PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 73


__ADS_3

"Dia adalah Gara." ucap Bulan.


Tanpa ditanya terlebih dahulu oleh anak didiknya, Bulan menjelaskan siapa lelaki yang datang dalam keadaan kritis bersamanya dan Jeno ke markas mereka.


Keempatnya mendengarkan apa yang dikatakan Bulan, juga dengan Jeno. Meski dirinya sudah tahu siapa Gara.


"Dia musuh terbesar saya. Kanan tangan dari pimpinan organisasi bawah tanah yang disegani. Tapi itu dulu." jelas Bulan, menjeda kalimatnya.


"Sekarang, Gara adalah sahabat saya. Kakak bagi saya." imbuh Bulan.


"Dulu musuh. Sekarang sahabat. Bagaimana bisa?" tanya Mikel penasaran.


Bulan menyandarkan punggungnya, menengadahkan kepalanya ke atas. "Mungkin takdir." cicit Bulan tersenyum.


Bulan sepertinya enggan menjelaskan secara detail. Entah karena apa. Tapi kemungkinan, Bulan hanya malas menceritakan masa lalunya. Apalagi, jika Bulan menceritakannya, pasti membutuhkan waktu panjang.


Dan bukan hanya itu, Bulan sangat tahu jika keempat lelaki berumur tujuh belas tahun tersebut pasti akan penasaran dengan hal lain. Sebab, jika Bulan menceritakannya, sudah dipastikan akan menyinggung ke cerita lain tentang kehidupannya yang memang rumit dan penuh masalah.


Suasana hening sesaat, entah apa yang ada di dalam pikiran mereka setelah perkataan yang terlontar dari mulut Bulan terkait Gara.


"Bagaimana misi kalian?" tanya Bulan, segera mengalihkan topik pembicaraan.


Arya berdiri, duduk di kursi yang berada di hadapan layar laptop. "Bu, ada sesuatu yang perlu bu Bulan lihat." tukas Arya, menampilkan ruangan dimana Jevo menemukan pintu rahasia di rumah Rio.


Bulan melihatnya dengan seksama. Juga dengan Jeno dan Mikel yang memang belum mengetahuinya. "Cari tahu perempuan yang masuk ke dalam itu." pinta Bulan.


Krik... krik... krik.... sangat hening.


Tak ada yang menyahuti perkataan Bulan. Sontak membuat semuanya menatap ke arah Arya. Termasuk Bulan. "Ada apa?" tanya Arya dengan polos, menatap mereka semua secara bergantian.


"Elo nggak dengar perintah bu Bulan. Selidiki." tekan Jevo.


Arya menunjuk ke arah wajahnya sendiri. "Gue." cicitnya.


"Ya iyalah elo, siapa lagi." kesal Mikel.


Arya menampilkan ekspresi aneh dan kebingungan. "Maksudnya bagaimana?" tanya Arya masih belum paham. Pasalnya, Arya selalu berada di depan laptop saat menjalankan misi.


"Lewat dunia maya Arya...!!" geram Jeno ikut merasa kesal layaknya Mikel.


Arya mengedipkan kedua matanya dengan lucu. "Apa gue bisa?" tanyanya ragu dengan kemampuannya sendiri.


"Arya...!!" seru Jevo tertahan, merasa jengkel dengan sahabatnya yang satu ini.


"Kelihatannya elo harus berguru pada Gara." celetuk Jeno, langsung mendapat tatapan dari Arya.


"Kenapa Gara?" tanya Arya dengan nada tidak terima.


Jeno mengangkat kedua jempol tangannya ke atas. "Dia is the best." ujar Jeno memuji sahabat dari perempuan yang disukainya.

__ADS_1


"Elo yakin?" tanya Arya ragu dengan apa yang dikatakan Jeno. Karena memang dirinya belum melihat kehebatan Gara.


"Sudah, jangan berdebat." ucap Bulan menengahi. "Mikel, coba lihat keadaan Gara." pinta Bulan.


Tanpa banyak bicara, Mikel segera berjalan ke ruangan di mana Gara berada. Segera Mikel kembali ke tempat Bulan. "Bu, sahabat bu Bulan membuka kedua matanya." seru Mikel.


Mereka langsung bergegas ke ruangan di mana Gara dirawat. "Gara..." panggil Bulan dengan kedua mata berkaca-kaca.


Gara tersenyum samar menatap Bulan, mengalihkan pandangannya ke ruangan. Gara melihat ada beberapa lelaki muda menatap ke arahnya.


Saat menatap Jeno dan Jevo, Gara hanya menautkan kedua alisnya. Lalu mengalihkan pandangannya. "Dimana gue?" tanyanya lirih.


"Di neraka." celetuk Bulan dengan santai.


"Sialan." dengus Gara, melepas selang yang berada di hidungnya.


"Aku kira kamu tidak selamat. Padahal kamu masih punya hutang." timpal Jeno tersenyum lega, karena Gara telah sadar.


