
Gara turun dari ranjang, dibantu Mikel dan Jevo. Diletakkan oleh keduanya dengan perlahan Gara di atas kursi roda yang baru saja di belikan Bulan.
Bulan hanya bisa menggeleng pelan menghadapi sikap keras kepala Gara. Awalnya, Bulan menolak untuk membelikan kursi roda untuk Gara.
Bulan ingin agar Gara beristirahat dulu dengan tenang di atas ranjang. Tapi Gara kekeh ingin bangun dan keluar dari ruang rawatnya.
Bulan hanya bisa mengalah, dan membelikan kursi roda untuk Gara pakai. "Hati-hati." tukas Bulan.
Dilihatnya wajah Gara masih tampak pucat. Menandakan jika kesehatannya belum pulih seperti sebelumnya. "Dasar ngeyel." ketus Bulan.
Bulan mengambil alih kursi roda yang di duduki Gara. Mendorongnya dari belakang untuk di bawa keluar ruangan.
"Dia Jeno apa Jevo?" tanya Gara masih belum bisa membedakan jika keduanya sedang bersama.
"Yang memakai baju putih itu Jeno." jelas Bulan.
Gara mengangguk pelan. "Apa yang dilakukan Jeno?" tanya Gara, melihat Jeno sibuk memakai sesuatu di wajahnya, dibantu oleh Jevo.
"Dia akan melakukan misinya." jelas Bulan.
Mendengar suara sang pujaan hati, Jeno membalikkan badan untuk memandang ke arah Bulan.
"Jeno... haaa.... ha.... haaa....." Gara tertawa lepas hingga memegangi perutnya melihat penampilan Jeno.
Penampilan Jeno terlihat sangat culun, dengan rambut belah tengah di sisir kelimis. Ada kaca mata berbentuk bulat dengan ukuran besar bertengger di pangkal hidungnya.
Apalagi, mulutnya terlihat sedikit maju. Sebab Jeno memakai gigi palsu. Hingga giginya terlihat tonggos. "Gara..." tegur Bulan.
Kedua sudut mata Gara bahkan sampai mengeluarkan air mata karena tertawa terpingkal-pingkal. Gara segera menahan tawanya melihat Jeno yang memandang kesal ke arahnya.
"Puas... Tertawalah terus. Baru tahu rasa jika mulut elo tak bisa tertutup." ujar Jeno menyumpahi dengan raut judas.
"Jeno..." tegur Bulan. Jeno hanya membuang muka ke arah lain.
Jevo dan yang lainnya hanya diam. Mereka belum akrab dengan Gara. Sehingga mereka masih sungkan jika bercanda dengan Gara. Ditambah, umur Gara yang sepantaran dengan Bulan.
"Bulan, lihat. Gara dahulu yang mencari masalah. Dia yang menertawakan aku." ujar Jeno mengadu pada Bulan.
"Ckkk,,, kalian ini. Kayak anak kecil saja." decak Bulan.
"Mikel, kamu menunggu saja di parkiran. Ingat, jangan bertindak gegabah. Meski dia bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain, tapi dia sangat cerdik dan teliti.
"Baik bu."
"Dia tidak ada di rumah " ujar Arya memberitahu, setelah memastikan dirinya tak melihat Rio di ruangan manapun di rumahnya, lewat kamera CCTV.
"Kalian berangkatlah. Jangan sampai Rio menunggu." saran Bulan.
Jeno dan Mikel mengangguk. Dan segera keluar dari markas. Selepas kepergian Jeno, Gara kembali tertawa lepas. "Sumpah, perut gue sampai sakit." keluh Gara.
"Kamu itu, untung Jeno tidak ngambek. Bisa gagal rencana kita." tukas Bulan.
"Ya ela,,,, jika Jeno ngambek, serahkan ke gue. Pasti sangat mudah membujuk Jeno." tutur Gara memainkan kedua alisnya naik turun.
"Sumpah, dandanan Jeno sangat unik. Ternyata, setampan apapun, akan terlihat jelek jika di dandani seperti tadi." lanjut Gara masih dengan sisa tawanya.
"Terserah." Bulan meninggalkan Gara bersama dengan Arya dan Jevo, masuk ke dalam kamarnya.
