
Mikel dan yang lain menunggu perintah selanjutnya dari Bulan. Sebab Bulan beserta sebelas orang lainnya sudah mulai melakukan pergerakan.
Beberapa bawahan Mikel mengajukan diri mereka sendiri untuk ikut masuk dalam rencana pertama Bulan. Tapi Bulan menyerahkan pada Mikel untuk memilih mereka.
Sebab yang mengajukan diri lebih dari sepuluh orang. Sehingga Bulan menyerahkan pada Mikel sebagai atasan mereka untuk memilih atau menunjuk.
Bulan percaya, jika Mikel lebih tahu kemampuan mereka ketimbang dirinya. Dengan begitu, Bulan tidak akan salah pilih.
"Maaf boss, apa tidak sebaiknya kita masuk saja. Menyerang dari depan." ujar salah satu bawahan Mikel.
"Benar boss. Jumlah kita seimbang dengan mereka. Pasti kita akan menang." timpal bawahan Mikel yang lain.
"Dan gue yakin, elo dan teman-teman elo tidak akan bisa keluar dari sana." sarkas Mikel, memandangi layar ponselnya, acuh pada bawahannya tersebut.
"Apa kalian lupa, apa yang Nona Bulan katakan. Pergi dari sini, jika kalian tidak patuh." tukas bawahan Mikel yang lain.
"Sebaiknya kalian diam. Jangan terlalu berisik. Pohon pun bisa mendengar. Jangan sampai kita tertangkap, dan malah membuat masalah baru." tegur rekannya yang lain.
Mikel mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke pagar tinggi menjulang yang sedikit jauh dari tempatnya berada.
"Gue yakin, di dalam bukan sekedar markas biasa." batin Mikel.
Mengingat perkataan Bulan jika ada penembak jitu yang mengamankan tempat tersebut. Dan juga, cara Bulan bekerja yang terlihat sangat berhati-hati. Padahal ada Gara di dalam. Yang seharusnya segera mereka selamatkan.
"Gue yakin, bu Bulan pasti tahu sesuatu. Makanya beliau bersikap teliti." batin Mikel menebak.
Di balik luar tembok, Bulan dan sebelas orang lainnya masih berkumpul di satu titik. Bulan menjelaskan rencananya dengan detail pada semuanya.
"Ingat. Sebisa mungkin jangan menggunakan senjata api. Gunakan otak dan kecerdasan kalian." pinta Bulan.
"Baik." sahut mereka serempak.
"Kita bergerak secara bersama. Paham." ujar Bulan.
"Paham."
"Nyalakan alat komunikasi di telinga kalian." pinta Bulan, dimana semua memencet benda kecil yang menempel di telinga mereka.
Bulan melihat sebelas orang di sekitarnya. "Aku percaya dengan kemampuan kalian." tutur Bulan, yang perkataannya yang terdengar sepele, tapi memberi dampak besar. Yakni sebuah ucapan yang membuat semua anggota menjadi lebih bersemangat dan juga berhari-hati dalam bertindak.
"Berpencar." perintah Bulan.
Semua mulai bergerak. Tapi langkah Bulan dihentikan oleh seseorang dengan memegang lengan Bulan.
Cup....
Sebuah kecupan ringan mendarat di kening Bulan Siapa lagi jika Jeno lah pelakunya. "Hati-hati." tutur Jeno menatap hangat ke arah sang kekasih.
Bulan membelai pipi sang kekasih. "Kamu juga. Berhati-hatilah. Jangan sampai lengah." sahut Bulan yang sebenarnya juga merasa khawatir akan keselamatan sang kekasih.
Bulan dan Jeno, keduanya saling berpelukan sebelum keduanya pergi menyusul yang lain.
Sama seperti yang Bulan lakukan sebelumnya, kesebelas orang juga melemparkan tali sebagai alat mereka untuk bisa masuk ke dalam.
Tapi Bulan tidak melemparkan tali, sebab talinya yang tadi masih menggelantung sempurna. Yang menandakan jika pihak musuh belum menyadari keberadaan mereka.
"Tahan kepala kalian. Jangan sampai mereka melihatnya." pinta Bulan pada kesebelas orang yang bergerak bersamanya.
Bulan kembali mengeluarkan teropong kecil. Melihat dengan seksama ke setiap penjuru di halaman. Terutama mereka yang Bulan tebak berada di atas, menjaga senapan yang bisa melesat bebas dengan jarak yang sangat jauh.
Bulan melihat dengan seksama. "Jangan bergerak." pinta Bulan pada yang lainnya.
