
Waktu masih menunjukkan pukul setengah delapan malam. Rio dengan santai melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.
"Den Rio mau ke mana?" tanya salah satu pembantu di rumah tersebut.
"Bukan urusan kamu." sahut Rio ketus, terus berjalan menuruni anak tangga.
Sang pembantu hanya bisa menghela nafas, dan melanjutkan langkahnya untuk naik ke lantai atas.
Semenjak kecelakaan yang membuat Rio koma beberapa hari, serta menewaskan majikan mereka, semua pembantu di rumah tersebut merasa sosok Rio berubah.
Rio hanya akan terlihat baik dan juga ramah kepada para pekerja di rumah, hanya saat di sampingnya ada sang mama.
Jika tidak ada, jangan tanyakan lagi. Rio bersikap sombong dan arogan. Bahkan tidak segan untuk bertindak kasar pada pembantu yang menurutnya berbuat salah. Meski hanya kesalahan kecil.
Tapi dia melakukannya saat tak ada sang mama di rumah. Itulah kenapa para pekerja selalu was-was jika Nyonya mereka tidak ada di rumah. Seperti saat ini.
Semua pembantu hanya diam. Mereka tak berani mengadu kepada Nyonya mereka. Sebab akan percuma. Rio yang sekarang seperti bermuka dua. Dia seperti binatang bunglon. Yang dapat berubah kapanpun dia mau.
Sang mama sedang tidak ada di rumah. Beliau sedang berada di luar negeri untuk sebuah perjalanan bisnis. Sehingga Rio dengan bebas dapat bertindak semaunya dan sesuka hatinya.
Keluar masuk rumah tanpa harus meminta izin. Sebenarnya Rio ingin sekali melenyapkan perempuan yang menganggap dirinya sebagai putranya.
Namun urung Rio lakukan. Apalagi jika bukan perkara harta. Semua harta kekayaan atas nama beliau. Dan Rio belum mempunyai uang sepeserpun.
Dan bukan itu yang Rio cemaskan. Jika perkara harta, Rio yakin. Dirinyalah satu-satunya orang yang akan mewarisi semua harta sang mama, saat sang mama meninggal.
Tapi ada satu hal, yang membuat Rio tidak bisa membunuhnya. Yakni, Rio belum mengerti cara menjalankan perusahaan serta berbagai bisnis lainnya milik sang mama.
Meski Rio beberapa kali dipanggilkan guru pribadi untuk mengajarinya hal tersebut, namun Rio palsu tetap tidak bisa. Otaknya sama sekali tidak mengerti cara menjalankan bisnis.
Awalnya, sang mama sedikit curiga. Sebab Rio yang dulu memang sangat pandai. Bahkan, beberapa bisnis sang papa juga dikendalikan olehnya.
Sekarang semua berbalik seratus persen. Rio sama sekali tidak tahu atau tidak mengingat apapun sama sekali. Tapi, lagi-lagi Rio menggunakan alasan kecelakaan serta keadaan komanya beberapa hari sebagai akibat dari otak Rio yang sekarang.
Alasan yang tepat. Bahkan, dokter pribadi keluarganyapun juga percaya. Dan mengatakan hal yang sama seperti Rio.
Beberapa kali sang mama membujuk Rio untuk melakukan terapi, tapi memang Rio palsu mempunyai seribu cara kelicikan. Dia selalu mengeluh sakit kepala setiap menjalani terapi.
Alhasil, saat ini Rio dibebaskan dari pekerjaan serta apapun itu. Sang mama memanjakannya. Apapun yang diinginkan olehnya, selalu dituruti.
Dengan senyum di bibir, Rio melajukan kuda besinya yang baru. Yang beberapa hari ini, baru dia beli. "Enak sekali jadi gue. Nggak perlu bekerja. Dan semua ada." ucapnya.
Seperti yang Rio atau Timo katakan pada sang kakek, jika malam ini dirinya akan mengambil topeng yang dia pesan. "Dokter itu, akan segera menyusul yang lainnya ke neraka." ucapnya tertawa pelan.
