PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 192


__ADS_3

Dua lelaki berbeda usia berdiri di depan Bulan dengan kepala tertunduk. Seolah keduanya dihadapkan pada atasan mereka, karena kesalahan yang mereka lakukan.


Keduanya tidak berani mengangkat kepala untuk melihat ke arah Bulan yang sedang menatap mereka dengan tajam. "Ceritakan dengan jelas. Saya tidak ingin ada kebohongan." pinta Bulan dengan tegas merasa ditipu oleh keluarganya sendiri dan orang kepercayaannya.


"Baik." sahut seorang lelaki dengan perawakan badan besar dan tinggi. Layaknya seorang lelaki yang mempunyai pekerjaan yang sama seperti Bulan.


Yang memang benar, lelaki tersebut salah satu anggota khusus yang Bulan minta secara pribadi kepada atasannya untuk menjaga keluarganya di rumah.


Awalnya, Bulan mengirimkan dua orang. Tapi ternyata keadaan di desa tidak seperti yang dia pikirkan. Akhirnya Bulan menarik salah satu dari mereka. Dan hanya menyisakan seorang saja, yang Bulan rasa sudah cukup.


Tapi siapa yang menyangka, kejadiannya akan seperti ini. Sebab dia mengatakan jika dirinya bekerja sebagai pedagang cilok, Bulan percaya.


Nyatanya, sekarang Bulan melihat dia memakai pakaian biasa. Bekerja di kebun sang bapak untuk memanen singkong milik keluarganya.


"Awalnya, saya memang bekerja sebagai penjual cilok keliling di kampung. Tapi saya tidak tahu, ternyata pak Cipto menaruh rasa curiga pada saya. Dimana, akhirnya saya di panggil oleh beliau dan diajak berbincang. Yang akhirnya, beliau terus menekan saya. Dan saya tidak punya alasan lain, selain berbicara dengan jujur." jelasnya.


"Karena kamu bodoh. Bagaimana bisa, penyamaran kamu dengan mudah bisa dikenali bapak saya yang hanya orang awam. Jika itu terjadi di lapangan yang penuh senjata, pasti teman kamu yang akan mati semua." sarkas Bulan menahan rasa kesal.


"Maaf. Saya mengaku salah." tuturnya masih dengan kepala menunduk.


"Kak..." panggil Bintang pelan.


Bintang merasa kasihan melihat lelaki yang akhir-akhir ini mengajari cara menggunakan senjata api di marahi oleh sang kakak.


"Diam." bentak Bulan, langsung membuat nyali Bintang menciut seketika.


"Astaga.....! Bagaimana nasib bawahan kakak di kota. Kasihan mereka." batin Bintang melihat garangnya seorang Bulan.


"Lalu kenapa kamu bisa bekerja di kebun?"


"Maaf,,,, pak Cipto yang menyuruh saya. Beliau juga menyediakan tempat tinggal untuk saya. Dan saya tidak berani untuk menolak."


"Di rumah saya." tebak, sebab saat dirinya pulang dengan Jeno, dia menemukan pakaian yang bergantung di kamar, yang dulunya dipakai gudang.


Tapi saat itu Bulan tidak berpikir sampai ke sana. Dia hanya menebak jika itu adalah pakaian sang bapak yang belum pernah dia lihat.


"Benar." lirihnya.


"Lalu untuk hari ini?"


"Saya sudah mendapat pemberitahuan dari pak Cipto, jika anda akan pulang bersama keluarga kekasih anda. Sehingga saya akan bermalam di gubuk."


"Juga waktu itu, saat saya pulang dengan Jeno?" tebak Bulan.


"Benar." sahutnya membenarkan jika dirinya tidur di gubuk juga saat itu.


"Kamu tahu artinya apa?" tanya Bulan penuh intimidasi.


"Jawab...!!" bentak Bulan karena lelaki di depannya hanya diam saja tak segera menjawab.


"Siap. Saya gagal menjalankan tugas." sahutnya dengan tegas. Meskipun kini jantungnya berdebar tak karuan. Ada rasa takut bercampur khawatir, sebab Bulan telah mengetahui semuanya.


