
Terlihat dengan jelas, beberapa orang dengan pakaian tertutup berseliweran di sekitar gedung tempat tinggal Gara.
"Bagaimana mereka tahu, jika ada penghuninya di sini?" tanya Bulan, dengan pandangan fokus mengarah ke layar.
Merasa janggal dengan keberadaan mereka. Apalagi pakaian yang mereka gunakan. Serta terlihat jelas, gerak-gerik mereka yang mencurigakan.
Bulan duduk di samping Gara. "Siapa mereka. Fokus ke satu layar. Kita harus mencari tahu identitas dari mereka." pinta Bulan.
Jeno hanya bisa diam. Dirinya tidak bisa membantu apapun dam jiga tidak mengerti apapun. Diam adalah pilihan terbaik, dari pada merecoki Bulan dan Gara.
Bulan menunjuk ke satu layar. "Fokus ke ini." pinta Bulan.
"Perbesar." pinta Bulan lagi.
"Pindah kamera. Lihat dari yang sebelah sini." pinta Bulan lagi.
Jeno melihat, bagaiman Bulan memerintah Gara, dan Gara hanya diam, melakukan apa yang Bulan perintahkan tanpa membantah.
Keduanya tampak jelas sangat profesional. Dan terlihat begitu mahir. Bulan mahir menganalisa. Jari jemari Gara mahir berada di atas keyboard, bergerak lincah.
Bulan menoleh ke samping, di mana Jeno berdiri tepat di sebelahnya. "Kamu yakin, tidak ada yang membuntuti kamu saat membawa aku ke sini?" tanya Bulan memastikan.
Jeno menggeleng. "Entahlah. Saya tidak terlalu fokus pada sekitar. Maaf." ucap Jeno jujur.
Sebab memang seperti itu adanya. Saat membawa Bulan, yang ada dalam benaknya hanyalah bagaimana Bulan bisa sampai ke tempat tersebut dengan cepat. Sehingga Bulan bisa diselamatkan.
"Bulan,,, lihat." seru Gara, tanpa sengaja pandangannya menemukan salah satu dari mereka memakai kalung.
"Mereka." gumam Bulan, menatap Gara.
Gara tersenyum miring. "Pergilah. Yang mereka cari adalah aku." pinta Gara.
Gara sadar, Bulan akan terbebani jika pergi bersama dengan dirinya. Apalagi keadaan Bulan yang seperti ini. Bulan baru saja tersadar.
Luka-luka di sekujur tubuhnya saja belum kering. Dan Gara yakin, Bulan masih merasakan sakit di badannya. "Bagaimana bisa mereka menemukan elo." gumam Bulan heran.
Gara menatap Jeno dengan intens. "Bawa Bulan pergi, sekarang. Cepat. Sebelum mereka bisa menerobos masuk." pinta Gara dengan sungguh-sungguh.
Jeno menatap ke arah Bulan yang masih sibuk mengotak-ngatik keyboard di depannya. Lalu mengalihkan pandangannya menatap Gara.
Jeno yakin, Bulan tidak akan meninggalkan Gara begitu saja. Terlebih Jeno sudah mendengar bagaimana kebersamaan mereka selama ini.
Dan Jeno juga yakin, Bulan bukan tipikal orang yang akan dengan tega meninggalkan sahabatnya saat sedang menghadapai kesulitan.
"Cepat,,,,pergi..!! Kenapa kalian masih diam. Jeno,,,!! Bawa Bulan pergi. Segera..!!" seru Gara.
Tapi Bulan masih duduk tenang, dengan jari jemari memainkan keyboard. "Maaf, saya tidak bisa memaksa bu Bulan." ucap Jeno.
"Bulan...!!" seru Gara dengan frustasi, Bulan dan Jeno tidak segera meninggalkan tempatnya.
Gara yakin, mereka akan mempu menembus pertahanannya. Mereka akan mampu masuk ke dalam. "Bulan..." lagi-lagi Gara berseru, karena diabaikan oleh Bulan.
"Ckk,,,, berisik. Elo lebih bodoh. Cepat salin semua data. Sekarang! Dan hapus yang ada di sini. Jangan sampai ada yang tertinggal...!!!" perintah Bulan.
"Tapi...." Gara memandang Bulan dengan ragu bercampur gelisah.
Bulan menatap tajam ke arah Gara. "Sekarang. Jangan membuang waktu." perintah Bulan tak dapat di bantah.
Bulan berdiri. "Jeno, ikut aku."
