PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 118


__ADS_3

"Dimana sekarang Bulan berada?" tanya atasan Bulan, pak Bimo pada kepala polisi yang baru saja menerima berkas-berkas kejahatan Timo.


"Siap pak. Bulan mengatakan ingin pergi menangkap pelaku." jawabnya dengan lantang.


Atasan Bulan tersenyum dalam hati. Dirinya sama seperti yang lain. Menebak jika semua berita yang beredar luas di media sosial tanpa bisa dibendung adalah ulah Bulan.


Tentu saja kebanggaan terhadap bawahannya tersebut harus dia simpan seorang diri di dalam hati. Pasalnya, saat ini di ruangannya banyak anggota polisi dari berbagai daerah dengan jabatan yang mentereng.


Mereka sengaja berkumpul untuk membahas masalah ini. Yakni kejahatan Timo yang tersebar luas sebelum pihak berwajib mengadakan konferensi pers.


Kasus ini adalah kasus besar, yang sangat lama. Tentunya pihak berwajib ingin semua terkoordinir sesuai dengan peraturan yang berlaku, saat mereka mengungkap kasus ini.


Sayangnya, Bulan mengambil alih semuanya. Melakukan apa yang dia inginkan. Dan semua karena adanya kakek Timo, yang harus dia lindungi.


"Segera lacak, siapa yang berani menyebarkan semua ini tanpa persetujuan dari kita!!" seru pak Bimo, yang harus menjalankan perannya.


"Maaf pak, anggota kita sudah ada yang melakukannya. Tapi sampai sekarang, titik keberadaan penyebar belum juga ditemukan." jelas anggota lain.


"Bagaimana dengan berita di saluran televisinya. Apa ada yang sudah ke sana, untuk memastikannya?" tanya pak Bimo.


"Sudah pak. Dan mereka bahkan sama sekali tidak tahu menahu. Ada pihak tertentu yang menyabotase siaran mereka." jelasnya lagi.


"Tunggu. Jika tidak salah, ada nama Tuan David pada ketiga saluran televisi sebagai beberapa persen pemilik saham." tukas anggota lainnya.


"Selama ini, beliau sama sekali tidak melibatkan diri dalam urusan politik atau militer sekalipun. Jadi saya rasa, tidak mungkin beliau ikut andil dalam masalah ini." sahut yang lain.


Semua yang ada di ruangan mengangguk. Sebab, memang selama ini Tuan David selalu menolak jika ada kerjasama yang berbau politik, atau berbau hukum.


Tanpa mereka tahu, Tuan David melakukannya karena permintaan Bulan. Dan memang, ini pertama kalinya bagi Tuan David melakukan hal semacam ini.


"Dengan siapa Bulan pergi?" tanya pak Bimo.


"Dengan dua bawahan saya. Hilman dan Andre.'' jelasnya.


Semua memandang tak percaya ke arahnya. ''Benar, Bulan hanya meminta dua orang.'' ucapnya lagi, sebab semua mata menatapnya dengan tatapan tak percaya.


''Kenapa dia tidak melapor dulu. Bertindak sesukanya." seru anggota lainnya, dimana jabatannya lebih tinggi dari pada Bulan. Tampak jelas dia memperlihatkan rasa tidak sukanya pada Bulan.


Pak Bimo melirik sekilas ke arahnya. "Saya sudah memberi wewenang mutlak pada Bulan untuk mengambil alih masalah ini." jelas beliau tak mau jika Bulan sampai terkena masalah. Atau terkena hukuman.


Semua lantas terdiam. Tapi, ada dua pasang mata yang menatap pak Bimo dengan tatapan intens penuh makna. Dan sedari tadi, mereka hanya diam menyimak tanpa bersuara sedikitpun.


"Bagaimana dengan kakek Timo?" tanya anggota lainnya, melihat jika bakat sang kakek sangat langka.


