
"Bagaimana. Apa elo tahu siapa dia?" tanya Rio pada temannya yang dia mintai tolong untuk menyelidiki lelaki yang tengah dekat dengan Bulan.
Teman Rio menyodorkan selembar kertas dan juga beberapa foto pada Rio. "Elo lihat sendiri. Siapa saingan elo." sahutnya dengan ekspresi datar.
Tangan Rio segera meraih apa yang disodorkan oleh temannya tersebut. Hal pertama yang menjadi fokusnya adalah foto-foto Jeno yang memakai seragam SMA, terlihat begitu culun.
Kedua alis Rio naik ke atas. "Dia masih SMA. Apa benar dia?" lirih Rio menatap temannya dengan tatapan tak percaya.
Terlebih dirinya baru saja bertemu dengan Jeno. Tampilannya yang sangat berbeda dengan apa yang ada di foto.
"Memang kenapa? Dia sepertinya sengaja berpenampilan culun saat di sekolah." tukas teman Rio.
"Elo lihat semua." lanjut temannya tersebut, meminta Rio melanjutkannya untuk melihat semua foto yang dia berikan.
Kedua mata Rio membelalak sempurna melihat apa yang ada di dalam foto. "Tuan David." lirihnya kembali melihat kepada temannya.
Dimana ada foto Jeno bersama Tuan David. Bukan hanya dengan sang ayah. Tapi juga dengan Nyonya Rindi serta saudara kembarnya, Jevo.
Teman Rio mengangguk, membenarkan apa yang Rio katakan. "Benar. Jeno. Salah satu putra kembar dari Tuan David dan Nyonya Rindi. Dia mempunyai saudara kembar. Bernama Jevo. Satu lagi. Dia memang masih berseragam SMA. Baru saja menjalani ujian kenaikan kelas. Bulan depan, dia duduk di kelas tiga SMA." jelasnya dengan detail.
Rio meletakkan kembali kerta di tangannya ke atas meja. Lalu tersenyum getir. "Anak SMA. Kelas tiga. Bulan, seorang seperti dia menjalin hubungan dengan lelaki yang lebih pantas menjadi adiknya."
Rip menatap ke arah temannya dengan lekat. Ada rasa tak percaya dengan penyelidikan yang dilakukan temannya tersebut.
Sulit bagi Rip untuk percaya dengan apa yang dijelaskan oleh temannya. "Apalagi yang elo dapatkan?" tanya Rio mendapat gelengan dari temannya tersebut. "Tidak ada." jawabnya.
"Foto Bulan dan Jeno sedang berdua, atau keluar bersama." ujar Rio.
Teman Rio menggelengkan kepala. "Nihil."
Rio menyugar kasar rambutnya ke belakang. "Kenapa? Bagaimana bisa? Perempuan seperti Bulan, menyukai lelaki muda seperti Jeno. Apa yang dia cari." ucap Rio merasa penasaran.
Ditambah tak ada bukti yang menunjukkan jika antara Bulan dan Jeno menjalin hubungan. Membuat Rio semakin bingung.
"Mungkin karena uang. Harta. Jabatan. Atau bisa jadi kekuasaan. Seharusnya elo tahu, siapa Tuan David. Perempuan mana yang tidak mau menjadi menantunya." ujar teman Rio menebak.
"Tapi kenapa elo tidak menemukan satu buktipun, jika Bulan menjalin hubungan dengan Jeno?" kekeh Rio masih sulit untuk percaya.
Teman Rip mengangkat kedua pundaknya. Sebab memang tak ada apapun yang dia peroleh sebagai bukti keduanya mempunyai hubungan.
Sulit juga untuk Rio menebak apa yang sebenarnya diinginkan oleh Bulan. Apalagi dirinya belum mengenal sosok Bulan.
Rio menyukai Bulan karena terpesona dengan paras cantik Bulan serta bentuk tubuh Bulan yang begitu digilai banyak lelaki. Bahkan, para perempuan juga iri akan apa yang ada pada diri Bulan.
Tak lebih dari itu. Sehingga Rio sama sekali tidak mengetahui kepribadian dari Bulan dan wataknya. Bahkan Rio juga sama sekali belum tahu apapun tentang Bulan.
"Apa menurut elo dia perempuan matre?" tanya Rio meminta pendapat temannya.
"Ayolah Rio,,, jaman sekarang mana ada perempuan yang tidak membutuhkan uang. Bagi mereka uang adalah segalanya. Pikir,,, benar tidak." tuturnya sembari tertawa pelan.
