
Bulan tak menyisakan satu orangpun. Semua musuh yang ada di markas dia bantai tak tersisa, seorang diri. Beraksi dalam senyap.
Bahkan, mereka yang berada di luar markas juga Bulan sisir dan dia lenyapkan. Bulan memang tidak akan menyisakan segelintir orangpun.
Sebab, jika Bulan menyisakan seorang, itu artinya, Bulan akan menghadapi serangan baru lagi. Bulan terlalu sibuk dengan masalahnya. Tak ingin menambahi beban baru lagi.
Setelah memastikan tak ada yang melarikan diri, serta memastikan mereka tak lagi bernyawa, Bulan bergegas menemui Jeno dan Gara. "Kita bawa ke markas." ajak Jeno.
"Biar gue." ujar Jeno, menggendong Gara seorang diri. Tak membiarkan Bulan membantunya untuk mengangkat Gara.
"Aku ambil obat dulu." Bulan pergi ke ruangan di mana beberapa jenis obat dia simpan di dalamnya. Dimasukkannya semuanya ke dalam kardus, tanpa memilihnya.
Dibawa ke mobil lalu di masukkan ke dalam bagasi. "Biar aku yang nyetir." ujar Bulan, mengambil alih kursi kemudi.
Gara terlihat begitu lemas. Jeno menemani Gara duduk di kursi belakang. Beberapa kali, Jeno memberikan air minum dengan pelan kepada Gara.
Bulan melajukan mobil dengan sangat kencang. Beberapa kali, mobil yang bersimpangan arus dengannya membunyikan klakson karena cara menyetir Bulan yang ugal-ugalan.
Di dalam pikiran Bulan hanya segera sampai di markas dengan cepat. Sehingga dia bisa mengobati Gara dengan segera.
Di markas, Jevo beserta Mikel dan Arya terkejut melihat Bulan keluar dari dalam mobil dengan pakaian berlumur darah.
"Arya...!! Kunci pintunya kembali." pinta Bulan.
Segera Arya berdiri dari duduknya, dan bergegas mengaktifkan kunci ganda dari komputer yang setiap hari dia pegang.
Bukan hanya pintu depan. Tapi semua jalan keluar masuk di markas. Apalagi dilihatnya keadaan Bulan yang sangat mengerikan, dengan banyaknya bekas darah di pakaian Bulan.
"Jevo bantu Jeno, dia ada di dalam." seru Bulan. Melihat Bulan yang terlihat khawatir, Jevo bergegas ke mobil.
Jevo melihat Jeno bersama lelaki. "Siapa dia?" tanya Jevo.
"Bukan saatnya bertanya." tekan Jeno.
"Mikel, ambil kardus di nerisi obat di bagasi mobil Jeno...!" perintah Bulan.
Jevo segera membantu Jeno mengeluarkan Gara. Sedangkan Mikel mengambil sebuah kardus yang dia yakini adalah kardus yang dimaksud oleh Bulan.
Sedangkan, Bulan sendiri berusaha membuka sebuah pintu. "Kalian tahan Gara dulu." pinta Bulan, melihat Jevo dan Jeno membopong Gara.
Arya yang baru bergabung, segera membantu Jevo dan Jeno. "Apa yang kamu lakukan?!" tanya Jeno setengah membentak Bulan.
Sebab, Bulan terlihat sibuk dengan tembok yang ada di depannya. Sementara Jeno mengkhawatirkan kondisi Gara yang tidak segera ditolong oleh Bulan.
"Sebaiknya elo diam. Gue sedang berusaha...!" bentak Bulan tak kalah panik.
"Bulan...!!" geram Jeno memanggil Bulan kembali.
"Jangan berisik Jeno, diam. Gue butuh konsentrasi." tukas Bulan.
"****..." umpat Jeno.
Jevo, Mikel, serta Arya saling pandang. Antara bingung bercampur penasaran. Itulah yang mereka rasakan.
Bingung, sebab keduanya datang ke markas dengan membawa seorang lelaki yang terlihat lemah tidak berdaya.
Dan sebelumnya, tak ada pemberitahuan apapun baik dari Jeno maupun Bulan. Terkait lelaki tersebut.
Penasaran. Tentu saja mereka menilai cara berbicara antara Jeno dan Bulan berbeda. Bukan layaknya seorang guru dan murid. Melainkan dua orang yang kenal dekat.
Jevo menebak, jika hubungan Bulan dan Jeno semakin dekat. Dan itu, membuat Jevo merasa senang. Sebab, pengorbanannya untuk menjauhi Bulan membuahkan hasil.
