
Moza berdiri di dekat jendela. Pandangan matanya jauh menatap ke depan. Bahkan, pakaian seragam sekolah masih melekat di tubuhnya. Juga dengan sepatu di kakinya.
Entah apa yang dipikirkan oleh Moza. Hanya dirinya yang tahu. Berkali-kali Moza menghela nafas panjang. Seakan ada sebuah beban berat yang sedang dia pikul seorang diri.
Ekspresi wajahnya juga datar. Tak ada kesedihan yang tersirat. Air mata yang biasanya terjatuh di kedua pipinya saat dirinya sedang sedih juga tidak terlihat.
Padahal, biasanya Moza akan menangis sesegukan jika merasa sedih, guna meluapkan emosinya. Apalagi, ini yang ke berapa kalinya dia ditolak oleh Jevo. Tapi kali ini, Moza tidak mengeluarkan air mata saat dia sendirian berada di dalam kamar.
Tok,,, tok,,, tok,,, tok,,,
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. "Non Moza... Di bawah ada teman Non. Katanya ingin bertemu." ujar sang pembantu dengan sedikit berteriak, setelah mengetuk pintu kamar Moza. Berharap Moza bisa mendengar suaranya.
Mendengar suara sang pembantu, Moza membalikkan badan, berjalan menuju pintu kamar.
Ceklek....
"Teman, siapa?" tanya Moza setelah pintu kamarnya terbuka.
Tak heran jika Moza merasa penasaran. Dirinya tidak mempunyai teman di sekolah barunya ini. Dia hanya mengenal teman sekelas saja. Itupun hanya sekedar berteman. Bukan teman akrab.
Semenjak kejadian di mana Rani tega mencelakainya, Moza seakan tak ingin lagi mempunyai sahabat atau teman dekat. Trauma. Mungkin itulah yang Moza rasakan.
Kebaikannya, perhatiannya, serta ketulusan hati yang dia berikan pada Rani, malah dibalas dengan kejahatan yang tidak akan pernah bisa dia maafkan dan dia lupakan seumur hidup.
Meski keadaan serta kondisi Rani sekarang sangat memprihatinkan, dia mengalami cacat, dan tidak bisa menjalani hidup seperti dulu, tetap saja Moza merasa kata maaf tak bisa dia terima.
Apalagi, setelah mengalami musibah tersebut, pandangan Rani terhadap Moza masih saja sama. Tatapan benci yang teramat dalam.
Moza bertanya dalam hati, menebak, kenapa Rani bisa membencinya. Tapi sayangnya, Moza tidak pernah menemukan jawabannya.
Bertanya pada Rani, tidak mungkin bisa. Dikarenakan keadaan Rani yang tidak bisa lagi bicara seperti dulu, bahkan kedua tangan dan kakinya juga mengalami kelumpuhan permanen. Sungguh ironis.
Moza juga tidak menceritakan kejadian tersebut baik pada kedua orang tuanya, maupun orang tua Rani. Baginya, cukup masalah ini sampai di sini.
Moza yakin, kedua orang tua Rani tidak mengetahui apapun tentang apa yang ingin Rani perbuat pada Moza. Dan hingga sekarang, merekapun masih menyayangi Moza seperti dulu. Tak ada yang berubah.
Setiap hari, Moza juga menyempatkan diri untuk menjenguk Rani. Dikarenakan rumah mereka yang bertetangga. Meski hanya sebentar.
Jika memang hubungannya dengan Rani renggang, bahkan tidak dapat diperbaiki. Moza berpendapat, jika kedua orang tua Rani yang tidak tahu apapun, tak patut mendapatkan rasa kesal yang ada pada Moza.
"Bibik juga kurang tahu Non. Dia hanya meminta bibik untuk memanggilkan Non." ujar sang pembantu.
"Laki-laki?" tanya Moza menebak. Moza pasti berharap jika orang yang sedang mencarinya adalah Jevo.
Namun sayangnya, dia bukanlah Jevo. "Bukan Non. Perempuan cantik." jelas sang pembantu sembari menggeleng.
"Namanya?"
"Dia tidak menyebutkan nama. Dia hanya menyuruh bibik memanggilkan Non saja, dan mengatakan bahwa dia sahabat Non Moza." ungkap sang pembantu.