"Bulan mengatakan, dia ada ditangannya." jelas kepala polisi tanpa menjelaskan apa yang Bulan katakan secara menyeluruh. Sebab semua pasti tahu makna dari ucapannya.


Seorang berdiri. Menatap pak Bimo dengan tajam. "Disiplinkan bawahan kamu. Ingat, jangan sampai kamu menyesal. Karena memelihara binatang yang tak bisa kamu perintah dengan baik." ujarnya, lalu pergi meninggalkan ruangan. Disusul seseorang dibelakangnya.


Semua hanya diam. Mereka tahu jika lelaki tersebut menyindir pak Bimo karena terlalu membebaskan Bulan untuk bertindak tanpa bertanya terlebih dahulu.


"Tapi saya setuju dengan Bulan. Jika terlalu banyak yang menyergapnya, maka pasti masyarakat sekitar akan tahu. Dan malahan, Timo bisa-bisa kabur sebelum kita tangkap." ujarnya membenarkan Bulan hanya membawa dua orang saja.


"Tapi dia seorang psikopat. Pasti sulit menangkapnya." sahut yang lain, ragu dengan rencana Bulan.


"Bukankah Bulan yang berhasil mengungkap kasus ini. Dan menemukan pelaku. Dan saya yakin, Bulan lebih tahu dia dari pada kita." tukas yang lain.


"Dan untuk kakek Timo, dia memiliki kemampuan yang sangat hebat. Bisa bahaya, jika berada di tangan orang yang salah." ujar anggota lainnya.


"Benar. Saya juga setuju."


Pak Bimo hanya bisa mengangguk. "Saya percaya dengan bawahan saya. Selama ini, dia selalu pulang dengan dagu terangkat." cicit pak Bimo.


Dan semua yang berada di ruangan setuju dengan pernyataan pak Bimo. Sebab, Bulan selalu menjalankan misi dengan baik.


Meski dalam misi, mereka harus kehilangan rekan dalam satu tim. Sebab, hal seperti itu adalah hal yang biasa terjadi.


Pak Bimo tahu, jika perkataan rekan kerjanya tadi bukan hanya menuju ke arah Bulan. Tapi pada sang istri dan sang putri yang sekarang mereka sekap entah dimana.


"Semoga apa yang saya lakukan tidak membahayakan kalian." batin pak Bimo, merasa bersalah. Karena tingkah laju serta ketamakannya, dua orang yang dia sayang kini dalam bahaya.


"Apa bawahan kalian sudah menjaga di tiga tempat yang disebutkan dalam video?" tanya pak Bimo meneruskan pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Tenang saja pak, sekarang kondisi sudah berjalan dengan kondusif." jelasnya.


"Tapi, ada sebuah rumah yang hanya tinggal abu. Sebab sudah habis terbakar. Dan kami menduga, jika kebakaran tersebut disengaja. Karena bawahan saya menemukan jurigen berisi bensin di sekitar kejadian." jelasnya.


"Jasad dokter Vinc?" tanya pak Bimo.


"Kami masih berkoordinasi dengan pihak keluarga. Dan kami masih menunggu kedatangan mereka. Sebab, mereka tinggal di luar negeri." ungkapnya.


Pak Bimo mengangguk. "Baik. Laporan kalian saya terima. Kembali bekerja." ujar pak Bimo.


Sepeninggal semua orang, pak Bimo mengambil ponselnya. Dimana dirinya baru saja mendapatkan kiriman gambar sang istri dan sang putri yang terlihat semakin kurus dan juga sangat tertekan.


Pak Bimo tak mengirimkannya ke Bulan. Sebab beliau tahu, jika ponselnya juga sudah mereka sadap. Akan menjadi malapetaka, jika sampai mereka tahu. Jika dirinya memberitahu semuanya pada Bulan


"Memang, kita akan menjadi susah jika berteman dengan orang yang salah. Tapi, semua memang salah saya. Karena mengambil jalan yang salah." sesal pak Bimo.


