PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 41


__ADS_3

"Lepasss....!" seru Moza, saat salah satu dari mereka mencekal tangannya. Lelaki yang lain juga ikut memegang lengan Moza yang satunya.


Salah satu daei mereka maju, dan merobek seragam sekolah yang masih melekat di badan Moza. Memperlihatkan dua buah benda yang berada di dada Moza. Begitu menggoda.


Sementara yang dua lagi tertawa dengan menatap penuh nafsu ke arah Moza. Bukan hanya seragam atasnya saja yang mereka robek. Bahkan sekarang rok yang Moza pakai pun juga ikut di lepas paksa.


Moza hanya bisa menangis disertai jeritan minta tolong. Berharap akan ada yang mendengar suaranya dan datang menolongnya.


"Waooww..." ucap mereka melihat tubuh menggoda Moza yang hanya menggunakan dalaman saja. Menutupi dua aset berharga di bagian atas dan bawah.


"Tolong,,, lepaskan saya. Berapapun uang yang kalian minta, aku akan berikan." ucap Moza memohon.


"Sayang sekali, kami sudah mendapatkan uang banyak."


"Dan yang kami inginkan sekarang adalah bersenang-senang dengan gadis perawan seperti kamu."


Mereka memandang Moza dengan tatapan lapar. Mereka mulai mencium, mengendus, dan menggerayangi tubuh seksi Moza.


Sementara tenaga Moza sudah mulai terkuras. Lagi pula, dia juga tidak bisa melawan. Satu perempuan lemah, melawan lima lelaki. Pasti Moza tidak akan sanggup.


Kini, Moza hanya bisa menangis dan pasrah akan apapun yang menimpanya.


Brak.... pintu terbuka dari luar dengan kasar. Membuat kegiatan mereka terhenti karena terganggu adanya tamu yang tak diundang.


Moza berangsur mundur hingga berada di samping temnok dan duduk memeluk tubuhnya, saat kelima lelaki tersebut menoleh ke belakang, melonggarkan cekalan mereka di tubuhnya.


Moza bisa melihat dengan jelas siapa yang datang dan berdiri di ambang pintu. Jevo.


Jevo memutuskan untuk kembali lagi ke tempat di mana dirinya melihat Moza. Dan seperti dugaannya. Dia melihat teman Moza tertawa sembari memainkan kunci mobilnya. Meninggalkan Moza yang Jevo sendiri belum tahu keberadaannya.


Tak mungkin bagi Jevo pergi meninggalkan seseorang, dimana dia sedang dalam kesukitan. "Jika itu Bulan, gue nggak perlu kembali lagi." tukas Jevo.


Jevo mencari ke tempat terdekat. Bangunan kosong yang tampak kotor dan terbengkalai. Dimana, Jevo jiga mendengar suara jeritan monta tolong dari Moza.


Tubuh Moza bergetar hebat, melihat Jevo datang menolongnya. Hingga pandangannya mulai kabur karena air mata yang memenuhi kedua kelopak matanya.


Kelima lelaki tersebut memandang Jevo dengan tatapan remeh. "Elo, bocah. Jika ingin ikut gabung, tunggu giliran." celetuk salah satu dari mereka.


Jevo masih berdiri di ambang pintu dengan tatapan dingin menatap mereka. "Kita lanjutkan saja. Biarkan bocah itu menonton kita dulu. Sekalian biar dia belajar." timpal yang lain.


Kelimanya membalikkan badan. Memunggungi Jevo dan kembali tersenyum mesum menatap Moza. "Gue sudah nggak sabar. Lihat pusaka gue udah siap tempur." celetuk salah satu dari mereka.


"Ehh..." ucapnya, merasakan kerah bajunya ditarik dari belakang oleh seseorang.


Jevo menarik kerah bajunya dengan kuat, hingga dia mengikuti ke mana Jevo menariknya. "Heyy..." seru lelaki uang lain.


Bugh... Jevo memukulnya tepat di hidungnya dengan kuat. Hingga darah langsung mengucur dari dalam hidung. Lelaki tersebut berlutut dengan memegang hidungnya.


Tidak terima temannya di pukul, mereka menyerang Jevo bersama. Jevo menendang dagu lelaki yang jongkok di depannya menggunakan lutut. Membuatnya terkapar di lantai tak sadarkan diri.


