PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 37


__ADS_3

"Astaga...." seru Jeno melihat sesuatu di dalam kamarnya, saat lampu sudah menyala terang.


"Papa, Jevo... Kenapa kalian berdua ada di sini?" tanya Jeno dengan tangan kiri masih di depan dada.


Jevo memainkan kedua matanya, memberikan isyarat pada saudara kembarnya. "Mata elo kenapa, kelilipan?" tanya Jeno dengan polosnya.


Sontak saja, pertanyaan Jeno membuat Tuan David melirik tajam ke arah Jevo. Segera Jevo membuang pandangannya ke arah lain dengan perasaan dongkol. "Jeno,,, stupid." kesalnya dalam hati.


Jeno memejamkan kedua matanya sesaat. "Astaga." gumamnya, baru sadar jika ada yang tidak beres.


Tengah malam, sang papa dan saudara kembarnya berada di dalam kamar. Menanti kepulangannya. Bukan sesuatu hal yang baik.


"Mampus gue." batin Jeno, apalagi saat ini di dia memakai jaket rangkap dua di tubuhnya. "Semoga papa tidak curiga." lanjutnya dalam hati.


"Dari mana?" tanya Tuan David dengan tegas. Kedua anaknya pergi, tanpa pamit. Tanpa meminta izin pada dirinya atau sang istri. Dan pulang larut malam.


Jeno menatap ke arah Jevo. Dia yakin, jika Jevo sudah memberikan alasan atas kepergian mereka. "Pa, bukankah sudah Jevo katakan. Kita hanya kumpul bareng Arya dan Mikel. Nggak ada lagi." ucap Jevo dengan menyandarkan tubuhnya ke kursi. kembali mengatakan alasannya pada sang papa.


"Kami tidak pulang bersama, karena Jeno masih ada keperluan lain." timpal Jeno.


"Mobil siapa yang kamu pakai?!" tanya sang papa.


Jeno menghela nafas pelan. Tidak ada pilihan lain. "Bu Bulan." jawab Jeno jujur.


Jevo menyipitkan kedua matanya, tak percaya jika Jeno mengatakan dengan jujur. Jeno tentu saja tidak mau berbohong terkait kepemilikan mobil.


Ada plat nomornya. Dan itu dengan mudah bisa dicari siapa pemiliknya oleh sang papa. Jadi, percuma jika berbohong. Pasti akan ketahuan. dan urusannya malah akan semakin panjang.


Tuan David menatap Jeno dengan tatapan menyelidik. "Bagaimana bisa?"


Jeno duduk di kursi yang masih kosong. "Jeno nggak sengaja melihat bu Bulan seperti sedang tidak enak badan di pinggir jalan. Tenyata benar, bu Bulan merasa pusing. Makanya Jeno antarkan beliau pulang. Lalu beliau menyuruh Jeno memakai mobilnya. Dari pada naik taksi." jelas Jeno panjang lebar.


Jevo dan Jeno kini sedang berharap-harap cemas. Berdo'a dalam hati. Berharap sang papa percaya dengan cerita yang dikarangnya.


Suasana tampak hening sejenak. Tuan David menelisik kedua wajah putranya. Tampak keduanya terlihat santai dan tenang. Sama sekali tidak menunjukkan raut wajah grogi ataupun tegang.


Tuan David berdiri. "Jangan pernah meninggalkan rumah tanpa izin. Seharusnya kalian tahu aturan jika kalian ingin tetap tinggal di rumah ini." tegas Tuan David.


"Iya pa, maaf." cicit Jevo dan Jeno bersamaan.


"Sudah malam. Segeralah tidur. Besok kalian harus sekolah."


"Iya pa."


Keduanya masih tampak tenang dan santai. Pundak mereka merosot jatuh ke bawah, saat sang papa benar-benar keluar dari kamar Jeno.


Keduanya tidak marah saat sang papa menerapkan aturan seperti itu. Keduanya sadar, jika hal tersebut dilakukan kedua orang tuanya karena mereka menyayanginya.


"Bagaimana elo sama papa ada di sini?" tanya Jeno.


"Papa tahu jika kita keluar. Makanya papa nunggu kita pulang."


