
"Arya,, ngapain elo di sini?" tanya Sapna merasa heran bercampur terkejut, melihat Arya yang duduk di kursi yang berada di teras toko tempatnya bekerja.
Sebab tak biasannya ada yang mendatangi dirinya saat bekerja. Paling juga mereka akan menghubungi Sapna melalui ponsel, jika ada kepentingan.
Belum sempat Arya mengatakan sepatah katapun, beberapa teman kerja Sapna juga keluar dari dalam toko. Karena memang, toko baru saja tutup. Sehingga para karyawannya juga pasti pulang ke rumah masing-masing.
Arya sengaja tidak masuk ke dalam. Dan lebih memilih untuk menunggu Sapna pulang. Sebab Arya melihat sebuah papan kecil yang memperlihatkan tulisan kapan toko buka dan kapan toko tutup.
Dan kebetulan, kedatangan Arya bertepatan dengan jam pulang kerja Sapna. "Sapna, siapa?" tanya salah satu rekan kerja Sapna, memandang Arya.
"Pacar elo?" tebak yang lainnya. Apalagi semua pegawai di toko bunga tempat Sapna bekerja semuanya adalah perempuan.
Arya hanya diam. Tak ada niat sama sekali untuk memperkenalkan dirinya pada teman kerja Sapna atau menjawab pertanyaan mereka. Apalagi keadaan hatinya saat ini benar-benar kacau. Dirinya sangat malas untuk berbincang.
Sapna segera menggeleng untuk menepis tebakan teman kerjanya tersebut. "Bukan. Jangan ngaco. Dia saudara gue." sahut Sapna menyanggahnya, mengenalkan Arya sebagai saudara.
Sapna hanya tidak ingin terlalu ribet memperkenalkan Arya pada teman kerjanya. Sebab dia sendiri sebenarnya juga tidak terlalu akrab dan dekat dengan Arya.
Lagi pula, Sapna yakin jika Arya tidak akan marah jika Sapna menganggapnya atau memperkenalkannya sebagai saudaranya. Lagi pula, memang usia Sapna berada di atas Arya.
"Gue kira pacar elo." tukas teman kerja Sapna.
"Oke juga." timpal yang lain.
Sapna langsung melotot horor. "Jangan macam-macam. Dia masih duduk di bangku SMA." ujar Sapna mengingatkan.
Semua lantas tertawa pelan lalu mengangguk. "Oke. Kita duluan." pamitnya, meninggalkan Sapna dan Arya berdua.
"Sampai jumpa besok." seru teman kerja. Sembari melambaikan tangan, yang juga dibalas lambaian tangan oleh Sapna.
Sejujurnya, Sapna merasa tidak enak dengan teman kerjanya. Sebab Arya terlihat cuek dan tidak bersahabat sama sekali. "Tumben. Biasanya dia paling aktif." batin Sapna merasa heran.
Arya menatap Sapna dengan intens. Tentu saja Arya bingung, apa yang harus dia katakan pada Sapna terkait Gara yang saat ini sudah tidak bisa bersama mereka lagi. "Senyum lah Sapna. Tersenyumlah." batin Arya, sebab Arya yakin jika sebentar lagi air mata yang akan Arya lihat.
Sapna merasa, Arya terlihat aneh. Menatap dirinya dengan pandangan datar tanpa ekspresi. "Kenapa elo?" tanya Sapna heran.
"Ada yang ingin bu Bulan bicarakan." terpaksa Arya tidak mengatakan tujuannya datang ke tempat kerja Sapna.
Mana tega Arya mengatakan secara langsung. Lagi pula, dirinya juga tidak bisa mengatakannya. Terlalu sakit bagi Arya, mengingat sosok Gara yang meninggalkannya terlebih dahulu.
Sapna menatap bingung ke arah Arya. "Bulan. Kenapa? Dia dimana? Tumben nyuruh elo." cecar Sapna merasa aneh.
