PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 194


__ADS_3

"Dimana Revan? Kenapa sampai sekarang juga dia belum pulang?!" ujar Claudia uring-uringan seorang diri di apartemen.


"Ckkk,,, Revan sialan." geram Claudia, sebab Revan pergi meninggalkan dirinya di apartemen semenjak pagi. Dan kini sudah sore hari, tapi Revan belum juga kembali.


Bahkan, saat pergi, Revan meninggalkan apartemen begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Claudia.


"Aaa.....!! Brengsek." umpat Claudia ingin sekali melemparkan ponselnya, karena dirinya tidak bisa menghubungi Revan.


Tapi Claudia tak mungkin membanting ponselnya. Jika itu terjadi, pasti dia akan menangis meraung-raung. ''Iihh..." geram Claudia melihat ke arah ponsel di tangannya.


Akhirnya Claudia memutuskan pergi seorang diri menuju ke bank terdekat. Dimana dirinya mengurus beberapa kartu kreditnya yang telah hilang. Dan pihak bank baru saja mengabarinya jika kartu kreditnya sudah bisa digunakan kembali.


Tapi sebelumny, Claudia mengacak-acak lemari Revan. Dirinya membutuhkan uang untuk pergi ke tempat tersebut. "Gue nggak mungkin jalan kaki sampai sana. Yang ada gue akan empor." keluhnya, dengan tangan mencari uang yang mungkin disembunyikan Revan di dalam kamarnya.


"Huh.... Dimana Revan menyimpan uangnya." cicit Claudia terus mencari apa yang dia inginkan, seperti seorang maling.


Senyum Claudia mengembang, melihat beberapa gepok uang di dalam laci. Bukan hanya uang, di dalam laci juga terdapat beberapa jam tangan mahal milik Revan. "Pasti jam-jam ini harganya selangit." tutur Claudia.


Claudia ingin mengambil semuanya, tapi dia urungkan niatnya tersebut. "Jika Revan tahu, yang ada gue akan diusir dari sini. Jangan Claudia. Elo butuh tempat tinggal gratis." lirih Claudia dengan pandangan menatap ke dalam laci. Menahan diri untuk mengambil barang yang menyilaukan mata tersebut.


Claudia mengambil satu ikat uang yang di tata rapi di dalam laci. Dia tidak mengambil semuanya. Melainkan sebagian. "Cukuplah segini." ujarnya sembari menghitung jumlah uang yang dia ambil.


"Dua juta. Lumayan. Semoga Revan tidak tahu." gumam Claudia, tanpa dia tahu jika sekarang dirinya tidak akan pernah bertemu lagi dengan Revan untuk selamanya.


Seperti biasa, Claudia tetap berpenampilan sebagai Claudia anak orang kaya. Tentu saja Claudia tidak ingin dipandang hina oleh orang. Meskipun sang papa sekarang mendekam di dalam penjara.


Bukannya kembali pulang ke apartemen, Claudia malah pergi ke rumah Jevo setelah urusannya selesai. "Jevo ada?" tanya Claudia dengan ekspresi angkuhnya pada satpam yang menjaga gerbang kediaman Tuan David.


"Maaf, Nona Claudia. Tuan Muda Jevo tidak ada." sahutnya tanpa membuka gerbang yang tinggi menjulang di depan mereka.


"Buka. Gue mau masuk." perintah Claudia dengan sombong. Seakan dirinya pemilik rumah.


"Maaf Nona, saya tidak berani membukakan pintu. Apalagi pemilik rumah tidak ada di tempat." tolak sang satpam.


"Ckk,,,, tante Rindi kan ada. Lagi pula hari ini hari minggu. Om David juga pasti ada di dalam. Jangan berbohong. Cepat buka...!!" hardiknya sembari memegang besi gerbang.


"Maaf Nona Claudia, sekali lagi saya katakan. Saya tidak berani membuka. Tuan dan Nyonya sudah memerintahkan untuk menolak tamu yang datang, selama beliau dan yang lainnya pergi." tegas pak satpam.


"Alaaaahhh..... Cuma satpam saja belagu banget elo." hina Claudia.


"Jevo.....!! Gue ada di depan....!!" teriak Claudia, kekeh ingin masuk ke dalam.


Pak Satpam hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Claudia yang ngeyel. "Ada apa?" tanya rekan pak satpam, yang ternyata dia baru saja dari dalam rumah. Sehingga tidak tahu jika ada kegaduhan yang disebabkan oleh Claudia.


"Ngeyel minta masuk." ujar rekannya sesama satpam.


Claudia menggerakkan besi pagar. Sayangnya, pagar tersebut tetap berdiri tegap tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya. "Apa kalian berdua tuli. Buka...!!" seru Claudia marah.


