PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 137


__ADS_3

Nyonya Irawan melepaskan pelukannya pada sang putri, Sapna. "Kamu." cicit beliau memandang lekat ke arah Bulan, sosok yang dia kenal.


"Bulan,,, Nyonya." tutur Bulan dengan sopan menyebutkan namanya.


Tanpa basa-basi, Nyonya Irawan langsung memeluk Bulan tanpa canggung. "Bagaimana kamu bisa masuk?" tanya Nyonya Irawan menatap ke arah pintu. Pasalnya beliau tahu betapa banyaknya penjaga yang ada di rumah ini.


"Siapa ma?" tanya Sapna, merasa asing dengan perempuan di depannya.


"Nona Sapna." panggil Bulan, sedikit menundukkan kepala.


Sapna menatap Bulan dengan rasa penasaran. Apalagi sang mama tampak begitu akrab. Ditambah, Bulan mengetahui namanya. "Dia Bulan, bawahan papa kamu." jelas Nyonya Irawan.


Sapna tersenyum tulus. "Papa..." cicit Sapna dengan nada bergetar. Ada rasa senang mendengar sang mama menyebut sang papa.


Tak ada waktu untuk Bulan berbincang dengan mereka berdua. "Nyonya, Bulan tidak bisa menjelaskan dengan terperinci. Kita tidak punya banyak waktu. Bagaimanapun dan apapun caranya, kita harus bisa keluar dari rumah ini." jelas Bulan.


Bulan mulai melepas pakaian pembantu yang melekat di tubuhnya. Dan ternyata, Bulan terlihat gendut karena memakai tiga stel pakaian pembantu.


Bulan memberikan pada keduanya. "Tolong kerjasamanya. Kalian ganti pakaian kalian dengan pakaian ini. "Pakaian pembantu." lirih Sapna.


"Apa papa ikut?" tanya Sapna lagi, berharap sang papa datang dan mengeluarkan mereka dari penjara mewah ini.


"Sapna. Cepat ganti pakaian kamu. Jangan banyak tanya." tegur sang mama. Nyonya Irawan bisa menebak, jika sang suami tidak tahu jika malam ini Bulan datang menyelamatkan mereka.


"Kita hanya mempunyai waktu kurang dari sepuluh menit." tutur Bulan, saat Sapna hendak melangkahkan kaki.


"Sapna, ganti di sini saja." tukas Nyonya Irawan yang telah melepas kancing pakaiannya.


"Tapi ma, ada kamera CCTV." ujar Sapna.


Nyonya Irawan menatap Bulan. Tampak Bulan hanya diam tak berkomentar. Dan Nyonya Irawan bisa menebak jika Bulan sudah mengamankan kamera CCTV.


"Sudah mama katakan. Jangan banyak tanya. Lakukan saja apa yang dikatakan Bulan." tegas Nyonya Irawan.


Bulan tersenyum sembari mengangguk. Sambil menunggu keduanya berganti pakaian, Bulan mengintip keluar dari jendela kamar.


Bukan hanya itu, dengan waktu yang dimiliki, Bulan mengamati kamar besar tersebut. Bulan segera masuk ke kamar mandi. "Sial." gerutu Bulan. Sebab atap kamar mandi tidak menggunakan plapon biasa, sehingga dia tidak bisa keluar lewat tempat tersebut.


Bulan segera kembali, memastikan keduanya telah berganti pakaian. "Apa rencana kamu?" tanya Nyonya Irawan.


Bulan terdiam. Awalnya, dia akan menjebol atap plapon. Agar bisa keluar dari lantai dua. Tapi ternyata semua rencana Bulan harus pupus. Pasalnya, Bulan tak bisa menjebol plapon semudah apa yang dia bayangkan.


Dan kini, Bulan hanya bisa mengganti rencananya. Apalagi, dia hanya mempunyai waktu tidak lebih dari sepuluh menit. "Kita akan keluar dari sini. Bergantian." tutur Bulan.


Nyonya Irawan dan Sapna saling pandang. "Apa kalian tahu, dimana letak kamar pembantu?" tanya Bulan memastikan.


Keduanya mengangguk. Sebelum mereka berdua dikurung di dalam kamar. Mereka berdua dulu bebas pergi ke manapun, asal masih berada di dalam rumah.


Dan itu hanya bertahan beberapa hari saja. Sebab mereka berdua ketahuan hendak kabur. Yang mengakibatkan mereka berdua dikurung di dalam kamar.


"Tunggu. Bagaimana caranya? Mereka akan curiga." tutur Sapna sudah merasa ketakutan lebih dulu sebelum Bulan mengatakan rincian rencananya.