Bulan mundur beberapa langkah. Tembok yang ada di depan mereka, seakan bergoyang. Perlahan terbuka layaknya pintu geser.
Jeno dan Jevo saling pandang sekilas. Tak menyangka ada ruangan di dalam tembok tersebut. Juga dengan Arya dan Mikel. "Waoww,, amazing." tukas Arya.
"Bawa masuk." pinta Bulan, terlebih dahulu masuk ke ruangan.
Ruangan tampak sangat bersih tanpa debu. Ada beberapa ranjang pasien di dalamnya. Di sudut ruangan, ada sebuah pintu.
"Taruh Gara di sini." Bulan berdiri di depan sebuah ranjang.
Saat Bulan hendak beranjak, Gara mencekal lengan Bulan. "Jangan memanggilnya. Ingat, sekali penghianat, akan tetap menjadi pengkhianat." lirih Gara, sebelum akhirnya dia tak sadarkan diri.
Bulan terlihat lemas. "Elo pikir gue dokter. Gue hanya tahu sedikit tentang medis. Gue takut." seru Bulan dengan ekspresi sedih memeluk tubuh Gara yang berbaring tak sadarkan diri.
Jeno memegang kedua pundak Bulan. "Lakukan sebisa kamu. Gara percaya sama kamu. Begitu juga kami. Lakukan, Bulan." pinta Jeno dengan nada lembut.
Bulan menghela nafas panjang. Menghapus air mata yang selama ini tak pernah dia perlihatkan pada siapapun. "Semua tidak seperti yang kamu lihat. Tubuh Gara yang pernah terluka parah, membuat tubuhnya tidak bisa menerima beberapa jenis obat tertentu. Dan aku tidak tahu, apa saja. Aku takut." cicit Bulan.
__ADS_1
Jeno memeluk Bulan dengan erat. Jevo, Arya, serta Mikel mengalihkan pandangan ke arah lain. "Aku percaya, kamu pasti bisa. Aku akan membantu kamu."
Jeno mengurai pelukannya. "Lihat, Gara sedang membutuhkan penanganan. Apa kita akan diam saja." tukas Jeno menatap ke arah Gara.
Jeno memberi sebuah semangat, serta rasa percaya pada diri Bulan, untuk Bulan berani mengambil tindakan untuk mengobati Gara.
Terlebih, Gara mengatakan 'jangan memanggil dia' sebelum dirinya tak sadarkan diri. Jeno yakin, jika Gara sama seperti dirinya. Percaya dengan kemampuan Bulan
Cup... Jeno mencium kening Bulan dengan pelan dan lembut. "Jangan terlalu banyak berpikir. Lakukan dengan segera, atau kita akan kehilangan Gara."
Bulan mengangguk. Segera Bulan membuka kardus yang berisi obat-obatan yang dia bawa dari markas sebelumnya.
Bulan seolah tidak sadar, jika Jeno melakukan sesuatu di luar batasannya. Ditambah lagi, di sekitar mereka ada orang lain, yang pastinya dengan mudah menebak apa yang terjadi diantara mereka berdua.
Mikel dan Arya melongo tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Jeno, mencium Bulan. Tapi, keduanya hanya bisa menghela nafas, dan berdehem.
Sedangkan Jevo, dia hanya bisa tersenyum getir. "Gue harus ikhlas. Mengubur dalam-dalam perasaan gue pada Bulan. Melihat Jeno bisa tersenyum bahagia, membuat gue merasa berguna." batin Jevo.
Bulan melepas jaketnya yang penuh dengan darah. Melemparkan ke ranjang di sebelahnya. Mengikat tinggi rambutnya menjadi satu.
Bulan memasang infus di tangan Gara. Menyuntikkan beberapa obat ke dalam selang infus. Beberapa kali, Bulan menghela nafas panjang. Dirinya seolah menyakinkan jika dia pasti bisa menyelamatkan Gara.
Jeno mendekat ke tempat Bulan. "Aku tunggu di luar." ucapnya, yang diangguki oleh Bulan.
Ketiganya lantas mengikuti langkah kaki Jeno untuk meninggalkan ruangan. Memberi ruang serta kebebasan bagi Bulan untuk mengobati Gara.
Jeno melepaskan jaketnya. Menghempaskan badannya di kursi yang panjang dan empuk. Terdengar helaan nafas kasar dari hembusan nafas Jeno.