"Apa papa percaya dengan cerita bohong kita?" tanya Jeno ragu.


Jevo mengangkat kedua pundaknya tanda dia juga tidak tahu. "Entahlah. Yang terpenting sekarang papa percaya. Jika ternyata papa tahu, dan pura-pura tidak tahu. Itu urusan papa. Bukan urusan kita." sahut Jevo seenaknya.


"Elo." geram Jeno.


"Apa?!" tanya Jeno, saat Jevo mengubah posisi duduknya. Mengarah kepada Jeno dengan tatapan yang membutuhkan penjelasan.


Jeno seakan tahu apa yang akan ditanyakan oleh Jevo pada dirinya. Jeno menjelaskan tanpa menunggu Jevo mengucapkan sesuatu.


"Ckk,,,, gue juga nggak tahu. Tiba-tiba bu Bulan menelpon gue. Terus ngajak ketemuan. Dia bahkan tahu dengan detail, kita menyelidiki kasus pembunuhan berantai tersebut." jelas Jeno, beberapa benar, dan beberapa lagi adalah sebuah kebohongan.


"Apa yang elo bicarakan sama dia tadi?"


"Masih tanya. Gue juga penasaran, bagaimana dia tahu mengenai kita. Tapi dia tidak menjelaskannya." ucap Jeno berbohong lagi.


Dirinya sudah berjanji pada Bulan untuk tidak menceritakan kejadian apapun pada Jevo.


Jevo kembali menatap Jeno dengan tatapan intens. "Apa lagi??!!" seru Jeno kesal, dipandangi seperti tersangka terus menerus oleh Jevo.


"Elo suka sama Bulan?"


"Bu Bulan. Dia guru kita." tegur Jeno mengoreksi panggilan Jevo pada guru mereka.


Jevo menggerakkan tangannya tanda dia tak peduli. "Ayo... jawab...." pinta Jevo dengan kekeh.


"Nggaklah, elo gila. Masa gue suka sama guru sendiri."


"Tapi kenyataannya dia bukan guru kita. Dia aparat negara yang menyamar." tekan Jevo.


"Otak elo itu memang tak jauh-jauh dari sana. Kita harus fokus pada misi kita. Bukan malah ribet urusan cinta." tekan Jeno dengan nada kesal.

__ADS_1


Jevo berdiri dengan santai. "Bagus deh kalau elo nggak suka sama Bulan. Gue yang akan kejar dia." Jevo memainkan alisnya naik turun, menggoda saudara kembarnya tersebut.


"Keluar elo. Lagian bu Bulan juga nggak bakal mau sama bocah kayak elo." usir Jeno mulai tersulut emosi.


"Emang gue mau keluar. Ogah gue tidur sama elo. Gue masih normal." ujar Jevo, keluar dari kamar Jeno.


"Astaga,,,, iiiiisshhhhh." desis Jeno menahan amarahnya.


Jevo melangkah dengan santai menuju ke kamarnya. "Bulan itu sebenarnya umur berapa sih. Udah punya pacar belum ya..." gumam Jevo, bisa-bisanya memikirkan Bulan.


Segera Jeno mengunci pintu kamarnya dari dalam. "Bikin emosi saja." geram Jeno.


"Cih,,,, Mau mengejar cinta bu Bulan. Pasti ditolaklah." ucap Jeno dengan yakin. Apalagi dirinya melihat sendiri bagaimana Bulan dengan mudah mengalahkan empat orang lelaki. Sendirian.


Segera Jeno melepaskan kedua jaket yang membalut tubuhnya. Dilemparkannya ke kursi jaket miliknya. Sementara, dipandanginya jaket milik Bulan.


"Meski ada sedikit bau anyir, tetap saja ada wangi harum parfum bu Bulan." ucapnya tersenyum simpul.


"Astaga, apa yang gue pikirkan." segera Jeno mengenyahkan pikiran yang seharusnya tidak dia pikirkan.


Tapi, biar bagaimanapun, Jeno adalah lelaki normal. Dan sudah masuk ke dalam lelaki dewasa. "Apa gue cuci sekarang saja."


