PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 138


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jevo, disaat dirinya dan Jeno berada di dalam mobil yang sedang melaju kencang ke tempat di mana Gara berada, yakni di markas.


Mau tak mau, Jeno mengatakan dengan jujur apa yang terjadi. Terlebih Jevo saat ini berada dalam satu mobil dengannya, ikut kemana dia akan pergi.


"Bulan sedang melakukan misi. Dan gue merasa khawatir." ucap Jeno, tak mengatakan secara terperinci.


Jevo terdiam, tak segera menyahuti perkataan saudara kembarnya tersebut. Ditatapnya wajah sang saudara dari samping. Tampak jelas raut cemas tergambar di wajah Jeno.


Jevo mengeluarkan ponsel, tanpa sepengetahuan Jeno, dia menghubungi kedua sahabatnya. Arya dan Mikel lewat pesan tertulis. Menyuruh keduanya untuk menyusul mereka ke markas.


Jevo hanya berjaga-jaga. Seandainya tenaga mereka tak diperlukan, tak apa. Mereka bisa pulang kembali. Tapi Jevo merasa lebih baik memanggil mereka terlebih dulu. Yang lain, dipikir belakangan.


"Gue yakin, Bulan sudah terbiasa melakukannya. Ingat Jeno, ini pekerjaan Bulan. Dan dia melakukannya sebelum kalian saling kenal. Gue rasa, Bulan akan baik-baik saja." tutur Jevo dengan lembut.


Jevo berharap perkataannya tersebut bisa membuat Jeno tak merasa cemas lagi. Tapi percuma, hati kecil Jeno tetap merasakan hal tak enak.


"Aku tahu. Aku sadar. Itu memang pekerjaan Bulan. Tapi entah kenapa, hati ini tetap merasa cemas." lirih Jeno menambah laju mobilnya, agar lekas sampai di markas.


"Aku merasa, akan terjadi sesuatu dengan Bulan." lanjut Jeno dengan lirih.


Jevo hanya bisa menghela nafas. Dirinya tak bisa menyalahkan Jeno. Apalagi ada kata cinta di antara mereka. Wajar jika Jeno merasakan hal tersebut.


Tapi, Jevo berharap Jeno bisa mengendalikan dirinya. Mengingat hal tersebut adalah pekerjaan Bulan. Jika Jeno tak bisa mengendalikan perasaan, yang ada dia malah akan dibuat pusing sendiri.


Jevo hanya bisa menghela nafas. Dirinya memang menyukai Bulan. Tapi, melihat besarnya rasa khawatir sang saudara, kini dia sadar. Jika rasa cinta yang Jeno miliki untuk Bulan lebih besar dari pada yang dia miliki.


Jevo tersenyum dalam hati. "Mungkin, gue hanya sekedar suka." batinnya, yang memang mempunyai jiwa petualang untuk menaklukkan perempuan yang menantang di matanya.


"Semoga Bulan baik-baik saja." batin Jevo berharap. Bukan untuk dirinya tapi untuk saudara kembarnya, Jeno. Melihat bagaimana rasa cemas yang Jeno rasakan, Jevo hanya takut. Seandainya terjadi sesuatu dengan Bulan, pasti Jeno juga akan hancur.


Dan Jevo tak ingin saudara yang dia sayang merasakan hal tersebut. "Lindungi Bulan,,, Tuhan. Jaga dia untuk kami. Terutama Jeno." batinnya.


Jeno menyadari ada sebuah mobil dibelakangnya yang dia lihat dari kaca pantau. Meski dari jarak yang lumayan jauh. Tapi Jeno bisa melihat dari lampu mobil mereka yang menyala. "Arya dan Mikel." tukas Jevo memberitahu Jeno.


"Sorry, gue hanya berjaga-jaga. Jika tenaga mereka tidak diperlukan, mereka bisa pulang. Gue juga." lanjut Jevo menjelaskan, manakala dia mendapat lirikan tajam dari saudara kembarnya tersebut.


Tak ingin berdebat dan memperpanjang masalah, Jeno membiarkan saja. Toh, mereka juga sudah tahu siapa sebenarnya Bulan.


Mungkin, apa yang dikatakan saudara kembarnya ada benarnya. Mereka berdua bisa membantunya untuk mengawasi serta memberi pertolongan pada Bulan. Itupun jika diperlukan.


