PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 212


__ADS_3

"Kenapa elo disini? Mana yang lain?" tanya Arya, tidak melihat Bulan, Jeno, dan Jevo.


Saat melihat mobil Arya, Mikel segera memerintahkan bawahannya untuk mencegatnya. Mengamankan mobilnya ke tempat mereka bersembunyi sekarang.


Arya duduk di batu besar yang ada di sebelah Mikel. "Katakan, ada apa?" tanya Arya dengan rasa penasaran.


Mikel menceritakan semuanya secara mendetail, tak ada yang terlewatkan. Dengan Arya mendengarnya secara seksama. Sama sekali tidak menyela atau memotong kalimat panjang yang keluar dari mulut sahabatnya tersebut.


"Bisnis obat terlarang. Dan di dalam adalah pabriknya." lirih Arya, setelah Mikel selesai menceritakan semuanya.


Arya terdiam, terlihat ekspresinya sedang memikirkan sesuatu. "Jika itu benar. Tidak baik untuk mereka berada di dalam terlalu lama." cicit Arya sembari memandang ke arah Mikel.


Keduanya tahu dampak terbesar jika seseorang terlalu lama berada di dalam ruangan yang sudah terkontaminasi bahan obat-obatan terlarang.


Semua bawahan Mikel yang masih berada di luar saling pandang. Sebagai orang yang akrab dengan hal tersebut, meski tidak pernah memakainya, mereka juga tahu dampak yang akan diterima rekan-rekannya yang berada di dalam jika terlalu lama berada di sana.


"Gue yakin, bu Bulan sudah memperhitungkan semua dengan matang." ujar Mikel, mencoba menenangkan dirinya dan Arya.


Meski kenyataannya, keduanya sama sekali tidak bisa bersikap tenang. Setelah mengetahui apa yang ada di dalam. "Ar,,, jika elo jadi bu Bulan, dan tahu ada pembuatan obat-obatan terlarang yang sangat besar di dalam. Apa yang akan elo lakukan?" tanya Mikel dengan serius.


Arya menatap tembok tinggi yang lumayan jauh didepannya. "Gue akan menghancurkannya. Bukankah mereka hingga detik ini tidak tersentuh hukum." sahut Arya, yang ternyata mempunyai pemikiran yang sama dengan Bulan.


"Itu juga yang gue pikirkan." ujar Mikel yang mempunyai pemikiran sama dengan keduanya.


Mikel mengeluarkan ponselnya. Entah siapa yang dia hubungi. Tapi terlihat dia seperti sedang menulis sesuatu dan dikirimkannya pada orang lain. Sebuah pesan tertulis.


"Lantas bagaimana dengan kita?" tanya Arya.


Arya yakin, jika mereka yang berada di dalam sedang mencari Gara. Sementara mereka hanya duduk di luar dengan tenang dan santai.


"Bu Bulan menyuruh gue menunggu perintah darinya." sahut Mikel, yang mendapat anggukan dari Arya.


Di dalam, Bulan dan Jevo beserta Jeno berpencar mencari Gara dengan hati-hati. Meski mereka bisa dengan mudah berbaur bersama para musuh, tak lantas membuat mereka kehilangan kewaspadaannya.


Bisa saja musuh menyadari keberadaan mereka. Dan akan menimbulkan kericuhan. "Dimana Gara?" tanya Bulan dalam hati.


Setelah masuk ke dua ruangan, dia tidak menemukan Gara. Bulan melihat Jevo dan Jeno menggeleng sembari melihat ke arahnya.


Tinggal sebuah ruangan. Dan ketiganya bermaksud melangkahkan kakinya ke sana. Tapi sentuhan tangan seseorang menghentikan langkah Jeno. "Brow, elo anak baru? Gue nggak pernah lihat elo sebelumnya." tanya seorang lelaki memandang Jeno dengan lekat.


Jeno melihat ke arah wajahnya, atau lebih tepatnya kedua mata lelaki tersebut. "Dia juga memakai." tebak Jeno, melihat kedua mata lelaki yang bertanya padanya terlihat sayu, seakan dia sedang mengantuk dan selalu menggelengkan kepalanya tanpa alasan yang jelas sembari mengusap bagian hidungnya.


Jevo dan Bulan juga menghentikan langkahnya melihat Jeno dihampiri seseorang. Tentu saja keduanya mempunyai perasaan yang sama. Cemas dan khawatir.


Jeno tersenyum dan malah merangkul lelaki yang juga merangkulnya. "Gue dari markas kota sebelah. Gue datang bersama beberapa teman gue. Biasa, kita mengambil sesuatu." ujar Jeno mengerlingkan sebelah matanya, mengisyaratkan sesuatu.


