
Di dalam kamar apartemen Mikel, Bulan menghubungi Sapna lewat ponsel baru milik Sapna yang di belikan oleh istri dari pak Darto.
Segera Sapna menghubungi Bulan lewat telepon rumah milik pak Darto, setelah dirinya memegang ponsel tersebut. Sehingga Bulan bisa memastikan, ponsel tersebut aman atau tidak digunakan oleh Sapna.
Sapna perempuan yang pastinya tahu cara kerja lawan. Meski dirinya tidak seperti Bulan yang bisa bela diri dan menggunakan berbagai macam senjata.
Setidaknya Sapna bukan perempuan yang bodoh. Sejak kejadian dimana dirinya disekap. Yang akhirnya Bulan datang sebagai penyelemat.
Alhasil Sapna mengetahui semua apa yang terjadi pada keluarganya, terutama sang papa. Hingga terjadi penyekapan dirinya dan sang mama. Barulah, setelah keduanya aman, tinggal di rumah pak Darto, Sapna menekan dan meminta penjelasan dari sang mama.
Nyonya Irawan pastinya tidak bisa mengelak dan membohongi sang putri, yang dimana Sapna bukan lagi seorang bocah. Menyebabkan Nyonya Irawan menceritakan semua yang terjadi. Tanpa menutupi sedikit pun. Beliau paham, jika sang putri juga wajib mengetahui apa yang terjadi.
Oleh karenanya, dengan mengandalkan otaknya, Sapna selalu mencari petunjuk di rumah Pak Darto. Setidaknya dirinya bisa membantu Bulan. Bukan hanya berpangku tangan.
"Bagaimana? Apa kamu setuju?" tanya Bulan pada Sapna di seberang telepon. Setelah Bulan menjelaskan rencananya. Yang itu artinya Sapna harus berpura-pura menjalani hubungan dengan Mikel.
"Apa Mikel setuju?" bukannya menjawab, Sapna malah balik bertanya.
"Dia setuju. Dan jika kamu setuju, kalian harus bertemu untuk membicarakan lebih lanjut. Dan ingat, aku tidak akan mencampuri urusan kalian. Aku percaya, jika kamu dan Mikel mampu melakukan misi ini." jelas Bulan.
"Baik. Aku setuju. Berikan nomor ponsel Mikel, biar aku yang akan menghubungi dia." pinta Sapna.
Bulan tersenyum lega. Sebelumnya, dia sudah yakin jika Sapna akan setuju dengan rencana ini. Bisa dilihat, jika Sapna akan melakukan apapun, untuk membuat sang mama tidak lagi terancam bahaya.
"Biar Mikel saja. Kamu tunggu." sahut Bulan, dirinya tidak ingin Sapna akan merasa malu atau sungkan. Jika sang perempuan menghubungi lelaki terlebih dulu.
Terdengar kekehan ringan di seberang telepon. "Kenapa?" tanya Bulan heran, karena Sapna malah tertawa.
"Terimakasih atas niat baiknya. Biar aku saja yang menghubungi Mikel lebih dulu. Bukankah di sini aku dan keluargaku yang membutuhkan bantuan. Kalian sudah mau menolong kami saja, kami sangat berterimakasih. Bahkan, jika kami membayar kalian menggunakan uang, pasti berapapun jumlah uangnya tidak akan bisa menggantikannya." jelas Sapna panjang lebar.
Bulan terenyuh mendengar perkataan Sapna. "Kamu memang putra Pak Bimo dan tante Irawan." sahut Bulan, yang kembali mendapat tawa ringan dari Bulan.
Mendengar tawa Sapna, lebih dari hal yang paling menggembirakan bagi Bulan. "Bulan,,,, apa kamu yakin, jika Mikel orangnya?" tanya Sapna ragu.
"Kenapa?" bukannya menjawab apa yang Sapna tanyakan, Bulan malah balik bertanya.
"Maaf sebelumnya. Aku tidak bermaksud menyinggung siapapun. Hanya saja, umur aku lebih tua dari Mikel." jelas Sapna dengan tak enak hati. Dirinya juga tahu, jika ada jarak usia antara Jeno dan Bulan. Di mana Bulan lebih tua dari Jeno.
Bulan tersenyum. "Tidak masalah. Yang terpenting kalian bisa menjalaninya." jelas Bulan singkat.
