PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 45


__ADS_3

"Apa....!!" seru Moza terkejut.


Moza hendak bersiap untuk tidur. Tapi sang mama masuk ke kamar. Memberinya kabar, jika Rani mengalami kecelakaan.


"Mama tahu dari mana?" tanya Moza khawatir.


Terlepas dari apa yang di alaminya siang tadi, Moza tetap saja punya rasa kemanusiaan. Entah kenapa, dirinya merasa kasihan serta khawatir saat mendengar jika Rani mengalami kecelakaan.


Padahal dirinya sudah tahu, jika Rani dengan tega meninggalkan dirinya sendiri di sana bersama lima lelaki berwajah mesum. Yang akan berbuat jahat padanya.


Sang mama duduk di tepi ranjang. Menggenggam telapak tangan sang putri. Dirinya tahu, jika Moza sangat dekat dengan Rani.


Beliau hanya takut, berita yang akan dia berikan akan membuat Moza syok. "Sore tadi, mama diberitahu papa lewat ponsel. Papa bilang Rani mengalami kecelakaan parah." beliau menjeda kalimatnya.


Setelah menghela nafas, sang mama kembali melanjutkan perkataannya. "Apalagi, di dalam mobil Rani juga ditemukan ponsel milik kamu. Itulah yang membuat papa sangat cemas." sebab sang suami berada di luar kota.


Moza menaikkan sebelah alisnya. "Ponsel. Ponsel milik Moza. Ada di dalam mobil Rani?" tanya Moza memastikan, jika sang mama tidak salah berucap.


Sang mama mengangguk. "Iya sayang, ponsel milik kamu."


"Bagaimana bisa." ucap Moza dalam hati. Dirinya yakin, jika dia tidak meninggalkan ponsel di dalam mobil milik Rani. Tapi menaruhnya di dalam tas. Dan anehnya, ponselnya tidak ada di dalam tas. Malah di temukan di mobil Rani.


Moza menetralkan deru nafasnya. Tidak mungkin dirinya menceritakan semuanya pada sang mama saat ini. Semua akan semakin riweh, jika sang mama dan papa tahu.


Apalagi, hubungan keluarganya dengan keluarga Rani sudah sangat dekat. Melebihi hubungan saudara. Kedua orang tua Rani juga sangat menyayangi Moza.


Dan lagi, sekarang bukan saat yang tepat. Sebab Rani juga baru saja mengalami kecelakaan. Dan kondisinya lumayan parah. Juga, yang terpenting dirinya selamat dari kejadian tersebut.


Moza tahu, kedua orang tua Rani tidak bersalah atas apa yang terjadi pada dirinya. Hanya Rani. Hanya Rani yang bersalah. Mereka berdua tidak tahu apapun. Dan Moza yakin itu.


"Rani, gue nggak menyangka. Ternyata elo benar-benar perempuan jahat." ucap Moza dalam hati. Teringat saat dirinya mencari ponselnya di dalam tas, tapi dia tidak menemukannya.


"Ternyata, elo sudah merencanakannya dengan sangat matang." lanjut Moza dalam hati.


"Awalnya papa dan mama sangat khawatir sayang. Kita terus mencari kamu. Takut jika kamu berada di dalam mobil itu." sang mama membelai pipi sang putri.


Moza merasa bersalah. Sebab dia memilih untuk ke apartemen Jevo, dari pada pulang. Sebenarnya, Moza tak langsung pulang karena ingin menenangkan diri dulu.


Moza tidak ingin sang mama akan sedih jika tahu apa yang terjadi pada dirinya. Terlebih Rani sebagai dalang dibalik kejadian yang Moza alami.


Moza tidak ingin kedua orang tuanya cemas. Tapi siapa yang menyangka, kejadiannya akan seperti ini. "Maaf ma, membuat mama dan papa khawatir."


"Husssttt,,,, yang terpenting kamu dalam keadaan baik-baik saja. Beruntung kamu pulang lebih dulu. Tadi papa mau pulang, jika sampai malam kamu belum ditemukan."


