
Sebelum terbangun karena kedatangan Jevo yang membawa Moza, Jeno hampir saja memejamkan kedua matanya untuk masuk ke dalam mimpi.
Namun sekarang, kedua matanya seakan tak mau dipejamkan lagi. Apalagi, dalam benak Jeno penuh dengan wajah sang pujaan hati. Bulan.
Jeno menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Berkali-kali dia mengusap seluruh wajahnya dan menyugar kasar rambutnya. "Apa Bulan sudah masuk ke tempat itu?" cicit Jeno merasa penasaran.
Jujur, Jeno tak bisa tenang. Ingin sekali Jeno mencari tahu alamat yang Bulan datangi, dan menyusulnya. Tapi, lagi-lagi Jeno teringat perkataan Bulan. Dimana dirinya tidak boleh melibatkan diri dalam misi Bulan kali ini.
Meski Jeno selalu mengingat larangan Bulan, tetap saja, rasa khawatir dan cemas di dalam hatinya tak bisa dipadamkan.
Jeno tahu, jika sebelum mengenal dirinya, Bulan juga sering melakukan misi-misi berbahaya lainnya. Tapi tetap saja, hati tak bisa dibohongi. Rasa cemas akan sang pujaan hati terus berputar di dalam benaknya.
"Apa yang harus gue lakukan. Berdiam diri di rumah, percuma. Gue nggak bisa tidur. Pikiran gue malah semakin cemas dan khawatir." tukas Jeno merasa bingung sendiri.
Jeno beranjak dari ranjangnya, bergegas keluar dari kamar. Tujuannya adalah kamar sang papa dan mama.
Tok,,,, tok,,,,, Jeno mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya berulang kali dengan keras dan tak sabaran. "Pa,,, ma,,, bangun....!!" seru Jeno berharap pintu segera terbuka.
Untuk kedua kalinya, Tuan David dan Nyonya Rindi terganggu tidurnya, oleh kedua putranya. Jika beberapa waktu yang lalu adalah Jevo, sekarang Jeno. "Astaga pa,,, apalagi ini?!" dengus Nyonya Rindi kesal.
Kepala Nyonya Rindi terasa berdenyut karena baru saja memejamkan kedua matanya, dan kembali terjaga untuk kedua kalinya. Begitu juga dengan Tuan David.
Tapi apalah daya. Marah pun percuma. Sebab yang membangunkan mereka kedua putra kembarnya. "Apa malam ini Tuhan tidak memperbolehkan kita untuk istirahat." cicit Tuan David dengan ekspresi bantal.
Suara ketukan pintu terus terdengar, sehingga keduanya tak bisa mengabaikannya. "Ckkk,,, mereka seperti anak-anak saja. Suka sekali mengganggu tidur kita." kesal Tuan David.
Mau tak mau, Tuan David beranjak dari tempat tidurnya dengan perasan malas bercampur dengan kesal. Sementara Nyonya Rindi masih duduk di ranjang sembari merapikan rambutnya yang berantakan, seraya menatap ke arah pintu.
Begitu pintu terbuka dari dalam, Jeno nyelonong masuk ke dalam dengan ekspresi wajah khawatir. "Ada apa lagi?!" tanya Tuan David dengan nada kesal.
"Kalian berdua kenapa sih, senang ya,,,, melihat papa dan mama pusing." sahut Nyonya Rindi dengan mengeraskan nada suaranya dengan tangan memijat keningnya.
"Pa,, Jeno mau keluar rumah. Bolehkan?" ujar Jeno meminta izin, dengan ekspresi cemas.
Sungguh aneh, entah ada angin apa, Jeno meminta izin meninggalkan rumah tengah malam. Padahal, biasanya dia pergi tanpa pamit dan sembunyi-sembunyi.
Mendengar Jeno meminta izin, Nyonya Rindi langsung menyibak selimutnya dan mendekat ke arah sang putra dan suaminya. "Apa terjadi sesuatu dengan Bulan?" tanya Nyonya Rindi langsung mengarah kepada kekasih sang putra.