Arya dan Sapna, keduanya saling bersitatap. "Bulan baik-baik saja kan?" tanya Sapna dengan nada cemas.
Sapna tahu jika pekerjaan yang Bulan lakoni penuh dengan bahaya. Itulah kenapa Sapna langsung kepikiran dengan kondisi Bulan.
Arya mengangguk pelan. "Iya. Bu Bulan baik." tutur Arya menahan air matanya.
"Tapi Gara..." ucap Arya yang hanya berani dia katakan dalam hati.
Sapna merasa lega. "Syukurlah." tukas Sapna melihat ke arah jarinya yang sempat tergores pisau.
"Sedari tadi, perasan gue merasa nggak enak. Entah kenapa. Sampai-sampai gue nggak fokus kerja. Tapi gue berharap, itu hanya perasaan saja. Dan semua baik-baik saja." cicit Sapna tersenyum tulus.
Arya segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Dirinya tidak kuat melihat Sapna. "Sayangnya, apa yang elo rasakan benar. Sesuatu memang terjadi. Sesuatu yang sangat buruk." batin Arya.
__ADS_1
Arya mengedipkan kedua matanya dengan cepat. Dia tidak ingin air matanya sampai jatuh ke pipi. "Oke. Kita segera pergi. Kasihan bu Bulan menunggu." ajak Arya.
"Tapi mobil Bulan bagaimana?" tanya Sapna. Sebab selama bekerja, dia selalu memakai mobil Bulan. Dan Bulan lebih memilih memakai motor gede miliknya.
"Taruh saja di sini. Ayo cepat. Nanti bu Bulan marah." pinta Arya.
"Cckk,,, sebenarnya ada apa sih." gerutu Sapna, dengan perasaan kesal mengikuti langkah Arya. Masuk ke dalam mobil Arya. Dan meninggalkan mobilnya di area parkir toko bunga tempatnya bekerja.
Arya segera melajukan mobilnya. "Arya,,,,!! Pelan...! Gue belum mau mati...!!" seru Sapna sembari memakai sabuk pengaman.
"Arya...!!" bentak Sapna lagi, karena Arya sama sekali tidka mengindahkan perkataannya.
"Sudahlah. Elo tenang saja. Kita harus segera sampai." tukas Arya, fokus dengan jalanan di depannya.
Arya hanya tidak ingin jika mereka terlalu lama, dan Gara juga akan semakin lama untuk dimakamkan. "Maaf Sapna, gue nggak berani mengatakannya." batin Arya.
Sapna berpegangan luar pada pinggiran kursi. Berkali-kali Sapna melirik tajam ke arah Arya yang mengendarai mobil bagai seorang pembalap. "Tahu gini gue bawa mobil sendiri." gerutu Sapna.
"Sebenarnya ada apa sih? Elo katakan saja sekarang. Lagi pula nanti dan sekarang sama saja. Bukankah elo bilang Bulan baik-baik saja." omel Sapna yang sejujurnya merasa takut.
"Tuhan... Lindungi hamba. Arya,,, gue belum nikah sama Gara. Awas jika terjadi sesuatu. Gue laporin elo ke Gara." cicit Sapna merasa jantungnya berpacu karena Arya melajukan mobil bagai seorang pembalap.
Arya segera mengusap air mara di pipinya. Kembali fokus menyetir. Hatinya terasa panas mendengar perkataan Sapna. "Maaf Sapna,, maafkan kami." batin Arya, menyalahkan diri sendiri yang terlambat menyelamatkan Gara.
Sapna melongo dengan perasaan khawatir menyeruak di dalam hatinya saat Gara membelokkan mobilnya ke rumah sakit. Menghentikan mobil yang mereka naikin tepat di depan teras rumah sakit. Bukan di area parkir.
Arya segera keluar dari mobil. Memberikan kunci mobil pada petugas keamanan yang sudah bersiap serta berduri di samping mobilnya.
