PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
Rindu


__ADS_3

Mengurus perusahaan memang tak mudah. Ada banyak hal yang dikerjakan dan itu semua hal baru buatku. Jika tidak ada Paman, entah aku sanggup atau tidak karena minimnya pengetahuan. Selama hampir sebulan aku benar-benar belajar. Paman dengan sabar membantuku. Mengajari semua hal.


Dan selama itu pula hubunganku dengan Dilara mulai membaik. Tepat, seminggu dia memblokirku setelah keberangkatan saat itu. Gadis itu mengirim sebuah foto es krim dengan latar taman di sore hari. Tempat yang sering kami kunjungi. Dulu setiap malam minggu aku sering mengajak Dilara pergi layaknya pasangan pada umumnya. Bedanya, pasangan lain akan pergi ke mall, cafe, bioskop, restoran atau tempat bagus lainnya, tapi aku hanya mampu mengajak Dilara ke taman sejak sore dan membeli es krim di toko 24 jam yang berada di depan taman itu. Dilara tak pernah protes, dia pun tak banyak menuntut. Pernah kami sekali nonton film, itu pun karena mendapat tiket gratisan dari teman karena tidak bisa datang.


Dilara terus saja mengirim foto-foto lokasi yang sering kami kunjungi. Dengan caption yang membuatku ingin pulang.


"Mereka juga rindu Kakak," tulisnya.


"Kakak juga rindu kamu, Dil."


"Ih, Kakak ganjen."


"Kamu nggak rindu? Padahal tempat-tempat itu rindu sama kakak."


Saat kutanyakan itu, Dilara pasti diam lama, meski pada akhirnya menjawab.


"Rindu."


Ada kelegaan luar biasa di hati saat gadis itu mengatakannya. Masih ada aku di hatinya adalah suatu hal yang indah dan aku harapan selama ini. Iya selama sebulan ini begitu cara kami berkomunikasi dan melepas rindu.


Hari ini, karena hari Sabtu, aku pulang agak cepat. Dan sudah dua hari yang lalu aku tinggal beda rumah dengan Paman. Tak jauh jaraknya, hanya satu kilometer dari rumah Paman. Namun, tetap saja aku sering berkunjung ke sana seperti pulang ke rumah sendiri. Biasanya malam minggu begini, saat keluarga Paman tak ada acara ke luar, aku akan berada di sana hingga malam. Kadang membiarkan Paman dan Bibi ber-VC dengan Ibu. Sementara aku, berjalan-jalan di sekitar rumah atau mengganggu Ayumi, anak kedua Paman, yang sedang pacaran.


Setelah salat Magrib, segera kuinjak pedal gas mobilku menuju ke arah rumah Paman. Sudah sejak tadi Ibu ingin bicara dengan Bibi. Tiba di rumah Paman, aku langsung disambut pemandangan yang lazim saat malam minggu. Turun dari mobil aku segera menghampiri kedua remaja itu yang disambut dengan rasa canggung oleh mereka. Jelas saja karena saat mobil mulai masuk halaman tadi tangan mereka saling menaut.


"Kalian udah salat Magrib belum?" tanyaku seraya menepuk bahu si pria.


"Udah, Bang," jawab mereka bersamaan.


"Gudlah. Abang masuk dulu."


Aku segera masuk untuk menyapa Paman dan Bibi. Mereka sedang asyik melihat televisi berdua di ruang keluarga dan tak peduli anaknya sedang dirayu bocah yang bersin saja belum bisa. Tanpa ada rasa khawatir sedikit pun. Saat aku memprotes, kedua orang itu bilang bahwa Ayumi bisa menjaga diri. Bulshit! Mereka belum tahu saja betapa mengerikan kehidupan anak muda zaman sekarang.


Setelah ponselku berpindah tangan kerena Ibu menelepon dan ingin bicara dengan Paman dan Bibi, aku segera keluar lagi. Ketika tiba di depan pintu ruang tamu, kulihat tangan pemuda yang bau kentut itu sudah bertengger manja di bahu Ayumi. Ckckck! Tak tahu malu.


"Ehem!"


Mereka belingsatan ketika mendengar aku berdeham. Lalu, segera duduk menjauh. Kuamati wajah mereka lamat-lamat, masing-masing dari mereka menunduk dengan raut muka bersemu merah. Seperti pencuri yang tertangkap basah. Sengaja aku duduk di kursi depan mereka sambil pura-pura membaca majalah yang ada di meja yang membatasi kami.


Sunyi. Saat kulihat dengan ekor mata, mereka hanya saling melirik dengan bibir berkomat-kamit. Canggung mungkin.


"Kalian nggak pergi?" tanyaku membuat mereka segera melempar pandangan ke arahku.


"Boleh, Bang?" tanya Ayumi dengan wajah semringah.


