
Ting...
Terdengar sebuah pesan masuk ke dalam ponsel milik Gara. Dengan santai tanpa rasa curiga, Gara melihat siapa pengirim pesan tersebut.
Sebuah pesan bergambar dari seseorang yang tidak dia kenal. Sebab hanya tertera angka di layar ponsel Gara. Tanpa nama. Menandakan jika Gara tidak mengenal si pengirim, dan tidak menyimpan nomor ponsel tersebut.
Kedua mata Gara terbuka sempurna melihat foto yang dikirimkan kepada dirinya. "Mereka. Dari mana mereka mendapatkan foto ini." cicit Gara, dengan wajah memucat seketika.
Dengan mudah gara menebak siapa pengirimnya. "Lalu nomor ponsel gue. Kenapa? Kenapa secepat ini?" tukas Gara dengan tangan gemetar.
Sebuah foto, dimana Gara berada di area parkir apartemen Mikel. Dan terlihat jelas, Gara sedang berada di sebuah kursi roda yang didorong oleh Mikel. Dan Arya berdiri di samping keduanya.
Jarak waktu pengambilan foto dirinya di area parkir apartemen Mikel dan sekarang cukup dekat. Tidak ada seminggu. Ya,,,, mereka segera bertindak dengan cepat. Mencari tahu nomor ponsel Gara setelah salah satu dari mereka melihat keberadaan Gara.
Rahang Gara mengeras, manakala sebuah pesan tertulis masuk ke dalam ponselnya. Dimana isi pesan tersebut adalah sebuah permintaan beserta sebuah ancaman. Tentunya ditujukan pada dirinya, jika tidak menuruti apa yang mereka inginkan.
Yang isinya, Gara harus bertemu dengan mereka. Jika sampai Gara tidak datang, maka nyawa Mikel dan Arya taruhannya. Atau nyawa keluarga keduanya juga akan menjadi tumbal dari ketakutan Gara.
Gara tak segera membalas pesan tersebut. Saat Gara ingin memberitahu Bulan, sebuah pesan tertulis kembali masuk ke dalam ponselnya.
Mengatakan jika Gara tidak boleh memberitahu siapapun. Atau dia akan menyesal seumur hidup. "Berpikirlah Gara." ujar Gara pada dirinya sendiri.
Otak Gara seketika menjadi tumpul, dan tak bisa berpikir saat sebuah ancaman yang membawa kata nyawa tertulis di sana. "Jangan sampai terjadi sesuatu pada mereka. Aku sungguh tidak rela." cicit Gara.
Gara yang merasa kehidupannya sudah sangat tenang dan nyaman dengan kehadiran mereka, tentu saja tidak rela jika mereka semua celaka atau mengalami masalah karena dirinya.
"Jangan sampai mereka tahu, jika gue berhubungan dengan Sapna." gumam Gara merasa cemas.
Gara tersenyum. Mengangguk yakin. "Benar. Gue akan menyetujui untuk bertemu mereka. Tapi di sini. Iya. Dengan begitu, gue bisa mempersiapkan semuanya." ujar Gara dengan semua rencana yang ada di otaknya.
Gara berani mengambil keputusan untuk mengatakan alamatnya, untuk menjebak mereka datang kepada dirinya.
Dengan keadaan Gara yang seperti sekarang, tentu saja Gara tidak berani keluar dari markas. Dan hanya markas, tempat satu-satunya yang Gara sangat hapal di luar kepala. "Gue akan membantai mereka di sini." gumam Gara berencana.
Ting.....
Sebuah pesan tertulis kembali masuk ke dalam ponsel Gara. "Apa...!!! Bagaimana mereka juga tahu markas ini...?!" seru Gara tidak percaya dengan tulisan yang dia baca sendiri. Membuat rencananya gagal terlebih dahulu.
Mereka mengatakan ingin bertemu di markas besar mereka. Bukan di tempat tinggal Gara sekarang. Bahkan mereka dengan detail menyebutkan tempat tinggal Gara sekarang.
"Bahkan sudah sejauh ini. Dan gue juga tidak mencium pergerakan mereka. Juga Bulan." ujar Gara.
Kemungkinan besar mereka tahu apa yang akan terjadi, jika mereka bertamu ke tempat tinggal Gara. Buktinya, mereka sama sekali tidak menyerang Gara. Padahal mereka tahu dimana Gara tinggal.