Dengan langkah yang enggan, Sapna juga menyusul Arya keluar dari mobil. "Ar,,, elo kok bawa gue ke sini?" tanya Sapna tak segera masuk ke dalam.
"Arya....! Siapa yang berada di sini?" tanya Sapna, merasakan ketakutan.
Arya hanya diam. "Bulan baik-baik sajakan?" tanya Sapna mendapat anggukan dari Arya.
Arya mendekat ke tempat Sapna. Mengambil tangan Sapna untuk dia gandeng. "Ayo. Mereka menunggu kita." tukas Arya.
Pikiran Sapna yang kosong, mengikuti kemana Arya membawanya. Sungguh, Sapna bingung bercampur rasa takut. Terlebih Arya terlihat menyembunyikan sesuatu.
Keduanya tak berbicara sepatah katapun. Arya berjalan di samping Sapna dengan mengandeng tangan Sapna. Seakan Arya tidak ingin melepaskannya.
Sapna segera melepaskan tangan Arya dan menghembuskan nafas lega tatkala melihat sosok Bulan yang sedang duduk di sebuah kursi bersama yang lain.
"Bulan..." panggil Sapna tersenyum, berjalan sedikit cepat supaya segera sampai di tempat Bulan.
Semua yang ada di sana terdiam. Mereka segera membuang wajah mereka. Tidak tega melihat apa yang akan terjadi dengan Sapna, jika dia mengetahui kebenarannya.
Sapna berhambur memeluk Bulan. "Syukurlah. Elo tahu, Arya sangat menjengkelkan. Dia hanya mengatakan jika elo ingin bertemu gue. Sumpah,,,, gue takut banget, elo kenapa-napa."
Sapna merasa lega melihat semuanya baik-baik saja. Dia duduk di samping Bulan. "Apalagi saat Arya membawa gue ke sini. Jantung gue rasanya berhenti berdetak. Gue takut elo kenapa-napa." Sapna kembali memeluk Bulan.
Sapna merasa ada yang aneh dengan Bulan. Bukan hanya Bulan, tapi semuanya. Perlahan, Sapna melepaskan pelukannya di tubuh Bulan. "Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Sapna pelan.
Sapna memandang satu persatu semua yang ada di sekitarnya. Tak ada satupun yang menatap ke arahnya. Juga dengan Bulan.
Baru Sapna sadari, jika mereka berada di depan ruang jenazah. "Bulan. Kenapa kalian di sini?" tanya Sapna antara penasaran dan takut.
__ADS_1
Nyonya Rindi mendaratkan pantatnya di kurai sebelah Sapna. "Tante." sapa Sapna.
Sapna sekarang benar-benar cemas, semua berkumpul denhan ekspresi sedih. "Mama... Mama baik-baik saja kan tante?" tanya Sapna langsung kepikiran tentang sang mama.
Pucuk di cita ulam pun tiba. Nyonya Irawan terlihat berjalan menuju ke arah mereka. Beliau dijemput oleh sopir dari keluarga Tuan David.
Tapi sebelumnya, Nyonya Rindi sudah menghubungi Nyonya Irawan. Menceritakan semua yang terjadi. Dan menginginkan beliau untuk berada di rumah sakit untuk mendampingi Sapna.
Sebab, Sapna pasti akan terpukul. Dan dia membutuhkan sosok sang mama. Bulan, dia tidak akan bisa menenangkan Sapna. Sementara keadaannya sendiri juga sama dengan Sapna. Sama-saka terpukul atas kepergian Gara.
Sapna kembali tersenyum lega melihat sang mama berjalan ke arahnya. "Lalu siapa yang kalian tunggu?" tanya Sapna.
Tidak terbesit sedikitpun nama Gara di dalam benaknya. Pasalnya, Sapna tahu jika Gara selalu berada di markas.
