
Mikel dan Sapna pergi berdua, dengan Arya mengikuti mereka berdua sebagai paparazi yang mencuri gambar keduanya di beberapa kesempatan. Untuk Jeno dan Bulan, mereka masih berada di apartemen, bersama Gara.
Sedangkan Jevo, juga tak mau kalah dengan Mikel. Dia juga bergerak cepat melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Yakni menyelidiki rumah Tuan Zain.
Seperti yang dikatakan Bulan. Jika lebih baik lebih cepat mereka bergerak mengumpulkan bukti. Jevo tersenyum. "Gila,,, gue benar-benar nggak nyangka bakal melangkah sejauh ini." cicit Jevo.
Yang awalnya dirinya dan yang lain hanya bermaksud menyelidiki kasus pembunuhan berantai yang banyak memakan korban murid SMA.
Padahal sang tersangka sekarang sudah berada di tempat yang jauh, yaitu neraka. Tapi kini mereka ikut masuk ke dalam misi selanjutnya yang hendak diselesaikan oleh Bulan.
Catat. Mereka ikut dengan suka rela. Tanpa Bulan minta dan Bulan paksa. Dan pada kenyataannya, Bulan juga melarang mereka. Tapi mereka tetap bersikeras ingin ikut. "Tapi asyik juga. Gue jadi bisa mengasah ketrampilan gue. Pengalaman gue juga bertambah."
Jevo mengendarai mobil dengan santai. Tidak terlalu terburu. Sembari memikirkan cara untuk bisa melancarkan aksinya. "Biasanya, jam segini orang tua Claudia nggak ada di rumah." cicit Jevo, mendapatkan kesempatan.
Jevo pulang dulu ke rumah. Berganti pakaian. Tanpa menelpon untuk memberitahu Claudia, Jevo mendatangi kediaman Tuan Zain.
"Tuan muda,,, silahkan masuk." ujar sang pembantu yang membukakan pintu rumah Claudia.
Jevo tersenyum sembari mengangguk. "Claudia ada bik?" tanya Jevo dengan sopan.
"Ada Tuan muda. Kenapa tadi nggak masuk langsung saja. Jadi menunggu lama di luar." tutur sang pembantu.
"Tidak apa bik, tidak lama kok." sahut Jevo.
Dulu, Jevo memang sering datang ke rumah Claudia. Sehingga dia kenal dengan semua pembantu dan pekerja di rumah Claudia.
Meski dengan pembantu dan semua yang bekerja di rumah Claudia, Jevo tetap sopan. Sama sekali tidak memandang rendah karena pekerjaan mereka.
Jevo memperlakukan mereka seperti dengan para pembantu di rumahnya. Ramah dan sopan. Itulah kenapa, semua pekerja di rumah Tuan Zain menyukai Jevo. Dan selalu menyambut hangat kedatangan Jevo.
Meski pada beberapa kesempatan, Claudia selalu mengomel pada Jevo. Karena tindakan baik yang Jevo berikan pad para pekerja di rumahnya.
Menurut Claudia, mereka berasal dari kalangan bawah. Sehingga orang seperti dirinya dan Jevo tidak pantas melakukan hal semacam itu.
Claudia mengatakan pada Jevo, jika mereka akan ngelunjak dan bersikap kurang ngajar jika keluarga kalangan atas seperti mereka bersikap baik terhadap mereka.
Saat itu, Jevo hanya acuh. Sama sekali tidak menanggapi omelan Claudia. Bagi Jevo, omelan Claudia layaknya angin, yang dengan segera berlalu dari sekitarnya.
Namun, setelah tahu belang seorang Claudia, rasa respek dari Jevo menghilang. Jevo memperlakukan Claudia sama seperti dengan perempuan-perempuan sebelumnya yang pernah dekat dengannya.
"Tuan muda mau menunggu di sini dan saya panggilkan Non Claudia, atau langsung masuk ke kamar Non Claudia. Kebetulan Non Claudia saat ini berada di kamar. Sedang beristirahat. Nona Claudia juga baru saja sampai di rumah." papar sang pembantu menjelaskan.
Sejenak, Jevo diam. "Baru sampai di rumah." batin Jevo. Tapi Jevo menepis keingintahuannya tersebut. Dia datang untuk tujuan lain. Masa bodo dengan Claudia yang baru saja sampai di rumah.
Jevo mengangguk. "Jika boleh, bibik buatkan saja saya minuman dingin. Biar saya menghubungi Claudia sendiri." tukas Jevo.