Salah satu dari mereka melihat keadaan temannya. Dan tiga diantaranya menyerang Jevo. "Bocah tengik. Gue bunuh elo..!!" serunya.


Jevo tersenyum remeh. Berapa kali, Jevo terkena pukulan dari mereka bertiga. Namun, Jevo kembali membalas dan menyerang mereka.


Hingga tersengat suara sirine mobil polisi. "Polisi..." teriak salah satu dari mereka.


Mereka berempat meninggalkan tempat tersebut, membawa teman mereka yang pingsan dengan menggendongnya.


Jevo meringis merasakan wajahnya terasa sakit. Karena terlena beberapa pukulan. "Sialan. Gue bisa kalah menghadapi orang macam mereka." gerutu Jevo.


"Sepertinya gue harus kembali melatih fisik gue." ujarnya.


Arya datang dengan nafas tersengal. "Gimana, gue nggak terlambatkan?" tanya Arya.


"Astaga." segera Arya membalikkan badannya, melihat keadaan Moza. "Gue tunggu di mobil." teriak Arya berlari ke arah mobil.


Jevo tidak ingin ceroboh. Apalagi dirinya juga tidak tahu berapa jumlah orang yang bersama Moza. Oleh karenanya, Jevo menelpon Arya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam.


Beruntung, Arya belum sampai ke markas. Meski jarak antara tempatnya berada dengan Jevo lumayan jauh, tapi Arya tetap datang untuk menolong Jevo.


Jevo mendekat ke tempat Moza. Melepas jaketnya, dan memakaikannya ke tubuh Moza. Spontan, Moza langsung memeluk erat tubuh Jevo. "Aku takut.." cicit Moza disertai isak tangis.


Jevo menepuk pelan punggung Moza. Mengelus rambut Moza dengan lembut. Jevo yakin, dirinya tidak mungkin membawa Moza dalam keadaan seperti ini.


Jevo melepaskan rangkulan tangan Moza. "Sebentar."


"Jangan tinggalkan aku." pinta Moza lirih.


"Tidak akan, sebentar." ucap Jevo, dan Moza melepaskan tangannya di tubuh Jevo.


Jevo mengambil pakaian serta rok Moza. Tapi keduanya bahkan tidak bisa digunakan. Karena telah sobek.


Jevo menelpon Arya. Menyuruhnya meninggalkan tempat ini dengan menggunakan motornya. Sehingga Jevo bisa menggunakan mobil Arya bersama dengan Moza.


"Ayo." Jevo membantu Moza berdiri. Tapi, tubuh Moza yang masih bergetar takut serta terasa lemas, membuat Moza tak bisa berdiri sendiri dengan tegak.


Jevo menopang tubuh Moza. Dengan sekali gerak, Jevo mengangkat tubuh Moza, menggendongnya dan membawanya ke mobil milik Arya.


Jevo melihat, motornya sudah tidak lagi di tempat. Menandakan jika Arya sudah pergi terlebih dahulu membawa motornya, seperti permintaannya.

__ADS_1


Moza duduk di kursi depan, di samping Jevo yang tengah mengemudi. "Aku tidak ingin pulang." cicit Moza, kembali mengeluarkan air mata. Dengan tangan menarik jaket bagian bawah.


Jaket milik Jevo memang menutupi seluruh tubuhnya. Tapi hanya bagian atas. Sementara yang bawah, paha Moza terlihat dengan sempurna. Jika ditarik sedikit ke atas, akan terlihat kain berbentuk segitiga di antara kedua pahanya.


Jevo menghela nafas panjang. "Elo mau gue antar kemana?"


"Aku ikut kamu saja." cicit Moza masih sesegukan.


Jevo memandang sekilas ke arah Moza. Memutar kedua matanya dengan jengah. Niat hati ingin pergi ke markas dan melakukan rencana untuk nanti malam, malah gagal karena Moza.


Tapi Jevo tidak punya pilihan. Jevo dapat menebak, jika Moza masih dalam keadaan takut. "Biar aku antar pulang. Katakan, di mana alamat rumahmu."


"Tidak mau. Aku ikut kamu saja." kekeh Moza dengan wajah sembabnya.


Jevo tak punya pilihan. Jevo mengeluarkan ponsel, memberi pesan pada teman-temannya serta Jeno, jika dia akan terlambat datang.


"Ini dimana?" tanya Moza.


"Apartemenku." ujar Jevo, keluar dari dalam mobil. Segera Moza mengikuti Jevo turun dari mobil. Berjalan di belakang Jevo.