"Tapi dia mempunyai pekerjaan yang menjanjikan." sahut Rio berpikir jika Bulan menjalin hubungan dengan Jeno bukan karena uang.
Apalagi pasti dengan pekerjaan seperti itu, Bulan mendapat gaji yang lumayan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
"Benar juga. Mungkin kekuatan dan kekuasaan. Elo seharusnya lebih paham dari gue. Dengan kedudukan yang Bulan tempati sekarang, apa yang dia perlukan?" tanya teman Rio, seakan menggiring opini jika Bulan membutuhkan orang yang berkuasa di sampingnya untuk mengkokohkan apa yang dia miliki saat ini.
Rio terdiam. Dalam benaknya masih berperang dengan hebat mengenai hubungan Bulan dan Jeno. Dan juga menebak kepribadian seorang Bulan.
Disaat pikirannya masih menebak apa yang terjadi antara Bulan dan Jeno, temannya malah mengeluarkan ucapan yang membuatnya semakin bimbang.
"Kira-kira, apa Tuan David mengetahui hubungan mereka. Apalagi, gue sama sekali tidak pernah mendengar Tuan David membicarakan pasangan putra-putra mereka." tutur teman Rio semakin menambah bingung pikiran Rio.
"Entahlah...." tukas Rio merasa bingung, dan tak bisa berpikir jernih lagi.
"Bagaimana dengan Bulan?" tanya Rio.
__ADS_1
"Dia berasal dari desa. Keluarganya bahkan tinggal di rumah sederhana. Bisa gue tebak, jika Bulan memang sengaja mendekati Jeno. Dilihat dari kesenjangan kekayaan antara keluarga mereka." paparnya sok tahu.
Rio memejamkan kedua matanya sembari memijat pangkal hidungnya. "Elo benar-benar menyukai Bulan?" tanya teman Rio.
Segera Rio membuka kedua matanya mendengar apa yang ditanyakan oleh temannya tersebut. "Jika memang Bulan tipikal perempuan matre, elo akan dengan mudah mendapatkannya. Elo paham maksud guekan?" ujarnya sembari memainkan kedua alisnya naik turun.
Rio memiliki kekayaan yang tak ternilai, yang dia warisi dari almarhum sang papa. Bisa dikatakan, sebentar lagi dia akan masuk ke dalam jajaran pengusaha muda. Serta wajah tampan dan bentuk badan yang memang diincar oleh kaum hawa.
Rio masih diam. Mencerna perkataan temannya tersebut. "Dan juga, gue yakin. Tuan David pasti tidak akan setuju dengan hubungan mereka. Gila saja,,, masa usia perempuannya di atas putranya. Pasti malulah dia." cerocos teman Rio.
Menebak jika kedua orang tua Jeno belum mengetahui hubungan keduanya. "Gue akan bantu elo. Jika elo memang serius mendekati Bulan. Bagaimana?" tanyanya berharap Rio menjawab tawarannya dengan kata oke.
Rio menatap lekat ke arah temannya tersebut. Tentu saja Rio semakin merasa penasaran. Apalagi setelah mengetahui sosok Jeno. Dan berasal dari keluarga siapa Jeno sebenarnya.
"Oke." sahut Rio, sesuai apa yang diharapkan temannya.
"Oke....!! Gue akan bantu elo. Tenang saja." ujarnya tersenyum senang.
Tanpa Rio sadari, ada maksud tersembunyi dari temannya tersebut dengan menawarkan bantuannya. Terlihat dengan jelas kedua mata mesumnya saat melihat foto Bulan.
Jam sudah menunjukkan waktu kerja Bulan sudah selesai. Sesuai janji, dia mengirim pesan tertulis pada Jeno. Mengatakan jika dirinya akan pulang.
Bulan tak ingin membuat dirinya dalam masalah jika tidak menempati janjinya pada Jeno. Dimana dia mengenal Jeno sebagai sosok yang semaunya sendiri.
Tiiitt...... Terdengar suara bunyi klakson mobil di area parkir tempat kerja Bulan. Seorang lelaki muda memperlihatkan wajahnya yang tampan di jendela mobil yang sudah terbuka.
Bulan tersenyum, berjalan dengan tenang ke arah Jeno. Dengan segera Jeno keluar dari mobil. "Silahkan my princess." tuturnya, membukakan pintu mobil untuk Bulan.
"Makasih sayang." sahut Bulan dengan mengerlingkan sebelah matanya, mampu membuat Jeno melongo.
