
''Ma....." panggil Rio, membuat mama Rio terdiam.
Mama Rio memandang ke arah dimana suara tersebut berasal. "Suara itu." cicit mama Rio merasa familiar dengan suara tersebut.
Rio berdiri dengan Arya berada di sampingnya. "Mama elo melihat kemari." bisik Arya memberitahu Rio.
Rio memegang lengan Arya dengan kencang. Sungguh jantungnya berdetak tak normal. Tentu saja Rio merasa kekhawatiran bercampur dengan rasa takut.
Mama Rio menatap sang putra dengan tajam dan intens. Tanpa menghiraukan pecahan vas yang berada di depannya, dia kembali melangkahkan kakinya dengan pelan dan berat.
Mikel dan Jevo dengan sigap membantu mama Rio dengan segera memegang lengan beliau, saat beliau hendak melangkah.
Suasana hening. Tak ada yang bersuara. Bahkan kakek Timo juga merasa heran bercampur sedih melihat keadaan Rio. Meski dirinya belum mengetahui, jika sosok di depannya adalah Rio.
Beberapa detik, kakek Timo merasa familiar dengan wajah pemuda di yang memanggil perempuan tadi dengan sebutan mama. "Wajah itu. Sepertinya aku pernah melihatnya." batin beliau.
Karena wajah Rio dulu dengan sekarang sedikit berbeda. Semua dikarenakan kedua mata Rio yang cacat. Dan juga badan Rio yang kurus. Sehingga wajahnyapun sedikit mengalami perubahan.
Dan ternyata bukan hanya hanya Rio saja yang merasa cemas akan pertemuannya dengan sang mama. Begitu juga dengan Jevo dan Arya, serta Mikel.
"Elo, hubungi Jeno. Tanyakan keberadaan bu Bulan. Katakan apa yang terjadi di sini. Kita tidak mungkin bisa menghandle semuanya." bisik Mikel.
Bukan maksud Mikel, mereka tidak bisa menjaga Rio serta mamanya dan kakek Timo di villa miliknya. Hanya saja, Mikel tidak tahu bagaimana rencana yang telah di susun Bulan. Sehingga mengumpulkan mereka dalam satu tempat dan mempertemukan mempertemukannya.
Mikel yakin, jika Bulan pasti mempunyai niat atau rencana. Sehingga melakukannya. Dan Mikel tidak ingin menggagalkan rencana Bulan.
Dia juga yakin, jika misi mereka tinggal selangkah lagi. Sehingga dirinya harus berhati-hati dalam setiap perkataannya.
Jevo mengangguk paham atas apa yang diinginkan rekan sekaligus sahabatnya tersebut. Jevo juga berpikir seperti Mikel.
Bulan adalah pemimpin mereka dalam misi ini. Dan sebagai bawahan, tak seharusnya mereka berjalan tanpa pimpinan di samping mereka.
Ditambah, Jevo takut apa yang akan mereka katakan pada ketiga orang ini salah. Dan malah akan menambah masalah.
Jevo segera menjauh dari mereka. "Jaga mereka." bisik Jevo sebelum meninggalkan tempatnya berdiri. Mikel mengangguk pelan.
Tak ingin membuang banyak waktu. Jevo segera menghubungi saudara kembarnya yang sekarang berada di rumah mereka.
Jevo tak bertanya keberadaan mereka. Dirinya langsung menanyakan keadaan Bulan. Yang ternyata baik-baik saja. "Syukurlah." ucap Jevo, mendengar jika Bulan dalam keadaan baik-baik saja.
Jevo terdiam. Mendengarkan apa yang Jeno katakan "Sebaiknya kalian segera kemari. Mereka bertiga sudah sadar.'' pinta Jevo memberitahu pada Jeno.
"Oke. Gue tutup." ujar Jevo sebelum mematikan sambungan teleponnya.
Di kediaman Tuan David, Bulan serta kedua orang tua Jeno menghentikan pembicaraan karena Jeno menerima panggilan telepon.
"Apa mereka sudah sadar?" tanya Bulan, setelah Jeno mematikan panggilan teleponnya. Bulan bisa menebak dari perkataan yang Jeno ucapkan.
Jeno mengangguk sembari kembali menyimpan ponselnya kembali. Sedangkan Tuan David dan Nyonya Rindi hanya menyimak tanpa bertanya.
"Jevo menyuruh kita segera ke sana. Terutama kamu. Mustahil mereka bisa menjelaskannya dengan baik. Yang ada semua malah akan berantakan." jelas Jeno.