Tuan David merasa jika Jeno hendak membicarakan calon menantunya tersebut. Sehingga tak baik bagi mereka berbicara di ambang pintu. "Kita bicara di dalam." ajak Tuan David, dam menutup pintunya kembali.
Mereka berbincang lebih leluasa jika berada di dalam kamar. Sebab beberapa kamar di rumah Tuan David memang kedap suara. Sehingga orang yang berada di luar kamar, tak akan ada yang bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Ketiganya duduk di kursi empuk dan panjang yang ada di kamar. "Ada apa dengan Bulan?" tanya Nyonya Rindi cemas.
"Bukan itu ma, Bulan baik-baik saja." ujar Jeno menjeda kalimatnya.
"Hanya,,, hanya, Bulan sedang menjalankan misinya. Jeno merasa khawatir dan takut." lirih Jeno menundukkan kepalanya.
Tuan David dan Nyonya Rindi sejenak saling tatap. "Bukankah biasanya Bulan juga melakukan misi-misi berbahaya. Kenapa kamu harus cemas." tukas Tuan David.
Nyonya Rindi mengelus lembut punggung sang putra. "Itu dia pa. Bulan...." Jeno tak melanjutkan kalimatnya. Dia tidak bisa mengatakan dengan jujur pada kedua orang tuanya. Apalagi tanpa seizin Bulan.
"Tidak perlu kamu ceritakan. Mama tahu, pasti misi yang Bulan jalankan sangat rahasia. Kami paham." ujar Nyonya Rindi.
"Apa Bulan meminta bantuan kamu?" tanya Tuan David.
Jeno menggeleng pelan. "Bulan malah melarang Jeno untuk ikut campur." tutur Jeno dengan lesu.
"Bulan percaya sama kamu. Kalian saling menyayangi. Makanya dia menceritakan apa yang akan dia lakukan. Tapi, dia juga khawatir jika kamu terlibat. Mengingat keahlian kamu." jelas Tuan David dengan bijak.
"Benar kata papa. Jika kamu ikut terlibat, pasti Bulan tidak akan bisa fokus. Dia nanti malah kepikiran dengan keselamatan kamu." timpal Nyonya Rindi.
"Gara juga mengatakan seperti itu. Tapi,,, Jeno tetap saja khawatir." lirih Jeno menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"Gara, siapa dia?" tanya sang mama.
"Sahabat Bulan. Dia lelaki yang ditolong Bulan. Tapi dia lumpuh, tidak bisa berjalan. Dan hanya bisa mengandalkan kursi roda selama hidupnya." jelas Jeno.
"Mama setuju dengan Gara." tukas Nyonya Rindi.
Nyonya Rindi membawa Jeno ke dalam pelukannya. "Percaya sama Bulan. Dia sangat menyayangi kamu. Makanya dia tidak ingin kamu terlibat." tutur Nyonya Rindi.
"Apa Jeno akan selamanya seperti ini?" lirih Jeno dengan nada sedih.
__ADS_1
Tuan David dan Nyonya Rindi sejenak saling memandang. Keduanya tahu maksud perkataan dari Jeno. "Kelak, kalian akan saling melengkapi. Bulan dengan keahliannya, melindungi keluarga kecil kalian. Dan kamu, dengan apa yang kamu miliki, menjadi penjaga untuk mereka." tutur Nyonya Rindi.
"Jangan minder. Semua punya kelebihan masing-masing. Apa Bulan pernah mengatakan jika kamu harus lebih hebat dari dia, baru dia akan menerima cinta kamu." tanya Nyonya Rindi, membesarkan hati sang putra.
Jeno menggeleng. "Dia perempuan baik dan cantik. Sama sekali tidak matre. Sama sekali tidak menuntut apapun dari Jeno. Keluarganya saja sangat baik sama Jeno." Jeno tersenyum, teringat keluarga Bulan di desa.
Nyonya Rindi segera melepaskan pelukannya. Menatap Jeno dengan intens, juga dengan Tuan David. "Astaga,,, apa yang baru saja gue katakan." batin Jeno merutuki dirinya sendiri.
"Maksud kamu?" tanya Nyonya Rindi.