"Bulan... kenapa elo yang ngambek....!!" seru Gara, menggoda Bulan. Pasalnya Gara tahu jika Bulan juga memiliki perasaan yang sama seperti Jeno.
"Tidak perlu, saya bisa." tukas Gara, saat Jevo hendak membantunya untuk mendorong kursi rodanya.
Gara berhenti di dekat Arya. Mengikuti Arya memandang layar yang ada di depan Arya. "Oh iya,,, siapa Rio?" tanya Gara.
"Pelaku yang sedang kita incar." jelas Jevo.
"Dia memang licin seperti belut. Harus menggunakan strategi khusus jika ingin menangkapnya. Apalagi, dia sudah memakan banyak korban."
Jevo menggeser kursi yang ada di sebelah Arya, dan duduk di belakang Arya serta Gara. "Benar. Bukan hanya licin. Dia psikopat." tutur Jevo, teringat jika dirinya menyaksikan sendiri bagaimana Rio mengeksekusi sang dokter dengan tenang dan santai.
"Orang yang mempunyai gangguan mental seperti Rio, tidak bisa kita tebak dengan mudah apa yang akan dia lakukan." jelas Gara.
Jevo dan Arya mendengarkannya dengan seksama. "Apa yang dia lakukan akan mengikuti apa yang sedang dia rasakan. Saat sedih, atau saat senang." imbuh Gara.
"Benar. Selain itu, pemikirannya sangat berbeda dengan kita." timpal Arya.
"Itulah bedanya kita dengan Rio. Jangan sampai kita menjadi seperti dia." tukas Gara mengingatkan.
Bulan keluar dari kamar dengan pakaian serba hitam, serta wajah yang tertutup. Hanya menyisakan kedua matanya. "Jika kamu ada kesulitan, tanyakan saja pada Gara." cicit Bulan, sembari membenarkan beberapa letak senjata yang dia sembunyikan di balik jaketnya.
"Baik bu."
"Elo hati-hati." ujar Gara, yang mendapat anggukan dari Bulan.
"Jevo, aku titip Gara." tukas Bulan.
"Baik bu."
__ADS_1
"Elo pikir gue barang, pake dititipkan segala." ketus Gara.
Sepeninggal Bulan, Gara meminta tolong pada Jevo untuk membawanya berkeliling melihat bangunan yang akan dia tinggali untuk ke depannya.
"Kita pergi dulu." pamit Jevo pada Arya yang sudah fokus di layar laptopnya.
"Oke." sahut Arya.
"Apa kalian sudah lama tinggal di sini?" tanya Gara, sembari berkeliling memutari bangunan tersebut.
"Belum genap satu bulan." sahut Jevo.
Gara melihat ada yang aneh pada tembok di sebelahnya. "Berhenti." pinta Gara.
Jevo merasa bingung. "Ada apa?" Jevo mengikuti kemana arah fokus pandangan Gara terhenti.
Gara meraba tembok di depannya. "Apa Bulan pernah mengatakan sesuatu?"
"Maksudnya."
Tangan Gara masih meraba tembok di depannya. "Ruangan lain selain yang kalian ketahui." tukas Gara.
Jevo terdiam, sembari mengingat. Jika saja Bulan memang mengatakan sesuatu. "Sepertinya tidak pernah. Tapi entah, jika pada yang lainnya." jelas Jevo.
Gara memundurkan kursi rodanya. Menatap ke tembok bagian atas. Tampak ekspresi ragu pada raut wajah Gara.
"Kita jalan lagi." ajak Gara. Dirinya yakin, ada sesuatu di balik tembok tersebut. Tapi tidak bisa menebak apa yang ada di balik tembok tersebut.
Gara hanya berpikir rasional. Dirinya tidak mungkin membukanya tanpa ada Bulan di sampingnya. Apalagi, di markas ini bukan hanya ada dirinya. Ada kedua anak didik Bulan. Jevo dan Arya.
Gara hanya berjaga-jaga. Siapa tahu di balik tembok tersebut tersimpan sesuatu yang berbahaya, seperti hewan buas.
Kedua mata Gara kembali menemukan kejanggalan di sebuah tempat. "Berhenti." Gara memegang telapak tangan Jevo yang berada di kursi rodanya.
"Ada apa lagi?"