Jevo tahu bagaimana watak Claudia. Yang ada Claudia akan marah-marah karena di ganggu jam istirahatnya oleh sang pembantu, tanpa mendengarkan terlebih dahulu penjelasan sang pembantu yang berani mengganggu istirahatnya.
Sebab, hal tersebut pernah terjadi. Dulu, saat Jevo datang ke rumah ini. "Baik Tuan muda. Bibik permisi ke belakang dulu." pamit sang pembantu, yang mendapat anggukan dari Jevo.
Jevo menatap sekitar ruangan tempatnya berada. "Nggak mungkin nggak ada kamera CCTV di rumah sebesar ini." batin Jevo.
Jevo tersenyum samar. "Pasti ada ruangan khusus yang digunakan untuk mengendalikan CCTV. Kenapa gue mesti repot. Langsung saja ke sana." batinnya.
Jevo menghubungi Claudia. Menyuruhnya untuk turun, karena sia sekarang berada di rumahnya. Hanya beberapa detik setelah Jevo mengakhiri panggilan teleponnya, terdengar langkah kaki yang cepat.
"Jevo,,,, sayang,,,, kok nggak bilang dulu mau ke sini?" seru Claudia menuruni anak tangga dengan berlari.
Tentu saja Claudia sangat amat senang. Setelah sekian purnama, akhirnya Jevo kembali mendatangi rumahnya.
Claudia langsung mendaratkan pantatnya di kursi dekat Jevo. Belum sempat Claudia mengatakan sepatah katapun, seorang pembantu datang dengan segelas minuman dingin di atas nampan.
"Kalau elo nggak becus kerja, lebih baik elo ngomong. Sekalian mama cari pembantu lain, jadi elo bisa istirahat." ketus Claudia.
Jevo masih diam, dirinya sama seperti sang pembantu. Merasa bingung dengan ucapan yang baru saja Claudia lontarkan. "Maaf Nona, apa salah saya?" tanya sang pembantu, belum menurunkan segelas minuman di nampannya.
"Bodoh..! Seharusnya elo panggil gue. Malah sok cari perhatian. Malah milih buatkan minum dulu." hardik Claudia.
Jevo merasa geram dengan tingkah Claudia. Namun, dirinya hanya bisa menahan perasaan tersebut. "Perempuan brengsek. Sumpah, jika bukan karena misi dari Bulan. Gue pasti sudah merobek mulut elo." batin Jevo, menahan amarahnya.
"Gue yang nyuruh." sahut Jevo, tak ingin lagi sang pembantu kena omel Claudia.
Jevo menggerakkan tangannya. "Taruh saja bik." pinta Jevo pada sang pembantu.
__ADS_1
"Baik Tuan Muda." dengan ramah, sang pembantu menaruh segelas minuman dingin di atas gelas.
"Terimakasih." tutur Jevo.
Kedua mata Claudia menatap tajam ke arah sang pembantu. "Segera ke belakang." usir Claudia sangat tidak menyukai sang pembantu.
Claudia merasa jika pembantunya mencoba mencari muka dihadapan Jevo. Padahal jika dilihat dari umur, beliau lebih cocok menjadi ibu Jevo maupun Claudia.
"Baik Nona." sang pembantu segera pamit untuk pergi ke belakang. Jevo hanya bisa memutar kedua bola matanya dengan jengah.
"Berapa kali aku ingatkan. Jangan terlalu baik dengan orang seperti mereka. Astaga Jevo,,,, aku tidka ingin kebaikan kamu disalah artikan oleh mereka. Yang ada mereka malah besar kepala. Nglunjak. Mereka itu orang rendahan." omel Claudia yang sama sekali tidak masuk ke dalam telinga Jevo.
Merasa Jevo acuh dengannya, Claudia menghentikan celotehannya yang tidak berguna. "Emmm,,,, sayang, kamu dari mana? Tumben mampir." ujar Claudia mengalihkan pembicaraan, melihat ekspresi Jevo yang malas. Claudia tidak ingin Jevo malah meninggalkan rumahnya.
"Kebetulan lewat. Jadi mampir." sahut Jevo.
Claudia melingkarkan tangannya di lengan Jevo. Bergelayut manja. "Terimakasih sudah datang." cicit Claudia.
"Jauhi Moza." tekan Jevo. Padahal ucapan Jevo hanyalah sebuah trik. Tentunya dia tidak datang ke rumah Claudia karena seorang Moza.
Claudia mengeraskan rahangnya. Tapi dia begitu baik menahan amarahnya. Ditambah, tadi dirinya sempat mendatangi Moza, dan mengancamnya.