Jeno tersenyum, dia memiliki rencana. Segera dia masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan cipratan darah yang mengenai bagian jaket Bulan.


Disiramnya dengan air, lalu digosok dengan sikat. "Bersihkan." cicitnya tersenyum senang..


Lalu dimasukkan jaket tersebut ke dalam keranjang pakaian kotor, bersama dengan pakaian kotor miliknya.


Sementara di kamar Bulan, putra mbok Yem dibuat terkejut dengan Bulan yang tampak santai dan tenang menatap dirinya.


Seolah memang Bulan sedang menantikan kedatangannya.


Segera dia bersikap layaknya seorang lelaki yang mempunyai nyali. "Gue ingin kita berbicara baik-baik." pintanya dengan tenang.


Bulan berjalan ke arah kursi single. Duduk di sana dengan kaki di silangkan. Cukup terlihat angkuh. "Baik-baik." ucap Bulan disertai kekehan kecil.


"Apa seseorang yang masuk secara diam-diam ke kamar seseorang akan bisa berbicara dengan baik-baik." sindir Bulan.


Lelaki di depan Bulan memainkan sapu tangan yang dia genggam. Bulan hanya tersenyum samar. Dirinya bisa menebak, ada obat bius yang diteteskan di sapu tangan tersebut.


Bulan memakai kaos berlengan panjang. Tentu saja untuk menyembunyikan luka yang baru saja dia dapatkan.


Bulan tidak ingin luka tersebut sampai dilihat oleh musuh. Dan menjadikannya kelemahan untuk dirinya.


Heran dan bingung. Itulah yang Bulan rasakan. Tapi Bulan tetaplah Bulan. Dengan mudah dia bisa mengatur ekspresi wajah sesuai apa yang diinginkannya.


"Tidak semudah itu." cicit Bulan.


Kenyataannya, Bulan sendiri juga tidak tahu apa yang diinginkan lelaki di depannya. Bulan berpura-pura mengetahui kemauannya. Hanya untuk memancing, apa yang diinginkan darinya.


"Nona Bulan. Jangan paksa saya untuk melakukan kekerasan." ancamnya.


"Astaga. Baiklah. Geledah saja rumah saya. Dan temukan apa yang sedang kamu cari. Jika memang yang kamu cari ada di rumah saya. Ambil saja. Beres bukan." tawar Bulan.


"Brengsek. Kamu ingin bermain-main dengan saya!!" gertaknya, langsung berdiri dari duduknya. Menatap nyalang ke arah Bulan.


"Apa yang sebenarnya dia cari." batin Bulan dalam hati.


"Hey, tenang. Aku hanya menawarkan sesuatu. Jika ada di rumah ini. Kamu bisa mengambilnya. Kurang baik apa aku ini." kekeh Bulan dengan tetap duduk tenang di kursi.


"Jika saja aku tidak membutuhkan rekaman itu, detik ini juga sudah aku bungkam mulutmu." geramnya.


"Rekaman. Rekaman apa?" batin Bulan. Bulan sama sekali tidak mengingat, jika dirinya mempunyai sebuah rekaman sepenting itu. Sehingga dirinya menjadi sasaran target orang.


"Lalu bagaimana, jika ternyata rekamannya sudah aku buang. Dan sekarang, hanya ada di sini." Bulan menunjuk ke arah keningnya. Yang berarti tersimpan rapi di dalam otak.


"Jangan uji kesabaran ku Nona. Katakan, dimana rekaman itu." serunya.


Dia menatap Bulan dengan pandangan penuh amarah. "Apa perlu, kejadian beberapa tahun yang lalu terjadi lagi. Dan kamu, akan menyusul ketiga temanmu ke alam baka." ucapnya menggebu-gebu.


Bulan tetap menampilkan raut wajah setenang air mengalir. "Tiga temanku. Yang berarti mereka telah tiada. Jangan-jangan, ini masih ada hubungannya dengan misi saat itu." tebak Bulan dalam hatinya.


"Berarti, jika aku menyusul mereka, yang akan rugi kamu. Bukan begitu." Bulan mempermainkan pikirannya.


Terasa menarik di mata Bulan. Bermain kata-kata lebih dulu sebelum bertindak. Apalagi sekarang Bulan sudah mendapatkan titik terang.


