PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 204


__ADS_3

"Lihat pa, anak kamu jadi artis." tutur Nyonya Rindi menyodorkan ponselnya pada Tuan David sembari duduk tepat di sebelah sang suami. Nyonya Rindi juga melihat postingan seseorang di media sosial tentang sang putra dan calon menantunya.


"Anak kita." sahut Tuan David.


"Mereka sangat serasi. Menantu mama, cantik sekali." pujinya melihat Bulan yang berdandan bagaikan seorang putri, dengan gaun berwarna hitam berkilauan.


Tuan David melipat koran yang ada di tangannya. Menaruhnya di atas meja, mengambil ponsel yang diberikan sang istri. Tanpa melepas kacamata bacanya yang bertengger di pangkal hidupnya.


Senyum sempurna terlihat jelas di bibir Tuan David. "Papa senang, dia memperoleh perempuan yang tepat." ujar Tuan David.


"Ya,,, mama juga. Mama berharap, hubungan mereka kedepannya akan semakin baik dan lancar. Sampai kita akan menimang cucu serta cicit." sahut Nyonya Rindi denhan semangat.


"Amin." sahut Tuan David menaruh ponsel sang istri di atas meja.


"Mama juga kepengen melihat Jevo mendapatkan perempuan yang tepat. Tidak masalah jika dia tidak seperti Bulan. Yang terpenting, dia berasal dari keluarga baik. Juga mempunyai kepribadian yang baik." tukas Nyonya Rindi, menginginkan kedua putranya hidup bahagia.


Tidak seperti Bulan. Maksud Nyonya Rindi adalah Bulan yang mempunyai banyak keahlian. Karena pekerjaan yang Bulan jalani.


"Papa juga berharap demikian, ma. Papa yakin, setiap orang memiliki kelebihan masing-masing." timpal sang suami.


Nyonya Rindi menaruh kepalanya untuk bersandar di lengan sang suami dengan manja. "Padahal mama berharap Jevo mau mama jodohkan dengan Sapna. Dia perempuan baik dan lembut." cicit Nyonya Rindi merasa kecewa.


Beliau sama sekali tidak memandang jika papa dari Sapna sekarang berada di balik jeruji besi. "Bukankah Jevo sudah menjelaskannya."


"Iya sih." Nyonya Rindi teringat saat mereka berbicara di dalam mobil. Dimana Jevo mengatakan jika di dalam hati Sapna sudah ada seseorang yang menempatinya.


"Kita boleh menjodohkan Jevo dengan perempuan manapun. Tidak masalah. Tapi, kita tidak boleh memaksa Jevo untuk menerima perempuan yang kita pilihkan. Ingat, yang menjalani ke depannya adalah Jevo. Bukan kita." jelas Tuan David tidak ingin dipandang sebagai orang tua yang egois.


"Tapi bagaimana jika perempuan itu memang yang terbaik untuk Jevo?" tanya sang istri.


"Terbaik dimata kita, belum tentu terbaik untuk Jevo ma. Ingat, sebuah hubungan itu menyatukan dua hati. Jangan sampai bertepuk sebelah tangan. Apalagi jika mereka menjalaninya dengan tertekan. Yang ada, rumah tangga mereka akan berakhir di tengah jalan."


"Tapi mama tidak mau Jevo salah memilih. Contohnya seperti Claudia atau Sella. Ogah mama punya menantu seperti mereka. Nggak ada akhlak. Cantik juga karena bedak." sungut Nyonya Rindi.


"Iya,,, papa paham. Lagi pula, bukankah kita sudah berbicara dengan Jevo dan Jeno. Mereka boleh mengenalkan perempuan pilihan mereka. Tapi, kita juga punya syarat. Bukankah sudah adil." ujar Tuan David menenangkan sang istri.


"Iya juga sih."


"Percaya dengan kedua putra kita ma. Jevo dan Jeno pasti tidak akan membuat kita kecewa. Mereka akan membawakan kita menantu hebat yang memang pantas masuk ke dalam keluarga kita."


Nyonya Rindi langsung memeluk tubuh sang suami. "Mama percaya. Jika Jevo dan Jeno akan sama seperti papanya. Hebat dan...." Nyonya Rindi menggantung perkataannya.


Mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah sang suami. "Dan kuat." lirih Nyonya Rindi, langsung mendapat hadiah kecupan bertubi-tubi dari sang suami.


"Pa... Geli ah. Jangan begitu. Kita di luar." cegah Nyonya Rindi, mendorong wajah sang suami. Nyonya Rindi hanya malu jika mereka berdua dilihat oleh para pembantu. Apalagi, ada dua tamu yang bermalam di rumah mereka untuk malam ini.


"Apa kita sekarang masuk ke dalam kamar saja." goda Tuan David.


Tuan David mendekatkan bibirnya ke samping telinga sang istri. Membisikkan sesuatu di telinga Nyonya Rindi.


Entah apa yang Tuan David bisikan pada sang istri. Hingga membuat kedua pipi Nyonya Rindi bersemu merah, karena rasa malu.


"Papa... Jangan nakal. Kita sudah tua." ujar Nyonya Rindi lirih sembari melotot, menahan senyum malu-malu.


"Tua. Kata siapa. Tua hanya umur sayang. Bahkan suamimu ini masih sanggup menghadirkan adik untuk Jevo dan Jeno." goda Tuan David langsung diberikan pukulan cinta oleh sang istri.


"Papa... Jangan berpikir aneh-aneh." lirih sang istri, langsung membungkam mulut sang suami dengan telapak tangannya.

__ADS_1


Tanpa mereka berdua sadari, Nyonya Irawan mendengar semua pembicaraan keduanya. Nyonya Irawan bergegas pergi dari tempatnya, beliau tidak ingin ada yang melihat keberadaannya.


Rasanya sungguh tak pantas jika dia tiba-tiba muncul. Mengganggu momen romantis sepasang suami istri tersebut. Apalagi dirinya hanya menumpang di sini. Atau lebih tepatnya hanyalah seorang tamu.


"Benar juga. Jevo mengatakan jika Sapna mempunyai lelaki yang dia sukai. Siapa dia? Apa Mikel?" batin Nyonya Irawan menebaknya.


Sebab Nyonya Irawan tahu jika Sapna beberapa kali berkomunikasi dengan Mikel melalui ponsel. "Siapa tahu, dari pura-pura menjadi sungguhan." lirihnya tersenyum, berharap lelaki tersebut memang Mikel.


"Jika itu memang Mikel, aku merasa lega. Dia lelaki yang bisa melindungi Sapna. Dan aku tidak perlu khawatir." ujar Nyonya Irawan, berharap sang putri menjalin hubungan dengan Mikel.


Sementara di dalam kamar, Sapna dan Gara masih betah berbincang melalui panggilan video. Entah berapa lama mereka berbincang. Keduanya membicarakan banyak hal. Tertawa, berbicara serius, dan bercanda lagi. Seakan mereka berdua tidak bosan.


Nyonya Irawan yang merasa penasaran, melangkahkan kakinya ke dalam kamar sang putri. "Siapa tahu, Sapna mau berterus terang padaku. Tapi aku harus bertanya secara perlahan." tukas Nyonya Irawan, membuka pintu secara perlahan.


Dilihatnya sang putri sedang berbaring di atas ranjang empuk dengan posisi tengkurap. Nyonya Irawan juga mendengar jika Sapna tengah berbicara dengan seseorang dengan ponselnya.


"Sapna sedang telepon dengan siapa? Apa Mikel?" batin Nyonya Irawan menebak.


Nyonya Irawan menahan langkahnya untuk masuk. Dirinya tidak ingin mengganggu sang putri yang sedang berbicara dengan seseorang.


Saat Nyonya Irawan hendak menutup pintu kembali, dia mendengar sang putri menyebut nama seseorang. Dan nama tersebut membuat senyum di bibir Nyonya Irawan lenyap.


"Gara...!!" seru Sapna memanggil nama Gara disertai tawa lepas. Dan siapapun yang mendengarnya, pasti tahu jika hati Sapna tengah di penuhi oleh banyak bunga.


Perlahan, Nyonya Irawan kembali menutup pintu kamar Sapna. Berjalan menjauh untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri. "Gara." batin Nyonya Irawan mengingat lelaki yang bernama Gara.