Merasa penasaran, Moza berjalan menuruni anak tangga. Menuju ke ruang tamu. Tanpa mengganti dulu pakaian sekolahnya. "Siapa dia." lirih Moza, melihat sosok perempuan duduk di kursi ruang tamu.
Hanya terlihat rambutnya saja, sebab posisi sang tamu duduk dengan membelakangi Moza. Dengan rasa penasaran, Moza kembali melangkahkan kakinya. Semakin dekat dengan sang tamu misterius tersebut.
Moza menaikkan kedua alisnya ke atas, melihat siapa tamu yang dimaksud oleh sang pembantu. "Hay.... Moza..." sapa Claudia dengan senyum sempurna di bibirnya sembari beranjak dari duduknya.
Moza menetralkan deru nafasnya, yang seketika menjadi tidak teratur karena melihat sosok Claudia di depannya.
Tapi sebagai tuan rumah yang baik, Moza akan menerima siapa saja yang datang ke rumahnya. Asalkan tidak membuat kegaduhan di rumahnya. Dan tidak berniat jahat.
"Silahkan duduk. Mau minum apa?" tanya Moza sembari mendaratkan pantatnya di kursi depan Claudia. Yang hanya terhalang sebuah meja oval berukuran sedang.
Claudia kembali duduk di tempatnya semula. "Tidak perlu. Gue hanya mau berbicara sama elo." tukas Claudia merubah ekspresinya menjadi serius.
Moza dengan tenang menghadapi Claudia. Dia tahu betul, jika Claudia adalah sosok yang sangat licik. Dan akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
Moza kembali mengingat perkataan Jevo. Dimana kemungkinan Claudia lah yang menjebak dirinya, hingga berakhir di club malam.
Claudia menatap tajam penuh dendam terhadap Moza. "Jauhi Jevo." tekan Claudia.
Moza tersenyum. "Hanya itu?" tanya Moza, seolah apa yang diinginkan Claudia adalah sesuatu yang sangat mudah dia lakukan.
Claudia menaikkan sebelah alisnya. Menatap heran bercampur curiga terhadap Moza. Sebab dirinya tahu, jika Moza sangat menyukai lelaki yang juga dia sukai, Jevo.
"Iya. Gampang bukan." seringai Claudia.
"Baik." sahut Moza dengan enteng.
Kembali Claudia menatap curiga ke arah Moza. Dirinya tentu harus curiga. Jika Moza tidak mengajukan syarat apapun, dan langsung menyetujui untuk menjauhi Jevo dengan mudahnya.
"Elo yakin?" tanya Claudia meminta Moza menjawab kembali.
"Yakin." jawab Moza dengan santai.
"Yakin, gue akan menjauhi Jevo. Dan akan kembali merebut hati Jevo, jika gue sudah menjadi perempuan yang diinginkan oleh Jevo. Bahkan elo, tak akan berani mendatangi gue. Dan meminta gue menjauhi Jevo. Karena jika saatnya tiba, Jevo sendiri yang akan mempertahankan gue di sisinya." batin Moza bertekad menjadi perempuan yang akan diterima oleh Jevo.
Claudia berdiri, mengulurkan tangannya pada Moza. Dengan tenang dan santai, Moza menerima uluran tangan Claudia. Membuat keduanya berjabat tangan.
"Gue akan terus memantau dan mengawasi elo. Jika elo berbohong, elo akan tanggung sendiri konsekuensinya." ancam Claudia, mengeratkan telapak tangannya saat berjabat tangan dengan Moza.
Claudia akan melanjutkan pendidikan di universitas. Yang artinya dia tidak akan bisa selalu melihat Jevo. Karena Jevo masih duduk di kelas tiga SMA.
"Tenang saja. Gue akan menjauhi Jevo. Sungguh." papar Moza tersenyum manis.
Keduanya melepaskan jabatan tangan mereka. "Gue pegang omongan elo." tukas Claudia.
Tanpa mengatakan apapun, tanpa berpamitan pada pemilik rumah, Claudia pergi begitu saja. "Pantas saja kedua orang Jevo ogah punya menantu kayak elo." lirih Moza menggeleng pelan.
