PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 191


__ADS_3

"Bulan.....!!" teriak Sella seperti orang kesurupan.


"Ada apa dengan bu Bulan?" tanya Mita terkejut, karena tiba-tiba Sella berteriak memanggil nama sang guru yang sudah tidak akan mengajar lagi di sekolah mereka.


Keduanya masih berada di dalam kamar. Mita menunggu Sella yang masih bersiap untuk berangkat pergi ke tempat les berkuda.


Sella melemparkan dengan kencang sepatu yang ada di tangannya. "Ternyata dia perempuan ular. Sangat licik. Bermuka dua." geram Sella.


Mita menaikkan sebelah alisnya. "Apa maksud kamu?" tanya Mita bingung.


"Ambilkan sepatu gue...!!" perintah Sella dengan ketus.


Mita berdiri, melakukan apa yang Sella perintahkan. "Lagian ngapain sepatu tidak bersalah di lempar." gerutu Mita yang hanya berani dia katakan dalam hati.


Sella mengambil sepatu dari tangan Mita dengan menyorobotnya secara kasar. "Asala elo tahu, ternyata selama ini, dia hanya mengincar Jeno." tukas Sella masih kesal dengan kejadian semalam.


Mita yang sebenarnya sudah tahu, berpura-pura untuk bersikap bodoh. "Gimana sih. Mengincar bagaimana?" tanya Mita, yang sebenarnya sangat malas harus selalu menunggu Sella untuk berangkat pergi ke sekolah.


"Elo tahukan. Ternyata dia bukan seorang pengajar. Tapi seorang polisi wanita. Dan selama beberapa bulan ini, dia sengaja menyamar sebagai seorang tenaga pengajar. Coba apa tujuannya. Jika bukan untuk mendekati Jeno. Lalu masuk ke dalam keluarga Tuan David yang terkenal kaya raya dan tajir melintir. Dasar sialan. Perempuan ulat." cerocos Sella.


"Perasaan kaya raya dan tajir melintir itu sama artinya." batin Mita.


"Mita...." panggil Sella dengan ekspresi kesal.


"Apa lagi?"


"Kenapa elo hanya diam saja?!" bentak Sella.


"Ya memang aku harus bagaimana. Toh aku tidak ada hubungannya dengan Jeno maupun bu Bulan." tutur Mita dengan tenang.


"Seharusnya elo berpikir, bantu gue menyingkirkan Bulan dari sisi Jeno. Jika gue menjadi kekasih Jeno, elo juga akan ikut kecipratan."


Mita tersenyum hambar. "Kecipratan apaan. Kecipratan susah. Yang ada gue malah elo jadikan budak selamanya." batin Mita.


"Maaf, tapi aku nggak berani ikut campur. Kamu tahu sendiri, aku hanya anak seorang pembantu. Mana berani melakukan hal seperti itu." cicit Mita beralasan.


"Gue berdo'a,,, supaya elo nggak pernah bersama dengan Jeno. Memang seharusnya bu Bulan yang menjadi kekasih Jeno. Mereka serasi. Cantik dan tampan." batin Mita.


"Hey... Elo mau kemana?" tanya Sella berteriak, melihat Mita berjalan menuju pintu.


"Nona Sella,,,, saya tunggu di bawah ya. Mau minum. Haus." ujar Mita melenggang pergi dengan alasan haus.


"Sial...!!" umpat Sella ingin melempar kembali sepatu di tangannya. Tapi dia urungkan. Sebab Mita sudah tidak ada.


Dengan ekspresi kesal, dipakainya sepatu tersebut. "Gue harus minta bantuan mama." lirihnya.


Terlebih dia ingat betul apa yang dikatakan Nyonya Rindi semalam. Dimana artinya, kedua orang tua Jeno sudah merestui hubungan sang putra dengan Bulan.


