PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
Masa Lalu


__ADS_3

Kami sampai di sebuah rumah dengan pagar dinding menjulang. Pintu gerbang utama yang terbuat dari besi sama tinggi dengan pagar dinding tadi. Saat suara klakson mobil kami berbunyi, seseorang di balik pagar itu mendorong ke samping agar gerbang itu terbuka. Halaman luas yang dihiasi aneka tumbuhan buah-buahan juga bunga terpampang saat mobil masuk. Kemudian mobil itu terhenti di depan sebuah rumah semi moderen, tidak seperti rumah di Kalimantan pada umumnya. Rumah paman tidak berupa panggung.


Satu per satu kami turun dan memasuki rumah itu. Bibi tergopoh-gopoh segera menyambut kami. Ruang tamu yang besar dengan satu set sofa kulit menyapaku saat tiba di dalam.


"Irham?" sapa Bibi. Aku mengangguk sambil mengulas senyum, kemudian mencium punggung tangannya.


Setelah itu, kami menuju ruang keluarga yang tak kalah luas. Ruangan itu memiliki akses langsung ke taman di samping rumah. Cukup sejuk di udara Kalimantan yang cukup panas ini. Di taman itu pun berdiri kokoh pagar tembok. Aku berpikir memang rumah ini didesain dengan pagar tembok mengelilingi.


"Mau istirahat dulu atau makan, Ham?" tanya Paman menepuk bahuku.


"Makan dulu, Paman."


Obrolan ringan mengalir selama kami duduk di meja makan. Paman dan Bibi bergantian menceritakan masa kecilku dulu. Aku terharu bukan karena sanjungan mereka yang menganggap aku anak pendiam dan penurut, tapi karena teringat Ayah. Kasih sayangnya juga perhatiannya. Selama hidup, tak sekalipun beliau membentak apalagi memukul. Hidupku bahagia hingga beliau sering masuk rumah sakit hingga akhirnya meninggal.


Tanpa sengaja sendok kugenggam erat. Namun, pelukan dan tatapan Paman tadi pagi membuat genggamanku terurai. Kutenangkan diri untuk mencari tahu alasan Paman saat itu. Kini, aku harus sabar dan istirahat sebentar. Berharap nanti pikiranku lebih segar dan bisa kembali bercerita dengan Paman dan Bibi.


Kamarku berada di lantai dua. Memiliki beranda yang menghadap ke taman samping rumah. Ruangan yang lumayan luas dibanding kamarku di rumah. Aku berbaring untuk melepas penat. Saat akan memejamkan mata, bayangkan Dilara hadir. Sedang apa dia? Apa yang dilakukannya? Apa dia rindu? Ah, baru juga tadi pagi terpisah, tapi rasanya sudah seperti sekian bulan.


Kubuka galeri di ponsel, di sana beberapa foto Dilara yang kuambil sembunyi-sembunyi tampak. Aku mengulas senyum melihat kecantikan dan beberapa pose natural gadis itu. Rambut tergerai, kulit putih, dan senyum manis.


"Kakak rindu, Dil." Kembali kalimat itu terucap. Aku mendesah. Sejak dari bandara tadi hingga sampai rumah Paman, Dilara belum membuka blokiran baik WA maupun sosial media. Saat mencoba menghubungi Galih, pria itu tak menjawab. Mungkin sibuk dengan skripsinya. Iya, aku lebih dulu lulus dibanding dia maupun Sandra.


Segera kubuang ponsel, lalu mencoba memejamkan mata kembali.


***


Aroma masakan tercium. Perlahan aku menuruni tangga menuju ruang makan. Duduk membelakangiku ada Paman yang tengah sibuk dengan laptopnya. Lalu, di sebelah kirinya ada Bibi dan sebelah Bibi ada seorang gadis. Seumuran Dilara kira-kira. Aku taksir gadis itu anak kedua Paman.


Setelah menyapa mereka, aku duduk di sebelah sisi kanan Paman. Pria itu segera melempar pandangan ke arahku dan menggeser laptopnya. Sedikit berbasa-basi sebentar sebelum akhirnya kami makan.

__ADS_1


"Ikut paman, Ham," ajak Paman setelah kami selesai makan malam.


