebab, Bulan selalu kehilangan akal. Dan selalu terbuai hanya dengan ucapan serta sedikit sentuhan dari Jeno. Bulan merasa, dia bukan seperti dirinya, saat berhadapan dengan Jeno.


"Jangan macam-macam. Ada Gara di sini." ucap Bulan mengingatkan. Bulan hanya takut, Jeno bertindak seenaknya. Dan Bulan, tidak ingin Gara mengira jika dia perempuan dewasa yang menyukai anak remaja.


Terdengar menggelikan.


Jeno tersenyum penuh makna. Memainkan alisnya dengan nakal. "Jika tidak ada Gara, boleh macam-macam."


Tak.... "Aww..." ringis Jeno, saat Bulan menyentil dahi Bulan dengan kuat. Jeno mengelus dahinya yang terasa sakit. "Kejam sekali." cicitnya, dengan suara terdengar menggemaskan di telinga Bulan.


"Elo mandi apa bertapa." seru Bulan dengan ketus, saat Gara baru saja keluar dari kamar mandi.


Gara hanya diam. Apalagi dia melihat Jeno mengusap keningnya sendiri seraya meringis. "Apa yang elo mau tunjukkan."


"Ehh,,, bu. Tadi bu Bulan menghadap ke tembok ini. Memang ada apa di tembok ini?" tanya Jeno.


"Hampir saja lupa." lirih Bulan, teringat saat Jeno menanyakannya.


"Belum tua kok sudah pikun." ejek Jeno.


Bulan kembali berjalan ke tempatnya berdiri tadi. Meraba tembok, lalu sedikit menekannya. Tembok di samping Jeno perlahan bergerak.


Sontak, Jeno melangkahkan kaki untuk menjauh. Gara dan Jeno, memandang ke arah di mana tembok yang baru saja terbuka layaknya pintu.


Jeno memundurkan langkahnya, dengan tangan menarik kursi roda Gara. "Elo mau bawa gue kemana?" tanya Gara.

__ADS_1


"Mau menyelamatkan kamu." timpal Jeno.


Bulan mengerutkan dahinya, mendengar perkataan Jeno. Juga Gara, dia merasa lucu dengan ucapan Jeno. "Pasti di dalam ada banyak hewan buasnya." tebak Jeno.


Dia teringat di markasnya. Dimana ada serigala gang keluar dari balik pintu besi. "Cckkk,,, nggak ada. Jangan ngaco." dengus Bulan, karena Jeno sok tahu.


"Tidak semua ruang bawah tanah berisi hewan buas dan liar. Siapa tahu, di bawah sana ada banyak perempuan cantik." kelakar Gara.


"Waoww... benar juga." timpal Jeno sumringah.


Bulan menatap tajam ke arah keduanya. "Ehh,,, nggak bu. Nggak ada perempuan yang lebih cantik dari bu Bulan." cicit Jeno, merinding saat Bulan menatapnya dengan tajam.


Jeno layaknya seorang lelaki yang ketahuan sedang memuji perempuan lain di depan wanitanya. Gara tersenyum lucu melihat tingkah Jeno dan Bulan.


Bulan masuk ke dalam. Menekan sesuatu di dalamnya. Sebuah lorong langsung terang dengan banyaknya lampu.


Bulan masuk semakin ke dalam. Dengan Jeno mendorong kursi roda Gara di belakang Bulan. Langkah kaki Bulan berhenti sejenak saat di depan pintu yang terbuat dari kayu yang diukir dengan antik.


Krekk..... kedua pintu terbuka lebar. Jeno dan Gara masuk ke dalam. Kedua mata mereka memandang takjub apa yang mereka lihat. Dengan mulut terbuka karena terpana.


Di ruangan ini, dilengkapi komputer dengan perlengkapannya. Setiap dindingnya saja terdapat layar yang seperti tertanam, dengan ditata sangat apik dan rapi.


Bukan hanya itu, di sini juga banyak peralatan lainnya yang canggih. "Gila, gue bakal betah bila ada di sini." cicit Gara.


Gara sempat berpikir, Bulan akan merogoh kantong lagi untuk membelikan dirinya berbagai peralatan komunikasi yang mereka tinggalkan di kediamannya yang lama.