"Gue nggak peduli. Meski mereka sudah menikah sekalipun, gue akan tetap merebut Jeno dari Bulan. Perempuan itu, tidak sepadan dengan keluarga Tuan David." tukasnya tersenyum sinis.


"Mana Sella, Mita?" tanya mama Sella, yang sedang meminum teh di ruang tengah.


"Masih di kamar Nyonya." sahut Mita dengan sopan.


Mama Sella menggerakkan tangannya, menyuruh Mita untuk mendekat. "Ada apa Nyonya?" tanya Mita dengan sopan setelah keduanya berdekatan.


Mama Sella melihat ke arah tangga. Memastikan jika sang putri belum menuruni anak tangga. "Mita, apa Sella masih kekeh ingin mengejar Jeno?" tanya beliau dengan suara pelan.


Mita mengangguk. "Benar Nyonya."


Mama Sella menghembuskan nafas pendek. "Padahal saya sudah mengatakan pada Sella, untuk tidak meneruskan niatnya itu. Kenapa Sella sulit sekali diberitahu." lirih mama Sella terlihat sedih.


Mama Sella juga sudah mengetahui kejadian semalam, meski dirinya tidak hadir. Dimana Tuan David memperkenalkan Bulan pada beberapa tamu undangan sebagai calon menantunya.


Dan hal tersebut dengan cepat tersebar dari mulut ke mulut. Bahkan pekerjaan Bulan yang tidak biasa menjadi pembicaraan tersendiri. Dimana semua orang menganggap Tuan David menerima Bulan sebagai calon menantunya karena pekerjaan Bulan yang bisa memperkokoh kerajaan bisnisnya.


Mama Sella juga tahu, jika dirinya tidak mungkin bisa membantu sang putri untuk mendapatkan apa hang dia inginkan. Jika itu terjadi, yang ada dirinya dan Sella malah akan hidup menderita.


"Apa Sella benar-benar bodoh. Dia tidak boleh menyinggung keluarga Tuan David. Jika Sella membuat mereka marah, yang ada kehidupannya akan berantakan." cicit mama Sella.


Mama Sella juga mendengar kejadian semalam. Dimana Claudia dipermalukan oleh Bulan di acara tersebut tanpa ampun. "Bulan. Dia juga perempuan yang bisa di sentuh." lanjut mama Sella.


Mama Sella merasa bukan hanya karena pekerjaan Bulan yang menyebabkan Tuan David dan Nyonya Rindi menerima Bulan sebagai calon menantunya. "Pasti karena Jeno juga mencintai Bulan." batin mama Sella.

__ADS_1


"Mita." panggilnya dengan ekspresi sayu.


"Iya Nyonya." sahut Mita.


"Tolong, katakan dan beritahu Sella untuk mengurungkan niatnya. Saya yakin, dia tidak menyukai Jeno dari hatinya. Hanya merasa tertantang, karena Jeno sama sekali tidak menganggapnya." pinta sang majikan dengan penuh harap.


Melihat kedekatan sang putri dan Mita. Mama Sella menebak jika mereka berdua akrab sebagai sahabat. Tanpa beliau tahu, jika selama ini sang putri selalu memperlakukan Mita layaknya seorang pembantu. Bukan teman atau malah sahabat.


Selain itu, mama Sella khawatir dia akan bernasib sama seperti Claudia. "Saya hanya takut, dia akan berada dalam masalah yang malaj membuat hidupnya hancur. Tuan David,,, dan Bulan. Sepertinya mereka mempunyai hal yang sama. Mereka tidak bisa di sentuh seenaknya." lanjut mama Sella menebak.


Mita merasa kasihan pada mama Sella. Tapi bisa apa dirinya. Mana mungkin Sella mau mendengarkan apa yang dia katakan. Mustahil.


"Maaf Nyonya, bukannya saya tidak mau melakukan apa yang Nyonya perintahkan. Tapi saya memang tidak bisa. Nona Sella tidak pernah mengindahkan apa yang saya katakan. Dia selalu mengacuhkan saran dari saya. Dan malah akan marah pada saya." jelas Mita berbicara jujur.