Begitu sampai di dalam kamar, Nyonya Irawan duduk di tepi ranjang dengan ekspresi yang tak bisa dijabarkan. "Bukankah Gara, dia lelaki yang duduk di kursi roda." lirih Nyonya Irawan, mengingat wajah Gara.


"Tapi siapa dia. Bahkan, aku belum pernah berbincang dengannya. Sebaiknya aku mulai bertanya pada Sapna secara perlahan. Dan jika perlu, aku akan mencari tahu keluarga Gara."


Apalagi sekarang sang suami masih mendekam di dalam penjara. Dan seandainya pak Bimo sudah bisa menghirup udara bebas, Nyonya Irawan sadar jika kehidupan mereka yang dulu tidak akan kembali.


"Aku tidak takut hidup sengsara. Meskipun saat papa keluar dari penjara, dan kita harus memulai dari nol. Tapi, aku tidak ingin putriku merasakan kehidupan yang sengsara." cicit Nyonya Irawan, menginginkan kehidupan yang terbaik untuk sang putri.


"Semoga keluarga Gara bisa menerima Sapna. Dan semoga, Gara bisa memberikan kehidupan yang baik untuk putriku. Tidak membawa putriku dalam kesengsaraan." ujar Nyonya Irawan.


Bagaimana jadinya, jika Nyonya Irawan tahu siapa Gara. Apakah keinginannya yang sempat terbesit dalam benaknya, masih akan dia ucapkan.


Apalagi, jika Nyonya Irawan tahu. Jika Gara hingga detik ini masih menjadi target sekelompok orang. Yang menginginkan nyawa Gara. Apakah restu akan beliau berikan. Jika nyawa sang putri menjadi taruhannya.


"Bila saja Sapna berjodoh dengan Jevo. Pasti aku akan tenang. Tuan David dan Nyonya Rindi. Mereka orang tua yang baik dan bijak." tukas Nyonya Irawan berandai-andai.


Tapi sayangnya, semua tidak berjalan seperti angan-angan. Dan Nyonya Irawan sadar, jika perasaan tidak bisa dipaksa.


Pagi menyapa,,,,, matahari perlahan mulai muncul dengan sinarnya yang dinantikan oleh banyak orang. Sepasang kekasih masih berada di bawah selimut tebal, seolah tidak terganggu dengan sinar matahari yang menerobos masuk melalui kain gorden yang menutupi jendela.


Jeno membuka kedua matanya dengan perlahan, karena merasakan silau. Sedangkan Bulan masih tertidur nyenyak, sebab posisi Bulan membelakangi terbitnya sang surya.


Jeno tersenyum melihat perempuan yang masih memejamkan kedua matanya berada di dalam pelukannya. Rasanya sungguh membuat hati Jeno menghangat.


Jeno dengan pelan menyingkirkan anak rambut yang berada di wajah sang kekasih. Cup.... Dengan lembut, satu kecupan mendarat di pipi mulus Bulan.


Jeno dengan pelan, memindahkan tangan Bulan di badannya. Membuat Bulan melenguh karena merasa terganggu. "Husssttt....." Jeno menepuk pelan tubuh Bulan, supaya sang kekasih kembali tertidur.


Senyum di bibir Jeno tak pernah menghilang. Jeno perlahan meninggalkan ranjang empuk dan besar, yang semalam dia pakai untuk tidur bersama Bulan.


Ingat dan catat. Hanya tidur. Tidak lebih. Keduanya masih menjaga batasan-batasan mereka. Meski restu dari kedua belah pihak sudah mereka kantongi, tak lantas membuat Jeno dan Bulan malah berbuat seenaknya sendiri.

__ADS_1


Karena restu yang sudah mereka dapatkan itulah, mereka semakin bertekad untuk menjaga amanat para orang tua mereka. Yang intinya, mereka tidak ingin merusak kepercayaan yang sudah mereka dapatkan.


Jeno melihat ke bawah bagian tubuhnya. Tepat di antara ************. Sesuatu yang terdapat di sana meminta untuk dimanjakan. "Pagi yang rawan. Tapi elo tenang saja. Elo akan masuk ke sarang, jika sudah waktunya." lirih Jeno berbicara dengan benda pusakanya.


Jeno bergegas pergi ke kamar mandi. Menidurkan dan menenangkan benda yang minta untuk dimanjakan menggunakan tangannya sendiri.