Gara memejamkan kedua matanya. "****...!! Gara, elo harus berani. Jika elo yang datang, sendiri. Kemungkinan nyawa elo yang akan lenyap. Tapi jika elo tetap di sini. Semua. Mereka semua akan berada di dalam masalah. Bahkan mereka bisa dihabisi dengan tidak manusiawi." ujar Gara berpikir.
Gara lebih memilih kehilangan nyawanya. Dari pada mereka semua yang akan celaka. "Maaf, gue tidak bisa berpamitan. Tapi yang harus kalian tahu. Gue sangat menyayangi kalian."
Gara menulis sebuah pesan. Mengirimkannya pada mereka. Jika dirinya setuju untuk bertemu dengan mereka sesuai tempat yang mereka inginkan.
Asalkan Gara di jemput. Pastinya mereka tahu alasan Gara mengajukan syarat ini. Dan pastinya mereka juga tahu, keadaan Gara saat ini.
Tidak membutuhkan waktu lama. Hanya beberapa detik, pesan Gara dibalas oleh mereka. Dan mereka menyetujuinya. Tapi juga dengan sebuah syarat.
Gara harus keluar dari tempat tingga Gara. Dan berjalan sendiri dengan kurai rodanya ke jalan yang ada di dekat markas. Kurang lebih tiga ratus meter dari tempat Gara berada.
Dan di sana sudah tersedia sebuah mobil khusus yang bisa dipakai oleh Gara. "Bahkan mereka menyiapkan mobil khusus." gumam Gara merasa semua sudah terencana dengan baik.
"Mereka tidak mau mengambil resiko. Membiarkan gue pergi ke sana seorang diri. Benar-benar pemikiran yang jeli." lanjut Gara.
Tentu saja Gara menyetujuinya. Dia tidak punya pilihan lain untuk mengambil resiko. "Sebelum berangkat, ada yang harus gue lakukan."
Gara berada di depan layar, jari jemarinya dengan lincah berada di atas keyboard. "Maaf, gue tidak ingin kalian tahu jika gue pergi." tukas Gara dengan ekspresi sendu.
Gara berpikir, lebih baik mereka tidak tahu apa yang terjadi. Jika sampai mereka tahu. Terutama Bulan, pasti mereka akan datang. Tak lupa, dia juga menonaktifkan ponselnya.
Gara hanya takut, mereka akan kalah. Sebab jumlah mereka hanya beberapa orang. Sementara musuh berjumlah ratusan. "Selamat tinggal. Maaf Sapna, gue ternyata bukan lelaki terbaik untuk bisa berada di dekat kamu." tukas Gara dengan nada sedih sembari tersenyum getir.
Selain itu, Gara sangat tahu betapa liciknya mereka dalam setiap bertindak atau bekerja. Terbukti hingga detik ini, pihak berwajib pun kesulitan untuk menyentuh mereka.
"Bulan, gue yakin. Dengan elo berada di kursi itu. Sebentar lagi elo akan mewujudkan keinginan elo. Menangkap mereka semua. Membalaskan dendam gue." tekan Gara yakin dengan kemampuan sahabatnya.
Sayangnya, Gara tidak yakin dengan kemampuan mereka semua melindungi dirinya. Dan memilih menyerahkan diri. Gara berpikir, jika lebih baik kehilangan satu nyawa, dari pada banyak nyawa.
Selesai Gara memblokade sistem masuk ke kamera CCTV, dia lantas segera pergi meninggalkan markas. "Selamat tinggal. Kalian lampu penerang buat gue. Dan gue tidak akan membiarkan mereka memadamkannya."
Di depan markas. Gara berhenti sejenak. Menoleh ke belakang. Ada rasa tidak rela meninggalkan tempat tersebut. "Ingat Gara. Mereka mungkin akan bersedih, tapi hanya sebentar. Setelah itu, gue yakin. Mereka akan kembali seperti semula."
__ADS_1
Gara menghela nafas panjang dan menghembuskan secara perlahan. Mendorong roda di kursinya untuk berjalan ke depan. "Bulan, gue titip Sapna. Gue percaya, elo bisa menjaga Sapna. Jika bisa jodohkan saja Sapna dengan salah satu dari mereka. Gue ikhlas." cicit Gara, menghentikan gerakannya.
Gara menyeka air mata yang hendak jatuh ke pipi. Mengingat Sapna, membuat perasaan Gara menjadi campur aduk. "Tapi memang ini yang terbaik." tukas Gara berpikir pendek.
Dirinya sadar, jika dia dan Sapna tidak akan pernah bersatu, meski mereka berdua saling mencintai. Gara sadar, pastinya kedua orang tua Sapna tidak akan memberikan restu. Jika mereka tahu kehidupan Gara.