Gara sedikit memutar kepalanya ke belakang, sembari menengadahkan kepalanya ke atas, agar bisa menatap wajah Jevo.
"Kamu yakin, jika Bulan tidak pernah mengatakan apapun tentang ruangan lain di gedung ini?" tanya Gara sekali lagi.
Jevo menggeleng dengan ekspresi heran, pasalnya Gara terkesan ngotot. Dan Jevo yakin, jika Bulan memang tidak pernah mengatakan apapun pada dirinya. Entah pada yang lain.
"Jika boleh tahu, apa ada sesuatu di gedung ini?" tanya Jevo menjadi penasaran.
"Gue merasa ada beberapa ruang rahasia di gedung ini. Tapi gue nggak berani mencari pintunya."
"Kita tidak tahu, ada apa di balik tembok tersebut. Dan juga, Bulan tidak ada di samping kita."
Gara tersenyum pahit memandang ke arah bawah. Tepatnya ke kedua kakinya yang telah lumpuh seumur hidup. "Jika saja keadaan gue nggak seperti ini, gue pasti sudah membukanya."
Jevo terdiam. Dia mengingat perkataan Bulan, jika kondisi fisik Gara bukan bawaan dari lahir. Yang artinya ada sebuah kejadian yang membuat Gara menjadi seperti sekarang.
"Setiap makhluk mempunyai garis hidup dan takdir sendiri-sendiri. Bahkan hewan dan tumbuhan sekalipun. Apalagi kita sebagai manusia. Kita hanya perlu bersyukur, mungkin ada hikmah dibalik kejadian yang menimpa kita." ujar Jevo panjang lebar, terdengar begitu bijak.
Gara tersenyum. "Hikmah di balik kejadian. Ya,,, dan gue merasakannya. Mungkin, jika gue nggak mengalami kejadian itu. Hingga kedua kaki gue seperti ini, gue nggak akan pernah bisa bersatu dengan Bulan. Dan tidak akan pernah bertemu kalian. Yaaa,,, mungkin saja bertemu kalian. Tapi sebagai musuh." jelas Gara tak kalah panjang dari Jevo.
Jevo sedikit bisa menebak apa yang terjadi di masa lalu Bulan dan Gara. Apalagi, Bulan dan Gara mengatakan hal yang sama. Yakni kata musuh.
Dan sekarang keduanya hidup dengan rukun layaknya saudara yang saling melindungi.
Jevo dan Gara kembali ke tempat Arya berada, setelah berkeliling di gedung ini. "Gara, itu tempat tidur elo. Gue sudah mempersiapkannya. Semoga elo suka." ujar Arya menunjuk ke sebuah ruangan.
"Terimakasih. Pasti gue suka." ujar Gara.
Di tempat lain, Jeno sudah tiba di tempat janjian dengan Rio. Dirinya tidak semobil dengan Mikel. Keduanya menaiki mobil masing-masing saat berangkat.
Tentu saja mereka tidak ingin Rio melihat mereka bersama dan malah akan membuat Rio curiga. Sebab, Rio juga pernah bertemu Mikel. Di mana Mikel mengaku jika dia adalah seorang mahasiswa sekaligus pebisnis.
Jeno memandangi wajahnya sendiri lewat kaca pantau yang ada di dalam mobil. Memastikan jika penyamarannya sempurna tak ada cela.
Setelah memastikan penyamarannya aman, Jeno keluar dari mobil tanpa menoleh ke mobil sebelahnya, di mana Mikel berada di dalamnya.
Dengan langkah santai, Jeno masuk ke dalam. Penampilannya yang sangat culun membuat semua pengunjung memandang ke arahnya.
Jeno tersenyum samar. Itu artinya penyamarannya sangat berhasil. Dan tidak ada yang mengetahui wajah aslinya.
Jeno melihat Rio duduk di pojok sembari memainkan ponselnya. Nampak dua buah gelas berisi minuman sudah ada di atas meja.
Jeno tersenyum samar. "Apa dia juga akan mengeksekusi gue sekarang. Kita lihat saja nanti." ucap Jeno dalam hati tersenyum penuh makna.
"Maaf, saya terlambat dok. Apa dokter sudah lama?" tanya Jeno berbasa-basi.