"Nona. Saya akan mengatur waktu. Sehingga mereka tidak akan curiga." tutur Bulan, berusaha menenangkan Sapna.


"Sapna,,, tenang sayang. Kita tidak mempunyai banyak waktu. Jangan cemas. Jangan menunjukkan raut wajah ketakutan kamu pada mereka. Kamu pasti bisa." tutur Nyonya Irawan, membelai rambut sang putri.


"Mereka akan mengenali wajah kita ma." sahut Sapna.


Bulan mengeluarkan alat make up dari saku pakaiannya. "Terimakasih." cicit Nyonya Irawan mengambilnya.


"Para pembantu akan tahu, jika kita masuk ke kamar mereka." tukas Sapna.


Nyonya Irawan menatap ke arah Bulan. "Tenang, mereka sudah saya berikan obat bius. Mungkin sekitar tiga sampai empat jam lagi mereka tersadar." jelas Bulan.


"Nyonya, jika anda sudah sampai di kamar mereka. Langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dan ingat, jangan kunci pintunya. Atau para penjaga akan curiga." ucap Bulan.


Bulan menduga, jika beberapa jam sekali mereka mengecek ke kamar para pembantu tersebut. Sebab Bulan masuk ke kamar dengan mudah.


Nyonya Irawan dan Sapna mengangguk bersama. Disaat Nyonya Irawan ingin mengaplikasikan make up ke wajah sang putri, terdengar seseorang membuka kunci pintu dari luar.


"Masuk ke dalam selimut." ujar Bulan dengan cepat.


Nyonya Irawan dan sang putri melakukan apa yang Bulan katakan. Keduanya juga menyembunyikan baju mereka di bawah selimut.


Bulan mengambil segelas susu, lalu menumpahkannya di lantai. Segera Bulan mengambil tisu dan berpura-pura membersihkannya. "Ada apa ini?!" tanya sang penjaga menggelegar, membuat dua penjaga lainnya masuk ke kamar mereka.


Bulan hanya diam. Tak mengatakan sepatah katapun, seolah dirinya fokus pada lantai yang basah.


"Ulah apa lagi yang mereka lakukan?!" ujar salah satu penjaga dengan suara terdengar menakutkan.


Nyonya Irawan memeluk Sapna di bawah selimut. Hanya memperlihatkan kepala mereka saja. "Tenang sayang. Ada Bulan. Mereka tidak akan macam-macam." bisik Nyonya Irawan pada sang putri.


"Kalian berdua tunggu di luar saja. Biar aku yang memberi pelajaran pada mereka." seringai salah satu penjaga menatap kearah Nyonya Irawan dan Sapna.


"Sebenarnya, apa yang mereka lakukan pada istri dan anak pak Bimo?" tanya Bulan dalam hati. Melihat rasa takut yang teramat dari kedua mata Sapna.


Kedua penjaga lainnya tersenyum miring. "Jangan sampai teriakan mereka menggangu brow." ujar rekannya yang lain penuh makna.


"Tidak akan. Dia hanya akan mendesah nikmat." sahut penjaga tersebut.


Kedua penjaga tersebut lantas segera meninggalkan kamar. Bulan melirik ke samping. Menunggu apa yang akan dilakukan sang penjaga.

__ADS_1


Tampak sang penjaga berbadan besar dan tinggi mengeluarkan pistol dari balik pakaiannya. Meniup ujung laras senjata, lalu mengembalikan ke tempat semula.


Seperti biasa, dia hanya menakut-nakuti Nyonya Irawan dan Sapna. Sehingga keduanya akan menuruti apa yang dia inginkan.


Nyonya Irawan menatap ke arah Bulan dengan ekspresi yang sulit di artikan. Dan Bulan sadar akan hal tersebut. "Apa yang Nyonya Irawan dan Nona Sapna lakukan di sini untuk tetap bisa bernafas." batin Bulan penasaran.


Sang penjaga membuka ikat pinggangnya. "Nyonya,,,," panggilnya dengan senyum mesum.


"Jangan sentuh putri saya." tekan Nyonya Irawan, memperingatkan.


Sang penjaga tertawa pelan, berjalan mendekat ke arah ranjang. "Tidak akan. Jika anda bisa memuaskan saya seperti biasa." cicitnya.


Deg.... Jantung Bulan berdetak lebih kencang. Rahangnya mengeras. Kedua matanya memerah. Kedua telapak tangannya terkepal dengan kuat. Nafasnya tersengal, mendengar apa yang diucapkan sang penjaga.


