
Tangan Bulan yang hendak melepas pengait bra terhenti. Merasa ada tamu tak diundang yang masuk ke dalam rumahnya. "Apa mungkin mbok Yem kembali lagi." tebak Bulan.
Saat Bulan datang, mbok Yem sudah tidak berada di rumah. Menandakan jika mbok Yem telah pulang.
Kembali Bulan memakai pakaiannya yang dia sampirkan. Masuk ke sebuah ruangan lewat plapon di atas toilet. Bulan membuka laptopnya yang telah terhubung dengan semua CCTV di rumah ini.
Kedua mata Bulan memandang ke salah satu layar laptop. "Hari masih cerah. Kenapa juga nekat masuk rumah orang." gumam Bulan, menebak jika orang tersebut adalah pencuri.
Sebab, jam masih menunjukkan pukul setengah lima sore. Dan sinar matahari masih menyinari alam ini. Terlalu berani untuk seseorang memasuki rumah orang tanpa permisi.
Bulan hanya memantau dari layar laptop tanpa ingin menggagalkan rencana lelaki tersebut. Ingin melihat apa yang akan dia lakukan. "Siapa ya dia." gumam Bulan penasaran.
Tangan Bulan dengan terampil mencari identitas lelaki yang berjalan dengan hati-hati dan mengendap di dalam rumahnya.
Dengan mudah Bulan mengetahui identitas lelaki tersebut. Apalagi dia sama sekali tidak memakai apapun untuk menutupi wajahnya.
Bulan menaikkan sebelah alisnya. "Putra mbok Yem. Bukankah kata mbok Yem dia baru menikah. Dan sekarang sedang bekerja di luar kota." heran Bulan.
Bulan berpikir, apakah mbok Yem seorang pembohong. "Kenapa dia bisa masuk. Apa ibunya yang memberikan kunci rumah ini." gumam Bulan.
Kemungkinan dia masuk tanpa menutupi wajahnya karena berpikir pemilik rumah belum pulang. "Tunggu." Bulan memperbesar foto putra mbok Yem di layar laptopnya.
"Dia,,,, apa mungkin dia anak buah bajingan itu." Bulan melihat kalung yang melingkar di lehernya. Lebih tepatnya bukan kalungnya yang menjadi fokus Bulan, namun liontin yang tergantung di kalung tersebut.
Bulan menyenderkan tubuhnya di kursi. Dengan tenang, Bulan memantau setiap gerakan dari putra mbok Yem. "Gue harus cari tahu. Kenapa dia bisa memakai liontin itu. Masuk ke rumah gue dengan tenang. Tanpa merasa takut jika ketahuan." cicit Bulan.
Dia masuk ke dalam setiap kamar. Mencari sesuatu. Tapi Bulan sendiri juga tidak tahu apa yang sedang dia cari. Oleh karenanya, Bulan hanya mengawasi dari kamera CCTV.
Kali ini, dia masuk ke dalam kamar Bulan. Dia tidak mengacak-ngacak setiap ruangan. Bahkan mengembalikan letak dengan benar di mana barang tersebut dia ambil.
"Apa yang dia cari." Bulan merasa heran.
Bulan mengernyitkan dahinya, saat lelaki tersebut keluar dari rumahnya tanpa membawa apapun dari dalam rumah. Bahkan, dompet Bulan tergeletak di atas meja dengan beberapa lembar uang cash, tak dia sentuh. Padahal dia melihatnya.
Dirinya juga tidak mengambil perhiasan Bulan di laci. Hanya melihatnya dengan intens, lalu kembali menutup laci. Sungguh mencurigakan.
Dirasa putra dadi mbok Yem sudah meninggalkan rumahnya, Bulan segera keluar dan kembali ke dalam kamar.
Bulan menajamkan indera penciumannya. Wangi yang tersebar di kamarnya, sangat familier di hidungnya. "Dia..." ucapan Bulan menggantung.
Bulan menelan salivanya dengan sulit. "Mbok Yem, dia dipekerjakan oleh atasan gue. Bisa jadi, dia mata dan telinga atasan gue. Apa mereka punya hubungan. Jika iya, untuk apa disembunyikan dari gue." terka Bulan.