Bulan paham kenapa Jeno berasumsi seperti, pasalnya Bulan tidak memberitahu apapun tentang rencana ke depannya pada mereka semua. Termasuk Gara sekalipun.
"Oh iya, ponsel aku mana?" tanya Bulan teringat akan ponselnya.
"Kenapa? Kamu mau menghubungi seseorang?" bukannya menjawab apa yang ditanyakan Bulan, Jeno malah balik bertanya.
Bulan mengangguk. "Iya. Gara." jawab Bulan dengan jujur.
Tuan David dan Nyonya Rindi memalingkan pandangan ke arah lain. Menahan senyum di bibir mereka. Keduanya tentu saja bisa mengerti apa yang saat ini Jeno rasakan.
Terlebih Bulan menyebut nama lelaki lain. Dan keduanya juga bisa menebak, jika sang putra sebenarnya juga kenal dengan lelaki yang bernama Gara tersebut.
Tampak dari ekspresi Jeno yang biasa saja saat Bulan menyebutkan nama tersebut. Hanya, kedua orang tua Jeno tidak bisa dibohongi. Jeno memperlihatkan dengan nyata rasa cemburunya.
Sayangnya, Bulan sama sekali tidak paham atau tidak tahu akan hal tersebut. "Ponsel aku. Bukan ponsel kamu." tukas Bulan, saat Jeno malah menyodori ponsel miliknya. Bukan ponsel Bulan sendiri.
Jeno tetap tersenyum manis, meski merasa sedikit kesal. Karena Bulan malah mengingat Gara di setiap kesempatan. "Gunakan saja ponsel aku. Ponsel kamu ada di mobil." jelas Jeno.
Jeno sebenarnya semalam sengaja meninggalkan ponsel Bulan di dalam mobil. Dan tidak membawanya ke dalam rumah atau ke dalam kamar di mana Bulan tidur.
Bulan mengambil ponsel yang Jeno sodorkan. "Baiklah." ucap Bulan.
Bulan tak perlu mencari kontak atas nama Gara di dalam ponsel Jeno. Sebab Jeno terlebih dulu mencarikannya. "Perkeras suaranya." pinta Jeno. Yang ingin mendengar apa hang akan Gara katakan pada Bulan.
Jeno dan Bulan, keduanya seolah lupa jika di samping mereka ada Tuan David serta Nyonya Rindi. Sehingga asyik berbincang sendiri.
Juga dengan Tuan David dan Nyonya Rindi. Seakan keduanya sengaja membiarkan Bulan dan Jeno berbincang menyelesaikan apa yang mereka kerjakan tanpa berniat mengganggunya.
Bulan melakukan apa yang dipinta oleh Jeno. "Halo Gara. Ini gue Bulan." ucap Bulan langsung, saat Gara mengangkat panggilan telepon darinya.
Bulan menjauhkan ponselnya karena Gara langsung menaikkan nada suaranya seperti emak-emak yang sedang memarahi anaknya.
__ADS_1
"Elo kemana saja...?! Semalam gue cemas banget. Berkali-kali gue menghubungi elo. Tapi nggak elo angkat. Padahal tersambung...!!" seru Gara di tempat lain.
Bulan tersenyum mendengar ocehan Gara. Bulan membayangkan ekspresi Gara yang tengah marah. Pastinya sangat menyenangkan jika melihatnya langsung. "Sorry,,,,, ada sedikit kejadian. So,,, semua baik-baik saja."
"Kejadian apa..?! Elo terluka...?! Bagaimana bisa...?! Astaga Bulan, bagaimana elo bisa ceroboh itu. Apa yang terjadi...?!" cecar Gara bertanya layaknya gerbong kereta api.
"Cerewet. Nanti gue beritahu, jika kita sudah bertemu. Oke."
Bulan mendengar ******* suara Gara dari ponsel Jeno. Tampak Gara terlihat kecewa. "Jika saja gue nggak cacat. Pasti gue akan bisa berada di samping elo, membantu elo melakukan apapun yang elo inginkan." lirih Gara, tapi tetap terdengar oleh semuanya.
Tuan David dan Nyonya Rindi serempak menatap ke arah Jeno yang tengah menundukkan kepalanya. Keduanya tak bisa melihat bagaimana ekspresi sang putra.
"Gara. Cacat. Apa hubungan Gara dengan Bulan." batin Nyonya Rindi, merasa khawatir jika sang putra punya saingan.
