
"Silahkan." papar seorang lelaki bawahan Bulan, mempersilahkan Jeno untuk berjalan.
Jeno mengangguk seraya berjalan di sampingnya. Menuju ke ruangan di mana Bulan berada. Kedua indera pendengaran Jeno masih berfungsi dengan baik. Dimana dirinya bisa mendengar secara samar bisik-bisik mereka yang melihat kedatangannya.
"Pasti mereka terkejut. Karena gue datang dan langsung memperkenalkan diri sebagai calon suami Bulan." batin Jeno tersenyum puas.
Jeno sengaja mengatakan dirinya sebagai calon suami Bulan. Bukan sebagai kekasih ataupun sahabat dekat Bulan.
Tentu saja Jeno ingin mengklaim jika sang bidadari yang bekerja sebagai atasan mereka sudah memiliki calon pendamping hidup. Dengan begitu Jeno berharap jika tidak ada yang berani mendekati pujaan hatinya. Karena sudah ada yang memilikinya.
Keduanya berhenti di depan sebuah pintu. Dari luar, terdengar samar-samar Bulan sedang berbicara dengan seseorang.
"Mungkin bu Bulan sedang ada tamu, atau hanya rekan saya saja yang sedang menghadap untuk melapor." tuturnya memberitahu Jeno.
Sebab dirinya juga tidak tahu siapa hang berada di dalam ruangan Bulan saat ini.
Jeno mengangguk pelan. "Apakah tidak apa-apa jika saya masuk?" tanya Jeno, tersirat dirinya tidak ingin menganggu pekerjaan Bulan.
Yang pada kenyataannya, dirinya sangat penasaran dengan siapa Bulan di dalam. Dan sangat ingin sekali masuk ke ruangan yang ada di depannya.
"Sial...!! Untung gue sabar. Jika tidak, sudah gue dobrak dari luar pintu penghalang ini." batin Jeno ingin cepat masuk ke dalam. Sebab dirinya menebak jika Bulan berada di dalam ruangan bersama seorang lelaki.
"Tidak apa-apa. Saya coba dulu. Atau,,, anda menghubungi bu Bulan saja terlebih dahulu." sarannya.
"Sejujurnya saya ingin memberikan kejutan untuk dia." sahut Jeno dengan ramah menolak saran lelaki yang berusia di atasnya tersebut.
Lelaki tersebut tersenyum mengerti maksud dari Jeno. Dia mengetuk pintu ruangan Bulan. Tak lama, terdengar suara Bulan dari dalam. Mempersilahkan orang yang mengetuk pintu untuk masuk.
Krek... Pintu terbuka dari luar. Menampakkan dua sosok lelaki berbeda pakaian masuk ke dalam ruangan Bulan.
Jeno mengeraskan kedua rahangnya, begitu melihat siapa yang berada di dalam ruangan bersama dengan Bulan. Duduk di kursi panjang, di dekat Bulan.
"Rio. Bagaimana dia bisa datang ke sini?" tanya Jeno dalam hati, menahan cemburu bercampur amarah yang langsung berada di ubun-ubun.
Jeno sedari dulu memang tidak suka dengan Rio. Apalagi jika bukan karena mama Rio yang ngotot ingin menjadikan Bulan sebagi menantunya.
Sejenak, Rio dan Jeno saling bersitatap. Sebelum akhirnya Jeno memutuskan pandangannya mendekat ke arah mereka dengan senyum di bibirnya.
"Sayang.... Aku bawakan kamu makan siang." Jeno mengangkat tangan sebelah kanan. Dimana ada kantong kresek di sana.
Bulan berdiri dengan ekspresi datar. Terkejut, tentu saja Bulan merasa kaget dengan kedatangan Jeno yang tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Ditambah ada sosok Rio di dalam ruangannya.
Yang sejujurnya Bulan sendiri juga tidak tahu jika Rio akan mendatanginya di kantor. Bahkan Bulan juga penasaran, dari mana Rio mengetahui jika dirinya bertugas di kantor ini. Padahal dirinya baru hari ini masuk atau bekerja.