Yang saat ini sudah hancur karena mereka sengaja ledakkan. "Bagaimana dengan mereka yang meledak bersama gedung itu?"


Bulan sedikit mendudukkan pantatnya di pinggi meja. "Kelihatannya rekannya mencari mereka. Dan ya,,, sudah ketemu." jelas Bulan dengan santai.


"Apa itu artinya kita ketahuan?" tanya Jeno khawatir.


"Bukan kita. Tapi Gara."


Jeno baru teringat, jika dirinya dan Bulan memakai penutup kepala serta wajah. Sehingga mustahil mereka bisa melihat wajah mereka. Tidak dengan Gara.


Gara tersenyum senang. "Pasti sekarang mereka sedang ketar ketir. Apalagi ternyata gue masih hidup. Dan pasti, sekarang mereka sedang mengerahkan kekuatan untuk mencari gue. Mengira jika gue yang meledakkan ketiga tempat tersebut."


Bulan mencebik dan tersenyum. "Berhasil."


Jeno hanya diam. Sungguh, dirinya tidak mengerti dnegan jalan pikiran Bulan dan Gara. "Kenapa kalian malah senang. Bukankah itu sangat berbahaya untuk Gara."


"Kenapa berbahaya untuk gue. Gue akan tetap berada di sini. Jadi, gue tetap aman. Dan itu artinya mereka akan mencari gue. Bukan Bulan." jelas Gara.


Jeno mulai mengerti sedikit demi sedikit. Tenyata semua ini hanyalah pengalihan target. Supaya Bulan bisa bergerak dengan leluasa.


Bulan beralih ke tempat duduk. "Ini bukan markas milik kami. Tapi, markas yang kami ambil paksa dari musuh." jelas Bulan.


Jeno dan Gara terdiam. "Itulah kenapa, aku sedikit ragu memberikannya." lanjut Bulan.


"Tapi tenang saja. Kami mengubah metode pengamanannya. Dan ya, yang paking aman di kamar yang aku tunjukkan semalam." tukas Bulan.


Bulan menekan tombol di bawah meja yang ada di depannya. Semua layar menyala. Beberapa layar menampilkan setiap sudut di tempat ini. Hingga semut pun pasti akan terlihat.


Bulan mengambil sebuah benda berbentuk bundar, seperti kaset CD. Memasukkan ke sebuah alat di depannya yang terhubung dengan layar di depannya juga.


"Apa itu rekaman yang elo dapat, hingga diserang serigala?" tanya Gara.


Bulan hanya mengangguk. Meneruskan apa yang hendak dia lakukan. Bulan memundurkan kursinya. Dia ingin melihat dengan santai.


Apa sebenarnya yang ada dalam rekaman tersebut. Hingga mereka tega membunuh nyawa beberapa orang yang tidak bersalah.


Bulan, Jeno, dan Gara, ketiganya terdiam, melihat apa yang ada di layar tersebut. "Biadab." geram Bulan. Sedangkan Jeno dan Gara mengeratkan rahang mereka.


Ternyata di dalam terekam pembantaian besar-besaran yang melibatkan beberapa nama tertinggi di kursi keamanan negara. Dengan para korban juga adalah aparat keamanan negara dari berbagai kalangan dan posisi.


"Peristiwa itu." cicit Bulan, menjeda video yang mereka lihat. Memajukan kursinya. Dengan jari jemari bergerak lincah di atas keyboard. Mencari sesuatu yang terbesit di dalam benaknya.


"Benar. Lalu bagaimana bisa mereka membaur skenario dengan begitu apik." gumam Bulan.


"Bukankah mereka semua meninggal karena kecelakaan." Gara juga pernah mendengar kejadian yang menggemparkan sekitar empat tahun yang lalu.


"Benar. Tahun itu, aku masih mulai masuk di kepolisian. Masih polos dan belum mengenal dunia ini dengan baik." papar Bulan.


Di tahun itu, beberapa kendaraan yang ditumpangi oleh sejumlah aparat negara mengalami kecelakaan. Hanya tiga orang yang selamat, dan menjadi saksi atas kecelakaan tersebut.