"****...!! Suara kamu sayang,, bikin aku pengen melakukan hal lebih." tukas Jeno.
"Pak sopir,, tutup pintunya." pinta Bulan bercanda, sebab Jeno masih membuka pintu mobilnya. Meski Bulan sudah duduk di dalamnya.
Beberapa bawahan Bulan yang berada di depan kantor melihat apa yang Jeno lakukan. Sontak, para perempuan iri dengan perhatian kecil yang diberikan Jeno pada Bulan.
"Kita ke rumah dulu. Mama pengen ketemu kamu." ajak Jeno sambil memakai sabuk pengaman.
"Jangan. Lihat, aku saja masih memakai seragam kerja. Bau lagi." tolak Bulan sembari mencium bau badannya sendiri.
Bulan merasa kurang pantas bertamu ke rumah calon mertua dengan keadaannya saat ini. "Tidak apa-apa. Mama yang meminta. Katanya dia ingin melihat kamu memakai seragam kerja."
Bulan menatap Jeno dengan menyelidiki. "Bohong." ketus Bulan, mencium bau kebohongan pada perkataan Jeno.
Jeno sedikit mencondongkan badannya ke tempat Bulan duduk. Menghirup dengan semangat bau yang tersebar dari tubuh Bulan. "Wangi... Siapa bilang kamu bau" cicit Jeno mengalihkan perhatian Bulan.
"Dasar. Ayo cepat jalan." ajak Bulan menyembunyikan raut wajahnya yang memerah karena gombalan Jeno.
Di perjalanan pulang, tanpa sengaja kedua mata Bulan melihat Sapna yang berdiri di pinggir jalan dengan pandangan jauh ke depan seperti orang yang sedang melamun. "Berhenti. Bukankah itu Sapna?" Bulan menatap ke arah dimana Sapna berada.
Jeno tidak menghentikan laju mobilnya. Dia hanya memperlambat lajunya saja. "Benar. Kenapa dia di sana?"
Tanpa bertanya pada Bulan, Jeno melajukan mobil di mana Sapna berdiri. Sebab Jeno tahu apa yang Bulan pikirkan dan inginkan.
"Kamu di dalam saja." pinta Bulan keluar dari mobil.
"Masuk....!!" seru Bulan, menarik tangan Sapna untuk masuk ke dalam mobil. Keduanya duduk di belakang mobil, meninggalkan Jeno sendiri di kursi depan.
"Sapna." panggil Bulan, melihat Sapna seperti orang linglung.
"Antar kita pulang saja." pinta Bulan pada Jeno, melihat keadaan Sapna yang tidak baik-baik saja.
"Jangan. Nanti tante Irawan malah khawatir. Apalagi kita belum tahu apa yang terjadi dengan Sapna." saran Jeno.
"Bagaimana dia bisa ada di sini. Padahal tadi pagi aku mengantarkan dia ke perusahaan dimana dia dipanggil untuk wawancara kerja." jelas Bulan.
__ADS_1
"Ke rumah aku saja. Di sana ada mama. Mungkin mama bisa membantu." saran Jeno yang diangguki oleh Bulan. Sebab Bulan tidak mempunyai cara lain lagi.
Sapna masih diam, dengan pandangan kosong. Tampak ekspresi wajah Sapna yang terlihat begitu tertekan.
Bulan membawa tubuh Sapna ke dalam pelukannya. "Tenang. Ada aku di sini. Semua akan baik-baik saja." lirih Bulan menenangkan Sapna.
Jeno melihat keduanya dari kaca pantau. Pandangannya tertuju pada sang kekasih yang terlihat khawatir. "Tenang sayang, semua akan baik-baik saja." tukas Jeno menenangkan Bulan.
Bulan mengangguk. Mengurai pelukannya terhadap Sapna. Menangkup kedua pipi Sapna untuk diarahkan pada wajahnya.
"Semua baik-baik saja." lirih Bulan.
Tiba-tiba Sapna menangis, memeluk erat Bulan. "Menangislah. Menangislah."
Bulan bernafas lega melihat Sapna menangis tersedu. Setidaknya Sapna tidak terdiam dengan tatapan kosong.
Jeno dan Bulan saling bersitatap melalui kaca pantau yang ada di depan Jeno. Keduanya saling tersenyum.
Sementara di markas, Gara duduk sendiri di depan layar. Memandang lekat gambar wajah seorang perempuan yang berada di layar.
"Gue harus membunuh hati ini. Gue tidak pantas bersanding dengan perempuan manapun." tutur Gara dengan nada perih.
