
Gara memandang ke arah sofa. Dimana Mikel dan Arya sudah terlelap, keduanya masuk ke dalam dunia mimpi begitu selesai makan siang.
Mungkin karena perut mereka telah terisi, sehingga rasa kantuk datang. Atau mungkin karena mereka merasa kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh dari desa Bulan.
Sementara Gara yang tidak terbiasa tidur siang, terjaga seorang diri. Tak sedikitpun dirinya merasa lelah karena perjalanan yang baru saja dia lalui.
Bisa jadi karena Gara dulu terbiasa dengan pekerjaan berat. Dan juga selalu begadang sepanjang waktu. Bahkan jam istirahat Gara hingga sekarang sangatlah kacau.
"Setidaknya gue ada teman. Dan tidak sendirian." cicitnya tersenyum memandang ke arah dua lelaki yang pantas dia panggil dengan sebutan adik.
Gara mengambil dan membersihkan sisa makanan mereka yang berserakan di atas meja secara perlahan. Dia tidak ingin sampai membangunkan Mikel dan Arya. Meletakkannya sebagian di atas pangkuannya. Lalu dia menuju ke dapur.
Plastik bekas makanan dan minuman dia buang ke tempat sampah. Sedangkan untuk makanan yang masih tersisa dia simpan di atas meja dapur.
Gara kembali lagi ke ruang tengah. Mengambil makanan serta minuman yang belum dia bawa ke dapur karena sudah tidak ada tempat di pangkuannya. Melakukan hal yang sama saat dia tiba di dapur.
"Perasaan mejanya sedikit pendek. Apa memang sedari dulu segini." cicit Gara, merasakan perubahan pada beberapa perabot apartemen Mikel. Terutama ketinggiannya.
Gara mengangkat tangannya ke atas. "Gue nggak salah. Ini memang baru." cicit Gara, dengan pandangan menatap lamat ke arah meja.
Meski mejanya sama persis dengan yang dulu. Bahkan sama, tapi Gara yakin jika meja tersebut baru. Sebab dulu Gara tidak bisa melihat atas meja. Dan sekarang, Gara dengan mudah bisa makan dengan meletakkan piring atau mangkok di atas meja.
Gara tersenyum. Dia juga melihat ada yang berbeda dengan lemari pendingin di dapur Mikel. "Anak-anak ini. Meski terlihat acuh, mereka sangat perhatian."
Gara mendorong kursi rodanya untuk dia dekatkan dengan lemari pendingin di sudut dapur. "Benar." cicit Gara.
Bahkan Mikel juga merubah gagang kulkas untuk lebih pendek. Sama dengan yang ada di markas. "Kalian dan Bulan. Entah apa yang akan terjadi, jika gue tidak bertemu kalian." lirih Gara.
Sebenarnya Gara hanya ingin tahu, bagaimana mereka bisa mengubah letak gagang di pintu kulkas. Tapi Gara memilih diam dan tidak terlalu banyak bertanya.
Merasa penasaran, Gara masuk ke dalam kamar yang biasanya dia gunakan tidur saat menginap di apartemen Mikel.
__ADS_1
Gara kembali tersenyum. Tinggi ranjangnya juga berkurang. "Dia bahkan banyak mengeluarkan uang untuk membeli perabot rumah yang baru." ujar Gara.
Tak lantas keluar, tebakan Gara jika kamar mandi juga sudah disulap oleh Mikel. Dan ternyata benar. Letak kran air berada di bawah. Bahkan tempat untuk meletakkan shower juga berada di bawah.
Gantungan pakaian serta handuk juga di pindah. Juga dengan toilet duduknya yang agak sedikit rendah. "Astaga..."
Ini kedua kalinya Gara meneteskan air mata. Sebab pertama kali dia meneteskan air mata, saat Bulan merawatnya hingga dia sembuh. Dan selalu menjaganya tanpa ada kata mengeluh.
Dan ini untuk kedua kalinya. Dimana Gara merasa jika dirinya tidak sendirian di dunia ini. "Ternyata pendosa seperti gue, bisa merasakan hal sebahagia ini." batin Gara merasa sangat bersyukur, hal kecil bisa membuat Gara sangat amat merasa kehidupannya sekarang menjadi berarti.
Jika sebagian orang merasa apa yang dilakukan Mikel merupakan hal yang lumrah. Karena uang Mikel juga banyak. Tidak untuk Gara.
