PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 56


__ADS_3

Wajah Bulan semakin pucat, dia duduk di atas kursi yang berdebu dan langsung mengeluarkan air minum dari dalam dalam tas kecil. Diteguknya hingga habis. "Jeno, bawa Bulan pergi dari sini." pinta Gara.


"Gue di sini saja. Nanti elo sendirian." tolak Bulan.


"Jangan bandel. Lihat, disini terlalu kotor. Luka elo bisa terkena debu."


"Benar kata teman ibu." ujar Jeno yang juga khawatir dengan kesehatan Bulan.


"Elo tenang saja. Gue akan bersihkan satu ruangan saja buat gue istirahat."


Gara tahu, kenapa Bulan tak mau meninggalkannya sendiri. Apalagi jika bukan karena tempat ini yang belum dibersihkan. Dengan kekurangannya, Gara pasti akan kesulitan membersihkannya seorang diri.


Bulan terdiam, tubuhnya benar-benar terasa lemas. "Elo besok bisa ke sini lagi. Sekalian bawakan gue makanan." bujuk Gara, berharap Bulan mau menuruti perkataannya.


Gara memandang ke arah Jeno. Memberikan sebuah isyarat. "Ayo bu." ajak Jeno yang juga khawatir dengan kesehatan Bulan.


Gara memberikan obat pada Jeno. "Jika Bulan mengalami panas tinggi, elo bisa minumkan ini."


Jeno mengangguk. Menyimpan obat tersebut ke dalam saku jaketnya. "Sini, biar saya gendong." Jeno berjongkok di depan Bulan.


"Tidak perlu, saya bisa sendiri." tolak Bulan. Tapi, Bulan hampir terjatuh saat berdiri.


"Jangan bandel. Nurut saja. Jeno, gendong Bulan." pinta Gara.


Bulan digendong oleh Jeno di belakang. "Elo hati-hati. Jangan asal keluar. Di sini banyak hewan liar saat malam hari." ucap Bulan mengingatkan.


"Iya, elo nggak usah khawatir. Gue akan tetap berada di dalam kamar." ucap Gara, tak ingin membuat Bulan khawatir.


"Tidur di kamar paling pojok saja. Kamar itu mempunyai pengamanan berlapis lebih banyak dari pada kamar yang lain." cicit Bulan, masih mengkhawatirkan Gara, padahal keadaannya sedang memburuk.


"Jeno, cepat bawa Bulan pergi dari sini." usir Gara. Debu yang tebal memang sangat tidak baik untuk Bulan saat ini. Sebah, luka Bulan bisa kemasukan debu. Dan malah akan memperparah keadaan Bulan.


"Hubungi gue kalau sudah sampai." ujar Gara, diambang pintu. Jeno mengangguk.


Segera Gara menutup pintu, mengaktifkan tombol pengaman di sekitar bangunan tersebut. "Tempat ini lebih canggih dari pada tempat tinggal gue yang sebelumnya. Meski agak sempit. Dan hanya ada satu lantai" cicit Gara.


Yang memang belum mengetahui jika ada ruang bawah tanah di tempat tersebut.


Hanya saja, beberapa lampu tidak bisa menyala. Dan Gara juga belum bisa mengeceknya. Lantaran dirinya juga harus mengistirahatkan tubuhnya.


Seperti yang Gara sampaikan. Dia segera masuk ke dalam kamar yang ditunjukkan oleh Bulan. Segera Gara membersihkan kamar tersebut, supaya bisa istirahat secepat mungkin. "Tiga tempat berbeda di pinggiran kota." gumam Gara.


Sejujurnya, Gara juga penasaran. Bagaimana Bulan bisa menemukan tempat seperti ini. Gedung tua yang dia tempati. Yang juga mempunyai keamanan berlapis.


Markas yang dipakai oleh para murid Bulan. Yang pastinya juga tersembunyi dan punya keamanan yang hebat.


Dan ini, tempat yang baru saja Gara jadikan rumah untuk ke depannya. "Apa dulu Bulan dan rekan-rekannya sengaja membangun tempat seperti ini." tebak Gara.


Bulan tidak pernah memberikan jawaban pasti, saat Gara bertanya bagaimana dirinya menemukan atau mendapatkan tempat seperti ini. Itulah yang membuat Gara semakin penasaran.


Di tengah gelap malam, Jeno tidak berjalan. Dirinya berlari sembari menggendong Bulan. Dengan memakai instingnya. Bukannya dia takut. Tapi dia khawatir dengan keadaan Bulan. "Hati-hati. Jangan terburu-buru." lirih Bulan.


Apalagi Jeno merasakan suhu tubuh Bulan meningkat. Bahkan, Jeno merasakan punggungnya juga seperti tersengat panas. Juga udara yang keluar dari hembusan hidung Bulan.


"Gue nggak mungkin membawa bu Bulan pulang ke rumahnya." cicit Jeno, mulai melajukan mobilnya.


Jeno takut, dirinya akan melakukan kesalahan jika mengantar Bulan pulang ke rumahnya. Apalagi, sedikit demi sedikit Jeno mulai mengerti dunia yang Bulan jalani.

