
"Bagaimana keadaan Rani dok?" tanya Moza.
Sang dokter memandang ke arah papa Rani. Beliau mengangguk, mengizinkan sang dokter untuk mengatakannya. "Kemungkinan besar, Rani akan cacat. Kedua kakinya mengalami masalah yang besar. Dan juga, dia akan sedikit mengalami kendala saat berbicara. Tenggorokannya dan jiga pita suaranya juga terkena imbas dari kecelakaan tersebut."
Moza memeluk erat tubuh sang mama dengan menangis sesegukan. Saat ini, dirinya memang membenci Rani. Tapi Moza tidak menyangka, kondisi Rani akan separah itu.
"Andai saja Moza pulang bersama Rani, mungkin tidak akan terjadi kecelakaan ini." tutur Moza.
Papa Rani mengelus rambut Moza. "Jangan menyalahkan diri. Semua sudah takdir. Apalagi, pihak berwajib mengatakan jika Rani memacu mobilnya dengan sangat kencang. Tanpa menggunakan sabuk pengaman."
Moza memandang sedih ke arah papa Rani. Dan tatapan itu bukan sebuah peran. Dirinya benar-benar merasa kasihan terhadap kedua orang tua Rani.
"Beruntung kamu tidak berada di dalam bersama Rani. Jika itu terjadi, pasti om dan tante akan semakin merasa bersalah." lanjut papa Rani.
Moza menggeleng dengan air mata mengalir di kedua pipinya. Moza memeluk papa Rani dengan erat. "Sudah, jangan menangis. Rani tidak akan suka, melihat air mata kamu." tutur papa Rani.
"Salah om. Justru Rani sangat menyukai air mata Moza." ucap Moza dalam hati.
"Bisa om minta tolong." pinta papa Rani, mengurai pelukannya dengan Moza.
"Katakan saja om, Moza akan membantu sebisa Moza." sahut Moza serius.
"Tolong kamu ambilkan sebuah kotak kecil di kamar Rani."
Papa Rani memperlihatkan sebuah foto pada Moza. "Seperti ini bentuknya." ucapnya memberitahu.
Moza melihat sebuah kotak berukuran kecil dengan warna coklat. "Itu dari kayu ya om?" tanya Moza memastikan.
"Benar. Ada di dalam laci kamar Rani. Kamu bisa meminta tolong pada pembantu di rumah."
"Baik om."
"Nanti om telepon orang yang ada di rumah."
Moza dan sang mama berpamitan pada papa Rani untuk pulang. Sebab mama Rani masih belum kembali.
Mobil yang keduanya naiki berhenti di depan rumah Rani. "Perlu mama temani?"
Moza menggeleng. "Ada pembantu juga." tolak Moza. Sebenarnya Moza punya keperluan lain selain mengambil kotak tersebut.
Entah apa isi dari kotak tersebut. Moza tak begitu peduli. Dirinya ingin melihat bagaimana kamar dari Rani. Sebab, Rani selalu mengundur jika Moza ingin masuk ke kamarnya.
Seperti beberapa hari yang lalu, saat Moza ingin masuk ke kamar Rani, Rani menghalanginya. Dia masuk terlebih dahulu. Dia beralasan jika kamarnya sangat berantakan.
Rani masuk terlebih dahulu. Mengunci pintunya dari dalam, beberapa saat kemudian dibuka pintunya. Dipersilahkan Moza untuk masuk.
"Apa yang kamu sembunyikan dari gue Ran." gumam Moza, melangkahkan kaki ke dalam rumah Rani.
Seorang pembantu menyambut kedatangan Moza dengan senyum. Moza juga membalasnya dengan senyum. "Moza sendiri saja mbok. Tidak apa-apa. Mbok juga pasti sedang sibuk." tolak Moza saat sang pembantu ingin mengantarkannya.
"Baiklah. Terimakasih Non." papar sang pembantu. Sebab, memang dia juga sedang sibuk.
Moza menaiki anak tangga dengan perlahan. Tak terlihat terburu-buru sama sekali. Apalagi Rani tidak ada di rumah.