"Ma,,,, itu nanti saja Jeno ceritakan. Sekarang izinkan Jeno pergi." segera Jeno kembali ke tujuan awal dia mendatangi sang mama dan papa.
"Jeno...."
"Pa,,, Jeno tidak akan mengganggu apa yang dilakukan Bulan. Jeno akan melihat dari jarak jauh. Jeno berjanji." ujar Jeno memotong perkataan sang papa.
Tuan David menatap sang istri yang menggelengkan kepalanya. Nyonya Rindi yakin, jika Bulan melarang Jeno untuk ikut terlibat karena apa yang Bulan lakukan adalah misi berbahaya.
Nyonya Rindi bukan hanya memikirkan keselamatan Jeno. Tapi juga keselamatan Bulan. Seperti yang dia pikirkan sebelumnya. Jika Jeno sampai ikut, maka fokus Bulan akan terbagi. Tak mustahil jika Bulan juga akan dalam bahaya.
Tuan David menghela nafas panjang. "Baik. Papa izinkan." tukas Tuan David.
Jeno tersenyum lega mendengar perkataan sang papa. "Pa....!! Kenapa papa izinkan. Bukan hanya Jeno yang dalam bahaya. Bisa jadi Bulan juga akan dalam bahaya jika Jeno menyusul." seru Nyonya Rindi tak sepaham dengan sang suami.
"Dengar dulu perkataan papa sampai selesai ma." tutur Tuan David.
Nyonya Rindi menatap dua lelaki di depannya dengan sinis. "Seperti yang Jeno katakan. Jika dia tidak akan melibatkan diri. Cukup melihat dari jarak aman. Dan kamu Jeno, sebagai lelaki, pegang perkataan kamu." tegas Tuan David.
"Jeno berjanji." tekan Jeno.
"Awas jika sampai terjadi apa-apa. Kamu mama coret dari kartu keluarga." ancam Nyonya Rindi.
"Ma,,, Jeno anak kandung mama juga." ujar Jeno tersenyum.
Cup,,,, Jeno mencium pipi sang mama. "Mama tenang saja. Jeno hanya akan memantau. Jeno berjanji, tidak akan membuat Bulan kesusahan." tukas Jeno menyakinkan sang mama.
"Ingat, besok kamu ujian."
"Tenang ma. Jeno janji. Tahun ini Jeno akan menjadi nomor satu. Jeno akan mendapat nilai terbaik." jelas Jeno dengan yakin.
Jeno kembali ke dalam kamar. Mengambil jaket serta kunci mobil. Dengan langkah pasti, Jeno masuk ke dalam garasi.
Tepat di saat Jeno masuk ke dalam mobil, Jevo juga ikut masuk dan duduk di kursi samping Jeno. "Ngapain kamu ikut masuk?! Keluar...!" tanya Jeno yang sedikit terkejut, sembari mengusir Jevo.
Bukannya segera keluar dari mobil, Jevo malah memakaikan sabuk pengaman di tubuhnya. "Sudah jalan saja. Gue ikut kemana elo pergi."
"Ayolah,,, elo malah akan buang-buang waktu dan tenaga." lanjut Jevo, saat dia tahu Jeno akan kembali mengusirnya.
"Ingat, jangan banyak cakap dan jangan banyak tingkah." ujar Jeno mengingatkan.
"Oke." sahut Jevo, hanya bisa menuruti apa gang dikatakan oleh saudaranya tersebut. Dari pada rasa penasarannya tak terobati.
Beberapa waktu yang lalu, Jevo merasa haus. Air putih di dalam kamarnya habis. Sehingga dia harus keluar dari kamar.
Tepat saat dirinya membuka pintu, dia melihat Jeno menggedor pintu kamar sang papa. Jevo yang merasa penasaran tak jadi keluar dari kamar, dan mengintip apa yang dilakukan Jeno dari balik pintu kamarnya.
Sayangnya, saat Jeno masuk ke dalam kamar, dirinya tak bisa mendengarkan percakapan mereka. Hanya bermodalkan insting dan tebakan, Jevo menunggu Jeno di garasi.