"Heh... Siapa elo. Marah-marah nggak jelas. Pergi sana. Pemilik rumah tidak ada di rumah." sahut sang satpam yang baru saja datang.


"Kurang ajar banget ya elo. Gue akan menyuruh Jevo memecat kalian berdua. Lihat saja nanti." ancam Claudia membuat kedua satpam tertawa.


"Memecat. Memang kamu siapa?"


"Gue Claudia, calon istri Jevo. Apa kalian tidak tahu?!" seru Claudia memandang satpam di dalam pagar penuh amarah.


"Mana mau Tuan Muda Jevo dengan perempuan seperti kamu. Pasti dia juga akan mencari perempuan yang seperti Nona Bulan. Calon istri Tuan Muda Jeno. Calon memantu idaman Tuan David dan Nyonya Rindi." jelas pak satpam semakin membuat Claudia murka, sebab satpam di depannya membandingkan dirinya dengan Bulan.


Kedua satpam tersebut berani bertindak seperti itu pada Claudia, karena memang keduanya tahu jika majikan mereka tidak menyukai perempuan di depannya tersebut.


Selain itu, keduanya pernah mendapat perintah dari Nyonya Rindi, untuk menolak jika Claudia datang mencarinya. Dengan alasan apapun. Yang artinya sang majikan tidak mau bertemu dengan Claudia.


"Bulan. Cih... Perempuan itu. Dia tidak akan menjadi Nyonya muda di rumah ini." tekan Claudia malah menanggapi kedua satpam tersebut.


"Siapa bilang. Hari ini seluruh keluarga Tuan Muda Jeno menemui keluarga Nona Bulan. Bahkan Tuan muda Arya dan Tuan muda Mikel juga ikut pergi."


Claudia terdiam. Mencerna apa yang dikatakan sang satpam di depannya. "Jangan berbohong..!" geram Claudia.


"Siapa yang berbohong. Silahkan Nona Claudia menghubungi Tuan muda Jevo, kalau tidak percaya. Tanyakan saja pada Tuan Muda." tantang sang satpam.


"Siall....!!" geram Claudia langsung meninggalkan tempatnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu berbicara seperti itu. Memang tidak apa-apa kita memberitahu dia. Kamu tahukan, dia perempuan licik dan berbahaya. Aku hanya takut, Nona Bulan mendapat masalah." tukas pak satpam pada rekan kerjanya merasa khawatir.


"Tidak apa-apa. Nona Bulan bukan perempuan lemah. Seharusnya kamu juga tahu, apa pekerjaan Nona Bulan." sahutnya.


"Benar juga. Semoga Tuan Muda Jeno dan Nona Bulan langgeng hubungannya hingga sampai di pelaminan."


"Amin." sahutnya.


Semua pekerja di rumah Tuan David memang menyukai Bulan. Selain karena kecantikannya, Bulan juga mempunyai sikap sopan pada siapapun. Tanpa memandang siapa orang tersebut.


Sedangkan di dalam taksi, Claudia terus menghubungi Revan dan Jevo secara bergantian. Dimana keduanya sama. Sama-sama tidak mengangkat panggilannya, padahal panggilannya tersambung.


"Benar-benar mereka berdua." geram Claudia.


"Maaf mbak, ini kita mau ke mana?" tanya sang sopir taksi pada Claudia, sebab Claudia tidak memberikan alamat yang akan dia tuju.


"Jalan saja dulu. Nanti saja beritahu." sahut Claudia dengan ketus.


Claudia bingung kemana dirinya harus pergi. Pulang ke apartemen Revan. Sungguh membosankan. Tak ada yang dapat dia lakukan di sana seorang diri.


"Apa gue pergi ke salon saja." batin Claudia, merasa dirinya sudah lama tidak memejamkan tubuhnya untuk melakukan perawatan menyeluruh.


Benar saja, Claudia menyebutkan nama sebuah salon kecantikan ternama di kota pada sang sopir taksi. Tanpa berpikir uang yang akan dia keluarkan untuk melakukan perawatan akan mengurus dompetnya.


Memang otak Claudia sudah gesrek. Bagaimana bisa dia malah kepikiran untuk mempercantik diri, padahal uang yang dia punya tidak sebanyak dulu.


Di desa, tepatnya di kebun pak Cipto, semua bersiap untuk pulang kembali ke rumah Bulan. "Apakah aman ditinggal di sini?" tanya Arya, melihat banyaknya singkong yang belum dibersihkan dibiarkan berserakan di kebun.


"Aman. Tidak akan ada yang mengambil. Jika ada, mereka pasti akan ke rumah dulu. Minta izin sama pemiliknya." jelas Bintang.


Arya mendongak ke atas. "Apa kita tidak memetik buah mangga atau apa gitu?" tanya Arya, yang melihat banyaknya buah mangga bergelantungan di pohon. Serta beberapa buah lainnya yang membuat Arya ingin memetiknya.