Ketiganya mengatakan jika kecelakaan terjadi karena rem blong. "Dan saat itu, di tubuh mereka sama sekali tidak ada luka tembak."


Bulan masih mengingat dengan benar. Sebab dirinya juga ikut serta mengevakuasi para korban. "Tunggu, sebenarnya ada apa ini?" tanya Jeno, kebingungan.


"Sekitar empat tahun yang lalu, terjadi kecelakaan yang menewaskan sejumlah anggota militer. Dan wajah mereka, sama persis dengan wajah yang ada di video. Aku masih mengingatnya. Karena aku ikut mengevakuasi mereka dari dalam mobil." jelas Bulan.


"Tunggu. Mereka mati di tembak. Tak berselang lama, mereka mati dalam kecelakaan. Benar?"


Bulan mengangguk. Membenarkan ucapan Jeno. "Tiga orang yang selamat. Sekarang di mana?" tanya Jeno.


Bulan kembali menggerakkan jarinya di atas keyboard. "Inilah kursi yang sedang mereka duduki sekarang." Bulan menatap layar di depannya dengan lekat.


"Konspirasi yang hebat. Lalu, mereka yang berdiri dengan tersenyum melihat pembantaian tersebut. Apa kabarnya?"


"Ada yang meninggal. Ada yang masih hidup." sahut Bulan.


Bulan kembali menekan sebuah tombol. Video kembali berputar. Lagi-lagi video pembantaian yang mereka saksikan.

__ADS_1


Dan ditanggal itu, Bulan juga masih mengingat betul, lagi-lagi terjadi kecelakaan yang menewaskan banyak aparat.


"Apa yang mereka tutupi. Hingga makan dari darah sesama." geram Jeno.


Awalnya, Jeno tidak pernah percaya dengan hal seperti ini. Jeno hanya berpikir, semua hanya ada di dalam cerita di film yang selalu dia tonton.


"Uang dan jabatan. Kemungkinan besar, mereka yang dilenyapkan tidak menerima uang yang mereka berikan." tebak Bulan.


"Benar. Dan mereka tidak membutuhkan orang-orang yang jujur." timpal Gara.


"Bagaimana cara kita bisa membuka skandal sebesar ini?" cicit Jeno, ada rasa takut di hatinya.


Jujur saja, semua pihak yang terlibat bukan orang biasa. Mereka adalah para petinggi dan juga orang berkuasa. Bahkan, jika sang papa membantunya. Tetap saja Bulan dan yang lainnya akan kalah.


Bulan mengeluarkan sebuah flash disk dari saku celananya. "Apa itu?" tanya Gara.


Bulan tidak menjawab. Dia hanya memasukkan flash disk tersebut ke tepi keyboard. Ketiganya terdiam. Video tersebut ternyata sebuah pernyataan dari atasan Bulan.


Dan bukan hanya itu. Di dalamnya, juga ada nama-nama yang terlibat. Dan juga beberapa bukti yang dia sembunyikan di suatu tempat.


"Bulan..." panggil Gara terkejut.


Bulan tersenyum miring. "Pantas saja, mereka ingin melenyapkan Narendra. Ternyata, dia mempunyai bukti kejahatan mereka."


"Narendra. Bukanlah dia putra dari almarhum jendral?" tanya Gara menyakinkan dirinya sendiri.


"Iya, dia juga menempuh ke dunia yang sama dengan sang papa. Saat di jalan, dia dihadang. Mungkin akan dilenyapkan."


"Dan elo membantunya. Menampakkan wajah elo?!" tukas Gara.


"Benar. Tenang saja, mereka pasti mengira aku tidak sengaja lewat."


"Semoga saja" gumam Gara khawatir terhadap keselamatan sahabatnya tersebut.


"Apa beliau sendiri yang memberikan rekamannya?" tanya Gara.


Bulan mengangguk. "Sepertinya, istri dan anaknya sedang dalam bahaya. Makanya dia memutuskan jalan yang menurutnya terbaik." papar Bulan.


"Jangan katakan jika mereka...." Gara menggantung kalimatnya.


Bulan kembali mengangguk. "Mereka di sandera. Dan kemungkinan besar. Dia akan mati di tanganku." tekan Bulan.


"Bu...." panggil Jeno, terlihat khawatir. Jeno merasa akan ada kejadian besar dalam waktu dekat.