"Anak itu. Kenapa sifatnya sama seperti papanya. Astaga... Membuat kepalaku pusing saja." lirih mama Sella.


Percakapan keduanya terhenti saat mendengar langkah kaki yang menuruni anak tangga. "Kalian membicarakan apa?" tanya Sella dengan tatapan menyelidik.


"Tidak ada. Mama hanya bertanya, kapan pembagian rapot kalian." jelas mama Sella berbohong.


"Emm... Ya sudah ma. Kami pergi dulu." pamit Sella pada sang mama.


"Hati-hati." sahut sang mama.


Di tempat lain, keluarga Tuan David dan yang lain masih berada di rumah Pak Cipto.


"Sebaiknya kalian menginap saja di sini." ujar Pak Cipto menyarankan, melihat mendung tebal bergelayut di atas. Membuat cuaca yang awalnya cerah mendadak gelap seketika. Menandakan jika akan turun hujan sebentar lagi.


Semua masih betah berkumpul di ruang tamu. Berbincang ringan mengakrabkan diri, sembari menikmati camilan yang dibuat oleh bu Asri, dan juga beberapa kue yang di bawa dari kota.


Bulan dan Tuan David saling pandang sejenak. Keduanya memikirkan saran dari pak Cipto. "Benar om,,, kelihatannya sebentar lagi akan turun hujan. Lebih baik kita menginap di sini." ujar Bulan menyetujui saran sang bapak.


Sesungguhnya Tuan David mengerti, alasan Bulan menyetujui pak Cipto untuk bermalam di rumah mereka. Tentu saja karena jalan utama masih dalam perbaikan. Sehingga kemungkinan besar mereka akan melewati jalan yang mereka lewati tadi pagi.


Bulan merasakan kekhawatiran jika mereka melewati jalan tadi di saat petang, dan ditambah turun hujan.


Jika hanya seorang diri, tak masalah bagi Bulan untuk kembali melewati jalan tersebut. Tapi ini dalam keadaan berbeda. Bukan berarti ramai, yang malah akan aman.


Bulan takut mereka akan keluar, menghadang di jalan. Dan menjadikan nyawa mereka taruhannya. Bersama dengan Jeno dan yang lain, Bulan yakin akan menang jika apa yang dia pikirkan terjadi.


Juga dengan Jeno serta teman-temannya. Mereka juga merasa lebih baik menyetujui saran dari pak Cipto. Mengingat di jalan sebelumnya mereka melihat ada banyak sisa darah kering di daun dan pohon.


"Benar,,, kita menginap di sini saja. Lagi pula saya sudah mempersiapkan diri. Membawa baju ganti." tukas Arya, berharap Tuan David menyetujui perkataan Bulan dan saran dari pak Cipto.


Sejujurnya, Arya juga merasa ngeri dan takut melewati jalan tadi meski mereka beramai-ramai. "Jika mereka tiba-tiba ada di sana, dengan jumlah lebih banyak dari kita. Nyawa taruhannya." batin Arya bergidik ngeri.


Tuan David mengangguk pelan. "Baiklah. Kita akan menginap di sini." ujar Tuan David memutuskan.


Arya menghela nafas lega. "Syukurlah. Gue masih ingin menikmati hidup." batin Arya. Padahal apa yang dia pikirkan belum tentu terjadi.


"Tempat itu memang mengerikan." batin Jeno sepemikiran dengan yang lainnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi tadi malam." batin Jevo merasa penasaran.


Juga dengan Mikel yang merasa ada sesuatu di tempat tadi. Gara gang tidak tahu apapun, hanya diam. Tapi dirinya yakin, jika ada sesuatu di tempat tersebut. "Gue harus bertanya pada mereka." batin Gara tak mau penasaran seorang diri.