Lelaki yang merangkul Jeno mengangguk. "Oke. Lanjutkan tugas kalian. Jangan sampai boss melihat kita bersantai. Kita akan." ujarnya, sembari meletakkan tangannya di depan lehernya sendiri, menggerakkannya sekali. "Mati." lanjutnya.


Jeno hanya bermain insting saja. Dirinya ingat jika sang kekasih mengatakan ada markas di kota lain, selain markas ini. Selain itu, Bulan juga mengatakan jika kemungkinan ada kegiatan besar di sini. Yakni pembuatan obat terlarang.


Jeno berpikir, jika markas di sini memproduksi barang haram tersebut, pasti semua yang ada di sini sedang bekerja. Oleh sebab itulah, Jeno berpura-pura datang dari kota sebelah, dan sedang mengambil sesuatu di tempat ini.


"Benar. Kita harus bekerja dengan rajin." tukas Jeno mendapat anggukan dari lelaki di sampingnya.


"Brow,,, tadi gue melihat lelaki cacat. Siapa dia? Sorry, sebelumnya gue belum pernah melihat dia?" tanya Jeno, berpikir sekalian dia mencari tahu dari lelaki di sampingnya ini.


"Gue juga tidak tahu. Gue juga orang baru. Tapi senior memanggilnya dengan nama Gara."


"Dimana dia sekarang? Cuma bertanya. Gue penasaran saja, apa orang cacat seperti dia berguna untuk boss?" tanya Jeno tersenyum remeh, mencoba menggali informasi.


Lelaki tersebut mendekat, membisikkan sesuatu ke telinga Jeno. Tampak Jeno tersenyum penuh makna melihat Bulan yang sedang mengawasinya dari jarak sedikit jauh.

__ADS_1


"Hey....!! Kalian berdua...!! Bekerja...!! Atau kalian hari ini tidak akan mendapatkan upah..!!" bentak seorang lelaki dengan wajah seram.


Jeno segera mengalihkan tangannya di pundak lelaki yang berada di sebelahnya dan segera melakukan pekerjaan mereka. Tapi Jeno tak lantas segera menemui Bulan atau Jevo. Sebab dirinya masih ditatap intens oleh lelaki yang menegurnya tersebut.


"Dia, sepertinya curiga dengan Jeno." tebak Bulan. Karena jika dilihat secara intens, Jeno dan Jevo tampak berbeda jauh dengan mereka semua. Juga Bulan.


"Gue harus melakukan sesuatu." batin Bulan sebelum lelaki tersebut menghampiri Jeno.


Bulan menekan tombol kecil di cincin yang terletak di jari jempolnya. Tak.... Sebuah ember yang ditaruh di atas kayu dan berisi air langsung pecah. Membuat air mengalir bebas ke bawah.


Sontak kejadian tersebut menyita fokus semua orang. Termasuk lelaki tersebut. Jeno langsung melihat ke arah Bulan, dengan Bulan mengisyaratkan untuk dia segera pergi dari tempatnya.


Jeno berjalan ke arah lain, dengan menggerakkan jarinya, seakan menyuruh Jevo dan Bulan untuk mengikutinya. Jevo langsung berjalan santai, mengekor dibelakang Jeno.


Sedangkan Bulan, memantau keadaan sekitar. Terutama lelaki yang dia duga menaruh rasa curiga pada Jeno. Setelah dirasa aman, Bulan pun segera mengejar Jevo dan Jeno dengan sebuah kotak berisi sesuatu di tangannya.


Jeno berhenti di sebuah lorong yang sepi. "Gara ada di sana." Jeno menatap sebuah pintu di depannya.


"Lelaki tadi yang memberitahu?" tanya Jevo mendapat anggukan dari Jeno.


"Kalian bersembunyi lah, atau carilah kesibukan di sekitar sini. Aku akan melihatnya terlebih dahulu." pinta Bulan, saat dia melihat tangga.


Jevo dan Jeno segera mencari tempat bersembunyi. Sebab lorong tempat mereka berada sangatlah sepi, tak ada aktifitas apapun di sekitar mereka.


"Apa ini?" tanya Jevo melihat tumpukan kardus yang tertata dengan rapi.


"Jangan disentuh. Bisa jadi itu bahan obat, atau malah obat yang sudah jadi." tegur Jeno mencekal lengan saudara kembarnya.


Jeno tidak ingin terjadi sesuatu pada Jevo."Benar juga. Kenapa gue lupa." sahut Jevo berdecak sebal pada dirinya sendiri.