"Itu belum matang. Bapak sudah memetik beberapa yang matang. Sudah di taruh rumah." jelas Bintang.


"Bukankah elo tadi juga makan." tegur Mikel.


"Siapa bilang gue ingin makan. Gue hanya ingin memanen semua ini." tukas Arya.


Bram sedari tadi mengamati mereka semua. Terutama Jeno. Yang dikenalkan Bintang sebagai calon kakak iparnya. "Mereka masih sangat muda." batin Bram yang dia sendiri tidak tahu jika Jeno masih duduk di bangku SMA.


"Dari pakaian hingga tindakannya, mereka memang bukan berasal dari keluarga biasa." batin Bram menebak. Terlebih dirinya juga melihat Jevo mengeluarkan senjata yang sama seperti miliknya.


"Sudah,,,, jangan ladenin mulut Arya. Sebaiknya kita pulang. Nanti kita malah kena omel papa. Ayok." ajak Jeno.


Ketujuh lelaki mulai berjalan meninggalkan kebun. Dengan Bram berada di belakang sendiri. Sementara Jevo mendorong kursi roda yang di duduki oleh Gara.


Seperti saat mereka menuju ke kebun, kali ini juga sama. Beberapa kali, ada warga yang berpapasan dengan mereka. Dan dengan ramah Bintang menyapa mereka.


Juga ada teman Bintang yang mengajak Bintang bermain sepak bola. Tapi Bintang hanya mengatakan oke. "Memang elo pemain sepak bola?" tanya Arya mulai aneh.


"Tidak. Hanya permainan anak desa. Dari pada tidak ada kegiatan di sore hari. Bukankah lebih baik kita berolah raga saja. Lumayan, mencari keringat." sahut Bintang menjelaskan.


"Enak ya tinggal di sini. Tenang. Tidak berisik. Bahkan tidak terlalu banyak kendaraan." ucap Gara merasakan kenyamanan.


"Jika disini memang tidak terlalu banyak kendaraan kak. Karena jalan masuk gang. Jika di depan, sama saja seperti di kota. Banyak kendaraan berlalu lalang." tukas Bintang.


"Tinggal saja di sini." timpal Bram.


"Tidak mungkin. Dengan keadaan gue yang seperti ini, gue malah akan menambah pekerjaan. Dan menjadi beban untuk keluarga Bulan. Lagi pula, gue nggak mungkin meninggalkan Bulan di sana sendiri." jelas Gara.


Semua paham kenapa Gara mengatakan hal tersebut. Sebab mereka tahu bagaimana Bulan masih sangat bergantung pada Gara, saat Bulan melakukan misi.


Karena memang Gara adalah partner yang Bulan miliki satu-satunya. Padahal, sebelum bertemu dengan Gara, Bulan tidak memerlukan partner kerja. Tapi setelah ada Gara, Bulan menjadi ketergantungan dengan Gara.


Mungkin itulah yang dinamakan kebiasaan. Dan Bulan hanya merasa jika pekerjaannya, akan jauh lebih ringan jika ada Gara. Meski Gara hanya memantau atau membantunya dari markas.


"Itu mereka." seru Sapna melihat para lelaki muda berjalan ke arah rumah.


"Sudah, jangan dimarahi." ujar bu Asri, melihat Bulan bersedekap dada, memandang tajam ke arah mereka.


Nyonya Rindi dan Nyonya Irawan hanya tersenyum sembari duduk di kursi yang ada di teras. Mereka ingin melihat apa yang akan dilakukan Bulan.

__ADS_1


"Kalian dari mana saja?! Tidak lihat ini sudah jam berapa. Malah keluyuran. Bukannya mandi. Kamar mandi di rumah hanya ada dua. Apa kalian akan mandi bersama?! Kalian sudah dewasa, kenapa masih seperti bocah saja." oceh Bulan seperti emak-emak yang sedang memarahi anak-anaknya.


Semua hanya diam, menatap dia perempuan di depan mereka tanpa ada yang berani menyela. Sebab mereka tahu, jika mereka akan kalah jika melawan perempuan. Meski mereka menang jumlah.


"Cepat mandi. Malah berdiri. Jangan lama-lama. Cepat!!" bentak Sapna yang berdiri di samping Bulan.


"Itu mau kemana?!" tanya Bulan dengan raut wajah galak, melihat Arya malah berjalan ke arah lain.


"Ambil baju sama perlengkapan mandi bu." sahut Arya pelan. Takut Bulan akan marah.


"Biarkan saja bu. Sekali-kali memang mereka harus di marahi." bisik Nyonya Rindi pada bu Asri yang baru saja mendaratkan pantatnya di kursi sebelah Nyonya Rindi.


"Ya sudah,,, kenapa malah berhenti." seru Bulan.