Nyonya Rindi kembali berdiri, memberikan tempat duduknya pada Nyonya Irawan. "Ma... Pasti mama tahu sesuatu. Apa terjadi sesuatu? Yang Sapna tidak tahu?" tanya Sapna.
Belum sempat Nyonya Irawan menjelaskan, seorang petugas rumah sakit keluar dari kamar jenazah. Memberitahukan pada mereka jika jenazah atas nama Gara sudah selesai penanganannya. Dan bisa dibawa pulang oleh pihak keluarga.
Sapna berdiri perlahan. Mendekat ke arah petugas rumah sakit. "Coba kamu bilang lagi. Siapa?! Gara?" tanya Sapna memastikan jika pendengarannya salah.
Kedua rahang Sapna mengeras sempurna. "Jaga ucapan anda...!!" bentak Sapna sembari menunjuk ke arah petugas rumah sakit.
Segera Nyonya Irawan dan Nyonya Rindi menenangkan Sapna. "Pergilah. Terimakasih." tutur Nyonya Rindi.
"Maaf." tukas Nyonya Irawan pada petugas rumah sakit.
"Tidak apa-apa Nyonya. Daya permisi dulu." pamit petugas rumah sakit.
"Ma.... Dia bicara ngawur. Mana ada jenazah Gara. Dia sekarang berada di rumahnya. Gara nggak akan mungkin keluar dari sana ma. Dia sudah berjanji pada Sapna, dia akan menjaga diri." cicit Sapna merasa kesal bercampur khawatir.
"Sapna...." kata Nyonya lirih sembari Irawan mengangguk pelan, menampilkan ekspresi sedih.
Sapna menggeleng tak percaya. Segera Sapna berjalan ke tempat Bulan yang duduk dengan menundukkan air mata.
Tubuh Sapna perlahan turun, dia berjongkok di depan Bulan. "Bulan. Katakan sesuatu. Bulan,,,, yang kalian tunggu bukan Gara kan. Bulan,,,,!!!" teriak Sapna histeris.
Mikel segera memeluk tubuh Sapna dari belakang. "Gara....!!!" teriak Sapna sembari menangis.
Nyonya Irawan tak kuasa melihat sang putri yang terpukul. Nyonya Rindi segera membawa Nyonya Irawan untuk duduk. Sebab di samping Sapna sudah ada Mikel.
"Sapna...." seru Mikel, merasa tubuh Sapna semakin melemah. Dan ternyata Sapna tidak sadarkan diri di pelukan Mikel.
"Bawa dia ke ruang rawat." pinta Tuan David.
Mikel menggendong Sapna, dengan Nyonya Irawan dan Nyonya Rindi mengekor dibelakangnya. "Papa pergi sebentar." pamit Tuan David.
Tentunya beliau ingin pihak rumah sakit tidak mengungkap penyebab meninggalnya Gara ke pihak luar. Apalagi Tuan David menebak jika mereka terlibat denhan organisasi ilegal.
Bulan menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Kedua pundaknya bergerak naik turun. "Menangislah sekarang. Setelah itu jangan biarkan Gara melihat air mata kalian lagi." ujar Jeno memeluk Bulan dari samping.
Jevo dan Arya melihat dengan sendu ke arah Bulan. Mereka paham, kesedihan yang dirasakan Bulan berkali-kali lipat denhan apa yang mereka rasakan.
Bulan mengurai pelukan Jeno. Menyeka air mata di pipinya. "Kita akan segera memakamkan Gara, setelah Sapna sadar." pinta Bulan.
Bulan merogoh ponsel dari saku celananya. "Kumpulkan mereka. Gue mempunyai tugas untuk kalian." perintah Bulan pada seseorang di seberang ponselnya.
__ADS_1
Jeno dan Jevo serta Arya hanya diam. Mereka bertiga tidak berani bertanya pada Bulan. Apalagi terlihat kedua mata Bulan yang penuh dengan kebencian.