Arya pergi mengambil minuman kaleng, memberikannya pada Jeno. "Terimakasih." ucap Jeno mengambil minuman tersebut, meneguknya hingga tandas.
"Siapa dia?" tanya Jevo.
"Gara. Sahabat Bulan." jelas Jeno.
"Maaf, apa dia cacat?" tanya Arya dengan hati-hati.
Jeno mengangguk. "Bukan cacat bawaan lahir. Tapi karena terjadi sesuatu padanya, sehingga dua kakinya terpaksa di amputasi."
Arya hanya mengangguk pelan. Jawaban Jeno menegaskan jika Jeno memang mempunyai hubungan dengan Bulan. Bagaimana tidak, Jeno bahkan tahu seseorang yang berarti untuk Bulan.
"Sebaiknya elo bersihkan badan dulu." saran Jevo, mencium bau anyir dari badan Jeno.
Jeno berdiri, mengambil pakaian yang memang sengaja dia tinggalkan di markas, lalu masuk ke kamar mandi yang ada di luar.
Sebab, di dalam kamar tidak tidak terdapat kamar mandi. Hanya ada sebuah ranjang dan sebuah lemari, juga meja serta kursi berukuran kecil. Karena memang, luas kamar yang tidak begitu lebar.
"Gila. Apa yang terjadi." cicit Arya, mengingat bagaimana warna jaket Bulan berubah menjadi merah.
"Sebenarnya siapa Gara. Bu Bulan terlihat begitu menyayanginya." tukas Mikel.
"Bukan itu yang ada di dalam otak gue." timpal Arya.
"Lalu?" tanya Mikel.
Bukannya segera menjawab, Arya malah menatap ke arah Jevo. Mikel seolah bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Arya.
"Apa mereka punya hubungan?" tanya Arya kepada Jevo.
"Kenapa elo tanya gue. Tanya yang bersangkutan sana." ketus Jevo.
"Elo saudaranya." sahut Arya.
"Mana gue tahu. Jeno nggak pernah cerita." tukas Jevo dengan jujur.
Mikel tersenyum. "Tapi gue senang, jika Jeno dekat dan malah menjalin hubungan dengan bu Bulan. Dari pada Sella." ujar Mikel.
Arya mengangguk pelan. "Benar juga. Sella dan Claudia. Aiiisshhh,,, mereka berdua sama." celetuk Arya.
Mikel dan Arya terdiam. Keduanya sama-sama menatap ke arah Jevo. "Ada apa?" tanya Jevo merasa keduanya sedang mengintimidasinya.
"Apa orang tua elo tahu?" tanya Mikel lirih, sembari menengok ke sekitar. Takut jika terdengar Bulan atau Jeno.
"Gue nggak tahu." sahut Jevo.
Ketiganya bersikap seperti biasa, ketika Bulan keluar dari ruangan. "Bagaimana bu?" tanya Arya.
Bulan menggeleng. "Innalillahi." ucap Arya.
Bulan memandang kesal ke arah Arya. "Aaw..." seru Arya, saat kepalanya kena timpuk dari belakang.
__ADS_1
"Bu Bulan menggeleng karena temannya belum sadar." kesal Mikel.
Arya meringis sungkan. "Maaf." cicit Arya. "Gue pikir lurus." batin Arya.
"Bu Bulan bersihkan badan saja dulu. Biar kami yang menjaganya." saran Jevo.
Bulan mengangguk lemah. Seperti Jeno, Bulan masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil pakaian ganti, sebelum pergi ke kamar mandi yang ada di luar.
"Jika dilihat-lihat, Jeno sama bu Bulan serasi ya. Cocok." puji Arya.
Mikel melirik ke arah Jevo, tentu saja ada rasa takut dalam hati Mikel. Sebab, dia juga mengetahui jika Jevo juga memiliki rasa yang sama seperti Jeno pada Bulan.
"Gue hanya berharap, papa sana mama merestui mereka berdua." tukas Jevo dengan tulus.
Mikel tersenyum bangga. Ada beban berat yang lepas dari hatinya yang tak bisa dia jabarkan. Mungkin karena Mikel tahu, jika apa yang dikatakan Jevo memang benar-benar tulus dari dalam hatinya.
Setelah Bulan masuk ke kamar mandi, Mikel dan Arya bergantian masuk di ruangan dimana Gara berada. Mereka memastikan jika lelaki yang dibawa Bulan dan Jeno dalam keadaan baik-baik saja.
"Bagaimana?" tanya Jevo.
"Masih sama." sahut Arya duduk di samping Jeno.