Semua berjalan masuk ke rumah lewat pintu samping. "Bintang,, gunakan kamar mandi kakak saja." ujar Bulan yang mendapat anggukan dari Bintang.


"Papa sana Bapak kemana bu?" tanya Jeno.


"Ke masjid. Sholat asar." sahut bu Asri.


"Jangan galak-galak sayang. Jadi pengen cepat nikah." goda Jeno langsung berlari menyusul yang lain.


"Astaga... Masih aja menggombal." geram Sapna.


Selesai mandi, semua duduk santai di teras rumah. Berbincang dengan santai. "Gila. Ini pertama kalinya gue mandi kilat." bisik Arya.


"Diam. Mau kema omel lagi." sahut Jevo yang juga berbisik.


"Loh,,, dia siapa bu?" tanya Nyonya Irawan melihat ke arah Bram.


"Saya Bram, bu. Saudara jauh pak Cipto." sahutnya, melirik ke arah Bulan. Dan segera bersalaman dengan Nyonya Rindi dan Nyonya Irawan serta Sapna.


"Itu mereka." ujar Sapna melihat tiga lelaki berpakaian koko dan memakai sarung berjalan ke arah mereka.


Glek..


Pak Cipto melambatkan langkahnya melihat ada sosok Bram duduk di antara para tamunya. Dan juga pandangan Bulan ke arahnya yang terlihat tersenyum penuh makna.


"Pasti Bulan sudah tahu." batin pak Cipto.


Sama seperti sang istri dan Nyonya Irawan, Tuan David pun menanyakan sosok lelaki yang baru saja dia lihat. "Dia Bram, saudara jauh saya." jelas pak Cipto melirik ke arah Bulan.


Bintang hanya diam sembari menahan senyum melihat sang bapak seakan ingin menghilang dari pandangan kakaknya, Bulan.


Semalam, mereka semua menginap di rumah pak Cipto. Nyonya Irawan dan Nyonya Rindi, keduanya tidur di kamar bu Asri. Sementara bu Asri tidur di kamar Bintang. Dan untuk Sapna, tentu saja dia tidur di kamar Bulan bersama sang pemilik kamar.


Dan untuk para lelaki, mereka tidur di ruang tengah. Menggelar karpet di sana. Dan tidur bersama di satu ruangan.


Pagi hari, mereka segera bersiap untuk kembali ke kota. Tanpa menunda waktu. Apalagi, Tuan David mempunyai pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan.


Dan benar saja, setelah tamu dari kota pergi meninggalkan rumah pak Cipto, para tetangga tentu saja bertanya pada kedua orang tua Bulan, mengenai mereka yang baru saja pergi meninggalkan rumah pak Cipto.


Dengan jujur, keluarga Bulan mengatakan jika mereka keluarga calon suami dari Bulan. Bu Asri juga tidak lupa membagikan oleh-oleh yang dibawakan Nyonya Rindi serta Nyonya Irawan kepada para tetangga. Sebab tidak mungkin juga mereka akan memakan sendiri camilan sebanyak itu.


Mobil yang awalnya berisi oleh-oleh saat mereka datang, kini berganti isi. Dan di dalamnya terdapat banyak macam sayur serta buah yang dipanen sendiri dari kebun pak Cipto.


"Lihat pak, untung mama bawa oleh-oleh banyak. Coba kalau sedikit. Pasti kita akan malu." oceh Nyonya Rindi, melihat banyaknya barang yang dimasukkan ke mobil oleh bu Asri untuk dibawa ke kota.


Tuan David hanya menghela nafas. Beliau serta Jevo memilih diam. Dari pada mereka menyahuti perkataan Nyonya Rindi, yang pastinya mereka akan kalah dan salah.


"Jangan ikuti mobil Jeno. Dia akan pergi berdua dengan Bulan." pinta Tuan David pada sang putra, Jevo. Yang menyetir di sampingnya. Setelah Tuan David baru saja melihat ke layar ponselnya.


"Ccckk,,, sial. Anak itu." geram Jevo.


"Makanya, kamu juga cari pasangan. Tapi jangan seperti Claudia atau Sella. Mama tidak suka. Ehh... Bagaimana kalau Sapna saja." celetuk Nyonya Rindi.


Tuan David menggelengkan kepala mendengar perkataan sang istri. Memang istrinya itu super aneh. Dan seenaknya sendiri. "Hah." sahut Nyonya Irawan terkejut.


"Tidak bisa ma. Sapna sudah punya lelaki yang dia sukai." tolak Jevo, yang juga membuat Nyonya Irawan mengedipkan kedua matanya dengan lucu.


Pasalnya, Nyonya Irawan sama sekali tidak tahu jika sang putri menyukai seorang lelaki. "Siapa?" batin Nyonya Irawan penasaran.

__ADS_1


__ADS_2