Bulan melihat, moncong senapan di atas bergerak perlahan ke kanan dan kiri. Menandakan jika ada orang yang mengendalikannya. "Apa ada pergerakan dari musuh?" tanya Jeno ditempatnya.
"Iya. Moncong senapan bergerak. Kita tunggu beberapa menit lagi." ujar Bulan, didengar oleh semuanya.
"Baik." lirih mereka serempak.
Sabar dan tidak tergesa-gesa, serta tetap waspada. Itulah salah satu kunci mereka menuju keberhasilan. Dan seperti yang Bulan katakan di awal. Jika kesetiaan mereka dengan menuruti perintah Bulan juga termasuk kunci mereka agar bisa membawa Gara keluar dari markas dengan selamat.
Sekitar lima menit, mereka berada di posisi. Menunggu perintah selanjutnya dari Bulan. "Hitungan ke lima. Naik dan langsung melompat turun. Bersembunyi di balik pohon." perintah Bulan.
"Baik." sahut mereka serempak.
Bulan yang sebelumnya sudah mengamati setiap gerakan mereka, tentu saja dengan mudah bisa menghapal apa yang akan para lelaki di setiap pos jaga lakukan. Juga mereka yang mendapat jatah di atas, memegang senjata api laras panjang.
"Satu,,, dua,,, tiga,,, empat,,," Bulan menjeda kalimatnya sejenak.
__ADS_1
"Lima." lanjut Bulan lirih.
Wus.... Buk.
Seperti dugaan Bulan, mereka yang mengajukan diri dalam rencana awal dan dipilih oleh Mikel memang mempunyai kemampuan yang mumpuni.
"Siaga. Tetap di tempat dan jangan bergerak." lirih Bulan memberi peringatan.
Bulan perlahan membalikkan badan. Kembali mengeluarkan teropong yang berada di dalam saku celananya. Gedung bagian atas adalah tujuan pertama Bulan.
Bulan tersenyum. "Ternyata sesuai dugaan gue. Jadi seperti itu cara kerja mereka." batin Bulan.
Bulan menebak, meski ada orang yang menjaga senapan tersebut. Tapi mereka hanya menjaga. Tidak mempergunakan senjata tersebut dengan semestinya. Yang artinya, mereka hanya menggerakkan senjata beberapa menit sekali. Guna mengisyaratkan jika ada orang disana yang menjaga dengan siap.
"Mereka terlena dengan ketenangan yang selama ini mereka rasakan." batin Bulan, masih memegang teropong kecil di tangannya, meletakkan di depan kedua matanya.
Mereka yang memang diletakkan di atas, memang ahli dalam menembak. Yang pastinya mereka dibayar dengan mahal oleh seseorang.
Sayangnya, karena terlena dengan keadaan yang selama ini baik-baik saja, mereka mengabaikan atau bersikap seenak diri mereka. Tidak menggunakan alat kecil di atas senapan untuk melihat situasi di luar.
"Dan itu adalah bonus Tuhan untuk kita." seringai Bulan, kembali memasukkan teropong kecilnya ke dalam saku.
Beberapa rekan Bulan yang masuk ke dalam, juga bisa melihat dengan jelas apa yang Bulan lakukan. Tapi mereka hanya bisa melihat tanpa berani bersuara.
Bahkan, dua diantaranya melihat senyum Bulan yang membuat bulu kuduk mereka merinding disko. "Baru pertama gue bekerja sama dengannya. Tapi sungguh, rasanya begitu berbeda." batin bawahan Mikel.
"Buka masker kalian. Simpan di dalam saku." perintah Bulan, sembari merapikan rambut palsu yang melekat di kepalanya. Yakni rambut yang menyerupai lelaki.
Sebenarnya, rambut Bulan juga belum terlalu panjang. Tapi Bulan tidak mau mengambil resiko. Dia lebih memilih menggunakan rambut pasangan.
"Ingat apa yang gue katakan. Berjalan dengan santai ke pos keamanan. Jagan sikap kalian, mereka tidak akan tahu jika kita bukan bagian dari mereka." ujar Bulan, yang sebelumnya sudah mengamati setiap orang yang berjaga di beberapa titik pos.
Dan memang mereka yang ada di pos tidak terlalu peduli dengan teman mereka. Mereka lebih asyik dengan ponsel mereka yang ada di tangan. "Ada enam pos. Kalian tahu apa artinya?" tanya Bulan.
"Paham. Dua orang dalam satu pos." sahut salah satu bawahan Mikel.
"Cari pos terdekat. Jangan lupa, keluarkan ponsel saat sudah duduk di dalam pos jaga. Bersikap acuh, dan sibuk dengan ponsel kalian." perintah Bulan.