Jika semua masih berhubungan dengan misi yang dia jalankan bersama tiga rekannya. Namun sayang, ketiga rekannya telah tiada. Dan Bulan sendiri juga belum tahu, rekaman apa yang dia maksud.


"Baiklah,,,, aku rasa bincang-bincang kita akhiri di sini." tutur Bulan berdiri dari duduknya.


Bulan menutup kedua matanya sebentar, lalu memandang tajam ke arah lelaki di depannya. "Kamar ini, kedap suara. So, kamu tidak perlu khawatir. Akan ada orang yang mendengar. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan." ucap Bulan merentangkan kedua tangannya dengan lebar.


Seakan Bulan sedang mempersilahkan lelaki di depannya sebebas apapun yang dia ingin lakukan. Bulan tidak akan melarang .

__ADS_1


Berjalan santai ke depan. Mendekat ke arah lelaki di depannya. "Dasar perempuan tak tahu diuntung." serunya.


Dia mulai menyerang Bulan. Menggerakkan kedua kaki dan tangannya ke arah Bulan dengan gerakan gesit dan terarah.


Namun sayang, meski dia terlihat hebat. Tapi dia bukan tandingan seorang Bulan. Kedua tangan Bulan masih berada di dalam saku celana.


Hanya tubuhnya yang berlenggak lenggok. Menghindar dari serangan bertubi-tubi yang diberikan lawan di depannya.


Dia memundurkan langkahnya, dan berhenti menyerang Bulan. "Dia.. Bagaimana mungkin." batinnya. Satu pukulan atau tendangannya tak ada yang mengenai tubuh Bulan.


Bulan mengeluarkan kedua tangannya dari dalam saku celana. "Sekarang, giliranku." ucap Bulan, menyeringai.


Bulan mulai menyerangnya. Awalnya, dia dengan mudah menghalau serangan Bulan. Tapi, Bulan bukan hanya sekedar menyerang. Dia memperhatikan setiap gerakannya saat menghindar atau menghalau serangannya.


Pang.... Bugh.... Bugh....


Berkali-kali tendangan dan pukulan Bulan mengenai anggota tubuhnya. Bukan sekedar menyerang biasa. Tapi Bulan menyentuh ke titik-titik fital. Yang menyebabkan dia langsung meringis kesakitan.


Terakhir, Bulan dengan kekuatannya menendang wajah lelaki di depannya dari bawah. Sehingga kaki Bulan mengenai dagunya. Darah keluar dari mulut dan hidungnya.


Dia terkapar dengan memegang kaki Bulan yang berada di atas dadanya. Menginjak dadanya dengan kuat, hingga terasa sesak. "Jangan remehkan perempuan."


Bugh.... Bulan menendang wajahnya dari samping dengan kuat. Bulan mengambil sesuatu dari dalam saku celananya.


"Sekarang kamu tahu, kenapa perempuan seperti aku menyukai ruangan yang kedap suara." seringai Bulan, menunjukkan sifat iblisnya.


Dia berontak, namun sayangnya, beberapa titik fital di tubuhnya telah Bulan pukul dengan sangat amat kencang. Sehingga sulit baginya untuk menggerakkan badan.


Bulan berjongkok, dengan kaki kiri masih berada di atas dada lelaki tersebut. Menekannya lagi lebih kuat. "Well,, ini tidak akan terasa sakit, kawan." ucap Bulan tersenyum manis.


Bulan menitikkan suatu cairan ke dalam tubuh lelaki tersebut. "Tidak sakitkan?" ucap Bulan dengan senyum di bibir.


Bulan kembali duduk di kursi single yang sempat dia duduki sebelumnya. "Katakan pada pimpinanmu. Kirimkan orang yang lebih handal. Jika ingin bertemu denganku." ejek Bulan.


Lelaki di depan Bulan berdiri dengan perlahan. Menahan rasa sakit yang tiba-tiba menjalar di tubuhnya setelah Bulan menyuntikkan sesuatu di dalam tubuhnya.


"Berteriaklah jika mau. Pasti semua orang akan datang. Mereka pasti akan menolong kamu. Dan juga mbok Yem."