Ternyata tebakan Jevo tepat. Kesabaran Jevo menunggu Jeno di dalam garasi membuahkan hasil. Jevo melihat Jeno masuk ke dalam garasi, dan hendak masuk ke dalam mobil.
Keduanya lantas menaiki mobil keluar dari rumah. Tujuan pertama Jeno adalah markas. Sebab dia sendiri juga tidak tahu alamat dimana Bulan berada.
Jeno berharap dalam hati, semoga Gara bisa membantu atau bisa diajak kerja sama. Memberitahu dirinya dimana Bulan sekarang berada.
Sementara di rumah mewah tersebut, Bulan sudah berada di depan pintu kamar. Dimana para pembantu perempuan tertidur lelap. "Ada berapa pembantu perempuan yang ada di sini?" tanya Bulan pada Gara di markas.
"Semua enam. Tapi malam ini hanya ada tiga yang tidur di rumah itu. Yang lainnya, tadi sore gue sempat melihat mereka keluar dari rumah, dan belum kembali. Mungkin mereka ada pekerjaan di luar. Atau apalah, gue sendiri juga tidak tahu." jelas Gara.
"Apa semua ada di dalam?" tanya Bulan memastikan, supaya langkahnya lebih mudah.
"Iya. Di dalam aman." tukas Gara, sebab di dalam kamar tersebut tidak terpasang kamera CCTV.
Bulan mengeluarkan sapu tangan, ditetesi obat tidur pada sapu tangan tersebut. Dengan pelan, Bulan membuka pintu. Tentu saja dirinya tak ingin ada gang menyadari kehadirannya.
__ADS_1
Di dalam, ada tiga ranjang susun. Di dalam kamar tersebut, lampu di matikan. Sehingga Bulan hanya bisa melihat dalam keremangan, karena sinar lampu dari luar yang masuk ke dalam.
Tapi, hal tersebut malah menguntungkan bagi Bulan. Sehingga Bulan bisa bertindak dengan leluasa. Bulan melangkah dengan hati-hati seraya memperhatikan sekitar. Tak ingin dirinya membuat suatu kecerobohan.
Yang pertama, Bulan membius pembantu yang tidur di ranjang bawah. Sehingga memudahkan dirinya untuk membius kedua pembantu lainnya yang berada di ranjang atas.
Selesai dengan pembantu yang pertama, Bulan menaiki tangga dan melakukan hal yang sama pada pembantu berikutnya.
Sial,,, saat Bulan membius pembantu yang kedua, pembantu satunya yang belum Bulan bius melihat aksinya.
Beruntung, Bulan bergerak cepat. Sehingga pembantu tersebut tak sampai berteriak dan mengundang banyak orang untuk masuk ke kamar.
"Huufffttt,,, hampir saja." ujar Bulan bernafas lega.
Tak ingin membuang-buang waktu, Bulan segera mencari sesuatu di dalam lemari. Yakni pakaian kerja para pembantu, yang akan dia gunakan.
Bulan mengambil ponsel. Menyalakan lampu ponselnya, dan mengarahkan kepada ketiga perempuan tersebut. Melihat wajahnya dengan seksama.
"Jika saja ada kakek Timo, pasti gue akan mempergunakan keahliannya." cicit Bulan tersenyum manis.
Bulan berganti pakaian dengan pakaian pembantu. Mencari alat make up mereka untuk menyempurnakan penyamarannya. Juga dengan sepatunya.
"Semoga sepatu ini muat." cicit Bulan, mencoba setiap sepatu milik pembantu di rumah tersebut yang tertata rapi di rak sepatu.
"Syukurlah, ada yang pas di kaki gue." tutur Bulan, sebab sepatu tersebut tidak kekecilan atau kebesaran.
Tak ingin ceroboh, Bulan melipat pakaian yang dia pakai dengan rapi, menaruhnya di antara tumpukan pakaian salah satu milik pembantu. "Pakaian kotor versus pakaian bersih." tukas Bulan tersenyum geli.
Bulan masuk ke kamar mandi yang ada di kamar tersebut. Melihat penampilannya dari kaca. "Gila, gue jadi gendut begini." cicitnya merasa lucu melihat bentuk tubuhnya.