Berbeda dengan Jeno yang sudah mengetahui sosok Rio, Rio sendiri tidak mengenal Jeno. Sebab saat itu kedua matanya masih dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Rio hanya menajamkan indera pendengarannya. Merasa sangat familiar dengan suara Jeno. Hanya saja, Rio tidak berani menebak atau mengatakan apa yang ada di dalam benaknya.
Cup... Jeno langsung mendaratkan sebuah ciuman di dahi Bulan tanpa peduli ada orang lain di ruangan tersebut.
Bulan tahu kenapa Jeno melakukan hal tersebut. Dan Bulan hanya diam, membiarkan apa yang Jeno lakukan. Yang sejujurnya, Bulan juga merasa khawatir atas kedatangan Jeno, di saat ada Rio.
"Gila. Kenapa gue kayak berasa ketangkep basah sedang selingkuh. Padahal gue nggak ngapa-ngapain." batin Bulan merasakan rasa cemas dalam dirinya.
"Kenapa gue cemas, jika Jeno marah. Kan gue nggak salah." lanjut Bulan dalam hati. Takut jika Jeno salah mengira jika dirinya mengundang Rio untuk datang.
"Khemm... Kamu boleh keluar." ujar Bulan pada bawahannya yang mengantarkan Jeno.
Dimana bawahan tersebut melihat situasi di depannya terasa aneh. "Dua lelaki dengan satu perempuan. Dua-duanya sama-sama tampannya. Dan terlihat berasal dari keluarga kaya." batin bawahan Bulan menilai sosok Jeno dan Rio.
"Baik bu." pamitnya segera meninggalkan ruangan Bulan. Meski rasanya dirinya sangat enggan untuk pergi meninggalkan ruangan.
Dirinya merasa penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. ''Padahal gue kepo tingkat dewa." batinnya.
"Kenalkan. Dia Rio. Dan dia Jeno." papar Bulan saling mengenalkan mereka dengan menyebut namanya. Meski Bulan tahu jika Jeno tidak perlu diperkenalkan pada Rio karena dia sudah tahu.
Namun karena Rio belum mengenal Jeno, Bulan terpaksa memperkenalkannya. Serta bersandiwara dengan apik. Dirinya tak ingin Rio sampai mengetahui jika Jeno ada dalam misinya saat itu.
Jeno dan Rio saling berjabat tangan. "Jeno. Calon suami Bulan." tekan Jeno menggenggam erat telapak tangan Rio.
Bulan melirik ke arah Jeno karena apa yang Jeno ucapkan. Bulan hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. "Semoga Jeno bisa menahan emosinya." batin Bulan.
Terlihat dari ekspresi Jeno, dirinya sangat tidak menyukai kehadiran Rio di ruangan Bulan. Dan Bulan tahu akan hal itu.
Rio tersenyum kecut. "Rio. Jika anda calon suami Bulan. Pasti anda tahu siapa saya." sahut Rio. Berharap Jeno tidak bisa menjawab apa yang dia katakan. Dengan begitu Rio bisa mematahkan ucapan Jeno, bahwa dia calon suami Bulan.
Keduanya saling melepaskan jabat tangan mereka. "Tentu saja. Bulanku selalu menceritakan semua misinya. Jadi, saya tahu siapa anda. Apa perlu, saya panggil anda dengan nama Timo." tekan Jeno tersenyum miring.
Seketika hawa di ruangan berubah menjadi mencekam. Ada bau-bau perseteruan yang terlihat kelas dengan mata telanjang.
"Gue sama sekali tidak bercita-cita berada dalam situasi seperti ini." batin Bulan.
Rio tertawa pelan. "Baiklah. Saya datang ke sini memang sengaja. Saya ingin mengucapkan terimakasih karena Bulan, saya bisa terbebas dari Timo, bertemu mama saya kembali. Dan sekarang saya bisa kembali beraktifitas seperti biasa."
__ADS_1
"Tidak perlu berterimakasih, itu memang sudah pekerjaan calon istri saya. Lagi pula, bukankah ada banyak orang yang berada di sisi Bulan saat dia membebaskan anda. Jadi, calon istri saya ini tidak bekerja seorang diri."