"Aku hanya cemburu sayang. Kelihatannya dia menyukai kamu."
"Tapi gue tidak menyukainya. Jadi, jangan membuat gue dalam masalah." tukas Jevo.
Claudia melepas tangannya di lengan Jevo. Menatap wajah Jevo. Mencari kebenaran atas perkataan Jevo. "Sungguh?" tanya Claudia tidak percaya begitu saja.
"Ckk,,,, elo yang lebih tahu, bagaimana perempuan yang gue suka." sahut Jevo.
Claudia mengangguk pelan. Claudia tahu, jika beberapa perempuan yang dekat dengan Jevo rata-rata mempunyai hal yang sama. Yakni Fisik.
Claudia mencebik. Lalu tersenyum miring, mengingat bentuk tubuh Moza. "Benar juga. Moza,,, dia sangat jauh dari perempuan yang selalu diinginkan Jevo." batin Claudia.
Jevo mengambil minuman di depannya, meneguknya separuh untuk membasahi tenggorokannya yang kering karena cuaca di kuar yang panas.
"Apa AC di rumah elo rusak? Panas banget." celetuk Jevo.
Jevo menatap ke sudut ruangan. "Di rumah elo ada kamera CCTVnya?"
"Ada. Kenapa?" tanya Claudia.
"Ckk,,,, elo tahu, kenapa gue malas datang ke sini?" tanya Jevo, seolah memberi tebakan pada Claudia.
"Kenapa?" tanya Claudia.
"Otak elo memang licik, jika menyangkut kejahatan. Tapi kelicikan elo akan bernilai nol, jika berhadapan dengan gue." batin Jevo.
Jevo sama sekali tidak merubah sikapnya saat dihadapan Claudia. Meski dirinya ingin memperoleh sesuatu, tapi tak lantas Jevo bersikap baik dan lembut.
Jevo berpikir, Claudia pasti akan curiga jika dirinya merubah sikapnya saat berdua dengannya. Sehingga Jevo berpikir, menjadi diri sendiri seperti bisanya malah akan lebih aman.
"Karena di rumah elo ada kamera CCTV." tukas Jevo.
Claudia menautkan kedua alisnya. Merasa bingung. Hubungan antara Jevo dengan adanya kamera CCTV di rumah.
"Gue nggak tahu. Tapi papa bisa mengetahui kedatangan gue di rumah elo." ujar Jevo berbohong.
"What...!! Bagaimana bisa....?!" seru Claudia terkejut.
"Entahlah. Elo tahu sendiri, jika nyokap bokap tak suka gue berhubungan sama elo."
Claudia diam. Dia memikirkan apa yang baru saja Jevo katakan. "Tidak mustahil juga, jika om David bisa mengetahuinya. Dia lebih hebat dari papa. Bisa jadi, beliau menyuruh orang menyabotase kamera CCTV di rumah gue. Untuk melihat kedatangan Jevo." batin Claudia.
Claudia menatap ke arah Jevo yang terlihat tak tenang. Claudia menebak, jika Jevo sedang cemas. "Pantas saja Jevo nggak pernah datang kesini." batin Claudia, percaya dengan kebohongan Jevo.
Jevo yakin, apapun yang dia katakan, pasti Claudia akan percaya. "Bodoh. Memang papa gue nggak punya pekerjaan." batin Jevo tertawa.
Jevo berdiri. "Mau kemana?" ujar Claudia menahan Jevo, dengan memegang lengannya.
"Pulang. Gue nggak mau kena hukum." ujar Jevo beralasan.
"Jangan pulang." rengek Claudia.
__ADS_1
"Clau,,, elo mau, gue kena omel. Dan malah di hukum nggak boleh keluar malam." cicit Jevo mulai bersandiwara.
"Jangan pulang. Kita matikan saja kamera CCTV nya."
"Memang elo berani? Nanti elo malah kena marah om Zain." ujar Jevo.
Perkataan Jevo membuat Claudia tersenyum sempurna. Claudia merasa jika Jevo memperhatikan dirinya. "Makasih sayang,, kamu perhatian sekali sama aku."
Jevo tersenyum samar. Ini dia yang diinginkan Jevo. Tanpa mengubah sikapnya terhadap Claudia, dia bisa bertindak sesuai keinginannya.
"Yuk,,, kita ke ruang pengendali CCTV." ajak Claudia, menyeret Jevo dengan memegang lengannya.
Keduanya dengan santai pergi ke ruang pengendali CCTV. "Nona... Tuan muda." sapa seorang lelaki yang bertugas di ruangan tersebut.