Dia memang tidak melakukan kesalahan fatal. Tapi, dia sudah masuk ke dalam catatan, sebagai anggota yang gagal menjalankan tugas.


"Dan kamu,,,,, kenapa kamu berbohong pada kakak?!" tanya Bulan pada sang adik.


Padahal setiap hari keduanya selalu berbincang lewat ponsel. Meskipun hanya sebentar. "Bapak yang menyuruh." sahut Bintang mencari jawaban yang aman untuk dirinya. Toh,,, sebenarnya itu yang terjadi.


Bulan tersenyum sinis. "Jawaban klise. Jika bapak menyuruh kamu mencuri, apa kamu juga akan mencuri dengan senang hati."


Bintang menggeleng. "Tidak." lirih Bintang.


Bulan hanya mendengus sebal. Kembali menatap sang bawahan dengan kesal. "Pulanglah ke rumah. Jangan tidur di gubuk." pinta Bulan.


Lelaki tersebut dan Bintang langsung mengangkat kepalanya menatap ke arah Bulan. "Kamu dengar? Jawab..!!" bentak Bulan.


"Baik. Saya akan pulang seperti biasanya." sahut lelaki tersebut dengan melirik ke arah Bintang yang juga sedang menatapnya.


"Uang kamu pasti banyak. Karena gaji kamu doble." sindir Bulan masih merasa kesal karena mengetahui, jika dirinya dibohongi oleh mereka.


Glek....


Lelaki tersebut menelan ludah dengan sulit. "Saya sudah menolak. Tapi pak Cipto mengatakan jika itu hak saya." tuturnya dengan cemas.


"Awas saja jika terjadi sesuatu pada keluarga saya. Orang pertama yang akan saya cari adalah kamu." tekan Bulan.


Lelaki tersebut berdiri tegap. Mengangkat tangannya dan dia letakkan di samping dahinya, memberi hormat pada Bulan. "Siap. Laksanakan. Saya berjanji akan menjaga keluarga anda dengan baik." tegasnya.


Perasaannya seketika lega mendengar kalimat yang Bulan lontarkan terakhir kali. Itu artinya dia akan tetap berada di sini untuk menjaga keluarga Bulan.


Dan itu artinya, dirinya tidak akan di laporkan ke pusat oleh Bulan. Dengan alasan kegagalannya saat menjalankan misi. Sebab penyamarannya diketahui oleh orang lain.

__ADS_1


"Galak dan tegas. Tapi masih mempunyai hati nurani. Pantas saja, dia selalu berhasil dalam setiap tugasnya." batin lelaki tersebut memuji Bulan.


Bulan berjalan, dan duduk di gubuk. Mengambil ubi rebus lalu memakannya. "Jadi apa kamu di keluarga saya?"


"Saudara jauh pak Cipto." jelasnya.


"Dan Bintang memanggil saya dengan sebutan paklek. Yang sejujurnya saya sendiri juga tidak tahu maksudnya." lanjutnya sudah tidak terlalu tegang.


"Om." sahut Bulan menjelaskan arti paklek pada bawahannya tersebut.


"Kak,,, apa kita akan di sini terus?" tanya Bintang, mengingatkan jika mereka keluar untuk membeli sesuatu.


"Cckk,,, Sana kamu duluan. Bawel." ketus Bulan.


"Iya." sahut Bintang dengan bibir cemberut.


Bintang mengerti kenapa dirinya disuruh untuk pergi terlebih dulu. Pasti sang kakak ingin berbicara empat mata dengan lelaki yang dia panggil paklek tersebut. Tentunya sebuah perbincangan yang penting dan rahasia.


Sebelum berbicara, Bulan memastikan jika Bintang tidak akan mendengarkan percakapan mereka. Bulan memerintahkan dirinya untuk menghubungi rekannya. Dan memintanya untuk menyelidiki jalan yang pagi tadi dia lalui.


"Tapi ingat. Hanya menyelidiki. Dan jangan sampai mencolok. Saya mencium ada bahaya di sana." jelas Bulan mengingatkan.


"Baik. Maaf, apa mereka juga harus menyamar saat menyelidiki?"