Bukan rahasia umum lagi, jika semua penghuni di sekolah tahu jika kedua orang tua Jevo tidak memberi restu sang putra berhubungan dengan Claudia. Hanya saja, memang Claudianya yang berwajah tebal.
"Itu tadi teman Non Moza?" tanya seorang pembantu yang melihat kepergian Claudia. Sangat tidak punya sopan santun.
Moza menggeleng. "Bukan. Kakak kelas Moza. Tapi sebentar lagi sudah keluar. Melanjutkan kuliah." jelas Moza secara singkat.
Di apartemen Mikel, semua masih berpikir. Tentang siapa yang akan menjadi kekasih pura-pura Sapna. "Bagaimana jika kita cari cara lain saja." saran Arya, sebab mereka bertiga menolak untuk mengemban misi tersebut.
"Jangan hanya bicara. Pikir...!!" tukas Mikel.
"Apa Sapna tahu rencana ini?" tanya Jevo.
"Belum." sahut Bulan.
"Bagaimana jika dia tidak setuju?" tanya Gara.
"Pasti setuju." ujar Bulan dengan yakin. Bulan bisa men!bak sifat dari Sapna. Dia sosok anak yang akan mengutamakan keselamatan kedua orang tuanya. Walau nyawanya sendiri taruhannya.
Dan Bulan yakin, jika sekarang Sapna tahu apa yang tejadi. Dia pasti bertanya pada sang mama. Tidak mungkin Sapna hanya diam seperti boneka, setelah kejadian yang menimpanya ini.
"Bagaimana dengan Narendra?" tanya Gara, yang malah menanyakan hal lain.
"Elo sudah dapat semua salinan uang transferan untuk Narendra kan?" tanya Bulan.
"Sudah. Bahkan gue juga punya beberapa bukti berupa gambar. Dimana Narendra bertemu dengan Zain." jelas Gara.
"Manusia bodoh dan serakah. Hidupnya sudah sangat nyaman dan terjamin. Tapi demi uang, dia melangkah di jalan yang salah. Jadi, jangan salahkan gue. Jika elo akan masuk ke dalam salah satu target gue." seringai Bulan, bermaksud membawa nama Narendra ke dalam deretan yang sama dengan Tene dan para sekutunya.
Cup.... Bulan sedang mode serius, Jeno malah mengecup singkat pipi Bulan. Bulan menatap Jeno dengan kedua bola mata seperti hendak keluar dari tempatnya.
"Jeno..." geram Bulan.
Yang lain hanya menggeleng pelan melihat tingkah Jeno yang seenak jidatnya. "Jeno,,, lihat tempat woeeyyy...!!" seru Mikel.
__ADS_1
"Kenapa? Lagi pula kita akan menikah. Iyakan sayang." cicit Jeno semakin membuat Bulan meradang.
"Jeno...!!" geram Bulan, ingin sekali membungkam mulut Jeno yang berbicara semaunya.
"Mimpi..." celetuk Arya sembari menjulurkan lidah, menggoda Jeno.
"Loh,,, sayang. Katakan pada mereka. Set...."
"Jeno,,, bisa diam. Atau perlu kita selesai sampai di sini." ancam Bulan, sebelum Jeno menyelesaikan kalimatnya.
"Iya maaf. Kamu sih,,, ngambek terus. Aku jadinya cari cara untuk kamu perhatikan." rengek Jeno.
Bulan memijat keningnya yang terasa pecah karena tingkah Jeno. "Jangan bercanda lagi. Kita sedang serius." pinta Bulan.
Jeno mengangguk. "Iya sayang,,, maaf. Sayang,,, katakan saja, jika kamu butuh bantuanku." ujar Jeno.
"Memang elo bisa apa. Paling juga minta tolong ke papa." sindir Jevo. Yang mendapat tatapan tajam dari Jeno.
Ting... ponsel Bulan berbunyi. Membuat fokus mereka teralih ke perkara lain.
Tak mau ketinggalan info, Jeno segera merapatkan badannya saat Bulan membuka ponsel, melihat siapa yang mengiriminya pesan. "Siapa sayang?" tanya Jeno menaruh dagunya di pundak Bulan.