Moza masuk ke kamar Rani dengan perasaan gugup. Ada perasaan takut di hatinya yang tak bisa dia jabarkan. Kemungkinan, Moza takut jika dia menemukan sesuatu yang bisa membuat hatinya bertambah sakit.
"Rapi." cicit Moza, mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar Rani. Sekilas, Moza tidak menemukan keanehan di dalam kamar Rani. "Tapi, kenapa Rani selalu menghambat gue untuk masuk." gumam Moza.
Moza masuk ke dalam kamar mandi. Memeriksa ke dalam. Dan hasilnya nihil. Setiap laci Moza buka. Dia juga memeriksanya. Tapi juga bersih.
"Tidak ada apa-apa." cicit Moza, yang bahkan sudah memeriksa lemari Rani.
Sebelumnya, Moza tidak pernah melakukan hal seperti ini pada kamar Rani atau kamar orang lain. Tapi, Moza merasa penasaran. Kenapa Rani begitu membencinya.
Moza segera membuka laci di dekat ranjang Rani dan mengambilnya. "Apa ya,, isinya." cicit Moza.
Yang awalnya sama sekali tidak penasaran. Kini menjadi penasaran. "Gue buka boleh kali ya." ucapnya pada diri sendiri.
Moza akhirnya membukanya. Ada banyak mainan di dalamnya. "Untuk apa papa Rani menyuruh membawa ini ke rumah sakit."
Moza hendak menutup kotak itu kembali, tapi sebuah benda kecil berbentuk bulat dengan motif titik-titik menggelinding keluar.
"Moza, berhati-hatilah." ucap Moza, menegur dirinya sendiri.
__ADS_1
Ditaruhnya kotak tersebut di atas ranjang tempat tidur Rani. Lalu Moza mengambil benda tersebut yang menggelinding di balik pintu yang dia buka dengan lebar.
Karena memang Moza tidak menutup pintunya. Meski dia memeriksa kamar Rani. Seolah dirinya tidak takut jika ada yang melihat.
"Kamu. Benda kecil menggemaskan." gumam Moza, setelah mendapatkan benda tersebut.
"Ehhh..." Moza merasa ada yang aneh di balik pintu. Membuat dirinya menutup pintu dari dalam.
Moza memundurkan langkah kakinya, melihat apa yang tertempel di daun pintu tersebut. Moza menggeleng tak percaya.
Ada banyak fotonya di sana. Dengan semua bercoretkan tinta merah membentuk silang. Bukan hanya itu saja. Di setiap foto, ada sebuah tulisan berupa umpatan juga kata yang tidak pantas untuk dibaca.
"Rani. Apa sebenarnya yang terjadi?" cicit Moza.
Moza maju mendekat. Ada tulisan kecil di beberapa foto Moza. Dan untuk bisa membaca lebih jelas, Moza harus maju dam mendekat.
PERGI ELO KE NERAKA.
PEREMPUAN SOK CANTIK. PEREBUT LELAKI ORANG.
GUE BENCI...!! KARENA ELO SELALU DI PUJI ORTU GUE.
GUE AKAN MEMBUAT HIDUP ELO SEPERTI DI NERAKA, SEBELUM ELO BENAR-BENAR MASUK KE NERAKA.
Kedua mata Moza membulat. "Tulisan ini." Moza teringat, tulisan ini sama dengan tulisan yang selama ini selalu menterornya di sekolahnya yang lama.
Moza memandang ke arah lemari. Segera Moza membukanya. Dan menarik laci di dalamnya. Moza kembali menggelengkan kepalanya tak percaya dengan semua yang dia lihat.
Ada banyak jenis boneka kecil di laci tersebut. Dan Moza masih mengingatnya. Orang yang memberinya teror selalu memberinya sebuah tulisan dan boneka kecil yang telah dirusak dengan sengaja.
Moza tersenyum. Mengambil dua boneka yang paling kecil di dalam laci tersebut. Dimasukkannya ke dalam kotak yang akan dia berikan pada papa Rani.
"Kejutan. Dan elo pasti akan suka." gumam Moza tersenyum sinis.
Di markas, Bulan bangun lebih dulu, dan membersihkan badannya. Kemudian dia membangunkan ketiga lelaki di kamar masing-masing.
"Jeno mana?" cicit Mikel, mengucek kedua matanya.