Jeno duduk di kursi depan sang dokter gadungan tersebut. "Tidak, baru saja." ujarnya sembari melihat ke arah gelasnya yang air minumnya masih penuh.
"Saya kira kamu masih lama, makanya saya pesankan minum sekalian." tutur sang dokter gadungan alias Rio, atau yang mempunyai nama asli Timo.
"Tidak apa-apa dok, terimakasih." sahut Jeno dengan gayanya yang terlihat lucu.
__ADS_1
Jika saja Gara melihat bagaimana Jeno melakukan perannya dengan bersikap unik, pasti Gara akan tertawa lepas. Beruntung Gara tidak melihatnya.
"Silahkan di minum." tutur Rio.
Jeno hanya mengangguk pelan sembari tersenyum tanpa berniat memegang gelas tersebut. "Maaf dok, jika boleh tahu, untuk apa dokter memanggil saya kemari. Maksud saya, tidak biasanya dokter ingin bertemu saya di luar seperti ini." jelas Jeno.
Rio pasti menyimpulkan jika sang dokter dan asistennya ini jarang keluar bersama, bahkan hanya sekedar untuk makan.
"Pasti mereka bertemu hanya saat mereka bekerja. Serius sekali hidup mereka. Pantas saja, penampilannya seperti itu." cibir Rio dalam hati, lagi-lagi mengejek penampilan Jeno.
"Sebenarnya saya tidak ada keperluan yang penting. Hanya ingin kamu menemani saya makan saja. Sangat tidak enak makan sendirian." tukasnya, mencari alasan.
Jeno tersenyum samar. "Dokter sekarang benar-benar berbeda." tutur Jeno, membenarkan letak kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya.
"Haaa.... ha.... kamu ada-ada saja. Memang beda bagaimana?" tanya Rio tersenyum kaku, lalu menyeruput minuman miliknya.
"Gue hanya akan menahan elo selama mungkin di sini." batin Jeno.
Dengan Rio bersama dengan Jeno, berarti Bulan akan leluasa menjalankan misinya tanpa khawatir Rio akan datang. Dan Bulan akan memperoleh banyak hasil dari misinya kali ini.
"Dulu, dokter selalu menolak jika saya ajak keluar bersama. Meski hanya sekedar makan. Dokter selalu mengatakan jika makanan yang di masak di rumah lebih sehat dan higienis. Dari pada makanan di luar, meskipun itu di restoran bintang tujuh sekalipun." jelas Jeno.
Yang tentu saja semua ucapan Jeno adalah sebuah kebohongan. Mana ada sang dokter mengatakan hal tersebut. Bertemu dengan Jeno saja tidak pernah.
Rio tersenyum kaku. "Brengsek. Seorang dokter, kenapa kolot sekali. Untuk apa uang yang di milikinya selama ini. Istri tidak punya. Hidup hemat. Gila. Apa dia akan mati membawa uang." batin Rio merasa kesal sendiri.
"Dok..." panggil Jeno, sebab Rio malah melamun.
"Ehh,,, maaf. Sekali-kali tidak masalahkan, jika makan di luar. Saya juga merasa jenuh terus berada di rumah. Makan sendiri." ujarnya beralasan.
Tanpa keduanya sangka, seorang perempuan dengan pakaian modis dan terlihat sangat menawan dan cantik menghampiri meja mereka.
"Vinc,,, apa kabar?" tanyanya dan langsung duduk di kursi sebelah dokter Vinc.
Bukan hanya Rio yang merasa terkejut. Begitu juga dengan Jeno. "Siapa dia, sama sekali tidak ada dalam skenario." batin Rio dan Jeno mengatakan hal sama, meski di dalam hati.
Untuk Rio, tentu dirinya merasa takut. Sebab dirinya sama sekali tidak mengenal perempuan cantik dan seksi yang tiba-tiba memanggil namanya. Bahkan langsung duduk di sampingnya tanpa canggung.
Pastinya Rio takut jika penyamarannya akan terbongkar. Juga dengan Jeno. Apalagi Jeno juga sama seperti Rio. Yang tidak mengenal perempuan tersebut.
Pasalnya, selama ini sang dokter tidak mempunyai asisten. Jeno hanya takut, jika perempuan tersebut tahu mengenai kehidupan pribadi sang dokter.