Aku mengekor Paman menuju sebuah ruangan. Di sana ada meja kerja plus kursi yang tampak empuk. Sementara di depan set meja kursi itu ada sofa single panjang. Bagian belakang meja kerja ada rak model segitiga yang diisi oleh buku-buku. Aku duduk di kursi tepat di depan meja kerja Paman. Menunggu beliau berbicara.


Paman menghela napas perlahan. Punggungnya rileks bersandar di kursi. Tampak santai. Pandangannya menerawang. Entah apa yang seminar dia pikirkan. Aku hanya bisa diam, menunggu.


"Ini semua ... milik ayahmu."


Jantung seolah-olah berhenti berdetak saat mendengar ucapan Paman. Akhirnya, pria tamak ini sadar juga. Aku mengepalkan tangan kuat-kuat. Menahan emosi agar tak menerjang pria yang masih menatap langit-langit ruangan itu.


"Paman sadar setelah apa yang paman miliki dari hasil kecurangan tak membawa manfaat apa pun."


Darahku mendidih. Kepala berdenyut, pandangan tiba-tiba gelap sebentar tanda aku amat sangat marah. Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak sejak dulu hingga harus membuat Ayah meninggal?


"Untuk itu, paman undang kamu supaya bisa bantu ...."


"Cukup!" Kugebrak meja karena sudah tak mampu menahan emosi. "Paman menyuruhku ke sini supaya membantu usaha Paman yang hampir kolaps, 'kan? Lalu, setelah perusahaan selamat, Paman akan menendangku seperti Ayah dulu!" teriakku.


"Kalau itu yang Paman inginkan, mohon maaf. Saya nggak bisa. Sekarang juga, saya akan pulang!"


Tanpa menunggu jawaban paman, aku segera memutar badan dan keluar dari pintu itu. Naik ke lantai atas setelah menutup pintu dengan kasar. Bibi dan putrinya hanya menatapku heran, sedikit ketakutan, tapi tak berani bertanya. Aku hanya memandang mereka sekilas tanpa mau menjelaskan apa yang telah terjadi.


Sampai di kamar, daun pintu kubanting hingga tertutup rapat dan memberikan efek getar di dinding. Perlahan aku bersandar pada pintu, lalu luruh bersamaan air mata yang mengalir deras tanpa bisa kutahan. Ada gelombang yang menyentak mengurai sesak di dada. Membuatku terisak. Aku duduk sambil memeluk kedua kaki dan menangis. Entah berapa lama aku menangis tersedu.


Badanku begitu lelah, pikiran berkecamuk. Saat itu yang kubutuhkan hanya tidur. Beberapa kali telepon dari Ibu tak kuacuhkan. Namun, tetap mengirim pesan supaya wanita hebat itu tak khawatir. Setelah itu, ponsel kumatikan dan aku terlelap.


***


Matahari pagi menerobos jendela kaca yang lupa kututup tirainya. Sinarnya begitu menyilaukan mengenai mata. Aku terduduk karena bingung ada di mana? Dan sadar saat seseorang mengetuk pintu kamarku dengan keras. Bukan suara Bibi, entah siapa. Gegas aku beranjak dan masuk kamar mandi. Tak kupedulikan ketukan dan teriakkan itu. Saat ini, aku hanya butuh menyiram tubuh agar segar.

__ADS_1


Selesai mandi, sunyi kembali menyapa. Ketukan sudah tak terdengar lagi. Lekas aku berpakaian dan berkemas. Hari ini juga, aku kembali ke Jawa. Tidak sudi berurusan dengan keluarga Paman lagi. Bodoh memang, karena terlalu ingin menuruti kemauan keras Ibu, aku mau saja datang kemari.


Barang yang belum sempat kukeluarkan semua itu sudah tersusun rapi kembali di dalam koper. Aku menghela napas kasar, lalu keluar kamar. Suasana pagi disambut dengan aktivitas seisi rumah yang seperti keluarga pada umumnya. Sarapan dan ngobrol.


Aku mencibir, mungkin mereka tak menganggapku ada. Mendengar aku mendekat, seluruh anggota keluarga itu menoleh. Lalu, rasa terkejut dan lontaran berbagai tanya keluar. Mau ke mana? Kamu kenapa? Ada apa? Hah! Klise.