"Lalu, putra mbok Yem. Salah satu dari mereka. Apa semua ini berhubungan." Bulan semakin bingung dengan keadaan yang sekarang ada di depannya.
Ibarat benang kusut, Bulan akan berusaha membuatnya menjadi tali yang bisa berguna untuknya. "Atasan gue, mbok Yem, dan putranya. Gue harus mencari tahu."
Bulan merasa ada sesuatu yang besar dibalik semua ini. Bulan tersenyum miring. Memikirkan sesuatu yang terbesit begitu saja di benaknya. Namun sangat mengganggunya. "Jangan sampai apa yanga gue pikirkan benar. Jika benar, pekerjaan gue akan bertambah." keluh Bulan.
Bulan segera kembali ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Dan bergegas pergi ke kediaman Gara. Sebab, nanti malam dia harus pergi ke sekolah lagi.
Menyelidiki sesuatu yang sangat menganggu pikirannya.
"Bagaimana, elo dah dapat info pemilik rambut itu?" tanya Bulan langsung.
Gara mengedipkan kelopak matanya dengan lucu. Gara pikir Bulan akan pertama kali menanyakan tentang gadis yang ditolongnya. Ternyata tidak.
"Garaa...!!!" panggil Bulan, merasa pertanyaannya di acuhkan oleh temannya tersebut.
Gara menyalakan laptopnya, dimana ada gambar seorang lelaki di sana. Memberikan pada Bulan. "Dia. Dia pemilik rambut itu."
Bulan menatap Gara dengan intens. "Elo yakin?" tanya Bulan tak ingin Gara sampai salah.
Gara mengangguk. "Bahkan gue juga sudah menyuruh teman gue untuk turun tangan mengeceknya langsung. Dan hasilnya sama."
Bulan menggigit kuku jempolnya. "Ada yang elo tahu?" Gara merasa Bulan mengenal lelaki di layar laptopnya. Terlihat Bulan sama sekali tidak memerintahkan tindakan selanjutnya pada dirinya.
"Dia anak dari pembantu di rumah gue."
Gara melotot tak percaya. "Bagaimana bisa?"
Bulan menggeleng. "Pertama kali gue datang, dia sudah ada di sana. Dia mengatakan jika ayah gue yang menyuruhnya untuk bekerja sebagai pembantu di sana."
"Ayah elo?"
"Atasan gue, bukankah sudah gue ceritakan semuanya."
Gara mengangguk. Keduanya saling bertatapan. Sepertinya Bulan dan Gara punya pikiran yang sama. "Ini terlalu rumit."
"Dan kita harus meluruskannya."
"Bagaimana dengan gadis itu, apa elo akan menemuinya?"
Bulan menggeleng. "Tidak."
Bulan mengambil kursi, duduk di depan layar di mana layar tersebut menampilkan padang rumput. "Sebenarnya, apa yang elo pantau di sana?" tanya Gara heran.
"Sedari tadi nggak ada apa-apa di sana. Hanya ada semut dan hewan lainnya. Hantu juga nggak ada." lanjut Gara, merasa bosan menatap layar itu berulang kali.
"Bulan...!!!" panggil Gara, Bulan malah diam dan fokus ke layar di depannya. Dengan wajah nampak sedang memikirkan sesuatu.
"Di sini gue menemukan gadis itu. Tangan dan kaki terikat. Tubuh terkubur dengan posisi berdiri, hanya kepala yang ada di atas tanah." jelas Bulan.
Klontakkk...... pena di tangan Gara terlepas, jatuh ke lantai dengan bebas. "Gila." Gara terkejut dengan penjelasan Bulan.
"Apa dia sudah di bawa pulang ke rumahnya?"
"Sudah. Gue sempat mendengar, papanya bersitegang dengan pihak berwajib serta pihak rumah sakit. Gue akui, papanya sangat tegas." jelas Gara.
__ADS_1
"Elo sudah cari tahu keluarganya?"
"Gadis itu bernama Serra, papanya pemilik perusahaan. Meski bukan perusahaan besar dan terkenal. Namun layak diperhitungkan. Sementara, mamanya murni ibu rumah tangga."