Moza memeluk sang mama. "Moza sayang mama."


"Mama juga. Papa juga." keduanya saling berpelukan.


Moza menatap lurus ke depan. Rahangnya mengeras, teringat akan kejadian yang menimpanya tadi siang.


Moza mengurai pelukannya. "Mama tahu, bagaimana keadaan Rani?" tanya Moza penasaran.


Sang mama mengangguk. "Mama sempat ke sana tadi. Meski hanya sebentar. Rani, dia masih belum sadarkan diri. Kecelakaan yang dialami lumayan parah. Mobilnya saja berpaling beberapa kali. Sampai ringsek di beberapa bagian."


"Bagaimana bisa terjadi ma?" setahu Moza, Rani sangat ahli berkendara. Bahkan, Rani jiga tak takut melajukan mobilnya dengan kencang layaknya pembalap.


"Mama sendiri juga kurang paham. Tapi, menurut saksi dan juga kamera CCTV di sekitar kejadian yang merekam kejadian, Rani menurunkan kepalanya ke bawah. Seperti sedang mengambil sesuatu. Tapi dia tidak mengurangi kecepatan laju mobilnya. Bahkan, dia masuk ke jalur yang berlawanan arah." jelas sang mama.


Moza mengangguk. "Lebih baik sekarang kamu tidur. Besok saja kita ke sana. Menjenguk Rani, semoga saja dia sudah sadar. Dan keadaannya membaik." jelas sang mama.


"Iya ma." Moza menuruti perkataan sang mama. Meski dirinya sangat ingin melihat keadaan Rani.


Moza teringat, jika para lelaki yang hendak melecehkannya, mengatakan jika mereka tidak membutuhkan uang yang dia tawarkan untuk sebuah kebebasan. Meski dengan jumlah besar.


"Gue yakin, Rani sudah membayar mahal mereka." ucap Moza dalam hati, tersenyum getir.


Sejurus kemudian, Moza tersenyum. Mengingat Jevo datang di saat-saat terakhir. Terlambat sedikit saja, Moza pasti akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga di hidupnya.


Sedangkan, tiga tempat yang meledak dan terbakar secara bersamaan karena ulah Bulan. Dengan cepat menjadi berita utama di setiap pemberitaan.


Dan itulah yang diinginkan Bulan. Sehingga mereka akan sibuk meredam berita yang berhembus. Dam akan melupakan kelurga Bulan yang berada di luar kota.

__ADS_1


Jika mereka tidak segera meredam berita tersebut, maka sudah dapat dipastikan, apa yang mereka lakukan pasti akan terendus media. Dan finish, semua selesai. Dan terungkap.


"Bagaimana ini bisa terjadi. Tiga tempat sekaligus secara bersamaan...!!!" seru seorang lelaki tidak percaya.


Segera mereka berkumpul untuk membicarakan apa yang tengah terjadi. "Di sekolah, ada dua orang di dalam ruangan. Mereka adalah petugas keamanan sekolah. Dan mereka adalah orang kita." jelas lelaki yang memakai kacamata, menjelaskan korban meninggal.


"Lalu, di gudang tempat kita menyimpan uang palsu, serta beberapa senjata yang siap kirim, tidak ada korban sama sekali. Tapi dapat dipastikan. Semua yang ada di dalam habis tak tersisa." lanjutnya, menggelengkan kepala.


"Lalu, di tempat satunya lagi. Obat-obatan, serta alat medis yang juga siap jual habis terbakar habis. Bahkan beberapa kendaraan jiga ikut terbakar. Di dalamnya, ditemukan satu mayat. Dan itu juga orang kita." lanjutnya, menjelaskan secara detail.


"Tikus siapa yang berani masuk ke dalam rumah kita? Mengobrak-abrik hingga seperti ini." geram seseorang dengan perut buncit.


