PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 151


__ADS_3

Tiga mobil parkir bersamaan di area parkir apartemen, dimana Mikel tinggal selama ini. Pintu ketiga mobil terbuka serempak. Menampakkan siapa saja yang berada di dalam tiga mobil tersebut.


"Widihhh.... Kompak sekali kita." celetuk Arya, melihat Jevo dan Jeno juga datang bersamaan dengan dirinya dan Mikel.


Jevo memandang ke arah Jeno dengan tatapan datar. Jeno tak bisa menyembunyikan raut wajah cemasnya. "Gara masih di apartemen kamu?" tanya Jeno yang mendapat anggukan dari Mikel.


"Hubungi Gara. Tanyakan, apa Bulan sudah sampai." pinta Jeno langsung mengatakan keinginannya tanpa berbelit-belit.


Tanpa banyak bertanya, Mikel mengeluarkan ponselnya. Melakukan apa yang diminta Jeno. Bagi Mikel tak perlu banyak tanya pada Jeno tentang apa yang terjadi.


Dirinya bisa menebak dengan mudah dari ekspresi cemas yang Jeno perlihatkan. Hanya di dalam hati Mikel bisa bertanya, tanpa mengucapkannya langsung. "Padahal semalam dirinya dan Bulan pergi bersama." batin Mikel.


"Memang bu Bulan kemana? Bu Bulan baik-baik sajakan? Bukankah semalam elo bersama bu Bulan? Apa yang terjadi?" cerocos Arya tak bisa mengontrol rasa penasaran, yang sama sekali tidak mendapatkan jawaban atau respon dari Jeno.


Jevo tertawa pelan. Menaruh salah satu tangannya di pundak Arya. "Sebaiknya elo jangan tanya lagi. Singa sedang kehilangan mansa." seloroh Jevo.


Jeno memandang sengit ke arah saudara kembarnya tersebut. Yang malah disambut tawa pelan dari Jevo. "Perempuan memang seperti itu. Sedikit elo puji, dan elo belikan sesuatu yang dia suka, pasti akan luluh kembali." tukas Jevo menatap ke arah saudara kembarnya.


Jeno hanya berdecak sebal, dengan pandangan fokus ke arah Mikel yang sedang melakukan komunikasi lewat ponsel dengan Gara. "Dia Bulan. Bukan perempuan-perempuan yang biasanya di samping elo." ketus Jeno.


"Gila,,,!! Elo nglakuin apa? Sampai bu Bulan marah." geleng Arya mendapat tatapan sinis dari Jeno.


Arya meringis saat kepalanya mendapat pukulan pelan dari Jevo. "Sudah gue bilang, jangan banyak tanya. Itu urusan rumah tangga mereka." ujar Jevo tersenyum mengejek ke arah Jeno.


"Elo saja dari tadi nyerocos. Sok marahin gue." ketus Arya mengusap kepalanya.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Jeno dengan tak sabaran, begitu Mikel mengakhiri panggilannya.


Belum sempat Mikel mengeluarkan suaranya, Jevo menyerobot pertanyaan dari Jeno. "Perempuan itu seperti burung merpati. Jinak-jinak burung merpati. Dia juga seperti kucing. Malu-malu kucing. Mereka sukanya tarik ulur, kayak layangan." ujar Jevo dengan tenang.


Jeno memandang kesal ke arah saudara kembarnya. "Jevo,,,!! Diam...!! Suara elo malah buat gue pusing...!" bentak Jeno semakin kesal dibuatnya.


Jevo terkekeh pelan. Melihat Jeno kelimpungan untuk yang pertama kali, karena Bulan ngambek menjadikan hiburan tersendiri bagi Jevo. "Iya gue diam. Gue cuma memberitahu. Siapa tahu berguna." Jevo malah semakin gencar menggoda saudaranya tersebut.


Mikel menggeleng melihat Jevo yang sengaja membuat Jeno bertambah kesal. "Bu Bulan belum datang." jelas Mikel.