"Ada yang lain?"
"Belum, kelihatannya mereka baru saja memasuki rumah." tebak Gara. Baik Bulan maupun Gara hanya bisa mendengarkan suara, tanpa melihat apa yang terjadi.
"Apa yang akan elo lakukan selanjutnya?"
"Gue yakin, ada sesuatu di ruangan itu. Tengah malam gue akan kembali ke sana."
Bulan menjeda kalimatnya, sebelum kembali bertanya pada Gara. "Apa elo sudah menemukan petunjuk, di mana markas baru mereka?"
"Sudah." jari Gara menari dengan lincah di atas keyboard. Hingga sebuah gambar bangunan terlihat di layar tersebut.
"Elo yakin?"
"Gue sudah menyabotase keamanan di sana. Jadi gue akan mendapatkan informasi lebih banyak. Dan memukai balas dendam gue."
Tampak Gara melihat ke bawah. Dimana dua kakinya sudah tidak ada lagi di tempatnya. "Gue akan bantu elo." Bulan menepuk bahu Gara.
Gara memandang ke arah Bulan dan tersenyum tipis.
Terdengar jika Serra sedang berbicara dengan sang papa. "Perbesar volume suaranya." pinta Bulan. Segera Gara melakukannya.
Sekitar lima belas menit yang lalu, Serra kembali ke rumah yang selama ini dia tempati bersama kedua orang tuanya.
Kali ini, pihak berwajib mengatakan jika sudah menempatkan beberapa orang untuk menjaga kediaman Serra. Mereka yakin, pelaku akan kembali menargetkan Serra.
"Katakan. Apa yang terjadi?" tanya sang papa.
Serra memandang ke arah pintu. Memastikan sang mama atau siapapun tidak ada yang mendengar perkataannya.
Sang papa tahu apa yang dikhawatirkan sang putri. Segera beliau berdiri. Melihat dan memastikan jika tidak ada orang di balik pintu tersebut.
Beliau kembali duduk di tepi ranjang. "Dia tidak menyekap Serra di sana pa?"
"Maksud kamu?"
"Tubuh Serra dikubur. Hanya menyisakan kepala. Sepanjang mata Serra memandang, semuanya hanya lapangan hijau. Penuh dengan rumput."
Sang papa segera memeluk Serra. "Astaga. Lalu bagaimana kamu bisa ada di sana?" tanyanya setelah melepaskan pelukannya pada Serra.
Serra menggeleng. "Ada seseorang yang pastinya diam-diam menolong kamu. Kamu tahu?"
Serra kembali menggeleng. Keadaan hening sesaat. Keduanya tengah berpikir masing-masing. Hingga sang papa kembali bertanya pada Serra.
"Orang yang menculik kamu. Kamu melihat wajahnya?"
Serra segera mengangguk cepat. Wajahnya seketika pucat, terlihat ketakutan. "Minum dulu." ucap sang papa mengambilkan segelas air putih yang sudah tersedia sebelumnya di atas nakas.
"Serra baik-baik saja pa, papa jangan khawatir." Serra tidak ingin sang papa cemas akan keadaannya.
"Kenapa kamu tidak menceritakan pada polisi?"
"Pa, dia masih di bawah umur." ungkap Serra.
Sang papa memandang terkejut pada Serra. Begitu juga di tempat lain, yang mendengarkan percakapan mereka. Bulan dan Gara.
"Maksud kamu? Bagaimana kamu tahu?"
"Dia yang bilang. Jika dia masih berseragam putih abu-abu seperti Serra."
"Kamu yakin?"
Serra mengangguk. "Makanya Serra takut. Percuma Serra melapor ke polisi. Pasti hukumannya akan ringan. Dan Serra, malah takut. Dia seperti seorang psiko. Serra takut dia alan mencelakai mama dan papa juga." cicit Serra, mengeluarkan segala uneg-uneg di hatinya.
Sang papa tidak ingin terlalu memaksa apa yang harus di lakukan Serra saat ini. Beliau sadar, pasti sekarang putrinya masih trauma.