Bulan berdiri, dan tanpa mengatakan apapun, dia menyerang sang penjaga tepat di lehernya, dengan sekali serangan, menggunakan pisau kecil yang selama ini selalu dia bawa kemanapun dia pergi.


Nyonya Irawan segera membawa sang putri ke dalam pelukannya. Sembari memejamkan kedua matanya.


Sapna mengurai pelukan sang mama. Menatap Bulan dengan ekspresi datar. "Terimakasih." cicit Sapna.


Bulan mengangguk. "Nyonya, cepat lakukan apa yang anda tadi ingin lakukan." ujar Bulan.


Segera Nyonya Irawan memoles wajahnya dengan make up yang dibawa oleh Bulan. Menggunakan make up seadanya, untuk membuat wajahnya tak dikenali lagi. Mengacuhkan dan tak memikirkan lelaki yang sedang sekarat di depannya.


Bulan menyeret mayat penjaga lelaki tersebut ke kamar mandi. Kembali ke kamar dan membersihkan darah lelaki tersebut menggunakan seprei hingga bersih. Lalu membawa seprei tersebut kembali ke kamar mandi.


Selain itu, Bulan juga membuka pakaian yang dikenakan olehnya. Mulai dari kemeja, jas, hingga celana. Dan juga sepatu, beserta senjata api. Bulan menaruhnya di gantungan yang terdapat di kamar mandi.


"Nyonya, ingat. Selalu tundukan kepala anda. Jawab pertanyaan mereka dengan suara lirih." pinta Bulan.


Nyonya Irawan mengangguk. Bulan melepas sepatunya, lalu memberikan pada Nyonya Irawan. Sapna membuka laci, mengambil sesuatu dari dalam laci untuk mengganjal sepatu yang dipakai sang mama agar tak kebesaran.


Bulan, Nyonya Irawan, serta Sapna saling berpandangan. Ketiganya mengangguk. "Sapna, lakukan apa yang Bulan katakan. Jangan banyak bertanya dan jangan membantah." tutur Nyonya Irawan yang tahu betul sifat sang putri.


"Pasti ma. Mama jangan khawatir. Hati-hati ma." cicit Sapna.


Bulan memberikan sebuah nampan berisi dua gelas kosong. Nyonya Irawan mengambilnya, mengatur nafasnya. "Tenang Nyonya. Jangan cemas. Pasti Nyonya bisa melakukannya." tukas Bulan memberi semangat.


Nyonya Irawan menatap ke arah pintu. Pintu dibuka oleh Bulan dari dalam, Nyonya Irawan melangkahkan kakinya dengan perasaan sedikit cemas.


Tapi beliau menyakinkan diri. Apalagi di dalam kamar masih ada sang putri. Dan lagi, Nyonya Irawan tahu. Jika pasti Bulan melakukan berbagai cara agar bisa masuk. Sehingga dirinya tak ingin membuat usaha Bulan sia-sia.


"Khemm... kenapa elo keluar, nggak ikut sekalian mereka ***-***." ujar salah satu penjaga, melihat seorang pembantu membawa nampan.


Nyonya Irawan hanya diam, tak menyahuti apa yang penjaga tersebut katakan. Seperti yang Bulan katakan, beliau menundukkan kepala saat berjalan.


Sapna duduk di tepi ranjang dengan cemas. Tentunya dirinya takut jika sang mama tidak berhasil, dan malah akan mendapatkan celaka.


Sapna menatap ke arah Bulan yang terlihat berbicara sendiri. Bulan terdiam. Sepertinya Gara sedang mengatakan sesuatu pada dirinya.


"Bulan, postur tubuh mama dan kamu berbeda. Apa mereka tidak akan curiga?" tanya Sapna, baru terpikir saat ini. Saat sang mama sudah keluar dari kamar.


Bulan terdiam, memandang ke arah Sapna. "Jangan remehkan mama kamu. Dia seorang istri yang hebat. Dia pasti bisa menanganinya." tukas Bulan.


"Semoga mama sampai ke kamar." sahut Sapna.


Sebenarnya, hal itu juga yang membuat seorang Bulan ketar-ketir. Postur tubuhnya dan Nyonya Irawan yang berbeda.


Tapi Bulan berani mengambil resiko ini, sebab tak ada jalan lain. Bulan juga menebak, mereka tidak melihat sampai sedetail itu. "Semoga tebakan gue benar." batin Bulan, menunggu laporan dari Gara.


Jika Nyonya Irawan gagal, maka mau tak mau Bulan harus melawan mereka semua dengan kekerasan. Yang artinya satu lawan lebih dari lima puluh orang.


