PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 201


__ADS_3

Tangan Jeno tak pernah melepaskan genggamannya pada telapak tangan Bulan. Begitu juga dengan Bulan. Sehingga membuat keduanya saling menggenggam satu sama lain.


Beberapa kali, Jeno mengecup pelan punggung telapak tangan sang kekasih dengan lembut. Menatap penuh cinta pada rembulan di sampingnya yang bersinar dengan indah.


"Jadi pengen cepat lulus SMA." cicit Jeno mendapatkan senyum dari Bulan.


"Memang kenapa kalau sudah lulus SMA?" tanya Bulan yang sebenarnya bisa menebak kemana arah pembicaraan mereka.


"Aku akan segera meminang kamu. Sehingga kita akan menjadi pasangan sah agama dan negara. Hidup dalam satu atap. Rasanya sangat menyenangkan."


"Memang boleh secepat itu?"


"Kenapa tidak."


"Kamu kan harus kuliah dulu, Jeno." tutur Bulan, tidak ingin Jeno mendapatkan pendidikan hanya sampai jenjang SMA.


Apalagi, keluarga Jeno adalah keluarga yang sangat mampu untuk menyekolahkan kedua putra mereka ke universitas manapun. Ditambah otak encer sang putra yang pasti akan membuat Tuan David dengan senang hati memenuhi keinginan mereka berdua untuk kuliah dimanapun tempatnya.


"Aku akan tetap kuliah. Kamu jangan khawatir." jelas Jeno, menepis rasa khawatir dari sang kekasih.


"Lagi pula, malulah aku kalau hanya lulusan SMA. Masa istrinya duduk di kursi mentereng, suaminya hanya lulusan SMA. Meskipun aku bisa mengandalkan kekayaan papa aku. Tetap saja, aku ingin kamu bangga dengan aku, karena usaha aku sendiri." lanjut Jeno.


Bulan tersenyum. "Aku percaya, kamu bukan pemuda seperti itu. Parasit. Tapi apa iya, kamu mau menikahi aku saat kamu masih kuliah. Berat lo." tukas Bulan dengan pelan memberi sedikit pengertian.


Jeno tahu, alasan Bulan mengatakan hal tersebut. Sebab seseorang yang sudah berumah tangga akan mempunyai tanggung jawab yang lebih berat dan besar.


Apalagi bagi lelaki, yang akan menjadi kepala rumah tangga. Pasalnya, dia harus memenuhi kewajibannya sebagai seorang kepala rumah tangga.


Dan kewajiban tersebut bukan melulu hanya perkara ranjang. "Berat di mana. Biaya. Uang?" tanya Jeno dengan memainkan jari jemarinya yang bebas di pundak Bulan yang terlihat begitu mulus dan menggoda untuk disentuh.


Bulan mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan Jeno. "Serta pikiran. Aku takut, kamu malah akan stres. Karena pikiran kamu terbagi-bagi."


Jeno melepaskan tautan tangan mereka. Mengubah sedikit posisi duduknya menjadi menyamping. Memegang kedua pundak Bulan, membawanya menghadap pada dirinya. Membuat keduanya bertatapan langsung.


"Apa kamu tidak mau membantu aku?" tanya Jeno dengan senyum manisnya.


Bulan mengangguk. "Bukankah aku sudah bekerja. Aku bisa menghasilkan uang. Jadi, kamu tinggal kuliah. Begitu bukan?" tanya Bulan, menebak apa yang ada dalam benak Jeno.


Jeno menjawil hidung mancung sang kekasih karena merasa gemas. "Bukan seperti itu. Itu artinya, aku malah akan menyusahkan kamu. Membuatku terlihat, sebagai beban dalam hidup kamu. Yang ada aku terlihat sebagai parasit."


"Bukankah pasangan memang saling mendukung." cicit Bulan, tidak suka jika Jeno menganggap dirinya mengira keberadaan Jeno di samping dirinya hanya sebagai parasit.


Cup.... Jeno mengecup singkat bibir Bulan. "Jeno." Bulan memukul dada Jeno sembari melirik ke depan. Dimana ada sang sopir di kursi depan.


"Malu." ujar Bulan tanpa mengeluarkan suara, hanya membuka mulutnya.