Gara sadar. Jika selamanya dirinya akan bersembunyi dari dunia. Ditambah fisiknya yang tidak normal seperti lelaki lainnya.
"Seandainya gue nggak cacat, gue pasti tidak akan mengurung diri." lirihnya, menatap kakinya yang tidak bisa di gerakkan sedikitpun.
"Aaaaas......!!!!" Gara berteriak sekencang dirinya mampu. Melepaskan beban yang menghimpit dadanya. Berteriak dengan sekali tarikan nafas, membuat perasaan Gara terasa ringan. Meski hanya sedikit berkurang.
Hikss..... Hikkss...... Untuk pertama kali dalam hidupnya, Gara menangis tersedu. Ada rasa yang tak bisa dia jabarkan dalam hatinya.
"Entah, takdir apa yang menanti gue di depan. Apa selamanya gue akan duduk di atas kursi ini. Apakah selamanya gue akan terkurung di tempat seperti ini. Apa nanti gue akan mati tanpa ada siapa-siapa di sisi gue. Gue sama sekali tidak tahu." lirihnya dengan air mata terus keluar dari kedua kelopak matanya.
Jujur dari hati yang paling dalam, Gara iri dengan mereka yang ada di luar. Berumah tangga. Mempunyai keluarga kecil, dengan istri dan beberapa anak.
Ingin sekali Gara menjalani kehidupan normal layaknya orang di luar sana. Tapi apa daya, musuh hingga sekarang mengintai nyawanya.
"Haa..... Ha..... Mungkin ini karma dari perbuatan gue." ujar Gara tertawa lepas.
Meski bibirnya tertawa, tapi tak dapat di sembunyikan raut wajah kesepian dari Gara terlihat jelas.
Gara mengingat jelas, bagaiman dirinya dulu. Kejam dan bengis tanpa ampun pada siapapun yang dianggapnya menghalangi langkahnya.
Gara beranggapan, kehidupannya sekarang adalah imbal dari kejahatan yang dia lakukan dahulu. "Mungkin Tuhan sengaja memberikan semua cobaan ini. Mengambil kedua kaki gue. Supaya gue nggak berbuat jahat lagi." cicit Gara tersenyum kecut.
Jika semuanya berkumpul, Gara memang merasa hidup. Memiliki keluarga. Tapi Gara sadar, mereka mempunyai kehidupan di luar sana.
Gara kembali menatap gambar wajah perempuan di layar laptopnya. "Kamu. Aku sadar siapa aku. Lelaki cacat yang hanya bisa mengangumi dari jauh. Semoga, ada lelaki yang baik dan hebat, dimana dia akan melindungi kamu dan tante Irawan dari kejamnya dunia." cicit Gara, menatap intens gambar wajah Sapna.
"Seandainya saja gue normal. Dan meski gue lelaki kere. Gue akan mengejar dia. Sayangnya, jika gue kekeh mendekati Sapna. Keluarga Sapna yang akan menjadi target mereka. Nyawa mereka yang akan terancam." cicit Gara, memilih mundur sebelum berperang.
Sudah bertahun-tahun Gara bersembunyi. Meninggalkan mereka. Tapi mereka yang pernah menjadi rekan Gara selalu mencari Gara.
Hanya untuk satu alasan. Nyawa Gara. Mereka berpendapat jika Gara menyimpan serta mengetahui semua rahasia mereka. Dan selaka Gara hidup, keberadaan mereka akan terancam.
Hingga detik ini, Gara sama sekali tidak pernah membocorkan atau menceritakan apapun gang mereka lakukan pada siapapun. Termasuk Bulan.
Dan seharusnya merek bisa berpikir. Jika Gara tidak mengusik mereka. Terbukti dari keberadaan serta kehidupan tenang mereka selama ini, selama Gara berada di luar.
Gara menebak jika ada orang dalam yang sangat tidak menyukai keberadaannya. Memprovokasi mereka semua. Sehingga sampai sekarang semua rekannya masih mencari dia. Dan berniat menghabisi nyawanya.
"Tuhan. Tutup pintu hati ini. Dan jangan biarkan dia terbuka, sampai kapanpun. Cukup ini terakhir kalinya hamba Mu merasakan rasa sakit di dalam hati. Jangan biarkan dia terluka lagi." tutur Gara dengan sendu.
Klik...
Gara mematikan laptopnya. Menyenderkan punggungnya di kursi. Berharap pintu hatinya tertutup. Dan tak akan pernah merasakan apa itu cinta. Selamanya.
__ADS_1