"Malas bu, nanti saja." tukas Mikel, menunggu giliran masuk ke dalam kamar mandi.
"Wooyy,,, cepat wooeeeyyy...!!" Jevo menggedor pintu kamar mandi. Menyuruh Arya untuk segera keluar.
"Bu, kenapa sih kamar mandinya cuma satu." keluh Mikel dengan menaruh kepalanya di atas lengan yang dia lipat di atas meja.
Bulan hanya memutar kedua matanya dengan malas. Dia harus ekstra bersabar untuk menghadapi mereka. "Elo bikin kamar mandi sendiri." ketus Bulan.
"Lah, mana bisa. Kan harus mendatangkan ahlinya. Kata ibu nggak boleh ada yang tahu tempat ini, selain kita." timpal Mikel dengan polos, semakin membuat Bulan meradang.
"Mikel, lihat Jeno di atas. Se-ka-rang...!!" tekan Bulan tak ingin dibantah.
Dengan malas, Mikel bangun dari duduknya yang nyaman. Mulutnya mengoceh sembari menaiki anak tangga dengan langkah ogah-ogahan.
Arya membuka pintu kamar mandi. "Elo bisa sabar nggak sih..!!" bentak Arya, merasa berisik dengan gedoran dari Jevo.
Jevo menarik tubuh Arya. "Nggak bisa."
Brakk.... Jevo menutup pintu dengan kasar. "Jevo sialan..!!!" seru Arya, dengan wajah cemberut.
"Bu, bikin kamar mandi lagi yuk."ajak Arya dengan santai, seolah apa yang diminta tinggal beli di toko.
"Elo mau menginap di sini selamanya?!" tanya Bulan sebal. Tadi Mikel, sekarang Arya.
Arya menggeleng. "Tapikan ribet jika seperti ini. Mana aku belum puas mandi." gerutunya.
Bulan mengelus dadanya. "Sabar Bulan,,, sabar..." ucap Bulan dalam hati.
"Jika begini jadinya, mending gue dulu bekerja sendiri saja." keluhnya dalam hati, merasa melibatkan keempat muridnya harus membuat dirinya menambah stok kesabarannya.
Di lantai atas, Mikel melongo melihat Jeno tertidur di lantai. "Gila, apa semalam dia berada di sini." gumam Mikel, melihat beberapa alat untuk bela diri berada di atas lantai.
Mikel menggoyang tubuh Jeno. "Jennn,,, bangun. Jeno, bangun. Sudah pagi." Mikel meringis, merasa kulit Jeno sangatlah lengket karena keringat.
"Ckk... Jeno..!! bangun...!!! Woy...!! pagi....!!!" seru Mikel berteriak di dekat wajah Jeno.
__ADS_1
Sontak, Jeno langsung terbangun dengan tangan mengepal dan tertuju pada Mikel. Beruntung Mikel segera mundur. Sehingga pukulan Jeno hanya mengenai sedikit pipinya.
"Elo gila...!!!" seru Mikel dengan kesal.
"Elo yang gila, ngapain teriak dekat telinga. Budek bego...!!" seru Jeno tak mau kalah.
Di lantai atas, Jeno dan Mikel sedang berdebat. Sementara Arya menengadahkan kepalanya ke lantai atas. "Ada apa sih?"
"Ada anak ayam cari induknya." celetuk Bulan, berdiri dan berjalan ke dapur.
Arya hanya mencebik mendengar ucapan Bulan yang asal. Bulan merasa sekarang markas seperti penampungan balita. Berisik dan ramai. Tak seperti dulu. Tenang dan damai.
Bulan menghembuskan nafas kasar. Mengambil mie dari dalam rak. Dan memasaknya untuk mereka berlima sarapan. "Tuhan, gue serasa seperti seorang ibu yang membesarkan anak tanpa ayah."
"Memang bu Bulan sudah siap mempunyai anak?" tanya Jeno tiba-tiba berada di belakangnya.
Sontak Bulan membalikkan badannya, sementara tangan kirinya memegang sendok. "Sejak kapan dia di sini?" batin Bulan, tak merasakan langkah Jeno.