Jeno tahu jika Rio hanya memanfaatkan perkara terdahulu untuk mendekati Bulan. Dirinya bisa melihat rasa ketertarikan Rio pada Bulan dengan jelas.
Dan Bulan, dirinya hanya diam tanpa ikut mengeluarkan suara. Membiarkan kedua lelaki di sampingnya saling bercakap. Asalkan mereka tidak beradu fisik.
Bulan hanya takut kalimat yang akan keluar dari mulutnya malah akan menjadi bumerang untuknya. Bisa jadi salah diartikan oleh Jeno maupun Rio. Yang mana dirinya akan kebingungan sendiri.
"Maaf, saya hanya membawa dua porsi makan siang. Tidak apa-apakan?" tanya Jeno, berniat mengusir Rio dengan cara halus.
Rio tertawa pelan. "Sialan...!!" umpatnya dalam hati atas pengusiran dari Jeno. Ditatapnya Bulan hanya diam tanpa ingin ikut campur.
Sehingga membuat Rio mau tak mau harus berpamitan untuk pergi meninggalkan tempat ini. "Bulan, sepertinya saya sudah terlalu lama di sini. Sebaiknya saya permisi dulu. Ada banyak pekerjaan di perusahaan yang menunggu saya." pamit Rio, menekan kata sudah lama.
Jeno mengernyitkan dahinya. Ingin rasanya Jeno menonjok wajah Rio. Bahkan ingin rasanya Jeno membuat kedua mata Rio tidak bisa melihat lagi. Sehingga Rio tidak akan pernah memandang Bulan dengan tatapan mendamba lagi.
"Silahkan." sahut Bulan.
Kecewa. Tentu saja Rio kecewa dengan kata yang baru saja Bulan ucapkan. Rio berharap Bulan akan menyuruhnya untuk tetap duduk. Tinggal di ruangan untuk makan siang bersama dengannya.
"Apa saya perlu memanggilkan seseorang untuk mengantar anda keluar dari ruangan ini?" sindir Jeno, sebab Rio masih berdiri dengan menatap ke arah Bulan.
"Tidak perlu. Permisi." ujar Rio, dengan berat hati meninggalkan ruangan kerja Bulan.
"Hufffftttt...... Bajingan itu, bagaimana dia bisa sampai di sini...!!" terdengar helaan nafas dari Jeno.
"Ada apa?" tanya Bulan, yang menyadari jika Jeno tengah menatapnya dengan lekat tanpa berkedip.
"Dia sudah lama?"
Bulan menggeleng. "Belum. Sekitar lima belas menit."
"Astaga... Itu lama sayang." geram Jeno..
Jeno mengulurkan tangannya. "Apa?" tanya Bulan yang sama sekali tidak tahu apa yang Jeno inginkan.
"Ponsel kamu." Jeno meminta ponsel Bulan.
Bulan tak ingin memperpanjang masalah. Apalagi jika dirinya dan Jeno sampai bertengkar di tempat ini. Sangat tidak lucu. Pasti semua bawahannya akan menggunjing dirinya.
Tahu apa yang diinginkan Jeno, Bulan memberikan ponselnya pada Jeno. "Hanya ini." tekan Jeno ingin mengetahui jumlah ponsel Bulan.
"Ada satu lagi. Tapi di rumah. Untuk komunikasi dengan Gara. Jarang aku bawa saat bekerja." jelas Bulan dengan jujur.
Jeno langsung menghidupkan layar ponsel Bulan. Berselancar ke beberapa aplikasi untuk mengetahui apa yang dia inginkan. Apalagi ponsel Bulan tanpa kata sandi. Sehingga Jeno dengan mudah bisa melihat isi dari ponsel Bulan.
"Aku tidak punya nomor Rio. Aku juga tidak tahu, dia akan datang ke sini. Aku sama sekali tidak pernah berkomunikasi dengannya." jelas Bulan bisa menebak apa yang Jeno ingin cari tahu.
Jeno meletakkan ponsel Bulan di atas meja. "Lalu bagaimana dia bisa tahu kamu ada di sini. Padahal ini hari pertama kami bekerja." tanya Jeno menyelidik.