"Aku mau pulang. Sejak dulu memang aku nggak berhak atas semua ini."


"Ham! Kamu salah paham! Justru kamu paman undang ke sini karena semua ini milikmu!" teriak Paman dari meja makan. Pria itu telah siap dengan setelan jasnya. Tak kupungkiri Paman terlihat gagah dan berwibawa. Sangat cocok menjadi pemilik perusahaan tambah dan kebun sawit.


"Duduk dulu, Nak. Biarkan pamanmu bicara," rayu Bibi dengan mata berkaca-kaca.


Luluh atas sikap Bibi, aku segera mendekati Paman. Karena pada dasarnya aku tak tega melihat seorang wanita menangis. Aku duduk, masih tak mau menatap Paman. Tak lama, semuanya kebenaran diungkap.


Paman pernah meminta bantuan keuangan kepada Ayah untuk membeli perusahaan tambang batu bara yang hampir bangkrut. Saat itu, Ayah memang pengusaha perkebunan karet dan kelapa sawit yang sukses dengan lahan kepemilikan berhektar-hektar. Untuk membeli perusahaan itu juga berinvetasi di sana-sini, akhirnya Ayah menjual semua perkebunannya. Nahas tak bisa ditolak. Selama beberapa bulan, perusahaan itu tak berkembang karena batu bara tak ada yang membeli. Terlebih Paman tak memiliki pelabuhan sendiri yang membuat para konsumen mengurungkan niatnya. Ayah salah ketika dia terlalu percaya kepada adik yang sangat disayanginya. Dia memberikan apa pun yang diminta tanpa pertimbangan.


Paman tak bisa membayar hutangnya kepada Ayah hingga membuat orang tuaku itu drop. Seiring berjalannya waktu setelah kepulanganku ke Jawa. Perlahan tapi pasti Paman mampu mengelola perusahannya. Sedikit demi sedikit perusahaan itu mulai bangkit.


Paman memiliki dua anak. Laki-laki dan perempuan. Anak lelaki yang dia gadang sebagai ahli waris, malah terjerat barang haram. Hidup yang berkecukupan membuatnya terlena hingga gaya hidupnya bergelimang dosa. Judi, mabuk, dan memaki narkoba. Hingga kini, putra paman mendekam di penjara. Aku tak ingin mengatakan itu hukuman untuknya, tapi lebih ke teguran. Dan bersyukur, Paman cepat memahami itu.


Paman frustrasi karena sejak awal Leon--nama anak itu--tak bisa diandalkan mengurus perusahaan. Laki-laki tua itu tak ingin perusahaan hancur. Untuk itu, dia memintaku datang. Mengajariku berbisnis hingga melepas nanti jika aku sudah dianggap mampu. Juga, untuk menembus kesalahannya di masa lalu.


"Perkebunan sawit dan karet milik ayahmu akan Paman kembalikan. Paman tak berhak. Paman sadar saat tak ada satu orang pun yang bisa menggantikan paman nanti. Anak paman tak bisa diharapkan." Ada kegetiran dari setiap kata yang terucap. Mata tuanya mengguratkan kesedihan juga penyesalan yang mendalam.


Aku hanya bisa menatap dengan kabut yang menggelayut di mata. Pandanganku buram. Jelas orang tua mana tak sedih saat memiliki anak yang tak bisa diandalkan. Bahkan dari kekayaannya, anak itu terlibat masalah. Mungkin Paman terlalu royal dan Bibi terlalu sibuk dengan teman-teman sosialitanya hingga lupa ada anak yang perlu perhatian. Ah, entahlah. Aku tak mau memikirkan hal itu.


Aku dengan suka rela menerima keputusan Paman. Kuambil apa yang menjadi hakku dan akan kugunakan untuk membahagiakan Ibu. Mendaftarkan haji untuknya misalnya. Ah, terbayang senyum bahagia Ibu sudah membuatku terbaru.


"Aku mau, Paman. Ajari aku," rengekku yang disambut haru oleh Paman dan Bibi.

__ADS_1


Aku akan belajar dengan giat. Usaha Ayah tak boleh mati sia-sia. Aku ingin membuat Ayah bangga.


Next


__ADS_2