"Bagaimana orang tua Mikel. Bukankah jika aku dan Mikel melakoni peran tersebut, kedua orang tua Mikel juga harus tahu?" tanya Sapna ingin tahu
Bulan terdiam sejenak. Kembali teringat akan perkataan Mikel. Terlihat jika hubungan Mikel dengan kedua orang tuanya tidak begitu dekat. "Sapna,,, soal itu, aku tidak bisa menjelaskan apapun. Kalian bertemulah lebih dulu, dan bicarakan berdua bagaimana baiknya." ujar Bulan mencari aman.
"Oke. Kirimkan nomor ponsel Mikel padaku. Akan aku hubungi dia." pinta Bulan.
"Beres. Jika ada sesuatu, segera beri tahu aku." sahut Bulan.
"Saat ini, aku sedang curiga akan sesuatu. Tapi maaf, aku belum bisa memberitahu. Aku akan menyelidikinya dengan baik. Setelah memastikan kebenarannya, bru aku akan memberitahu kamu."
"Hati-hati. Ingat satu hal, keselamatan dan nyawa kamu dan tante Irawan lebih penting. Jangan sampai keputusanku mengeluarkan kalian dari sangkar mewah itu tidak ada gunanya."
"Iya,,,, terimakasih sudah mengingatkan."
Keduanya mengakhiri percakapan mereka di ponsel. Dengan segera, Bulan mengirimkan nomor ponsel Mikel pada Sapna. "Gue percaya. Kalian pasti bisa." gumam Bulan.
Baru saja Bulan hendak menyimpan kembali ponselnya, tapi terhenti karena mendengar ponselnya berdering.
Sebelah alis Bulan terangkat ke atas. Hanya ada nomor yang tertera dalam layar ponselnya. Tanpa ada nama ID. Yang artinya nomor tersebut tidak tersimpan di dalam aplikasi kontak di ponsel Bulan.
Bulan menggeser tombol berwarna hijau. "Halo,,, Siapa?" tanya Bulan.
"Aku Bimo. Apa aku bisa bertemu dengan anak dan istriku?" tanya pak Bimo tanpa berbasa-basi.
Pak Bimo tahu, setiap detik sangat berarti baginya. Setiap detik pula, dirinya dalam bahaya. Oleh karenanya, dirinya harus menggunakan waktu dan kesempatan yang ada sebaik mungkin.
"Tenang dulu. Jangan lakukan pergerakan atau tindakan apapun. Sebentar lagi istri dan anak pak Bimo akan kembali ke rumah."
Tanpa menunggu jawaban dari pak Bimo, Bulan mematikan sambungan teleponnya. Bulan menatap ke ponselnya sendiri. "Elo sungguh tidak sopan Bulan. Tidak punya etika. Memutuskan panggilan begitu saja." cicit Bulan, memarahi dirinya sendiri.
Bulan yakin, di tempatnya pak Bimo tidak akan marah atas kelakuan Bulan yang sangat tidak sopan. Pastinya beliau paham, mengapa Bulan melakukan hal tersebut.
Begitu panggilan teleponnya terputus, pak Bimo yang berada di dalam toilet memasukkan ponsel tersebut ke dalam kloset.
Seperti yang dilakukan sang pembantu untuk menghilangkan jejak. Pak Bimo juga melakukan hal yang sama.
Dirasa benda pipih tersebut masuk ke dalam pembuangan, pak Bimo segera keluar dari dalam toilet.
__ADS_1
"Kembali ke rumah. Mereka akan kembali ke rumah. Apa yang direncanakan Bulan." batin pak Bimo, antara penasaran dan cemas yang menjadi satu.
Beruntung, pak Bimo menghubungi Bulan terlebih dahulu sebelum melakukan niatnya untuk menyerahkan diri ke pihak berwajib.
Seandainya pak Bimo bertidak lebih dulu, pasti Bulan akan banting stir. Mengubah semua rencananya dengan kilat.
"Syukurlah, aku tidal mempergunakannya lebih dulu." batin pak Bimo menatap lukisan. Dimana, dibalik lukisan tersebut adalah tepat beliau meletakkan brangkas yang berisi semua kejahatannya, serta rekan-rekannya.