"Baik."
"Hitungan ketiga, keluar dari persembunyian. Dan langsung ke tempat selanjutnya." perintah Bulan.
Bulan kembali berhitung, semua serempak keluar dari balik pohon, berjalan dengan santai. Seolah mereka bagian dari kelompok musuh.
Beruntung penampilan musuh tidak memakai pakaian yang sama atau berseragam. Sehingga mereka mudah berbaur dengan pada musuh.
"Gila, baru kali ini gue menjalankan aksi seperti ini. Rasanya sungguh menantang." batin salah satu bawahan Mikel.
Yang memang biasanya mereka selalu menyerang musuh menggunakan kekuatan serta senjata di tangan. Bukan seperti sekarang, dimana mereka benar-benar menggunakan otak mereka.
Bulan dan salah seorang bawahan Mikel berada di dalam pos. Juga beberapa rekan mereka lainnya. Bertingkah senatural mungkin, berharap mereka tidak akan dicurigai.
"Gue keluar dulu." pamit sang musuh tanpa melihat ke arah Bulan dan rekan Bulan.
"Jangan memasang wajah seperti itu." tegur Bulan setelah mereka hanya berdua.
"Maaf." sahut bawahan Mikel, yang memasang wajah tegang, meski dirinya merasa lega telah berhasil di titik ke dua.
"Bagaimana anggota tim satu. Aman?" tanya Bulan pada semuanya yang berangkat bersama dengannya.
"Lancar sayang." sudah bisa ditebak siapa pemilik suara tersebut. Pastinya Jeno.
"Aman,,, saudara ipar." sahut Jevo.
"Semua berjalan baik Nona." timpal bawahan Mikel.
"Bagus. Persiapkan, sebentar lagi kita akan berjalan masuk secara bergantian. Empat orang. Dan berbaurlah dengan para musuh saat di dalam." perintah Bulan.
Mikel yang berada di kuar markas musih, melihat ke layar ponselnya. Dimana dia menunggu perintah selanjutnya dari Bulan.
Ting...
Sebuah pesan tertulis muncul di layar ponsel Mikel. Mikel tersenyum samar.
"Kalian yang tadi sudah dipilih, bersiaplah di balik tembok. Tunggu perintah dari bu Bulan. Ingat, jangan bergerak jika tanpa perintah dari bu Bulan. Paham..!!" seru Mikel memerintah dengan tegas.
"Paham boss."
__ADS_1
"Jangan menggunakan senjata. Dan satu lagi. Sabar dan waspada." tekan Mikel.
"Baik." sahut kedua belas orang bawahan Mikel.
Mereka berlari menuju tempat dimana ada sebuah tali uang sudah terpasang sebelumnya. "Kalian harus ingat perkataan boss dan Nona Bulan. Jangan sampai kita menggagalkan rencana ini." ujar salah satu bawahan Mikel mengingatkan rekan-rekannya.
"Tenang saja. Kita akan melakukan sesuai perintah Nona Bulan. Kita yang dipilih. Berarti kita harus bertanggung jawab karena itu." timpal rekannya yang lain.
"Benar."
Seperti yang dikatakan Mikel, mereka baru melangkah jika ada perintah dari Bulan. Dan kini, kelompok kedua sudah berada di balik pohon.
Bulan melihat para rekannya yang sudah berada di balik pohon. "Kelompok dua tetap di tempat. Kelompok satu, seperti yang gue perintahkan. Masuk ke ruangan secara bergantian. Sekarang." perintah Bulan.
Semua berjalan sesuai rencana Bulan. Apalagi bawahan Mikel benar-benar taat berada di bawah komando Bulan. Sehingga Bulan sama sekali tidak mengalami kesulitan apapun.
Bulan melihat ke arah pergelangan tangannya. Bulan yang sudah mengamati setiap gerakan anggota musuh, bisa menebak kapan dia akan menggerakkan kelompok kedua.
"Kelompok kedua bersiap. Tugas kalian tetap berada di pos penjagaan. Lumpuhkan siapapun yang masuk. Ingat,,, jangan menggunakan senjata api yang bisa menimbulkan suara." ujar Bulan mengingatkan kembali.
"Baik." sahut kelompok dua bersamaan.
"Kalian segera menempati pos penjagaan begitu gue keluar." ujar Bulan yang keluar terakhir kali. Sebab, sebentar lagi akan ada musuh yang datang untuk bergantian menjaga pos penjagaan.
Dan Bulan tidak ingin mereka datang terlebih dulu. Sebab Bulan menginginkan musuh datang setelah kelompok dua sudah berada di dalam pos.