Keduanya mengintip apa yang Bulan lakukan dari tempat persembunyian mereka. Dimana Bulan naik ke atas menggunakan tangga dengan santai, masih membawa sebuah benda berbentuk kotak di tangannya.


Bulan meletakkan benda tersebut di atas lantai. Memandang sekitarnya, memastikan keadaan aman. "Ruangan apa itu?"


Kembali memfokuskan diri pada sahabatnya. Gara. Bulan dengan mudah melihat ke sebuah ruangan di lantai bawah, sebab ruangan tersebut ternyata tidak bagian atasnya tidak ditutupi, sehingga akan sangat mudah jika ada orang yang melihat aktifitas di bawah dari atas.


"Gara." lirih Bulan. Melihat Gara dipukul oleh beberapa orang dengan memakai tongkat secara bersamaan.


Saat Bulan ingin bertindak, seseorang menghentikan serangan mereka. Membuat Bulan mengurungkan niatnya. Tapi kedua matanya tetap melihat intens ke arah Gara yang tergeletak tak berdaya.


Ada perasaan sedih yang saat melihat keadaan Gara seperti itu. Bulan segera menghubungi Mikel. Menyuruhnya untuk segera masuk dan beraksi. Bulan juga mengatakan sudah menemukan Gara dan ingin menolongnya.


Di luar, Mikel yang mendapat perintah dari Bulan segera bersiap. "Pakai masker kalian. Kita masuk sekarang." perintah Mikel.


"Kalian langsung ke pos pengamanan. Gunakan indera penglihatan kalian dengan baik. Jika ada musuh yang keluar dari dalam, langsung eksekusi." lanjut Mikel memberi perintah.


"Baik boss." sahut mereka serempak.


"Arya elo tetap di sini bersama dua bawahan gue. Sebentar lagi anak buah gue dan orangnya Jevo akan datang. Elo tunggu mereka di sini." pinta Mikel.


"Oke. Tapi apa yang harus gue lakukan?" tanya Arya yang tadinya bersemangat menjadi gugup. Sebab dirinya tak pernah memimpin banyak orang untuk bergerak.


"Tunggu kabar dari gue atau bu Bulan. Ingat. Kalian harus bersabar, dan tetap waspada. Pakai masker jika masuk ke dalam." tutur Mikel pada Arya dan kedua bawahannya, yang akan menemani Arya.


"Oke. Kalian juga harus berhati-hati." ucap Arya.


Pintu gerbang dibuka dari dalam. Tentunya oleh bawahan Mikel yang masuk pada kloter kedua. "Boss, area depan sudah berada di bawah kendali kita." lapor salah satu bawahan Mikel.


"Kumpulkan semua musuh yang kalian dapat lumpuhkan. Jangan disimpan di dalam pos." perintah Mikel. Karena pos jaga akan digunakan para bawahan Mikel untuk berjaga. Dan lagi pula, mereka sudah tidak bernyawa.


Mikel menatap ke atas. Dilihatnya, beberapa bawahannya yang ada di sana mengisyaratkan dengan menggunakan telapak tangannya. Jika keadaan di sana baik-baik saja.

__ADS_1


"Lalu kemana pemilik markas ini?" tanya Mikel dalam hati.


Sungguh, Mikel tidak menyangka semua akan berjalan dengan lancar. "Semua orang yang berada di sini adalah pemakai. Mungkin karena itulah kita bisa masuk dengan leluasa." lapor bawahan Mikel, seakan tahu apa yang ada di dalam benak bosnya tersebut.


"Di dalam pos, tetap dua orang. Yang lain berjaga mengelilingi markas. Lenyapkan musuh yang mencoba keluar dari dalam. Ingat, pertajam kedua mata kalian. Jangan sampai salah target...!" perintah Mikel pada bawahannya.


"Baik." ucap mereka serempak. Mencari tempat yang bisa mereka jadikan sebagai tempat bersembunyi. Yakni di balik beberapa pohon-pohon besar yang berada di halaman gedung.


"Apa yang terjadi di dalam?" tanya Mikel dalam hati pada dirinya sendiri.


Sedangkan Bulan yang sebelumnya menyuruh ke sembilan orang untuk berada di atas, kini Bulan mengurangi jumlah mereka. Apalagi melihat keadaan Gara yang sangat memprihatinkan.


"Kelompok satu. Tinggalkan empat orang di atas untuk berjaga. Dan lima orang ke bawah. Untuk kelompok tiga, masuklah beberapa ke dalam. Kita mulai penyerangan." perintah Bulan melalui alat komunikasi yang terpasang di telinganya.