Bulan menguap... "Kenapa gue merasa ngantuk. Padahal rasanya semalam aku sudah tidur dengan cukup." cicit Bulan, yang malah merebahkan badannya di ranjang empuk yang berada di dalam kamar Mikel.
Bukannya keluar dan bergabung lagi dengan yang lainnya. Mungkin fisik serta batin Bulan yang merasa lelah. Lelah karena masalah-masalah yang dia hadapi. Ditambah masalah yang ada bukan hanya memerlukan otot, tapi juga otak.
Jadi wajar bagi Bulan, jika sesekali mengeluh. Mengistirahatkan sejenak dirinya dari semua masalah yang ada.
Bulan tidak peduli, meski kamar tersebut milik Mikel, bukan Jeno. Yang terpenting dirinya bisa memejamkan kedua matanya meski hanya sesaat.
Sedangkan di luar kamar, kelima lelaki masih saja berbincang ringan. Obrolan mereka terhenti saat ponsel Mikel berdering. Menandakan ada yang menghubunginya.
Sangat mudah ditebak, siapa yang menghubungi Mikel. Sapna. "Halo..." ucap Mikel begitu menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Saya Sapna. Bisa kira bertemu? Terserah kamu, dimana tempatnya dan kapan. Saya ikut saja." ujar Sapna diseberang telepon.
"Baik. Sekarang saja. Bukankah lebih cepat lebih baik. Saya akan menjemput kamu. Jangan keluar rumah sendiri." tutur Mikel.
Keempat lelaki di dekat Mikel diam. Semestinya mereka bisa menebak dengan siapa Mikel berbicara di ponsel.
"Siapa? Sapna?" tanya Arya, begitu Mikel mengakhiri teleponnya dengan Sapna.
Mikel mengangguk, beranjak dari duduknya. "Sebaiknya elo ikut, ada kerjaan buat elo." ajak Mikel pada Arya.
"Gue." Arya menunjuk ke arah wajahnya. "Ngapain? Elo berduaan dengan Sapan, dan gue jadi nyamuk?" tanya Arya, sekaligus pernyataan sebuah penolakan.
"Aawww..." seru Arya, saat kepalanya dijitak oleh Jeno.
"Elo jadi paparazi,,, Arya...!! Paham...!" jelas Jeno dengan kesal, karena harus menjelaskan kenapa Mikel mengajaknya.
"Paparazi." gumam Arya mengelus kepalanya yang terasa sakit karena ulah Jeno.
"Benar. Elo foto saat Mikel dan Sapna saat mereka bertemu dimanapun. Tapi elo harus hati-hati. Jangan sampai elo ketahuan." imbuh Gara menjelaskan.
"Benar juga. Sapna keluar, muncul di depan umum. Bukan tidak mungkin ada orang dari pihak lawan yang melihatnya." timpal Arya mulai paham kemana arah rencana mereka.
"Benar. Semua orang. Bukan hanya musuh." tekan Jevo, menunjuk ke dahinya sendiri, menyuruh Arya kembali berpikir.
"Ayo...." ajak Mikel yang sudah berdiri pada Arya.
"Oke,,, elo kirim alamatnya ke gue. Gue akan menyusul. Gue pulang dulu. Ambil kamera sama perlengkapan lainnya." sahut Arya.
Mikel mengangguk. "Lagian kita nggak barengkan." lanjut Arya memastikan.
"Ya enggaklah... Elo paparazi, Mikel fokus utama elo. Masa kalian berangkat bersama." sahut Jeno.
"Lagian gue mau menjemput Sapna. Sangat berbahaya, jika dia keluar rumah sendirian. Bisa jadi, selama ini Darto menunggu momen ini." ungkap Mikel.
"Benar juga. Kalian harus hati-hati." tukas Gara mengingatkan.
Keduanya lantas meninggalkan apartemen Mikel untuk melakukan tugas yang sudah diberikan oleh Bulan. "Baiklah kalau begitu kawan, gue juga akan cabut. Benar kata Mikel. Lebih cepat lebih baik. Gue akan memulai menjalankan tugas gue." jelas Jevo tersenyum licik.
"Tapi ingat. Papa sama mama nggak suka dengan Claudia. Jangan sampai elo melakukan hal yang malah membuat elo menyesal." ujar Jeno mengingatkan.