Bulan tersenyum heran. "Sumpah. Otak kamu kemana? Apa karema sering bersama singkong, otak kamu juga terpendam di dalam tanah." ujar Bulan dengan kesal dengan pertanyaannya.


"Pake tanya. Dan jangan mencolok. Paham apa belum...!!" tekan Bulan merasa kesal kembali.


"Baik. Paham."


"Ckkk...." decak Bulan meninggalkan lelaki tersebut.


"Hufffttt...... Gila, padahal hanya berbicara dengannya. Jantung gue sudah mau copot. Bagaimana jika satu misi dengannya. Nggak bisa bergerak gue. Galak banget. Tapi memang cantik sih." cicitnya setelah melihat Bulan pergi, berboncengan dengan Bintang.


"Bibit unggul. Bulan, dia memang perempuan hebat dan tangguh. Bintang, gue rasa,,, dia juga akan sukses dengan cita-citanya sebagai seorang dokter." lanjutnya dengan tangan masih memegang pacul.


"Jadi penasaran, siapa lelaki yang bisa meluluhkan singa jantan seperti bu Bulan. Pasti dia berasal dari keluarga yang hebat. Karena bisa mendapatkan bu Bulan." ujarnya, mulai bekerja kembali.


Meski dirinya juga menyukai perempuan seperti Bulan. Tapi dirinya sadar, jika itu adalah suatu kemustahilan. "Mana ada lelaki yang tidka suka perempuan cantik." lirihnya sembari tersenyum.


"Apa dia mengajari kamu sesuatu?" tanya Bulan, saat dirinya dibonceng sepeda motor oleh Bintang.


"Jawab." gerutu Bulan menyentil kuping Bintang dari belakang.


"Itu dengar. Makanya jawab." kesal Bulan.


"Iya." sahut Bintang terpaksa jujur. Dalam hati, Bintang berdo'a supaya sang kakak tidak marah pada dia.


"Menembak?" tebak Bulan.


Bintang yang duduk di depan Bulan hanya mengangguk, membenarkan apa yang Bulan katakan. "Tapi jangan asal pegang senjata. Itu bukan benda yang bisa kamu pegang dan kamu mainkan sesuka hati." tutur Bulan mengingatkan.


"Iya, adikmu ini memegangnya saat latihan saja. Itupun ada paklek di samping Bintang." jelas Bintang dengan jujur.


Bintang melihat ekspresi sang kakak dari kaca spion di depannya. "Fokus kalau menyetir, jangan lihat keman-mana." tegur Bulan.


"Iya." sahut Bintang.


"Kok kak Bulan tahu ya, jika aku melihatnya dari kaca spion. Apa kak Bulan diam-diam punya ilmu kebatinan." ucap Bintang dengan ngaco dalam hati.


Jika Jeno dan Bulan sedang merasakan kebahagiaan, karena sudah mengantongi restu kedua orang tua dari masing-masing, berbeda dengan Revan saat ini.


Revan berada di sebuah ruangan bersama dengan para orang yang bekerja sama dengannya untuk membuat film dewasa.


"Apa kamu bisa memastikan, jika perempuan bertopeng itu adalah putri Bimo?!" tanya lelaki tua di depannya dengan pandangan tajam.


Awalnya, lelaki itu tidak terlalu peduli dengan video tersebut. Tapi indera pendengarannya menangkap beberapa bawahan membicarakan video tersebut.


Dimana, mereka menaruh rasa curiga. Sebab, yang mereka dengar jika putri dari pak Bimo belum pernah berhubungan dengan lelaki.


Tapi dalam video terlihat begitu jelas, jika sang perempuan sangat mahir. Bahkan, dia yang bisa mengimbangi Revan dalam olah raga ranjang yang sangat panas tersebut.


Dan satu lagi, mereka tidak menemukan rasa sakit pada sang perempuan setelah berhubungan. Terlihat dari cara dia berjalan. Apalagi jika Sapna masih perawan, tentu saja dia akan merasa sakit pada bagian intimnya.


Meski dalam video tersebut tidak terlalu terang, karena Revan mengatakan jika Sapna menginginkan untuk menggunakan lampu tidur. Sehingga pencahayaan sedikit redup.