Sampai di markas, Jeno langsung keluar dari dalam mobil. Tanpa bertegur sapa dengan Arya dan Mikel yang juga baru saja sampai.


Jeno menghampiri Gara yang duduk di depan layar yang menyala. Wajah Gara juga tampak tegang sembari menatap layar-layar tersebut. Dan hal tersebut semakin membuat Jeno cemas. Karena dapat dipastikan, jika Gara tengah memantau pergerakan Bulan.


Jeno menatap ke layar. Tapi sial,, tak ada wajah Bulan di salah satu layar tersebut. Hanya ada beberapa lelaki yang berdiri, dan sebagian berjalan. Segera fokus Jeno kembali pada Gara.


Gara merasa heran, lewat tengah malah, keempat lelaki yang masih SMA mendatanginya. "Kalian, ada apa?" tanya Gara. "Atau,,, kalian dari mana?" tanya Gara lagi merasa penasaran.


Jeno mengambil kursi. Duduk tepat di depan Gara. Sementara Jevo berdiri di belakang Jeno. Arya dan Mikel duduk tak jauh dari kursi mereka bertiga. "Gara, katakan. Beritahu aku, dimana Bulan berada?" pinta Jeno dengan sungguh, langsung mengatakan niatnya mendatangi Gara.


Arya dan Mikel sejenak saling pandang. Keduanya sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Termasuk di saat ini, dimana Bulan sedang menjalankan misi.


Mereka hanya diberitahu Jevo lewat pesan tertulis, jika keadaan darurat, dan menyuruh mereka segera ke markas untuk menyusul. Arya dan Mikel datang bersama dengan satu mobil. Karena setelah dari club malam, Arya menginap di apartemen Mikel.


Sehingga Arya dan Mikel hanya bisa diam. Mendengarkan dan menyimak apa yang mereka bicarakan, sehingga tahu apa yang sebenarnya terjadi dari perbincangan mereka.


Gara mendengus sebal. "Kenapa elo berubah pikiran?!" geram Gara. Padahal siang tadi keduanya sudah berbicara. Dan Jeno mengerti kenapa Bulan melarangnya untuk ikut terlibat dalam penyelematan dua perempuan yang Bulan lakukan malam ini juga.


"Aku mohon, beritahu aku. Dimana Bulan berada." pinta Jeno lagi dengan nada iba. Berharap Gara luluh dan memberitahunya.


Jevo hanya bisa memandang sendu pada saudara kembarnya. "Jeno, elo dengar sendiri apa yang Bulan katakan. Di sana sangat berbahaya. Dan itu salah satu alasan Bulan tidak mau elo ikut, atau terlibat." ujar Gara, kembali mengingatkan Jeno.


Jeno meraup wajahnya yang kusut dengan kasar. "Aku tahu. Aku sadar. Aku paham. Tapi ini masalah hati." Jeno menunjuk ke arah dadanya sendiri. "Sumpah Gara,,,, hati gue nggak tenang....!!" teriak Jeno kehilangan pengendalian emosinya.


"Jeno." panggil Jevo seraya memegang pundak Jeno. Takut jika Jeno malah menyerang Gara demi mendapatkan apa yang dia inginkan.


Jeno memijat pangkal hidungnya seraya mengusap air mata yang sudah terkumpul di kedua pelupuk matanya. "Gue benar-benar khawatir." lirihnya.


Jeno menunduk. Dari suaranya, sudah bisa ditebak jika dia tengah menahan air mata. "Bulan,,, dia ke sana sendiri. Menyelamatkan dua nyawa. Jika saja kedua orang yang diselamatkan Bulan bisa mempunyai keahlian seperti Bulan, gue nggak khawatir. Tapi ini, mereka berdua hanya perempuan kalem, yang bahkan memegang pisau saja tidak pernah." tutur Jeno dengan lirih.

__ADS_1


Semua terdiam. Mikel dan Arya berdiri dari duduknya. Sekarang keduanya mengerti. Jika Jeno khawatir akan keselamatan Bulan.


Untuk pertama kalinya bagi mereka melihat Jeno seperti ini. Dan juga bagi Jevo, ini pertama kalinya dia melihat saudara kembarnya menangis karena seorang perempuan. Terlihat sangat putus asa.