Yang ternyata mempunyai banyak harta, sama sekali tak menjamin rasa nyaman di kehidupannya. Apalagi, harta yang dia dapat berasal dari pekerjaan kotor.


Pak Bimo mengirimkan foto tersebut ke dalam emailnya. "Semoga, setelah kasus ini, Bulan bisa menemukan mereka." batinnya berharap pada Bulan.


Beliau sengaja menyimpan semua di email. Dan akan memindahkan ke flash disk. Lalu menyerahkan pada Bulan. "Sebenarnya, dengan siapa Bulan bekerjasama?" batinnya.


Pak Bimo yakin, jika selama ini Bulan tidak melakukannya seorang diri. Ada seseorang di belakangnya. "Lebih baik aku tidak tahu. Ya,,, dengan begitu Bulan akan tetap aman." batinnya.


Meski sebenarnya pak Bimo merasa penasaran. Sebab, seorang Bulan tak mungkin mau bekerjasama dengan seseorang. Apalagi Bulan termasuk orang yang memilih.


Di sebuah rumah kosong yang tak berpenghuni, Timo tertawa keras melihat hewan di depannya mengeluarkan suara kesakitan. Bahkan, hewan tersebut lemas tak berdaya.


"Ayo,,, jangan malas...!!" seru Timo, memukul hewan tersebut agar bangun. Sayangnya, hewan tersebut sudah kehabisan tenaga. Dan hanya mampu mengeluarkan suara rintihan kesakitan.


Klontang..... Timo melemparkan kayu di tangannya ke sembarang arah dengan rasa kesal. "Aaahhh,,,!! kamu sudah tidak menarik lagi. Dasar tidak berguna." umpat Timo menyeringai, menatap ke arah hewan tak berdosa tersebut.


Timo berdiri. Dengan sebelah sudut bibir terangkat ke atas menatap binatang malang di depannya. Lalu dia kembali berjongkok. Entah apa yang akan dia lakukan. Tangannya terulur membelai tubuh binatang tersebut dengan lembut.


"Gue benci makhluk lemah." gumamnya.


Saat Timo hendak menekan tangannya ke leher hewan tersebut, indera pendengarannya menangkap suara manusia. "Siapa di luar." cicitnya menajamkan pendengarannya.


Dirinya tentu saja ingin memastikan suara yang dia dengar dari luar rumah kosong ini. "Siapa mereka?" lirih Timo, mengintip dari dalam rumah dengan sedikit menyibak gorden di jendela rumah tersebut.


"Ehhh,,, kenapa sangat berdebu." keluhnya, merasakan pernafasannya sangat tak nyaman. Pertanyaan yang aneh. Memang siapa yang mau membersihkan rumah kosong tersebut.


Timo melihat ada dua orang yang sedang berdiri di depan rumah yang saat ini dia tempati. Seorang perempuan dan seorang lelaki.


Sementara di samping mereka ada sebuah sepeda motor. Pastinya, sang perempuan adalah Bulan, sementara yang lelaki adalah Andre.


Dan untuk Hilman, dia tentu saja mengumpat di sebuah tempat. Dimana Timo tak akan bisa melihatnya. "Untuk apa mereka ke tempat seperti ini?" cicit Timo.


Tiba-tiba Timo tersenyum aneh. Menatap ke arah mereka berdua. "Kalian datang di saat yang tepat." cicit Timo, dengan wajah berseri bagai mendapatkan mainan baru di depannya.


Bulan menyenggol lengan Andre. "Dia memperhatikan kita." lirih Bulan.


Andre sebenarnya sangat amat penasaran. Dari mana Bulan mengetahuinya. Dirinya saja sedari tadi tak melihat batang hidung Timo. Tapi kenapa Bulan bisa melihatnya. "Pantas, dia selalu berhasil menjalankan misi." batin Andre.


"Ccckk,,,, bagaimana ini sayang. Kita kehabisan bensin. Mana kelihatannya tempat ini tak berpenghuni..!!" seru Andre, dengan sengaja mengeraskan nada suaranya supaya Timo mendengarkannya.