__ADS_1


Ditambah, keadaan kaca mobil belakang yang pecah. Membuat Jeno semakin bingung, apa yang harus dilakukannya terlebih dulu.


"Tenang Jeno,,, tenang. Ingat, jangan gegabah. Berpikirlah yang jernih." ucap Jeno pada dirinya sendiri, sembari menyetir.


Jeno memandang ke arah Bulan yang memejamkan kedua matanya dengan kepala tersandar di sandaran kursi. Tak lupa, Jeno memakaikan sabuk pengaman pada Bulan. "Gue harus segera membawa bu Bulan ke apartemen." tukas Jeno.


Memilih untuk membawa Bulan ke apartemennya. Dari pada membawanya pulang ke rumah Bulan. Atau ke rumah kedua orang tuanya.


"Jalan ini, searah dengan tempat bengkel langganan gue."


Sembari menyetir, Jeno mengeluarkan ponsel. Menghubungi pemilik bengkel, yang memang rumahnya menjadi satu dengan bengkel tersebut.


Membuat Jeno tak sungkan jika dirinya membangunkannya malam hari. Lagipula, pemiliknya jiga masih muda. Jeno menebak jika dia belum tidur.


Seperti dugaan Jeno, pemilik bengkel belum tertidur. Meski bengkel sudah ditutup, namun dia sedang berada di dalam bengkel. Mengerjakan sebuah mobil milik pelanggan yang menginginkan modifikasi.


"Kenapa cewek elo?" tanya pemilik bengkel.


"Sedang sakit." sahut Jeno, memindahkan Bulan ke mobilnya yang memang berada di bengkel. Beruntung mobilnya sudah selesai di perbaiki, sehingga dapat Jeno ambil.


"Ini, mobil elo kenapa?" tanya pemilik bengkel heran, pasalnya mobil ini baru saja dia servis. Dan baru beberapa hari kembali masuk ke dalam garasinya.


"Dilempar batu sama anak tawuran." seru Jeno, masuk ke dalam mobil dan pergi begitu saja meninggalkan bengkel.


"Ckkk,,, dasar. Penampilannya mirip Jevo jika seperti itu." decaknya, menutup kembali bengkelnya. Sebab, saat Jeno datang ke bengkelnya, dia selalu berpenampilan culun. Tidak seperti sekarang.


Dilihatnya kaca mobil bagian belakang yang pecah, bahkan hancur. "Dilempar batu." cicitnya, merasa aneh dengan cara bagaimana kaca tersebut pecah.


Tak ingin ambil pusing, dia segera meninggalkan mobil Jeno. Dan kembali mengotak-atik mobil yang sebelumnya.


Di jalanan, Jeno melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Apalagi jalan cukup sepi, karena waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam.


Jeno tak peduli, yang dia inginkan cepat sampai di kamar. Dan segera membaringkan badan Bulan dia atas ranjang.


Jeno sedikit kesulitan saat hendak masuk ke dalam apartemennya. Sebab dia sembari menggendong Bulan. Tapi Jeno tetap bisa membuka pintu tersebut.


Dibaringkan Bulan di atas ranjang empuk, lalu segera dia mengambil segelas air minum. "Bu, minum dulu." Jeno membantu Bulan meminum obat yang tadi diberikan oleh Gara.


Jeno menutupi tubuh Bulan dengan selimut hingga lehernya. Setelahnya, Jeno menghubungi Gara. Memberitahunya jika mereka sudah sampai di tempat.


Jeno jiga mengatakan pada Gara, kemana dirinya membawa Bulan, serta alasannya. Selesai menghubungi Gara, Jeno membersihkan badannya yang penuh dengan keringat.


Dengan tangan mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil, Jeno menatap ke arah Bulan yang masih tertidur di atas ranjang miliknya.


Jeno melihat ada yang aneh dengan Bulan. "Biasanya akan berkeringat, jika sudah meminum obat. Kenapa ini tidak." gumam Jeno.


Jeno melemparkan asal handuknya, dan segera menghampiri Bulan. "Panas sekali." cicit Jeno, saat memegang dahi Bulan.


Jeno kembali menghubungi Gara. Menanyakan cara untuk menurunkan panas pada tubuh Bulan. "Apa.....!!! Tidak....!! Aku tidak bisa....!!" seru Jeno menolak ide dari Gara.


Jeno terdiam, mendengarkan perkataan Gara di seberang telepon. "Tapi,,, tapi..." Jeno ragu, dia menatap Bulan yang tertidur di atas ranjang dengan ekspresi gelisah.


"Tapi, bagaimana bila bu Bulan marah pada saya?" tanya Jeno takut.


"Baiklah... saya akan melakukannya." ujar Jeno dengan ragu, setelah Gara menjelaskan. Jika itu adalah salah satu cara ampuh untuk mengurangi panas pada tubuh Bulan.


Jeno menutup panggilan teleponnya. Berjalan perlahan ke arah Bulan. "Astaga, apa gue tega." cicit Jeno, tapi Bulan tak tega melihat wajah pucat dari Bulan.