Dan itu harus Bulan lakukan. Sebab Bulan sudah melangkah sejauh ini. Dirinya tak ingin keluar rumah tanpa mendapatkan hasil yang dia inginkan.


Bulan tersenyum lega. "Mama kamu sudah berada di dalam kamar." tukas Bulan. Sapna pun bernafas lega, dan langsung memeluk Bulan.


"Terimakasih banyak. Kamu hebat. Tidak seperti aku, yang penakut." cicit Sapna.


Bulan hanya mengangguk pelan. "Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Sapna.


"Menunggu." sahut Bulan.


"Baik".


"Nona, masuklah ke dalam selimut. Seperti tadi." pinta Bulan.


Tanpa banyak bertanya, Sapna melakukannya. "Tunggu di sini. Jangan pejamkan mata. Jika ada yang datang, jangan bersuara. Diam saja. Saya akan ke kamar mandi sebentar." jelas Bulan.


"Bagaimana jika..."


"Tenang saja, saya tidak menutup pintu kamar mandi. Jadi saya akan mendengar jika ada yang datang." jelas Bulan.


Bulan segera pergi ke dalam kamar mandi. Dan Sapna, melakukan apa yang Bulan katakan dengan baik. Pandangannya tak lepas dari pintu kamar yang tertutup. "Tuhan, terimakasih telah mengirimkan Bulan. Selamatkan kami bertiga. Sehingga kami bisa keluar dengan selamat." batin Sapna.


Tentu saja, dalam benak Sapna banyak sekali pertanyaan yang berputar terkait Bulan. Apalagi dengan pengamanan seketat ini. Bagaimana Bulan bisa masuk ke dalam tanpa ada yang tahu.


Di dalam kamar mandi, Bulan mengganti pakaiannya dengan pakaian penjaga yang telah dia bunuh. Bulan merobek pakaian pembantu untuk menekan dadanya, agar terlihat rata. Sedikit sesak, tapi tak menjadi masalah bagi Bulan.


"Rambut. Bagaimana gue menatanya." lirih Bulan, melihat ke arah rambut sang penjaga yang hanya pendek, seperti rambut lelaki pada umumnya.


Bulan menendang ke tubuh penjaga yang sudah tak bernyawa. "Kenapa rambut elo nggak panjang. Menyusahkan saja." omel Bulan.

__ADS_1


Bulan mendengar Gara mengatakan sesuatu pada dirinya. Bulan terdiam. "Tapi gue harus keluar bersama dengan Sapna. Tidak ada jalan lain lagi." ujar Bulan, entah apa yang dikatakan oleh Gara di markas.


Bulan mematikan sementara alat komunikasi di telinganya. "Elo selalu berisik Gara." dengus Bulan.


Bulan tak mungkin keluar sendiri, atau Sapna yang keluar sendiri. Mereka pasti akan curiga. Dan lagi, Bulan tidak mungkin keluar dari jendela. Pengamanan di luar sangat ketat. Yang ada Bulan akan tertangkap.


"Ckk,,, gue harus melakukannya." ujar Bulan tak punya pilihan lain.


Bulan mencari gunting. Memangkas rambut panjangnya menjadi pendek. Dengan perlahan, Bulan merapikan rambutnya. "Ckk,,, aduh, malah petak." dengus Bulan.


"Selesai. Begini saja sudah." Bulan menatap ke cermin.


Sapna tak berkedip menatap ke arah Bulan yang keluar dari kamar mandi. "Bulan." lirihnya, menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya.


Bulan mengelus rambut pendeknya. "Bagaimana, sudah seperti lelaki?" Bulan memainkan alisnya naik turun.


Tentunya Bulan tak ingin Sapna merasa bersalah. Karena dirinya memotong mahkota di kepalanya. "Kamu." lirih Sapna dengan nada sedih.


Bulan mendekat. "Jangan menangis, nanti make upnya luntur." tukas Bulan.


"Tapi kamu tetap cantik." celetuk Sapna mengerungkan wajahnya.


Bulan memainkan bibirnya. "Pasti mereka akan curiga." ujar Bulan.


Sapna juga mencari cara supaya Bulan tak lagi terlihat cantik. Dirinya tak ingin pengorbanan Bulan memangkas rambutnya sia-sia.


"Aku punya ide." seru Sapna dengan semangat.


Sapna mengajak Bulan duduk di kursi. Kemudian Sapna mengambil pensil alis yang sempat mereka gunakan.


Sapna membuat alis Bulan yang bagai bulan sabit nampak lebih tebal dan juga sangat hitam. Bukan hanya itu saja, Sapna menambahi jambang di samping depan telinga kanan dan kiri milik Bulan.