Gara menatap lamat ke arah Jeno yang menunduk dengan pundak bergetar. "Sedalam apa perasan elo pada Bulan." batin Gara, sebab dia melihat Jeno begitu khawatir pada Bulan. Melebihi dirinya.


Gara mulai berpikir, apa yang dikatakan Jeno memang benar. Bulan menyelamatkan dua nyawa perempuan. Melawan lebih dari lima puluh orang.


Jika kedua perempuan tersebut bisa diandalkan, mungkin Gara akan tenang. Tapi lagi-lagi perkataan Jeno benar, memegang pisau saja mungkin mereka tak pernah. Apalagi membantu Bulan.


Bukan tak mustahil, Bulan akan mengalami kesulitan. Meski hingga detik ini, dengan buah kesabaran Bulan, mereka masih dalam keadaan baik-baik saja.


Tapi tetap bisa saja, Bulan akan rela kehilangan nyawa demi mereka berdua. Perkataan Jeno sungguh membuat ketenangan hati Gara terusik. Dirinya sekarang juga sama dengan Jeno. Khawatir Bulan akan celaka.


"Gara." panggil Jevo. Membuat Jevo dan Gara bersitatap. "Tolong. Apapun yang elo minta akan gue lakukan. Katakan, dimana Bulan berada." tutur Jevo, tak tega melihat saudara kembarnya frustasi di depannya.


"Gara,,, Jeno seperti ini karena dia khawatir. Maaf, sebenarnya gue juga nggak tahu apa yang bu Bulan lakukan sekarang. Atau, bagaimana kondisi di sana. Tapi, gue rasa elo lebih paham dan tahu kondisi di sana bagaimana." timpal Mikel, berharap Gara kembali memikirkan keinginan Jeno.


"Benar. Jika memang bu Bulan dalam keadaan baik. Kita tidak akan ikut. Cukup Jeno saja yang ke sana. Gue yakin, Jeno hanya memandang dari jarak jauh. Jadi elo nggak perlu khawatir jika Jeno membuat ulah." tukas Arya ikut bersuara.


Keteguhan hati Gara benar-benar goyah dengan perkataan para lelaki yang masih duduk di bangku SMA tersebut. Keamanan Bulan. Yang sama artinya dengan keselamatan Bulan.


Gara terdiam. Dia kembali berpikir keras. Menatap ke arah layar. "Jika Bulan sendiri, dia pasti akan keluar dengan mudah. Sama seperti saat dia masuk. Tapi..." batin Gara, yang tahu jika Bulan sama sekali tak mengeluarkan senjata karena tidak ingin ada yang tahu, jika dirinya ada di dalam.


Tentu saja Gara tahu alasan Bulan memutuskan untuk keluar secara diam-diam, ketimbang memilih baku hantam. Nyawa dua perempuan yang dia selamatkan adalah kuncinya. Keduanya adalah hal yang terpenting, lebih dari nyawanya sendiri.


"Jangan sampai Bulan mengorbankan dirinya. Hanya untuk melindungi mereka berdua. Atau malah,,,," batin Gara, menebak kejadian paling buruk. Yakni ketiganya keluar dalam keadaan tidak bernyawa.


Jeno mengusap air matanya, mengangkat kepalanya dan menatap Gara penuh harap. "Ada satu syarat yang harus elo penuhi." ucap Gara yang akhirnya mau menuruti apa yang diinginkan Jeno.


"Katakan." sahut Jeno dengan segera, raut wajahnya berubah seketika. Saat mendengar Gara bersuara. D


"Jaga hati elo hanya untuk Bulan. Dan jangan pernah membuat dia meneteskan air mata." pinta Gara.


Jeno memeluk tubuh Gara. "Jangan pernah meminta hal itu. Bahkan tanpa kamu minta, nyawa saja akan aku berikan untuk Bulan." tukas Jeno.


Gara dan Jeno mengurai pelukan mereka. "Terimakasih." cicit Jeno.


Gara menunjuk dengan jari telunjuknya ke satu arah. "Salah satu dari kalian, buka telapak tangan kalian dengan lebar. Arahkan ke atas, tepat di titik berwarna abu-abu itu." suruh Gara, karenakan Gara yang tak bisa berdiri, dan hanya bisa duduk di kursi roda.


Arya maju, melakukan apa yang Gara katakan. Bersamaan dengan Arya melakukan apa yang Gara ucapkan, tembok di depan mereka bergoyang.