Dengan begitu, mereka bisa melumpuhkan musuh yang baru datang. Dan mengamankan pos jaga untuk mereka tempati.
Bulan dan seorang lelaki yang berada di pos penjagaan mulai keluar, menuju ke dalam gedung. Kedua mata Bulan mencuri pandang ke atas. Dirinya hanya ingin memastikan jika keadaan masih tetap aman.
Bersamaan dengan kepergian Bulan meninggalkan pos penjagaan, kelompok dua jug keluar dari persembunyian mereka. Segera mengambil alih pos jaga. Melumpuhkan musuh yang datang.
"Strategi yang hebat dan matang." puji bawahan Mikel, sungguh tidak menyangka jika rencana Bulan sangatlah rapi.
Kelompok pertama masuk ke dalam markas dengan santai. "Kelompok satu, cari cara untuk naik ke atas. Lumpuhkan mereka yang ada di atas. Ingat, bersikaplah sebagai teman. Dan jangan memakai senjata api." lirih Bulan, dengan mata memandang ke berbagai sudut di ruangan.
Ternyata, di atas ada sebuah ruangan. Hanya saja, tidak akan nampak jika dilihat dari luar. Dan Bulan yakin, mereka menempatkan para penembak di sana.
Bulan melihat di dalam gedung ada banyak ruangan. "Apa yang sedang mereka lakukan?" tanya Bulan dalam hati, melihat beberapa orang keluar masuk di dalam ruangan. Bukan hanya satu ruang. Tapi banyak.
Bulan menggeleng, mengenyahkan rasa penasarannya pada apa yang dilakukan oleh mereka. Sesungguhnya Bulan juga merasa sedikit aneh. Sebab mereka sama sekali tidak menyadari jika ada beberapa orang yang masuk.
"Mereka seperti tidak sadar sepenuhnya." batin Bulan, melihat seseorang lelaki yang menyenderkan badannya ke tembok, sembari memegang sebatang rokok.
"Pantas saja, ada banyak orang di sini, tapi satupun tak ada yang menyadari keberadaan kita." batin Bulan mulai mengerti apa yang terjadi.
Bulan segera mengikuti yang lainnya ke atas. Fokusnya tidak boleh sampai pada hal lain selain Gara.
Sampai di atas, Bulan melongo. Kesebelas rekannya dengan mudah membuat dua belas orang yang diyakini Bulan sebagai penembak jitu terkapar tak berdaya.
"Kalian." cicit Bulan.
"Sepertinya mereka menggunakan obat terlarang." ujar Jevo menebak.
"Obat terlarang." batin Bulan.
"Gunakan masker kalian. Tutupi hidung kalian." segera Bulan memberi perintah.
"Baik." sahut mereka serempak. Sepertinya mereka tahu kenapa Bulan memerintahkan hal tersebut.
"Sembunyikan mereka. Jangan sampai ada yang menyadarinya." pinta Bulan, yang segera mereka lakukan dengan cepat.
Bulan segera memberitahu Mikel yang masih di luar, tentang dugaannya. Jika ada kegiatan terlarang yang terjadi di dalam gedung. Yakni pembuatan obat-obatan terlarang.
Bulan berharap, Mikel bisa mengambil sebuah keputusan tanpa dia perintahkan terlebih dulu. "Gue, Jevo , dan Jeno akan mencari Gara. Dan kalian tetaplah mengamankan tempat ini. Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan?" tanya Bulan.
"Tenang saja Nona, serahkan pada kami." sahut salah satu bawahan Mikel.
"Kalian harus ingat. Tempat ini sangat berbahaya. Mungkin kewaspadaan mereka berkurang, karena pengaruh obat itu. Tapi, yang aku takutkan kalian ikut terkena bau obat tersebut.'' papar Bulan menjelaskan kecemasannya.
''Itu artinya, kita harus segera menemukan Gara dam segera keluar dari tempat ini." timpal Jeno memberi saran.
Bulan menekan alat komunikasinya yang berada di telinganya. "Kalian semua. Kelompok dua. Dengarkan perkataanku dengan baik. Jangan pernah minum atau makan apapun di tempat ini. Kemungkinan semua makanan serta minuman di sini telah terkontaminasi bahan pembuatan obat terlarang." jelas Bulan.
"Baik." sahut anggota kelompok dua secara serempak.
Bulan, Jevo, dan Jeno berpencar mencari keberadaan Gara. Sementara sembilan bawahan Mikel tetap berada di atas. Melumpuhkan kedua belas orang, tak membuat kewaspadaan mereka menurun.
__ADS_1