Dengan langkah sedikit pincang, Bulan membawa Jeno ke sebuah ruangan. Jeno menatap ke dalam ruangan tersebut. Tampak banyak senjata di dalamnya.
"Ambilkan kotak itu, itu, itu, itu, dan itu." tunjuk Bulan ke arah dimana kotak-kotak tersebut berada. "Turunkan ke bawah. Sekarang. Dan cepat perintah Bulan.
Bulan merakit sesuatu. "Jeno, perhatikan. Lalu bantu aku merakit sebanyak mungkin. Kita tidak mempunyai banyak waktu." ucap Bulan.
Dengan seksama, Jeno melihat apa yang Bulan lakukan. Jeno dapat menebak, dari bentuk yang sudah selesai, itu adalah alat peledak.
"Cepat. Jangan membuang waktu. Atau kamu akan mati di tangan mereka. Di sini." tegur Bulan, saat Jeno malah fokus pada wajahnya.
"Ba-baik." Jeno seperti tertangkap basah mengagumi kecantikan dari sang guru yang berada di depannya.
Dengan cepat, Jeno mengikuti setiap langkah yang diajarkan oleh Bulan. "Jangan sampai keliru. Atau terbalik. Semua akan sia-sia." ucap Bulan mengingatkan.
"Baik bu." Meski tidak secepat Bulan, tapi setidaknya Jeno bisa membantu pekerjaan Bulan.
Bulan menghitung jumlah keseluruhan. "Cukup." ujar Bulan.
"Biarkan saja berada di sana. Tidak pelu kamu kembalikan." ucap Bulan, saat Jeno hendak mengembalikan kotak-kotak tersebut ke tempat semula.
Bulan menyetel menitan waktu yang berada di alat peledak tersebut. Bulan hanya mengira-ngira. Kapan tempat ini bisa meledak. Pastinya saat ketiganya telah keluar dari tempat tersebut, digantikan dengan mereka yang masuk.
Bulan kembali menyuruh Jeno mengambil beberapa kotak yang lain. Dan menaruhnya di bawah. Sebab, dengan keadaannya, Bulan tidak mampu mengangkat benda berat.
Bulan sempat bersyukur di dalam hati, ada Jeno di sini. Jika tidak, pasti dirinya akan kesulitan. "Keluarkan ini semua."
Bulan mengeluarkan bubuk mesiu dari tempatnya. Lalu menaruhnya di sebuah wadah besar.
Selesai. "Bawa semua ini keluar. Jangan sampai ada yang terjatuh. Kamu pasti tahu akibatnya."
"Baik."
Jeno dengan baik melakukan apa yang diperintahkan Bulan tanpa membuat kesalahan. Sedangkan Bulan sendiri mencari sebuah tali tambang, membawanya keluar.
__ADS_1
"Tempelkan alat peledak ini. Tiga di setiap ruangan. Hanya lantai bawah. Tidak perlu ke lantai atas."
"Baik." Dengan cekatan, Jeno melakukan apa yang diperintahkan oleh Bulan.
Bulan menghampiri Gara. "Bagaimana? Masih lama?"
"Sebentar lagi."
Bulan segera masuk ke sebuah ruangan. Yang digunakan untuk merawatnya tadi. Memasukkan beberapa obat penting yang memang sulit mereka ke dalam tas besar.
"Biar saya yang mengangkat." Jeno datang, dan langung mengambil alih. Jeno tahu, keadaan Bulan sedang tidak baik-baik saja.
Untuk sementara Jeno menaruh alat peledak di atas meja. "Ditaruh dimana?"
"Taruh di dalam bagasi mobil kamu."
Bulan menempelkan alat peledak tersebut di tempat yang tak bisa dilihat oleh musuh. "Sudah aku lakukan." jelas Bulan, saat Jeno hendak masuk ke dalam.
Jeno mengangguk. "Kamu menaruh di tempat yang tersembunyikan?" tanya Bulan memastikan. Pasalnya dirinya lupa memberitahu Jeno, sebelum ini.
"Iya bu."
"Masih banyak?" tanya Bulan, Jeno segera kembali melakukan tugasnya yang belum selesai.
"Tidak. Tinggal ini." Jeno memperlihatkan beberapa alat peledak di dalam kardus.
"Bagus." Bulan berjalan ke tempat di mana Jeno menaruh bubuk mesiu. Lalu menyebarkan bubuk tersebut ke setiap lantai di ruangan yang sudah Jeno letakkan alat peledak.