"Matikan semua kamera di rumah." pinta Claudia.
Sementara Jevo, menatap layar monitor di depannya. Dengan cepat dia mencari letak ruang kerja Tuan Zain.
"Tepi Nona."
"Jangan membantah. Matikan...!!" seru Claudia tak ingin dibantah.
"Bagaimana jika Tuan bertanya?" tanya sang pekerja merasa takut.
"Bodoh...!! Elo bisa mengatakan jika kamera sedang rusak. Atau mengalami maslah sinyal. Pakai otak elo. Bego..!!" sinis Claudia.
"Elo yang bego,,,, tolol..." batin Jevo tersenyum puas. Langkah pertama berjalan dengan lancar.
"Bai-baik Nona." ujar sang penjaga mencuri pandang ke arah Jevo.
"Jangan katakan pada papa atau mama, jika Jevo datang. Paham...!!" bentak Claudia.
"Baik."
"Segera lakukan. Atau elo akan terkena masalah." seringai Claudia.
Segera sang pekerja melakukan apa hang dipinta Claudia. Dirinya tahu bagaimana liciknya putri dari majikannya tersebut.
Lebih baik menuruti apa yang diinginkan Claudia. Dan berbohong pada kedua majikannya. Dari pada bermasalah dengan Claudia. Yang pasti ujung-ujungnya pemecatan.
Atau lebih parah, Claudia bisa menjebaknya, memfitnahnya. Dan kantor polisi adalah tujuan Claudia.
Claudia membawa Jevo keluar dari ruangan tersebut. "Clau,,, bilang juga sama yang lain. Jangan bilang pada om dan tante, gue ada di sini. Gue takut mereka keceplosan. Yang ada gue akan terkena masalah." tukas Jevo dengan ekspresi santai.
Cup,,,, "Oke sayang." sahut Claudia dengan senang hati melakukan apa yang Jevo inginkan.
Selesai melakukan apa yang Jevo pinta, Claudia tak malu-malu membawa Jevo untuk masuk ke dalam kamarnya. "Elo yakin, gue nggak enak." tolak Jevo, padahal itulah yang diinginkan Jevo.
Masuk ke dalam kamar Claudia. Mengelabuhi Claudia, untuk dia bisa masuk ke dalam ruang kerja Tuan Zain. Sayangnya, Jevo belum bisa memikirkan rencana apa yang akan dia lakukan.
"Sayang,,, kan aku sudah mematikan kamera CCTV nya. Apa yang kamu khawatirkan?" tanya Claudia membujuk Jevo supaya dia mau memenuhi keinginannya.
Padahal, tanpa dibujukpun Jevo juga akan masuk ke kamar Claudia. "Baiklah."
"Makasih sayang." Claudia memeluk tubuh Jevo.
Beberapa pembantu yang melihat tingkah Claudia hanya bisa diam. Meski kenyataannya, mereka berucap dalam hati.
"Silahkan masuk...!!" seru Claudia dengan antusias begitu dia membuka pintu kamar.
Ini pertama kalinya Jevo masuk ke kamar Claudia. Meski dirinya dulu pernah berkunjung ke rumah Tuan Zain, tapi dirinya tak sampai naik ke lantai dua. Hanya duduk di ruang tamu atau meja makan.
Jevo menatap sekeliling. Dimana ada beberapa fotonya dengan ukuran besar terpasang di dinding. Juga ada foto dirinya ukuran kecil, yang berada di atas nakas dan juga di atas meja.
"Kamu suka?" tanya Claudia, memeluk tubuh Jevo dari depan, dengan kepala sedikit mendongak ke atas. Menatap wajah Jevo.
Jevo terpaksa memperlihatkan senyumnya. Lalu mengangguk. "Perempuan gila. Gue jadi takut. Jangan sampai gue nanti dijampi-jampi sama pelet. Bisa-bisa gue nurut sama perempuan model kayak begini. Amit-amit." batin Jevo bergidik ngeri.
Claudia mengeratkan pelukannya pada tubuh Jevo. "Sekarang aku sangat senang. Akhirnya kamu masuk ke kamar aku. Melihat semuanya." tutur Claudia mengurai pelukannya.
"Sayang,,, aku makin suka sama kamu." cicit Claudia.
Claudia membawa Jevo duduk di tepi ranjang. Terus berceloteh, menceritakan ini dan itu. Padahal Jevo sedang memikirkan cara untuk mengelabuhi Claudia. Sehingga dirinya dapat pergi ke ruangan Tuan Zain.
__ADS_1