"Boleh."


Kulihat kedua bocah itu tersenyum penuh kebahagiaan. Seolah-olah tengah mendapatkan hadiah yang selama ini diimpikan. Memang, selama aku sering bermalam minggu di sana, Ayumi kularang pergi keluar. Bersyukur Paman mendukung laranganku itu.


"Tapi, abang ikut."

__ADS_1


Gadis yang saat ini mengenakan kaus pendek dengan celana yang hanya menutupi paha atasnya itu tampak kecewa. Senyum yang tadi terbit, musnah.


"Mending kalian nonton di dalam tu sama Paman Bibi. Bukan malah keluyuran."


"Abang kayak nggak pernah muda aja," sungut Ayumi.


"Sembarangan. Abang juga ini masih muda."


"Makanya, harusnya ngerti ama kita, dong."


"Nggak ada! Dan kamu Ayumi. Ganti celanamu itu. Terlalu pendek," tegasku memberi perintah.


Aku akan terus memandangnya hingga gadis berlesung pipit itu beranjak dan menuruti kemauanku. Sementara itu, aku mengajak bicara Ardhi, pacar Ayumi.


"Serius sama Ayumi?"


"Seriuslah, Bang."


"Baguslah. Terus rencana nikah kapan?"


Lelaki yang memiliki tahi lalat di bibirnya itu tertawa sumbang. "Nantilah, masih kecil ini."


"Nah, dah tau masih kecil. Kenapa nggak belajar yang bener aja daripada beduaan begini. Yang ketiga setan."


"Kita, kan, tadi bertiga, Bang, bukan berdua."


"Ngeles aja. Kalau cuma main-main kalian berteman aja dan jangan ke sini lagi tiap malam minggu."


Iya. Dia benar, pergaulan Ayumi memang tak diacuhkan. Dibebaskan akan berbuat apa saja. Orang tua dan kakaknya cuek. Sementara aku, orang baru yang baru sebulan di sini sudah berani melarang. Bukan karena benci, tapi takut hal buruk terjadi pada gadis itu. Bagaimanapun ada ikatan darah antara dia dan aku, meski hanya sebagai sepupu.


"Justru gue kayak gini karena sayang sama dia. Kalau lu berani macam-macam ama adik gue, ancur hidup lu!" ancamku dengan bahasa sedikit kasar. Kulihat ada gentar di matanya. Dasar anak kemarin sore yang hanya bisa bicara omong kosong daripada mikir. Aku beranjak masuk ke rumah, hendak mengambil ponsel.


Saat berpapasan di ruang tamu dengan Ayumi, wajah gadis itu cemberut. Namun, aku tersenyum saat melihatnya memakai celana panjang. Tak peduli dengan respon permusuhan yang dia hadirkan yang penting pahanya aman.


"Ham! Dapat salam dari ibumu," kata Bibi seraya menyerahkan ponselku.


"Ibu bilang apa lagi, Bi?"


"Biasa hanya kekhawatiran seorang ibu."


Aku tersenyum dan segera ke taman samping rumah, lalu lekas menekan nomor Dilara.


"Kak Aul," sapanya. Suaranya terdengar riang.


"Beneran mau panggil Aul, bukan Irham."


"Iya. Aku, kan, jatuh cintanya sama Rizaul Kaffi, bukan Irham Dirgantara."


"Hahaha iyalah yang penting masih orang yang sama."

__ADS_1


"Kakak lagi apa?"


"Pacaran."


"Hah? Sama siapa?"


"Sama fans yang paling lebay. Suka neror inbox, suka mewek baca puisi kakak, suka komen kalo kakak ganteng."


"Diiih! Geer!"


"Dil."


"Iya."


"Nikah, yuk."


"Iiih, apaan, sih!"


"Mau, ya?"


"Enggak! Belum lulus."


"Kalau udah lulus, mau, ya?"


"Kasih tahu nggak, ya."


"Dil."


"Iya."


"Enggak cuma manggil aja."


"Iiih! Kapan posting puisi lagi?"


"Kangen, ya?"


"Iya, sama puisinya tapi."


"Entaran. Kerjaan kakak masih banyak."


"Yadeh, kapan aja, Dila tungguin asal Kakak selalu jaga kesehatan."


"Iya, Sayang, makasih."


"Apaan, sih, panggil sayang segala."


"Kamu, kan, pacar kakak, Dil."


Dan malam pun berlalu dengan perbincangan remeh seperti itu. Obralan yang bisa membuatku merasa ada di dekatnya. Percakapan yang mampu membuatku merasa rileks karena mendengar suara cerianya. Malam ini pun, seperti malam sebelumnya. Ditutup dengan protes gadis itu saat aku mengucap, "Muuaach!"

__ADS_1


Next


__ADS_2