__ADS_1


"Terserah. Yang terpenting niat saya menolong bu Bulan." ucap Jeno bertekad. Jeno tidak peduli, jika nanti Bulan akan marah pada dirinya.


Jeno membuka selimut yang menutupi tubuh Bulan. Membuka pakaian Bulan satu persatu dengan dada berdebar tak karuan.


Bagaimana tidak, dirinya melepas pakaian seorang perempuan. Dan untuk kedua kalinya, Jeno akan melihat tubuh telanjang dari Bulan.


Beberapa kali Jeno menghela nafas panjang, menghentikan gerakannya. Menetralkan degup jantung dan deru nafasnya.


"Tahan Jeno. Jangan tergoda." Jeno ingin menutupi kembali tubuh Bulan dengan selimut, tapi gerakannya terhenti melihat luka-luka di tubuh Bulan.


Perlahan, wajah Jeno berubah sendu. Mendekatkan wajahnya ke beberapa luka di tubuh Bulan. Menciumnya dengan lembut.


Jeno tidak membuka semua pakaian Bulan. Jeno masih menyisakan dalaman Bulan. ****** ***** dan bra masih melekat di tubuhnya.


Jeno tersenyum. Menutup tubuh Bulan dengan selimut. Dan kini, dirinya melepas pakaian yang melekat di tubuhnya.


Sama seperti Bulan, Jeno hanya menyisakan pakaian dalamnya saja. Lalu menyusul Bulan ke dalam selimut. Memeluk tubuh Bulan. Mendekapnya dengan erat.


Ada perasaan aneh menjalar pada diri Jeno. Saat kulitnya dan kulit Bulan bersentuhan. "Sabar Jeno,,,, tahan. Ingat. Bu Bulan membutuhkan bantuan kamu." Jeno menguatkan hatinya.


Meski Jeno merasakan batangnya mulai on, Jeno sebisa mungkin menahannya. "Jeno,,, elo bukan Jevo. Oke. Elo bukan Jevo." tekan Jeno.


Perlahan, Jeno mulai memejamkan kedua matanya. Hembusan nafas Jeno mulai beraturan. Menandakan jika Jeno mulai mengikuti Bulan masuk ke dalam mimpinya.


Pagi hari, Jevo heboh karena Jeno tidak ditemukan didalam rumah. "Kemana perginya Jeno. Menyusahkan." geram Jevo.


Semua berawal dari sang pembantu membangunkan Jeno yang tak segera membukakan pintu kamar. Akhirnya, Jevo yang sudah duduk di kursi makan, kembali naik ke lantai atas untuk membangunkan Jeno.


Tapi saat Jeno masuk ke dalam kamar, dirinya tidak menemukan keberadaan Jeno. Ranjangnya terlihat berantakan. Jendela kamar tidak terkunci, tapi tertutup rapat.


"Ckkk,,,, dasar." Jevo keluar dari kamar.


"Den Jeno mang kemana Den Jevo?" tanya sang pembantu.


"Dia sudah berangkat sekolah." tukas Jevo melanjutkan sarapannya.


Beberapa pembantu saling pandang. Tentu saja mereka bingung. Pasalnya tidak ada salah satu dari mereka yang melihat Jeno turun dari tangga, bahkan keluar dari rumah. Lantas, bagaimana Jeno bisa meninggalkan rumah.


Tapi mereka tidak mengatakan atau bertanya apapun. Mereka hanya bisa diam dan mengiyakan apapun yang Jevo katakan. Apalagi saat ini, kedua orang tua Jevo dan Jeno tidak ada di rumah.


Sampai di sekolah, Jevo merasa bingung. Semua murid bergegas masuk. Tak seperti biasanya. "Hey,,,, ada apa!?" tanyanya menghentikan seorang murid yang jiga hendak berlari ke dalam.


"Elo nggak tahu?"


"Kalau gue tahu, gue nggak akan bertanya.." kesal Jevo, bukannya menjawab pertanyaannya, murid tersebut malah balik bertanya.


"Beberapa ruangan kosong di sekolah meledak." jelasnya seraya berlari menjauh.


"Meledak. Memang balon, meledak." cicit Jevo aneh.


Jevo masuk dengan santai. Tiba-tiba pundaknya dirangkul dari belakang. Siapa lagi pelakunya, jika bukan Arya dan Mikel. "Kenapa tiba-tiba meledak. Aneh." tukas Arya.


"Mungkin tidak pernah dibuka, jadi pengap. Meledak deh." timpal Mikel nyleneh. Arya mencebik mendengar penuturan Mikel.


"Elo kenapa Jev?" tanya Mikel.


Jevo malah acuh dan terus melangkah. Sama sekali tidak ada niar menjawab pertanyaan Mikel. Dalam benak Jevo, sedang berputar mengenai Jeno.

__ADS_1


"Membuat orang khawatir saja." ucap Jevo dalam hati. Meski dalam ponselnya ada pesan singkat yang dikirim oleh saudara kembarnya, untuk tidak mencari dan mengkhawatirkan. Tapi tetap saja, Jevo merasa cemas.


__ADS_2