"Tapi maaf, kami tidak memberikan apa-apa. Kami hanya bisa menyediakan seadanya saja." tukas bu Asri, khawatir para tamu tidak akan nyaman berada di rumahnya.


"Tidak apa-apa bu. Malah kami yang seharusnya meminta maaf. Sudah merepotkan kalian." sahut Nyonya Rindi yang memang tidak berniat untuk menginap.


Bu Asri memberikan sebuah isyarat pada Bulan untuk mengikuti dirinya. Tanpa berpamitan dengan yang lain, Bulan langsung pergi ke belakang. Menyusul sang ibu.


"Ada apa bu?" tanya Bulan setelah dirinya berada di dapur bersama sang ibu dan juga Bintang.


"Keluarlah, belilah lauk untuk makan malam." pinta bu Asri.


"Iya bu. Bagaimana dengan sayurnya. Apa masih ada?" tanya Bulan.


"Masih. Nanti ibu petik sayur di belakang rumah saja. Jadi kamu belikan lauk. Tidak usah beli camilan. Lihatlah, yang dibawa bu Rindi saja sangat banyak."


"Iya bu." sahut Bulan.


"Bintang ikut kak?" tanya Bintang, apakah dirinya perlu ikut atau tidak.

__ADS_1


"Ikutlah. Ayo." ajak Bulan.


"Kamu keluarkan motor dulu. Kakak mau ambil dompet." tukas Bulan yang mendapat anggukan dari sang adik.


Di saat Bulan masuk ke kamar, Nyonya Rindi dan Nyonya Irawan serta Sapna malah menyusul ke dapur. "Loh,,, bu, ada apa?" tanya bu Asri.


"Pasti ibu sedang repot masak untuk nanti malam. Biar kami bantu-bantu." ujar Nyonya Irawan.


"Tidak perlu bu. Sebaiknya kalian duduk di depan saja." tolak Bu Asri merasa sungkan. Jika sang tamu membantunya.


"Tidak masalah bu, biar para lelaki yang berbincang. Kita bantu ibu saja. Kita juga tidak terlalu paham apa yang mereka bicarakan." ujar Nyonya Irawan beralasan.


"Aduh... Maaf ya, malah merepotkan kalian." cicit bu Asri.


"Sama sekali tidak bu." sahut Nyonya Rindi.


"Bulan,, mau kemana?" tanya Sapna, melihat Bulan membawa dompet di tangannya.


"Keluar sebentar. Ada yang mau di beli."


"Sama siapa?"


"Bintang." jawab Bulan.


"Saya keluar dulu." pamit Bulan dengan sopan.


Bu Asri membawa ketiganya untuk memetik sayuran di belakang rumah. Jangan tanyakan apa yang terjadi. Tentu saja kehebohan Nyonya Rindi melihat sayuran hijau yang sangat subur.


Sampai-sampai, Nyonya Rindi mengatakan jika akan menyuruh sang suami membelikan dirinya tanah, untuk menanam sayur seperti yang dia lihat sekarang.


Mikel melihat Bintang menaiki motornya di halaman. Di susul Bulan yang duduk di belakang, di bonceng sang adik. "Mau kemana mereka?" tanya Mikel bermonolog.


Semua menoleh ke arah dimana Mikel memandang. "Mungkin di suruh ibunya membeli sesuatu." sahut pak Cipto.


"Biasa saja kale.....!! Itu adiknya." goda Arya melihat kedua mata Jeno masih menatap ke arah sang kekasih.


"Adiknya juga lelaki." ketus Jeno.


"Astaga...!! Elo pikir Bulan menyimpang. Berhubungan dengan adiknya." tukas Arya menggeleng.


"Bercanda." sahut Jeno yang sebenarnya dirinya tak rela melihat Bulan di bonceng Bintang. Apalagi, terlihat Bulan melingkarkan tangannya di perut Bintang.