"Kenapa harus malu. Hanya mencium saja." sahut Jeno tak mau disalahkan.


"Oke. Kembali lagi. Jika kamu bekerja, aku kuliah. Malulah sayang, sama keluarga kamu. Disangkanya aku hanya menikahi kamu karena ingin memanfaatkan kamu." lanjut Jeno.


"Tidak begitu. Kenapa memanfaatkan aku. Keluarga kamu saja sangat kaya. Uang Om David lebih banyak dari pada uangku." ujar Bulan serius.


"Dengar sayang." Jeno meletakkan tangannya di belakang leher Bulan, membawa kepala Bulan untuk saling menyatukan kedua dahi mereka.


"Aku sudah berbicara dengan papa. Seandainya kita menikah setelah aku lulus SMA, Papa akan tetap membiayai semua biaya kuliah aku. Sebab papa mengatakan jika itu masih menjadi tanggungannya. Tapi tidak dengan biaya rumah tangga kita." tukas Jeno.


"Bisakah kita berbicara biasa saja?" pinta Bulan merasa aneh berbicara dengan menyatukan kening mereka.


"Sepeti sedang mentransfer pikiran saja." lanjut Bulan, membuat Jeno tertawa lepas. Yang akhirnya keduanya duduk dengan santai.


"Kamu ini,,, padahal aku ingin membuat momen yang romantis. Malah kamu kacau kan." ujar Jeno masih dengan sisa tawanya.


Bulan menahan senyum dengan mulut cemberut. "Tapi memang nggak nyaman saja." cicit Bulan menahan senyumnya.


Kenyatannya, iman Bulan tidak sekuat itu. Entah kenapa, saat melihat bibir menggoda nan seksi milik Jeno, Bulan sangat ingin **********.


Dan mana mungkin dia memulainya, berinisiatif lebih dulu mencium brutal pada bibir Jeno. Apalagi keduanya masih berstatus pacaran. Malulah Bulan. "Mesum." batin Bulan teringat bibir Jeno.


"Bagus dong. Papa kamu membiayai kuliah kamu. Lalu uang aku untuk biaya rumah tangga kita. Beres. Kamu bisa fokus kuliah." tukas Bulan yang memiliki pemikiran sederhana.


Jeno menepuk pelan dahinya. "Aku juga akan bekerja sayang. Mana tega aku makan dari hasil keringat kamu. Nggak laki banget." sahut Jeno, menolak apa yang dikatakan Bulan.


"Om David mau memberikan perusahaan anak cabang pada kamu. Atau, akan memberikan kamu bisnis beliau yang lainnya." tebak Bulan, mendem kata jika Jeno akan bekerja.


Jeno kembali merangkul Bulan, mengelus pelan pundak sang kekasih yang mulus. "Wangi banget sih kamu." celetuk Jeno tiba-tiba, mencium satu pundak Bulan yang berada tepat di sebelahnya.

__ADS_1


"Kamu itu. Jawab dulu napa." ujar Bulan berpura-pura ngambek.


"Nanti kamu juga akan tahu." sahut Jeno, memegang gemas dagu Bulan.


Bulan tahu, jika percuma dia bertanya panjang lebar pada Jeno. Yang ada dia malah akan semakin penasaran. Contohnya sekarang ini, hingga detik ini, dia tidak tahu akan dibawa oleh Jeno kemana.


"Belum mau sampai? Apakah masih lama?" tanya Bulan, merasa jalan yang dia lalui sangatlah gelap dan sepi.


"Mana gue nggak bawa senjata apapun." batin Bulan khawatir. Jika terjadi sesuatu. Semua senjatanya, Bulan taruh di dalam ruang ganti. Di dalam laci.


Saking gugupnya ingin bertemu sang pujaan hati, Bulan bahkan sampai lupa membawa senjata yang selalu menemani dirinya kemanapun dia pergi.


"Sebentar lagi akan sampai. Sabar dong sayang." sahut Jeno masih betah menghirup wangi tubuh Bulan dengan mencium pundak Bulan yang polos tanpa tertutup sehelai benangpun.


Bulan merasakan jika mobil yang dia naiki semakin memperlambat lajunya. "Tempat apa ini." cicit Bulan dalam hati, melihat keluar mobil dengan menoleh ke arah samping.