Bulan membuka kedua matanya begitu Jeno tak ada di hadapannya. Dan sudah masuk ke dalam kamar mandi. "Elo memang lelaki spesial. Gue salut sama kegigihan elo serta pengendalian elo." puji Bulan.


Sebenarnya Bulan sudah bangun semenjak Jeno menyingkirkan anak rambut di wajahnya. Hanya saja, Bulan ingin melihat apa yang dilakukan Jeno saat dirinya masih terlelap di dalam dunia mimpi.


Sebab, hingga detik ini Jeno sama sekali belum pernah kebablasan, meski keduanya sering berciuman intens. Bahkan Jeno juga belum pernah memegang kedua benda yang ada di dadanya.


"Dia lelaki pertama dan terakhir buat gue. Dan gue berjanji, tidak akan pernah membiarkan Jeno lepas dari tangan gue. Karena dia langka." cicit Bulan memeluk guling dengan gemas.


"Jeno..." lirih Bulan, mencium guling yang dia peluk berkali-kali.


"Padahal Jeno bisa meminta gue memanjakan pusakanya dengan tangan gue. Tapi dia tidak pernah memintanya. Dia lelaki paling T.O.P. Makin cinta." gumam Bulan, merasa jika Jeno sangat menghormatinya sebagai seorang perempuan.


"Lelaki langka seperti itu tidak boleh diberikan pada perempuan lain." batin Bulan, teringat akan kejadian di pantai kemarin.


"Apa lagi perempuan seperti Gisha. Jika dia berani mendekati Jeno, gue kali ini akan bertindak. Enak saja, main ambil calon suami gue." sungut Bulan tidak mau Jeno menjadi milik perempuan lain.


Bulan kembali memejamkan kedua matanya. Udara dingin di pagi hari, membuat Bulan semakin betah berada di dalam selimut.


Beberapa menit, Jeno keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang lebih segar. Dilihatnya sang kekasih masih memejamkan kedua matanya.


Jeno tidak ingin mengganggu tidur Bulan. Dia keluar dari kamar setelah memakai pakaian lengkap. Dapur adalah tujuan utamanya.


Dia meminta pada chef di hotel untuk dibuatkan sarapan terenak. Jeno bahkan menunggu sang chef memasak untuknya. Dia melihat stel by step, saat sang chef memasak.


"Minumnya,,,,, dua gelas susu rendah kalori." pinta Jeno.


Saat semuanya selesai, makanan serta minuman terdapat di atas nampan, Jeno menyuruh seorang pelayan membawanya hingga depan pintu.


"Kamu boleh pergi." perintah Jeno, membawa sendiri makanannya ke dalam kamar. Dirinya tidak ingin ada yang melihat saat Bulan berada di atas ranjang.


"Dari mana?" tanya Bulan yang sudah duduk dengan menyenderkan tubuhnya di senderan ranjang, melihat Jeno datang dengan tangan membawa nampan.


"Sarapan dulu." bukannya menjawab pertanyaan Bulan, Jeno malah meminta Bulan untuk menyantap makanan yang dia bawa.


"Aku ke kamar mandi dulu. Cuci muka. Biar enak kalau sarapan."


"Silahkan Tuan putri."


Bulan menyingkap selimut di atas kakinya. "Hati-hati." tukas Jeno.


"Iya."


Keduanya melakukan sarapan sederhana di dalam kamar, tapi tampak romantis. Jeno terus menyuapi Bulan. Lalu menyuapkannya pada dirinya sendiri. Sama seperti semalam, hingga makanan di atas piring habis.


"Mandilah. Setelah ini kita pulang ke kota." pinta Jeno, setelah mereka selesai sarapan.


Bulan mengangguk sembari tersenyum. Dia kembali masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Jeno juga kembali keluar dari kamar.


"Bawa ini." pintanya pada seorang pegawai hotel, memberikan nampan berisi wadah kotor saat mereka bertemu di lorong hotel.


Jeno terus berjalan dengan tenang. Masuk ke dalam ruangan. Dimana ruangan tersebut adalah ruangan eksklusif. Dan hanya orang-orang penting dan berkepentingan yang bisa masuk ke dalam.

__ADS_1


__ADS_2