Maka dapat dipastikan, penyamarannya akan segera terbongkar. Dan Rio palsu akan mencurigainya. Dan dia akan lebih berhati-hati saat melangkah.
Tak mau terlalu lama menebak siapa perempuan yang kini duduk di depannya, Jeno bergerak cepat. Di hubunginya Arya lewat pesan tertulis di ponsel.
CARI TAHU PEREMPUAN YANG DUDUK BERSAMA KAMI. SEGERA.
Klik.... Jeno mengirimkannya dengan segera pada Arya.
Jeno menyibukkan diri dengan berpura-pura memainkan ponsel. Padahal telinganya terbuka lebar mencuri dengar apa yang saling mereka ucapkan.
Jeno tersenyum samar, melihat Rio seperti mati kutu saat sang perempuan terus bertanya pada dirinya. "Mana dia tahu. Diakan si pembunuh. Bukan sang penolong." batin Jeno, yang kembali melihat ke layar ponselnya.
Berharap jika Arya segera membalas pesan darinya. Ting.... Segera Jeno membuka pesan dari Arya. "Tumben, Arya cepat sekali membalasnya." batin Jeno, membaca pesan dari Arya.
Jeno kembali tersenyum. Dirinya baru ingat jika ada Gara di sana. Dan pastinya Gara yang mencari tahu. Sebab, tak ada satu menit dari Jeno mengirimkan pesan, Arya sudah membalasnya kembali.
Tertulis dengan jelas identitas perempuan yang duduk bersama mereka. Dari tempat tinggalnya, hingga pekerjaannya. Bahkan makanan dan minuman favoritnya.
"Ternyata dia mantan dokter Vinc." batin Jeno, memandang ke arah sang perempuan.
"Maaf, apa ada yang salah dengan saya?!" tanya sang perempuan dengan raut wajah sama sekali tidak ramah.
Jeno tetap tersenyum. Dirinya tahu, kenapa perempuan tersebut bersikap seperti itu padanya. Tentu karena penampilannya. Sehingga perempuan tersebut meremehkannya dan menatapnya dengan jijik.
"Maaf Nona, ternyata yang dikatakan dokter Vinc benar. Anda memang cantik. Pantas saja dokter belum bisa move on dari anda, setelah kalian putus." papar Jeno sengaja, supaya Rio palsu tahu identitas perempuan tersebut.
"Cantik dari mana. Masih kalah cantik sama Bulan. Elo kayak ondel-ondel." ucap Jeno dalam hati, membandingkan sang perempuan dengan Bulan.
Tujuan utama Jeno bukanlah itu. Melainkan Jeno ingin menegaskan, jika dirinya berguna untuk sang dokter. Karena dirinya tahu semua masa lalu dari sang dokter. "Pasti sekarang si brengsek itu sedang berpikir, mau membunuh gue atau tidak."
Jeno menatap gelas berisi air minum miliknya yang masih terisi penuh. Jeno mengambil gelas tersebut. Berpura-pura akan meminumnya.
Padahal, Jeno ingin mengetes Rio. "Tunggu." seru Rio menghentikan Jeno yang hendak meminum air tersebut.
Segera Rio mengambil gelas tersebut. "Ini sudah dari tadi. Pesan saja yang baru." tukasnya.
Jeno tersenyum samar. "Tebakan gue benar. Ada sesuatu di dalam air tersebut." batin Jeno memandang sang perempuan sekilas.
"Terimakasih Nona, kamu datang di saat yang tepat. Lagian, siapa yang ingin meminumnya." batin Jeno.
Ketiganya memesan makanan serta minuman. Makan sembari berbincang dengan ringan. Sesekali, Jeno menolong Rio, saat sang perempuan bertanya sesuatu.
Dan tentu saja, Rio merasa jika keberadaan Jeno sangatlah membantunya. "Gue tidak bisa melenyapkan dia sekarang." batinnya, sebab merasa Jeno masih sangat berguna baginya.
Itupun jika dia masih ingin menyamar sebagai sang dokter tampan. Tentu saja dia meneruskan sandiwaranya sebagai sang dokter.
__ADS_1
Uang sudah ada di depan mata. Mana mungkin dia akan melepaskannya begitu saja. Tentunya tidak. Melepaskannya, sama saja membuang tambang emas.