Tak pelak, Arya segera mundur. Juga dengan ketiganya yang tentunya sama dengan Arya yang terkejut. Tapi tidak dengan Gara yang sudah tahu terlebih dahulu.


Mikel, Arya, Jevo, dan Jeno saling pandang. Mereka lebih lama tinggal di markas ketimbang Gara. Tapi, mereka sama sekali tidak mengetahui hal tersebut. Jika ada ruangan lain di balik tembok ini.


Gara mendorong kursi rodanya masuk ke dalam ruangan. "Waoww..." puji Arya, melihat bagaimana bagusnya dekorasi ruangan tersebut.


"Jangan banyak bertanya. Kita tidak untuk itu masuk ke ruangan ini." ujar Gara terlebih dahulu, sebelum ada yang mengajukan pertanyaan pada dirinya.


Tanpa sengaja, Jeno melihat sebuah lukisan mirip dengan wajah Bulan. Hanya saja, lukisan tersebut di lukis dari samping, dengan objek sang perempuan mempunyai rambut pendek.


Tapi Jeno tahu, bukan saatnya bertanya apapun pada Gara. Dirinya saja tak tahu, mengapa Gara malah mengajak mereka ke sini. Bukan menyebutkan alamat yang saat ini Bulan datangi.


Gara mendekat ke sebua meja yang berbentuk persegi panjang. Membuka laci di bawahnya. "Waaaahhhh...." seru Mikel melongo melihat apa yang ada di dalam laci tersebut.


Gara memutar kursi rodanya. Menatap keempat lelaki di depannya yang fokus dengan apa yang ada di dalam laci.


"Bulan sekarang berada di sebuah rumah mewah dan besar." ungkap Gara, membuat keempatnya beralih kembali memandangnya. Mengabaikan senjata api yang berjejer rapi di dalam laci.


"Di sana, dijaga lebih dari lima puluh penjaga yang memegang senjata api." lanjut Gara memberitahu.


Jevo dan Arya serta Mikel melangkahkan kakinya selangkah ke belakang. Tidak dengan Jeno yang masih berdiri mematung di tempatnya.


Penjelasan dari Gara membuat mereka syok bercampur takut. Bukan takut untuk ke sana. Melainkan takut dan cemas dengan keadaan Bulan. Dimana dia sendiri masuk ke dalam sarang musuh. Tanpa ada hang membantu.


Jeno menatap tajam ke arah Gara. "Bulan bisa masuk dengan mudah. Tanpa ada yang menyadarinya. Bulan juga sudah mengeluarkan kedua perempuan tersebut dari kamarnya. Dan sekarang mereka ada di lantai dasar. Tepatnya di kamar pembantu." ungkap Gara dengan detail.


"Maaf. Sebenarnya gue juga khawatir. Seorang Bulan, akan bisa masuk dan keluar dari sarang musuh dengan mudah. Bahkan, jika dia seorang diri melawan seratus orangpun, gue yakin jika Bulan akan keluar sebagai pemenang." jelas Gara menjeda kalimatnya.

__ADS_1


"Tapi,,,,"


"Tapi kali ini berbeda. Dia keluar dengan membawa dua nyawa. Dan mereka berdua harus selamat." ujar Jeno memotong perkataan Gara.


"Siapa sebenarnya mereka?" tanya Mikel semakin penasaran.


"Kalian, gue yakin pernah memegang senjata. Hanya untuk berjaga-jaga. Pilih senjata yang kalian ingin bawa." pinta Gara, tak menjawab pertanyaan dari Mikel. Juga dengan Jeno.


Sebab, keduanya sadar. Jika bukan wewenang mereka untuk menjelaskan siapa keduanya. "Ambillah." Gara menyingkir dari depan laci.


Keempatnya mengambil sebuah senjata. "Apa di dalam sudah ada amunisinya?" tanya Arya.


Gara mengangguk. "Ada."


"Kita harus segera ke sana. Gara, katakan alamatnya." pinta Jeno, sembari menyimpan senjata api tersebut di balik jaket yang dia kenakan.


"Gue akan ikut." ujar Gara, membuat semua terdiam seperti patung, menatap intens ke arahnya.


"Tidak...!! Kamu tetap di markas...!!" tolak Jeno.


"Jika begitu, kalian tidak akan pernah ke sana." ancam Gara, tidak akan memberitahu alamat rumah tersebut jika dirinya tidak ikut serta.


