
Tuan David dan Nyonya Rindi menatap dengan ekspresi datar saat mengetahui perempuan yang ada di depan mereka ternyata Bulan.
Tentu saja keduanya merasa syok dengan penampilan baru Bulan. Terutama dengan keberadaan Bulan di dalam kamar sang putra yang hanya memakai handuk untuk menutupi sebagian tubuhnya.
Ditambah juga dengan Jeno yang hanya memakai handuk, sama seperti Bulan. Dimana Jeno terlihat segar, karena baru saja mandi. Pastinya melihat keadaan Bulan dan Jeno yang sama, membuat pikiran traveling Tuan David dan Nyonya Rindi.
Tuan David meminta keduanya untuk memakai pakaian. Sebelum mereka berkumpul di ruang tamu untuk berbicara. Duduk bersama dalam satu meja.
Bulan dan Jeno duduk bersebelahan. Sedangkan Tuan David dan Nyonya Rindi juga duduk bersebelahan di kursi di depan mereka berdua, yang hanya terhalang meja kaca berbentuk persegi empat berukuran kecil.
Jika Jeno tampak tenang dan santai. Bahkan dia menatap kedua orang tuanya tanpa beban. Tak ada rasa takut atau rasa bersalah.
Berbeda dengan Bulan yang bahkan tak berani menatap keduanya, dan hanya bisa menunduk. Menatap ke telapak kakinya yang berada di lantai. Menghilangkan rasa gugup dalam dirinya.
"Gila.. Gue berasa menjadi tersangka saja. Sialan..!! Salah gue juga. Astaga Bulan...!! Bagaimana bisa seorang Bulan berada dalam keadaan dan situasi seperti ini. Memalukan...!!" batinnya mengomeli dirinya sendiri.
Tak membayangkan kejadian seperti ini akan menimpa dirinya. Bulan hanya bisa berharap hubungan kedua orang tua Jeno dan dirinya akan tetap seperti semula.
"Sayang,,, Bulan,,, maaf sebelumnya, emmmm,,,, kenapa dengan rambut kamu?" tanya Nyonya Rindi dengan lembut.
Ada nada khawatir yang tersirat dalam pertanyaan yang dilontarkan Nyonya Rindi terkait penampilan baru Bulan. Sebab Bulan dengan tiba-tiba memangkas rambutnya seperti lelaki.
Padahal baru beberapa hari sebelumnya, beliau bertemu dengan Bulan. Dan waktu itu, rambut Bulan masih panjang dan terlihat anggun.
Bulan yang sedang menunduk segera mengangkat kepalanya mendengar namanya di sebut. Ditatapnya Nyonya Rindi yang juga tengah menatapnya.
Bulan bisa melihat raut cemas di wajah Nyonya Ratna. "Tadi malam, Bulan menjalankan misi tante. Dan terpaksa Bulan harus memangkas rambut Bulan seperti ini. Untuk,,,,, mengecoh musuh." jelas Bulan dengan senyum tulus di bibirnya.
Rasa gugup yang Bulan rasakan, menghilang perlahan ketika dirinya melihat serta mendengar saat Nyonya Rindi mengkhawatirkannya.
Tampak tak ada penyesalan dalam wajah Bulan saat mengatakan hal tersebut. Dimana dirinya dengan sadar memangkas rambutnya sendiri. "Syukurlah, tante kira kamu kenapa-napa." tukas Nyonya Rindi tersenyum lega mendengar penjelasan Bulan.
"Ma...!! Mama kira Bulan mempunyai penyakit. Ya nggaklah...!!" ketus Jeno terlihat tidak terima.
Bulan menyenggol lengan Jeno, sembari memelototi Bulan. Jeno hanya tersenyum lucu. "Aku hanya membela kamu sayang. Masa mama mengira kamu mengidap penyakit aneh." tutur Jeno membela diri, menatap sang mama dengan cemberut.
Bulan hanya memutar bola matanya dengan malas. Memilih untuk diam. Dia tahu, Jeno akan mempunyai seribu alasan untuk menyanggah setiap perkataan atau tegurannya.
"Maaf tante,,, penampilan Bulan jadi jelek." cicit Bulan, melirik ke arah Jeno.
"Siapa bilang kamu jelek. Kamu tetap cantik. Lihat,,, buktinya putra tante terus menempel ke kamu. Kayaknya dia punya tentakel." seloroh Nyonya Rindi, tak ingin Bulan merasa tak serasi bersanding dengan Jeno.
"Terimakasih tante. Tapi, Bulan berencana ingin memakai rambut palsu." papar Bulan mengatakan keinginannya.