Gara tersenyum samar. "Lelaki dan perempuan stress. Pasangan gila." lirih Gara mengumpat, tapi dengan senyum di bibir.


"Tidur saja, jangan bergerak dulu." saran Bulan, saat Gara ingin duduk.


"Apa ranjangnya tidak bisa sedikit di tegakkan?" tanya Gara.


Bulan mengangguk. Melakukan apa yang diminta Gara. "Haaahh.... Terimakasih, kalian datang tepat waktu." ujar Gara.


"Dia Jevo. Kembaran Jeno." jelas Bulan, Jevo tersenyum sembari mengangguk.


"Dia Arya, dan dia Mikel." pungkas Bulan.


Mereka hanya tersenyum dengan sedikit mengangguk, tanpa bersalaman. Sebab tangan kanan Gara masih terpasang infus.


"Salam kenal. Gue Gara. Panggil saja Gara. Meski umur gue di atas kalian."


"Baik." sahut mereka.


Gara memandang lurus ke depan. Mikel dan Arya segera mengambil kursi untuk mereka duduk, serta Jevo dan Jeno, juga untuk Bulan.


"Elo tidak memanggil diakan?" tanya Gara dengan sorot mata yang tidak suka.


Dia. Hanya Bulan dan Gara yang mengetahui siapa yang dimaksud Gara. Jeno pun juga tidak mengetahuinya.


Bulan menggeleng. Gara bernafas lega. "Elo harus ingat. Sekali pengkhianat. Akan tetap menjadi pengkhianat." tekan Gara dengan ekspresi kesal.


"Kamu baru saja sadar. Jaga emosi." ucap Bulan mengingatkan.


Gara mengangguk. "Bagaimana mereka bisa tahu, gue ada di sana?" tanya Gara.


Pertanyaan Gara, juga menjadi uneg-uneg di benak Bulan dan Jeno. Padahal, tempat dimana Gara berada sangat terpencil, dan tidak mudah ditemukan.

__ADS_1


"Bukan itu yang aku pikirkan." celetuk Bulan.


Bulan memandang Gara dengan serius. "Bagaimana mereka bisa masuk ke dalam?" tanya Bulan. Sebab, Bulan tahu bagaimana pengamanan yang di buat untuk jalur keluar masuk.


Bulan tahu, tidak sembarang orang bisa menerobosnya dengan mudah. Gara meraup wajahnya dengan kasar. "Itu salah gue."


"Maksud kamu?" tanya Jeno.


"Aku mengira kamu dan Bulan kembali lagi. Dengan santai, aku membuka pintu saat terdengar suara deru mesin tepat di luar pintu." jelas Gara terlihat menyesal.


"Gara.... Kenapa kamu begitu ceroboh." tukas Bulan.


"Maaf." cicit Gara.


Bulan dan Jeno bisa menebak, apa yang selanjutnya terjadi. Dengan kondisi fisik Gara, dapat dipastikan jika Gara kesulitan untuk kabur dari mereka.


"Bagaimana dengan mereka?" tanya Gara.


"Sudah berpindah alam." ujar Bulan dengan santai.


"Maaf,,, jika boleh bertanya. Siapa mereka?" tanya Jeno.


"Rekan kerja gue dulu. Bisa dikatakan, jika mereka adalah bawahan gue." Gara tersenyum getir.


Bulan menepuk pelan pundak Gara. "Tenang saja, mereka sudah berada di tempat yang tepat." ucap Bulan tertawa pelan.


"Jika begitu, aku akan menyiapkan sebuah kamar untuk Gara." celetuk Arya, yang memang selalu antusias mengubah dekorasi markas ini.


Semua tertawa mendengar apa yang diucapkan Arya. "Kenapa, memang ucapan gue salah?" tanya Arya dengan cemberut.


"Dia Arya, sebentar lagi akan jadi anak didik elo. Bagaimana?" tanya Bulan sembari memainkan kedua alisnya naik turun.


"Kita lihat saja, ada bakat atau tidak." canda Gara.


"Sepertinya tidak ada. Mencari informasi seorang perempuan saja tidak bisa." kesal Mikel.


"Sialan elo." umpat Arya memandang tajam Mikel.


Gara merasa jika anak didik Bulan sangat humble. "Sepertinya gue akan betah tinggal di sini." batin Gara.


"Apa kalian nggak apa-apa, jika gue tinggal di sini?" tanya Gara.


"Nggak apa-apa. Gue malah senang. Jika ada misi, gue nggak sendirian di markas." jelas Arya dengan jujur.


"Terimakasih." cicit Gara.


Tanpa sengaja, Gara memandang ke arah Jevo. Gara menaikkan sebelah alisnya, melihat Jevo sedang menatap Bulan, yang menurutnya ada sesuatu dalam tatapan mata Jevo saat memandang Bulan.


"Semoga apa yang gue pikirkan tidak benar." batin Gara, mengalihkan pandangannya kepada Jeno dan Bulan.

__ADS_1


__ADS_2