Namun yang mereka lihat dari video, sang perempuan berjalan dengan santai ke dalam kamar mandi. Keluar dari kamar mandi sudah menggunakan pakaian dengan wajah masih ditutupi oleh topeng. Tidak terlihat lelah, atau kesakitan. Dan dia langsung pergi meninggalkan kamar hotel.


Berbeda dengan Revan yang malah terlihat lelah, karena dia langsung tertidur pulas setelah melakukannya.


Hal tersebutlah yang membuat lelaki tua itu melihat sendiri dengan jeli video dewasa tersebut. Dan memang tidak salah jika bawahannya merasa ada yang tidak beres.

__ADS_1


''Ingat baik-baik, apa yang terjadi sebelum kamu melakukannya?!" tanya lelaki tua itu dengan tangan mengepal sempurna.


Revan terdiam. Mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. "Tunggu. Gue datang, sebelum Sapna datang. Dengan pintu masih dalam keadaan terkunci. Lalu Sapna datang,,, kita berbincang sebentar. Dan......" ujar Revan terhenti, sebab dirinya baru sekarang merasa jika malam itu memang ada yang janggal.


"Dan apa...!! Cepat katakan...?!" seru lelaki tua tersebut sudah tidak sabar.


Revan mengingat, jika ada seseorang yang membekapnya dari belakang. "Sial...!! Gue harus keluar dari sini." batin Revan, merasa dirinya akan berada dalam masalah jika tetap berada di dalam ruangan.


Revan sekarang bisa menebak, jika perempuan yang bermain di atas ranjang dengannya malam itu bukanlah Sapna. "Bodoh,,,, kenapa gue nggak berpikir sampai ke sana. Tolol." umpat Revan dalam hati pada dirinya sendiri.


Revan terlalu bahagia. Dia mengira jika rencananya berjalan dengan lancar dan mulus. Sehingga dirinya sama sekali tidak berpikir sejauh itu. Sebab yang ada dalam benaknya, jika dia telah sukses mencundangi seorang Mikel. Yang artinya juga membalas rasa sakit hatinya pada Jevo.


"Berhenti....!! Cegah dia keluar....!!" perintah lelaki tua, saat Revan bermaksud kabur dari sarang penjahat tersebut.


"Lepas....!!" berontak Revan, saat kedua tangannya di cekal oleh dua orang.


Revan didorong masuk kembali ke dalam ruangan dengan kasar. Hingga dirinya terjatuh di atas lantai. Lelaki tua tersebut memberi perintah melalui isyarat, untuk menutup pintu. Sehingga Revan tidak akan bisa lari darinya.


"Brengsek. Gue harus mencari cara. Gue nggak mau mati sekarang." batin Revan, salah mencari sekutu.


Revan segera berdiri. "Tunggu. Saya juga tidak tahu, jika dia bukan putri Bimo. Saya sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Saat di dalam kamar, ada seseorang yang membius saya dari belakang. Dan setelah saya sedikit merasakan kesadaran, seorang perempuan menyerang saya. Dia langsung membangkitkan gairah saya." jelas Revan, berharap mengurangi amarah lelaki tua yang sering dipanggil dengan sebutan bos tersebut.


Lelaki itu terus menatap Revan dengan tatapan seorang pemburu yang siap menghabisi mangsanya. Juga ada beberapa bawahannya di sana yang berdiri di samping lelaki tua tersebut.


"Oke. Saya rasa tidak masalah jika perempuan itu bukan Sapna. Kalian sudah mendapatkan video itu. Kalian bisa memproduksinya, dan menjualnya. Masalah selesai." ujar Revan bermaksud menyelamatkan diri.


"Buka pintunya." perintah lelaki tua tersebut.


Revan tersenyum senang. Rasa khawatir bercampur takut seketika lenyap. "Bodoh. Elo pikir elo siapa, bisa menghakimi gue." batin Revan dengan sombong.


"Oke. Saya pergi dulu. Permisi." pamit Revan dengan tenang tanpa beban.


Revan berjalan meninggalkan ruangan. Sayangnya, dia merasakan rasa sakit saat berada tepat di ambang pintu.