Lelaki tersebut terkejut mendengar Bulan menyebut nama perempuan yang dikenal Bulan sebagai rekan kerjanya dam juga ibunya. "Ka-ka-kamu" ucapnya, mulai kesulitan mengeluarkan suara dari dalam mulutnya.


Dia memegang tenggorokannya. "Apa yang terjadi. Cairan apa yang dia masukkan ke dalam tubuhnya." ucapnya dalam hati.


"Bagaimana dia mengetahui tentang mbok Yem. Apa selama ini dia hanya berpura-pura tidak tahu. Aku harus segera memberitahu mbok Yem." batinnya. Namun sayang seribu sayang. Tubuhnya bahkan semakin sulit digerakkan.


Bulan berdiri. Membuka pintu kamarnya. "Aku ini orang yang baik hati low." ucap Bulan dengan ramah.


"Mari aku antar keluar, mumpung kamu masih bisa berjalan." cicit Bulan.


Lelaki tersebut memegang lengannya yang terasa sakit seperti sedang di tusuk-tusuk. "Ayo."


Dengan santai tanpa rasa takut, Bulan memapahnya keluar dari rumahnya. Mengantarnya hingga keluar dari gerbang rumah.


"Jangan berisik. Kasihan, mbok Yem sedang istirahat." ucap Bulan, seolah dirinya sangat menyayangi mbok Yem.


"Tenang saja, sebentar lagi teman kamu akan datang." Bulan memperlihatkan apa yang ada di tangannya.


"Sejak kapan." batinnya. Melihat ponselnya ada di tangan Bulan.


Bulan memasukkan ponselnya ke dalam saku baju miliknya. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan mbok Yem, dia aman bersama denganku." Bulan mengedipkan sebelah matanya.


"Seharusnya kamu mengkhawatirkan diri kamu sendiri. Yakin, setelah ini akan tetap hidup." ejek Bulan.


Bulan mengangkat kedua tangannya di atas. Seolah bukan dirinya yang bersalah. "Bukan aku loh, yang akan membunuh kamu. Mungkin pimpinan kamu."


"Aku rasa dia tidak akan membutuhkan seseorang yang sudah tidka berguna." Bulan tertawa pelan, meninggalkannya di tepi jalan.


"Kenapa dengan tubuhku. Kenapa rasanya seperti ditusuk beribu jarum. Dan sulit digerakkan." ucapnya dalam hati, menahan rasa sakit yang teramat dalam.


Sampai di dalam kamar. Bulan membersihkan kamarnya yang terkena cipratan darah lelaki tersebut. "Gue harus menyuruh mereka untuk lebih waspada menjaga keluarga gue. Jika perlu, gue akan menambahkan orang lagi."


Yang Bulan takutkan bukan keselamatan dirinya. Tapi keselamatan keluarganya yang berada jauh dari dirinya. Bulan yakin, mereka juga sudah menyelidiki keluarga Bulan dengan detail.


Tak berselang lama. Bulan mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. Dari balik tirai, Bulan dapat melihat beberapa orang datang. Membawa lelaki tersebut masuk ke dalam mobil.


"Pancingan datang." segera Bulan melihat kamera CCTV yang terpasang di depan rumahnya. Mengambil gambar dan nomor kendaraan yang terpasang di mobil tersebut.


Bulan tersenyum. Mereka memang dengan bodoh masuk ke dalam jebakan Bulan. Sebab, Bulan sengaja memberi pesan pada salah satu rekan lelaki tersebut.


Dan dengan mudah, mereka malah datang. "Benar-benar pemain amatir." ucap Bulan.


Bulan mulai menyabotase kamera pemantau yang ada di jalan. Melacak kemana mobil tersebut berjalan. "Gue harus bergerak cepat." ujar Bulan.


Dirinya tidak ingin terjadi apa-apa dengan keluarganya. Dan satu-satunya cara adalah membuat mereka sibuk.

__ADS_1


Bukan perkara mudah jika Bulan ingin melenyapkan mereka. Sebab Bulan juga belum paham sepenuhnya permainan apa yang sedang mereka mainkan.


__ADS_2