Bulan dan Jeno menyelesaikan tugas mereka bersamaan. Begitu juga Gara.
Bulan memakai jaket. Lalu mengambil beberapa pistol berukuran kecil. Dia selipkan di pinggang serta di sepatunya.
Bulan memberikan jaket dan penutup wajah pada Jeno. "Pakailah."
"Gara." tanya Jeno, saat Gara tidak memakai jaket serta penutup wajah seperti dirinya dan Bulan.
"Tidak perlu." ucap Bulan dan Gara serempak. Keduanya tersenyum penuh makna.
Bulan memberikan sebuah pistol kepada Jeno. "Kamu bisa memakainya?"
Jeno mengangguk. "Saya pernah belajar menembak dengan papa."
"Baguslah."
Jeno membantu Gara untuk naik ke dalam mobil. Dengan Bulan berada di depan, di belakang kemudi. Jeno duduk di kursi samping Bulan.
Sedangkan Gara di kursi belakang. "Bu Bulan yakin, bisa menyetir. Biar saya saja yang menyetir." tawar Jeno, khawatir dengan kondisi Bulan.
"Kamu yang menyetir, kita semua pasti akan berada di alam lain. Dan besok, akan ada berita tentang kecelakaan yang membuat tiga orang kehilangan nyawa. Dengan salah satunya seorang lelaki lumpuh." celetuk Bulan.
Jeno melirik ke arah Bulan. Pasalnya, Bulan belum juga menjalankan mobil mereka untuk meninggalkan gedung ini.
Bulan sedikit menunduk. Melihat ke arah layar yang berada di tembok depan mereka. Jeno yang penasaran, juga mengikuti apa yang Bulan lakukan.
Jeno sekarang mengerti, kenapa Bulan masih terlihat santai. Belum melajukan mobil mereka. Ternyata di pintu yang akan mereka lalui masih ada banyak orang.
Bulan melihat ke arah pergelangan tangannya. Dimana ada sebuah jam tangan digital melingkar di sana.
Bulan membuka pintu mobil. "Bu Bulan mau kemana?" terlihat Jeno khawatir. Apalagi dia mengetahui bagaimana kondisi Bulan.
"Tetaplah disini bersama kita, Bulan." pinta Gara.
Bulan menurunkan penutup wajahnya. Hanya terlihat kedua mata dan lubang hidungnya. "Dan kita akan mati sia-sia." tukas Bulan.
"Ingat. Tetap berada di sini. Jangan mempersulit gue." ucap Bulan mengingatkan.
Jeno dan Gara tidak menyahuti perkataan Bulan. Jujur saja, perasaan kedua lelaki berbeda usia tersebut tentu saja sedang tidak baik-baik saja.
Gara terkekeh pelan. "Gue memang tidak bisa diandalkan." cicitnya, kembali merutuki kekurangan yang ada dia tubuhnya. Yakni kedua kakinya.
Sehingga dirinya sama sekali tidak bisa membantu sahabat satu-satunya di saat sulit seperti ini.
Jeno tersenyum kecut. "Bukan hanya kamu saja. Aku juga." Jeno menghela nafas dengan kasar. "Jika aku menghampiri bu Bulan, berniat menolongnya. Tapi yang ada malah akan menjadi beban. Bisa-bisa kita berdua mati bersama."
Jeno sadar sesadar sadarnya. Jika kemampuannya yang sekarang tidak bisa membantu meringankan beban Bulan. Yang ada malah menambah beban bagi Bulan.
Jeno dan Gara tertawa pelan bersama. Kedua lelaki tersebut hanya bisa berdiam diri, seolah menjadi manusia lemah yang memang pantas mendapatkan perlindungan.
Kenyataannya, keadaan Bulan saat ini juga sedang tidak baik-baik saja. Tapi demi menyelamatkan keduanya. Bulan berani mempertahankan nyawanya.
"Bagaimana caranya, agar aku bisa mempunyai kemampuan di atas bu Bulan?" tanya Jeno tiba-tiba, memecah keheningan.
"Aku sadar, hanya latihan keras saja tidak akan bisa mengimbangi bu Bulan." lanjut Jeno dengan tersenyum remeh, pada dirinya sendiri.
Dari kursi belakang, Gara menatap lamat-lamat ke arah Jeno. Gara juga seorang lelaki. Dan dia bisa menebak apa yang dirasakan Jeno kepada Bulan.
Meski Jeno masih anak SMA kelas dua. Meski begitu, Jeno sudah bisa dikatakan sebagai lelaki normal.