"Seperti,,,, Claudia hamil." ujar Jevo, lalu tertawa lepas.
"Santai brow,,,, tenang. Gue memang seperti itu. Tapi,,,, jika ada perempuan yang datang. Mengaku dia hamil anak gue, fix. Pembohong besar. Gue lelaki waras, yang tidak akan menyebar benih berkualitas gue ke sembarang perempuan." tukas Jevo masih tertawa dan beranjak dari duduknya.
Jeno dan Gara menatap heran ke arah Jevo. "Bisa-bisanya dia memuji diri sendiri. Dasar." celetuk Gara.
"Ehh,,, elo mau kemana?" tanya Gara, saat Jeno juga beranjak dari duduknya.
Jeno hanya tersenyum penuh arti, berjalan ke arah kamar di mana ada Bulan di dalamnya. "Woeeyyyy,,,, elo mau ngapain...?!" teriak Gara.
Tanpa membalikkan badan, Jeno mengangkat tangan kanannya, melambaikan telapak tangannya di atas. "Hah,,,, baru saja punya teman. Sekarang sendiri lagi." keluh Gara.
"Terus siapa yang mau makan ini semua." Gara melihat berbagai makanan serta minuman yang masih banyak di atas meja.
"Ckkk,,, semoga tidak basi. Dan nanti masih bisa dimakan." cicit Gara, yang sebenarnya malas untuk memenuhi semua makanan di meja tersebut.
Bukan tanpa alasan Gara malas memanasi semua makanan tersebut. Pasalnya, letak kompor di apartemen Mikel terlalu tinggi untuk seorang Gara yang tidak bisa berdiri dengan benar.
__ADS_1
Untuk berjaga-jaga dan menghindari hal yang tidak diinginkan, Gara memilih untuk tidak masuk ke area dapur. Apalagi menyalakan api.
Tak ingin kesepian, Gara juga masuk ke dalam kamar yang semalam menjadi tempat tidurnya. Laptop adalah teman setia Gara. "Elo tahu, hanya elo yang paling mengerti gue." cicit Gara, mulai membuka dan menyalakan laptopnya.
Jeno mengunci pintu kamar dari dalam. Dirinya tidak ingin Gara atau siapapun nyelonong masuk. Yang malah akan membuat moodnya berubah jelek.
"Bisa-bisanya dia malah tidur." Jeno perlahan mendaratkan pantatnya di samping Bulan.
Tangan Jeno menyingkirkan beberapa helai rambut di wajah Bulan, yang menutupi kecantikan sang kekasih. "Pasti kamu sangat capek dan lelah." tuturnya, menatap intens ke wajah cantik sang pujaan hati.
Dengan sangat pelan, Jeno ikut membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dengan posisi miring, Jeno menatap dengan intens wajah Bulan. "Aku tidak akan pernah melepaskan kamu. Siapapun rival aku. Bulan,,, kamu hanya milik Jeno." lirih Jeno.
Hatinya terasa panas, mengingat keadaan Rio yang kini sudah sembuh. Meski Jeno tidak melihat sendiri bagaimana kondisi Rio, tapi hanya mendengarkan perkataan Mikel, sudah membuat Jeno kepanasan.
Terlebih, dirinya mengingat bagaimana mama Rio sangat menyukai Bulan. Bahkan beliau pernah mengatakan sangat memimpikan sang putra bersama dengan Bulan. Sehingga Bulan akan menjadi menantunya.
"Enak saja mau menjadikan Bulan menantunya. Lawan dulu mama saya. Nyonya Rindi. Pasti mama juga tidal akan tinggal diam." batin Jeno.
Bulan merasakan kehadiran seseorang di sampingnya. Indera penciumannya juga mengendus bau baru yang tidak ada saat dirinya masuk ke kamar.
Anehnya, bau ini sangat familiar bagi Bulan. "Sangat menenangkan." batin Bulan.
Dalam keadaan terpejam saja, Bulan bisa menebak siapa pemilik wangi yang membuat dirinya begitu nyaman berada di dekatnya.
Cup,,,, Jeno mencium singkat bibir Bulan yang sedari tadi menggodanya. "What,,, Jeno,,,!! Dasar. Bisa-bisanya mencium gue di saat gue terpejam." batin Bulan, masih berpura-pura tertidur.