Lebih baik fokus pada kesehatan mental sang putri dahulu. Ketimbang memikirkan siapa pelakunya. "Kamu istirahat dulu. Jangan khawatir, pihak berwajib mengatakan rumah kita dijaga."
Sang papa membantu Serra merebahkan badannya. "Ingat, jangan terlalu banyak pikiran. Mama dan papa akan selalu di samping kamu." ucap beliau, seraya menyelimuti tubuh sang putri.
Sang papa mencium dahi Serra dengan penuh kasih sayang. "Pa." panggil Serra, saat sang papa ingin melangkah keluar kamarnya.
Sang papa membalikkan badannya kembali. "Jangan katakan pada mama. Serra khawatir mama akan cemas." cicit Serra, masih memikirkan perasan sang mama. Padahal dirinya sendiri dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Sang papa mengangguk pelan disertai senyum di bibir. Sang papa menutup pintu kamar Serra.
Di depan kamar Serra, sang mama menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya dengan air mata mengalir di kedua pipinya. Suaminya langsung memeluknya. Memberinya ketenangan.
Ternyata sedari tadi, sang mama berdiri di depan kamar Serra. Mendengarkan semua percakapan antara sang putri dengan suaminya.
Dan memang itu disengaja. Sang papa juga tahu jika istrinya berada di sana. Sebab, semuanya adalah rencana mereka.
Gara dan Bulan saling pandang. "Anak gang baik. Gadis cantik dan penyayang." tutur Gara tersentuh hatinya.
"Dia juga cantik." timpal Bulan, yang memang melihat wajah ayu dari Serra.
"Apa elo yakin, jika hanya kita yang mendengar percakapan mereka?"
Bulan tersenyum penuh arti. "Menurut elo?" Bulan malah balik bertanya.
Gara menghela nafas panjang. Tahu arti pertanyaan Bulan. "Apa yang akan dilakukan pihak berwajib, setelah mendengar semua ini?"
Bulan mengangkat kedua pundaknya. "Entahlah." Bulan juga tak mau tahu.
__ADS_1
"Masih dibawah umur. SMA. Laki-laki." gumam Gara terdengar oleh Bulan.
"Elo yakin, dia masih di bawah umur. Dengan jenis kelamin laki-laki?" tanya Bulan seolah memikirkan hal lain.
"Tapi nggak mungkin Serra berbohong." tukas Gara.
"Gue nggak bilang Serra berbohong. Gue hanya tanya. Apa benar, dia masih murid SMA dengan jenis kelamin lelaki."
"Maksud elo?"
"Lebih baik sekarang kita fokus di sini." Bulan menunjuk sebuah layar di depannya. "Jika dia datang, berarti dia belum tahu jika mainannya hilang. Tapi, jika dia nggak datang. Dia tahu, gue yang mengambil mainannya."
Gara memandang ke arah Serra. Gara akui, cara berpikir Bulan memang berbeda. Dan dia tidak bisa menebak apa yang ada di benak Bulan.
Mungkin karena Bulan sudah terbiasa dengan segala macam permainan mengerikan di dunia. Oleh karenanya, Bulan memiliki kemampuan di atas rata-rata.
"Bulan lihat." Gara melihat ke layar di depannya.
Tampak sebuah bayangan yang dihasilkan oleh sinar matahari yang mengenai suatu objek. Yakni sosok manusia.
Terlihat bayangan itu semakin mendekat ke tempat yang dimana gadis itu dikubur. Bulan dan Gara menajamkan penglihatannya.
Seorang memakai jaket dengan topi menutupi dan masker menutupi wajahnya. Bulan tersenyum, melihat pelaku tersebut marah dengan menendang angin di depannya berkali-kali.
Sayangnya, pelaku tidak mengeluarkan suara. Sehingga Bulan dan Gara tidak bisa mencari tahu identitasnya.
"Apa dia tahu, jika elo menaruh sesuatu di sana?"
Bulan tersenyum samar. "Kita lihat saja. Kita akan tahu sebentar lagi." Bulan dangat tahu, orang seperti dia akan lebih peka dan sangat hati-hati.