Gara tersenyum samar. "Akan lebih baik, Bulan menambah partner. Kelihatannya Jeno orang yang tulus." ucap Gara dalam hati.
Dulu, Gara pernah seperti Jeno. Menyukai Bulan. Menyukai dala arti menginginkan Bulan seutuhnya. Hanya untuk dirinya. Badan, serta hati Bulan.
Namun semua Gara pendam sedalam mungkin. Hingga rasa itu tak akan pernah muncul kembali. Manakala dirinya tahu, jika kedua kakinya tidak akan pernah bisa kembali normal.
__ADS_1
Dan Gara sadar, jika dengan kekurangannya tersebut, Gara tak akan mampu membuat Bulan bahagia, dan tak akan pernah bisa melindungi Bulan. Terlebih pekerjaan Bulan yang berbahaya. Dan juga masa lalunya yang selalu mengintainya.
"Ikuti setiap Bulan melakukan aksi. Meski kamu tidak terjun langsung, tapi setidaknya perhatikan setiap apa yang Bulan lakukan." jelas Gara
Jeno mengubah posisi duduknya. Menghadap ke samping,dan menoleh ke arah Gara. "Bulan selalu bergerak dengan insting. Semua indera keenam Bulan bekerja dengan baik. Mungkin itu salah satu, kenapa Bulan bisa mampu bertahan hingga sekarang."
Jeno menyimak dengan serius apa yang dikatakan Gara. "Semua indera bu Bulan bekerja dengan baik." lirih Jeno.
"Benar. Dan itu juga membutuhkan pelatihan khusus." papar Gara.
Jeno terdiam sesaat. "Apa kamu bisa mengajariku?" tanya Jeno langsung ke intinya.
Gara tersenyum. "Elo mau berguru ke gue. Elo lihat keadaan gue. Kaki gue lumpuh brow."
"Tapi kamu dulu pernah masuk organisasi ilegal yang berbahaya. Bahkan menjadi tangan kanan pemimpin. Tidak mungkin kamu diangkat, jika tidak mempunyai keahlian." tebak Jeno terperinci.
Gara tertawa pelan. Tebakan Jeno semua benar. "Kita lihat saja nanti." tukas Gara.
Kedua lelaki tersebut berhenti berbicara, saat mendengar suara letusan pistol. "Bulan sudah beraksi." papar Gara.
Sesuai dugaan Gara, Bulan memang beraksi. Tapi bukan baru saja, melainkan sedari tadi. Awalnya, Bulan ingin melakukan aksinya dengan bergerak diam. Tapi, Bulan terpaksa melepaskan tembakan, karena musuh datang dan menodongkan pistol ke arahnya.
Bulan segera masuk ke dalam. Dirinya yakin, suara tersebut akan mampu membuat yang lain akan datang ke sumber suara terdengar.
Bulan berjalan cepat, masuk ke dalam mobil. Tanpa menutup kembali pintu yang dia pakai untuk keluar dan masuk ke dalam. "Pakai sabuk pengaman kalian."
Bulan menyalakan mesin mobil. Bukannya melaju ke depan, Bulan memutar balik mobil mereka. Melajukan mobil ke arah samping. Bukan melewati pintu saat Jeno memasuki gedung ini.
Sebelum mobil tersebut benar-benar keluar, Gara menoleh ke belakang. Tersenyum serta melambaikan tangan ke arah sekelompok orang yang masuk ke dalam gedung.
Brak... brak... Terdengar beberapa kali suara benda terjatuh keras dari atas. Ternyata semua pintu tertutup besi. Sehingga semua orang yang sudah masuk ke dalam akan terjebak di dalam. Dan tak akan bisa keluar.
"Tundukkan kepala kalian!!" seru Bulan, segera Jeno dan Gara melakukan apa yang diperintahkan Bulan.
Tak berselang lama, mobil mereka ditembak dari belakang. Lewat lubang yang ada di pagar besi.
Bulan melajukan mobilnya melewati sungai kecil, dengan banyak batu-batu berukuran sedang. Gara berpegangan menggunakan kedua tangannya dengan erat di kursi depannya.
Demikian juga dengan Jeno, meski dirinya sudah menggunakan sabuk pengaman. Tapi dia tetap berpegangan dengan erat.
Blammmm...... Mobil Bulan berhenti sejenak, mendengarkan suara ledakan keras yang berasal dari gedung gang selama ini ditinggali oleh Gara.