Lalu, Sapna membuat kumis di bawah hidung Bulan. Tidak tebak, hanya semburat saja. Sehingga wajah Bulan penuh dengan bulu-bulu yang identik dengan seorang lelaki.


Sapna memandangi wajah Bulan dengan lekat. "Lumayankan. Tidak terlalu cantik jika begini." tutur Sapna tersenyum senang.


Bulan berdiri dan segera melihat penampilan barunya dari pantulan kaca. "Benar juga." cicit Bulan.


Sapna mendekat ke tempat Bulan. "Kita akan keluar sebentar lagi." ujar Bulan.


"Iya."


Bulan kembali menyalakan alat komunikasinya dengan Gara. "Apa mereka sudah berpindah posisi?" tanya Bulan.


Sejenak Bulan terdiam. Mendengarkan apa yang Gara katakan. "Oke. Elo beritahu gue, saat mereka bertukar posisi." pinta Bulan.


Bulan dan Sapna berdiri di depan pintu. Menunggu laporan dari Gara, dan keduanya akan keluar dari kamar. "Bulan." panggil Sapna.


Bulan menatap ke arah Sapna yang menunduk. Tepatnya melihat ke arah kakinya yang tidak menggunakan apapun. Bahkan sendal.


"Tidak apa-apa. Percaya dengan aku." tukas Bulan.


"Pasti. Aku percaya." sahut Sapna.


Bulan meletakkan tangannya di telinga dengan ekspresi serius. Lalu mengangguk pelan sembari menatap Sapna.


Bulan dan Sapna keluar dari dalam kamar, dengan Bulan merangkul tubuh Sapna yang memiliki tinggi di bawahnya. "Woooeeyyy,,, mau kemana elo?!" teriak seorang penjaga.


Bulan hanya mengangkat tangannya dan melambaikan tangannya. "Sialan,,, dia pasti mau ***-*** juga. Jadi kepengen."


Beruntung, Bulan berjalan di saat mereka bertukar posisi, sehingga para penjaga tidak terlalu memperhatikan wajahnya.


"Gantian brow, besok elo." celetuk penjaga yang lain.


Bulan tak langsung membawa Sapna turun ke lantai bawah. Tapi Bulan masuk ke sebuah kamar di sampingnya, menunggu momen yang tepat kembali. Di saat penjaga bertukar posisi.


"Kenapa kita masuk ke sini?" tanya Sapna.


"Mereka akan curiga jika melihat wajahku." Bulan menunjuk ke arah wajahnya.


"Bukankah kamu sudah menyamar. Pasti mereka tidak akan curiga."


"Nona, mereka tidak mempunyai rekan berwajah seperti ini." cicit Bulan.


"Benar juga."


"Kita harus menunggu lagi. Di saat mereka bertukar posisi." ujar Bulan yang mendapat anggukan dari Sapna.


Dan Nyonya Irawan menunggu kedatangan sang putri dan Bulan dengan khawatir. "Lama sekali mereka." tukas Nyonya Irawan merasa gelisah bercampur takut.


"Keadaan sepi, berarti mereka belum mengetahui jika ada penyusup masuk ke rumah." lirih Nyonya Irawan , yang berarti sang putri dan Bulan dalam keadaan aman.


Jantung Nyonya Irawan berdetak kencang saat mendengar suara pintu terbuka. Antara penasaran dan takut. Penasaran siapa yang masuk ke kamar. Bulan dan Sapna, atau malah penjaga di rumah ini.


"Semoga mereka tidak tahu, dan mengira jika ketiga pembantu tersebut sedang tidur." batin Nyonya Irawan, duduk di pojokan kamar mandi dengan memegang kedua kakinya yang ditekuk.


Kembali tersengat suara pintu terbuka dan tertutup kembali. Membuat Nyonya Irawan bernafas lega. "Apa mereka setiap waktu selalu melakukannya." batin Nyonya Irawan menebak, jika para penjaga juga selalu mengawasi para pembantu yang ada di rumah ini.


Sedangkan Bulan dan Sapna masih berada di dalam kamar. Menunggu saat yang tepat untuk keluar dari dalam kamar. Hingga Gara memberi laporan jika para penjaga bertukar posisi.


Bulan dan Sapna berhasil masuk ke dalam kamar pembantu dengan selamat. Buah kesabaran keduanya menunggu momen yang tepat. Meski membutuhkan waktu yang lama. "Mama." Sapna langsung memeluk sang mama begitu mereka bertemu.

__ADS_1


__ADS_2