Tapi Bulan bukan perempuan bodoh. Dia bisa menggunakan kelebihan pelaku untuk menuntutnya mendapatkan sesuatu.
Gara melihat ke arah layar dengan wajah tegang. Entah kenapa, Gara merasa sedikit cemas. Berbeda dengan Bulan yang tampak santai dan tenang. Seolah dirinya bisa menebak apa yang akan terjadi.
"Bulan..." panggil Gara, memegang lengan Bulan saat pelaku berjalan ke arah benda yang memang di gunakan Bulan untuk memantau keadaan di sana.
Bulan tersenyum melihat reaksi Gara. "Dia melihatnya. Dia melihat benda itu." cicit Gara.
Pelaku berjongkok. Membuka dan menyingkirkan rumput yang digunakan Bulan untuk menutupi benda kecil yang dipasang di kayu yang telah dia tancapkan ke tanah.
Srekkk,,, gelap. Layar menjadi gelap. Gara menatap Bulan. "Bagaimana ini?" tanya Gara dengan nada khawatir.
"Dia tidak tahu, jika gue yang menolong gadis itu. Dan dia juga tidak tahu, jika ada benda yang mengintai pergerakannya di sana." jelas Bulan.
"Tapi....?!"
Bulan kembali menyetel video yang memperlihatkan gambar pelaku. Bulan mempercepatnya. Menghentikan tepat di saat-saat terakhir.
Dimana tampak jelas wajah pelaku terpampang di layar. Namun hanya kedua matanya saja yang terlihat dengan begitu jelas.
"Sayang, dia memakai topi dan masker." cicit Gara.
"Bulan, bagaimana elo bisa menyimpulkan seperti itu?" lanjut Gara bertanya.
"Bukankah sudah gue katakan. Dia tidak akan datang, jika tahu mainannya hilang."
"Lantas kenapa dia bisa tahu jika ada kamera pengintai?"
"Insting seseorang seperti dia sangat peka. Matanya juga akan sangat jeli."
"Apa elo sudah memprediksi semuanya?"
"Rumput yang gue taruh untuk menutupi kamera pasti akan mengering, terkena terik sinar matahari. Pastinya hal tersebut mudah untuk diketahui. Dan gue sengaja."
"Apa yang elo dapat?"
"Setidaknya, kita melihat kedua bola matanya yang indah." Bulan menyeringai penuh makna.
Gara terdiam. Mencerna setiap kalimat yang dia dengar dari Bulan. Perlahan, Gara mulai mengerti apa yang Bulan inginkan.
"Bagaimana dengan Serra. Dia pasti dalam bahaya."
"Itu menurut elo. Tapi tidak menurut gue."
"Kenapa bisa?"
"Ckk,, Gara, ayolah gunakan otak elo. Dia mau mendatangi rumah Serra. Sana daja dia menyerahkan diri." kesal Bulan, sedari tadi Gara terus bertanya.
Gara manggut-manggut. "Benar juga."
"Mau kemana elo?" tanya Gara, saat Bulan berdiri.
"Makan. Lapar." sahut Bulan berjalan ke dapur. Dengan Gara juga mengikuti Bulan dari belakang.
Bulan mengambil mie seduh, menuangkan air panas di dalamnya. Menutupnya kembali beberapa saat untuk menunggu mie siap di santap.
"Elo cari tahu keluarga lelaki hang masuk ke rumah gue."
"Anak pembokat elo?" Bulan mengangguk. "Sekalian pembantu gue."
"Iya. Lalu Serra?"
"Dia akan aman. Pihak berwajib menjaga dia dengan ketat." jelas Bulan. "Aman untuk sementara waktu." ucap Bulan dalam hati.
Bulan yakin, jika pelakunya akan beristirahat beberapa saat. Sebab dirinya saat ini sedang dalam bahaya jika beraksi.
"Lalu pelakunya?"
__ADS_1
"Bulan...!" panggil Gara berteriak. Bulan berjalan ke dalam kamar, yang biasanya Bulan pakai saat dirinya ke sini.
Mengacuhkan suara panggilan dari Gara. Membawa mie yang sudah dia seduh dengan air panas ke dalam kamar.