"Khem.... Apa semalam kalian berdua tidur di apartemen?" tanya Tuan David dengan wajah serius. Membuat rasa cemas Bulan timbul kembali.
"Iya om." jawab Bulan lirih. Merasa malu akan jawaban yang dia berikan.
__ADS_1
Berbeda dengan Bulan, Jeno menjawab dengan santai. "Iya pa."
"Satu kamar?"
"Iya." sahut Jeno singkat.
Bulan melirik kesal ke arah Jeno. "Bisa-bisanya dia sesantai itu mengatakannya." gerutu Bulan dalam hati. Terlebih Jeno tidak menjelaskan lebih detail.
Segera Bulan melanjutkan perkataan dari Jeno, untuk menjelaskan semuanya. "Tapi kami tidak melakukan apa-apa om,,,, Bulan berani bersumpah." jelas Bulan mengangkat tangan dengan jari telunjuk dan jari tengah di acungkan ke aras membentuk huruf V.
"Tante tidak percaya. Kalian sudah dewasa. Semalam berada di kamar yang sama. Pasti terjadi sesuatu." timpal Nyonya Rindi dengan pandangan menyelidik.
"Benar tante. Bulan tidak bohong." timpal Bulan, berharap kedua orang tua Jeno percaya dengan apa yang dia katakan.
Tuan David menatap Bulan dan Jeno bergantian. "Seranjang?" tanya Tuan David memastikan apa yang ada di benaknya salah atau tidak.
Glek... Bulan menelan ludahnya dengan sulit. "Tamat sudah riwayat gue." ujar Bulan dalam hati, tak lagi bisa mencari alasan yang masuk akal.
Meski dirinya berbicara jujur, tetap saja akan terlihat mustahil. Sebab baik dirinya maupun Jeno sudah sama-sama dewasa dan mustahil bagi kebanyakan orang menilai jika tak ada apa-apa di atas ranjang selama mereka bersama. Ingat, dan catat. Semalam, tidur bersama. Di satu ranjang.
Berbeda dengan Bulan, Jeno melirik ke arah Bulan. Tersenyum samar dengan tatapan nakalnya. Di dalam otak liciknya seolah sudah tersusun rapi rencana licik hang akan dia gunakan untuk memiliki Bulan, seutuhnya.
"Pa,,, kenapa papa bertanya seperti itu. Apa papa nggak percaya dengan kita." tukas Jeno, seolah dirinya sedang menyelamatkan dirinya dan juga Bulan.
Kenyataannya, Jeno hanya memainkan perannya. Yang malah akan berakhir dirinya dan Bulan akan bersatu. "Tenang sayang, kamu akan menjadi milik aku. Jeno dan Bulan." batin Jeno.
"Kami percaya dengan Bulan. Tidak dengan kamu." celetuk Nyonya Rindi, dimana Jeno langsung melongo dibuatnya.
"Ma... Anak kandung mama Jeno,,,, Dan mama baru mengenal Bulan beberapa bulan. Astaga,,, tega sekali mama memperlakukan Jeno seperti anak tiri." cicit Jeno berpura-pura ngambek.
"Kamukan lelaki,,, Bulan perempuan. Mana ada perempuan yang maksa lelaki." tukas Nyonya Rindi, malah berdebat dengan Jeno.
"Ada,,,,! Claudia. Dia selalu memaksa Jevo untuk menerima cintanya." celetuk Jeno.
"It..."
"Sudah diam..!! Kenapa mama malah berdebat dengan Jeno." ujar Tuan David memotong menyela perkataan sang istri.
Baik Jeno maupun Nyonya Rindi langsung terdiam. "Pa,,,, apa perlu, Jeno membuktikan jika Jeno dan Bulan tidak melakukan hal tersebut." tantang Jeno.
"Jeno....?!" seru ketiganya bersamaan. Sebab hanya ada satu cara yang terbesit dalam benak mereka. Dan anehnya ketiganya berpikir sama.
Jeno hanya bisa nyengir. Pasalnya, ketiganya menatapnya dengan horor. "Jeno hanya memberi saran pa.. Lagi pula, bukan ke arah sana yang Jeno pikirkan." jelas Jeno.
Jeno tahu kenapa ketiganya menatapnya dengan horor. Seakan mau mencabik-cabiknya dengan tatapan mereka.
"Lalu apa maksud kamu?" tanya Nyonya Rindi.
__ADS_1
"Setelah Jeno ujian, Bulan akan mengenalkan Jeno pada kedua orang tuanya. Iyakan sayang." tanya Jeno menatap Bulan, memainkan alisnya naik turun.
"Jeno....!!" geram Bulan dalam hati. Tebakan Bulan benar. Ternyata Jeno seakan membela dirinya, padahal Jeno ingin membawa pembicaraan mereka ke arah sana.