"Cari di setiap kamera CCTV. Kita harus segera menemukannya. Sebelum dia membuat kita dalam masalah besar..!!" serunya.


"Maaf Tuan, semua kamera CCTV sudah kami periksa. Tidak ada yang mencurigakan. Semuanya bersih, berjalan seperti biasa." lapor sang bawahan.


"Bodoh...!!! Pasti dia meninggalkan jejak. Cari setiap apapun itu dan dimanapun, yang bisa membawa kita menemukan tikus kecil itu?!!" bentak lelaki berkacamata.


"Maaf Tuan, semua bersih. Kita sudah menyusuri setiap sudut. Sama sekali kami tidak menemukan petunjuk. Bahkan, sama sekali tidak kami temukan sidik jari pelaku." lapornya.


"Siapa sebenarnya yang sedang kita hadapi." gumam lelaki berkacamata, merasa orang yang membuat mereka ketar-ketir bukan orang sembarangan.


"Sudah-sudah, bukan saatnya kita bertengkar dan berdebat. Yang harus kita lakukan, meredam berita ini. Jangan sampai media masuk dan menelusuri terlalu dalam." ucap lelaki dengan jaket kulit di tubuhnya.


"Jika media mencari tahu semakin dalam ketiga tempat yang meledak, kita akan dalam ambang bahaya dan kehancuran. Bisa-bisa bisnis haram kita tercium." lanjutnya.


Semuanya mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan lelaki yang memakai jaket kulit di tubuhnya.


"Maaf Tuan, bagaimana dengan lelaki yang baru saja kita buang. Apa jangan-jangan, pelakunya sama dengan yang meledakkan ketiga bangunan kita?" tanyanya.


Lelaki yang telah mereka buang adalah putra dari mbok Yem. "Tidak ada. Aku yakin. Bukankah dokter sudah mengatakan penyebabnya. Dia seperti itu karena overdosis obat." ucapnya.


"Apa mungkin Bulan?" tanya seorang lelaki yang paling muda di antara ketiga pimpinan mereka.


"Bukan. Bulan sedang berada di rumah. Orang yang aku minta untuk mengawasinya, melaporkan jika Bulan pulang dari sekolah sejak siang, karena sakit. Dan sampai sekarang belum keluar dari rumah." jelasnya dengan yakin.


"Saya hanya menebak. Siapa tahu, Bulan keluar tanpa sepengetahuan orang anda, Tuan. Bagaimana jika anda menyuruhnya untuk masuk ke rumah Bulan. Memastikan Bulan ada di rumah, atau tidak."


"Bodoh. Pakai otak kamu, Diki..!! Jika aku menyuruhnya masuk, itu artinya Bulan akan tahu semuanya. Kamu pikir Bulan perempuan bodoh seperti kamu...!!" bentaknya, menatap sengit ke arah Diki.


Diki sadar, posisi yang dia dapat juga diusahakan oleh mereka. Oleh sebab itu, Diki juga harus tunduk pada setiap perintah dari mereka.


"Lebih baik kamu bekerja. Jangan hanya duduk di balik kursimu dengan nyaman. Buat media tak lagi mencari tahu kejadian ini. Atau kamu juga akan terseret dalam kasus ini." timpal lelaki dengan perut buncitnya, mengancam Diki.


"Baik." Diki dan yang yang lain pergi meninggalkan ruangan. Hanya tersisa tiga lelaki yang sedang memikirkan jalan keluar untuk maslaah ini.


"Apa Bulan sudah memberi laporan perihal pembunuhan berantai padamu?" tanya lelaki dengan kacamata di wajahnya.


"Sudah. Saat ini, dia benar-benar fokus pada kasus itu. Dan aku bisa yakin, Bulan sama sekali tidak mengetahui bisnis kita."


"Bagaimana rekaman itu, apa ada di tangan Bulan?"


"Itu yang sedang aku cari. Mbok Yem juga kelihatannya tidak berguna." geramnya.