Kelompok tiga adalah kelompok yang baru saja masuk bersama dengan Mikel. "Mikel, tetap berada di luar. Bagian halaman adalah milik elo." tutur Bulan.


"Baik." sahut Mikel.


Mikel melihat ke arah bawahannya yang baru saja masuk, menyuruh mereka untuk masuk ke dalam. Menyisakan sedikit di luar. Mikel yakin, sebentar lagi bala bantuan akan datang. Sehingga tidak perlu banyak orang uang berada di luar gedung.


Di dalam, Bulan segera mengeluarkan senjatanya, saat seseorang mengeluarkan pistol dan mengarahkannya pada Gara yang sudah tidak berdaya.


Dor..... Satu tembakan melesat ke arah lelaki yang menodongkan pistol ke arah Gara. Suara tembakan yang terdengar, membuat bawahan Mikel mengambil keputusan untuk memulai penyerangan.


Untuk Jevo dan Jeno, keduanya segera berlari masuk ke dalam ruangan dimana mereka menebak Gara ada di dalamnya. Dengan Bulan turun dari atas dengan melompat.


Bahkan lelaki yang ditembak oleh Bulan tidak sempat berteriak kesakitan. Karena Bulan langsung menembak tepat di dahinya. Membuatnya langsung berpindah tempat ke neraka.


Jevo dan Jeno, keduanya yang baru saja masuk juga langsung mengeluarkan senjata. Menembaki mereka yang ada di dalam. Juga dengan Bulan.


Tentunya mereka yang berada di ruangan tersebut terkejut. Karena tak ada persiapan, mereka dengan mudah di bantai oleh Bulan dan Jevo serta Jeno.


Bukan hanya di dalam ruangan tersebut yang terdengar suara tembakan. Tapi juga di luar ruangan. "Kelihatannya hanya segelintir orang yang memegang senjata." ujar Jeno menebak.


"Tentu saja. Mereka di sini untuk diambil tenaganya. Mereka akan berontak jika dibekali senjata api." sahut Bulan.


"Gara...!!" panggil Bulan, mendekat ke tempat Gara. Sedangkan Jevo dan Jeno berdiri di samping keduanya. Tetap berada di dalam mode waspada.


Bulan menepuk kasar pipi Gara. "Gara bodoh...!! Buka mata elo...!!" seru Bulan dengan nada khawatir.


Gara membuka sedikit kedua matanya, dna tersenyum. Lali dia kembali memejamkan kedua matanya. "Jevo...!! Jeno....!! Bawa Gara keluar....!!" pinta Bulan menahan air mata di pipinya.


"Letakkan di punggung gue..!!" pinta Jevo, segera berjongkok.


Beberapa bawahan Mikel datang. "Kita akan keluar. Amankan sekitar lokasi." pinta Jeno, memegangi tubuh Gara dari belakang.


"Baik...!!" seru mereka.


Jevo dan Jeno berlari membawa Gara, dengan Bulan juga mengekor di belakang mereka memegang senjata api.


Sementara beberapa bawahan Mikel juga berlari di sekitar mereka. Menjaga keamanan mereka. Sebab masih terdengar suara tembak menembak.


Mikel segera berlari, saat melihat Jevo dan Jeno keluar dari dalam gedung. Bersamaan dengan itu, beberapa mobil masuk ke dalam. Dan salah satunya dikendarai oleh Arya.


Jevo segera membawa masuk Gara, diletakkan di kursi bagain belakang. "Mikel,,, gue percaya sama elo." tukas Bulan.


"Tenang saja. Serahkan urusan di sini sama gue dan Mikel. Kalian segeralah menyelamatkan Gara." sahut Jevo.


Bulan dan Jeno serta Arya membawa Gara pergi dari markas. Tujuan mereka tentu saja rumah sakit. Arya duduk di belakang menjaga Gara. Dia mempergunakan pahanya sebagai bantal untuk kepala Gara.


Sementara Bulan duduk di kursi kemudi, dengan Jeno duduk di kursi depan sebelah Bulan. "Gara bangun...." lirih Arya dengan air mata yang sudah terkumpul di kedua pelupuk mata.

__ADS_1


Arya melihat kedua telapak tangannya berlumuran darah karena memang kepala Gara. Air mata Arya tak bisa lagi ditahan di pelupuk mata. "Bulan...!! Cepat....!!" seru Arya sembari menangis sesenggukan.


Bulan menyeka air mata di kedua matanya. Dirinya harus fokus menyetir. Sementara Jeno menghubungi seseorang di seberang ponsel. Tentu saja seseorang yang bisa dia andalkan untuk menyelamatkan nyawa Gara.


__ADS_2