"Gara...!! Jangan membuat masalah." tukas Jevo. Merasa sebal dengan sikap Gara. Tadi tidak ingin memberitahu alamatnya. Saat dia mau memberitahu, dia malah akan ikut.


"Kalian tenang saja. Meski gue cacat, gue tidak akan menyusahkan kalian." tekan Gara, seolah bisa membaca apa yang mereka pikirkan.


"Astaga,,, bukan itu Gara. Meski elo,,, maaf,,, cacat. Tapi kita tahu kehebatan elo. Hanya saja, gue nggak mau disalahkan bu Bulan." timpal Mikel, takut jika Gara malah salah paham dengan mereka.


"Benar Gara. Pasti nanti kita kena marah sama bu Bulan." sahut Arya, berharap Gara mengurungkan niatnya.


"Ccckkk,,,, kalian pikir gue bodoh. Meski gue nggak ikut, gue tetap dimarahi Bulan." sungut Gara berdecak. Karena telah memberikan alamat rumah tersebut pada mereka. Bahkan membiarkan mereka menyusul Bulan.


"Kita berangkat sekarang." tegas Jeno, yang artinya dia tidak keberatan sama sekali jika Gara ikut serta.


Akan terlalu lama, dan malah membuang-buang waktu, dan mengukur waktu jika mereka terus saja berdebat. Yang ada, mereka malah tak jadi pergi. Atau batal.


"Elo yakin?" tanya Jevo, saat Jeno mengatakan hal tersebut. Yang artinya menyetujui permintaan Gara.


"Gara sudah dewasa. Bahkan lebih tua dari kita. Aku yakin, dia tahu apa yang terbaik." jelas Jeno.


Kelima lelaki tersebut keluar dari markas menggunakan dua mobil. Jevo dan Jeno serta Gara dalam satu mobil. Berada di depan.


"Gue minta, elo jangan bertindak gegabah. Gue akan katakan pada Bulan. Jika kita menyusulnya." jelas Gara.


Jevo dan Jeno hanya diam, mendengarkan apa yang Gara katakan. "Satu lagi. Bulan pimpinan kita. Ujung tombak kita saat bergerak. Kita harus melakukan sesuai apa yang Bulan perintahkan. Tanpa harus bertanya atau menyanggahnya." lanjut Gara, tak ingin Jeno terkuasai emosinya.


"Baik." sahut Jevo dan Jeno.


Sedangkan Mikel dan Arya berada dalam satu mobil, dan mereka mengekor di belakang mobil yang dikemudikan oleh Jeno.


"Gila,,, baru kali ini gue merasa gugup. Ada perasan takut bercampur rasa khawatir." celetuk Arya.


Mikel melirik ke arah sahabatnya tersebut. "Elo tetap di dalam mobil saja. Pasti aman." sindir Mikel.


"Cckkk,,, elo pikir gue lelaki apaan. Gue lelaki tulen. Tentu saja gue berani. Apa gunanya senjata api yang gue bawa." ujar Arya dengan nada sombong.


"Baguslah kalau sadar." cibir Mikel.


Arya hanya memasang ekspresi kesal, menatap lurus ke depan. Dimana ada mobil Jeno yang melaju dengan kencang. "Naik motor takut. Mengendari mobil kayak pembalap saja." lagi-lagi, mulut cerewet Arya tak bisa diam.


"Kenapa mulut elo selalu saja mengurusi urusan orang." sahut Mikel menggeleng heran.


"Itulah gunanya punya mulut. Harus mengurusi urusan orang. Nggak afdol jika hanya diam dan melihat tanpa berkomentar." ujar Arya dengan kecerewetannya.


Keadaan hening sejenak. "Sebenarnya kemana mereka akan membawa kita?" tanya Arya mengeluarkan suaranya lagi.


"Lalu gue harus bertanya pada atap mobil." celetuk Mikel, yang juga tidak tahu jawaban atas pertanyaan Arya.


"Coba elo tanya. Siapa tahu dijawab." sahut Arya tak ingin kalah.

__ADS_1


Mikel memilih diam, fokus menyetir. Sebab Jeno menambah laju mobilnya. Tak lagi menyahuti apa yang Arya ucapkan. Dia sadar, jika Arya akan tetap menang jika berdebat. Dan dia akan tetap kalah.


__ADS_2