__ADS_1
Sedangkan, di rumah yang ditempati Rio. Sang pembantu yang tadi berpapasan dengan Rio saat ini berada di dalam kamar Rio. Dia hendak mengambil gelas serta beberapa piring kotor tempat makan Rio.
Melihat laci yang sedikit terbuka, dia berinisiatif untuk menutupnya dengan rapat. Tapi siapa yang menduga, dia malah menemukan sesuatu yang menurutnya aneh.
"Apa ini." cicitnya, menarik laci keluar. Sehingga laci benar-benar memperlihatkan isi di dalamnya.
Dia mengambil sesuatu yang seperti kulit. "Apa ini?" tanyanya lagi.
Krekk... pintu terbuka dari luar, membuat dia sangat terkejut. "Astaga, aku kira siapa. Ternyata kamu." kesalnya pada rekan kerjanya.
Dia sempat berpikir jika yang membuka pintu adalah Rio. "Ada apa? Kamu sedang apa? Kaget kayak gitu?" tanya rekan kerjanya dengan pandangan menatap barang yang dipegangnya.
Dia menunjukkan pada rekannya. "Tadi aku nggak sengaja lihat. Ini apa sih?" tanyanya, menyodorkannya pada rekannya.
Rekan kerjanya mengambil dan mencoba memeriksa, lalu menggeleng. "Sudah kembalikan saja. Bisa-bisa nanti kita ketahuan. Tahu sendiri bagaimana Den Rio sekarang. Menakutkan." ucapnya, mengingatkan.
Dia mengangguk, dan segera memasukkannya ke dalam. Keduanya bergegas keluar dari kamar Rio. Beberapa kali keduanya saling tatap. Seakan apa yang ada dipikiran mereka sama.
Penasaran tentang barang yang menyerupai kulit, yang mereka lihat. Tidak ingin terkena masalah, dan tak ingin kehilangan pekerjaan, keduanya memilih untuk bungkam. Dan tidak menceritakan pada rekan kerjanya yang lain.
Jika saja mereka tahu, konsekuensi yang akan mereka terima. Saat Rio mengetahuinya. Pasti mereka berdua memilih untuk berhenti bekerja. Sebab, Rio pasti akan dengan mudah melenyapkan mereka tanpa menunggu hari esok.
Rio datang ke rumah sang kakek yang sederhana tanpa permisi atau mengetuk pintu. "Apa sudah jadi?" tanyanya langsung ke inti.
Sang kakek yang sedang duduk hanya memandang ke arah meja yang sudah terlihat rapuh. Rio tersenyum dan mengambilnya.
Rio mengeluarkan dompetnya. Menaruh beberapa lembar uang berwarna merah di atas meja. "Segera periksa ke dokter. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu." pinta Rio.
Terdengar seperti Rio sangat mengkhawatirkan sang kakek. Tapi memang itu kenyataannya. Rio benar-benar mengkhawatirkan kesehatan sang kakek.
Hanya saja, Rio khawatir, jika terjadi apa-apa dengan sang kakek, maka dapat dipastikan Rio akan kesulitan mencari pengganti seperti kakek. Orang yang mahir membuat topeng kulit.
"Oh iya..." Rio kembali menambahkan uang di atas meja. "Sekalian, beli bahan-bahan untuk membuat topeng. Jangan sampai, saat aku butuh, bahan sedang habis." perintahnya seenak jidat.
Sang kakek hanya diam memandang. Tak sepatah katapun dia keluarkan untuk menyahuti ucapan sang cucu.
Rio melangkah meninggalkan rumah sang kakek. Tapi, langkah kakinya terhenti saat sang kakek berucap sesuatu. "Berhentilah, sebelum terlambat." ucap sang kakek.
"Bicara saja untuk hal-hal yang penting." tukas Rio, sama sekali tak mengindahkan peringatan dari sang kakek.
Di markas, Arya berhadapan dengan beberapa layar. "Gila, lama-lama mata gue bisa buta kalau begini caranya." keluh Arya, merasa pekerjaan yang dia anggap gampang, ternyata sangat berat.
