PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 173


__ADS_3

"Gue kira elo lupa sama gue." ketus Gara saat Bulan menyambanginya di markas pada malam hari.


"Cckkk,,, jangan lebay. Gue hanya dua hari nggak ke sini." sahut Bulan berdecak, mendaratkan pantatnya di kursi dekat Gara.


Bulan melihat ada luka di punggung kedua telapak tangan Gara. Tapi Bulan seakan tak melihatnya. Sehingga dia tidak bertanya. Bulan menebak jika Gara baru saja bermain tinju. Meluapkan apa yang ada di dalam hatinya.


Memang benar, Bulan sudah menganggap Gara sebagai saudaranya sendiri. Hanya saja, Bulan bisa memilah-milah masalah. Dimana dirinya akan ikut campur, dan dimana dirinya memilih untuk berpura-pura diam dan tidak tahu.


Diamnya Bulan bukan berarti karena tidak perduli dengan Gara lagi. Justru sebaliknya. Bulan memberi kebebasan dan ruang untuk Gara.


Sebab setiap individu pasti menginginkan sebuah privasi dalam hidup, dimana dia tidak ingin ada orang yang mencampuri masalahnya, dan tidak maj ada yang tahu akan apa yang sedang dia hadapi, atau masalah apa yang sedang menimpa dirinya.


Juga dengan Gara. Meski dirinya hanya bisa tinggal di dalam markas. Dengan hanya berhubungan dengan segelintir orang. Tetap saja Gara mempunyai hati dan perasaan.


Jika memang Gara ingin bercerita, maka Bulan akan menjadi pendengar yang baik. Tanpa menggurui. Dan barulah Bulan akan memberikan saran, jika Gara memintanya.


Tapi sebaliknya, jika Gara diam seolah tak terjadi apapun, maka Bulan juga akan diam. Menyesuaikan apa yang Gara inginkan.


"Ada apa?" tanya Gara, karena tak mungkin Bulan datang tanpa ada maksud dan tujuan.


Apalagi Gara melihat raut wajah Bulan hang seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kita tunggu Mikel dan Jevo datang dulu." sahut Bulan.


Gara hanya bisa mengangguk, menyetujui apa yang Bulan katakan. Meski sebenarnya dia penasaran, kenapa harus melibatkan Mikel, bahkan Jevo. Sebab tak biasanya Bulan suka rela melibatkan orang lain.


Tak berselang lama, Mikel datang ke markas bersama dengan Arya. Tak ketinggalan Jevo dan Jeno menyusul kedatangan mereka.


Cup......


"Kenapa kamu tidak memberitahu aku,,, hemmmm." ujar Jeno, sembari mendaratkan kecupan ringan di dahi Bulan begitu berada di dekat Bulan.


Kini Jevo dan yang lain tampak biasa melihat kemesraan yang disuguhkan Bulan dan Jeno di depan mereka.


Entah mengapa, mereka semua merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan Jeno dan Bulan, saat melihat keduanya saling mengungkapkan perhatian mereka ke pasangannya. Terlihat begitu manis dan tak berlebihan.


Juga dengan Bulan serta Jeno. Keduanya tak lagi menyembunyikan hubungan mereka. Serta tak malu-malu menunjukkan perhatian kecil pada pasangan mereka di depan umum.


Tapi tetap saja, Jeno dan Bulan selalu menggunakan batasan dalam kemesraan mereka. Keduanya tidak ingin terlalu mengumbar kemesraan mereka, karena memang masih berstatus pacaran. Juga, keduanya sadar jika sesuatu hang berlebihan tidaklah baik.


Cukup dengan kecupan singkat dan perhatian lewat tingkah laku mereka saja. Itupun sudah membuat mereka yang melihatnya merasakan kebahagiaan juga.


"Gue juga nggak diberitahu." timpal Arya. Memberitahu Jeno, jika bukan hanya Jeno yang tidak mendapatkan kabar dari Bulan.


"Tapi aku pacarnya." Jeno tetap tidak terima.


Bulan memegang lengan Jeno. Tidak ingin Jeno merasa bad mood, yang akhirnya Bulan sendiri yang malah pusing. Karena jika hati Jeno sedang memburuk, dirinya pasti akan terkena imbasnya.


"Kalian duduklah. Ada yang ingin aku bicarakan." pinta Bulan, menggeser sedikit pantatnya untuk memberi tempat Jeno duduk di sebelahnya.


Jeno meletakkan tangannya di pundak Bulan, merangkul Bulan begitu duduk di samping Bulan. "Aku memang sengaja hanya menghubungi Jevo dan Mikel. Sebab mereka berdua ada dalam masalah ini." jelas Bulan tak ingin Jeno salah paham.


"Gue dan Mikel. Memang ada apa dengan kami?" tanya Jevo penasaran. Jevo merasa hingga detik ini tidak pernah terlibat masalah dengan Mikel.


Bulan menghela nafas panjang. "Aku akan memberitahu kalian semua. Tapi jangan pernah memotong kalimatku. Bagaimana?" ujar Bulan sekaligus menanyakan kesanggupan mereka semua.