"Kalian anak-anak hebat. Entah bagaimana kedua orang tua kalian bisa mendidik anak seperti kalian. Pasti mereka juga orang yang baik. Kalian saja juga sangat baik." tukas Gara.
Gara kembali mendorong kursi rodanya untuk keluar dari kamar mandi. Seketika dirinya teringat akan seseorang. "Sapna." lirih Gara tersenyum sendiri.
Hanya mengingat namanya dan membayangkan paras cantik Sapna, sudah membuat hati Gara merasakan banyak bunga yang bermekaran.
Tuut.... Tut.....
Gara meletakkan ponselnya tepat di samping telinga. "Mungkin Sapna masih sibuk." lirih Gara, karena panggilan teleponnya belum diangkat oleh Sapna.
Saat Gara ingin mematikan ponselnya, terdengar suara seorang perempuan dari seberang ponselnya. "Diangkat." batin Gara.
"Halo." kata Sapna di seberang telepon.
Gara tak lantas segera menyahut apa yang Sapna katakan. Dia malah memegang dadanya yang berdetak dengan kencang. "Serius. Ini suara Sapna. Dia mengangkat panggilan telepon gue." batin Gara.
"Halo." untuk kedua kalinya Sapna mengatakan kata tersebut. Sebab Gara masih saja diam memandangi ponselnya.
Gluk... Perasaan yang sulit Gara jabarkan. Ini pertama kalinya Gara menghubungi seorang perempuan selain Bulan. Dan rasanya sungguh berbeda.
__ADS_1
"Ada apa dengan gue." batin Gara, menyeka keringat yang tiba-tiba membasahi dahinya.
"Halo... Ada orang di sana?" untuk ketiga kalinya Sapna mengeluarkan suaranya.
Dan Gara masih diam. Seakan dirinya tak percaya jika suara tersebut adalah suara dari Sapna. "Apa yang harus gue lakukan? Gara,,, kenapa elo tadi menghubungi Sapna? Sekarang bagaimana?" batin Gara merasa kebingungan sendiri.
Terdengar helaan nafas jengkel dari seberang ponsel Gara. "Hah.... Siapapun di sana, jika tidak ada suaranya, gue akan mematikan ponselnya." geram Sapna.
Padahal Sapna tahu jika pemilik nomor tersebut adalah Gara. Sebab saat di mobil kemarin, dia langsung menyimpan nomor Gara ke dalam ponselnya setelah meminta sendiri pada Gara.
"Jangan...!! Ini aku Gara." seru Gara merasa takut jika Sapna benar-benar serius mematikan panggilan teleponnya.
Tak ada senyum di bibir Sapna. Malah terlihat raut jengkel dan sebal di wajah Sapna. "Ada apa? Mau cari Bulan? Dia tidak ada. Masih pergi dengan Jeno. Dia belum kembali." ujar Sapna dengan nada jutek.
Gara yang berada di kamar melongo mendengar rentetan pertanyaan dari Sapna. "Tidak. Saya tidak sedang mencari Bulan." sahut Gara.
Gara belum sadar dan mengerti jika Sapna masih dalam keadaan marah karena rasa cemburunya pada dirinya yang memuji Bulan saat berada di mobil.
Sapna memang tidak membenci Bulan. Bahkan Sapna sangat menyayangi Bulan. Hanya saja Sapna merasa cemburu saat mendengar Gara memuji Bulan di hadapannya.
"Baiklah. Lalu elo kenapa nelpon gue?" tanya Sapna dengan jutek.
Gara menjauhkan ponselnya dari telinga. Menatap ke arah layar ponsel dengan ekspresi lucu. "Tidak ada apa-apa." sahut Gara kemudian.
"Ya sudah jika tidak ada apa-apa. Gue sibuk. Bye." tukas Sapna.
Tuuuut...... sambungan telepon terputus sepihak. Dan Sapna yang mengakhiri panggilan dari Gara. "Ada apa dengan Sapna?" tanya Gara pada dirinya sendiri.
Saking fokusnya pada Sapna, Gara bahkan tidak menyadari ada sepasang mata yang melihat kearahnya di ambang pintu kamar. Sebab pintu kamar tidak tertutup.
Sepasang mata tersebut bahkan tersenyum melihat Gara. "Gara... Gara.... Elo benar-benar ya,,, Mungkin Sapna sedang berada dalam mode sangar." batin Mikel yang mendengar semua apa yang Gara katakan dengan Sapna.
__ADS_1