PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
Akhirnya Bersua


__ADS_3

"Besok anterin aku, ya. Papa mau ketemu."


Sebuah pesan dari Sandra. Satu perasaan cemas tiba-tiba menyeruak. Gadis ini sedang tak baik-baik saja. Kegilaan yang selalu dia ucap padaku beberapa waktu lalu, begitu membuatku bergidik ngeri dan kini berkelebat di pikiran.


"Lu yakin udah siap?" balasku. Sandra tak segera menjawab hingga lampu ponsel mati. Aku menunggu. Siaga. Juga berdebar. Takut dengan jawaban gamang darinya.


"Iya." Akhirnya, setelah menunggu lima menit, jawaban itu muncul. Aku menghela napas. Meraih jaket, lalu bergegas ke garasi. Satu tangan sibuk dengan ponsel sambil mengetik. "Gue ke sana. Tunggu!"


Ponsel kumasukkan ke dalam saku celana setelah mencapai garasi. Motor kesayangan yang kubeli dengan jerih payah sebagai penulis best seller itu kustater, lalu mendorongnya keluar. Iya, setelah akun Rizaul Kaffi sering membuat puisi, sajak juga cerpen romantis, like dan komentar di tiap postingan tak pernah sepi. Sampai tanpa diduga sebuah penerbit menghubungi dan mengajak kerja sama. Semua karyaku dibukukan. Lumayan, sih, saat royalti turun.


Dering ponsel terdengar saat gas akan kutarik. Tanpa melihat siapa yang menelepon, cepat kuarahkan ponsel ke telinga. Di mana memang aku belum memakai helm yang masih tergantung di motor.


"Gue mau berangkat ini, Dra. Tunggu sebentar."


"Ini Dila, Kak."


Deg!


Dila? Kenapa dia telepon malam-malam begini?


"Hai, Dil. Ada apa?"


"Bisa tolong jemput, nggak? Bang Galih nggak bisa katanya lagi ke rumah temen."


Jujur, aku bingung. Saat ini Sandra sedang butuh aku, di sisi lain, ada kekasih hati yang begitu kurindukan meminta tolong. Dilema. Aku tak menjawab. Pertanyaan Dila kugantung beberapa saat hingga terdengar nada putus asa dari gadis itu.


"Nggak usah, Kak! Dila naik ojek online aja."


"Dila seneng naik ojek online daripada sama kakak?"

__ADS_1


Hening. Hanya suara napasnya yang terdengar. Aku mengira-ira bagaimana rupa dan perasaan gadis itu saat ini, karena jantungku sendiri berdetak tak keruan. Menahan gejolak yang begitu hebat. Baru kali ini setelah lama tak saling bicara, kudengar suaranya. Juga, pintanya. Percakapan terakhir kami, saat aku mengajaknya balikan.


Ada keinginan besar untuk segera melesat ke sana, kemudian menuntaskan rindu yang sudah lama tertahan. Namun, seolah ada yang menahan. Sandra.


"Dil, Kakak nggak bisa. Kamu naik ojol aja, ya. Hati-hati." Cepat, tegas kujawab. Setelah itu segera tancap gas menuju rumah Sandra. Dilara sudah besar. Anak kelas XII itu harusnya baik-baik saja. Kutepis pikiran jelek dan terus melaju.


Rumah bergaya modern itu tampak megah dengan dua pilar besar penyangga di depan rumah sebagai akses masuk. Lampu menyala di beberapa tempat membuat bangunan itu bak istana. Megah. Sudah dua menit aku diam di halaman rumah Sandra. Bahkan satpam pun sudah beberapa kali menyuruh masuk. Namun, aku tetap bergeming. Sengaja. Karena ada Galih di sana. Entah tahu dari mana laki-laki itu dengan keadaan Sandra hingga dia bisa tiba lebih dulu daripada aku. Unfuk itu, aku tinggal di halaman rumah Sandra bersama satpam. Kuberi Galih kesempatan untuk meraih hati Sandra.


Motor Galih terparkir tepat di mana aku berdiri sekarang. Itu yang membuatku yakin kakak Dilara ada di dalam. Membuang kejenuhan, kuambil rokok dan menyulutnya. Satpam yang masih setia menemani kutawari. Pria bernama Karso itu awalnya menolak, tapi setelah kudesak, dia mau juga.


"Sudah lama tamu Non Sandra ke sini?"


"Baru aja, Den. Selang sepuluh menit sama Aden."


Kuhisap rokok yang berada di sela jari dalam-dalam. Meresap nikotin perlahan sebelum mengembuskannya.