"Jangan-jangan bu Bulan nggak datang ke sini." tebak Arya.


"Elo juga,,,!! Bisa diem nggak..!!" seru Jeno memandang sebal ke arah Arya.


"Suara kalian malah membuat kepala gue serasa pecah." gerak Jeno dengan ekspresi muram.


Mikel tersenyum melihat tingkah mereka semua. "Elo harus siap-siap. Jika perempuannya datang, kemungkinan kita akan jadi tumbalnya." bisik Jevo.


Arya menghela nafas panjang. "Aneh. Mereka yang bertengkar. Kita kena imbasnya. Cinta memang rumit." celetuk Arya, yang mendapat senyum dari Jevo dan Mikel.


"Lagian elo pake bilang tumbal. Bilang saja pelampiasan." tukas Arya.


"Tenang. Mungkin masih di jalan." papar Mikel mencoba menenangkan Jeno yang terus menatap ke arah jalan masuk.


"Mungkin itu Bulan." ujar Jevo, saat sebuah taksi berhenti tak jauh di depan mereka.

__ADS_1


"Bu,,, panggil bu Bulan." sahut Arya. Yang hanya mendapat cebikan dari Jevo. "Terserah gue." balas Jevo.


Dan benar saja, seorang perempuan keluar dari pintu belakang taksi. Tampak sangat anggun. Rambut panjang dengan warna hitam. Menggunakan dress sederhana membungkus tubuhnya. Serta tas jinjing yang membuat lengkap penampilannya.


Jangan lupakan satu hal. Meski alas kakinya tidak menggunakan high hell tinggi, namun sama sekali tak mengurangi kesan anggun, dan tal mengurangi kecantikannya.


Siapa lagi jika bukan Bulan. Perempuan yang mempu membuat hari-hari Jeno lebih berwarna. Sebentar senang, sebentar uring-uringan.


Keempat lelaki yang masih duduk di bangku SMA memandang kagum dengan penampilan sang guru, yang tengah berjalan ke arah mereka.


Keempatnya bahkan tak mengalihkan pandangannya pada Bulan. Ditambah, ini pertama kalinya ketiganya melihat Bulan memakai dress, meski hanya sederhana.


Tapi tidak dengan Jeno, yang pernah melihat Bulan memakai pakaian seperti ini. Namun tetap saja, Jeno akan kembali terjerat pesona sang polwan, yang sekarang menyamar sebagai seorang tenaga pengajar di sekolahnya. "Memang cantik sih." lirih Mikel tersenyum.


"Seksi." imbuh Jevo, padahal dress yang dipakai Bulan bukan dress ketat yang membentuk tubuh indah Bulan. Melainkan dress yang sedikit kebesaran. Tapi tetap saja, tidak bisa menutupi kesan seksi pada Bulan.


Tentunya, Jeno senagaja tidak membelikan dress seksi. Dirinya tak ingin kecantikan Bulan dilihat oleh banyak orang. Tapi ternyata, sama saja. Aura cantik milik Bulan tidak akan hilang, meski apapun yang dipakainya. "Idaman." lanjut Arya.


Jeno yang awalnya juga menampilkan senyum sempurna melihat kedatangan sang kekasih, kini mendadak merubah ekspresinya.


Apalagi jika bukan karena Jeno mendengar ketiganya memuji kecantikan dari sang kekasih, yang membuat Jeno terbakar rasa cemburu.


Ditatapnya ketiga lelaki di sampingnya dengan tajam. "Jaga mata kalian...!!" hardik Jeno.


Membuat ketiganya menoleh bersama ke arah Jeno. Sembari memasang wajah malas mereka. "Kalian masuk dulu." perintah Jeno seperti bos.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apapun dan menyanggah, Arya dan Jevo serta Mikel meninggalkan tempat mereka. Berjalan lebih dulu menuju apartemen. Meninggalkan Jeno yang masih menunggu sang kekasih.


__ADS_2