Bulan menahan nafasnya, merasakan bibir seksinya di sentuh dengan halus oleh jari jemari sang kekasih. "Kamu canduku sayang." lirih Jeno, mendekatkan bibirnya ke bibir Bulan.
Bulan bisa merasakan hembusan nafas Jeno menerpa wajahnya. "Apa yang harus gue lakukan?" batin Bulan, mengetahui jika Jeno akan mencium bibirnya.
Cup.... Jeno menempelkan bibirnya pada bibir Bulan. Perlahan, Jeno menggerakkan bibir. Tangan Jeno menyelinap di bawah leher Bulan. Menaruh tangannya di belakang kepala Bulan.
Dengan tangan yang satunya memegang dagu runcing milik Bulan. Jeno semakin memperdalam ciumannya.
Dan Bulan,,, dia masih memejamkan kedua matanya. Seolah memberi akses bagi Jeno, Bulan sedikit membuka mulutnya. Menjadikan gerakan bibir Jeno semakin dalam ke mulut Bulan.
Beberapa menit, Jeno bermain di bibir seksi sang kekasih. Keduanya menyudahi permainan bibir mereka. Sama-sama membuka kedua matanya.
Menempelkan dan mempertemukan kedua kening mereka. Tangan Jeno dengan lembut, membersihkan sisa saliva yang berada di sekita bibir Bulan.
"Jangan pernah meninggalkan aku. Apapun alasannya. Aku busa gila sayang...." lirih Jeno, dengan nafas masih terengah.
Bulan tersenyum tulus. Tangannya membelai lembut pipi Jeno. "Pasti sayang..." sahut Jeno.
Jeno menjauhkan wajahnya dari wajah Bulan. Menangkap kedua pipi Bulan dengan kedua telapak tangannya. "Katakan lagi, aku ingin mendengarnya." pinta Jeno, mendengar Bulan memanggilnya dengan kata sayang.
Kedua pipi Bulan langsung merona. "Apaan sih." rajuk Bulan.
"Yesss.... Bulan sudah tidak marah lagi. Ingat Jeno, jangan pernah membahas kejadian tadi pagi." batin Jeno.
Jeno langsung memeluk erat tubuh Bulan. "Hanya dengan ciuman yang tidak terlalu panas, bisa membuat Bulan tidak marah. Pandai sekali elo Jeno." batin Jeno tersenyum penuh kemenangan.
"Ehh..." Bulan mendorong tubuh Jeno. "Ada hang aneh di bawah sana." tukas Bulan.
Jeno tertawa kaku. "Aku normal sayang. Pasti belalaiku on saat kita berciuman tadi." ujar Jeno dengan jujur.
Bulan tersenyum samar. Ide jahil muncul dalam benaknya. "Kasihan sekali. Pasti kalian sangat menderita."
"Kalian."
Bulan mengangguk. "Kamu dan dia." ucap Bulan, dari menatap wajah Jeno beralih memandang ke bawah, dimana ada sesuatu yang keras di balik celana yang Jeno pakai.
Jeno mengangguk cepat. "Sangat. Kami sangat menderita sayang." ujar Jeno dengan nada manja yang terdengar menyedihkan.
Bulan mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Memandang penuh kasih pada Jeno. "Apa aku boleh membantu?" tanya Bulan.
"Bisa. Bantu aku sayang." Jeno mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang.
Bulan bergerak dengan pelan. Dirinya hendak memposisikan duduknya di antara paha Jeno yang terbuka lebar.
Bulan menatap Jeno dengan rasa kasihan. "Aku akan membantu kalian." lirih Bulan dengan nada yang terdengar mendesah.
Dan.....
Dengan cepat Bulan turun dari ranjang, lalu keluar dari kamar sembari tertawa lepas. "Mao kemana sayang....??!" teriak Jeno melihat Bulan malah berlari keluar.
Jeno tertawa pelan. "Dasar. Lagi pula, aku tidak yakin kamu mau melakukannya. Begitu juga aku." ujar Jeno tersenyum, menatap ke belalainya yang masih mengeras.
__ADS_1
"Sabar,,,, jika sudah waktunya, puas-puaslah kamu berada di sarang." ujar Jeno tersenyum miring.