"Katakan saja." pinta Gara.


"Sapna mendapat ancaman. Dan ancaman itu dari Revan." jelas Bulan diawal kalimatnya.

__ADS_1


Bulan menjelaskan secara detail, seperti apa yang diceritakan oleh Sapna. Tanpa mengurangi dan menambahi ceritanya.


Seperti yang Bulan inginkan, semua yang ada di sekitar Bulan diam. Menyimak dengan baik setiap kata yang keluar dari mulut Bulan.


Tak ada yang bertanya. Hingga Bulan selesai menjelaskan semuanya. "Revan. Bagaimana bisa." geram Jevo, setelah Bulan selesai menjelaskan.


"Jika tebakanku tidak salah. Karena Revan tahu, Sapna menjalin hubungan dengan Mikel. Sementara Mikel adalah sahabat kamu. Paham bukan kalian, kemana arah pembicaraan aku?" tanya Bulan tidak menjelaskan dengan detail.


"Tapi Mikel dan Sapna hanya berpura-pura." timpal Arya.


"Hanya kita yang tahu, jika mereka berpura-pura. Tapi semua orang di luar mengetahui jika Sapna dan Mikel berpacaran dengan seius." sahut Jeno.


"Kenapa masalah malah merembet ke sini? Dan,,, tunggu,,, apa isi video itu. Kenapa Sapna bahkan harus memenuhi keinginan Revan?" tanya Jevo, mewakili semuanya yang memang tidak tahu.


Sebab Bulan hanya mengatakan jika Revan mengancam Sapna menggunakan sebuah rekaman video.


Semua mata menuju ke arah Bulan. Tak terkecuali dengan Jeno. "Maaf, aku tidak bisa menceritakannya pada kalian." tutur Bulan.


Semua mengangguk. Hanya dengan perkataan Bulan, mereka bisa menebak jika isi dari rekaman video tersebut sangatlah pribadi dan bersifat rahasia. Dan hanya Sapna dan Bulan yang mengetahuinya.


"Cckkk,,, kenapa ada-ada saja. Padahal lusa kita mau pergi." decak Jeno menyayangkan masalah terjadi tanpa melihat waktu.


"Pergi. Kalian mau kemana?" tanya Arya.


"Sudah cukup. Kita harus fokus ke masalah Sapna dan Revan. Jangan membicarakan masalah lain. Ingat, kita hanya punya waktu sampai pukul setengah sepuluh malam." tekan Bulan tak ingin pikiran mereka terbagi.


Sebenarnya Bulan juga berpikiran seperti Jeno. Oleh karena itu, Bulan harus segera menyelesaikan masalah ini sebelum dia meninggalkan kota untuk mengunjungi keluarganya di desa bersama dengan keluarga Jeno.


Dirinya tidak mungkin membiarkan masalah ini. Sehingga pasti akan menganggu pikirannya saat dia berada di desa. Yang mengakibatkan tidak tenangnya dirinya di rumah kedua orang tuanya.


"Mungkin gue bisa masuk ke perangkat lunak milik Revan di laptopnya." ujar Gara.


"Benar juga." sahut Arya.


"Setengah sepuluh. Dan sekarang jam sembilan malam lebih. Tidak ada setengah jam." lirih Jeno, seketika merasa khawatir.


Semua terdiam. Memikirkan cara apa yang akan mereka lakukan. "Revan sialan. Gue sendiri yang akan menghancurkan dia." geram Jevo, menggenggam erat telapak tangannya.


"Bagaimana jika kita culik Revan. Kita paksa dia mengaku, dimana rekaman itu dia sembunyikan." saran Mikel geram, khawatir jika rekaman itu tersebar. Meski dirinya juga tidak tahu apa isi dari rekaman tersebut.


"Jangan ceroboh. Manusia seperti Revan mempunyai mulut yang berbisa. Dan kemungkinan dia sudah mengkopi rekaman tersebut menjadi beberapa." tebak Bulan.


Bulan khawatir jika mulut Revan akan berbohong. Bulan tahu dengan pasti bagaimana liciknya manusia seperti Revan.


"Langkah awal, Sapna harus datang ke tempat itu. Dan kita harus membuat Revan tak bisa melakukan apapun. Baru kita bisa bergerak." saran Jeno.


"Jangan..! Itu sangat beresiko untuk Sapna." tolak Gara.


Bulan melirik ke arah Gara dengan senyum samar di bibirnya. "Kita akan lihat. Apakah yang ada di dalam benakku benar." batin Bulan.


"Lalu apa saran elo. Kita berkejaran dengan waktu." sahut Jeno.


"Gara,,, cari tahu. Siapa yang bisa mengakses kamera CCTV di rumah mewah itu." pinta Bulan


Jika Bulan sudah berani menyuruh, itu artinya dia sudah mempunyai rencana. Dan yang lain percaya dengan setiap rencana yang akan dijalankan oleh Bulan.