Gelap. Bahkan sama sekali tidak ada lampu. Hanya lampu sorot dari mobil yang dia naiki. Jeno turun dari mobil terlebih dulu. Sedangkan sang sopir tetap berada di dalam mobil.


Pintu di samping Bulan terbuka. "Silahkan tuan putri." tukas Jeno, mengulurkan tangannya untuk membantu sang kekasih keluar dari dalam mobil.


Bulan menerima uluran tangan Jeno. Tangannya yang bebas, mengangkat sedikit gaun menjuntai yang dia kenakan.


"Pelan-pelan. Tidak perlu tergesa." ujar Jeno tidak ingin Bulan sampai terjatuh.


Saat kedua kakinya berdiri sempurna di luar mobil. Bulan merasa jika apa yang ada di bawah high hell nya bukanlah tanah atau jalan beraspal. Melainkan rumput.


"Ayo." Jeno mengapit tangan Bulan di dalam lengannya. Membantu Bulan berjalan menjauh dari mobil.


"Tempat apaan sih. Gue pikir Jeno akan bawa gue ke restoran atau gedung." batin Bulan, menebak dengan menyesuaikan gaun serta jas yang dipakai olehnya dan Jeno.


Meski sebenarnya Bulan juga tidak masalah di bawa ke warung pinggir jalan sekalipun.


Bulan menahan langkah kaki Jeno dengan tidak melanjutkan langkah kakinya. "Jeno,,,!! Katakan. Apa yang mau kamu lakukan? Dan ini dimana?" tanya Bulan merasa cemas.


Bukan tanpa alasan Bulan merasa cemas dan bertanya seperti itu. Dia bisa mengendus beberapa harum wangi yang berbeda di sekitarnya.


Selain itu, Bulan merasakan ada orang lain di sekitarnya. Bukan hanya satu atau dua orang. Tapi lebih dari sepuluh. Dan Bulan yakin, instingnya tidak pernah salah meski dia tidak bisa melihat.


Satu lagi yang membuat Bulan cemas. Bahwa dirinya tidak membawa senjata apapun sebagai pelindung diri.


Jeno tersenyum. Tahu jika sang kekasih saat ini sedang tegang bercampur cemas. "Percaya dengan aku. Semua akan baik-baik saja. Okey." Jeno mencoba menenangkan Bulan.


"Berjalan sebentar lagi, ke arah sana." Jeno menunjuk ke arah depan mereka. "Kurang lebih sepuluh langkah. Dan tempat ini tidak akan segelap ini." pinta Jeno.


Bulan menghela nafas panjang. Antara kesal dan cemas bercampur jadi satu. "Sebenarnya apa yang mau kamu lakukan?" tanya Bulan dengan nada kesal.


"Makanya, kita ke sana dulu. Kamu akan tahu setelah kita berada di sana." bujuk Jeno, merayu sang kekasih.


"Jangan marah-marah dong sayang." cicit Jeno tersenyum melihat sikap Bulan.


Seperti sebelumnya, Bulan hanya bisa pasrah. Meski begitu, Bulan tetap waspada saat Jeno mengajaknya semakin jauh melangkah ke depan.


Bulan menghentikan langkahnya, saat Jeno juga menghentikan langkahnya. Dan...Tralala..


Bulan melongo dengan kedua mata memandang takjub apa yang berada di sekitarnya saat cahaya lampu menyala. Menerangi sekitar mereka. Sangat indah. Sebab Bulan berada di hamparan rumput yang telah disulap dengan begitu indah oleh Jeno.


Bulan melihat sekeliling dengan seksama. Begitu banyak berbagai macam bunga di sekitarnya, dengan lampu-lampu yang sudah menyala terletak diantara bunga-bunga yang indah. Tak hanya itu, Bulan melihat sebuah meja berbentuk lingkaran dengan dua kursi.


Bulan masih takjub dan tidak percaya. Kedua matanya seakan masih menikmati apa yang tersaji di sekitarnya. Jeno hanya tersenyum senang, melihat kejutan yang dia berikan berjalan dengan lancar.


Terlebih, saat Jeno melihat sang kekasih yang tampak senang dan juga terkejut. "Suka?" tanya Jeno, membuyarkan fokus Bulan.