Bulan menggeleng. "Bukankah aku sudah katakan. Aku tidak tahu apapun." tekan Bulan.
Bulan tersenyum melihat wajah Jeno yang terlihat kusut. "Kamu bawa apa? Aku lapar." cicit Bulan mengalihkan topik pembicaraan.
Dirinya tak ingin dirinya dan Jeno malah bertengkar. Apalagi sekarang mereka di tempat yang sangat tak tepat untuk berdebat.
Jeno lagi-lagi menghela nafas. Dengan malas dia membuka makanan yang dia baru saja beli. "Ini untuk aku?" tanya Bulan tersenyum, mengambil makanan tersebut.
"Kamu belum makan?" tanya Bulan lagi, yang mendapat gelengan lesu dari Jeno.
"Aaa.... Buka mulut kamu." pinta Bulan, ingin menyuapi Jeno.
Jeno tertegun sesaat. Ini pertama kalinya Bulan memperlakukannya dengan sangat romantis. "Ayo... Buka mulut kamu. Tangan aku pegel." pinta Bulan, saat Jeno masih menutup mulutnya.
"Pintar." cicit Bulan saat Jeno membuka mulutnya, dan dia menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulut Jeno.
Bulan terus menyuapi Jeno serta dirinya secara bergantian hinggan makanan habis. Tak ada percakapan saat keduanya sedang makan.
"Ini. Minum dulu." Bulan menyodorkan sebotol air minum yang memang sudah Jeno beli.
"Makasih makan siangnya." lanjut Bulan selesai makan.
Tubuh Bulan membeku, saat Jeno memeluknya dengan posesif dari samping. "Jangan dekat dengan lelaki manapun. Aku tidak suka. Apalagi Rio yang jelas-jelas menyukai kamu." tutur Jeno.
Bulan menatap ke arah pintu. Rasa was-was, takut jika tiba-tiba ada yang membuka pintu. Dan melihat apa yang dia lakukan. Rasanya sungguh tak etis.
"Jeno... Bisa lepas. Maaf,,,, tapi ini di tempat kerja. Tolong,,, kamu mengerti." pinta Bulan dengan hati-hati. Takut jika Jeno salah mengartikan apa yang dia katakan.
Jeno melepaskan pelukannya. Menatap Bulan dengan lamat. "Jadi kalau tidak di tempat kerja boleh dong." goda Jeno, membuat Bulan salah tingkah.
"Sebaiknya kamu pulang. Aku sedang bekerja." usir Bulan, tak ingin Jeno sampai tahu jika dirinya salah tingkah.
"Kapan kita ke desa?" tanya Jeno langsung.
__ADS_1
"Setelah nilai ujian kamu keluar."
"Masih terlalu lama. Mama dan papa minta secepatnya." ujar Jeno berbohong, membawa nama orang tuanya untuk melancarkan niatnya.
Bulan cemberut. "Cckkk,,, ini semua gara-gara kamu."
"Bagaimana kalau hari sabtu. Bukankah kamu libur. Jadi kita bisa menginap di sana. Hari seninnya kamu cuti sehari." saran Jeno.
"Cuti. Aku baru mulai kerja."
"Ya... Ya sudah terserah kamu. Nanti aku bilang mama sama papa. Jika kamu belum bisa." ujar Jeno dengan ekspresi sedih.
"Jangan..." seru Bulan segera mencegah Jeno.
"Kenapa?" tanya Jeno.
Padahal hati Jeno terlonjak senang. Dirinya tahu jika Bulan pasti akan luluh jika membawa nama kedua orang tuanya.
Bulan mengangguk. "Apa.. Kamu bisa?" tanya Jeno yang kembali mendapat anggukan dari Bulan.
"Sekarang kamu pulang. Aku mau kerja." pinta Bulan.
"Iya... Nanti aku jemput. Oke."
"Aku bawa mobil."
"Tidak ada penolakan. Yang ada nanti Rio datang lagi."
"Oke... Baiklah." pasrah Bulan. Tak ingin berdebat dengan Jeno.
"Aku pulang dulu sayang. Hubungi aku jika ingin pulang." cicit Jeno.