Bukan perkara soal uang atau harta dan jabatan. Gara yakin, jika kedua orang tua Sapna bukan tipe orang yang memandang kekayaan sebagai syarat utama. Tapi semua berbicara tentang kebebasan.
Gara selamanya akan tetap mengurung diri karena ada banyak orang yang mengincar nyawanya. Dan orang tua mana yang akan menyetujui sang putri bersama orang seperti dirinya.
Yang ada, kehidupan Sapna malah akan semakin terancam jika bersama dengan Gara. Dan nyawanya juga pasti akan terancam.
Apalagi Gara menolak rencana Bulan untuk mengubah wajahnya. Dan memulai hidup dengan identitas baru.
"Gue yakin, meski gue menggunakan wajah baru. Serta identitas baru, mereka akan terap bisa menemukan gue." cicit Gara, yang tahu betapa hebatnya majikannya yang dulu.
Gara melihat sebuah mobil terparkir di pinggir jalan. Dengan pintu yang sudah terbuka tepat di bagian kursi kemudi. Gara melihat di dalamnya tidak ada kursi kemudi. Dan ada sebuah tangga berukuran besar yang akan membawanya naik ke dalam.
"Kenapa dia repot-repot menyiapkan semua ini. Padahal dia bisa menyuruh bawahannya untuk menjemput gue." cicit Gata tidak bisa menebak pikiran mantan atasannya.
Gara menempatkan kursi rodanya di sebuah tangga yang berukuran sama seperti kursi rodanya. Dan secara perlahan, Gara beserta kursi rodanya terangkat. Dan bergeser tepat di depan kemudi.
Pintu mobil pun juga tertutup otomatis saat Gara sudah berada di dalam. "Apa yang dia ingin perlihatkan pada gue."
Gara yakin, jika semua yang dia lihat mempunyai maksud tersendiri. Dan entah apa itu. Gara tidak tahu. Gara tersenyum miring melihat semua yang ada di dalam mobil bahkan sudah dimodifikasi.
Dan mobil tersebut sangat cocok digunakan orang berkebutuhan khusus seperti dirinya. Sehingga membuat Gara bisa kembali memegang stir, setelah bertahun-tahun tidak melakukannya.
Terdengar kekehan kecil dari mulut Gara. "Pasti dia ingin memperlihatkan. Jika kekuatan serta kekuasaannya tak pernah berubah sejak dulu. Dan malah semakin kuat." tebak Gara tersenyum kecut.
Gara mulai menjalankan mobil tersebut. Meski dirinya sudah bertahun-tahun tidak mengemudi, tapi Gara terlihat begitu santai dan tenang saat mengemudi. Tak ada ekspresi gugup atau cemas di wajahnya.
Dalam perjalanan, dia melihat mobil Jeno yang berjalan ke arah berlawanan dengan dirinya. "Kalian. Berbahagialah. Gue percaya sama elo Jeno. Sayangi Bulan. Dia perempuan baik dan tulus." lirih Gara menghela nafas dan mengedipkan kedua matanya berkali-kali.
"Air mata ini, bukan air mata ketakutan. Tapi juga bukan air mata sedih, karena ajal akan menjemput. Tapi air mata kebahagiaan. Karena Tuhan masih memberi kesempatan pada bajingan seperti gue untuk merasakan kehidupan normal dan nyaman. Bersama kalian semua." ujar Gara tersenyum, mengingat satu persatu wajah mereka.
Seperti yang diinginkan Bulan, keduanya langsung pergi ke markas setelah selesai makan. Bulan ingin sang kekasih berbicara dari hati ke hati dengan Gara. Membujuk Gara supaya mau melakukan rencana Bulan.
"Gara....!!" teriak Bulan, tak mendapati Gara di markas. Setelah mereka berdua masuk ke dalam.
Jeno menggeleng. Dia sama seperti Bulan yang tidak menemukan keberadaan Gara di sana. "Kemana dia?" lirih Bulan tak dapat menyembunyikan rasa cemasnya.
"Biar aku hubungi Mikel, siapa tahu dia ada di apartemen Mikel." cicit Jeno.
Bulan langsung duduk di kursi dengan tangan menari lincah si atas keyboard. Memeriksa CCTV yang ada di markas. "Sial...!! Kenapa ini....!?" seru Bulan, saat dirinya tidak bisa mengakses sistem untuk masuk ke CCTV yang ada di markas.