Bulan menatap ke arah Jeno dengan binar kebahagiaan yang terpancar di kedua matanya. Bulan mengangguk. "Terimakasih. Sangat indah."


Dan... Dor.... Dor..... Beberapa kembang api meletus di atas. Menyempurnakan kejutan yang memang disengaja oleh Jeno.


Jeno berjalan melangkah ke depan. Memeluk tubuh Bulan dari belakang. "Meski kamu bilang tidak suka dengan kembang api, tapi aku tetap menyalakannya untuk kamu." cicit Jeno tepat di samping telinga Bulan.


Bulan memegang tangan Jeno yang berada di depan perutnya. Keduanya menikmati indahnya letusan kembang api yang berada di atas. "Kapan aku mengatakannya?" tanya Bulan.


"Tadi, saat di pantai." goda Jeno.


Bulan memukul pelan lengan Jeno. "Jangan bercanda. Kamu tahu kenapa aku mengatakan hal tersebut." cicit Bulan malu.


Jeno mengusapkan pipinya ke pipi Bulan. Mengeratkan pelukan tangannya di perut Bulan. "Sumpah, awalnya aku takut saat kamu marah sayang. Tapi setelah aku tahu kamu cemburu, rasa takutku langsung hilang. Berganti dengan perasaan senang." tukas Jeno.

__ADS_1


"Jahat." ujar Bulan dengan manja.


"Tapi aku suka melihat rasa cemburu kamu." Jeno membawa kepala Bulan untuk menoleh ke samping. Dan cup... Jeno perlahan meletakkan bibirnya pada bibir seksi yang menggoda milik Bulan.


Bulan memejamkan kedua matanya. Menikmati dan merasakan apa yang Jeno berikan padanya, di bawah letusan kembang api.


Sekitar satu menit, Jeno menyudahi ciuman hangat tersebut. Jari jemarinya mengusap bekas saliva yang ada di sekitar bibir Bulan. "Kita duduk. Pasti kamu lapar. Karena dari tadi merasa penasaran."


Bulan kembali memukul pelan lengan Jeno. "Kamu." kata Bulan menahan senyum bahagianya.


Sungguh, malam indah yang tidak terlupakan. Mungkin itulah yang ada dalam benak Bulan. Padahal, masih ada beberapa kejutan yang siap di berikan oleh Jeno setelah ini.


Jeno menggandeng lengan Bulan. Membawanya serta membantu sang kekasih untuk duduk di kursi. Lalu, Jeno berjalan beberapa langkah untuk menuju kursinya sendiri.


Dua orang dengan penampilan rapi datang. Menurunkan dua buah gelas kosong di atas meja. Serta sebuah botol minuman yang masih tersegel di atas meja.


Sedangkan satunya lagi, menurunkan dua piring berukuran sedang berisi kue di atas meja. Satu dihadapan Jeno, dan satunya lagi di hadapan Bulan.


Selesai, keduanya pergi meninggalkan meja tersebut. Dan sekarang giliran Jeno mengambil botol tersebut. Setelah membukanya, dia menuangkan sedikit air di dalam botol ke gelas Bulan dan juga gelasnya sendiri.


Bulan hanya diam tanpa bertanya. Menyaksikan apa yang Jeno lakukan. "Terang saja sayang. Kita tidak akan mabuk meski habis satu botol sekalipun." tukas Jeno, sebelum Bulan bertanya.


Bulan mengangguk dengan senyum yang tidak pernah hilang dari bibirnya. "Selamat makan." tutur Jeno.


Keduanya makan kue yang ada di hadapan mereka. Setelah kuenya habis, Bulan dan. Meminum sedikit air dari gelas.


Kembali, satu orang datang. Menaruh makanan di atas meja. Dan mengambil dua piring kosong. "Kok hanya satu?" tanya Bulan.


Jeno mendekatkan piring berisi makanan ke pada dirinya. Mengambil sendoknya dan menyuapkannya pada Bulan. "Bukankah seperti ini lebih romantis." cicit Jeno.


Bulan mengangguk, membuka mulutnya. Menerima suapan dari Jeno. Dan setelah itu, Jeno menyuapkannya pada dirinya sendiri. Begitulah seterusnya hingga makanan di piring habis tak tersisa.