Tak lama, Jeno dan Bulan bersamaan keluar dari kamar mandi. Berbeda dengan Jeno yang menoleh ke arah Bulan, Bulan malah tergesa duduk di depan layar laptop.
"Apa yang dia ingin lakukan?" tanya Jeno dalam hati. Apalagi rambut Bulan masih dalam keadaan basah.
"Rambut kamu masih basah." ujar Jeno mengingatkan.
"Ada sesuatu yang harus aku pastikan." jelas Bulan.
Jeno mengambil handuk yang Bulan sampirkan di pundak Bulan. Lalu di usapkan di rambut Bulan, untuk mengurangi air di rambut Bulan.
Jevo dan Arya, juga Mikel mendekat ke arah mereka. Ketiganya juga penasaran, apa yang dilakukan Bulan. Dengan melihat pemandangan Jeno mengeringkan rambut Bulan. Tapi ketiganya mencoba mengerti. Dan berusaha cuek.
"Mereka." cicit Arya, melihat dari layar, ads beberapa orang bergelempangan.
Ternyata, Bulan mengaktifkan kembali kamera CCTV yang Bulan sebelum meninggalkan markas yang sebelumnya.
Jevo dan Mikel menelan ludahnya dengan sulit. Kini mereka tahu, dari mana Bulan memperoleh bercak darah yang tidak sedikit jumlahnya, yang menempel di jaket Bulan.
Jevo memandang ke arah Jeno yang dengan telaten mengeringkan rambut Bulan. Sementara Bulan, seakan tidak terganggu dengan apa yang Jeno lakukan pada rambutnya.
Jevo tersenyum samar. Baru kali ini dia melihat seorang Jeno begitu perhatian pada seorang perempuan. "Setidaknya gue lega. Tenyata elo normal." batin Jevo, mengalihkan pandangan ke layar di depan Bulan.
Di markas Gara sebelumnya, sejumlah orang datang. Tentu saja mereka adalah rekan para musuh yang menyerang Gara, dan dihabisi oleh Bulan.
Tanpa mereka sadari, setiap gerakan mereka di pantai langsung oleh Bulan serta beberapa pasang mata dari tempat lain.
Jeno beserta yang lainnya hanya bisa memandang ke arah layar, dan menunggu apa yang terjadi. Keempatnya yakin, Bulan telah melakukan sesuatu pada markas tersebut. Oleh karenanya Bulan mengaktifkan kembali kamera CCTV yang telah mereka matikan.
Mereka terkejut mendapati semua rekan mereka tergeletak di beberapa tempat bersimbah darah tak bernyawa.
"Geledah semua ruangan." seru salah satu dari mereka yang baru saja datang.
Semua lantas masuk ke dalam tanpa berpikir panjang. Mereka dengan yakin masuk, sebab ditangan mereka ada sebuah senjata api yang dipegang masing-masing anggota. Ditambah, jumlah mereka yang lumayan banyak. Membuat mereka tak merasa takut.
"Gara. Tidak mungkin jika dia sendiri yang melakukannya." cicit yang lain, saat menyusuri markas bersama yang lain.
"Berpencar...!!" teriaknya memerintahkan yang lainnya.
Prang.... prang.... prang.... terdengar suara yang sangat familiar di telinga mereka. Apalagi jika bukan, semua akses keluar masuk ke markas tertutup.
Bahkan, bukan hanya satu pintu, ada beberapa pintu besi yang memperkuat pintu tersebut. "Kita terkurung...!!" seru yang lainnya, mencoba membuka pintu.
"Jangan khawatir. Itu tandanya Gara ada di sini." timpal yang lain.
Di tempat lain, Bulan tersenyum penuh makna. "Gara memang ada di sana. Tapi tadi. Dan sekarang, kalianlah yang akan menjadi penghuni abadi di sana." tukas Bulan.
"Satu, dua, tiga, em-pat, li,,,, ma." Bulan tersenyum miring.
Tampak dari layar laptop, markas yang sebelumnya ditinggali Gara mengeluarkan asap. "Asap apa itu?" tanya Mikel penasaran.
Sebab tampak jelas mereka yang terkurung di dalam memegang leher serta dadanya. Seakan mereka mengalami sesak nafas yang sangat.
"Racun." tebak Jevo.
"Tepat." timpal Bulan.
Keempatnya memandang ke arah Bulan dengan tatapan berbeda-beda. Tapi yang pasti, Bulan terlihat begitu mengerikan dan kejam. Melenyapkan banyak nyawa dengan mudah.
__ADS_1