PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 160


__ADS_3

"Siapa?" tanya Claudia, saat ponsel Jevo berdering.


Tanpa mengatakan apapun, Jevo memperlihatkan layar ponselnya pada Claudia. "Jeno." lirih Claudia.


Jevo hanya sedikit menggeser duduknya dan mengalihkan pandangannya tanpa beranjak dari duduknya, lalu mengangkat panggilan telepon dari saudaranya tersebut.


Claudia sama sekali tak menaruh curiga. Karena yang menghubungi Jevo adalah saudaranya sendiri. Jeno. "Khemm..." Claudia berdehem beberapa kali. Menginterupsi para pembantu yang sedang makan dengan tatapan horornya. Berharap mereka tahu apa yang diinginkan Claudia.


Makanan yang mereka telan seakan tersangkut di tenggorokan. Bagaimana tidak. Makan di dalam kamar anak majikan mereka. Sangat tidak nyaman. Meski apa yang mereka makan adalah makanan mahal dan enak.


Namun tetap saja, rasa enak tersebut hilang. Jika disuruh memilih, mereka pasti akan memilih makan hanya dengan menggunakan sambal, tapi terasa nikmat. Dari pada berada di dalam situasi seperti ini.


Ditambah makan bersama Claudia dan Jevo. "Tuan muda Jevo ada-ada saja. Pasti nanti kami akan kena tegur atau malah dimarahi habis-habisan." batin salah satu pembantu cemas.


Claudia memberi isyarat. Menyuruh mereka semua segera keluar dari kamar. Selagi Jevo sibuk mengangkat telepon dari Jeno.


Para pembantu keluar dari kamar Claudia dengan piring di tangan mereka. Piring yang masih terdapat makanan yang mereka makan.


Claudia bernafas lega. Seakan udara di kamarnya serasa segar kembali. "Memang beda, ini baru oksigen yang tidak tercemar." batin Claudia dengan angkuh.


Di luar, para pembantu langsung menuju ke dapur. Mengambil air minum dan meminumnya dengan rakus. Seolah mereka tidak pernah merasakan air di tenggorokan mereka.


"Gusti... Tuan muda Jevo ada-ada saja." tukas salah satu pembantu merasa ketakutan.


"Benar. Apa yang harus kita lakukan nanti?" tanya salah satu pembantu, khawatir mereka akan mendapat masalah begitu Jevo tidak ada di rumah ini lagi.


"Minta maaf. Kita harus meminta maaf lebih dahulu." saran yang lain.


"Jangan. Lebih baik kita diam. Seolah kejadian tadi tidak terjadi. Pokoknya, kita jangan membicarakan tentang barusan pada Nona Claudia."


"Betul. Kita tidak bersalah. Jadi, lebih baik kita diam saja. Jika kita minta maaf, nanti kita malah kena omel." sahutnya.


Para pembantu segera menghabiskan sisa makanan yang mereka bawa dari kamar Claudia. Setelahnya, mereka segera bergegas melakukan pekerjaan mereka seperti biasa.


Di dalam kamar, Jevo kembali menyimpan ponselnya setelah selesai berbincang singkat dengan Jeno. "Ada apa?" tanya Claudia.


"Loh... Mereka kemana?" bukannya menjawab apa yang Claudia tanyakan, Jevo malah menanyakan keberadaan para pembantu yang sudah tidak ada.


Padahal Jevo juga melihat mereka pergi. Hanya saja, fokus Jevo tertuju pada suara Jeno yang menghubunginya dari seberang. "Mereka sudah selesai makan. Lagi pula pekerjaan mereka belum selesai. Nanti malah dimarahi mama." jelas Claudia sedikit berbohong.


"Kenapa Jeno menghubungi kamu?" tanya Claudia lagi, sebab pertanyaannya belum dijawab.


"Dia bertanya sebuah soal. Katanya bingung cara penyelesaiannya." ujar Jevo berbohong.


"Jeno di rumah? Belajar?" tanya Claudia mengerutkan keningnya.


Jevo mengangguk. "Seperti itulah Jeno. Anak rumahan. Kutu buku. Pokoknya dia sangat lugu."


"Lugu. Culun iya. Siapa yang mau dengan lelaki seperti dia. Menyebalkan dan pastinya udik. Kasihan sekali tante Rindi dan om David. Tapi beruntung, Jevo tidak seperti Jeno." batin Claudia mengolok Jeno.


"Clau,,,, bisa gue pinjam laptop elo. Dari pada gue mesti pulang. Masih malas nyetir. Di luar panas banget." pinta Jevo.