Dengan cepat Gara bergerak. Jari jemari lincahnya menari di atas keyboard. Melakukan apa yang diperintahkan oleh Bulan.

__ADS_1


Ting... Terdengar ponsel Bulan berbunyi. Sebuah pesan tertulis masuk ke dalam ponselnya. Segera Bulan mengambil dan melihat siapa yang mengirimkannya, dan apa isi dari pesan tersebut.


"Sapna. Dia mengirimkan alamat hotel yang akan menjadi tempatnya dengan Revan bertemu." ujar Bulan memberitahu.


"Apa rencana bu Bulan?" tanya Arya, masih menggunakan panggilan bu pada Bulan, meski Bulan sekarang tidak lagi mengajar di sekolahnya.


"Seperti yang Jeno katakan. Kita akan membiarkan Sapna pergi ke hotel untuk bertemu dengan Revan. Tapi,,,, kita akan menaruh seseorang di dalam kamar hotel tersebut, sebelum Revan tiba." jelas Bulan.


"Baik. Aku paham." sahut Mikel.


Bulan menghubungi Sapna. Memberitahu Sapna untuk setuju bertemu dengan Revan. Bulan juga mengatakan untuk Sapna tidak perlu risau. Sebab Bulan akan melakukan rencananya dengan baik.


Di seberang telepon, Sapna mengangguk paham. Lebih dari seratus persen dia percaya dengan Bulan. Sehingga Sapna tidak perlu berpikir ulang untuk melaksanakan apa yang Bulan rencanakan.


Gara diam. Dirinya tak berani menolak atau menyela apa yang dikatakan Bulan. Ditambah dirinya juga tidak mempunyai rencana yang lebih baik.


Bulan mengatakan nama hotel, serta nomor kamar hang akan menjadi tempat Revan bertemu dengan Sapna. "Hotel itu." batin Mikel tersenyum penuh makna.


Bulan memberikan sebuah botol kecil pada Mikel. "Itu obat bius dengan dosis tinggi. Pergunakan dengan baik." ujar Bulan memberitahu Mikel.


"Jevo, kamu menunggu di luar. Begitu Mikel berhasil melakukan aksinya, bawa pergi Revan ke tempat yang aman." jelas Bulan, mendapat anggukan kepala dari Jevo.


"Hubungi aku dengan segera setelah kalian berhasil membius Revan, dan membawanya ke tempat yang akan. Jangan lupa untuk menggeledah pakaiannya." jelas Bulan.


Jevo dan Mikel mengangguk bersamaan. Keduanya yang beberapa kali menjalankan misi dengan Bulan, serta selalu berada di bawah komando Bulan, dengan mudah bisa membaca apa yang akan Bulan lakukan.


"Persiapkan semua dengan baik. Jangan sampai kita gagal." ujar Bulan.


"Tenang saja. Kita pasti akan berhasil." tukas Jevo.


"Kalian pergilah sekarang juga." pinta Bulan, tidak ingin jika mereka berdua sampai terlambat datang.


Mikel dan Jevo beranjak dari duduknya. Berlari kecil menuju ke mobil dan meninggalkan markas. Tujuan utama mereka adalah hotel tempat Revan dan Sapna akan bertemu.


Gara melihat keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah Gara memandang Mikel, atau memandang Jevo. Hanya dia sendiri yang mengetahuinya.


Begitu juga dengan Bulan. Sedari tadi, dia selalu memperhatikan setiap ekspresi dari Gara. Sekarang Bulan benar-benar yakin. Jika Gara memiliki perasaan khusu pada Sapna.


"Arya, tugas kamu, adalah menggeledah sebuah tempat. Dimana Revan bisa saja meletakkan rekaman video itu di sana." pinta Bulan.


"Dimana?" tanya Arya sudah siap melakukan apa yang Bulan perintahkan.


"Apartemen Revan."


Arya mengangguk. "Tapi kamu akan menghadapi sedikit kendala. Sebab, Claudia ada di sana." ujar Bulan.


Entah dari mana Bulan mengetahui jika Claudia tinggal di apartemen Revan. "Claudia." lirih Arya.


Sebelah sudut bibir Arya terangkat ke atas secara perlahan. "Tenang saja. Serahkan pada aku. Claudia, dia bukan masalah besar."


"Baik. Aku dan Jeno akan pergi ke perusahaan milik Tuan Tene." timpal Bulan.


"Perusahaan Tuan Tene. Perusahaan yang mana?" tanya Gara.


"Semua. Aku dan Jeno akan berbagi." jelas Bulan, yang artinya dia tidak hanya mengobrak-abrik satu tempat.


"Tenang saja. Aku pasti akan membantu kamu menemukannya." sahut Jeno.

__ADS_1


Kini Arya mengerti, kenapa Jeno dengan mudah memperoleh hati Bulan. Meski Jeno terlihat pendiam, tapi Jeno memiliki kecerdasan yang tak kalah dengan Bulan.


"Padangan yang serasi." batin Arya memuji keduanya.


__ADS_2