Bulan menatap ke arah Jeno. "Fokuslah ke pembunuh itu. Jangan terlalu masuk ke masalah ini. Kamu bisa membantu, jika pelaku sudah masuk dan diadili."


Bulan hanya tidak ingin, pikiran Jeno terpecah-pecah. Dia yakin, Jeno belum mampu untuk memilah-milah apa yang seharusnya dia prioritaskan.


Mengingat Jeno masih terlalu muda. Darahnya masih bergejolak dan sulit dikendalikan.


"Benar kata Bulan. Kita akan berbagi tugas. Gue akan membantu Bulan untuk maslaah ini. Dan elo, akan menangani psikopat itu."


Jeno menghela nafas. Yang dikatakan Bulan dan Gara memang benar. Dia akan stres jika berpikir dua masalah besar sekaligus. "Benar, gue bukan bu Bulan." ucap Jeno dalam hati.


Jujur, Jeno semakin takjub dan semakin mencintai Bulan. Bulan, bagi Jeno, dia satu-satunya perempuan yang hebat di matanya. Sangat hebat.


"Bagaimana keadaan kelurga elo?" tanya Gara.


"Sepertinya aku akan pulang. Kebetulan besok aku tidak ada jadwal mengajar." tutur Bulan.


"Saya akan ikut." pinta Jeno menawarkan diri.


Bulan menatap Jeno dengan kesal. "Jangan banyak tingkah. Kamu harus sekolah. Lagipula, dia akan beraksi. Apa kamu malah akan pergi." tegas Bulan.


"Bu Bulan sendiri kenapa pergi. Bukannya mendampingi kami."


"Jeno, aku pergi karena ingin memastikan keadaan keluargaku. Bukan pergi untuk berjalan-jalan." tegas Bulan.


"Sama saja." cicit Jeno merajuk.


Gara tersenyum samar. Bulan mengambil dua benda yang menjadi barang bukti tersebut. Memasukkannya ke dalam saku jaket. "Video ini sudah aku copy. Selidiki beberapa orang yang ada di dalamnya."


"Beres." ucap Gara.


"Sekalian, elo cari tahu. Bagaimana mereka yang sudah mati tertembak. Bisa berada di dalam kendaraan. Dan meninggal karena kecelakaan. Tanpa ada luka tembak di tubuhnya."


Bukan hanya Bulan yang bingung. Jeno dan Gara juga. Padahal, luka tembak tidak dapat di sembunyikan. Dan Bulan melihat sendiri, tidak ada luka tembak di bagian tubuh mereka.


Apalagi, saat kejadian, semua korban di bawa ke rumah sakit. Dan di tangani langsung petugas medis, bukan hanya satu atau dua petugas media. Tapi banyak.


Jika ada yang tidak beres saat itu, pasti terjadi kegemparan. Tapi, mereka semua diam. Dan menyatakan mereka meninggal karena kecelakaan.


"Elo tenang saja. Gue akan menyelidikinya. Tapi elo juga harus ingat. Jaga kesehatan elo." ucap Gara mengingatkan.


Sore hari, Bulan langsung ke markas satunya bersama Jeno. Meninggalkan Gara sendirian di tempat tinggalnya yang baru.


"Kalian berdua, kenapa bisa bersama?" tanya Mikel, melihat Bulan dan Jeno datang bersama.


"Dimana Jevo?" bukannya menjawab pertanyaan Mikel, Jeno malah menanyakan keberadaan saudara kembarnya.


Mikel dan Arya tertawa lepas. "Lihat ini." tanpa sepengetahuan Jevo, ternyata mereka berdua merekam saat Jevo sedang dihukum oleh guru bersama Claudia dan Moza.


Jeno memandang ke arah Arya dan Mikel bergantian. "Biasa. Dua perempuan dan satu lelaki tampan." Arya memainkan alisnya naik turun.

__ADS_1


"Sore nanti, wanita yang dipanggil mama oleh Z akan pulang dari luar negeri." ujar Bulan, membuat ketiga muridnya langsung berganti fokus.


Z. Mereka akan menyebutnya seperti itu. Lantaran belum mengetahui namanya.


__ADS_2