Bulan hanya tersenyum miring, melihat apa yang di lihat di layar ponselnya. "Foto apaan itu?" tanya Jeno lagi, padahal pertanyaannya yang sebelumnya di acuhkan oleh Bulan.
Bulan menyerahkan ponselnya kepada Gara. "Kirim ke email Tuan Tene atau sekutunya. Kirimkan juga transferan rekening Narenda pada pihak berwajib." pinta Bulan.
Yang ternyata, Bulan mendapat kiriman foto dari Sapna. Dimana, didalam beberapa foto tersebut menampakkan keberadaan Nyonya Irawan dan Sapna di rumah pak Darto.
Gara tersenyum. Sekarang dirinya paham, kenapa Bulan menaruh mereka berdua di rumah pak Darto. Yang notabennya musuh.
"Jadi, elo mau mengadu domba mereka. Dan elo, juga mau pihak berwajib mencari tahu, kenapa ada gelontoran dana besar ke rekening Narendra." ujar Gara, menginginkan Bulan berkata jujur.
"Benar. Kita melangkah dua langkah sekaligus. Pasti Tene atau Zain akan murka. Mereka berdua akan marah besar. Karena merasa di bohongi dan ditipu oleh Darto. Dan lagi, mereka tidak akan mengira, jika transferan mereka ke Narendra bocor. " jelas Bulan tersenyum menakutkan.
"Mereka akan disibukkan oleh dua hal. Keluarga Pak Bimo. Dan juga masalah Narendra." ungkap Bulan mengatakan rencananya.
"Dengan begitu, keluarga gue di desa akan aman. Karena di sini, mereka akan sangat sibuk. Tidak mungkin mereka bisa memikirkan keluarga gue si desa." batin Bulan.
Setiap jam, Bulan mendapat laporan dari orang suruhannya yang menetap di desa. Jika keluarga Bulan di desa dalam keadaan aman.
Tanpa Bulan ketahui, jika orang suruhannya tinggal bersama keluarganya. Bahkan keluarga Bulan juga tahu, jika dia orang yang disuruh Bulan untuk memastikan keamanan mereka.
Tidak hanya sampai di situ, keluarga Bulan juga tahu misi apa yang dilakukan Bulan. Sehingga menyuruh seseorang untuk mengawasi keluarganya di desa.
Semua karena orang suruhan Bulan yang menceritakan semua misi secara detail. Hal tersebut terjadi karena dirinya tertangkap basah oleh bapak dari Bulan. Yang akhirnya membuat dirinya mengambil keputusan untuk berkata jujur.
"Kapan?" tanya Gara, bertanya waktu pengirimannya.
"Sekarang. Kita tidak perlu menunggu lama."
"Tapi,,, Nyonya Irawan dan Sapna akan dalam bahaya, jika keberadaan mereka diketahui oleh Tene atau Zain. Apalagi kita belum menemukan cara, bagaimana membuat mereka berdua aman." tukas Gara.
"Tenang saja. Gue sendiri yang akan maju. Jika cara tadi tidak bisa dijalankan." ungkap Bulan.
"Apa yang akan elo lakukan?" tanya Gara dan Jeno bersamaan, keduanya meras cemas. Karena mereka tahu, bagaimana gilanya Bulan jika memiliki sebuah ide.
"Tenang saja. Gue pasti akan berhasil. Kalian tidka perlu khawatir." jelas Bulan dengan santai.
"Biar gue saja yang melakukannya. Gue mau menjadi kekasih pura-pura Sapna. Asal Sapna juga mau."
Semua mata memandang ke arah pemilik suara, dimana dia sebelumnya menolak jika harus menjadi kekasih pura-pura Sapna.
Tentunya merela bertanya-tanya. Kenapa dia berubah pikiran dengan sangat cepat. "Kamu yakin? Jangan asal iya saja, pikirkan dengan baik-baik dampak apa yang akan kamu terima. Karena, aku akan menyebar luaskan hubungan kamu dan Sapna." jelas Bulan, yang menginginkan semua orang tahu.
"Yakin." jawabnya dengan matang. Semua terdiam. Entah apa yang ada dalam benak masing-masing.
__ADS_1