Dor.....


Satu tembakan melesat mengenai punggung Revan. "Aaa....!! Apa ini." ujar Revan menahan rasa sakit.


Revan membalikkan badan. Menatap penuh amarah pada lelaki di depannya sembari menahan rasa sakit. "Anak ingusan. Ini bukan masalah uang. Tapi pekerjaan. Dan yang aku inginkan, Sapna. Putri dari Bimo. Bukan video perempuan lain." tekan lelaki tua itu.


Yang sebenarnya dia sudah merencanakan pembalasan pada Bimo dengan rapi. Mulai dari video pelecehan Nyonya Irawan yang dilakukan oleh bawahannya.


Dan juga video Sapna yang berhubungan badan dengan Revan. Dia menginginkan pak Bimo melihat dua video tersebut.


Dengan begitu, dia yakin. Jika pak Bimo akan lebih memilih mati bunuh diri di dalam penjara. Dari pada harus hidup mengangguk rasa bersalah karena gagal melindungi dua orang yang dia sayangi.


Nyatanya, semua rencananya gagal. Video Nyonya Irawan yang lenyap, hilang karena diambil seseorang yang dia sendiri tidak tahu siapa.


Dan sekarang, perempuan dalam video dewasa yang dia buat, yang dia kira Sapna ternyata adalah perempuan lain. Sebuah kegagalan yang sempurna.


"Tapi aku sudah menjalankan tugasku." ujar Revan meringis menahan rasa sakit.


"Dan aku tidak membutuhkan bocah bodoh seperti kamu. Putra dari Tene. Sama bodohnya dengan orang tuanya." seru lelaki tersebut, kembali mengacungkan senjatanya ke arah Revan.


Revan menggeleng. "Jangan... Saya mohon...." ujar Revan meminta pengampunan, di saat darah di punggungnya terus mengalir.


Lelaki tua tersebut tersenyum sinis. "Aku akan membantu kamu mengakhiri rasa sakit itu." seringainya tanpa ampun.


Dor........


Satu tembakan kembali melesat, tepat di dahi Revan. Seketika tubuh Revan tersungkur di atas lantai dengan nyawa yang sudah terpisah dengan tubuhnya.


"Singkirkan dia. Selesaikan mereka yang sudah menghilangkan video istri dari Bimo." perintahnya pada bawahannya, untuk membunuh lima lelaki yang dia tuduh sebagai awal kehancuran rencananya.


"Baik bos." sahut sang bawahan.


Dua orang maju, dan segera menyeret tubuh Revan untuk di bawa keluar dari ruangan. Menyisakan tiga orang lelaki di dalam ruangan.


"Ini tidak terlihat sebagai sebuah kebetulan." lirihnya.


Mengaitkan masalah yang menimpanya. Sehingga rencana balas dendamnya pada pak Bimo gagal. "Cari tahu, siapa orang di belakang keluarga Bimo." perintahnya pada bawahannya.


"Baik bos."


Kematian Revan di tangan lelaki tua tersebut pasti tidak akan meninggalkan jejak. Mengingat bagaimana liciknya dia selama bekerja di bawah tanah. Bahkan, pihak berwajib pun dibuat kebingungan untuk mencari bukti kejahatan mereka.


Di tambah, Revan hanya hidup seorang diri di kota ini. Sementara sang papa masih mendekam di balik jeruji besi. Dan sang mama, memilih pergi ke luar negeri. Kembali ke negara asalnya, karena dia tidak akan mampu hidup di sini dengan tatapan semua orang yang mengarah padanya dengan tatapan menghakimi.


"Bos,,, bagaimana dengan perusahaan kecil milik Tene yang di jalankan bocah itu?" tanya bawahannya.


Lelaki tua itu tersenyum penuh makna. "Kenapa kamu harus bertanya. Gedung mati itu, memang sudah selayaknya mati." tukasnya.

__ADS_1


"Baik bos." sahut sang bawahan, mengerti apa yang harus dia lakukan. Yakni membuat hancur gedung tersebut. Seakan terjadi kecelakaan yang membuat gedung tersebut hancur.


__ADS_2