"Dan jika elo nggak cacat, kita nggak akan pernah bisa bertemu. Kuta tidak akan pernah bisa bersama. Dan bersahabat seperti sekarang." jelas Bulan dengan nada yang terdengar menangkan.
Bulan menghela nafas. "Sorry, gue harus segera pergi. Semua bukti dan apa yang gue perlukan sudah terkumpul. Hanya tinggal menangkap Timo." ujar Bulan.
"Semudah itu? Apa elo akan semudah itu memberikan semua bukti elo ke pihak berwajib. Gue hanya takut, siapa yang seharusnya menjadi pahlawan, malah tidak akan terlihat. Dan akan ada polisi yang naik pangkat secara instan." papar Gara takut jika Bulan menyerahkan hasil penyelidikan mereka ke pihak berwajib secara langsung.
Tuan David mengernyitkan kening. Dunia Bulan serta dunia bisnis yang dia geluti tak jauh berbeda jika dipandang dari sisi kejamnya.
Dan Tuan David paham rasa khawatir yang baru saja disampaikan oleh Gara. Bulan terkekeh pelan. "Sudahlah. Elo lanjutkan tugas elo. Gue yang akan menyelesaikan masalah Timo."
"Kapan?"
"Secepatnya." tukas Bulan tersenyum penuh arti.
Selesai berbincang dengan Gara, Bulan mengembalikan ponselnya pada Jeno. "Om,,, om tadi mengatakan jika saya,, ehh maaf,,,maksud saya, jika kami membutuhkan bantuan, kapan saja om bersedia." tutur Bulan mengatakan kembali apa yang di katakan oleh Tuan David.
Tuan David tersenyum sembari mengangguk. "Katakan saja. Apapun, oma akan membantu."
Bulan tersenyum lega. Sebab dirinya akan membutuhkan kekuasaan papa dari Jeno dan Jevo. "Terimakasih om. Jika sudah waktunya, Bulan akan mengatakan bantuan apa yang Bulan inginkan. Dalam waktu dekat ini." tekan Bulan tersenyum senang.
Jeno menatap perempuan disampingnya dengan tatapan bangga, senang, bercampur malu. Jeno merasa sedikit minder jika berdiri di sebelah Bulan. Tentu saja karena apa yang Bulan miliki pada dirinya.
Padahal, sejujurnya Bulan juga merasa minder berdampingan dengan Jeno. Selain karena umur mereka, dimana usia Jeno lebih muda dari pada dirinya. Bulan juga merasa keluarganya dan keluarga Jeno tidak setara.
Tentu saja dilihat dari harta kekayaan hang keluarga Bulan miliki, dengan kekayaan yang tak terbatas Tuan David serta Nyonya Rindi.
"Om, tante. Bulan pamit dulu. Dan Bulan minta izin untuk membawa Jeno bersama dengan Bulan. Juga dengan Jevo. Jika untuk Arya dan Mikel, Bulan belum kenal kedua orang tua mereka." cicit Bulan.
"Bawa saja. Apalagi Jeno, tidak kamu pulangkan juga tidak masalah." celetuk Nyonya Rindi bercanda.
Nyonya Rindi mencebik. "Alaaaahhh,,, gaya. Padahal mau." ledek sang mama.
"Cckk,,, mama." sungut Jeno menahan senyum di bibir. Tentu saja apa yang dikatakan Nyonya Rindi benar. Jika saja Bulan mau, pasti Jeno dengan senang hati tinggal seatap dengannya.
Bulan dan Jeno berpamitan pada Tuan David serta Nyonya Rindi sebelum meninggalkan kediaman Tuan David.
Sedangkan untuk Tuan David sendiri, beliau segera berganti pakaian dan bersiap berangkat ke perusahaan. Meski terlambat masuk ke perusahaan tidak masalah bagi Tuan David.
Toh,,, perusahaan tersebut miliknya. Tentu saja suka-suka beliau datang jam berapa. Tapi, meskipun perusahaan tersebut miliknya, Tuan David tak sering datang terlambat.
Dirinya akan datang terlambat saat ada kepentingan saja. Tentu saja beliau sadar jika apa yang dia lakukan akan menjadi sorotan para karyawan. Dan beliau takut jika ketidak disiplinannya akan di contoh oleh para karyawan.
"Pa,,, mama senang deh, jika Jeno bisa bersanding dengan Bulan. Mama melihat mereka berdua serasi sekali." tutur Nyonya Rindi sembari membantu sang suami memakai dasi di leher.