Bulan melihat ada beberapa orang yang memakai pakaian rapi datang mendekat dan berbaris. Di tangan mereka ada beberapa alat musik.


Sepertinya Bulan bisa menebak apa yang Jeno inginkan. Pasalnya, Jeno sudah berdiri di sebelahnya. Mengulurkan tangan kirinya, dan menyimpan tangan kanan di belakang tubuh. Serta sedikit membungkukkan badan.


"Dengan senang hati. Tapi maaf, jika calon istrimu ini tidak pandai berdansa." tutur Bulan sembari menerima uluran tangan Jeno.


"Tidak masalah. Calon suamimu ini akan mengajarinya dengan baik." sahut Jeno sembari mengerlingkan sebelah matanya.


Keduanya berdansa dengan iringan musik romantis yang sangat enak di dengar oleh telinga. "Kamu cantik sekali sayang." puji Jeno memandang lekat ke wajah sang kekasih yang ada di hadapannya.


"Dan terimakasih. Sedari tadi aku terlalu banyak menyimpan pujian itu." sahut Bulan tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya, karena Jeno selalu memujinya.


Keduanya berdansa lebih dari lima menit. Saat musik berhenti, Jeno melepaskan pelukan tangannya di pinggan Bulan. Melangkah mundur, memberi jarak antara dirinya dan Bulan.


Jeno merogoh ke saku jas yang dia pakai. Sebuah kotak perhiasan berada di tangannya. Jeno membukanya. Sebuah kalung berada di dalamnya, dengan liontin sederhana berbentuk bunga oval sedikit lonjong.


Seorang lelaki segera mendekat ke arah Jeno. Mengambil kota perhiasan yang sudah kosong. Sebab kalung tersebut sudah berada di tangan Jeno.


Bulan menutup mulutnya tak percaya. Kedua matanya berkaca-kaca. "Sangat indah. Seperti yang memakai." puji Jeno, setelah dia memakaikan kalung tersebut di leher Bulan.


"Jeno." cicit Bulan langsung berhambur memeluk sang kekasih.


Semua orang yang berada di sekitar mereka menyingkir satu persatu. Meninggalkan sepasang kekasih yang sedang berpelukan mesra.


Jeno menangkup kedua pipi Bulan. "Aku tidak mau ada air mata sayang." tutur Jeno.


Jeno mengecup kedua mata Bulan dan kedua pipi Bulan bergantian. "Sangat indah." Bulan memegang liontin yang ada di kalung tersebut.


"Kamu sendiri yang mempersiapkannya?" tanya Bulan melingkarkan tangannya di leher Jeno.


"Iya, semua ini dipersiapkan dadakan. Tapi tidak dengan yang satu ini." ujar Jeno menatap ke leher Bulan.


"Kapan?" tanya Bulan penasaran. "Jawab, jangan buat aku penasaran. Lama-lama aku kenyang karena rasa penasaran." lanjut Bulan dengan cemberut, tapi tetap saja Jeno melihat ada senyum di sana.


Jeno menggesek-gesakkan hidung mancungnya ke hidung sang kekasih. "Aku sengaja memesan khusus sekitar satu bulan yang lalu. Lihatlah, apa yang ada di dalam liontin itu." pinta Jeno.


Bulan segera memindahkan tangannya untuk menyentuh liontin kalung yang sudah melingkar di lehernya. "Ada huruf kecil di dalamnya. J dan B. Cantik sekali." ujar Bulan terharu.


"I love you. Terimakasih atas kejutan ini. Aku benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan semua ini. Kamu tahu, aku sangat bahagia. Sungguh."


Kedua tangan Bulan terulur mengelus pipi Jeno, perlahan dan pasti semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Jeno. Meletakkan bibirnya ke bibir Jeno.


Dan ini untuk pertama kalinya Bulan memberanikan diri melakukannya atau berinisiatif lebih dulu untuk mencium Jeno.

__ADS_1


Pastinya, Jeno tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan mata. Tangan kanan Jeno berada di belakang leher Bulan, dengan yang satunya berada di pinggang Bulan.


Keduanya larut dalam kemesraan di bawah letusan kembang api yang kembali menyala di atas.


__ADS_2