"Singkirkan orang-orang yang tidak berguna seperti mereka. Yang ada, jalan kita malah akan terhambat." saran rekannya.


Dia mengangguk. "Pasti. Secepatnya, aku akan menyingkirkan perempuan tua itu. Sangat tidak berguna."


"Benar, jangan sampai dia malah membuat Bulan curiga."


Di markas, Gara tertawa girang. "Bulan, elo memang luar biasa. Rencana dadakan saja bisa berjalan seperti ini. Bagaimana jika elo merencanakan sesuatu dengan serius." ucap Gara, memuji keahlian Bulan yang tidak perlu diragukan.


Gara tetap memantau kamera CCTV di tiga tempat yang menghebohkan karena meledak secara bersamaan. Siapa tahu, ada seseorang atau sesuatu yang bisa di jadikan petunjuk selanjutnya.


"Diki." gumam Gara, melihat sosok Diki di salah satu tempat kejadian.


"Kenapa dia harus turun tangan sendiri. Bukankah dia tinggal tunjuk, bawahan akan bergerak." Gara mulai curiga.


"Apa kecurigaan Bulan benar. Diki juga terlibat." segera Gara memainkan jari jemarinya untuk mencari tahu semua tentang Diki. Seraya tetap mencari tahu tentang rekaman yang mereka cari.


Gara tersenyum samar, mengetahui aset kekayaan Diki. "Cckk,, cckk,, cckk,, gila. Belum genap menjabat setahun, harta elo sudah melebihi milyuner."

__ADS_1


Gara menggelengkan kepalanya dan tersenyum miring. Seolah dirinya tahu sebuah jalan, bagaimana dia akan bisa menemukan siapa saja orang yang membuat Diki bisa menduduki jabatan yang sekarang ini.


Di jalanan, Bulan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak ingin membuang waktu. Pasti sekarang keempat muridnya sedang dalam keadaan cemas.


Begitu sampai di markas, Bulan segera mengambil alih apa yang seharusnya dilakukan oleh Arya. "Perhatikan baik-baik." tutur Bulan dengan pandangan fokus menghadap ke layar.


Arya mengambil kursi, dan duduk di samping Bulan. Sebenarnya, Arya sungguh malu mengatakan semuanya dengan jujur, tapi Arya lebih memikirkan ketiga rekannya yang berada di lapangan, dari pada rasa malunya.


Kedua mata Bulan bagai elang yang tengah mengawasi lawan. "Jeno, masuklah dari tembok samping kanan. Sekarang. Waktu elo tiga puluh detik." perintah Bulan.


Tanpa berpikir panjang, Jeno melakukan apa yang dikatakan oleh Bulan, dengan gerakan gesit, dia meninggalkan tempatnya sekarang. Dan segera melompati tembok yang dikatakan oleh Bulan.


"Bersembunyilah di atas pohon. Diamlah di sana beberapa saat. Tetap waspada, jangan sampai lengah sedetikpun." pinta Bulan lagi.


Arya yang melihat dari layar merasa was-was. Pasalnya, dibawah pohon tempat Jeno berada sekarang terdapat tiga orang yang sedang berjaga.


Arya melirik ke arah Bulan. Dirinya ingin bertanya pada Bulan, tapi dirinya tidak berani. Arya yakin, jika Bulan akan memberi perintah dengan benar. Terlihat Jeno melakukannya tanpa bertanya lagi.


"Mikel. Ubah posisi, bergeraklah maju. Hentikan mobil jika sudah melaju sekitar lima puluh meter."


Terlihat, mobil yang dikendarai Mikel melaju. Sesuai arahan Bulan. "Jevo, masuklah lewat atap rumah. Sekarang. Nanti akan gue beritahu, dimana kamu harus berhenti."


Jevo juga sama seperti Jeno dan Mikel. Melakukan apa yang dikatakan oleh Bulan tanpa ragu. "Jeno, elo harus siap bergerak. Sebentar lagi mereka akan berjalan. Lakukan gerakan di saat pergantian mereka."