Cup,,, Tuan David mencium kening sang istri dengan singkat. "Papa,,, main cium saja." dengus Nyonya Rindi.
"Loh... pahala mama sayang." goda Tuan David terkekeh pelan.
Sekarang sudah jelas, dari mana Jeno mendapatkan gen tersebut. Dimana dirinya suka sekali mencuri cium dari Bulan. Ternyata dari sang papa. Tuan David.
"Pa,,, papa cari tahu dong keluarga Bulan. Jangan sampai Bulan menjadi menantu orang lain. Mama nggak rela." kekeh Nyonya Rindi.
Padahal tanpa sepengetahuan sang istri, Tuan David sudah melakukannya. Hanya saja beliau menyembunyikan hal tersebut, atau dengan kata lain, belum memberitahu sang istri. Mengingat bagaimana sifat sang istri.
"Ma,,, Jeno masih kelas dua SMA." Tuan David mencoba membuat sang istri mengerti. Pasalnya, Nyonya Rindi memang tipikal orang yang harus mendapatkan apa yang dia inginkan. Itulah kejelekan dari beliau.
"Dan beberapa bulan lagi akan kelas tiga SMA." sahut Nyonya Rindi tak mau kalah.
Tuan David menaruh tangannya di pinggang sang istri dari depan. "Ma,,, biarkan saja dulu. Mereka masih baru mengenal. Biarkan Jeno berjuang mendapatkan apa yang dia inginkan dengan caranya." tutur Tuan David mencoba membuat Nyonya Rindi tidak tergesa-gesa untuk mengikat Bulan.
Tuan David hanya takut jika Bulan malah akan menjauh dari Jeno, jika terlalu ditekan. Mengingat siapa Bulan. Dan yang terpenting, Tuan David ingin Jeno berusaha untuk meluluhkan hati Bulan, tanpa bantuan dari siapapun. Supaya Jeno bisa bersyukur dan menjaga apa yang dia telah perjuangkan. Yakni Bulan.
"Jika nanti ada lelaki yang mendekati Bulan bagaimana?" tanya Nyonya Rindi dengan wajah sendu. "Kasihan Jeno kan pa." lanjutnya mencoba mempengaruhi sang suami agar sepemikiran dengannya.
Tuan David mencubit gemas hidung sang istri. "Jodoh tak akan kemana. Biarkan semua berjalan dengan semestinya. Kita,,,, hanya bisa berdiri di belakang, dan di samping Jeno. Memberi dukungan serta saran. Begitu juga, jika nanti Jevo menemukan perempuan pilihannya." papar Tuan David.
"Asal perempuannya berasal dari keluarga baik-baik. Dan bukan Claudia." tegas Nyonya Rindi tak terbantahkan.
"Benci sekali dengan Claudia." goda Tuan David.
__ADS_1
"Memang papa mau, punya menantu yang suka obral tubuh. Mana biasanya malah gratis lagi. Bisa-bisa dia bukan mengandung cucu kita lagi." celetuk Nyonya Rindi, yang memang sudah tahu kelakuan Claudia. Juga dengan Tuan David.
"Kita do'akan saja. Semoga kedua putra kita, kelak mendapatkan perempuan yang baik. Menyayangi kedua putra kita, dan menerima putra kita apa adanya."
"Amin." sahut Nyonya Rindi dengan penuh harap.
Sedangkan di jalan, Bulan dan Jeno berada di dalam mobil. Dengan Jeno duduk di bangku kemudi. Dsn Bulan terlihat sibuk dengan ponselnya yang baru saja dia pegang begitu masuk ke dalam mobil.
"Kita mampir apotik dulu. Beli obat buat kamu." ujar Jeno, mengalihkan perhatian Bulan dari ponselnya.
"Lihat resepnya." pinta Bulan, dengan tetap memegang ponsel di tangan kiri.
Jeno merogoh saku celananya. Memberikan dompetnya pada Bulan. Membuat Bulan heran. Sebab dirinya meminta resep obat. Bukan uang.
"Di dalam dompet." jelas Jeno, jika resep obat yang dituliskan oleh dokter dia simpan di dalam dompet.
Bulan mencari dan mengambilnya. Mengembalikan dompetnya pada Jeno. Bulan hanya menipiskan bibirnya membaca resep yang ada di tangannya.
"Kita langsung ke villa Mikel saja." ucap Bulan, membuang kertas kecil tersebut lewat jendela mobil.
"Loh,, kok kamu buang?" tanya Jeno kebingungan.
"Itu hanya obat pereda sakit. Sementara aku sudah baik-baik saja." jelas Bulan.