Bulan bernafas lega. Perkiraannya sesuai dengan waktu yang dia setel di alat peledak. Sedikit demi sedikit, Bulan membawa mobilnya menepi. Naik ke atas jalan yang belum di aspal.
"Bulan, elo mau bawa gue ke mana?" tanya Gara.
"Gue juga belum tahu." Bulan terus melajukan mobil.
"Mobil kami hancur. Bagaimana?" tanya Bulan. Dirinya hanya takut jiak kedua orang tua Jeno akan mengetahui hal tersebut. Tentu saja, itu sama artinya semua yang ditutupi Bulan akan terbongkar dengan mudah. Mengingat siapa papa dari Jeno.
"Tidak perlu khawatir. Saya punya bengkel langganan. Semua akan aman." tukas Jeno membuat Bulan tenang.
"Bulan, gue bagaimana?" desak Gara. Dirinya juga bingung, setelah ini akan tinggal di mana.
"Elo diam. Gue juga belom tahu." ujar Bulan.
Gara hanya bisa menghela nafas dan menyenderkan badannya ke kursi. Jeno tersenyum samar. "Bagaimana jika sementara tinggal di apartemen saya saja." tawar Jeno.
Tentu saja Jeno tidak sebaik itu, menawarkan apartemennya untuk ditinggali oleh Gara. Jeno pasti mempunyai rencana akan tawarannya tersebut. "Jika dia tinggal di apartemen gue, pasti bu Bulan akan sering ke sana. Itu artinya, gue akan sering bertemu dengan bu Bulan." ucapnya dalam hati.
"Nggak. Bisa bahaya jika ketahuan orang tua elo. Apalagi jika musuh gue tahu." tolak Gara. Dirinya tidak ingin menyeret Jeno masuk ke dalam masalahnya. Cukup Bulan. Jangan sampai ada yang lain lagi.
"Tidak akan. Orang tua saya tidak pernah datang ke sana. Lagi pula, apartemen tersebut memang kosong. Dibeli saat saya dan Jevo masuk ke SMA. Masing-masing saru unit. Tapi tidak pernah kami tinggali." jelas Jeno.
"Tidak. Cari tempat lain." Tetap saja, Gara tidak ingin keberadaannya di cium oleh para musuhnya. "Bagaimana jika ke markas baru kita." saran Jeno, menatap Bulan yang masih terdiam.
"Bulan..." rengek Gara, karena Bulan hanya diam.
"Kalian berisik banget sih. Gue lagi mikir...!!" bentak Bulan dengan kesal.
"Sebaiknya di apartemen saya saja bu." Jeno menawarkan lagi.
"Jangan. Kita todak bisa mengambil resiko. Kamu todak tahu, betapa berbahayanya mereka. Hanya untuk berjaga-jaga, jangan sampai keluarga kamu mereka incar. Kasihan mereka." jelas Bulan.
Jeno mengangguk. Sekarang dia mengerti. "Kalau markas baru kita."
Bulan menggeleng. "Gara akan bertengkar terus dengan Arya." tukas Bulan, seolah bisa menebak.
Bulan menghentikan mobilnya sejenak. "Gue punya tempat aman. Tapi kita harus membersihkannya terlebih dahulu. Dan menatanya."
"Tidak masalah. Bawa gue ke sama saja." pinta Gara.
Bulan melajukan mobilnya ke tempat yang dia katakan. Jeno menatap ke sekeliling jalan yang mereka lalui. "Gila, pasti banyak hantunya." celetuk Jeno, merinding.
Pasalnya, jalan yang mereka lalui adalah jalan tanah yang belum di aspal sama sekali. Beberapa kali melewati jalan terjal. Sama sekali tidak ada lampu penerangan. Hanya ada pohon-pohon berukuran besar.
Bahkan, sekarang Bulan membelah hutan. Tak lagi melewati jalan lurus. Berbelok ke kiri dan kanan, untuk melewati pohon-pohon besar di depan mereka.
Bulan berhenti, saat didepannya ada sebuah sungai kecil, dengan air suara gemericik air. "Sungai lagi." cicit Jeno.
"Jeno, keluarkan Gara." pinta Bulan.
Gara duduk di atas kursi roda di samping Bulan. "Keluarkan semua barang yang ada di bagasi."
__ADS_1
Jeno segera melakukan apa yang dipinta Bulan. Dengan Bulan membantu Jeno. "Sampai di sini, mobil nggak bisa lewat. Tapi sepeda motor bisa." kelas Bulan.