"Gara tidak bersama mereka." cicit Jeno, setelah menghubungi Mikel.
"Tuhan... Kenapa perasaan ku tidak enak." tukas Bulan.
"Minggirlah. Biar aku coba." pinta Jeno, membuat Bulan berdiri dari duduknya. Untuk digantikan oleh Jeno. Tapi tetap saja, Jeno juga tidak bisa melakukannya.
Bulan menghela nafas panjang. Sungguh, pikirannya langsung kacau begitu mengetahui jika Gara tidak berada di markas.
Bulan duduk di kursi. Menenangkan diri. Bulan tahu, jika dia tidak akan bisa berpikir jika dia stres dan berpikir negatif. Yang ada semua malah kacau.
"Bagaimana? Apa kalian menemukannya?" tanya Jevo begitu dia dan Arya serta Mikel tiba di markas.
Ketiganya yang memang sedang nongkrong di sebuah cafe, saat Jeno menghubungi Mikel. Sehingga mereka bisa bersama datang ke sini. "Dimana Gara? Bagaimana dengan ponselnya?" tanya Mikel.
Bulan menggeleng. Meraup wajahnya dengan kasar. Sedangkan Arya langsung duduk di kursi sebelah Jeno. Membantu Jeno melacak keberadaan Gara, tapi tetap tidak ketemu.
"Apa elo sudah melihat CCTV?" tanya Arya.
"Tidak bisa. Sepertinya seseorang sengaja membuat penghalang supaya kita tidak bisa melihat melalui CCTV." jelas Jeno.
"Sapna. Mungkin dia bersama dengan Sapna." tebak Mikel.
"Jangan menghubungi Sapna. Gara tidak bersama dengan Sapna. Dia sedang bekerja." cegah Bulan.
"Lebih baik kita bertanya pada Sapna dulu." tutur Jevo memberi saran.
"Dan semua malah akan runyam." sahut Arya, dengan pandangan fokus ke layar yang ada di depannya. Serta jari-jemari yang bergerak lincah di aras keyboard.
"Benar juga. Tidak mungkin Gara bersama dengan Sapna. Tapi siapa tahu dia ada di sana." kekeh Mikel.
"Tidak ada. Lihat ini." tukas Jeno, memperlihatkan sebuah video dimana Sapna sedang bekerja di toko bunga bersama beberapa pegawai yang lain. Dan terlihat Sapna nampak begitu senang dengan pekerjaan barunya, melayani pembeli.
__ADS_1
Semua terdiam. Mencoba mencari keberadaan Gara lewat tebakan saja. Sebab tidak ada yang bisa mengetahui keberadaan Gara sekarang.
"Sebentar lagi matahari akan bersembunyi. Gara,,, dimana dia?" cicit Arya.
Bukan hanya Bulan yang merasa khawatir dan cemas akan keberadaan Gara sekarang. Tapi semuanya.
Bulan teringat dirinya sekelebat melihat Gara mengendarai mobil saat dia berada di jalan bersama Jeno.
"Apa mungkin dia benar-benar Gara?" batin Bulan mulai menebak.
"Minggir." pinta Bulan pada Arya atau Jeno. "Apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Jeno, setelah dia berdiri, digantikan Bulan yang duduk di sana.
"Mungkin. Tapi aku juga belum begitu yakin." tukas Bulan, mencari petunjuk keberadaan Gara lewat kamera CCTV yang ada di jalan.
"Ini, benar. Mobil ini." Bulan memperbesar tampilan layar, sehingga dia dan yang lainnya dapat melihat nomor kendaraan dari mobil tersebut.
"Arya, cari tahu siapa pemilik mobil ini." pinta Bulan setelah menyebutkan nomor kendaraan yang dia tebak adalah mobil yang dipakai oleh Gara.
"Mobil ini sepertinya mati pajaknya. Dan baru saja keluar dari bengkel untuk dimodifikasi." jelas Arya setelah menyelidikinya.
Sementara Bulan terus memantau pergerakan mobil yang dia yakini dikendarai oleh Gara. "Pantas, jika Gara bisa menyetir. Siapa yang mengirimkannya untuk dia?" cicit Bulan.
"Mobil yang telah dimodifikasi. Dan Gara menyetir sendiri. Tapi bagaimana bisa. Tidak mungkin Gara melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan kita. Dia sama sekali tidak menginginkan untuk pergi ke dunia luar." jelas Mikel merasa ada yang aneh atas kepergian Gara.