"Tapi..."
"Sudahlah. Aku sudah baik-baik saja. Aku sudah menyuntikkan obat ke dalam tubuhku sebelum kamu datang. Lagi pula, aku hanya terkena racun di kulit bagian luar." Bulan memotong perkataan Jeno.
Bulan melihat kulitnya yang tergores benang semalam. Hanya pendek dan tak begitu terlihat bekasnya. Dan Bulan tahu jika hal tersebut tidak berbahaya.
Jika memang berbahaya, pasti sekarang kulit Bulan yang terkena racun akan membengkak. Dan terasa sakit. Namun buktinya, kulit Bulan baik-baik saja.
Bulan menengok ke arah Jeno, dimana Jeno tiba-tiba meraih tangan Bulan dan menggenggam telapak tangan Bulan dengan erat.
Bulan hanya diam. Tidak bertanya mengapa Jeno melakukan tindakan tersebut, atau menolak dengan menarik telapak tangannya dari genggaman Jeno.
Cukup lama Jeno terdiam dengan salah satu tangan menggenggam telapak tangan Bulan. Sementara tangannya yang satu lagi berada di stir mobil.
"Jangan membahayakan diri kamu seperti itu lagi." pinta Jeno, mencium punggung telapak tangan Bulan dengan lembut.
Bulan tersenyum samar. Entah kenapa, perasaannya sangatlah nyaman. Ada rasa yang tidak bisa Bulan jabarkan di dalam hatinya.
"Aku harus menyelamatkan kakek Timo. Dia mencoba untuk bunuh diri." jelas Bulan dengan lembut.
"Apapun alasannya. Kamu jangan melakukan hal seperti itu lagi. Kami tahu, aku sungguh ketakutan saat kamu menghubungi aku." jelas Jeno tak berbohong, apalagi saat dia mendengar suara Bulan yang terdengar lemas.
"Itu sudah pekerjaanku Jeno. Bagi kami, nyawa orang lain lebih penting. Dari pada nyawa kami sendiri. Bahkan nyawa musuh sekalipun." jelas Bulan.
Dan memang seperti itulah resiko dari pekerjaan yang Bulan geluti selama ini. Bagi Bulan, menerima misi berarti siap melakukan apapun. Termasuk nyawa taruhannya.
"Iya, saya tahu. Dan seperti apa yang kamu katakan. Jika nyawa orang lebih penting dari nyawa kamu bukan?" tanya Jeno memastikan. Yang diangguki oleh Bulan.
"Dan sekarang, kamu juga harus memikirkan nyawa saya juga." tukas Jeno.
Bulan mengerutkan keningnya. "Kenapa. Kamu baik-baik saja." sahut Bulan merasa apa yang dikatakan Jeno sangatlah aneh.
"Jika kamu kenapa-napa. Maka saya juga akan kenapa-napa. Seandainya nyawa kamu tak lagi berada di dalam tubuh kamu. Saya juga akan melakukan hal yang sama." jelas Jeno.
Bulan melongo dibuatnya. Bulan paham apa arti dari perkataan Jeno. "Jangan gila. Kamu mau bunuh diri." seru Bulan kesal dengan apa yang dikatakan Jeno.
"Pasti." sahut Jeno dengan yakin.
Bulan hanya bisa menghela nafas panjang. "Kenapa berhenti?" tanya Bulan, dimana Jeno menghentikan mobilnya di depan toko pakaian.
"Mau beli pakaianlah." jelas Jeno.
"Buat siapa?"
"Kamu."
"Jeno, aku sudah memakai pakaian. Sebaiknya kita segera ke villa Mikel. Jangan membuang-buang waktu." kesal Bulan, merasa Jeno melakukan hal yang sia-sia.
"Sumpah. Aku tidak rela melihat kamu berpakaian seperti itu. Di sana banyak lelaki." jelas Jeno.
"Astaga Jeno..." keluh Bulan, yang ternyata Jeno tak rela jika Bulan yang memakai dress dan di lihat oleh orang lain.
"Aku tidak bawa uang."
"Di dompet aku banyak uang."
Bulan hanya bisa melakukan apa yang diinginkan Jeno. Dirinya tidak mau berdebat dengan Jeno, yang malah akan membuang waktu.
Bulan masuk ke toko sendirian tanpa di temani Jeno. Tentu saja Bulan menolak saat Jeno ingin menemaninya. Bisa-bisa Bulan malah akan semakin lama di dalam toko.
__ADS_1