"Apa..!!??" bentak Arya, saat Jeno menghubunginya.
__ADS_1
Jeno berada di sebuah rumah yang berada tak jauh dari rumah Serra. Dan kebetulan, rumah tersebut sedang ditinggal oleh pemiliknya. Sehingga Jeno bisa masuk dan langsung berada di lantai atas.
Meski penghuninya sedang tidak ada, Jeno tetap menghindari kamera pengintai yang terpasang di beberapa tempat. Tentu saja, dirinya tidak ingin di anggap sebagai maling.
"Elo kenapa ngegas. Bagaimana keadaan di sekitar rumah Serra?" tanya Jeno dengan kesal.
Jeno hanya bisa memantau beberapa meter saja, sebab pandangannya terhalang oleh beberapa pohon. "Ckkk,,,, belum aman. Elo disitu saja dulu." pinta Arya.
Arya meraup wajahnya dengan kasar. Kepalanya terasa mau pecah. Dirinya juga kebingungan. "Gue pikir, pekerjaan gue paling mudah. Ternyata,,, astaga. Bagaimana ini." keluh Arya.
Apalagi, jika Jeno, Jevo, dan Mikel menghubungi dirinya secara bersamaan. Arya seakan kebingungan. "Ya, elo baik-baik saja?" tanya Mikel yang saat ini berada di dalam mobil.
Arya tentu saja tidak bisa berbohong. Sebab dirinya tahu konsekuensi apa yang di dapatkan oleh ketiga temannya yang sedang berada di lapangan. Jika dirinya berbohong. "Gue pusing Mik..." ucap Arya dengan suara parau.
"Pusing kenapa?" sekarang giliran Jevo yang bertanya. Sama dengan Jeno, Jevo jiga masih di titik pertama. Dama sekali belum berjalan.
"Mata gue buram, melihat banyaknya layar di hadapan gue." ucap Arya jujur.
"Mampus." ucap ketiganya bersamaan.
Mereka tahu apa yang akan terjadi, jika Arya tidak sanggup meneruskan bagiannya. Tentu saja kegagalan. Mereka harus kembali ke markas. Dan membuat rencana baru.
Ketiganya tidak bisa menyalahkan Arya. Pasalnya, ini pertama kalinya mereka berempat langsung terjun ke lapangan dengan cara seperti ini. "Apa yang harus gue lakukan?" tanya Arya merasa bersalah.
"Hubungi bu Bulan." saran Jeno.
"Iya, itu lebih baik. Dari pada kita harus mundur." timpal Mikel.
"Apalagi, kita memprediksi jika dia akan memulai rencananya malam ini." sahut Jevo.
"Baik. Gue akan mencoba menghubungi bu Bulan. Semoga saja tersambung dan diangkat." ucap Arya berharap.
Sedangkan, Bulan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Dirinya ingin menuju ke rumah dokter yang menangani Serra.
Merasa gelang jam yang melingkar di lengannya menyala, Bulan menghentikan motornya. Sebab, gelang yang melingkar di lengannya juga terhubung dengan ponsel yang dia simpan di dalam saku jaketnya.
"Kenapa Arya menghubungi?" gumam Bulan bertanya pada dirinya sendiri.
"Ads apa?" tanya Bulan, setelah mengangkat panggilan telepon dari Arya.
Bulan menghela nafas seraya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Arya. Tanpa mengucapkan apapun, Bulan mematikan panggilan dari Arya secara sepihak.
"Astaga,,, elo terlalu berharap pada sekumpulan anak-anak itu Bulan." desah Bulan, merasa keputusan yang dia ambil adalah suatu kesalahan.
__ADS_1
Dan setelah ini, Bulan dapat pastikan. Jika dirinya akan benar-benar menjadi seorang guru. Pengajar yang akan mengajari keempat muridnya beraksi menangkap sang predator.
Bulan memutar balik motornya. Terpaksa dia kembali ke markas. Memantau dari balik layar.