Bulan memakai riasan sebisanya untuk mengubah penampilannya. "Kayak tante-tante genit gue." tukasnya melihat wajahnya sendiri.
Semua yang tertempel di wajah Bulan serba tebal. Bedak tebal. Lipstik tebak. Alis tebak. Meski begitu, Bulan masih tampak terlihat cantik.
"Selesai." ujar Bulan.
Dapur adalah tujuan Bulan selanjutnya. Tentunya Bulan harus mempunyai alasan untuk menemui dua orang yang disekap di dalam rumah ini.
Bulan membuat dua gelas susu panas. "Semoga mereka tidak curiga." ujar Bulan seraya mengaduk susu dengan air di dalam gelas menggunakan sendok.
Bulan berjalan dengan santai, dengan tangan membawa sebuah nampan berisi dua gelas susu panas. "Tunggu." cegah seorang penjaga yang berada di bawah tangga menghentikan langkah Bulan.
"Tadi sore mereka meminta saya mengantarkan susu panas sebelum mereka tidur." jelas Bulan sebelum penjaga tersebut bertanya.
Salah satu penjaga menatap ke arah pergelangan tangannya, dimana ada sebuah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Bulan tahu, apa yang mereka pikirkan. Sebab malam sudah terlalu larut untuk seseorang meminum susu. "Mereka mengatakan kesulitan tidur selama di sini. Mungkin, saat ini mereka belum tidur." ujar Bulan.
Kedua penjaga tersebut saling tatap. "Astaga,,, susunya pasti dingin. Kena omel lagi." lirih Bulan dengan suara lesu, sengaja mengatakannya supaya diizinkan masuk ke dalam.
"Antarkan. Biar gue yang jaga." tukas salah satu penjaga.
Penjaga tersebut berjalan di depan Bulan, menaiki tangga, dengan Bulan mengekor di belakangnya. Kedua mata Bulan meneliti setiap sudut rumah yang dia lewati. Menghapal dengan teliti dimana setiap penjaga berdiri.
Sampai di lantai dua, penjaga tersebut memanggil rekannya. "Antarkan dia ke kamar tahanan." pintanya yang diangguki oleh rekan sesama penjaga.
Tanpa bersuara, penjaga tersebut berjalan di depan Bulan. Mengantarkan Bulan ke kamar yang digunakan menahan istri dan anak pak Bimo.
Sang penjaga berhenti di sebuah pintu, mengeluarkan kunci dari dalam saku celananya. Dan membuka pintu di depannya. "Tidak lebih dari sepuluh menit. Bawa gelas keluar lagi." ujar sang penjaga dengan garang.
Bulan hanya mengangguk pelan. Setelah Bulan masuk ke dalam kamar, pintu kembali di tutup. Dan Bulan mendengar, suara pintu dikunci kembali dari luar. "Tidak lebih dari sepuluh menit." ucap Bulan dalam hati.
Bulan melihat dua perempuan berbeda usia duduk di kursi panjang dan empuk, dimana keduanya tengah menatap intens ke arahnya.
"Mereka." batin Bulan.
Keduanya sangat berbeda dengan saat Bulan terakhir kali melihat Nyonya Irawan dan Nona Sapna. Anak dan istri dari pak Bimo.
Bulan menatap keduanya dengan iba. Sungguh, wajah mereka terlihat sekali penuh tekanan. Badan merekapun terlihat kurus.
Nyonya Irawan memeluk sang putri dengan erat, saat Bulan melangkahkan kakinya mendekat ke arah mereka. "Apa yang sudah mereka lakukan pada Nyonya dan Nona." batin Bulan, melihat kedua mata mereka penuh ketakutan.
"Nyonya,,,, Nona...." panggil Bulan dengan lembut.
__ADS_1
Nyonya Irawan membulatkan kedua matanya. Pelukannya pada sang putri juga melonggar. "Suara itu." gumamnya, merasa sangat familiar dengan suara Bulan.
Bulan tersenyum, air mata yang ditahan sedari tadi menetes di pipi. Sungguh, hatinya sangat miris melihat keadaan mereka berdua.