Claudia segera mengangguk. "Tentu." sahutnya dengan segera. Apalagi dia mendengar jika Jevo malas pulang. Claudia menebak jika Jevo betah berada di rumahnya. Tepatnya di kamarnya.


Claudia berdiri. Mengambil laptopnya. Memberikan pada Jevo. "Jika sedari tadi gue tahu, pasti gue sudah berhasil." dengus Jevo dalam hati.


Sebab, jika Jevo tahu file rahasia milik Tuan Zain di sembunyikan di laptop Claudia, dirinya tak perlu masuk ke ruang kerja Tuan Zain.


Dan Jevo lebih mudah membuka laptop Claudia dari pada Tuan Zain. "Lebih baik gue segera bekerja. Lama-lama bersama Claudia membuat perasan gue malah kacau." batin Jevo.


"Kenapa sayang?" tanya Claudia, saat Jevo mengelus lehernya.


"Bisa minta tolong?"


"Katakan."


"Gue mau minuman dingin. Boleh?"

__ADS_1


"Astaga Jevo,,, aku kira apa. Tentu saja boleh." sahut Claudia.


"Sebentar ya, aku suruh pembantu buatkan untuk kamu." Claudia berdiri, berjalan ke arah telepon yang berada di kamarnya. Dimana telepon tersebut terhubung dengan telepon yang ada di dapur.


"Padahal gue pengennya dia yang buat. Malah suruh orang lain. Nggak peka banget." ucap Jevo dengan nada sedang, Jevo sengaja, berharap Claudia mendengarnya.


Sesuai harapan Jevo. Claudia mendengar apa yang dia katakan. "Jadi dia maunya gue yang buatkan. Manis banget sih kamu sayang. Manja." batin Claudia tersenyum senang.


Claudia merasa jika Jevo makin membutuhkannya. Meski sikap Jevo pada dirinya masih sama. Cuek dan dingin. "Mungkin memang watak dia kali. Lagi pula wajar. Lelaki biasanya gengsi." lanjut Claudia dalam hati.


Ditatapnya Jevo yang sedang sibuk dengan laptop miliknya. "Tenang Jevo,,, gue akan melakukan apapun yang elo minta. Asal gue bisa bersama dengan elo. Masuk ke dalam keluarga elo. Dan hidup gue akan terjamin. Selamanya." batin Claudia tersenyum senang.


Tanpa Claudia tahu, juka dirinya sedang berada di dalam permainan Jevo. "Sayang,,, bagaimana jika aku yang buatkan. Kamu mau?" tanya Claudia berpura-pura tidak mendengar.


"Tidak perlu. Kamu pasti capek. Suruh pembantu saja." tolak Jevo yang sebenarnya, hatinya bertentangan dengan apa yang dia inginkan.


Claudia tersenyum malu. "Dasar. Bilang saja mau di perhatikan." batin Claudia.


"Tidak apa. Kamu tunggu di sini sebentar."


"Baiklah. Sekalian suruh pembantu untuk membawa makanan ini ke bawah. Jangan kamu. Nanti kamu capek. Sudah masak, sudah buatkan aku minuman. Makasih banyak. Kayak di rumah sendiri saja." tukas Jevo.


"Pergi saja selama mungkin. Jika bisa, pergi dari kehidupan gue." batin Jevo menyumpahi Claudia.


Claudia mengangguk seraya tersenyum. Dengan hati berbunga, dia keluar dari kamar. Tentu saja menuju ke dapur untuk membuatkan Jevo jus dingin.


Ralat. Bukan Claudia yang membuat jus. Melainkan sang pembantu. Mana mungkin Claudia mau mengotori tangannya di dapur.


Lagian yang ada, nanti jusnya malah nggak layak minum jika Claudia yang membuatnya. "Panggil rekan kamu. Bawa keluar semua makanan yang ada di kamar." perintah Claudia sembari duduk dengan memainkan ponsel dengan nada angkuh.


Sedangkan di dalam kamar, Jevo segera mengotak-atik laptop Claudia. Meski laptop Claudia memiliki kata sandi. Bukan hal sulit bagi Jevo untuk mengetahui kata sandi tersebut.


"Tanggal lahir gue." Jevo menuliskan tanggal, bulan serta tahun kelahirannya di kolom sandi. Dan terbuka dengan mudah.


Jari jemari Jevo bergerak lincah mencari file yang dia anggap aneh dan patut di curigai. "Ini dia. Benar kata Jeno. Lelaki tua itu ternyata licik juga. Tapi maaf Tuan Zain, kami masih muda. Dan kelihatannya otak kami lebih fresh." lirih Jevo dengan mudah mendapatkan apa yang dia mau.


Krek...