"Berarti, ada seseorang yang sengaja mengirimkannya untuk Gara." tebak Jevo.
"Apa tujuannya?" tanya Arya.
"Mereka atau dia. Atau siapapun itu. Dia menginginkan Gara pergi ke suatu tempat. Tanpa kita ketahui alamatnya." sahut Jeno dengan yakin. Jika Gara pergi dengan keterpaksaan. Bukan kemauannya sendiri.
"Hanya kelompok itu yang mungkin melakukannya." tebak Arya.
Semua mata memandang ke arah Bulan yang masih fokus ke layar. Meski mereka yakin, jika Bulan mendengar apa yang mereka semua katakan.
"Apa elo sudah melacak lokasi ponsel Gara?" tanya Mikel memecah keheningan.
"Nomornya sudah tidak bisa dihubungi." sahut Arya.
"Kita saja tidak bisa masuk dan mengakses kamera CCTV. Pasti Gara juga sudah menonaktifkan ponselnya." timpal Jeno.
Bulan masih memantau pergerakan mobil Gara dari kamera CCTV yang ada di jalan. "Jika di dalam memang Gara, dia menuju ke luar kota. Dan jika benar itu terjadi, kita akan terlambat menyusulnya." ujar Bulan dengan nada terdengar bergetar.
Arya dan Mikel, serta Jevo saling pandang dan mengangguk. "Kita bertiga akan menyusulnya sekarang. Kamu berikan semua petunjuknya. Kemana mobil itu mengarah." ujar Jevo.
Mereka tidak mungkin membiarkan Arya menggantikan Bulan. Sebab mereka takut, jika musuh menyadari tindakan mereka. Dan yang ada mereka akan saling berperang lewat dunia maya, dengan menyerang jaringan CCTV yang ada di setiap jalan.
Arya sendiri juga khawatir, dirinya belum sampai tahap tersebut. Dan malah akan kehilangan jejak Gara. "Bagaimana jika di dalamnya bukan Gara?" tanya Bulan tidak bisa menyembunyikan rasa gelisahnya.
Jeno memegang kedua pundak Bulan. Mencium lembut pucuk kepala Bulan. "Percaya dengan mereka bertiga. Dan ingat. Bukankah insting kamu selalu tepat." ujar Jeno memberi keyakinan pada sang kekasih.
"Benar bu. Kami percaya pada bu Bulan." sahut Arya.
"Jika ternyata itu bukan Gara, setidaknya kita sudah berusaha. Dan tidak berdiam diri di sini." timpal Mikel.
"Percayalah dengan kami." tukas Jevo.
"Bukan seperti itu. Jika memang itu Gara. Dan dia menuju ke sarang penjahat. Itu akan sangat berbahaya untuk kelian bertiga. Mereka sangat banyak. Lebih dari seratus orang, jika berkumpul semua." jelas Bulan, khawatir dengan keselamatan mereka bertiga.
Mikel duduk di kursi sebelah Bulan yang kosong. Dimana tadi Arya lah yang duduk di sana. "Bu,, percaya dengan kami." tekan Mikel.
Bulan merasa ada sesuatu yang besar yang sedang di sembunyikan oleh Mikel. Dari tatapan matanya, Mikel seolah mengatakan jika mereka tidak akan membawa kekalahan.
"Tenang saja. Jumlah kami tidak akan kalah dengan jumlah mereka." tutur Jevo, seolah membantu Mikel menyakinkan Bulan.
Bulan mengangguk. "Jika seperti itu. Segeralah pergi. Tangan Gara bukan hanya mahir diatas keyboard dan menggunakan berbagai senjata. Tapi dia juga sangat mahir saat berkendara." jelas Bulan.
"Baik." jawab ketiganya serempak.
"Jika memang itu adalah Gara. Kalian harus segera menghubungi gue. Kami akan segera menyusul." pinta Bulan.
"Ingat bu, jangan pernah melibatkan pihak berwajib. Meski anda adalah anggota mereka." papar Mikel mengingatkan, yang mendapat anggukan dari Bulan.
"Berangkatlah." pinta Bulan.
Ketiganya segera meninggalkan markas untuk menyusul kemana Gara pergi. Meninggalkan Bulan dan Jeno di markas.
Jeno duduk di kursi sebelah Bulan. Membantu Bulan untuk memperoleh informasi lebih. Sehingga mereka lebih awal tahu dimana letak markas yang akan dituju oleh Gara. Sebab musuh mempunyai banyak markas di setiap kota.
__ADS_1