Moza sedikit risih dengan beberapa mata yang memandang ke arahnya. Tentu saja, karena apa yang Moza pakai di badannya. Hanya jaket tanpa bawahan.


Namun Moza abai. Yang terpenting saat ini dirinya sudah aman. Pintu lift terbuka. Ada dua lelaki di dalamnya. "Keluar." ujar Jevo, mengusir mereka.


Tanpa membantah, keduanya keluar dari dalam lift. Jevo masuk disusul oleh Moza. Selama di dalam lift, keduanya hanya saling diam. Tak ada yang mengeluarkan suara.


Moza beberapa kali mencuri pandang ke arah Jevo. Tapi Jevo tetap bersikap dingin dan cuek. Moza memajukan bibirnya. "Dengan Claudia saja dia bisa bersikap hangat." ucap Moza dalam hati.


Entah kenapa Moza merasa iri melihat bagaimana Jevo memperlakukan Claudia.


Lift berhenti di lantai paling atas. Pandangan mata Moza melihat setiap jalan yang dia lalui. Hanya ada dua pintu. Itulah yang Moza lihat.


Dan Jevo masuk ke salah satu pintu itu. Moza melongo takjub melihat apa yang ada di depan matanya. Sungguh apartemen yang mewah.


Moza terus mengekor di belakang Jevo. Hingga Jevo membuka sebuah pintu. "Elo bisa istirahat di sini."


Moza mengangguk. Lalu memegang lengan Jevo, saat Jevo hendak melangkahkan kakinya. "Jangan tinggalkan aku sendiri." cicitnya.


Jevo mengangkat sedikit dagunya ke arah lain. "Itu kamar gue. Elo bisa kesana jika ada perlu."


Moza melepaskan tangannya pada lengan Jevo. "Baik."


"Di lemari hanya ada pakaian gue. Elo bisa memakainya." ujar Jevo, berjalan meninggalkan Moza sendiri.


Moza tersenyum melihat punggung Jevo. Segera dia masuk ke dalam. Membersihkan diri dan mengambil pakaian Jevo yang dapat dia pakai.


Sedangkan di markas baru, Jeno dan Mikel membersihkan tempat tersebut. Mereka tentu saja risih bekerja, bercampur dengan debu dan benda-benda kotor.


Jeno hanya memandang Mikel sekilas sembari tersenyum. Mendengar Mikel terus menggerutu karena kedua orang tersebut tidak segera datang.


"Ini apa?" tanya Mikel, melihat sebuah benda di bawah kursi.


"Sisihkan saja." tukas Jeno tanpa melihat ke arah Mikel.


"Sisihkan bagaimana. Nggak bisalah. Nempel di lantai." jelasnya.


Segera Jeno mengatakan sesuatu. "Jangan disentuh, atau dipencet." ucap Jeno, takut jika akan menyebabkan masalah untuk mereka. Sebab Bulan tidak ada di samping mereka.


Mikel dan Jeno bernafas lega. "Untung elo ingatkan." ucap Mikel.


Tak berselang lama, Arya datang dengan ransel besar di punggungnya. "Elo bawa apaan. Bom." celetuk Mikel.


Arya menurunkan ransel tersebut di atas meja. "Makanan sama minuman brengsek." sungut Arya.


"Habis elo aneh banget. Pakai bawa ransel segala." goda Mikel disertai tawa ringan.


Arya mendaratkan pantatnya di kursi yang sebelumnya telah dibersihkan oleh Mikel dan Jeno. "Mana Jevo?"


"Mungkin dia akan telat ke sini."


Jeno mengeluarkan semua isi di dalam tas yang baru saja dibawa Arya. Menaruh dan merapikannya di dalam rak. Sehingga terlihat indah di pandang mata. "Memang Jevo kenapa?" tanya Jeno sembari tangan bergerak menata makanan di rak.


"Itulah kenapa gue tadi bawa ransel. Mobil gue dibawa Jevo. Sementara gue disuruh bawa motornya Jevo."


Mikel mengambil satu kaleng air minum. Membukanya dan meminumnya. " Yang jelas. Dan langsung to the point." ucap Mikel setelah minum.


"Jevo tadi nolong Moza."