Bulan menghembuskan nafas kasar. Kembali memasak mie. Tanpa mempedulikan kehadiran Jeno. "Gara-gara mereka, gue jadi sama sekali nggak konsentrasi." ucapnya dalam hati.
"Lebih baik elo mandi." ujar Bulan.
"Masih dipakai Mikel." sahut Jeno, dengan mata menatap tubuh Bulan dari belakang. "Seksi." ucap Jeno dalam hati.
"Ambilkan lima mangkuk." pinta Bulan. Dengan segera, Jeno melakukan apa yang diinginkan oleh Bulan. Menaruhnya di atas meja.
Bulan mengangkat mie yang sudah matang. Membaginya menjadi lima bagian.
"Kenapa bu Bulan meledakkan tempat itu?" tanya Jeno lirih, Bulan sejenak menghentikan gerakannya. Lalu kembali menuangkan mie yang masih tersisa ke dalam mangkuk.
"Saya tahu, pelakunya pasti bu Bulan." tebak Jeno lagi.
"Elo ada bukti?" tanya Bulan dengan santai.
Jeno berjalan mendekat ke arah Bulan. Berdiri tepat di belakang Bulan. Jika dilihat dari depan, tampak Jeno dan Bulan sedang berpelukan. "Saya tahu, apa perlu saya buktikan?" bisik Jeno.
Bulan memejamkan kedua matanya sesaat. Hembusan nafas yang menerpa telinga dan lehernya, membuat Bulan merasakan gelenyar aneh di dalam aliran darahnya.
Bulan membalikkan badan. Mendorong tubuh Jeno agat menjauh. "Menurut elo, kenapa gue ngledakin tempat itu?" Bulan memainkan matanya dengan tersenyum miring.
"Apa ketiga tempat itu saling berkaitan?" tanya Jeno.
Bulan mengangguk. "Panggil yang lain. Mienya akan segera dingin."
Bulan duduk di kursi, menyantap mie tanpa menunggu yang lain. Arya datang dan langsung duduk. "Enaknya." Arya langsung mengambil semangkok mie dan menyantapnya.
"Elo mandi sana, Mikel sudah selesai." ucap Arya dengan mulut penuh dengan mie.
Bukannya segera mandi, Jeno malah duduk di samping Bulan dan makan dengan lahap. "Jeno,,,,!!! elo menjijikkan. Mandi sana." tukas Arya.
Jeno abai dengan perkataan Arya. "Kalian makan tidak ajak-ajak." Mikel duduk di dekat Arya dam langsung menyantap semangkuk mie.
"Elo nggak mandi?" tanya Jevo.
"Nanti." jawab Jeno singkat. Jevo menatap ke arah Jeno dan Bulan bergantian.
Ini bukan seperti Jeno. Sebab, Jeno pasti akan mandi terlebih dahulu sebelum makan. Dia selalu menjaga kebersihan.
Tapi lihatlah, demi duduk di dekat Bulan. Bahkan Jeno rela tidak mandi dam langsung makan.
Selesai sarapan seadanya, Mikel mencuci semua mangkok. Sedangkan Jeno segera membersihkan diri.
Di tempat lain, Claudia kesal karena Jevo mengabaikan panggilan telepon darinya. "Sial,,, kemana perginya Jevo?!" serunya.
Mendatangi rumah Jevo. Sama saja mencari masalah. Claudia tahu kedua orang tua Jevo sama sekali tidak menyukainya.
"Ini semua gara-gara Revan." sungut Claudia. Dia mengira jika Jevo benar-benar marah karena dia membatalkan janjinya saat itu.
"Nggak bisa. Gue harus tetap bersama Jevo." tutur Claudia. Bisa-bisa kedua orang tuanya marah besar, jika dirinya melepaskan Jevo begitu saja.
Menjadi salah satu bagian dari keluarga Tuan David, adalah keinginan dari setiap kelurga di kota ini. Kekayaan, kedudukan, kehormatan, kekuasaan. Semua ada di dalam keluarga tersebut.
Claudia yakin, dirinya akan menjadi Nyonya Muda di keluarga Tuan David. "Jangan sampai Jevo memutuskan hubungan kita. Tidak akan gue biarkan." gumam Claudia, merasa ketar-ketir.
__ADS_1