"Kamu sih,,, pake ngikutin aplikasi di ponsel kamu. Yang ada kita malah kesasar." seru Bulan tentunya dengan nada yang sama dengan Andre.


Bulan memberikan isyarat pada Andre melalui kerlingan matanya. Jika Timo sepertinya tertarik menjadikan mereka berdua targetnya.


Bulan tersenyum samar, dia merasakan pergerakan dari handle pintu salah satu rumah. Tepatnya rumah di depannya. "Khemm...." dehem Timo.


Andre langsung menoleh, menatap ke arah sumber suara. "Loh,,, kok ada orang?" tanya Andre dengan ekspresi yang dibuat seakan dirinya terkejut dengan datangnya Timo.


Timo langsung memarkan senyum manisnya. Layaknya seorang yang baik hati. "Maaf, saya tidak sengaja mendengar percakapan kalian. Kebetulan saya kembali ke rumah, karena ada barang yang harus saya ambil." ujar Timo membuat alasan.


"Emmm,,, apa mobil di sana itu milik kamu?" tanya Bulan dengan gaya anggun dan sangat ramah.


Timo semenjak memandang ke arah Bulan tanpa berkedip. "Khemm,,, apa yang ditanyakan kekasih saya ini benar?" ulang Andre, menanyakan apa yang ditanyakan Bulan pada Timo.


"Aahh,,, benar. Itu mobil saya. Iya." lagi-lagi, Timo menatap ke arah Bulan dengan senyum di bibirnya.

__ADS_1


Andre hanya bisa menghela nafas. "Ternyata bukan hanya laki-laki normal saja kepincut dengan dia. Orang seperti Timo juga tak bisa berkedip melihat kecantikannya." batin Andre yang malah ikut-ikutan menatap Bulan dengan lamat.


Bulan melirik ke arah Andre. Menyikut perutnya dengan keras. "Iisshhh,,,," desis Andre memegang perutnya.


"Instingnya memang sangat kuat." batin Andre.


"Maaf, mau tanya. Sebenarnya ini di daerah mana?" tanya Bulan memecah keheningan.


"Memangnya, ada apa dengan motor kalian?" bukannya menjawab apa yang Bulan tanyakan, Timo malah balik bertanya pada mereka.


"Kita kehabisan bensin. Dari tadi kita terus berjalan, tapi tak ada toko atau SPBU." keluh Bulan memasang ekspresi imutnya.


"Perempuan cantik dan seksi memang dangat berbahaya." batin Andre.


"Pasti kalian sangat kelelahan." sahut Timo.


"Lumayan." ujar Bulan, mengipaskan telapak tangannya di depan wajah.


"Bagaimana jika kalian mampir dulu. Ehh,,, tapi maaf sebelumnya. Rumah saya sangat berantakan dan kotor." cicit Timo menawarkan.


"Maaf, kekasih saya sangat alergi debu. Dia akan terus menerus bersin jika menghirup debu." ujar Andre beralasan.


Jika mereka masuk ke dalam rumah. Maka rencana mereka untuk menangkap Timo pasti akan semakin sulit.


Tanpa Timo sadari, dari arah belakang Hilman telah mengintai. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk Hilman melakukan apa yang Bulan perintahkan.


Bulan tetap menampilkan ekspresi biasa. Sedangkan Andre langsung memandang ke arah Bulan. Semua dikarenakan Hilman bergerak sebelum Bulan memberi intruksi.


''Apa yang dia lakukan?!" geram Bulan dalam hati pada Hilman.


Bulan melingkarkan tangannya di lengan Andre. "Sebaiknya kita mencari bensin. Aku lelah sedari tadi berjalan." cicit Bulan sembari memainkan sebelah alisnya.


Andre tahu, jika sebenarnya Bulan memberinya sebuah kode. Bertanya kenapa rekannya, Hilman bergerak sebelum Bulan memberi kode.