Bulan mengangguk. "Maaf, aku tidak bisa mengantar sampai depan."
"Iya,, aku paham."
Jeno mendekat. Mencium seluruh wajah Bulan. "Jeno...!! Risih." geramnya. Padahal hati Bulan berbunga dengan tindakan yang dilakukan Jeno.
Jeno hanya tersenyum sempurna. "I love you, my moon." ucapnya.
"Bulan ku... Boleh aku minta sesuatu?"
"Apa?"
"Cium aku. Masa aku terus yang mencium kamu." pinta Jeno merengek seperti anak kecil.
Bulan tertawa pelan. Menangkup kedua pipi Jeno. Mencium kening Jeno dengan lembut. Lalu mengecup singkat bibir Jeno.
"Sudah sana,,, pulang." usir Bulan.
Jeno menunjuk ke arah bibirnya. "Padahal aku ingin yang lama di bagian ini."
"Jeno...."
Jeno tertawa pelan. Cup.... "Aku pulang,, my moon." ucap Jeno setelah mencium singkat bibir Bulan sembari mengerlingkan sebelah matanya dengan genit.
Jeno membuka pintu, tapi dia menghentikan langkahnya saat berada di ambang pintu. Menoleh ke belakang, seakan sangat berat untuk meninggalkan ruangan Bulan.
"Sudah sana,,, pulang." usir Bulan.
Bulan tersenyum sempurna melihat Jeno dengan langkah berat meninggalkan ruangannya. "Padahal gue juga ingin kamu di sini." cicit Bulan.
Begitu keluar dari ruangan Bulan, Jeno kembali ke mode pendiam. Beberapa bawahan Bulan yang menyapanya, hanya di balas anggukan kecil dengan ekspresi datar.
Juga beberapa bawahan Bulan yang perempuan, yang menyapanya dengan ramah, sama sekali tidak mengubah ekspresi Jeno.
Bagi Jeno,,, senyumnya dan tingkah kekanakan-kanakan hanya dia perlihatkan saat bersama dengan belahan hati. Bulan.
Di dalam mobil, Rio memukul stir mobil dengan kencang. "Sial.... Mereka mengatakan jika Bulan masih sendiri. Lantas kenapa ada lelaki yang mengaku calon suaminya. Dan Bulan,,,, dia diam. Dia tidak menyanggahnya." lirih Rio menebak sendiri apa yang terjadi.
Rio mengetahui semua aktifitas Bulan karena dia mendekati seseorang yang berkuasa di lingkup Bulan bekerja. Sehingga Rio bisa tahu dengan mudah jika mulai hari ini Bulan ditugaskan di tempat tersebut.
Niat hati ingin mulai mendekati Bulan, Rio malah menerima kenyataan jika Bulan sudah mempunyai calon suami, dengan kedatangan Jeno.
Rio,,,, setelah dia bisa melihat seperti dulu, hal pertama yang dia lakukan adalah mencari tahu semua tentang Bulan.
Begitu melihat wajah cantik Bulan yang penuh karisma, Rio langsung terjatuh dalam pesona Bulan. Ditambah sang mama yang sangat setuju jika Rio mendekati Bulan.
Rio tak serta merta langsung mendekati Bulan. Dirinya memulihkan terlebih dahulu badan serta fisiknya. Setelah dirasa fisiknya tak lagi kurus, dan terlihat proporsional, Rio berani menampakkan diri di depan Bulan.
"Tapi,,, suara itu. Sepertinya gue pernah mendengarnya. Tapi dimana?" Rio berusaha mengingatnya.
"Aaahhh.... Iisshhhh." desis Rio tak bisa menemukan apa yang dia cari di dalam benaknya.
__ADS_1
Rio meninggalkan tempat kerja Bulan dengan rasa kecewa dan juga ke kesal. "Gue harus cari tahu. Siapa lelaki itu. Jika dilihat, dia masih sangat muda. Lagi pula, masih calon suami. Jadi gue nggak akan menjadi pembinor." ujar Rio.
Tentu saja Rio bertekad mencari tahu siapa Jeno. Lelaki yang juga menaruh hati pada Bulan.