Mikel dan Jeno menghentikan kegiatan mereka. Keduanya memandang ke arah Arya, meminta penjelasan. "Gue juga nggak tahu kronologinya. Jevo mengirim pesan tertulis pada gue. Meminta tolong. Lalu menyuruh gue membunyikan alarm polisi jika sampai di tempatnya. Untung mainan itu masih hue simpan di mobil." jelas Arya.


"Mereka baik-baik saja?" tanya Jeno cemas.


"Gue tadi melihat murid baru itu hanya memakai daleman sambil menangis di pojokan. Jevo, ada beberapa luka di wajahnya. Tapi nggak parah. Gue juga nggak tahu, Jevo melawan berapa orang."


Jeno dan Mikel merasa lega. Setidaknya mereka baik-baik saja. "Pasti orang yang sama yang menjebaknya malam itu." tebak Mikel.


Jeno hanya diam. Tidak bertanya lebih lanjut. Sebab dia sendiri juga tidak tahu apa yang sebelumnya terjadi. "Gue pikir iya." sahut Arya.


Ketiganya lantas meneruskan kegiatan mereka membersihkan tempat yang akan menjadi markas mereka. "Kelihatannya kita perlu kasur." celetuk Arya saat membuka setiap pintu.

__ADS_1


Dan hanya mendapati dipan yang keras sebagai alas tidur. "Elo pikir kita mau tidur di sini." timpal Mikel.


Tanpa Mikel dan Jeno tahu, Arya membuka pintu yang dimana ada tangga di dalam lorong menuju ke bawah. "Tempat apaan ini?" tanya Arya, setelah pintu terbuka lebar.


"Arya... tutup...!!!" teriak Mikel. Dan Jeno segera tahu, kenapa Mikel berteriak histeris.


Tapi terlambat. "Arya,,, menjauh dari sana..!" seru Mikel. Melihat sesuatu datang dari dalam lorong gelap tersebut.


Arya yang masih berdiri membelakangi lorong, merasa bingung melihat ekspresi khawatir dari Mikel.


Jeno yang berada tak jauh dari Arya, menarik lengan Arya dengan segera. Membuat Arya dan Jeno tersungkur. "Jenn... elo apaan sih?!" gerutu Arya dengan kesal, lututnya terasa sakit.


Arya merasa ada yang aneh. Jeno dan Mikel menatap ke arah pintu yang baru saja dia buka. Keduanya menampilkan raut wajah yang sama. Ketakutan. Menghiraukan pertanyaan darinya.


"Kita harus meninggalkan tempat ini." ucap Mikel, melihat sesuatu yang menurutnya begitu menakutkan.


Arya hendak membalikkan badan. Segera Jeno menghentikannya. "Jangan bergerak. Tetap diam." Jeno memegang tubuh Arya yang ada di depannya.


Jeno yakin, jika Arya membalikkan badannya, pasti Arya akan langsung menjerit ketakutan. Dan itu akan membuat mereka dalam bahaya.


Hewan berkaki empat di depan mereka menggerakkan kepalanya. Liur keluar dari dalam mulutnya. Sungguh menjijikkan.


"Kita berdiri pelan-pelan. Lalu pergi dengan pelan-pelan. Jangan berlari. Jangan memancing fokusnya." pinta Jeno.


Mikel mengangguk. Dapat Jeno lihat, saat hewan berkaki empat tersebut membuka mulutnya, ada sisa darah yang menempel di ujung mulutnya. Menandakan jika dia masih dalam keadaan kenyang.


Dan mereka akan selamat, jika bertindak dengan hati-hati. "Kenapa bu Bulan memelihara hewan membahayakan di sini?" lirih Mikel, dengan tubuh bergerak mundur secara perlahan.


Hewan tersebut masih terdiam. Terlihat memperhatikan ketiga manusia di depannya. "Hewan. Menakutkan." gumam Arya semakin penasaran dengan apa yang ada di belakangnya.


Arya menolah ke belakang. "Waaa.....!!!" teriak Arya dengan kencang.


ggggrrrrrr..... Hewan tersebut menurunkan tubuhnya, bersiap untuk menerkam mereka.


Arya berdiri. "Arya..." geram Jeno. Mikel tak kalah takut seperti Arya dan Jeno.


"Lari...!!" seru Jeno, saat hewan tersebut ingin menerkam mereka.


dorr..... suara tembakan menghentikan semuanya. "Bu Bulan." cicit Arya, melihat Bulan melesatkan bubuk mesiu ke arah serigala bertubuh besar tersebut.