"Iya,,, tapi kita istirahat sebentar. Aku capek." sahut Andre menggelengkan kepala, menandakan dirinya juga tidak tahu apa yang akan dilakukan Hilman. Sebab, sebelumnya tak ada pembicaraan apa-apa antara dirinya dan Hilman terkait rencana Hilman.


Timo memandang ke arah tangan Bulan yang melingkar di lengan Andre. Kedua rahangnya mengeras. "Benar kata kekasih kamu. Lebih baik istirahat dulu di sini. Saya akan menemani kalian." ujar Timo dengan senyum yang terlihat tulus.


Dengan tiba-tiba Hilman berlari dari belakang Timo, lalu menaruh lengannya di leher Timo, seperti hendak mencekiknya.


"Memang tak bisa di atur." geram Bulan, hendak menendang perut Timo. Bermaksud membantu Hilman.


Tapi Andre melakukannya terlebih dulu. Tapi sayang, seorang Timo ternyata memang licin seperti belut. Dia memegang kaki Andre dengan sebelah tangannya. Lalu menyikut perut Hilman dengan keras.


Hingga Hilman melepaskan tangannya di leher Timo dan melangkahkan kakinya ke belakang. Sedangan untuk Andre, Timo menendang selangkangannya. Sehingga Andre meringis kesakitan.


Untuk Bulan, dia tidak bisa menyerang Timo. Karena terhalang Andre di depannya. Tak membuang waktu, Timo berlari menjauh dari mereka. ''Tidak berguna. Kalian, tetaplah di sini.'' geram Bulan pada Andre dan Hilman.


Bulan menekan benda kecil di telinganya sembari berjalan kearah Timo berlari. "Kenapa elo bergerak?!" tanya Andre menahan rasa sakit.


"Tetap di sini. Seperti perintah Bulan!" seru Andre, saat Hilman hendak menyusul Bulan dan Timo.


Andre menatap Hilman dengan kesal. Bagaimana bisa, Hilman mengabaikan perintah dari Bulan. Dan inilah hasilnya. Timo benar-benar kabur.


Hilman menendang angin di depannya. "Dimana obat biusnya?" tanya Andre menahan emosinya karena kecerobohan dan sok pintarnya Hilman.


Bulan menyuruh Hilman untuk membekap Timo dari belakang. Dengan sapu tangan yang telah Bulan berikan obat bius. Sehingga mereka tak perlu mengeluarkan tenaga untuk menangkap Timo.


Andre memandang ke sekitar mereka sembari mengepalkan kedua tangannya. "Percaya dengan Bulan. Dia lebih hebat dari kita." geram Andre.


"Dia hanya seorang perempuan." sahut Hilman.


Andre tertawa hambar. "Dan inilah yang terjadi. Saat seorang lelaki hebat tidak mengindahkan perkataan perempuan bodoh...!" seru Andre merasa muak dengan Hilman.


Hilman membuang wajahnya ke arah lain. "Kita susul mereka. Kita cari Timo." ajak Hilman.


"Silahkan. Dan gue akan tetap berada di sini. Seperti apa yang di perintahkan Bulan." tegas Andre.


Hilman tak beranjak dari tempatnya berdiri. "Brengsek. Seharusnya sekarang kita bisa membawa bedebah itu dengan mudah. Dan sekarang lihat apa yang terjadi." omel Andre.


"Bulan pastinya lebih tahu sepak terjang Timo. Dia dengan mudah menemukan Timo sebagai pelaku. Pastinya, dia juga sudah menyelidiki siapa Timo." ujar Andre.

__ADS_1


Jujur, Andre merasa cemas jika seandainya Bulan tak bisa menangkap Timo. Pastinya, dirinya dan Hilman akan mendapatkan sanksi. Sebab keduanya yang membuat Timo kabur. Karena Hilman hang tak patuh pada rencana yang dibuat Bulan.


__ADS_2