"Ada kabar apa?"


Johan adalah sopir papanya Sandra. Pria itu tidak tinggal dengan putrinya. Orang tua Sandra bercerai sejak dia duduk di bangku SMA. Perceraian itu membuat mamanya frustrasi, hingga sakit dan meninggal. Peristiwa itu membuat Sandra membenci papanya dan lebih memilih hidup terpisah meski semua fasilitas tentu Pak Hendardi yang menyokong. Luka masa lalu, juga dendam terus merongrong jiwa gadis itu hingga membuatnya depresi. Sampai kadang dia melukai diri sendiri. Ini yang sangat membuatku khawatir.


Putung rokok kulempar dan segera menginjaknya saat kulihat Galih keluar bersama Sandra. Aku segera berdiri dan menghampiri mereka. Tatapan kufokuskan pada Sandra. Membaca mimik wajah gadis itu. Tak kutemui kesedihan di sana. Raut itu terlalu biasa untuk orang yang akan menemui musuhnya. Lega. Itu artinya Galih mulai diterima. Galih juga mampu meredam amarah yang bergejolak. Mungkin, Sandra sudah menemukan naungan yang lebih nyaman. Bahu Galih.


"Kenapa nggak masuk?" tanyanya sesaat setelah aku puas menyelidiki. Aku tersenyum seraya menggeleng. Kemudian, melirik Galih.


"Takut ganggu."


"Biasa aja kali," sanggah Galih. Masih dengan pandangan kurang suka padaku, "Ngapian lu nyusul ke sini?"


"Kenapa emang? Dia temen gue juga." Aku nyengir, sementara Galih mendengkus.

__ADS_1


"Kalau gitu gue cabut. Oya, besok gue nggak bisa nemenin. Ada janji. Noh, sama Galih aja. Lu nggak apa-apa, 'kan?"


Aku menunjuk ke arah Galih dengan gerakan dagu. Membuat Sandra tersenyum simpul. Ah, sudah mulai tergoda rupanya gadis itu. Baguslah. Setidaknya, dia memiliki seseorang yang menjaga, bukan hanya tubuh, tapi juga hati.


Senyum manis yang selama ini kuharapkan itu terbit. Matanya juga berbinar. Kemudian, tangan putih itu menelusup ke lengan Galih, memegangnya.


"Nggak apa-apa!" tegasnya.


"Jaga dia buat gue!"


"Kampret! Pergi sono!" usir Galih, terlihat sangat gemas kepadaku.


Aku pergi setelah berpamitan dengan Pak Karso juga Galih dan Sandra. Melesat pulang. Menuju satu hati yang selama ini menjadi muara hatiku. Dilara.


Setengah jam berlalu, tiba di rumah, tidak segera masuk, tapi lebih memilih menatap jendela kamar Dilara. Lampu di kamar itu masih menyala, pertanda si pemilik belum tidur. Dulu, saat jendela itu kutatap, Dila langsung mengeluarkan kepalanya. Seolah-olah ada yang memberi tahu. Kemudian, dia akan tersenyum lebar dan melambaikan tangan.


Kini, aku tersenyum. Sendiri. Tanpa Dilara yang melongok, bahkan jendela kamar itu tetap tertutup. Angin malam berembus, kueratkan jaket, lalu beranjak masuk. Namun, saat tangan hendak menyentuh handel pintu, sebuah teriakan terdengar. Aku menoleh. Dia di sana, di depan pintu rumah dengan setelan baju tidur bergambar Doraemon kesukaannya. Diam menatapku.


"Ada apa?" Aku menghampiri. Pandangan kami tak lepas. Gadis itu tampak cantik dengan rambut terurai, sesekali menutupi wajah karena diembus angin.


"Baru pulang?"


Tumben tanya? Tidak biasanya. Aku menatapnya lembut, sukses membuat gadis itu salah tingkah. "Kamu nggak apa-apa tadi pulang naik ojolnya?"


Dilara menggeleng. "Yaudah, tidur sana!" perintahku, lalu berbalik hendak pergi.


"Kak! Dila ...." Kalimat gadis itu menggantung. Membuatku menghentikan langkah dan diam. Menunggu kata selanjutnya.


"Kangen." Lirih, tapi begitu menggaung di telinga. Memukul-mukul dada, bahkan membuatku menarik bibir. Tersenyum. Rasakan! Dadaku jelas bergemuruh mungkin itu juga yang dirasa Dilara saat ini.

__ADS_1


Next


__ADS_2