Seketika, serigala tersebut diam tak bergerak. Mati.


Bulan maju ke depan. Tangan kanannya tetap siaga dengan memegang pistol. Mengarahkannya ke pintu yang terhubung dengan lorong.


Sementara tangan kirinya mengambil ekor serigala tersebut. Menyeretnya, dan memasukkan ke dalam lorong.


Dilihat dari apa yang dilakukan Bulan, Jeno dan Mikel dapat menebak jika bukan hanya ada satu ekor. Tapi masih ada yang lain.


Brak... Bulan menutup pintu, dan menguncinya. Beruntung Bulan datang tepat waktu, sehingga mereka baik-baik saja.


Tubuh ketiganya mendadak lemas. Duduk di atas lantai dengan lemas. "Kalian yang membawa semua itu?" tunjuk Bulan ke arah makanan dan minuman.


Bahkan jumlahnya sangat banyak menurut Bulan. "Kelompok takut kelaparan." cicit Bulan menggeleng sembari tersenyum.


Bulan bertingkah seakan tidak terjadi apa-apa. Padahal ketiga anak muridnya saat ini baru saja terlepas dari bahaya.


Bulan mengambil apel di atas meja. Membersihkan dengan mengelapkan di jaket yang dia pakai. Lalu memakannya.


Jeno berdiri dan mendekat ke arah Bulan. Begitu juga dengan Arya dan Mikel. "Kenapa ibu memelihara hewan menakutkan seperti itu?" tanya Jeno.


"Bukan saya, teman saya. Dulu, mereka sangat patuh. Tapi hanya pada teman saya. Bukan saya." cicit Bulan.


"Ada sebuah pintu di dinding lorong ini. Jika ada musuh masuk, kalian bisa keluar dari sana. Kira-kira, lima puluh anak tangga. Sebelah kiri." jelas Bulan.


"Nggak bu, pasti kita akan dimakan mereka." tolak Arya.


"Tangga ini berjumlah seratus lebih. Jika gerak kalian cepat, kalian akan baik-baik saja." jelas Bulan masuk akal baginya. Tapi tidak ketiga muridnya.


"Bu, disebelah sana ada sebuah benda, itu benda apa?" Mikel menunjuk ke bawah kursi.


Bulan berjongkok dan menekannya ke dalam. Sebuah tembok terbuka. Layaknya pintu otomatis. "Di dalam, kalian bisa berlatih untuk bela diri dan semacamnya."


Bulan berjalan ke dalam, diikuti ketiga muridnya. Keempatnya berada di dalam. Bulan memencet sebuah tombol di dekat pintu. Dan pintu otomatis tertutup kembali. "Tekan ini juga jika ingin pintu terbuka lagi."


Mereka bertiga melihat ruangan yang sangat lebar. "Kita keluar." ajak Bulan.


"Jika tangga itu, terhubung kemana?" tanya Jeno.


Bulan memutar kedua matanya dengan malas. Menatap ketiga lelaki berumur tujuh belas tahun di depannya. Tampak tatapan meremehkan dari Bulan untuk mereka.


Dan mereka paham mengapa Bulan memandang mereka seperti itu. Bulan menaiki anak tangga. "Kalian bukan anak TK, yang harus di tuntut. Jika penasaran, lihat dan cari tahu sendiri." tukas Bulan.


Tak ada yang menyahuti perkataan Bulan. Mereka tahu kalimat itu adalah sebuah sindiran untuk mereka.


"Gue harus berlatih. Setidaknya, gue tidak kalah jauh sama bu Bulan." ucap Jeno dalam hati, merasa dirinya jauh sekali dengan Bulan.


Di lantai atas, ada beberapa ruangan kosong tanpa pintu. "Dulu, ruangan itu kita gunakan sebagai tempat menyimpan senjata." ucap Bulan.


Dan ada beberapa teropong menghadap ke berbagai arah. Ketiganya mencoba menggunakan teropong tersebut. "Hebat." cicit Arya, bisa melihat jarak jauh dan terlihat jelas.

__ADS_1


Bulan melangkahkan kakinya ke bawah. Meninggalkan ketiganya di atas. Bulan menatap ke sekeliling ruangan markas. "Rekaman. Rekaman apa yang mereka cari." ucap Bulan dalam hati.


Bulan yakin, rekaman itu ada di tangan salah satu temannya.


__ADS_2