Jevo mendengar suara pintu terbuka. Bisa Jevo tebak, pasti bukan Claudia. Melainkan para pembantu yang disuruh Claudia mengambil serta membereskan seluruh makanan.


Diantara mereka, Jevo melihat sosok yang tidak asing. "Ngapain elo di sini? Bukankah yang kerja di keluarga Claudia bokap elo?" tanya Jevo pada Tasya.


"Saya hanya bantu-bantu di waktu senggang. Lagian gue juga belum mulai kuliah." jawab Tasya dengan tangan mengambil beberapa piring di atas meja.


Jevo hanya mengangguk pelan. Tak lagi bertanya pada Tasya, apalagi menurutnya sesuatu yang tidak penting. Tapi, Jevo melihat gelagat aneh dari Tasya. Sepertinya, Tasya enggan untuk berdiri dan keluar dari kamar sembari mencuri pandang ke arahnya.


"Tasya, gue ada perlu sama elo. Tinggallah sebentar saja." ujar Jevo, dimana semua pembantu sudah keluar, menyisakan Tasya dan Jevo.


"Ada apa?" tanya Tasya.


"Seharusnya gue yang tanya sama elo. Ada apa?"


Tasya tersenyum tipis. Ternyata Jevo memang sangat peka. "Elo harus berhati-hati sama Claudia. Dia licik. Lindungi Moza dan bu Bulan. Kelihatannya Claudia menargetkan mereka berdua." lirih Tasya melirik ke arah pintu. Takut akan ada seseorang yang masuk dari pintu tersebut.


"Hanya itu?" tanya Jevo yang mendapatkan anggukan dari Tasya.


"Oke. Elo boleh keluar." usir Jevo.


"Thank's. Gue hanya tidak ingin Claudia mencelakai orang yang nggak bersalah."


Jevo sempat wad-was, mengira jika Tasya sempat melihat keberadaannya di ruang kerja Tuan Zain. Makanya Tasya bersikap aneh. "Melindungi Bulan. Yang ada gue yang dilindungi Bulan." gumam Jevo, melihat pintu tertutup dari luar.


"Moza... Dia. Gue harap dia mau mendengarkan perkataan gue. Malas sekali harus ribet mengurusi masalah perempuan." lirih Jevo.


Tiiittt....... Terdengar suara lirih dari laptop Claudia. Yang artinya semua file sudah selesai Jevo salin ke flash disknya.


Segera Jevo menyimpan flash disk ke dalam sakunya kembali. Menutup laptop Claudia. Dan keluar dari kamar Claudia.

__ADS_1


"Beres. Saatnya gue cabut." ujar Jevo bersiul. Jevo merasa tidak ada gunanya dia tetap berada di rumah Claudia. Karena misinya telah selesai.


"Clau...!!" panggil Jevo sedikit meninggikan suara setelah berada di anak tangga paking bawah.


Claudia yang sedang berdiri sembari menyenderkan tubuhnya ke tembok segera menyimpan ponsel di tangannya, bergegas mengusir sang pembantu yang tengah membuatkan jus. "Minggir..!!" usirnya dengan nada menghardik.


Claudia segera bertingkah seolah dirinya yang sedang membuat jus. "Iya sayang,,, aku di dapur." sahut Claudia dengan suara lantang.


Dengan senyum sempurna, Claudia menuangkan jus yang masih ada di blender ke dalam gelas. "Ada apa? Sebentar lagi selesai. Nggak sabaran banget kamu." tukas Claudia melihat sosok Jevo mendekat ke arahnya.


Jevo tersenyum miring. Bisa Jevo lihat dengan jelas, tangan Claudia bersih. Sementara tangan sang pembantu yang berdiri tak jauh dari Claudia tampak terlihat bekas alpukat.


"Gue cabut dulu. Jeno menghubungi gue lagi. Katanya tetap tidak mengerti. Meski gue jelaskan lewat laptop. Jadi gue mau pulang saja. Bye." pamit Jevo dengan santai dan enteng.


Claudia masih diam mematung. Memandang Jevo yang berjalan menjauh darinya, dan menghilang di balik tembok penyekat. "Bye. Pulang." lirih Claudia.


Claudia menggenggam gagang blender dengan erat. "Jeno....!! Elo perusak....!!" teriak Claudia.


Sang pembantu yang awalnya berada di dekat Claudia segera menjauh. Dirinya seakan bisa menebak apa hang akan di lakukan anak dari majikannya tersebut.


Claudia mengalihkan pandangannya ke blender yang masih terisi sebagian jusa alpukat. "Untuk apa gue membuat ini." geramnya, menatap jus tersebut dengan marah.