"Kenapa nggak ngajak gue. Kan gue bisa antar. Pakai mobil malah lebih enak." batin Jeno, sebab dirinya hingga saat ini masih trauma untuk mengendarai motor.


"Maaf,,, nak Gara, jika bapak boleh tahu. Kaki nak Gara, sudah lama sakit, atau memang baru mengalami kecelakaan. Sebab saya lihat, sepertinya kedua kaki nak Gara terlihat sehat." cicit pak Cipto, bertanya dengan hati-hati.


Gara tersenyum kaku. Dirinya bukan lelaki bodoh. Jika orang lain yang mendengarnya, pertanyaan pak Cipto tampal biasa.


Berbeda saat pertanyaan tersebut di terima oleh kedua telinga Gara. Ada sebuah makna tersirat dari pertanyaan yang pal Cipto lontarkan.


"Sudah lama pak. Beberapa tahun yang lalu. Saya mengalami kejadian, dimana saya harus kehilangan fungsi kedua kaki saya sekaligus. Mungkin inilah bentuk kasih sayang Tuhan terhadap saya. Menegur saya dengan cara seperti ini. Namun saya bersyukur. Saya yakin, Tuhan mengampuni segala kesalahan saya, dengan tetap memberikan saya nyawa." papar Gara.


"Setiap manusia pasti punya masa lalu. Dan pasti punya kesalahan. Hanya saja, semua kembali pada manusia tersebut. Apakah dia menyadari kesalahannya dan bertaubat, atau tetap memilih untuk berada di jalan yang salah." tukas Tuan David.


"Saya berutang nyawa dengan putri bapak. Bulan. Dia yang menyelamatkan saya dari maut. Di saat rekan-rekan saya malah ingin menghabisi nyawa saya, Bulan yang dulu sebagai musuh saya, malah menyelamatkan nyawa saya." jelas Gara.


"Berarti Tuhan masih menyayangi kamu. Tapi kamu harus ingat, jangan pernah mengkhianati pengorbanan putri saya." tukas pak Cipto dengan memandang intens pada Gara.


"Tidak akan pak. Saya sudah menganggap Bulan sebagai saudara kandung saya. Dan saya tidak akan pernah berkhianat padanya." tekan Gara.


Tuan David dan yang lain hanya diam, menyimak apa yang dibicarakan pak Cipto dan Gara. Mereka bisa menebak, jika ada sesuatu di antara mereka berdua, yang hanya diketahui oleh Gara dan pak Cipto.


"Apa sebelum ini, mereka pernah bertemu." batin Jeno, menerka dari tatapan yang diberikan pak Cipto pada Gara bukan tatapan biasa. Tapi tatapan yang penuh peringatan. Seakan Gara adalah bahaya untuk Bulan.


"Pak,,,, sekarang musim panen apa di desa?" tanya Jeno mengalihkan pembicaraan, sekaligus mencairkan suasana tegang di ruangan.


"Kemarin bapak sudah mulai mencabut singkong di ladang. Tapi buah lainnya juga ada yang sudah mulai panen. Mangga dan bengkoang. Timun juga sudah mulai dipanen, meski masih sedikit." jelas pak Cipto.


Dalam perjalanan, Bulan melewati kebun sang bapak. Dan dia melihat seseorang yang sangat familiar sedang bekerja di kebun. "Berhenti." pinta Bulan pada sang adik untuk menghentikan motornya.


Bintang melakukan apa yang sang kakak inginkan. "Mau ke mana kak?" tanya Bintang, melihat Bulan berjalan menuju kebun.


"Mampus." lirih Bintang, seakan bisa menebak apa yang akan terjadi.

__ADS_1


Bintang segera memarkir dan mencabut kunci motornya. Berlari mengejar sang kakak. Tapi sudah terlambat.


"Pasti ketahuan." cicit Bintang, berhenti berlari. Tapi tetap berjalan mengarah ke tempat sang kakak berada.


__ADS_2