Arya hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar. "Jevo, berhenti sepuluh langkah lagi. Cari cara untuk kamu masuk ke dalam lewat jalan tikus."


"Ruangan di bawah elo adalah ruang kerja sang dokter. Gue rasa elo tahu, apa yang harus elo lakukan. Ingat... jangan bertindak. Apapun yang elo lihat didalam. Tetap waspada."


Bulan melihat ke arah pergelangan tangannya. Dimana dirinya yakin, jika target sudah berada di dalam rumah sang dokter, dan sedang melakukan aksinya.


"Jeno, lakukan tugas elo dengan rapi."


"Baik."


Bulan melepas alat yang menempel di kedua telinganya. "Tugas elo sekarang, pantau pergerakan Jeno. Hanya dia. Paham."


"Jevo dan Mikel, akan gue hubungi lewat ponsel." pinta Arya.


"Baik bu." cicit Arya.


Arya melihat, Bulan kembali bersiap. Dan Arya menebak, jika Bulan hendak menyusul Jevo dan Mikel.


"Bu Bulan berhati-hatilah. Jangan khawatirkan Jeno. Saya akan lakukan yang terbaik."


Bulan tersenyum dan mengangguk. Bulan menepuk pundak Arya. "Gue pergi. Satu lagi, kunci pintu dari dalam." ucap Bulan mengingatkan, sebab saat dirinya datang pintu dalam keadaan tak terkunci.


Padahal, pintu bisa dibuka dari luar atau dalam dengan menekan beberapa nomor yang tertempel di samping pintu.


Meski terkunci dari dalam, yang lain bisa masuk dari luar, asal tahu kode dari pintu. "Baik bu. Maaf, saya ceroboh."


Arya segera mengunci pintu dari dalam sepeninggal Bulan. "Hii..." Arya bergidik, saat pandangannya tertuju pada pintu, dimana ada serigala liar yang besar yang ada di balik pintu.


Bulan kembali melajukan motornya membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Dirinya yakin, jika telah terjadi sesuatu dengan sang dokter.


"Jevo, ingat..!! jangan lakukan apapun, meski elo tahu sesuatu. Cukup pantai dan lihat. Dan jangan pernah menyentuhnya...!!" seru Bulan sembari menaiki motor.


Jevo yang sudah berada di ruang kerja sang dokter, mencium bau anyir. Dirinya bersembunyi di balik almari. Meski hanya mencium baunya, Jevo dapat memastikan, jika apa yang diendusnya adalah bau darah.


Jantung Jevo berdetak kencang. Dengan penuh kehati-hatian, Jevo mencoba mengintip apa yang terjadi.


Kedua mata Jevo membulat sempurna, melihat apa yang terjadi. Perutnya terasa mual, dengan apa yang disaksikan dengan kedua matanya.


Tampak korban yang bersimbah darah masih dalam keadaan hidup. Sementara orang yang menjadi tersangka masih dengan sadis melakukan aksinya seraya tersenyum.


Korban sekarat tersebut adalah sang dokter. Kedua tangan Jevo terkepal, kakinya ingin sekali melangkah dan menghajar pelaku, yang tanpa ampun mengeksekusi sang dokter.


Pikiran dan nurani Jevo bertentangan. Jevo ingin menolong sang dokter yang tengah sekarat, tapi masih disiksa.


Tapi, Jevo kembali teringat akan perintah Bulan. Untuk tidak bertindak apapun yang dia lihat. "Apa yang harus gue lakukan." kini, batin Jevo berperang.


"Nggak, gue nggak bisa. Gue nggak bisa membiarkan dokter itu mati. Nggak. Gue harus menolongnya. Harus." ucap Jevo.

__ADS_1


Jevo memilih untuk menolong sang dokter, dari pada menuruti perintah Bulan. Dan dapat dipastikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika Jevo menolong sang dokter.


Semua rencana Bulan akan gagal dan berantakan.


__ADS_2