"Aaa.....!!" teriak Claudia.


Terrrr....... Claudia mengangkat blender yang masih berisi sebagian jus yang belum dia tuangkan ke gelas. Melemparkannya ke sembarang arah. Hingga blendernya pecah berkeping-keping.


"Jeno.....!!" teriak Claudia menyalahkan Jeno, atas kepergian Jevo dadi rumahnya.


Tak ada yang berani mendekati Claudia di saat Claudia mengamuk. Mereka tak ingin terkena imbas dadi amukan Claudia.


Hanya saja, kali ini ada seorang pekerjaan di rumah Tuan Zain yang memberanikan diri mendekati Claudia. Sebab dirinya tak ingin terkena masalah lebih jauh. Yang berakibat kehilangan pekerjaan.


"Maaf Nona,,, Apakah kamera CCTV nya bisa saya nyalakan kembali?" tanya lelaki tersenut dengan perasaan khawatir.


Claudia menatapnya dengan horor. "Bodoh...!! Pergi...!! Pakai otak elo tolol....!! Jangan bisanya hanya bertanya...!!" teriak Claudia seperti orang kesurupan.


Lelaki tersebut segera pergi, kembali ke ruang kerjanya. Menyalakan kembali kamera CCTV nya. Tentu saja dirinya mempunyai rasa khawatir tersendiri. Takut jika Tuan Zain mengetahui jika dirinya sengaja mematikan kamera CCTV.


Sejenak, Claudia memejamkan kedua matanya. "Gue bersumpah. Jika gue sudah berhasil masuk ke dalam keluarga Jevo,,,,, gue akan singkirkan makhluk culun bernama Jeno. Pengganggu." seringai Claudia, benar-benar seperti iblis.


Beberapa pembantu yang melihat dan mendengar apa yang Claudia katakan hanya bisa meneguk ludah dengan kasar. Dan di antara mereka ada Tasya yang tengah memegang sapu.


"Jeno... Semoga Tuhan selalu melindungi kamu. Semoga Jevo tidak buta mata dan hatinya. Jangan sampai keluarga Tuan David mempunyai menantu seperti Claudia." batin Tasya.


Meski ayah dari Tasya bekerja untuk keluarga Claudia, tak lantas membuat Tasya membela dan membenarkan setiap tindakan gang diambil oleh Claudia.


Tasya memang hanya diam dan membiarkan Claudia bertingkah semaunya. Sebab dirinya tak memiliki kekuatan dan kekuasan untuk melawan Claudia.


Dan jika Tasya melakukannya. Yang ada keluarganyalah yang akan berada di dalam bahaya.


Di mobil, Jevo tertawa lepas. Dirinya membayangkan bagaimana raut wajah Claudia. "Gila.... Dia pikir gue mau sama perempuan macam dia. Ogahlah,,, bisa-bisa gue dicoret dari kartu keluarga." cicitnya sembari menyetir mobil.


Jevo mengusap sudut matanya yang sampai berair karena tertawa. "Jeno saja bisa mendapatkan perempuan sepeti Bulan. Masa gue sama kunti kayak Claudia. Yang mau gue banggain apanya." tukas Jevo menggelengkan kepala, membayangkan dirinya bersama Claudia.


Jevo memang tidak mungkin mendapatkan perempuan seperti Bulan. Tapi setidaknya, Jevo menginginkan perempuan yang bisa membela dirinya sendiri saat ada orang gang menyakiti dia.


Dan pastinya, Jevo masih mengingat syarat dari kedua orang tuanya. Jika dia membawa pulang seorang perempuan untuk dia kenalkan kepada mereka.


Yakni berasal dari keluarga baik-baik. Dan dia juga perempuan baik-baik. Sebab, kedua orang tua Jevo tidka pernah memandang orang dari harta dak jabatan mereka.


"Tapi sudah juga sekarang cari perempuan yang seperti itu. Apalagi dari keluarga yang baik-baik." geleng Jevo.


Sebab, di sekitar mereka yang ada adalah keluarga dari kalangan menengah ke atas. Dimana kebanyakan mereka adalah pebisnis yang pastinya mempunyai lidah penjilat.


"Memang mengerikan jika gue mempunyai mertua penjilat. Yang ada harta gue malah untuk mereka semua. Kayak Claudia. Oh... No... Jangan sampai."


Jevo menambahkan kecepatan mobilnya. Dirinya ingin segera sampai ke apartemen Mikel. Menyelesaikan tugas dari Bulan dengan segera. Sehingga masalah para petinggi negara itu segera terkuak dan terselesaikan.

__ADS_1


__ADS_2