"Benar. Mama setuju dengan Bulan." timpal Nyonya Rindi.
Bulan memasang wajah cengo. Dirinya benar-benar di jebak oleh Jeno. Dan Tuan David, hanya menggelengkan kepalanya pelan. Dia bisa menebak jika Jeno sedang memasukkan Bulan ke dalam perangkapnya.
"Dasar licik. Bisa-bisanya Jeno bermain dengan rapi. Kasihan sekali calon menantuku." ujar Tuan David dalam hati.
Bulan hanya bisa membenarkan apa yang dikatakan Jeno. Jika dirinya akan mengenalkan Jeno pada kedua orang tuanya. Tanpa bisa menyanggah atau memberikan alasan lain.
Kenyataannya, Bulan dan Jeno memiliki perjanjian. Tapi mana mungkin Bulan menyebutkan secara detail perjanjian mereka.
"Kita akan berangkat ke sana bersama. Jadi Bulan,,, nanti kamu naik mobil kita saja." pinta Nyonya Rindi sama semangatnya dengan Jeno.
Bulan tersenyum kaku. "I-i-iya tante." tukas Bulan, terpaksa menyetujui permintaan Nyonya Rindi.
"Mama dengarkan. Jeno dan Bulan akan menuju hubungan yang serius. Jeno tidak pernah mempermainkan Bulan ma. Jeno serius dengan Bulan. Bahkan Jeno ingin menikahi Bulan." ujar Jeno panjang lebar.
Bulan hanya bisa menghela nafas panjang. Menahan keinginan untuk mengeluarkan suara tingginya. Dan mengumpat ke arah Jeno dengan lantang. "Sumpah,,,, ingin sekali gue bungkam mulut Jeno....!!" geram Bulan dalam hati.
Tuan David tak bisa lagi berkata apapun. Percuma saja beliau mengatakan ini dan itu. Sebab saat ini semua kendali sudah berada di tangan sang putra. Jeno.
"Dari mana dia mendapatkan sifat licik seperti itu. Semoga menantuku lebih pintar dari pada Jeno. Kasihan sekali dia." batin Tuan David, lagi-lagi merasa iba melihat Bulan yang hanya bisa menahan amarahnya.
Tuan David yakin, jika mereka berdua tidak ada, pasti Bulan dan Jeno sudah melakukan peperangan sengit.
Bulan tersenyum penuh makna. "Kamu pikir, saya tidak bisa seperti kamu. Dasar nakal." batin Bulan.
"Bulan memang serius dengan Jeno tante. Tapi, tidak untuk sekarang. Apalagi Jeno masih duduk di bangku SMA. Bulan tidak ingin konsentrasi Jeno terbagi. Bulan tentunya ingin Jeno benar-benar menjadi lelaki yang hebat." ujar Bulan.
"Benar juga kata kamu. Terimakasih sudah mengerti dan menunggu Jeno." tukas Nyonya Rindi.
"Loh,,, kenapa malah begini. Padahal gue ingin segera dinikahkan dengan Bulan. Sah secara agama maupun hukum. Meski gue masih SMA, tidak apa. Gue bisa sekolah sambil bekerja di perusahaan papa. Bulan,,, kamu menggagalkan rencanaku sayang." dengus Jeno dalam hati merasa dongkol.
Dengan berat hati Bulan akan mengajak kedua orang tua Jeno untuk menemui kedua orang tuanya yang tinggal di desa.
Tak mungkin dirinya menolak. Bulan takut, jika dirinya menolak keinginan mereka, pasti akan terjadi hal lebih buruk. Bisa saja Bulan akan segera dinikahkan dengan Jeno.
Dari pada segera menikah dengan Jeno, Bulan memilih opsi lain. Yakni memperkenalkan mereka pada kedua orang tuanya.
"Sayang,,, katakan pada kami kalian akan ke sana. Tapi jangan mendadak. Nanti biar papanya Jeno mengosongkan jadwalnya. Iya kan pa?" tutur Nyonya Rindi.
Tuan David hanya bisa mengangguk. Tanpa bisa mengatakan apapun. Di sisi lain dirinya senang, Bulan dan Jeno serius dalam berhubungan. Tapi di sisi lain, ada ketakutan tersendiri di hati Tuan David.
Ketakutan terbesarnya malah terletak pada sang putra. Dimana Jeno masih berumur belasan tahun. Tuan David takut, Jeno akan berubah pikiran ke depannya.
__ADS_1
"Aku harus berbicara dengan Jeno. Jangan sampai dia menyakiti hati Bulan ke belakangnya." batin Tuan David.